Friday, January 16, 2015

Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah jika pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa mulut, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya acuh taacuh, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan sobat atau sahabat.

 pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger
Dua orang terpenting yang mengemudikan kapal Arsenal ke kurun depan. 
Pria berkumis inilah yang membuat David Barry Dein, pujaan sejati kaum Gooner sejati, hingga terusir dari ruang komisaris Arsenal. Enos Stanley Kroenke, 67 tahun, beken disapa Stan Kroenke, ialah pebisnis Amerika Serikat yang kini menjadi pemegang saham terbesar Arsenal Football Club dengan kepemilikan 66,94% atau 41.652 lembar saham atau senilai lebih dari 1 milyar pound alias setara dengan Rp 20 trilyun. Bagaimana beliau melaksanakan ini semua?

Tampaknya cuma pembicaraan bisnis bermutu saja yang bikin dia mau menggerakan bibirnya. Namun di balik banyak sekali ketidak-asyikan tersebut, sungguh beruntung, dia super kaya raya alias tajir banget. Sepintas tak ada tongkrongan mahluk ini menjadi Qarun zaman modern, salah satu warga bumi terkaya nomor 247 di dunia, 89 di AS. Menurut situs Forbes, Kroenke punya harta 5,8 milyar dollar AS atau setara dengan Rp 75 trilyun.

Sebagai komparasi, 'Paman Gober' nomor satu di dunia termasuk di AS adalah William Henry Gates III, 59 tahun. Gudang uang pendiri Microsoft ini ditimbuni harta 79,2 milyar dollar AS atau sekitar Rp 10,1 bilyun alias Rp 10 ribuan trilyun. Dengan kekayaan ini, bila mau, Bill Gates bisa membeli semua klub sepak bola yang ada di dunia. Soal harta, Kroenke boleh kalah sangat jauh darinya, namun soal minat dan kegairahan di olah raga ceritanya berbeda.

Di AS ia dikenal sebagai pemilik 5 klub top di NBA, MLS, NHL, NLL, dan NFL yang semuanya berada di bawah imperium bisnisnya, Kroenke Sports Entreprises (KSE). Portofolionya belum stop hingga di sini. Kroenke juga menjadi salah satu mogul real estate dan bankir ulung. Reputasinya kian paten alasannya adalah dia suami dari Ann Walton, putri James Lawrence Walton, pendiri Wal-Mart, jaringan ritel terkuat di dunia.

Hikayat lulusan MBA dari Universitas Missouri ini bisa hingga terdampar di Arsenal, lantas menjadi orang nomor satu di klub paling tradisional se-London itu menjadi menarik atensi lantaran jalannya tidak mengecewakan berliku-liku. Tanpa Arsenal, boleh jadi beliau tidak dikenal dunia kecuali di negerinya sendiri. Serial hidup Kroenke di blantika Premier League yaitu pengayaan kredibilitasnya sebagai pecinta olah raga.

Buat Gooner yang belum sampai lima tahun, Kroenke boleh saja disukai. Tapi bagi Gooner karatan dan konservatif, katakanlah seperti Piers Morgan atau Myles Palmer, sangatlah berbeda. Mereka tahu, Kroenke-lah yang dianggap menghentikan roda juara Arsenal di Premier League akibat kebijakan keuangan lantaran masih berkutat dengan peperangan perebutan saham serta dituding tidak tahu banyak soal Arsenal dan tradisi sepak bola Inggris.

Sumber malapetaka prestasi The Gunners di Liga Inggris terjadi pada 2006-2007, yang dimulai dari peperangan di ruangan komisaris alias para pemilik. Yang jadi ironi hal itu terjadi justru seusai Arsenal merenggut prestasi tiada tara yang sulit dijiplak di Inggris: menjuarai Premier League tanpa terkalahkan pada 2004. Kemudian disusul raihan Piala FA 2005, kemudian ke simpulan Liga Champion 2006 serta memiliki stadion baru nan megah bernama Emirates.

Bagaimana semuanya bisa terjadi? Keempat torehan indah itu bak menjadi karya terakhir duet Dein dan Arsene Wenger. Dein yang dikenal master di bursa transfer, hebat dalam melobi atau negosiator ulung mendedikasikan semuanya itu untuk melengkapi kehebatan Wenger. Keduanya sangat inovatif, ekspansif, punya khayalan liar dan yang terpenting saling mengisi satu sama lain sehingga suka dianggap sebagai Yin dan Yang-nya sukses Arsenal.

Ancaman Usmanov

 pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger
Barangkali Kroenke tersenyum melihat Wenger tidak menuntut saham Arsenal.
Saking liarnya duet ini suka berkreasi di luar otoritasnya, contohnya hasrat memiliki stadion yang besar dan megah. Stadion Highbury merupakan satu-satunya minus Arsenal di mata Wenger sejak dia tiba di London pada 1996. Dengan kapasitas hanya 37-an ribu penonton plus luas lapangan 100 x 67 meter, Wenger berani bilang ke dewan komisaris Highbury kurang layak menjadi stadion klub sekharismatik Arsenal.

Mereka harus punya stadion besar dengan tiga alasan: untuk menampung lebih banyak fan, menikmati permainan lebih tepat secara langsung ataupun dari televisi, serta sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian historis Arsenal dan menyongsong era depannya. Bahkan Wenger punya rancangan beberapa bagian stadion baru mirip atap, lantai, kamar ganti dan kamar mandi pemain, auditorium pers serta ruangan rehabilitasi cedera.

Di sisi lain Dein bicara potensi pendapatan tiket, iklan dan sponsor yang dijamin jauh lebih besar. Mereka telah menciptakan mesin uang untuk periode depan. Presentasi keduanya memuaskan dewan komisaris sehingga bersedia membebaskan satu lahan di pinggir jalan kereta di area Ashburton Grove. Namun seseorang mengawasi Dein dengan kewaspadaan: Peter Hill-Wood (PHW). Dia yaitu anaknya Denis Hill-Wood, dan cucu dari Samuel Hill-Wood.

Samuel menguasai saham terbesar semenjak 1929 serta mengkreasi Arsenal meraih era kejayaan pertama di 1930-an. Pada 1946 beliau mengajak rekan Partai Konservatifnya, Sir Guy George Bracewell Smith, membangun ulang manajemen Arsenal yang berantakan usai Perang Dunia II. Karena itulah, demi menjaga tradisi dan menghormati keluarga Hill-Wood, lalu Peter diaklamasikan menjadi presiden klub semenjak 1983 setahun setelah wafatnya sang ayah.

Rupanya kesuksesan Dein dengan mahakarya melahirkan Premier League di 1992 dan mendatangkan Arsene Wenger pada 1996 menciptakan saling silang di dewan komisaris. Ada yang pro, namun lebih banyak yang kontra. Meski jadi pendatang gres sehabis membeli 16,6% saham Arsenal pada 1983, reputasi Dein eksklusif meroket dengan posisi wakil presiden klub sekaligus chief operating untuk semua aktivitas bisnis. Selain itu beliau juga master transfer jempolan.

Lewat tangan acuh taacuh lelaki kelahiran 7 September 1943 itu datanglah Ian Wright pada 1991 dan Dennis Bergkamp pada 1995 di abad George Graham. Ketika Wenger masuk, semua orderan sang profesor dipenuhinya. Patrick Vieira, Emmanuel Petit, Marc Overmars, Thierry Henry, Davos Suker, Robert Pires, Sol Campbell, Gilberto Silva, Gael Clichy, Kolo Toure, Cesc Fabregas dan Robin van Persie hingga nama yang terakhir...Theo Walcott.

Akibat kiprahnya yang kian dahsyat, saham Dein di Arsenal sempat melesat jadi 42% pada 1991. Lama kelamaan PHW, dan juga pemegang saham tradisionalis merasa Arsenal akan dijadikan ajang kepentingan bisnis eksklusif Dein. Apalagi di Rusia, bisnis langsung PHW ikut bersentuhan dengan kekerabatan bisnis Dein. Salah satunya dengan Alisher Burkhanovic Usmanov.

Di era PHW amat membenci pebisnis baja Rusia berdarah Uzbekistan itu, Dein justru menjadikan kolega terbaiknya. Api perseteruan di dewan komisaris pun kian membara. April 2007, dewan mencopot jabatan Dein dari semua aktivitas sebagai eksekutif alias dipaksa cuma disuruh duduk hening menunggu deviden. Merasa telah berbuat banyak untuk mereka dan Arsenal, tentu saja Dein sangat sakit hati akhir pengkhianatan tersebut.

Bukan Dein namanya kalau tidak kontroversial. Pada Agustus 2007, datang-datang dia melepas seluruh 14,58% sisa sahamnya ke Usmanov yang kmeudian mengajak Farid Moshiri, pebisnis Iran, mendirikan konglomerasi khusus bernama Red & White Holdings. Mereka mengangkat Dein sebagai CEO-nya. Misi ketiganya yaitu mengambil alih secara umum dikuasai saham Arsenal. Tapi PHW dan semua anggota dewan komisaris lain telah menebaknya Dein akan melaksanakan apa.

