Sunday, August 12, 2012

Timnas Indonesia: Dari Semarang Sampai Senayan

Semarang, Sabtu 7 Agustus 1937. Sebuah laga paling bersejarah buat sepak bola nasional terjadi sore itu. Satu klub top dari Cina bernama Nan Hwa menjadi lawan pertama kali "tim PSSI" (jululan tim nasional sebelum Indonesia merdeka). Begitulah yang dipaparkan Harian Sin Tit Po, edisi Senin 9 Agustus 1937. 
 Sebuah laga paling bersejarah buat sepak bola nasional terjadi sore itu Timnas Indonesia: Dari Semarang Hingga Senayan
Laga PSSI vs Nan Hwa di Semarang, 7 Agustus 1937.
Satu hal yang perlu diingat lagi: justru dengan klub asing-lah, Nan Hwa, timnas kita melaksanakan debutnya, yang berkesudahan 2-2 tersebut. Asal tahu saja, Nan Hwa datang dengan kekuatan penuh antara lain bintangnya Lee Wai Tong, legenda sepak bola Cina, Hong Kong, dan Asia. Jika di periode pra kemerdekaan saja sudah sering ngadu dengan orang luar, apalagi pasca kemerdekaan. Era selanjutnya makin mengagumkan.

Kedatangan klub-klub top Eropa mulai marak ketika Presiden Soekarno menginstruksikan PSSI supaya menyiapkan tim nasional yang handal untuk dua proyek besar: Asian Games II di Manila pada 1954 dan Olimpiade Melbourne 1956. Selain ujicoba ke Asia dan Eropa berbulan-bulan, mengundang klub-klub aneh baik dari Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Latin jadi tujuan strategis PSSI: mengukur kekuatan permainan, karakter, dan mentalitas pemain nasional.

Di periode 1950-an itu bahkan PSSI bisa mendatangkan klub top Eropa dari Prancis, Stade Reims, yang diperkuat bintang dunia ketika itu, Raymond Kopa. Menurut catatan di buku Kenang-Kenangan 50 Tahun PSSI, klub-klub dari Singapura, Malaysia, Thailand, India, Jepang, Filipina, Cina, Mozambik hingga Austria, Swiss, Cekoslowakia (Slovan Bratislava), dan Yugoslavia (Savel) hingga Brasil (Cruzeiro) juga pernah beranjangsana ke Nusantara.

Yang tak kalah hebohnya, dikala Lokomotiv Moskva juga singgah di Tanah Air. Klub top Uni Soviet ini juga tiba dengan tim inti termasuk bintangnya Valentin Bubukin, seorang penyerang yang punya tendangan sangat keras yang bikin seorang penjaga gawang rasanya ogah bermain di posisinya. Menurut informasi yang penulis dapatkan, dari 7 pertandingan di Tanah Air mulai dari Medan hingga Surabaya, Bubukin 'sukses' membuat pingsan lima orang kiper lawan sebab cedera di kepala atau dada akhir terkena bola gebokan Bubukin!

Dari rentetan ujicoba dengan klub-klub aneh itu, PSSI menuai sukses lahir batin. Paling mengagumkan ialah lolos ke babak 16 besar Olimpiade Melbourne, antara lain sempat menahan Uni Soviet 0-0. Satu prestasi puncak persepak bolaan nasional hingga kini. Di abad 60-an, saat PSSI punya dua timnas (Banteng dan Garuda), giliran Torpedo Moskva (Uni Soviet), FC Malmoe (Swedia), Petrolul Ploiesti (Rumania) dan timnas Yugoslavia yang berkunjung ke Tanah Air.

Hebatnya, timnas Garuda mampu mengalahkan Torpedo, Yugoslavia, dan Petrolul dengan skor 3-1, 5-1, dan 5-3. Sukses juga didapat tim senior Banteng dengan lawan yang sama lewat skor 0-0, 3-2, dan 4-3. Satu-satunya kekalahan Garuda diderita melawan FC Malmoe 2-5. Sedangkan tim Banteng sukses membungkam klub Swedia itu dengan 2-0. Klub asal AS, Tornado, juga pernah bertarung melawan Persija dan kalah 0-2.

Di masa 1970-an, dengan semakin kondusifnya stabilitas politik dan iklim ekonomi bangsa, Indonesia semakin dibanjiri kedatangan klub-klub abnormal. Klub macam Dynamo Moskva (Uni Soviet), FC Brno (Cekoslowakia), Csepel SC (Hongaria), Neuchatel Xamax (Swiss), Santos (Brasil), Esbjerg (Denmark), Kristiandsand (Norwegia), Ajax Amsterdam, Stoke City, Manchester United, hingga timnas Uruguay dan Italia U-21 rela terbang jauh-jauh alasannya penasaran dengan iklim sepak bola Indonesia yang mereka kenal ganas dan ingin merasakan mirip apa berada di sarangnya legenda sepak bola Asia.

Laga melawan Dynamo di Senayan pada 14 Juni 1970 paling menyita perhatian publik. Penyebabnya cuma satu: mereka menyertakan kiper legendaris dunia Lev Yashin! Meski kalah 0-1 namun kiper Indonesia Judo Hadianto dielu-elukan publik. Puluhan evakuasi gemilangnya menghindarkan Indonesia dari kebobolan yang lebih besar. Pelajaran untuk meningkatkan mentalitas bermain selalu jadi motto bagi para pemain nasional. Mereka boleh kalah pada teknik bermain, tapi soal mental jangan sampai.

Begitu juga pada 20 Juni 1972, tatkala Santos hadir di hadapan 85.000-an publik Senayan. Dua tahun silam Lev Yashin, kini giliran orang ingin melihat Pele. Dengan match fee 40 ribu dolar AS, sekitar Rp 15 juta dikala itu Pele cs mendarat di Bandara Kemayoran, dua hari sebelumnya. Untuk menghadapi duel bergengsi ini, PSSI memanggil para bintangnya seperti Ronny Paslah, Anwar Udjang, Mohammad Basri, Muljadi, Abdul Kadir, Iswadi Idris, Risdianto serta Jacob Sihasale.

Jalannya adu cukup membanggakan penonton karena para pemain nasional tampil bersungguh-sungguh tidak mau kalah. Meski dua menit berlangsung, gawang Ronny dibobol oleh Jade, juga di menit 14 oleh Edu, bahkan ketika Pele mencetak gol lewat tendangan penalti di menit 30 dan menciptakan PSSI tertinggal 0-3, semangat anak-anak asuhan Endang Witarsa tidak pernah surut. Inilah yang membedakan dengan pemain nasional generasi kini. Dengan ikhtiar menyala-nyala, alhasil pun jadi sepadan.

Menit 31, Iswadi yang menggiring bola sendirian berhasil menendang bola namun memantul mistar gawang. Bola jatuh di kaki Risdianto yang serta merta menggenjotnya lagi ke gawang. 1-3. Di menit 70, kembali Risdianto melesakkan gol sehabis bekerja sama dengan Sihasale dan Yuswardi. Namun dikala skor 3-2 ini keadaan memanas.

Tiba-tiba saja Leo tergeletak, Iswadi menariknya untuk segera berdiri lagi. Merasa dihina, seorang pemain Santos menendang punggung Iswadi. Nyaris muncul perkelahian massal. Demi kenyamanan permainan, Iswadi balasannya ditarik keluar. Dengan marah-murka, pujaan penggila bola di masa 70-an itu menendang gelas minuman hancur berkeping-keping yang belingnya nyaris melukai orang-orang yang ada di sekitarnya.

