Meminjam istilah dari teori evolusi Charles Darwin, ternyata rantai yang terputus (missing link) juga berlaku di blantika sepak bola modern. Selama hampir dua dekade (1958-1970) dunia menikmati atraksi seorang Dos Nascimento de Araujo alias Pele. Hanya vakum selama satu dekade, kemudian muncul seseorang yang ditakdirkan Tuhan sebagai penghibur dunia melalui kemilau dan keindahan olah kakinya. Tak syak lagi, dialah Diego Maradona (1979-1994).

Rakyat Indonesia beruntung, alasannya adalah jadi masyarakat pertama di dunia yang melihat aksinya sebelum dia berkiprah di PSV Eindhoven selama dua musim. Viva futebol, penerus Pele dan Maradona telah lahir! Setelah transfernya dari Cruzeiro ke PSV Eindhoven di awal animo 1994/95 berjalan mulus. Saat itulah belalakan mata mulai terus menerpa dirinya.
Bermain di Belanda, di bawah bimbingan instruktur gaek yang disebut sebagai kakeknya, Bobby Robson, pemain yang memulai debut di Selecao pada 4 Mei 1994 (vs Islandia) ini menemukan kurun-era pembentukan dirinya. "Bak menggosok intan berlumpur. Harus hati-hati, kalau salah justru merusaknya," tutur orang Eropa pertama penggembleng Ronaldo yang sekarang melatih Newcastle United itu.
Seperti orang dusun masuk kota, begitu menggambarkan kiprah awal Si Fenomena di Liga Belanda. Hanya sekali mangkir selama semusim, itupun alasannya adalah kena flu, Ronaldo membuat decak kagum seluruh negeri Belanda. Ia menjaringkan 30 gol dari 33 laga. Di isu terkini berikut, cerita sensasionalnya mulai meredup seiring dengan cedera dan perilaku-perilaku kampungan, yang aslinya, mulai keluar. Manajemen PSV mulai kelimpungan, apalagi setelah Robson pergi digaet Barcelona.
Kontras, cuma 13 kali main, meski ketajaman tetap yahud dengan 12 golnya, instruktur baru PSV yang populer streng, Dick Advocaat kentara sekali tidak menyukai perilaku liarnya. Sebagai bintang, tindakan Ronaldo, jelas, agak diberi keleluasaan; seperti halnya dia memacari Erica Arnesen, putri manajer tim PSV yang asal Denmark, Frank Arnesen. Namun bila sudah melanggar budbahasa profesional, misalnya telat datang ketika latihan, bekas pelatih Belanda di Piala Dunia 1994 itu sangat tidak mentolerirnya.
Gaya Hidupnya

Menurut beberapa sumber di tim berkaos strip merah tersebut, salah satu kelemahan Ronaldo adalah tidak ada perjuangan untuk meningkatkan intelektualnya. Katakanlah membaca, berguru serius bahasa asing atau. Ironisnya itu justru berkebalikan dengan sejumlah pemain pribumi PSV macam Philip Cocu, Boudewijn Zenden, Stan Valckx atau Arthur Numan yang terlihat kutu buku. "Ia lebih menyukai gaya hidup yang memanjakan diri," sebut seorang legiun PSV yang juga pemain nasional Belanda kala itu, tanpa mau memerincinya lebih jauh.
Padahal banyak yang telah didapatkan Ronaldo di PSV dan kompetisi Eredivisie. Dari segi mental, beliau mencicipi pergaulan internasional, tempaan diri dengan disiplin tinggi, profesionalisme. Lalu dari segi fisik, selain badannya jadi gempal, tentunya berkat asupan gizi dan fitness teratur khas klub Eropa, tinggi Ronaldo juga mengalami kenaikan luar biasa. Waktu tiba, tingginya 179 cm dan berat 75 kg, kemudian selang setahun telah menjadi 183 cm dan 80 kg. Yang pasti lagi, duitnya juga banyak!