Kematian Fiszman

 pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger
Tanpa Wenger, mustahil Kroenke mampu percaya diri seperti ini.
Sebelum memecat Dein, PHW telah mengontak seorang investor Amerika tidak populer. Digembongi PHW, dewan komisaris mengundangnya untuk membeli saham ITV. TV kabel asal Irlandia itu melepas 9,9% andilnya di Arsenal sebab butuh investasi di bidang lain. Harga saham per lembar masih dihargai 8.000 pound. Orang Amerika ini berjulukan Stan Kroenke. Dewan juga segera memasukkan Kroenke jadi direktur non-executive pada September 2008.

Kroenke segera tahu soal prahara kepemilikan yang sedang terjadi di Arsenal. Akal bulus bisnisnya eksklusif menerawang. Ia ingin lebih jauh terlibat. Sesuai aturan, untuk jadi eksekutif dan mengontrol semua bisnis Arsenal, minimal harus punya 30% saham. Selang tak usang Kroenke melaksanakan misinya. Pertama membeli saham Danny Fiszman sebanyak 10,6%, kedua memborong saham keluarga Richard Carr lebih dari 17,7%. Saham Kroenke menjadi 29,9%!

Namun mencari 0,1% saham setengah mati sulitnya alasannya adalah semua pemilik saham tahu, Kroenke berambisi mengontrol Arsenal. Akibatnya saham Arsenal per lembarnya melonjak jadi 12.000-an pound per lembar. Kubu trio Dein-Usmanov-Moshiri juga melakukan ekspansif. Mereka bergerilya melaksanakan pembelian saham dengan cara retail, lembar per lembar, dari beberapa orang yang punya saham minoritas di Arsenal. Meski capek, akhirnya lumayan.

Hingga masuk ke 2011, Usmanov cs sukses mengumpulkan saham 29,25%! Final antara Amerika vs Rusia di bisnis Arsenal mencapai kulminasinya. Kroenke cuma butuh 0,1% sedang Usmanov 0,75%. Sementara itu harga saham AFC terus melonjak di London Stock Exchange (LSE) meroket 16.000-an pound (Rp 300-an juta) per lembar! Kedua kubu dengan progresif merayu pemegang saham minoritas. Namun mereka bersepakat untuk menunggu keadaan, termasuk perwakilan fans, Arsenal Supporters Trust (AST) yang hanya punya 3 lembar saham!

Prestasi The Gunners abad itu mencapai puncak kegelisahan. Satu-satunya kans juara, di Piala Liga 2011 pun gagal alasannya adalah secara mengejutkan Arsenal ditaklukkan Birmingham 1-2 di Wembley pada bulan Februari. Di grup pemilik saham minoritas, muncul faksi pro dan anti baik Kroenke maupun Usmanov. Bukan itu saja, abad depan sang manajer juga tidak terang. Kontrak Wenger habis di medio 2011. Mudah, ia sedang berdiri di persimpangan jalan.

Di luar pintu, Real Madrid, Bayern Muenchen, PSG bahkan Juventus sudah mengantri untuk meminangnya. Di dikala menegangkan mirip itu, muncullah sesuatu yang tidak diduga, yang membelokkan nasib baik menjadi milik Kroenke dan Wenger: akhir hayat Fiszman pada April 2011. Fiszman, pemilik saham terbesar sebelum dibeli Kroenke, merupakan satu-satunya teman Dein di dewan. Pedagang berlian itu meninggal dunia sehabis usang sakit keras.

Entah mengapa sisa 16,11% saham almarhum bisa dibeli Kroenke, hanya beberapa hari kematiannya. Kroenke pun otomatis jadi preskom Arsenal dengan saham 45,36%. Tamatlah harapan Usmanov dan Dein untuk mengusai Arsenal! Bola salju tidak stop sampai di situ. Wafatnya Fiszman, plus jenuh dengan prahara kepemilikan dan prestasi klub yang merosot; melahirkan sesuatu yang mengubah era depan Kroenke menjadi jelas.

Lady Nina-Bracewell Smith, adalah janda Sir Charles Bracewell-Smith, anak dari Sir Guy George Bracewell Smith ikut melepas seluruh sahamnya yang 15,9%. Langkah itu juga diikuti oleh cucu Sir Guy ialah Clive dan Richard Carr untuk menjual sisa sahamnya pada Kroenke. Per 4 September 2011, Kroenke mutlak menguasai Arsenal dengan 66,76% saham atau 41,537 lembar. Dasar kapitalis, beliau makin giat membeli saham lembar per lembar tiada henti hingga sekarang.

Menurut LSE, di 3 Oktober 2014 saham Kroenke berjumlah 41.639 helai usai membeli 36 lembar saham perorangan. Persentase naik jadi 66,92. Lalu 8 Desember 2014, tim sukses Kroenke menemukan 13 lembar lagi saham yang bersedia dilepas 15.500 pound per lembar. Andilnya pun naik lagi menjadi 66,94% dengan 41.652 lembar saham. Ia masih butuh 3,06% saham untuk menguasai mutlak Arsenal tanpa halangan dari siapapun adalah senilai 70%.

Terkesima Wenger

 pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja WengerHal pertama yang dirasakan Stan Kroenke, Arsenal itu identik dengan Arsene Wenger. Di matanya cuma orang inilah sejagat yang paling pas jadi panglima The Gunners. Kontroversial atau normatif, benci atau cinta, beliau berharap Wenger terus meneruskan darma baktinya di Emirates, kalau perlu sampai jompo sendiri. Ada alasan? "Arsene adalah orang paling mengesankan yang pernah aku temui 20 tahun terakhir ini. Dia orang besar dan aku sangat suka melihat caranya mengatasi dirinya sendiri. Orang ini sangat cerdas alasannya beliau bisa bicara hal apa pun dan amat mengesankan saat berbicara. Saya terpukau mendengarkannya. Harusnya beliau sering mengadakan seminar bisnis," kata Kroenke dikala diwawancarai Jeremy Wilson (The Telegraph).

Faktor Wenger juga jadi motif terkuat Kroenke ketika membeli saham Arsenal. Keyakinannya pada manajer hebat, instruktur luar biasa, ekonom mumpuni, sosiolog, jago gizi atau masakan, pakar statistik, arsitek stadion, konsultan bisnis sampai motivator ini semakin menggiatkan dirinya untuk terus menambah sahamnya di salah satu klub paling tradisional di Inggris tersebut.

Mana kala kepeduliannya pada Arsenal makin besar, semakin terikat pula Kroenke pada sang manajer. Di mata pemilik klub NBA Denver Nuggets ini, enerji Wenger sangat membara. "Fisik dan staminanya luar biasa. Dia merancang, membina, melatih, bepergian, berbicara dan meladeni tekanan dengan luar biasa. Begitu seterusnya. Kadang era beliau seperti yang terlihat menjadi atlet. Arsene adalah Arsenal itu sendiri," papar orang kaya berpenampilan sederhana yang mengaku telah memantau Wenger dan Arsenal semenjak 15 tahun kemudian.

"Saat Arsene membawa Arsenal juara tidak terkalahkan di 2004 itu sesuatu luar biasa dan aku semakin yakin untuk terlibat ke dalamnya," lanjut pengusaha asal Missouri yang mulai masuk ke Arsenal sesudah membeli 9,9% saham Arsenal Holdings plc melalui ITV pada 2007. Di luar respek yang mendalam pada Wenger, tentu Kroenke terkesima dengan karyanya. "Saya suka dengan cara main Arsenal, umpan-umpannya, pergerakan, indah untuk ditonton dan sangat menarik. Saya mengikutinya dari dekat dikala mereka menjadi juara tak terkalahkan pada 2004. Itu hal luar biasa. Saya sering menontonnya eksklusif dikala Thierry Henry masih ada. Itulah awal mula saya suka Arsenal," timpalnya lagi.

Setiap tahunnya owner klub hoki NHL Colorado Avalanche ini menghabiskan 30-40 hari berada di London untuk kegiatan bisnis. Di saat-ketika seperti itu, hampir saban hari beliau pasti bertemu dan berbicara dengan Wenger. Ada banyak kepentingan. Selain salah satu ladang usahanya, kini Arsenal jadi passion barunya. Apalagi putra semata wayangnya, Josh, kebetulan seorang Gooner. Belakangan Josh telah diangkatnya menjadi salah satu administrator Arsenal.

Keterkaitan hubungan pemilik klub MLS Colorado Rapids dengan Wenger lebih dari sekedar profesional tingkat tinggi tapi juga keeratan personal. Mereka saling menghormati, memahami, membutuhkan dan tentu saling berkepentingan. Dua hal yang disukai Wenger padanya: ia fokus pada bisnis dan bukan jenis pemilik yang main atur atau intervensi konten sesukanya. Kroenke bukan bertipe Abramovich atau Berlusconi.