Beckenbauer Di Senayan

Pada Juni 1975, Manchester United dan Ajax Amsterdam menjadi tamu PSSI Tamtama dalam turnamen segitiga di Senayan. United, yang barusan promosi ke Divisi Utama sehabis semusim sebelumnya didegradasi oleh Manchester City, tampil mengecewakan karena ditahan 0-0 oleh Risdianto dkk. pada 1 Juni 1975 di hadapan 70.000 orang.

Menurut Kompas, tabrak Ajax vs United pada 3 Juni di Senayan melahirkan rekor gres kunjungan klub gila ke Indonesia. Laga yang berakhir 3-2 untuk Ajax itu ditonton 100.000 penonton dan menghasilkan pemasukan Rp 300 juta ke kas PSSI. Sebuah sejarah baru dalam pendapatan terbesar dari satu tabrak sepak bola di Indonesia.

Setelah mengarungi putaran hingga tamat Pra-Olimpiade yang akhirnya sangat memilukan, di Desember 1976, Iswadi dkk. yang bernaung di bawah panji PSSI Pre-World Cup 1978, kalah 1-2 dari FC Brno, sebuah tim elite Cekoslowakia yang sebelumnya merontokkan Persebaya 4-0 namun dikalahkan Persib 2-1 di Siliwangi. Dalam tabrak yang juga panas, Iswadi juga sempat menempeleng seorang pemain Brno yang mengasarinya.

Pada 3 Oktober 1979 Senayan juga pernah didatangi Cosmos New York. Bintang dunia macam Johan Neeskens, Wim Rijsbergen, Carlos Alberto, Giorgio Chinaglia serta Franz Beckenbauer ikutan hadir. Meski kalah 1-4, tim PSSI yang dijejali skuad runner-up SEA Games 1979, menerima pelajaran berharga. "Cuma sekali seumur hidup, berhadapan eksklusif dengan Beckenbauer!" cetus (almarhum) Ronny Pattisasarani, yang kebetulan memang mengidolakannya setengah mati. Melimpahnya penonton menciptakan PSSI menangguk untung penghasilan kotor Rp 55 juta.

Sedang dana yang dikeluarkan untuk mendatangkan Cosmos sekitar 40 ribu dolar atau masih sekitar Rp 25 juta. Konon itulah bayaran tertinggi klub ajaib yang pernah main di Jakarta. Saat menjamu anggota NASL itu, bahan inti skuad PSSI yakni Purwono (Niac Mitra); Simson Rumahpasal (Warna Agung), Wayan Diana, Berty Tutuarima (BBSA Tama), Rae Bawa; Rudy Keltjes, Rully Nere, Ronny Patti (Warna Agung); Dede Sulaiman (Indonesia Muda), Risdianto (Warna Agung), Iswadi Idris (Jayakarta).

Kisah dari Semarang hingga Senayan terus merambah ke era 1980-an. Kenangan yang paling aku sulit lupakan ialah saat melihat Johan Cruijff bermain di Senayan, 21 Mei 1984. Meski sudah dimakan umur, Cruijff yang waktu itu berumur 38 tahun dan membela Feyenoord, datang ke Indonesia untuk berujicoba dengan Queens Park Rangers dan Mandala, klub asal Jayapura yang barusan menjuarai Kejuaraan Antarklub Amatir Perserikatan.

Pemain-pemain Mandala yang masih muda dan berotot seperti Leo Kapissa, Panus Korwa, Albert Pahelerang hingga Martin Kaiba pun sulit merebut bola dari kaki sang maestro sepak bola dunia. Feyenoord lantas meremukkan Mandala 5-0, dan kemudian QPR 3-1. Yang paling berkesan buat penggemar bola di Indonesia ketika itu termasuk aku, di Senayan-lah Johan Cruijff mengakhir kariernya sebagai pesepak bola.

(foto: Mengarungi Milenium Baru 70 Tahun PSSI)

Tuesday, August 7, 2012

Bundesliga: Pionir Tontonan Kompetisi Eropa Di Indonesia

Premier League, La Liga, dan Serie A bertarung sebagai liga terbaik di bumi dari banyak sisi. Tapi kalau bicara esensi tontonan bola sejati, maka tengoklah Bundesliga. Menikmati Bundesliga bisa dirasakan dari pengambilan sudut gambar dan gerakan slow motion, baik pemain maupun penonton. Semuanya terkesan mewah. Visualnya di TV juga sangat bersih. Maklumlah, Jerman merupakan produsen lensa terkenal nomor satu di dunia.
 dan Serie A bertarung sebagai liga terbaik di bumi dari banyak sisi Bundesliga: Pionir Tontonan Kompetisi Eropa di Indonesia
Karl-Heinz Rummenigge (Bayern) vs Kevin Keegan (Hamburg). Terbaik di masanya.
Dan satu hal yang tak boleh dilupakan, Bundesliga pula menjadi liga sepak bola Eropa pertama yang disiarkan eksklusif di Indonesia melalui TVRI di simpulan 1970-an. Pada abad ini sampai medio 1980-an, biasanya di program Arena dan Juara, stasiun televisi nasional itu secara berkala juga menayangkan program sepak bola. Entah Piala FA atau Piala Champions. Lalu tiap dua tahun sekali, Piala Eropa dan Piala Dunia.

Semuanya bertipe kejuaraan, sehingga yang murni kompetisi, ya hanya Bundesliga. Semasa bocah, penulis masih ingat bagaimana kepindahan Kevin Keegan dari Liverpool ke Hamburg pada 1977 saja menaikkan rating Bundesliga di Tanah Air.

Kevin Keegan adalah ikon Bundesliga di periode itu. Setiap langgar Hamburg SV nyaris disiarkan TVRI. Selorohan "Keegan, Keegan.. ha ha ha!" sempat populer di Indonesia, mengikuti koor suporter Hamburg di stadion yang menggambarkan tertawaan Keegan kepada wasit sesudah diberi kartu kuning.

Sejak dulu kekuatan Bundesliga adalah tingginya animo penonton di stadion, satu syarat utama disebut kompetisi idaman. Pemain kasar, sponsor pun senang. Hingga kini pun rata-rata penontonnya masih yang terbaik se-Eropa. Walhasil, panorama stadion terlihat sensasional. "Atmosfir penontonnya luar biasa di mana pun anda bermain," kata Raul Gonzalez, yang pernah membela Schalke (2010-12).

Musim lalu rata-rata penonton di Serie A adalah 24.031. La Liga 29.128, dan Premier League 35.283. Bandingkan dengan Bundesliga yang mencapai 42.673 penonton tiap pertandingan. Bila dipilah dari klub, kontributor terbesar adalah Borussia Dortmund sebesar 80.478 penonton yang menjadi rekor Eropa dan dunia. 

Sembilan dari 20 besar pemilik penonton terbesar di dunia ditempati oleh klub-klub Bundesliga. Ini berarti separo dari 18 klub Bundesliga punya penonton lebih baik dari Manchester City, Liverpool, Chelsea, Tottenham, Valencia, Atletico Madrid, Juventus, Roma, Benfica, dan Porto.

Tiket dan Gaji 

Kunci dari sukses Jerman mengemas kompetisinya dari sisi penonton tiada lain tiket masuk stadion yang murah se-Eropa. Tiket biasanya sudah sepaket dengan karcis kereta. Kalau mau lebih murah lagi, belilah tiket terusan. Bayangkan, rakyat biasa sudah bisa menikmati permainan Bayern Muenchen di Allianz Arena hanya berbekal 20 euro (sekitar Rp 250 ribu). Bandingkan dengan tiket Arsenal yang mampu mencapai 100 pound (lebih dari 1,5 juta) di Emirates.