Meski demikian, hebatnya, pihak PSV bisa menutupi negativitas Ronaldo sehingga harga jualnya ke Barcelona justru melambung jauh dibanding ketika menciduknya dari Cruzeiro. Si gigi kelinci ini dibandrol 20 juta dolar AS demi mengimbangi hasrat Josep Luiz Nunez, yang muncul berkat gosokan pelatih El Barca; Bobby Robson! Sentuhan Midas kembali dibentuk sang opa, yang punya ajudan jenius dari Portugal bernama Jose Mourinho, serta lewat jasa Ronaldo, Barcelona diantarnya menjuarai La Liga ke-14 kalinya di trend 1996/97.

Protes Baggio
Polemik terus terjadi hingga tiba usulan menggiurkan dari FC Internazionale Milano, yang risikonya mengubah segalanya. Dengan angka tertera 27 juta dolar AS, Barcelona oke menjual maestronya itu daripada melarat untuk membayar honor tahunannya. Di Inter inilah, keluarga Ronaldo mendapat kenikmatan duniawinya. Itu dikarenakan semua klausul dari ekstra kontraknya hampir disetujui taipan minyak Massimo Moratti, capo di cappi tutti (bos dari segala bos) klub berjuluk Nerazzurri tersebut.
Rumah luks, kendaraan beroda empat mewah, uang berlimpah menciptakan Ronaldo mampu menyeimbangkan kepintarannya bermain bola dengan kini, bermain angka-angka, alias memutar uang! Saham Pirelli dibelinya dan cewek bulenya, Susana Werner, diberikan rumah mode untuk kesibukannya di Italia.
Bagaimana perannya di lapangan hijau? Ronaldo tak lupa sama akarnya. Ia memperlihatkan yang terbaik untuk Inter. Aksinya selalu ditunggu khalayak Interisti, terutama di San Siro yang selalu hampir full-house jikalau Inter mendapatkan tamu-tamu Serie A-nya. Mulai dari Luigi Simoni, Luciano Castellini, Roy Hodgson hingga Mircea Lucescu dan Marcello Lippi kemudian kesannya Marco Tardelli, seakan tak ada allenatore yang mampu menyentuhnya. Kecuali Roberto Baggio. Protagonis numero uno Italia itu paling kritis terhadap Ronaldo. Persaingan pribadi? Mungkin saja.
Fakta bahwa Ronaldo banyak yang membela adalah soal nomor punggung. Ketika baru masuk beliau memang menggunakan nomor 10. Nomor 9 masih milik Ivan Zamorano. Tatkala Roberto Baggio bergabung lalu meminta nomor 10, serta merta Ronaldo sukses bisa 'merampas' nomor milik Zamorano. Yang belakangan ini bahu-membahu murka, namun akalnya masih ada di mana dia akibatnya memakai nomor 18 meski ditulisnya 1+8 yang berarti 9. Sepintas, ia tidak rela nomornya dirampas.
"Biarkan, dia masih muda dan ingat, beliau aset kita yang paling berharga sekarang ini. Bukan saja di atas lapangan, tapi juga pengaruh ke luar," demikian ucapan Moratti yang seolah menuntaskan semua polemik. Akhirnya sejarah memang menerangkan, justru Baggio yang terlempar dari Inter. Juga Youri Djorkaeff. Banyak yang bilang, dikala itulah puncak kejayaan Ronaldo.

Banyak pula yang menerka beliau terkena stres dan depresi berat akhir tekanan hidup yummy. Ini cukup mengherankan mengingat dia sebelumnya tak pernah mengalaminya. Garis keturunan, jikalau bisa dibilang, mungkin ada mengingat ayahnya dulu pecandu berat alkohol. Tapi Ronaldo tak suka minuman keras. Ia cuma penggemar hidup lezat. Seperti halnya pemain-pemain dari Amerika Latin atau negara-negara dunia ketiga, perilaku profesional sebagai pesepak bola memang mudah terserabut.
Dari hari ke hari, tubuhnya semakin tambun dan pinggulnya semakin lebar dan berlemak. Ketika dipaksakan, dia memang masih mampu bergerak cepat, namun otot-otot kakinya tak berpengaruh menahan beban tubuhnya. Ia jadi sering cedera. Final Piala UEFA 1997/98 yaitu ketika terakhir kali orang menyaksikan kehebatannya. Di tamat ia membawa Inter memukul Lazio 3-0 di Parc Des Princess, Paris.