Sebaliknya Wenger dihargai Kroenke karena tak cengeng, tukang todong minta ini-itu bahkan acara terpenting di bisnis sepak bola: bursa transfer. Kroenke paham bursa transfer separonya sepak bola. Respek melahirkan doktrin. Saking percayanya, Kroenke memberi kekuasaan mutlak pada Wenger untuk mengambil semua keputusan go or no go soal produksi, soal teknis, soal pemain dan permainan. Faktor subyektif lainnya ialah, Kroenke dan Wenger nyaris seumuran. Artinya semenjak kecil hidup di zaman yang sama.

Dia merasa hanya disuruh duduk manis oleh sang manajer asal Ivan Gazidis memahami apa yang diinginkan dan dibutuhkan Wenger. Jika Wenger tangan kirinya, maka Gazidis - CEO Arsenal - merupakan asisten Kroenke.

"Saya sangat menikmatinya. Dia sangat cerdas, berintelejensia tinggi dan kita semua tahu Arsene berpendidikan ekonomi seperti halnya saya. Ide beliau bagaimana menjalankan klub amat luar biasa. Arsene adalah pemikir, perencana, pekerja keras, manusia yang mempunyai rekor serta sejarah indah," papar presiden komisaris korporasi KSE UK itu lagi, yang dua tahun lebih bau tanah dari Wenger.

Khawatir Petir

Kisah penyanjungan penganut Partai Republik ini pada Wenger tak berhenti hingga di situ. Anda pernah membaca novel atau minimal menonton film Moneyball? Di situ diungkap sosok konkret Billy Beane, diperankan dengan apik oleh pemain drama Brad Pitt, yang sepintas mengesankan peran Wenger sebab kemiripan contoh pikir. Ternyata memang berkaitan. Keahlian Wenger: kehebatan membelanjakan uang dan menggali nilai secara efektif dan efisien menjadi wangsit Michael Lewis menulis sosok Billy Beane dalam buku Moneyball: The Art of Winning an Unfair Game.

"Billy Beane itu sosok olah raga populer di AS. Anda tahu siapa idola beliau? Arsene Wenger! Ini bukan guyon. Anda tahu itu kenapa," ujar lelaki kalen itu penuh semangat. Alumnus master bisnis di Universitas Missouri begitu takjub alasannya inspirator kunci sukses bisnis olah raga apa pun di dunia itu mengidolai juga Wenger. "Jika Anda melakukan lebih baik dari orang lain, maka Anda selalu jadi yang terbaik. Ini bukan ucapan saya tetapi ucapan Billy Beane, orang yang mengidolakan Arsene Wenger. Silakan Anda cek," sergah laki-laki berkumis ala Adolf Hitler itu dengan serius. Luar biasa.
 pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger
Dedikasi Arsene Wenger seperti ini yang dikagumi Stan Kroenke.
Waktu terus berjalan. Tak terasa sudah delapan tahun Kroenke berkutat di Arsenal. Namun di balik kekagumannya ada kerisauan mendalam pada Wenger. Bukan kasus sudah 10 tahun Arsenal tanpa gelar liga, tapi soal kelayakan sang maestro meneruskan darma baktinya. Meski dia punya hak prerogatif mempertahankan pria Prancis itu, namun bunyi terkuat pantas tidaknya kelanjutan misi sang profesor ada pada suporter, 60-an ribu pelanggan tetap yang saban minggunya membanjiri Stadion Emirates.

Setelah Sir Alex Ferguson pensiun, Wenger sekarang menjadi manajer paling kekal di Premier League dengan dua rekor terukir langgeng: manajer asing terbaik sepanjang era di Arsenal dan di Inggris, serta satu pencapaian awet: meraih juara tanpa terkalahkan di 2003/04, menjadi tiga rekor kalau dia sukses mengantarkan Arsenal menjuarai Piala FA 2016. Tampaknya hanya Wenger sendiri yang bisa mengusir dirinya dari Emirates. Musim 2016/17 adalah periode terakhir sang profesor di Arsenal sesuai kontrak pada Juni 2017.

"Ia memahami perasaan kita, apa filosofi klub, apa yang ingin kita lakukan dan ini menciptakan saya merasa bahwa kami total menyatu. Arsene Wenger selalu ingin melaksanakan cara yang sama dengan yang kita pikirkan. Saya tidak mau berbicara sesuatu yang bukan beliau rasakan. Selama ini ia telah melakukan apa yang dia cintai. Pada akibatnya keputusan ada pada Arsene sendiri," jelas laki-laki kelahiran 29 Juli 1947 itu dengan pasrah.

Tak satupun orang di Diklat Colney atau di kabinet Emirates ingin Wenger pergi, bahkan membayangkan kelanjutan Arsenal pun tidak. Semua besar hati bekerja untuk dan dengan Wenger semoga roda klub terus menggelinding ke seluruh dunia. Sebuah klub berusia 127 tahun. "Ia telah melaksanakan hal luar biasa untuk Arsenal. Namun Arsene pemilik dirinya sendiri, pikirannyalah yang kelak menetapkan itu," imbuh ayah dari Josh Kroenke dan Whitney-Ann Kroenke.

Kroenke menanggung beberapa perasaan sekaligus. Tatkala membahas Wenger, pria bermisai ini bersemangat namun juga berhati-hati. Ia harus mengakui dirinya telah terlibat dalam dengan Arsenal, baik sebagai penggemar maupun pemilik. Semua orang suka dengan kemenangan. Pemilik, pemain, instruktur, apalagi fans. Buat Arsenal dengan sejarah hebatnya, kepedulian mereka untuk menjadi yang terbaik menjadi gairah hidup sehari-hari yang bisa menembus khayalan dan membuka motivasi. Ini pula yang dirasakan Stan Kroenke.

Satu kisah pada 2012 yang kelak tak pernah dilupakan Kroenke perihal Wenger. Saat itu beliau mengajak Josh dan beberapa temannya, juga rombongan tim basket Denver Nuggets ke Colney untuk melihat latihan Arsenal. Tiba-datang hujan turun dengan deras, ada gemuruh halilintar.

Mereka tak percaya pada pemandangan gila. Wenger masih di lapangan terbuka, basah kuyup, tetap melatih skuatnya sambil berteriak meski suaranya tak didengar pemain. "Oh, begitu rupanya keseharian Arsene. Oh Tuhanku, saya khawatir mereka disambar petir. Semuanya itu pasti alasannya adalah cinta karena Anda tak akan melakukan tanpanya. Itulah sebuah passion," pungkas Kroenke sepenuh hati.

(foto: mirror.co.uk /greatgoals/thesun/arsenal.ir/sport&style/pinterest)

Monday, December 22, 2014

Lionel Messi (3 - Habis): Belum Teruji Di Premier League

Selain titel Piala Dunia, faktor lain yang mencurigai kadar kelegendaan Lionel Messi tiada lain soal kiprah satu-satunya di Barcelona dan hanya bermain di La Liga. Beda dengan Diego Maradona yang selain merumput di tanah Spanyol juga bermain di Serie A dan Liga Argentina, tidak demikian dengan Messi. Berbeda dengan Cristiano Ronaldo yang pernah tampil di Premier League Inggris dan Primeira Liga Portugal. Buat sebagian pihak, hal ini ternyata sangat signifikan menjadi satu hipotesis.
 faktor lain yang meragukan kadar kelegendaan Lionel Messi tiada lain soal kiprah satu Lionel Messi (3 - Habis): Belum Teruji di Premier League
Akankah Lionel Messi seumur hidupnya hanya bermain di La Liga?
Bahkan Messi itu belum pernah merumput di Liga Apertura atau Clausura di negerinya sendiri! Lantas bagaimana jikalau Messi bertemu klub papan bawah Premier League atau kasta lebih rendah lagi yang dikenal punya bek-bek bengis dan kejam tiada ampun? Membayangkan Messi beraksi di depan Stoke City atau Millwall di Piala FA bakal menjadi keinginan tersendiri buat khalayak dunia. Di langgar resmi, selama ini Barcelona hanya bertanding dengan klub-klub papan atas di ajang Liga Champion. Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, dan Manchester United.

Begitu pula andai Messi main di Italia yang punya barisan pertahanan super ketat. Apakah beliau sanggup melewatinya dan tetap menjadi raja gol seperti yang disandangnya di Spanyol dan Eropa? Sepak bola olah raga unik. Kadang-kadang tubruk terberat bukan dikala meladeni klub-klub elite, tapi justru di depan klub-klub kecil berteknik lemah yang sangat mengandalkan kekuatan fisik. Lepas dari segala argumentasi, benar juga kalau disebut Messi belum teruji terutama di Inggris dan Italia.

Paul Hayward, redaktur olah raga The Telegraph bahkan menyebut Liga Spanyol tidak mempunyai kekuatan paripurna dan pertahanan sempurna untuk menghentikan sepak terjang penyerang. Faktor inilah kenapa Messi, termasuk Cristiano Ronaldo, terus merajalela di Spanyol. Ronaldo melaksanakan banyak tipuan untuk mengelabui bek-bek Premier League sewaktu membela Manchester United. Dia juga beberapa kali terkena kartu merah akibat emosi yang bablas setelah habis akal.