Untuk menyehatkan liganya, Jerman mematok hukum ketat soal kepemilikan klub. Para anggota klub harus menjadi pemegang saham terbesar, sehingga mustahil bagi investor asing untuk mengontrol klub-klub Jerman. Regulasi itu dikenal dengan 50+1. Perkecualian hanya bisa dilakukan oleh investor yang telah 20 tahun lebih punya saham terbesar. Yang sangat mengagumkan lagi yakni kontrol ketat soal pengeluaran untuk honor pemain di tiap klub.

Secara umum di bawah 50 persen dari seluruh pendapatan klub. Hasilnya, setiap demam isu rata-rata 11 klub Bundesliga selalu meraih profit. Sebagai komparasi tengoklah Premier League yang tagihan honor pemainnya mampu mencapai 62 persen dari revenue. 

Satu lagi argumen Bundesliga disebut liga terbaik jika melihat sangat langkanya klub-klub mereka punya utang. Nah, dari dua faktor tadi yang membuat mingguan Kicker pada Mei silam menyebut Bundesliga sebagai kompetisi liga terbaik di Eropa. Faktor ketiga menurut Kicker ialah daya saing kompetisi.

Beda dengan Inggris, Spanyol, dan Italia yang jadi sentra suburnya dominasi; dalam tujuh animo terakhir, Bundesliga selalu melahirkan juara yang berbeda dengan selisih poin yang amat rapat. Louis van Gaal pernah bilang bahwa Bundesliga adalah liga dengan daya saing paling sulit di Eropa. 

Grafik posisi klub di setiap demam isu mampu acakadul bentuknya. Kelemahan paling telak Bundesliga ada di blantika Liga Champion. Sejak 2001, mereka kesulitan mendongkel sang triumvirat. Kekalahan Muenchen di sangkar sendiri dari Chelsea di selesai terakhir yakni bukti sahih.

Meski secara generik performa wakil Bundesliga di ajang Eropa lumayan memuaskan, yang terbukti mampu menggeser Italia di tangga koefisien UEFA 2012/13, namun masih satu celah yang menjadi pekerjaan rumah bersama. Berbekal keunggulan penonton, kompetitif dan stabilitas keuangan, menurut Matthias Sammer sebenarnya Bundesliga cuma butuh sedikitnya 2-3 klub yang mapan untuk bersaing di Liga Champion agar sah menjadi liga terbaik. Mengandalkan superpower dan imej FC Bayern saja tidaklah cukup.

Makara, mengapa kita harus sepatutnya menyukai Bundesliga? Sebab di sinilah tempatnya untuk menyaksikan tontonan olah raga, murni pertandingan sepak bola; dan bukannya permainan pasar saham atau fenomena bisnis.

(foto: Kicker)

Sunday, April 8, 2012

5 Tabu Dan 3 Syarat Menjadi Juara Liga Champion

Liga Champion suka disebut 'Piala Dunia setiap tahun' lantaran mutu, pesona, dan gengsinya. Inilah lahan uji nyali eksekutor, juga medan tempur ideal buat yang biasanya cuma mikirin bagaimana menang, meraih momentum yang tepat, atau mencari efektivitas permainan di tengah pekan, di mana bioritme banyak bertubrukan dengan kondisi ril.
 juga medan tempur ideal buat yang biasanya cuma  5 Tabu dan 3 Syarat Menjadi Juara Liga Champion
Keseimbangan tim adalah kunci sukses di Liga Champion.
Mitos dan terkadang paradoks selalu melingkupi Liga Champion. Baik favorit maupun underdog selalu tertekan dalam melakoni sabung, terutama menjelang babak final. Menurut Gerard Houllier, teknokrat sepak bola asal Prancis, kemenangan di Liga Champion ditentukan oleh keefektifan mengkreasi gol tanpa melupakan sisi pertahanan dan bioritme tubuh, juga hal seperti jetlag.

Bukan gol yang banyak, tapi gol yang komprehensif dan signifikan. Dia punya rumus atau tata cara memenangkan Liga Champion. Salah satunya Anda mesti punya rata-rata mencetak 1,5 gol tiap pertandingan, konstan. Ini bisa diterjemahkan satu gol lebih setiap main. Atau 3 gol yang Anda cetak dalam dua laga.

Jika grafik gol Anda 4-0, 2-1, 3-2, lalu 1-0 (@2,5 gol) maka itu tak lebih baik dari skor 1-0, 2-0, 2-1, dan 1-0 contohnya. Kenapa mampu begitu? Sepak bola yaitu permainan keseimbangan. Hanya tim yang mengedepankan keseimbangan saja konon bakal sukses. Sepak bola cukup dimenangkan dan dijuarai dengan sebiji gol. Jangan lupakan lagi, bioritme. Ini teori Houllier.

Tidak ada jaminan usai menang 4-0, Anda tidak tersingkir sebab kalah 0-1. Siapa yang berniat bikin banyak gol, berisiko pada organisasi permainannya. Itulah kenapa tiap gol Liga Champion dihargai uang oleh UEFA, dalam hal ini request dari para sponsor utamanya. Di Liga Champion, setiap tim bak berjudi, Menang, duit lawan Anda ambil. Kalah, uang Anda yang akan hilang,

Pada era kini, di mana aspek permainan makin similar, juga teladan latihan yang standar dan baku, tim yang mampu bikin selisih dua gol bekerjsama telah meraih target ideal. Pada hakikatnya sepak bola selalu berisi dua taktik. Bagaimana menyerang dan bertahan. Itu saja. Karena bolanya cuma satu, maka pada waktu diserang, Anda mesti dan niscaya bertahan.

Prinsip ini bukan memihak pada tim yang sangat atraktif, tapi berlaku juga untuk tim yang paling defensif. Bahwa sepak bola soal gol benar adanya. Menyerang bentuk kerja untuk menang, dan kemenangan cuma lahir lewat gol. Sepak bola yaitu sebuah permainan proses, seni bertahan dan menyerang terkadang merotasi fungsi. Penyerang jadi ikut bertahan. Bek maju menyerang.

Perihal ada yang mengedepankan pertahanan atau bahagia memprioritaskan penyerangan bukan jadi soal. Siapa yang seimbang memainkannya, beliau yang akan sukses. Yang juga mesti diingat, tak ada jaminan kesebelasan yang bahkan selama 90 menit terus bisa bermain menyerang, akan bikin 12 gol. Contoh paling akrab yaitu saat Spanyol merebut juara dunia pada 2010.

Siapapun kenal permainan menyerang ala La Furia Roja yang berintikan skuad garang Barcelona. Kenanglah perjalanan mereka. Setelah dikejutkan dengan kekalahan 0-1 dari Swiss, kemudian rangkaian skor dan gol-gol tim Matador selanjutnya yakni 2-0 (Honduras), 2-1 Chile, 1-0 (Portugal), 1-0 (Paraguay), 1-0 (Jerman), dan 1-0 (Belanda). Jumlah 8 gol dari 7 langgar, atau rata-rata 1,14 gol/tubruk.

Apakah Spanyol main bertahan? Malah sebaliknya. Kenapa skornya pelit begitu? Ya, itu tadi lawan-lawannya tangguh dan gigih bertahan, dan kadang kali jatah waktu untuk Spanyol juga dihabiskan untuk bertahan alasannya mereka juga sering diserang. Keduanya proses itu sama-sama menggerogoti sang waktu. Belum lagi kalau ada banyak drama yang menggigit perasaan.
 juga medan tempur ideal buat yang biasanya cuma  5 Tabu dan 3 Syarat Menjadi Juara Liga Champion
Crvena Zvevda vs Marseille di simpulan 1990/91.
Sekali lagi, bila Anda mau bikin gol maka Anda harus menyerang. Tidak mampu tidak. Andai tak mau menyerang, maka lebih baik Anda berdoa saja agar pemain lawan tak karuan datang-datang bikin gol bunuh diri. Buat pakar strategi seperti Houllier, medan peperangan Liga Champion yakni yang paling pelik. Mantap dari sisi teknis, mampu saja bermasalah dari sisi mentalitas bahkan mitos.