Di ekspresi dominan 1998/99, kans Ronaldo, yang ketika itu sudah menjadi kapten gres Inter menggeser Javier Zanetti, turun ke lapangan cuma berkisar 50:50. Kalau tak cedera, alasan lainnya adalah perlu istirahat (sindrom Piala Dunia masih menghantuinya). Padahal urusan pribadinya, semisal percintaannya dengan Susana si model iklan, banyak menyita waktu dan acara profesionalnya.
Penampilan cuma 19 kali di lapangan, alasannya faktor pembelaan tadi, menunjukan bahwa sinar sang bintang mulai tak terperinci lagi. Pembelaan untuk Ronaldo datang lagi, begitu Inter membeli Christian Vieri. Padahal produktivitas gol Ronaldo tetap saja tajam, 14 gol. Dan dia pun memberi bantuan terciptanya gelar juara bagi Brasil di Copa America 1999.
Lebih Dewasa
Waktu terus berjalan. Di demam isu 1999/2000, alasannya adalah masih adanya Ronaldo, Inter tetap masuk bursa scudetto. Apalagi instruktur Inter saat itu ialah Marcello Lippi, salah satu allenatore terbaik di Italia. Namun aneka aktivitas yang menyita waktu dan enerjinya tetap dilakoninya. Ia terbang dari Milano ke Kosovo untuk acara amal kemudian lanjut ke Rio De Janeiro pergi pulang belasan kali demi mengunjungi usahanya di Brasil.

Kesempatan ini dipakai Ronaldo untuk mengawini Milene, cewek barunya yang telah hamil itu. Pada 6 April 2000, Ronald, putranya itu lahir. Lalu di 12 April 2000, terjadilah insiden yang tak terlupakan sepanjang abad buat Ronaldo termasuk seluruh pemirsa sepak bola. Di selesai pertama Coppa Italia melawan Lazio, sehabis Profesor Saillant memberi rekomendasinya, Ronaldo dimainkan Lippi sesudah menarik keluar Adrian Mutu.
Di bawah kegemukan tubuhnya, dia mulai berlari, berlari dan terus bergerak. Ia sengaja diposisikan sebagai gelandang. Seisi Olimpico memberi aplaus dan anehnya, banyak pemain Lazio yang enggan meng-counter-nya, hingga kesannya dia limbung sendiri, terjatuh dan menggelepar-gelepar sembari menjerit-jerit kesakitan. Terlihat tempurung lutut kanannya menonjol dan nyaris copot. Astaga! Hebohnya, ini terjadi pada putra mahkota sepak bola.
Sebelum tragedi itu muncul, sebuah sepakan dari belakang yang dilakukan Fernando Couto mengenai kaki Ronaldo. Setelah 6 menit, mirip biasanya ia selalu punya peluang untuk membobol gawang lawan, pada dirinya Ronaldo seperti mendengar bisikan "Terus Ronaldo! Terus Ronaldo, kamu mampu!", dan seluruh bek serta kiper Lazio mulai ngeri hingga akhirnya peristiwa itu terjadi.
Istirahat panjang kembali dilakoni Ronaldo. Apa saja yang dilakukannya? "Merenungi perjalanan hidup saya. Sepak bola itu bisa menjadi cerita indah jika kita ikut bermain di dalamnya. Saya ingin anak saya melihat ayahnya bermain bola, bukan dari cerita-dongeng, tapi pribadi," ucap lelaki plontos ini.
Selama setahun Ronaldo tak pernah menggunakan kaos biru-Hitam dan nomor 9 miliknya. Ia hanya cuma berlatih dan berlatih. Namun di bawah instruktur gres Hector Raul Cuper, sinar redup itu sepertinya mulai tersingkap. Ia dimainkan lagi ketika Inter tampil di Piala UEFA. Lalu, bukannya kebetulan, ketika beliau turun bermain lagi melawan Lecce di Serie A, 4 November 2001, meski hanya 13 menit.