Tensi Ronaldo kini jauh lebih kalem di La Liga. Messi malah belum pernah mencicipi provokasi pemain dan tekanan penonton khas Inggris atau Italia. Secara masif, dia tak pernah dikerjai bek keras bin kerok macam Ryan Shawcross atau Giorgio Chiellini. Berbeda dengan La Liga, Premier League dan Serie A punya kesamaan esensial di mana sepak bola hasil jadi tujuan utama. "Untuk menghormati ciri khas sebagai hiburan, La Liga berubah menjadi menjadi permainan basket bagi kedua superstar-nya," tulisnya.

Kelemahan klub-klub Spanyol yaitu counter-balancing force, kekuatan menahan serangan balik yang menciptakan Messi dan Ronaldo sangat merajalela, duopoli yang sulit dilarang serta nyaris untouchables. Saat itu baik Messi maupun Ronaldo bak banteng mengamuk. Jika keduanya sudah satu melawan satu dengan bek, maka 90 persen menghasilkan gol. Bayangkan dalam sepekan di pekan kedua Desember, dua megabintang itu mencatat rekor-rekor yang bikin mata orang mendelik.

Sepak Bola Ding-Dong

 faktor lain yang meragukan kadar kelegendaan Lionel Messi tiada lain soal kiprah satu Lionel Messi (3 - Habis): Belum Teruji di Premier League
Faktanya, di Inggris Lionel Messi hanya bisa bikin satu gol.
Usai mencetak hattrick ke gawang Celta Vigo, Ronaldo mengemas rekor barunya: 23 kali mencetak tiga gol atau lebih yang menumbangkan Alfredo Di Stefano dan Telmo Zarraonandia Montoya (22 kali). Tak usang kemudian, Messi juga menumbangkan rekor total gol Telmo Zarra (251). Tiga golnya ke gawang Espanyol melambungkan rekor baru dengan 253 gol. Sistem permainan di La Liga terang-jelas menyuburkan kedua bintang saling memperbarui rekor-rekor sensasional.

Messi dan Ronaldo memasuki zaman keemasan. Keterampilan yang memukau, aplikasi permainan yang di atas rata-rata, kharismatik, atletis; merupakan hiasan asli publik layaknya matador usai menusuk-nusuk punggung banteng kemudian mengeksekusinya sampai tewas. Penonton pun bersorak kegirangan "ole! ole! ole!". Sungguh pemandangan yang ironis mengingat di abad sepak bola modern, dominasi seharusnya sulit mendapat daerah.

Mencetak gol selalu ditunggu-tunggu dalam sepak bola. Namun terlalu mudah mencetak gol melahirkan banyak pertanyaan. Apakah keduanya terlalu dihormati atau dilindungi? Bagaimana La Liga jika mereka usang cedera barengan? Ada apa dengan sistem permainan? Apa sebab mereka itu pemain Real Madrid dan Barcelona? Seberapa jauh kepentingan para sponsor, pengiklan, bahkan pemegang hak siar atas terciptanya sensasi Messi dan Ronaldo setiap pekan?

Lupakan praduga liar seperti itu. Sistem permainan sepertinya paling disorot. Andai pun bukan Messi atau Ronaldo, maka Karim Benzema, Gareth Bale, Isco, James Rodriguez, Neymar Da Silva atau Luis Suarez bakal bertindak sebagai pengganti mereka secara otomatis. Perlu diingat, lewat talenta dan keterampilannya, seorang Messi mampu bikin gol dari setengah lusin sudut tanpa perlawanan. Di Inggris Messi hanya bisa bikin satu gol. Ketidak-seimbangan permainan di La Liga pun semakin jelas.

Di Premier League, Messi mampu sangat menderita, terutama menghadapi bek-bek Stoke City, West Ham, atau Southampton. Ronaldo, Thierry Henry, Ruud van Nistelrooij hingga Luis Suarez pun merasakannya. Mereka pernah 'dizalimi' bek-bek Premier League. Perbedaan rasa permainan, ditambah dengan kehebatan talenta kadangkala membuat laga-laga di La Liga mirip sepak bola ding-dong.

Boleh disebut semua ini dikarenakan oleh sistem. Gara-gara sistem seperti ini pula lahir anggapan stereotif bahwa bek-bek di Spanyol berkelas rata-rata. Kehebatan pemain butuh kekuatan besar lawan biar terlihat semakin brilyan. Sayang La Liga tidak menyediakan. Inikah yang menjadikan Messi dan Ronaldo menerima nirwana reputasinya?

(foto: isu-mali/soccermaylife)

Sunday, December 21, 2014

Lionel Messi (2): Diimpikan Korea Utara

Ada sebuah cerita dari Korea Utara belum usang ini. Kisah wacana harapan anak-anak negeri itu di kurun depan. Apakah mereka berhasrat menjadi tentara dan siap berperang dengan Korea Selatan? Tidak, belum waktunya. Apakah pada bermimpi pergi ke Eropa untuk menyaksikan pribadi aksi para bintang? Tidak, justru sebaliknya.
Ada sebuah cerita dari Korea Utara belum lama ini Lionel Messi (2): Diimpikan Korea Utara
Fenomena kepopuleran Lionel Messi di Korea Utara.
Menurut seorang pejabat tinggi asosiasi sepak bola Korea Utara, belum dewasa mereka ternyata amat keranjingan dengan Lionel Messi. Singkat kata, sang pejabat itu berniat mengundang bintang Argentina dan Barca itu ke negerinya sesudah mendengar permintaan bawah umur mereka. Ucapan ini mengakibatkan spekulasi terselubung.

Beberapa media massa di Barat menduganya bukan dari impian para bocah, namun bekerjsama kemauan sang pemimpin; Kim Jong-un. Sudah jadi buah bibir di seantero negeri bahwa Kim Jong-un sangat menggemari sepak bola mirip ayahnya, Kim Jong-il dan kakeknya, Kim Il-sung, sang yang kuasa negeri pintu besi.

Ada sebuah cerita dari Korea Utara belum lama ini Lionel Messi (2): Diimpikan Korea Utara
Apakah Lionel Messi juga mengidolai Kim Jong-un, setidaknya gayanya?
Di balik sifat introvert-nya diktator berusia 31 tahun itu amat kondang sering membuat sensasi. Selain aneh bola, putra bungsu mendiang Kim Jong-il itu juga penggemar bola basket. Februari 2013, tanpa diduga Jong-un mengundang bintang basket AS, Dennis Rodman dan rombongan Harlem Globetrotters ke negerinya untuk bereksibisi. Di lalu hari, Jong-un malah berteman dengan Rodman. Kedatangan Messi agaknya menjadi tujuan berikutnya untuk menebar kegemparan.

"Saya ingin undang Messi alasannya adalah belum dewasa kami mencintainya," sebut Han Un-gyong, satu-satunya perempuan se-Korea Utara yang menjadi Exco di AFC, konfederasi sepak bola Asia. Menurut Un-gyong, bawah umur Korea Utara segala umur dan jenis kelamin, selalu menyebut nama Messi saat ditanyakan siapa pemain idola mereka. "Mereka menyayangi alasannya adalah Messi orang yang sangat jujur dan ikhlas ikhlas. Dia menyayangi belum dewasa," tambahnya. Anak-anak yang dimaksud Un-gyong adalah murid di Sekolah Sepak Bola Internasional di PyongYang yang didirikan Kim Jong-un. Popularitas Messi menembus batas terdalam ke negeri paling tertutup sedunia itu. Tidak saja pemimpinnya, tetapi juga semua anak-anaknya mengidolai Messi. Mereka membaca apapun tentangnya, menontonnya via TV dan internet. Apakah nama Messi akan melegenda baka di Korea Utara? Waktulah yang memilih. 

(foto: mid-day/scmp/indiatimes/ibtimes)

Lionel Messi (1): Raja Tanpa Mahkota

Ia merupakan sesuatu di pikiran orang yang tahu sepak bola dan menggilainya; yang juga tidak tahu sepak bola bahkan membencinya; wacana bagaimana seharusnya sepak bola itu dimainkan, bagaimana pesepak bola yang seharusnya. Dia ialah perwujudan dan impian sepak bola itu sendiri, bahkan sebagai simbol, hakikat, atau tujuan permainan.

Ia merupakan sesuatu di pikiran orang yang tahu sepak bola dan menggilainya Lionel Messi (1): Raja Tanpa Mahkota
Dalam lingkup sepak bola, dijuluki manusia setengah yang kuasa.
Inilah cerita wacana seorang satria gol, seorang raja sepak bola. Kita kehabisan kata untuk memuji, membayangkan, atau menggambarkan siapa Lionel Andres Messi Cuccittini itu, kata Gerard Pique. Pujian nan apresiatif, cenderung superlatif. Namun Anda memang akan dicerca dunia andai berani melawan arus.