Strategi Andalan

Tips Houllier ibaratnya do's yang mesti dipatuhi, dan itu gres separo jalan menuju sukses. Untuk melengkapinya, Anda juga harus ingat dont's yang ditabukan, yang terkait dengan fakta sejarah. Beberapa pantangan ini sering menjadi strategi andalan untuk meraih juara oleh klub-klub Italia. Berkali-kali Bayern Muenchen melanggarnya, dan berkali-kali pula mereka gagal di tamat.

Lalu apa saja pantangan itu? Yang pertama jangan jadikan berkelahi final medan perang suci. Sebelum simpulan 1994, Johan Cruijff berkata kalau timnya sampai kalah, maka sepak bola akan mati! Baginya sabung Barcelona vs AC Milan dengan serentetan retorika yang nyelekit. Mulai dari menyerang vs bertahan, romansa vs pragmatis, kepandaian vs efisien, hingga anak baik vs anak nakal.

Cruijff, dua tahun sebelumnya memberi trofi Champion untuk Barca pertama kalinya, secara tidak sadar meremehkan eksistensi Maldini, Boban, Donadoni, Savicevic, dan Desailly, bahkan esensi calcio secara total! Dia malah memotivasi Milan yang jadi tugas Fabio Capello. Akibatnya sadis. Belum hingga sejam, permainan benar-benar 'mati' sebab Milan telah unggul 4-0.

Kedua jangan meremehkan lawan seberapa jeleknya mereka. Ini yang ditanggung Glasgow Celtic. Merasa berpengalaman jadi juara pada 1967, manajer Jock Stein yakin menggapai titel keduanya di akhir 1970. Strateginya sepele, beliau menyuruh anak buahnya main satu gaya: menyerang, tanpa mau tahu pola lawan. Sebaliknya instruktur Feyenoord, Ernst Happel, menemukan inspirasi.

Para pemainnya disuruh bertahan, menunggu dan menunggu. Ketika datang saatnya, mereka bikin serangan balik mematikan dengan motif menggelora, lalu sukses membuat gol penting. Gol itu lahir dikala waktu ekstra 2 x 15 menit tinggal menyisakan dua menit jelang adu penalti, atau di menit 118! Celtic dan Stein tersentak, namun tak berdaya sebab kehabisan waktu.

Ulah Stein malahan melahirkan sejarah gres buat Feyenoord, klub Belanda yang pertama kali juara Eropa. Hal ketiga ialah jangan menimbulkan Liga Champion sebagai momentum apapun. Tahu lawannya di simpulan 1987 'cuma' FC Porto, presiden Bayern Muenchen Fritz Scherer telah menyiapkan pidato menyambut kemenangan untuk kelahiran kembali klubnya.
 juga medan tempur ideal buat yang biasanya cuma  5 Tabu dan 3 Syarat Menjadi Juara Liga Champion
Marseille gres sukses di 1992/93 sesudah mengoreksi simpulan 1990/91.
Muenchen yakni juara Champion tiga kali, yang terakhir juara 11 tahun silam. "Ini akan jadi fajar baru buat sebuah abad besar bagi klub," katanya penuh yakin. 15 menit lagi memang ambisi itu akan tercapai. Muenchen telah unggul 1-0. Namun tiba-tiba, dua gol dalam waktu dua menit (77 dan 79) mengubur impian mereka selama-lamanya.

Satu legenda baru kembali dilahirkan oleh kepongahan lawan! Porto meraih titel pertama kalinya. Gilanya lagi, kolam kepala batu, Muenchen kembali mengulangi hal yang sama, tepatnya 12 tahun lalu. Dunia sulit melupakan tubruk di Camp Nou pada selesai 1999. Lawan kali ini jagoan dari Inggris, Manchester United, yang tampaknya hanya bermodalkan semangat beton.

Selama 80-an menit, trio Mario Basler, Jens Jeremies, dan Stefan Effenberg mengocok-ngocok lini tengah United yang hadir tanpa duet Paul Scholes dan kapten Roy Keane. Muenchen unggul cepat via Basler semenjak menit 6. Namun sehabis itu, mereka gagal menambah gol kedua, ketiga dan seterusnya. Inilah rupanya tanda peristiwa buat klub Bavaria tersebut.

Ketika kapten Lothar Matthaeus tiba-tiba diganti oleh Thorsten Fink di menit 80, Alex Ferguson seperti mendapat ilham. Semenit lalu dia memasukkan Ole Gunnar Solskjaer. Fergie melaksanakan respons melihat kesalahan yang dibentuk Ottmar Hitzfeld. Roh kekuatan Bayern telah hilang. Roh spiritual! Sejarah mencatat dalam dua menit (91 dan 93) United mengubah nasibnya.

Pas di menit 90, atau sebelum Teddy Sheringham menyamakan skor, Presiden UEFA Lennart Johansson meninggalkan kursinya untuk mengecek dan menyuruh trofi segera meng-grafir nama Bayern Muenchen sebagai juara. Namun saat balik ke kursinya, ia terkejut sebab skor telah 1-1. Sel-sel otaknya masih kacau memikirkan situasi, Solskjaer kembali membuat gol!

"Saya tidak percaya menyaksikan semuanya. Sang juara malah menangis, sedangkan yang kalah amat bergembira," komentar Johansson melihat drama paling menggegerkan di Liga Champion. Di lapangan Samuel Kuffour meraung-raung sambil mencium rumput. Dan untuk kedua kalinya Matthaeus gagal mencium trofi. "Ini adu yang dimenangkan oleh tim beruntung, bukan oleh tim terbaik," kata sang kapten yang mesti merasakan kepedihan serupa seperti 12 tahun silam!

Rahasia Dortmund

Apapun prosesnya, sepak bola berlangsung 90 menit atau 120 menit lebih. Pantangan keempat yang tabu dibuat: jangan pernah percaya dengan skor babak pertama. Selain Ferguson, Rafael Benitez juga melakoninya di 2005. Dua gol Hernan Crespo dan Paolo Maldini di babak pertama tak menyurutkan semangatnya untuk menang. Di babak kedua Liverpool mampu mencetak tiga gol. 3-3! Lalu perpanjangan waktu. Lalu drama tabrak penalti. Lalu Milan kalah!

Cuma ada empat tim yang bangkit setelah tertinggal selisih dua gol, lalu jadi juara. Pertama di final 1956. Setelah ketinggalan 0-2, Real Madrid memukul balik Stade De Reims 4-3. Benfica melakukannya di tamat 1962. Tertinggal 2-3 oleh superteam Real Madrid, pelatih Bela Guttman menyiapkan seni manajemen jitu di babak kedua: menyuruh satu pemain untuk mengurung Alfredo Di Stefano, pemain kunci yang jadi kreator tiga gol buatan Ferenc Puskas. Hasilnya berjalan manis, Benfica ganti menyerang dan bikin tiga gol di babak kedua dan menang 5-3.

Faktor kelima, ini taktik terpenting untuk merebut titel: selalu memiliki seni manajemen tak diduga. Rafa Benitez mengganti bek kanan Steve Finnan dengan breaker Dietmar Hamann bukan sebab disfungsi, namun melihat tiga strategi baru dari observasi brilyan. Pertama, Milan jarang menusuk dari wilayah itu. Kedua, si pendulum permainan Milan ketika itu, Ricardo Kaka, mesti dihentikan. Ketiga, Benitez mengubah tugas Xabi Alonso-Gerrard menjadi lebih menyerang. Inilah intisari strategi jago Benitez yang dilabeli Rafalution oleh pers. 