Harapan melihat Ronaldo tampil utuh mirip sedia era, memang masih menunggu waktu lama. Tapi paling tidak, penampilannya sudah mampu dinikmati tak lama lagi. Masuknya Inter di jajaran atas Serie A trend 2001/02, telah menyemangati dirinya untuk menawarkan sumbangsihnya: agresi-aksi menawan dan gol-gol spektakulernya. Ya, dibutuhkan sekian waktu untuk menandakan bahwa dia memang pantas disebut sebagai penerus Maradona dan Pele.
SERBANEKA RONALDO
→ Jika Pele dan Diego Maradona dengan nomor 10, beliau mengidentikan dirinya dengan nomor 9
→ Merupakan penyerang paling sensasional ketika ini di dunia, baik dari segi teknikal maupun fisikal. Secara atletis, beliau juga punya kecepatan luar biasa dalam menggiring dan mengolah bola serta membuat gol. Jika dalam kondisi top, tak seorang pun yang bisa menghentikannya.
→ Tinggal di Milano, berkediaman bersahabat Stadion San Siro, bersama istrinya Milene dan putra semata wayangnya, Ronald, serta sang ibu, Sonia.
→ Panggilan Ronaldo pertama kali diberikan oleh adik terkecilnya, Nelinho. Ketika masih bocah ia sering dipanggil "Dadado..Dadado" yang akibatnya berubah menjadi menjadi Ronaldo.
→ Pemain yang paling diidolakannya berasal dari Brasil juga, adalah Arthur Antunes Coimbra alias Zico, yang pernah merumput di Serie A bersama Udinese.
→ Seperti juga Gabriel Omar Batistuta, salah satu hobinya menonton dan berkecimpung dalam Formula 1. Ia berafiliasi baik dengan pembalap top Ferrari, juara dunia Michael Schumacher.
→ Pada tahun 1990, beliau pernah dicampakkan Flamengo, ketika menjalani tes pertama kali masuk ke klub sepakbola. Persoalannya sepele dan bukan persoalan teknis; Ronaldo tetap ngotot tinggal di Bento Ribeiro yang jikalau ingin latihan harus menggunakan bus pulang pergi setiap hari ke Rio de Janeiro; sementara klub top Brasil itu tak memberi ongkos transportasi.
→ Ketika main di Sao Cristovao, seorang pemandu bakat Cruzeiro menyaksikannya dan berkomentar "Benar usianya 16 tahun? Kok, beliau tidak mau menendang bola?"
→ Banyak yang bilang, dia mirip titisannya Jairzinho; yang lebih banyak menggiring bola ketimbang menendangnya
→ Waktu bawah umur tubuhnya tinggi dan begitu kurus; bukan alasannya adalah kurang makan
→ Makanan favoritnya nasi dan ikan, dan juga kentang goreng
→ Sikap utamanya hening, sopan dan respek terhadap orang. Terlalu pendiam untuk orang yang gres dikenalnya. Tapi kalau di rumah beliau bahagia bergurau, bercanda dengan ucapan dan wajahnya yang dibikin lucu.
→ Sepanjang kariernya sampai kini, dia meraih 5 prestasi puncak; Juara Piala Brasil 1993, Juara Dunia 1994, Juara Liga Belanda 1995/96, Juara Belanda 1995/1996, Juara Piala Winner 1996/97, Juara Spanyol 1996/97, Juara Piala UEFA 1997/98, Juara Piala Amerika 1999.
→ Juga masuk nominasi sebagai Pemain Terbaik Dunia 1996, 1997 dan 1998, namun yang baru dimenangkannya ialah Golden Ball 1997.
→ Di Piala Dunia 1998, dia memenangkan gelar hiburan; penyerang terbaik selama kejuaraan
→ Sepanjang 6 musimnya di Liga Eropa, dia telah mencetak 118 gol dalam 114 pertandingan, dengan rata-rata 4 gol setiap 5 pertandingan, yang menjadikannya salah satu penyerang terbaik sepanjang kala
DATA DIRI
Nama Lengkap: Luiz Nazario De Lima Ronaldo
Lahir: Bento Ribeiro, 22 September 1976
Tinggi: 183 cm
Berat: 82 kg
Posisi: Penyerang
Negara: Brasil
Ayah: Nelio Nazario de Lima
Ibu: Sonia dos Santos Barata
(foto: interfc/barcafan/sportnaluzi/youtube/dailymotion)
0 comments:
Post a Comment