Membabi buta memujanya? Ya atau tidak bukan masalah. Lagi pula mengapa tidak kalau memang harus? Ada fakta, ada barang buktinya. Pangkal segala si empunya kisah bertumpu pada insan setengah ilahi yang tingginya hanya 169 cm. Seusai mencatat tiga gol ke gawang Espanyol dalam derbi Catalunya, Leo Messi menambah koleksi 21 kali hattrick-nya di Barcelona, begitu fenomenal melihat rangkaian gol-gol kemenangan tuan rumah 5-1.

Golnya ke-400...401...402 lahir semudah membalikkan telapak tangan! Yang perlu diperhatikan, hal ini pun masih akan berlanjut dan berlanjut. Di usia yang masih 27, anak bungsu dari pasangan Jorge Horacio Messi dan Celia Maria Cuccittini itu niscaya terus menambah perbendaharaan golnya entah di angka berapa, syukur-syukur bisa empat digit mirip Pele atau Romario.

Dalam dua tahun terakhir, rekor langsung Messi semakin syur. Pada 2012 beliau menguasai pentas Liga Champion, mulai dari pemegang rekor hattrick terbanyak, beruntun mencetak gol di empat berkelahi sampai bikin lima gol sekali main. Puncaknya di tahun itu Messi menyamai rekor Jose Altafini (AC Milan) sebagai pencetak gol terbanyak Liga Champion (14 gol) yang bertahan sejak 1962/63, serta menggapai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah di Eropa dengan raihan 73 gol semusim dari aneka macam sumber!

Masih kurang? Betul, di saat yang sama status el-pichichi dengan 50 golnya di La Liga semakin membuat orang menggaruk-garuk kepala. Tahun berikutnya, gelar demi gelar masih membasahi reputasinya. Pada Februari 2013, si kaki kidal kelahiran 24 Juni 1987 menggenapkan rekor 300 golnya di Barcelona. Selang sebulan, di 21 partai terus menerus bikin gol di La Liga menuai rekor.

Maret 2014, King Leo ditulis sejarah menjadi pemain yang paling banyak buat trigol di pentas El Clasico, langgar sepak bola reguler paling wahid di dunia. Pada Oktober dia resmi melesakkan 250 gol-nya di La Liga. Sebulan lalu, hattrick ke gawang Sevilla mendongkrak angka 253 gol yang mengundang dentuman sejarah karena menjadi pembuat gol paling banyak di bumi Spanyol.

Gara-gara itu Messi mengubur rekor Telmo Zarraonandia Montoya, striker Athletic Bilbao 1940-55, yang mengoleksi 251 gol. Di ujung November 2014, giliran rekor pencetak gol terbanyak sepanjang zaman di Liga Champion (74 gol) yang disabetnya. Gol, gol, dan gol identik dengan Messi. Dialah jagoan gol terbaik dikala ini.

Ia merupakan sesuatu di pikiran orang yang tahu sepak bola dan menggilainya Lionel Messi (1): Raja Tanpa Mahkota
Luar biasa andal di klub, belum jago di tim nasional.
Dari sisi prestasi juga berada di atas rata-rata pesepak bola, Messi mengantar Barca enam kali juara La Liga, tiga kali Liga Champion, dua kali juara dunia klub, dua kali Piala Super Eropa, dua kali Copa Del Rey, enam kali Supercopas De Espana, Total 21 gelar bersama Blaugrana. Di tim nasional, laki-laki Gemini ini menciptakan Argentina menjuarai Piala Dunia ingusan 2005 dan emas Olimpiade 2008 Beijing. Sejauh ini kontribusinya untuk bangsa dan negara hanya sebatas itu.

Tiga Tahun Lagi

Lainnya? Paling banter pernah jadi runner-up Copa America 2007 dan finalis Piala Dunia 2014. Ini penyebab kadar kelegandaannya masih di bawah Diego Maradona setidaknya menurut separo dunia, tapi mutlak di Argentina. Torehan prestasi Messi di klub dan negara amat timpang. Agaknya ia cuma mampu berkarya untuk Barcelona yang dibelanya semenjak 13 tahun.

Tidak apa-apa, bukankah Pele juga begitu, seumur hidupnya hanya main di Santos kemudian ke Cosmos New York dikala uzur? Tapi, sekali lagi, Pele memberi tiga kali Piala Dunia untuk Brasil. Hmm, sudah terperinci di mana terletak 'malu' Messi. Mesti diingat di dunia ini banyak superbintang bahkan legenda yang erat dikenal di gendang indera pendengaran kita tapi kurang sejati, terasa kurang berjiwa alasannya trophyless di Piala Dunia.

Eric Cantona, Ryan Giggs, Andriy Shevchenko, bahkan Johan Cruijff atau David Beckham. Kalau ditarik ulur ke belakang ada Alfredo Di Stefano, Ferenc Puskas, Just Fontaine, Raymond Kopa, dan seterusnya. Abadikah nama-nama mereka? Ya tetap kekal. Namun Pele, Franz Beckenbauer, Maradona, Zinedine Zidane, Ronaldo Nazario, Sir Geoff Hurst sampai Fabio Cannavaro jelas berada di planet berbeda.

Terus terperinci folder Messi seharusnya ada di sini, bersama mereka. Bahkan satu daerah masih 'kosong' disediakan hanya untuk Messi, alasannya dialah yang paling pantas. Kenyataannya lain. Sejarah akan pertanda, apakah kelak Messi hanya berstatus sebagai pendekar bukan legend. Jika sekarang tahun 1950-1960-an, maka dari Eropa kita akan mengenal Alfredo Di Stefano, Eusebio Ferreira, Raymond Kopa, Stanley Matthews, Bobby Moore, Bobby Charlton dan masih banyak lagi sebagai bintang dunia. 

Ia merupakan sesuatu di pikiran orang yang tahu sepak bola dan menggilainya Lionel Messi (1): Raja Tanpa MahkotaSementara di Amerika Latin muncul Pele, Didi, Garrincha hingga Vava. Namun begitu dipilah jadi legenda sejati, maka seorang juara dunia akan lebih harum. Bobby Moore, Pele, Didi, Vava, Garrincha. Prestasi puncak pesepak bola adalah juara dunia, titel World champion di World Cup! Jika Anda kapten tim yang memenangi World Cup, pasti titel Pemain Terbaik Dunia di tangan Anda. "Kala Anda menjadi juara dunia, otomatis Anda jadi legenda. Di depan orang-orang di seluruh dunia, Anda berbeda. Wow, kami telah berbuat sesuatu: menjadi juara dunia. Kami diarak dua juta orang dikala menuju Colloseum. Kami seperti di cerita Maximus Decimus. Sesudahnya aku merasa tak mirip pemian biasa," kata Fabio Cannavaro - kapten Italia di Piala Dunia 2006.

"Lalu ketika aku memenangkan titel Pemain Terbaik Dunia, tak satupun orang yang protes," lanjut si anak Napoli bernama Muro di Berlino (Tembok Berlin). Inilah pencapaian Cannavaro, yang sayangnya belum bisa dirasakan Messi. Dibanding kemampuan dan kelihaian Messi, maaf, siapalah Cannavaro? Tapi, itulah, fakta yaitu fakta. Barangkali kini ini status Messi seperti seorang raja yang belum boleh duduk di singgasana kebesaran, atau dilarang memakai mahkota. Jika kesempatan selalu jadi harapan, maka satu-satunya jalan meraihnya ada pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Saat itu Lionel Messi sempurna 31 tahun, usia yang belum bau tanah-tua amat buat ukuran megabintang.

Messi ialah satu-satunya pesepakbola sejagat yang meraih FIFA/Ballon d'Or sebanyak empat kali. Wajar. Tiada yang bantah jikalau ia megabintang kini ini. Lionel Messi yaitu kapten tim nasional, mirip Bobby Moore, Franz Beckenbauer, Maradona, atau Cannavaro. Bahkan Messi berpotensi lebih besar dari Pele yang tak pernah jadi kapten nasional.

Sayangnya, bak sayur tanpa garam, pencapaian Messi masih status quo. Keajaiban Messi hanya berdampak bagi Barcelona atau daerah Eropa. Bukan kepada Argentina atau lingkup dunia. Ingat, prestasi tertinggi pesepak bola ialah juara dunia. Meski makin sempit, masih ada waktu buat Messi untuk melengkapi statusnya sebagai legenda sejati sepak bola. Tunggu tiga tahun lagi... di Rusia, tidak mampu tidak.

(foto: pinterest/mirror/time/walesonline)

Monday, December 15, 2014

Liga Indonesia 2015: Bagaimana Menciptakan Jadwal Kompetisi Yang Baik Dan Benar?