Di tamat 1969 Nereo Rocco membuat keputusan yang mengelabui Rinus Michels. Catenaccio, yang dipakai dikala menyingkirkan skuad Matt Busby di semifinal, tiba-datang dibuang Milan tatkala bertemu Ajax di simpulan. Dia malah menyajikan sajian menyerang membabi buta. Milan menang 4-1. Taktik ini ditiru Arrigo Sacchi (1989) dan Fabio Capello (1994). Milan menghantam Steaua Bucuresti dan Barcelona masing-masing 4-0.

Strategi tidak terduga mesti diterapkan oleh mereka yang ingin menciptakan sejarah baru. Tidak mampu tidak, alasannya adalah Liga Champion cenderung memihak kepada mereka yang 'berpengalaman' juara. Secara kebetulan penulis pernah menyaksikan proses kelahiran juara baru, tepatnya Rabu, 28 Mei 1997, di Olympiastadion, Muenchen, dikala Borussia Dortmund menantang Juventus.
 juga medan tempur ideal buat yang biasanya cuma  5 Tabu dan 3 Syarat Menjadi Juara Liga Champion
Andrea Moeller tahu banyak kekurangan Juventus.
Hebat di Jerman, tangguh di Eropa. Dortmund yang digarap Ottmar Hitzfeld, sukses memukul favorit kuat, si juara bertahan Juventus dengan skor 3-1. Dua gol Karl-Heinz Riedle dan the rising star Lars Ricken menutup ambisi Juve menjadi klub pertama yang bisa menahan trofi lebih dari sekali. Namun, apa sih tanda-tanda lahirnya juara gres di Liga Champion?

Pertama dan wajib hukumnya, punya manajer andal. Dortmund memilikinya pada diri Hitzfeld. Kedua, bahan tim mumpuni, minimal seimbang. Lini pertahanan Dortmund amat tangguh. Bek kanan Stefan Reuter, duet bek tengah Juergen Kohler-Matthias Sammer serta bek kiri Joerg Heinrich. Di tengah, trio Paul Lambert, Paulo Sousa, dan sang kreator Andreas Moeller mampu meredam kuartet Angelo Di Livio, Vladimir Jugovic-Didier Deschamps, dan Zinedine Zidane.

Ketiga, ini soal lumrah tapi suka dilupakan: tabah menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan pukulan terakhir. Pendek kata, banyak yang menanti dengan cara apa Hitzfeld bisa mengalahkan Marcello Lippi di kala kecenderungan sejarah tidak memihak mereka? Satu hal yang agak luput diperhatikan adalah bahwa sepertiga skuad Dortmund merupakan eks legiun Juventus.

Kohler, Reuter, Moeller dan juga Sousa merupakan bekas tokoh kunci Bianconeri. Memahami kekuatan dan kelemahan individu per individu ialah kunci sukses Dortmund. Hebatnya lagi mereka menjadi juara cuma melalui satu kesempatan, mengikuti kiprah Steaua Bucuresti (1986), Crvena Zvevda alias Red Star alias Stella Rossa (1991), serta Olympique Marseille (1993). Apakah di kala milenium prestasi yang mereka lakukan bisa terjadi lagi? Inilah misterinya.

(foto: digital-news/memosport/bbc/arhiva.srbija)

Wednesday, September 14, 2011

Sir Alex Ferguson: Jalan Panjang Berliku

Kejayaan sepak bola terkadang dibatasi waktu. Dominasi Barcelona dan Manchester United di pentas Eropa kini ini yaitu sebuah rangkaian panjang proses evolusi Liga Champion. Berawal dari impian, ambisi, kemauan. Dijalankan oleh kerja keras dan pedoman. Butuh pengorbanan, mengatasi risiko, enerji, serta biaya yang besar. Itulah, mengapa, kedua klub tersebut menjadi calon serius untuk memenangkan titel Eropa musim 2011/12.
Kejayaan sepak bola terkadang dibatasi waktu Sir Alex Ferguson: Jalan Panjang Berliku
Sir Alex Ferguson dan Pep Guardiola. Hidup yakni berguru.
Pada 18 Mei 1960, seorang perjaka berbaur di antara 135.000 pasang mata yang menjejali Hampden Park, stadion nasional yang jadi markas tim lokal Queen's Park. Bujangan 19 tahun ini orisinil anak Glasgow, dan striker binaan salah satu klub di ibukota Skotlandia itu selain Celtic dan Rangers. Apa yang beliau lihat sangat mempesonakan, inspiratif, lalu membenam jauh dalam sel-sel otaknya: selesai Liga Champion 1959/60.

Real Madrid, mahaklub Eropa di era itu, dengan teganya menguliti klub Jerman Barat, Eintracht Frankfurt, lewat skor 7-3. Madrid juara Eropa untuk kelima kali secara beruntun. Pemuda santun ini jadi saksi sebuah dominasi. Dia, Alexander Chapman Ferguson, menikmati laga tamat penuh magis, revolusioner sekaligus misterius, lantaran menjadi persembahan trofi terakhir Madrid di dekade itu.

Tiga rekannya lain: Andy Roxburgh, Billy Bremner, dan Jimmy Johnstone juga hadir di Hampden Park. Jelang 1960, Skotlandia lumayan menguasai kemudian lintas antarklub di benua biru. Pada karenanya cuma ada satu klub di mana borjuisme, hedonisme berpadu yang pantas merampas impian indah: Los Blancos. Spanyol yaitu kendala nomor satu Skotlandia untuk meraih prestasi puncak.

Ferguson masih ingat sepak bola negerinya runtuh alasannya adalah angkuh. Sebelum berangkat ke Jerman untuk memulai laga semifinal pertama, manajer Glasgow Rangers, Scot Symon, terprovokasi liputan media-massa Britania. Eintracht? Siapa mereka? Buat orang-orang Skotlandia, prestasi klub Jerman selalu dianggap kebetulan. Rangers dan Symon terang pongah.

Ia menyuruh timnya semoga tak usah mencoba lapangan alasannya itu akan dilakukan nanti ketika berlaga. Buang-buang waktu saja. Lalu dampaknya, mereka dilumat Eintracht 1-6. Pada semifinal di Ibrox, spirit tidak mampu mendongkrak keadaan. Rangers kembali dicukur 3-6. Total agregat golnya 12-4, bayangkan! Sejak itu paradigma di tanah Halloween tersebut berubah.

Ferguson, Roxburgh, Bremner, dan Johnstone sulit untuk tak mengidolakan si jenius Hongaria, Ferenc Puskas, atau Alfredo Di Stefano. Di Inggris, George Best, Jimmy Greaves, dan Bobby Charlton langsung menyatakan diri jadi partisannya. Kemenangan Real Madrid 7-3 - di mana Puskas bikin empat gol, dan Di Stefano tiga gol - membuat Don Revie mengubah sejarah Leeds United selamanya.
Kejayaan sepak bola terkadang dibatasi waktu Sir Alex Ferguson: Jalan Panjang Berliku
Trio akhir hayat Alfredo Di Stefano, Ferenc Puskas, dan Francisco Gento.
Meski diprotes, manajer Leeds ini sukses mengubah kostum Leeds jadi putih-putih. Demi membuka belenggu sepak bola Britania yang terkucil, Matt Busby (Manchester United) juga mengajak Jock Stein (Celtic) dan Willie Waddell (Rangers). Caranya ialah dengan mempelajari gaya main Eropa secara serius. Pada 1965, Stein bertanya pada kapten Nerazzurri, Giacinto Facchetti, soal konsep catenaccio racikan Helenio Herrera. Dua tahun lalu, Stein sukses membawa Celtic sebagai klub Britania pertama yang menjadi kampiun Eropa usai mengalahkan Internazionale Milano.

Dalam tamat 1967 di Lisbon, Celtic mengatasi Inter yang bergaya kosmopolitan, berteknik canggih, dan glamor di mana para laskarnya beraksi laksana pemain drama Cesare Romero bagian rambut sleek-backed dan senyum Colgate. Media massa di Britania menjuluki Celtic dengan Lisbon Lions karena melakukan 42 kali shoot on target ke gawang Giuliano Sarti!

Murni, inilah sepak bola inventif, sergah Stein yang lagak lagunya dan pola pikirnya pribadi mengilhami Ferguson muda pada waktu itu. Apa belakang layar kehebatan Stein dikala itu? Sebelum berlaga di final, dia mewajibkan pasukannya untuk menonton rekaman akhir 18 Mei 1960 di Hampden Park. Tujuannya supaya iktikad diri pemain Celtic berkobar-kobar.

Scotch Whisky
Kejayaan sepak bola terkadang dibatasi waktu Sir Alex Ferguson: Jalan Panjang Berliku
Real Madrid, superklub di Eropa era 1960-an.
Gaya magis duet akhir hayat Puskas-Di Stefano juga menginspirasi dua bocah Belanda berusia 14 tahun, Barrie Hulshoff dan Gerrie Muhren. Satu dekade lalu, mereka membawa Ajax Amsterdam mendominasi titel tiga tahun berturut-turut. 
Saat bertemu Madrid di Bernabeu, Muhren beratraksi meng-juggling lalu meliak-liuk separo lapangan usai mampu umpan. Di semifinal kedua Ajax menang 1-0 dari gol emas Muhren. 

"Bermain melawan Madrid selalu jadi cita-cita saya," akunya dalam buku Brilliant Orange karya David Winner. Namun representasi gaya Amsterdammers sejati ialah Hendrik Johannes Cruijff. Permainan cepat, seksi, dan menawan mirip belahan rambut dan tubuhnya kelak akan mengubah permainan di Spanyol.

Bersama Johan Neeskens dan majikannya, Rinus Michels, Cruijff mendirikan sekolah tinggi sepak bola La Masia. Di lalu hari, Cruijff dan Neeskens memandu El Barca menerapkan gaya tik-tak, passing akurat, interaksi, pergerakan cepat yang berbasis pada teknik individu. Dengan rute yang berputar, gaya kolektivitas ala Puskas-Di Stefano 'dipindahkan' orang-orang Belanda ke Barcelona.

Arrigo Sacchi coba mengadaptasi gaya Madrid 60 saat menukangi Milan di simpulan 1980-an tapi dengan metode L'uomo contro uomo, satu lawan satu. Ia pecandu permainan Honved (klub asal Puskas), Madrid, Brasil, dan Belanda. "Olanda 1970-an sangat menggugah emosi. TV terlalu kecil. Saya butuh melihat seluruh lapangan untuk memahami permainan mereka," sergah Sacchi tanpa tedeng aling-aling.

Dua dekade lalu, Sacchi sungguhan merealisasikan hasratnya. Bergerak, menekan, dan dogma jadi kuncinya. Jangan lupa, menang saja tak cukup tapi harus menghibur, kilahnya. Salah satu anak asuhnya di Rossoneri yakni Frank Rijkaard, yang usang ditempa di Ajax. Transformasi permainan kontemporer pada poros Madrid- Ajax-Milan berakhir dikala Rijkaard menggarap Barcelona.

Tokoh di belakang layar yang mengatur itu tiada lain, Johan Cruijff, yang ngotot merekomendasikan Rijkaard mengingat curriculum vitae yang jago di Milan. Pada diri Rijkaard terdapat seni bertahan khas Italia. Di Barca, dia memerankan posisi menteri dalam catur yang dulu dimainkan Cruijff. Dengan begitu Rijkaard bisa mempromosikan bidak-bidak Barca, yang terunggul yakni Josep Guardiola.

Sejak belia Pep kebetulan sudah khatam menyaksikan tayangan final Hampden Park 1960 sehingga memahami betul irama orkestra trio Ferenc Puskas-Alfredo Di Stefano-Francisco Gento. Pep punya kelebihan lain yang sulit ditiru teknokrat muda sepak bola. Ia senang mencar ilmu dan cari pengalaman hingga ke ujung dunia. Roma, Brescia, Doha, bahkan ke Culliacan di Meksiko. Jadi berbahagialah Barca!

Kini kita kembali dulu ke cerita semula. Seorang Briton yang memang istimewa, salah satu yang jadi saksi hidup final 1960: Alex Ferguson. Masuk di milenium gres, tiba-tiba gejolak dan hasrat membabi-buta makin menggodanya. Fergie masih mengingat segalanya, Real Madrid dan duet Puskas-Di Stefano, dengan baik. Dan itu harus segera dilaksanakan mumpung masih ada umur.
Kejayaan sepak bola terkadang dibatasi waktu Sir Alex Ferguson: Jalan Panjang Berliku
Final Liga Champion 1960 yang ditonton Alex Ferguson muda.
Pemaknaannya perihal Real Madrid 1960 mesti dilakoni di Manchester United. Modalnya ialah skuad berteknik tinggi, besar lengan berkuasa, dan cepat yang turunannya mampu digambarkan sebagai berikut: bek tanpa pandang bulu, gelandang yang jeli dan lihai membaca permainan, serta penyerang yang punya insting predator. Fergie selalu terobsesi dengan Puskas, dan itu harus didapatkannya.

Momentum dimulai dengan diciduknya Eric Cantona dari Leeds United. Nyaris saja beliau merekrut Guardiola. Bahkan sempat terpikir Paul Gascoigne. Namun yang dibeli justru Juan Veron. Kegagalan yakni pintu menuju kesuksesan. Di tengah melakoni pertempuran demi pertempuran di Premier League, beliau selalu menyimpan baik-baik obsesinya.

Saat balasannya Wayne Rooney, Cristiano Ronaldo, dan Dimitar Berbatov diusung sebagai three muskeeters di Old Trafford, para ahli seni manajemen memahami tujuan dan determinasi Ferguson pada konsep teknik, khayalan dan penyerangan frontal. Mereka juga semakin manggut-manggut saat muncul gosip Carlos Tevez yang bakal menggenapi fantastic four di pentas atraksi era modern.

Inilah realiasi kuartet Puskas-Di Stefano-Gento-Raymond Kopra versi Fergie! Tanpa disadari, ia mendahului Guardiola, Rijkaard, bahkan Cruijff soal konsep penyerang modern. Selain jam terbang dan pengalaman yang menjadi kata kunci suksesnya, pengidolaan Ferguson pada Stein juga amat berarti. Berkat advis sang mentornya itu, Ferguson bisa bikin bukti lebih dulu.

Boxers vs Sluggers

Di 1983, dia merebut titel Eropa pertamanya di Piala Winner bersama Aberdeen. Siapa yang dilibas amat menyentak: Real Madrid asuhan Ferenc Puskas! Apa Anda tak ingin acungkan botol Scotch whisky kepadanya andai The White Arrow yang menang?" ucap Stein pada Fergie sebelum tamat. Sejarah mencatat, Fergie tetap memberi Puskas sebotol wiski yang menerimanya dengan wajah bingung.