Di Inggris, tidak akan pernah ada ceritanya Arsenal dan Tottenham, Liverpool dan Everton, atau Manchester United dan Manchester City menjadi tuan rumah di pekan yang sama. Itu ialah enam klub dari tiga kota besar di Inggris yang punya basis massa terkuat di mana gesekan pendukungnya amat sensitif dan berisiko tinggi.
 tidak akan pernah ada ceritanya Arsenal dan Tottenham Liga Indonesia 2015: Bagaimana Membuat Jadwal Kompetisi Yang Baik dan Benar?
Semuanya telah diatur dengan rapi oleh operator liga, The Premier League. Padahal tuntutan khalayak media massa, televisi, pemasang iklan, sampai klub-klub, agenda tersebut harus secepat mungkin biar mereka bisa mengatur kegiatan bisnisnya ke depan. Bahkan mereka terbiasa menyusun agenda sah sebelum hasil playoff di divisi tertentu selesai.

Harus diakui, dalam mengkompilasi finalisasi agenda pertandingan, sang operator jadwal terpaksa menggunakan beberapa persyaratan khusus (golden rules) antara lain: setiap klub tidak boleh main tiga kali beruntun di kandang atau tandang, setiap lima partai harus berisi tiga berkelahi sangkar dan dua tubruk tandang; atau bisa juga sebaliknya. Tujuannya agar pendapatan reguler klub-klub dari tiket masuk bisa dipastikan sehingga menjamin cash-flow dari sisi finansial mereka. Juga menolong lapangan dan rumput mereka agar tidak cepat rusak, serta membantu para suporter tidak terlalu sering berpergian.

Aturan lebih spesifik lagi diberlakukan untuk langgar-adu derbi. Klub macam Arsenal dan Tottenham, atau Everton dan Liverpool - di mana stadion mereka hanya berjarak sekitar 4-5 km - dan juga beberapa klub lainnya, bisa melakukan deal saling pengertian, misalnya siapa dulu yang akan menjadi tuan rumah, menyangkut dengan kepentingan lingkungan sekitar.

Liga Indonesia
 tidak akan pernah ada ceritanya Arsenal dan Tottenham Liga Indonesia 2015: Bagaimana Membuat Jadwal Kompetisi Yang Baik dan Benar?
Belakangan di Indonesia kesadaran betapa ruwetnya bikin agenda mulai dipahami. Pekerjaan membuat acara kompetisi sepak bola dapat diibaratkan mengelola restoran. Mengetahui animo para tetamu yang tak kunjung henti, telpon yang terus berdering, atau tumpukan daftar pesanan makin meninggi, maka sang koki sudah pasti akan menyuruh aneka juru masaknya untuk menyiapkan banyak sekali hidangan gres.

Jangan sampai tamu menunggu lama! Begitu pun tugas fixture-maker itu. Mereka tahu, urusan jadwal melebar ke mana-mana, berdampak dahsyat dan signifikan. Beragam kepentingan bercokol di dalamnya. bukan saja buat klub namun juga televisi, agensi pemasang iklan, pemerintah tempat, kepolisian, seluruh vendor klub, perusahaan aparel, media-media, jurnalis, pemilik klub, manajer, para pemain, penonton, sampai pedagang kuliner-minuman. Pendek kata, kita semua!

Yang terjadi di Indonesia jangan ditanya lagi. Sebagai pengelola kompetisi yang tertinggi di Tanah Air, pelayanan PT Liga Indonesia masih sangat mengecewakan banyak pihak. Di musim 2014, perkara paling menonjol yang berkenaan dengan jadwal yakni penundaan tabrak secara tiba-tiba, bahkan yang sekelas big-match sekalipun. Masih ingat penundan Persija vs Persib gara-gara pemilihan legislatif, April 2014?

Mulai dari pemain, instruktur, wasit, sponsor, pemasang iklan, stasiun TV, hingga penonton atau pendukung klub semua dirugikan. Milyaran uang melayang percuma, dan ini tidak sekali-duakali terjadi, namun berkali-kali. Jika tidak ditunda, pergeseran jam kick-off juga mampu muncul secara tiba-datang. Bayangkan jikalau jadwalnya molor, atau parahnya lagi salah hitung sat membuatnya sehingga di tengah jalan kompetisi jadi berserakan tidak karuan. Banyak partai tunda. Banyak pemain cedera. Banyak kerusuhan antar suporter. Persiapan timnas amburadul. 
 tidak akan pernah ada ceritanya Arsenal dan Tottenham Liga Indonesia 2015: Bagaimana Membuat Jadwal Kompetisi Yang Baik dan Benar?
Ujung-ujungnya, ini yang parah, pengeluaran maupun pendapatan klub juga bisa kolaps. Padahal kasus ini tidak bakal terjadi apabila PT. Liga Indonesia punya persiapan prima saat menciptakan acara liga dengan penuh perhitungan, ketelitian, kesabaran. Selain itu dalam menyusun jadwal, seseorang atau tim tidak saja butuh memahami sepak bola nasional, tapi juga kedalaman, pengetahuan serta wawasan luas sepak bola global dan regional.

AFC selalu punya kalender resmi, begitu juga FIFA. Ada waktunya laga itu jadi panggungnya AFC, misalnya Liga Champion Asia atau Piala AFC. FIFA pun telah menginstruksikan pemain tim nasional di seluruh dunia dalam waktu tertentu di tiga-empat bulan (Maret, Juni, September, November), harus kopi darat berlatih dan menggelar laganya.

Di Indonesia, variabel untuk menciptakan jadwal sangat kompleks. Selain hari libur nasional, yang paling spesial yakni bulan pahala (Ramadhan), serta waktu-waktu khusus di kawasan semisal festival, HUT daerah, acara kesenian dan masih banyak lagi. Melihat kasus yang terjadi selama 2014, boleh jadi PTLI mengabaikan keterkaitan satu sama lainnya. Padahal melihat isi kalender di demam isu 2015 jauh lebih kompleks lagi.

Membuat acara liga tidak sembarangan sebab sebisa mungkin harus berpikir komprehensif. Mau tidak mau, PTLI harus berbenah biar tidak mengecewakan banyak pihak lagi. Sukses tidaknya Liga Super Indonesia 2015, sebagai kala baru kompetisi profesional di Indonesia, bisa dilihat dari kredibilitas dalam menyusun jadwal kompetisinya.

(foto: paddypower/electronicpricex.blogspot/klubpersipura.blogspot)

Thursday, December 4, 2014

Moralitas Macan Kemayoran

"Saya lahir di sepak bola. Ayah saya pesepak bola yang sangat anggun, seperti kebanyakan orang Italia yang selalu garang pada permainan cerdas ini. Sepak bola mengajarkan kita cara hidup bersama, cara mengembangkan bila anda lebih baik dari orang lain. Sepak bola yaitu pendidikan luar biasa seumur hidup." (Michel Platini).
 Ayah saya pesepak bola yang sangat bagus Moralitas Macan Kemayoran
Tidak selamanya sepak bola itu harus selalu menjadi sebuah permainan, tontonan, atau bahkan ajang bisnis. Banyak hal dan kegiatan lain untuk menawarkan betapa bisa mulianya sepak bola dari sisi lain, terutama untuk kegiatan sosial yang rata-rata belum banyak digali lebih dalam oleh kebanyakan klub sepak bola terutama di Indonesia. Mulailah menjadi pionirnya.

Suatu malam di musim masbodoh yang menusuk, di Hotel Claridges, London, digelar satu pesta yang jarang terjadi terutama untuk mengetahui tujuannya dan siapa pencetusnya. Sebuah acara penggalangan dana bagi anak-anak yatim piatu yang melibatkan SOS Children - forum amal terbesar di dunia yang khusus mengurusi anak-anak miskin dan serba-kekurangan.

Keunikan mulai terasa kala di beberapa sudut hotel five stars bergaya art deco itu. Banyak logo sponsor dan juga emblem Arsenal. Arsenal? Ya, Arsenal - salah satu klub top di ibukota. Kesan makin tampak lagi sebab latar belakang backdrobe-nya di panggung bertuliskan The Arsenal SOS Children's Villages Charity Ball.

Klub berjuluk The Gunners itu memang lazim terlibat dalam aktivitas sosial atau amal, terutama sehabis pindah ke Stadion Emirates pada 2006. Mereka sering berkunjung ke rumah sakit, menyantuni penyandang cacat, panti jompo, dan aneka macam acara charity lain. Namun khusus pada tanggal 5 Desember 2010 itu sedikit berbeda kalau Anda tahu siapa kreatornya.

Sepintas acara ini lebih bersahabat kepada glamor alasannya adalah pemain yang hadir mengenakan black tie. Hajatan sosial ini seperti pesta WAG's (istri atau pasangan pesepak bola) atau fashion shows. Beberapa selebritis lokal hadir. Ada pagelaran fesyen, musik yang dipandu DJ Pete Tong, lagu dari The Noisettes, dan lelucon Jack Whitehall serta acara lelang oleh presenter James Corden.