Pada 15 Mei 1991 di Rotterdam, giliran Ferguson dan United mengalahkan Cruijff dan Barca 2-1 pada tamat Piala Winner 1990/91. Lalu tiga tahun kemudian, Cruijff membalasnya dengan tega, menang 4-0 pada putaran Grup A Liga Champion di Camp Nou. Pada 28 April 2008 di Old Trafford, Rijkaard dan Azulgrana ganti dibekap 0-1, sehingga urung ke selesai alasannya adalah sepekan sebelumnya dibendung 0-0.

Sampai berhenti jadi instruktur, Rijkaard tak pernah mengalahkan Fergie. Namun periode berubah, sebab itulah rupanya kemenangan terakhir Red Devils atas Barca. Seperti kehilangan nalar, di depan Guardiola, Ferguson selalu takluk. Dua akhir di tiga isu terkini terakhir, Guardiola memenangkan seluruh duelnya. 2-0 pada tamat 2009 dan 3-1 di selesai 2011.

Kejayaan sepak bola terkadang dibatasi waktu Sir Alex Ferguson: Jalan Panjang Berliku
Manchester United dirobek-robek Barcelona pada 2009.
Di Olimpico 2009, kekalahan disebabkan kesalahan strategi alasannya adalah United memilih contoh bertahan dan cuma ingin serangan balik. Tak diduga Fergie menyimpan Berbatov dan Ronaldo jadi striker tunggal. Lantas di Wembley 2011 Fergie tidak punya dalih lagi kecuali mengakui kehebatan Lionel Messi dan gaya Barca yang akarnya diilhami dari sebuah tubruk yang disaksikannya 51 tahun kemudian, setengah masa lebih! 

Bagaimana Fergie menyiapkan diri andai kata di akhir 2012 bertemu Guardiola lagi, tampaknya patut dicermati baik-baik. Berharaplah United dan Barca sama-sama lancar jaya di putaran grup sesuai skenario sehingga tak lahir perjumpaan gila-ajaib di awal. Bukan di semifinal, apalagi final. baiklah atau tidak, faktanya kedua klub itulah yang sekarang tengah mendominasi kejuaraan.

Liga Champion selalu melahirkan dominasi permainan, seperti yang ditunjukkan Real Madrid pada akhir 50-an dan 60-an, Ajax dan Bayern Muenchen di 70-an, atau Liverpool dan Milan pada 1980-an. Di lima ekspresi dominan terakhir Liga Champion, Barca dan United berhasil menembus empat kali semifinal. Barca dua kali juara, sementara United sekali.

"Barcelona (asuhan Pep) yaitu tim terberat dan terhebat yang pernah saya temui," begitu kata Sir Alex usai disikat 1-3 pada tamat terakhirnya, Mei 2011. Tapi jangan salah, bagi Ferguson kalah tentu berbeda dengan menyerah. Dan rasanya dia belum, atau bahkan tak akan pernah mengalah! Jika bertemu lagi di akhir 2012, maka bisa jadi duel Barca vs United kian lama akan kian klasik dikenang.

Kejayaan sepak bola terkadang dibatasi waktu Sir Alex Ferguson: Jalan Panjang Berliku
Berani mengakui kalah ilmu dari Pep Guardiola.
Barangkali mirip Muhammad Ali vs Joe Frazier, atau Evander Holyfield vs Mike Tyson di tinju. Barca yang bertipe boxers adalah Ali atau Holyfield, United yang berciri fighters atau sluggers itu seperti Frazier atau Tyson. Guardiola dan Fergie sama-sama diilhami oleh kesemarakan permainan trio Puskas-Di Stefano-Gento yang menjadi kunci kejayaan Madrid di periode awal Liga Champion Eropa.

Keduanya tahu betul apa yang harus dilakukan. Dengan penguasaan bola rata-rata 62% melawan tim manapun, poros Xavi-Iniesta-Messi akan berkuasa dan United akan kesulitan menahan dominasi itu. Tapi bukan berarti Barcelona boleh merasa damai. Sirene tanda bahaya eksklusif berbunyi bila bola jatuh di kaki Rooney atau Nani, lalu Javier Hernandez lepas dari pengawasan.

Ketiganya amat ditakuti Barca karena kelebihan skill dan imajinasi, juga kecepatannya. Final 2009 dan 2011 kita lihat bagaimana Barcelona tanpa basa-kedaluwarsa selalu menyerang, menekan, dan menyerang. Sementara Manchester United menunggu, menunggu, menyerang (balik), dan menunggu. Tiada yang berubah dari itu? Bisa jadi. Namun sekali lagi, Ferguson bukan orang yang pantang mengalah.

Dengan sisa waktu dan rembetan usianya, Ferguson pasti berusaha mati-matian merebut titel ketiganya di Liga Champion, bahkan membidik yang keempat, sehingga Manchester United bisa menyamai rekor rivalnya Liverpool, lima kali juara. Pada risikonya, halangan terbesar impian Ferguson adalah Guardiola, pemain yang nyaris direkrutnya pada 2001 ke Old Trafford.

Barca rezim Guardiola sedang menemukan kejayaannya, bahkan melebihi apa yang dicapai Rijkaard dan Cruijff. Barangkali skenario untuk simpulan 2012 terlalu cepat dikemukakan mengingat tidak ada kepastian dalam sepak bola. Akan tetapi sepak bola juga menganut bentuk kemungkinan. Mungkinkah Guardiola bertemu lagi dengan Ferguson pada final Muenchen pada 19 Mei 2012?

(foto: kickoff/theguardian/ibtimes/uefa/thesun)

Sunday, August 14, 2011

Klasemen Abadi La Liga: Dominasi Dua Adidaya

Berbeda dengan lebih banyak didominasi negara Eropa yang kompetisinya otomatis bubar begitu Perang Dunia I atau Perang Dunia II berkecamuk, Liga Spanyol malah tetap jalan namun justru dihentikan oleh konflik internal yang parah yaitu berupa Perang Saudara (1936-39).

Berbeda dengan mayoritas negara Eropa yang kompetisinya otomatis bubar begitu Perang Dunia Klasemen Abadi La Liga: Dominasi Dua AdidayaHebohnya, semenjak bergulir 80 tahun silam, dari ratusan klub profesional yang berlomba setiap tahun di enam divisi sepak bola Spanyol, tapi dengan segala maaf, tercatat hanya sembilan klub yang pernah atau bisa menjuarai Primera Division. Diulangi, hanya sembilan klub saja! Bahkan lebih dari setengahnya itu didominasi dan diantri dua raksasa; Real Madrid dan Barcelona. Jika hitungannya telah bergulir 80 ekspresi dominan, maka dua raksasa itu menguasai 52 demam isu (Madrid 31 kali, Barcelona 21 kali). 

Dalam 10 tahun ke depan, keadaan diprediksi bakal tidak berubah. Makara yang lain silakan gigit jari. Berikut daftar Klasemen Abadi La Liga semenjak kompetisi resmi pertama digulirkan pada trend 1928/29.

KLASEMEN ABADI LA LIGA SEJAK MUSIM 1928/29

Klub
Kota
Musim
Main
Menang
Seri
Kalah
Produksi Gol
Poin
Titel
01. REAL MADRID CF
Madrid
80
2534
1475
519
539
(5284-2902)
4944
31
02. FC BARCELONA
Barcelona
80
2534
1407
529
598
(5234-2923)
4728
21
03. ATHLETIC BILBAO
Bilbao
80
2532
1112
577
843
(4312-3411)
3913
8
04. ATLETICO MADRID
Madrid
74
2386
1101
553
732
(4139-3130)
3856
9
05. VALENCIA CF
Valencia
76
2456
1092
559
785
(4050-3174)
3835
6
06. RCD ESPANYOL
Barcelona
76
2398
873
551
974
(3345-3552)
3170
0
07. SEVILLA FC
Sevilla
67
2180
887
477
816
(3314-3076)
3138
1
08. REAL SOCIEDAD
San Sebastian
64
2074
775
514
785
(2903-2923)
2839
2
09. REAL ZARAGOZA
Zaragoza
56
1910
677
508
725
(2610-2724)
2539
0
10. REAL BETIS
Sevilla
46
1538
549
396
593
(1945-2187)
2043
1
11. RC DEPORTIVO
La Coruna
41
1378
532
337
509
(1882-1941)
1933
1
12. RC CELTA
Vigo
46
1508
519
348
641
(2039-2347)
1905
0
13. REAL VALLADOLID
Valladolid
40
1390
446
359
585
(1679-2061)
1697
0
14. RACING
Santander
43
1388
449
320
619
(1816-2304)
1667
0
15. SPORTING GIJON
Gijon
39
1344
444
332
568
(1628-1948)
1664
0
16. REAL OVIEDO
Oviedo
38
1194
409
292
493
(1648-1954)
1519
0
17. CA OSASUNA
Pamplona
33
1164
388
283
493
(1348-1566)
1400
0
18. UD LAS PALMAS
Las Palmas
31
1020
345
225
450
(1249-1619)
1260
0
19. MALAGA CF
Malaga
30
1026
307
275
444
(1145-1476)
1196
0
20. RCD MALLORCA
Mallorca
25
912
310
237
365
(1096-1252)
1167
0
21. ELCHE CF
Elche
19
602
183
159
260
(685-910)
708
0
22. HERCULES CF
Alicante
20
628
184
149
295
(717-1050)
701
0
23. VILLARREAL CF
Villareal
12
456
187
118
151
(645-587)
679
0
24. GRANADA CF
Granada
17
514
162
124
228
(610-777)
610
0
25. CD TENERIFE
Tenerife
13
494
155
128
211
(619-744)
593
0
26. REAL MURCIA
Murcia
18
586
145
143
298
(607-992)
578
0
27. RAYO VALLECANO
Madrid
12
452
123
120
209
(513-728)
489
0
28. CE SABADELL
Sabadell
14
426
129
95
202
(492-720)
482
0
29. UD SALAMANCA
Salamanca
12
423
123
102
198
(422-581)
471
0
30. CADIZ CF
Cadiz
12
446
104
125
217
(391-660)
437
0
31. CD ALAVES
Vitoria
11
342
111
68
163
(417-585)
401
0
32. CD CASTELLON
Castellon
11
334
103
79
152
(419-588)
388
0
33. CD LOGRONES
Logrono
9
346
96
92
158
(290-488)
380
0
34. BURGOS CF
Burgos
9
318
85
94
139
(317-449)
349
0
35. GETAFE CF
Getafe
7
266
92
68
106
(332-340)
344
0
36. ALBACETE
Albacete
7
270
76
76
118
(320-410)
304
0
37. CORDOBA CF
Cordoba
8
244
79
52
113
(263-362)
289
0
38. UD ALMERIA
Almeria
6
219
59
59
101
(237-347)
236
0
39. LEVANTE UD
Valencia
6
212
56
48
108
(230-345)
216
0
40. PONTEVEDRA CF
Pontevedra
6
180
53
44
83
(165-221)
203
0
41. SD COMPOSTELA
Compostela
4
160
52
45
63
(199-241)
201
0
42. RECREATIVO
Huelva
5
186
50
46
90
(202-296)
196
0
43. ARENAS GETXO
Bilbao
7
130
43
21
66
(223-306)
150
0
44. CD NUMANCIA
Soria
4
152
37
37
78
(155-253)
148
0
45. GIM. TARRAGONA
Tarragona
4
116
34
16
66
(181-295)
118
0
46. ALCOYANO CF
Alcoy
4
108
30
16
62
(145-252)
106
0
47. REAL JAEN
Jaen
3
90
29
13
48
(121-183)
100
0
48. CF EXTREMADURA
Almendralejo
2
80
20
23
37
(62-117)
83
0
49. MERIDA CP
Merida
2
80
19
24
37
(70-115)
81
0
50. REAL UNION
Iron
4
72
21
14
37
(151-180)
77
0
51. CE EUROPA
Barcelona
3
54
18
6
30
(97-131)
60
0
52. UE LLEIDA
Lleida
2
68
13
14
41
(70-182)
53
0
53. XEREZ CD
Jerez
1
38
8
10
20
(38-66)
34
0
54. CE CONDAL
Barcelona
1
30
7
8
15
(37-57)
29
0
55. ATLETICO TETUAN
Tetuan
1
30
7
5
18
(51-85)
26
0
56. CD LEONESA
Leon
1
30
5
4
21
(34-65)
19
0


CAMPEON

1928/29  FC BARCELONA
1929/30  Athletic de BILBAO
1930/31  Athletic de BILBAO
1931/32  Real MADRID CF
1932/33  Real MADRID CF
1933/34  Athletic de BILBAO
1934/35  Real BETIS
1935/36  Athletic de BILBAO
1936/37  --(*Perang Saudara)
1937/38  --(*Perang Saudara)
1938/39  --(*Perang Saudara)
1939/40  Atletico Aviacion
1940/41  Atletico Aviacion
1941/42  VALENCIA CF
1942/43  Athletic de BILBAO
1943/44  VALENCIA CF
1944/45  FC BARCELONA
1945/46  SEVILLA FC
1946/47  VALENCIA CF
1947/48  FC BARCELONA
1948/49  FC BARCELONA
1949/50  Atletico de Madrid
1950/51  Atletico de Madrid
1951/52  FC BARCELONA
1952/53  FC BARCELONA
1953/54  Real MADRID CF
1954/55  Real MADRID CF
1955/56  Athletic de BILBAO
1956/57  Real MADRID CF
1957/58 Real MADRID CF
1958/59  FC BARCELONA
1959/60  FC BARCELONA
1960/61  Real MADRID CF
1961/62  Real MADRID CF
1962/63  Real MADRID CF
1963/64  Real MADRID CF
1964/65  Real MADRID CF
1965/66  Atletico de Madrid
1966/67  Real MADRID CF
1967/68  Real MADRID CF
1968/69  Real MADRID CF
1969/70  Atletico de Madrid
1970/71  VALENCIA CF
1971/72  Real MADRID CF
1972/73  Atletico de Madrid
1973/74  FC BARCELONA
1974/75  Real MADRID CF
1975/76  Real MADRID CF
1976/77  Atletico de Madrid
1977/78  Real MADRID CF
1978/79  Real MADRID CF
1979/80  Real MADRID CF
1980/81  Real Sociedad
1981/82  Real Sociedad
1982/83  Athletic de Bilbao
1983/84  Athletic de Bilbao
1984/85  FC BARCELONA
1985/86  Real MADRID CF
1986/87  Real MADRID CF
1987/88  Real MADRID CF
1988/89  Real MADRID CF
1989/90  Real MADRID CF
1990/91  FC BARCELONA
1991/92  FC BARCELONA
1992/93  FC BARCELONA
1993/94  FC BARCELONA
1994/95  Real MADRID CF
1995/96  Atletico de Madrid
1996/97  Real MADRID CF
1997/98  FC BARCELONA
1998/99  FC BARCELONA
1999/00  Deportivo de La Coruna
2000/01  Real MADRID CF
2001/02  VALENCIA CF
2002/03  Real MADRID CF
2003/04  VALENCIA CF
2004/05  FC BARCELONA
2005/06  FC BARCELONA
2006/07  Real MADRID CF
2007/08  Real MADRID CF
2008/09  FC BARCELONA
2009/10  FC BARCELONA
2010/11  FC BARCELONA