Hajatan itu dipelopori oleh ABC Club, yang didirikan Bouchra Elbali. Nama ABC diambil dari inisial Aimee, Bouchra, Carla. Siapa mereka, ini yang seru. Aimee van Ommen (24) adalah kekasih Thomas Vermaelen. Carla Dona Garcia (24) pacarnya Cesc Fabregas. Sedangkan Bouchra Elbali (27) ialah istri Robin van Persie.

Seperti kerjasama ketiga pemain itu di lapangan, begitu juga ternyata para pasangannya, kompak lahir batin di luar lapangan. Lebih dari itu, mereka ternyata no ordinary people karena out for everything they can get to help the world's poor. Sikap mereka amat mulia sebab peduli dengan kemiskinan belum dewasa dan dunia yatim piatu terutama di Afrika.

"Kesenangan dikala membeli tas mahal hanya beberapa detik saja, tapi dikala memberi sebagian yang didapat untuk mereka yang tidak beruntung mampu selamanya," tutur Bouchra, muslimah Belanda berdarah Maroko yang juga sarjana akuntansi dan komunikasi. Inspirasi munculnya ABC Club dan malam amal itu datang dari keluarga Bouchra. 

Sementara Aimee bersyukur bisa terlibat di SOS Children dan merasa beruntung diajak Bouchra. Sikap sederhana terpancar di wajah wanita Belgia ini. "Perasaan terbaik seseorang yaitu ketika beliau memberi, dan itu sangat penting ketika kita dilimpahi kelebihan," ucap anak dokter spesialis jantung tersebut.

Paparan Carla ihwal kepedulian terhadap sesama lebih dalam dan ilmiah. Maklumlah beliau sarjana psikologi. "Menolong sesama yakni dampak nyata dari sepak bola. Jika Cesc bisa melakukannya, kenapa aku tidak? Kita harus melaksanakan sesuatu. Tadinya ilham aku melelang barang-barang kami, tapi Bouchra punya wangsit yang lebih ahli," ungkap karyawati pemasaran ini.

Peduli Persija

 Ayah saya pesepak bola yang sangat bagus Moralitas Macan KemayoranItu di London, ibukota Inggris, di mana ada banyak klub top selain Arsenal seperti Chelsea, Tottenham Hotspur, West Ham United, Queens Park Rangers dan Crystal Palace. Bagaimana di ibukota Indonesia tercinta? Bayangkan kalau Persija Jakarta melakukan hal yang sama. Sebagai satu-satunya klub legendaris kebanggaan warga ibukota, dampaknya niscaya jauh lebih nendang lagi.

Ide mampu dari siapa saja yang mengaku sebagai pemangku kepentingan Macan Kemayoran. Pengurus, manajemen, instruktur, pemain, sampai Jakmania-nya. Banyak sponsor yang niscaya mau berhubungan. Ada banyak acara sosial yang bisa dibantu, mulai dari anak latih, bea siswa bagi yang tidak bisa, sampai mengunjungi sekolah-sekolah, rumah sakit atau rumah ibadah.

Dengan reputasi menjulang sebagai klub ibukota yang disegani, niscaya banyak pihak yang ingin membantu Persija. Dengan dogma diri yang besar lengan berkuasa, melalui gerakan #Gue Peduli Persija harus cerdas mengelola kepentingan bisnis dan sosialnya. Penggalangan dana publik ditujukan untuk kedua aspek itu. Jika dilakukan dengan sempurna, hampir niscaya imbas signifikan akan terasa.

Setiap 10 persen saja dari pertolongan setiap warga Jakarta misalnya seribu perak setiap pekan, sudah diniatkan sejak awal untuk berbagai program sosial dan program charity. Begitu juga beberapa persen dari laba pemasukan tiket, iklan, hak siar, sponsorship, marketing, ada baiknya bisa dirasakan kembali oleh orang-orang atau golongan yang tidak mampu.

Tidak perlu melek-melek mencontoh keyakinan diri Arsenal dikala menggelar hajatan sosial, namun berbekal reputasi dan dapat dipercaya yang menggunung di Tanah Air, Persija niscaya mampu mendapatkan tujuannya. Semakin banyak punya pemain berstatus bintang, kontribusi juga semakin semakin besar yang berarti besar pula kesempatan untuk mewujudkannya.

Memasuki 2015, kemandirian menjadi kata kunci Persija. Mereka tidak harus melupakan membangun kualitas sumber daya-nya. Tidak ada anak-anak ibukota, bahkan di negeri ini yang tidak mau bermain untuk Persija. Di dalam bukunya yang berjudul Fever Pitch, Nick Hornby mengemukakan sepak bola merupakan metafora kehidupan, karena hidup selalu punya tujuan.

Mulai 2015 Persija mencanangkan tahun prestasi dan berdikari dengan mengutamakan isu moralitas. Perjalanan panjang selalu dimulai dari langkah pertama, dan melalui gerakan #Gue Peduli Persija, bisa meraih sukses hingga semua stakeholder merasakan yang pernah dikatakan Albert Camus: "Apa pun yang aku ketahui soal moralitas, aku berutang pada sepak bola."

(foto: persija.co.id)

Wednesday, November 26, 2014

Catatan Ringan Ihwal Chelsea: John Neal

PENDUKUNG Chelsea sedunia seharusnya sering mengenang tanggal 28 April 1984. Meskipun kelahiran klub, yang pada 10 Maret 1905 itu terlihat lebih bersejarah, namun sebuah kejadian yang muncul 30 tahun lebih dicap sebagai tonggak baru, reborn, buat klub yang sekarang berkembang menjadi menjadi salah satu pilar utama atau simbol kapitalisme olah raga di London, dan juga di Inggris. 

John Neal.
Pendeknya tanpa momen itu tak mungkin, Anda akan mengasihi dan meletupkan mulut pada Chelsea seperti kini. Tanpa peristiwa tersebut, mustahil ada orang mirip Roman Abramovich, Jose Mourinho, Didier Drogba bla bla bla yang mau datang ke Stamford Bridge mengenakan kostum biru. 

Bahkan kejayaan tiga titel Liga Inggris, enam Piala FA, tiga Piala Liga, tiga Piala Community Shield, dua kali Piala Winner, serta sekali Piala Super Eropa, Liga Europa, dan puncaknya di Liga Champion pada 19 Mei 2012, harus mengarungi kejadian tadi. Ini ialah perjalanan sebuah takdir. Dan, pada kesannya tak mungkin sekarang Chelsea punya 400 juta fan sejagat seperti klaim CEO-nya, Ron Gourlay, September 2014 silam. 

Penggemar gres True Blue, yang disinyalir 90%-nya berusia 19-32 tahun – berkebalikan dengan julukan lamanya sebagai klub para pensiunan (The Pensioners) – seharusnya menghargai juga jasa seseorang terlupakan yang bernama John Neal, sama pentingnya seperti pada Kamerad Abramovich atau Senhor Mourinho. Tanpa Mr. John barangkali nasib Chelsea sekarang mirip Brentford atau Millwall, dua klub London yang sulit lagi menggapai piramida tertinggi sepak bola Inggris.

John Neal yakni manajer Chelsea pada 1981-85 yang menggagalkan nasib jelek Chelsea kejeblos ke Divisi Tiga pada animo 1982/83. Di simpulan animo itu, Chelsea hanya terpaut satu kemenangan dari Rotherham United, Bolton Wanderers, dan Burnley yang kesemuanya itu terlempar dari Divisi Dua. 

Di abad pra Premier League ini, hebatnya lagi Neal pula yang meloloskan lagi Chelsea ke Divisi Utama setelah merebut juara Division Two old pada 1983/84. Ibarat roda kehidupan, dikala itulah putaran nasib abad depan Chelsea rupanya ditentukan. Apa yang dilakukan John Neal pada dua ekspresi dominan yang paling memilih itu? 

Sejak terdegradasi dari Divisi Utama di musim 1974/75, reputasi Chelsea yang cuma sekali menjadi juara Inggris pada 1955, jatuh ke titik nadir. Klub ini mulai dilupakan orang, dan sakitnya lagi, juga dilupakan media massa yang berarti dilupakan dunia. 

Secangkir Kopi 

Sebuah kesebelasan ibukota yang pernah melahirkan bintang nasional Ron Bentley, Jimmy Greaves, dan Peter Osgood ini tak kuasa meladeni poros persaingan yang era itu sedang dikuasai Liverpool, Leeds United, atau Arsenal. Tak ada orang yang mau melatih Chelsea, tak ada orang yang peduli, kecuali itu tadi, para pensiunan! 

Sejak dulu, berkat lokasinya, Chelsea hanya didukung kaum manula dan golongan purnakarya yang tinggal di tempat elite London Barat. Chelsea hanyalah hiburan pengisi waktu senggang di hari libur, selain golf, baccarat, atau menonton polo. Yang tidak punya ambisi dan hawa nafsu lagi kecuali menghabiskan umurnya. Populasi mereka tidak banyak, pasif, dan memandang klub di wilayahnya itu sebagai identitas semu yang tidak memberi ruang mulut kecuali impresi. 

Neal hadir mendadak di Stamford Bridge, April 1981 usai pemecatan instruktur Geoffrey Hurst, si jagoan Inggris di Piala Dunia 1966. Pemilik klub ini yaitu Keluarga Mears, yang moyangnya yaitu pendiri Chelsea. Gara-gara harga baja yang meroket, mereka kehabisan duit usai pembangunan tribun East Stand. 
                                                       
Dengan bujet transfer yang amat minim bin mentok, Neal diwanti-wanti supaya bijaksana menggunakan dana pinjaman dari berbagai lintah darat yang siap memanfaatkan kesulitan Keluarga Mears. Pikir punya pikir, peminjaman pemain agaknya jadi sesuatu yang realistis ketimbang membelinya. 

Neal diwarisi skuad yang nyaris tanpa motivasi dan ambisi yang terperinci. Musim pertama Chelsea di bawah Neal sangat tidak berkesan kecuali kemenangan 2-0 di Piala FA atas juara Eropa, Liverpool. Stigma yang menancap di Chelsea waktu itu tidak lain sebagai klub yang banyak hutang, tanpa ambisi dan sekedar ada. Istilahnya bagai kerakap tumbuh di watu, mati segan hidup pun tak mau. 

Saking miskinnya, harga jual klub ini tidak melebihi secangkir teh. Diberi gratis pun orang masih berpikir seribu kali. Stadionnya masih utang, temboknya bolong-bolong sehingga mudah dilewati kucing garong apalagi tikus. Skuad-nya milik klub orang lain alias pemberian. Belum lagi tagihan honor pemain dan staf, serta biaya transportasi yang gali lubang tutup lubang. Semua ini hanya bisa ditutup tiap bulannya dari mengandalkan pemasukan tiket. Benar-benar berjudi. 

Turbulensi di Chelsea sungguh abnormal-gilaan, menyamai pesawat Hercules yang mati baling-balingnya. Dan catat, ini klub divisi dua pula. Yang menggoda cuma satu, lokasinya yang elite. Di bilangan segitiga Kensington - Knightsbridge - Notting Hill. Kalau di Jakarta, barangkali mirip di sekitaran Jalan Pakubuwono - Hang Tuah yang adem itu.

Sampai alhasil pada 1982 Kenneth William Bates, pengusaha kontraktor pemugar The Bridge yang bolong-bolong tadi, jadinya membeli klub itu hanya dengan harga 1 pound. Dibeli karena frustrasi membenahi bangunan dan memikirkan seluk beluk klub orang purnakarya ini. Bayangkan, Bates membelinya dengan harga secangkir kopi! 

Banyak yang bilang Bates sudah sinting dan hilang ingatan mengingat Chelsea dalam kondisi kritis dan krisis serta berisiko tercebur ke Divisi Tiga. Siap-siap saja hutang dan pajaknya makin bertumpuk. Bates seperti menjudikan hidupnya. Namun dalam hidup terkadang orang mesti mundur dulu selangkah biar bisa maju dua langkah. 

Ken Bates mulai mengubah pekerjaan, kebiasaan dan waktunya menjadi pengelola klub, dan beruntungnya, dia punya John Neal. Dalam bulan-bulan ke depan yang memilih, Neal sukses mencegah Chelsea jatuh ke lubang lebih dalam di divisi tiga, hanya di dua tabrak tersisa trend itu! Chelsea menang 1-0 di kandang Bolton dan bermain 0-0 lawan Middlesbrough di kandang sendiri. 

Bates menang “judi”, dan usaha pertama Neal pun, sementara akhir. Chelsea masih bokek memasuki trend 1983/84. Neal kembali harus menyewa pemain atau membeli pemain termurah, yang berisiko seperti menerima kucing dalam karung. Sudah pasti nama-namanya gila dan asing-asing. Salah satu nama yang patut dicatat yaitu Pat Nevin. 

Ditolak Glasgow Celtic, Neal buru-buru menggaet penyerang bertipe “Eden Hazard” dalam bentuk lawas. Nevin – yang disapa Wee Pat – seakan-akan jimatnya Neal. Memulai dengan mencukur Derby County 5-0, Chelsea sukses meraih lima kemenangan di 6 sabung perdana. Malahan merangkak jadi 13 di 17 partainya dan belum terkalahkan. 

Neal juga melahirkan “legenda” lain yang boleh jadi tidak dikenal oleh Chelsea-mania kini. Salah satunya Paul Canoville, pemain kulit gelap pertama sepanjang sejarah di Chelsea. Gelandang sayap ini dicomot dari klub tarkam Hillingdon Borough. Ini risiko besar buat Neal mengingat pendukung Chelsea kebanyakan golongan sayap kanan yang dikenal pemuja rasisme. 

Benar saja, di banyak sekali waktu Canoville menerima perlakuan tak manusiawi saat tampil bersama Chelsea. Konyolnya lagi pendukung Chelsea juga ikut-ikutan menghina. Lebih parah lagi, di kamar ganti sendiri pun, Canoville sering “di-bully” dan dihina oleh pemain Chelsea sendiri! Alamak. Karena dirinya masih yakin sebagai manusia, tak urung Canoville berancang-ancang untuk hengkang. Di saat yang tepat, dengan bijaksana Neal tiba membujuk seraya memberi tips untuk melupakan hal itu dengan berkata: “Abaikan semuanya itu Paul, yang lebih penting yaitu kamu digaji tetap!” Di lalu hari Canoville berandil besar meloloskan Chelsea ke Divisi Utama di berkelahi penentuan. 

Pembelokan Sejarah 

Sabtu 28 April 1984 menyerupai hari koronasi buat Neal. The Bridge yang rata-rata dikunjungi 15 ribu orang, kali ini disesaki 33.447 penonton, sepertiganya yaitu fan Leeds United, lawan Chelsea di langgar ke-38 Divisi Dua. Gejala bakal ada perayaan ajaib-gilaan terlihat ketika Chelsea unggul 3-0 di babak pertama. Tiba-datang jumlah penonton membludak hingga 50-an ribu orang! Ken Bates terpaksa turun panggung. Memakai toa, dia minta supaya penonton jangan masuk lapangan di simpulan sabung. Tapi percuma. Usai Canoville bikin gol kelima di dikala injury-time, ribuan penonton menyerbu lapangan. Suasana kacau balau. 

Karena deg-degan, wasit pribadi menyudahi laga. Uniknya tak satu pun invader menemukan John Neal. Sebelum tubruk usai, rupanya dia menyelusup ke lorong sendirian. Berjalan tertunduk. Walau masih ada empat tabrak sisa, Chelsea dan juga Sheffield Wednesday resmi promosi ke Divisi Utama (“Premier League” sebelum 1992/93). Jelang trend 1984/85, Neal menjalani operasi jantung dan wajib beristirahat, tapi nyatanya dia tetap memandu timnya berlaga di Highbury menjumpai Arsenal di pekan pertama (1-1). Chelsea mengakhiri kompetisi secara fantastis dengan menduduki posisi 6 di atas Arsenal! Di final animo, Neal resmi meninggalkan gelanggang dengan alasan kesehatan. 

Hingga selesai hayatnya, ia menjadi penonton kehormatan di Stamford Bridge. Setiap saat beliau mampu merasakan kini Chelsea telah stabil. Minggu, 23 November 2014, John Neal telah berpulang selama-lamanya dalam usia 82 tahun. Klub berduka dan mengumumkan kepergiannya dengan testimoni di situs resmi. “Tak berlebihan jikalau dikatakan mungkin tidak ada kesuksesan Chelsea FC mirip kini tanpa kesuksesan John Neal dikala mengatasi segala krisis demi menempatkan klub ini sebagaimana mestinya.” 

“Beliau yakni budi sejati yang langka, kata Nevin dengan wajah muram, “bukan saja di sepak bola tetapi juga di kehidupan.” Canoville urun rembug: “Dia pembuat keputusan yang berani, melakukannya dengan benar serta memperlakukan pemain dengan hormat. Saya tidak bisa menemukan satu kata jelek pun darinya, dan tidak yakin ada orang yang lebih baik darinya.” 

Tuah sang mendiang masih ada. Dua hari sebelum pemakamannya, Chelsea tampil kesetanan di pentas Liga Champion dengan menghancurkan tuan rumah Schalke 5-0 di Gelsenkirchen, Rabu dinihari (26/11/2014). Menjelang berkelahi, skuat maupun fan Chelsea mengenang upaya hebat, kehalusan aksara serta kesederhanaan John Neal dengan cara masing-masing. 

Dari yang mulai mengheningkan cipta sampai membaca-baca Wikipedia tentangnya. Sejarah telah menulis begini: tanpa lakon Ken Bates, juga Pat Nevin, Paul Canoville yang amat signifikan, boleh jadi sejarah Chelsea akan berbelok. Namun tanpa orang ini tidak mungkin Roman Abramovich mau membeli Chelsea dan menyulap menjadi gemerlap. Dan jagoan yang terlupakan itu berjulukan John Neal. @riefnatakusumah, November 2014 

(foto: chelseafc)