Sunday, August 7, 2011

Malaga Cf: Mimpi Mendobrak Duopoli

Stigma atau persepsi di La Liga yang paling santer adalah di kompetisi ini cuma Barcelona atau Real Madrid saja akan jadi juaranya. Perlombaan di Spanyol makin mirip Skotlandia di mana dua kuda pacunya cuma dua Glasgow, Celtic dan Rangers. Semoga mulai kini anggapan itu salah sehabis klub yang satu ini kian meningkatkan kinerja dan performanya untuk memuat sejarah gres.
Stigma atau persepsi di La Liga yang paling santer adalah di kompetisi ini cuma Barcelona  Malaga CF: Mimpi Mendobrak Duopoli
Los Boquerones, klub dengan gelegak ambisi yang segar dari Qatar.
Lakon Malaga identik dengan cerita Cinderella. Malaga CF seketika mencuat sebagai upsetter paling potensial se-Spanyol mulai besok, minggu ini, atau bulan depan, hingga ke tahun-tahun mendatang. Siapapun tak mengira. Klub yang selama sedekade selalu pontang-panting dan tanpa gelar itu tiba-datang kejatuhan bintang dari Timur Tengah sehabis dibeli seorang sheikh dari Qatar, Abdullah Al-Thani.

Seperti Manchester City di Inggris atau Paris Saint-Germain di Prancis, kepak-kepak sayap Malaga semakin menggeliat lewat gelimangan minyak, tumpukan cek dan hujan ambisi. Musim lalu sensasi klub penerus Club Deportivo Malaga yang telah 'wafat' di 1992 itu gres sebatas fiksi, khayalan. Sedang faktanya, masih jauh dari cita-cita. Di selesai demam isu 2010/11, Los Boquerones berhenti total di posisi 11 klasemen.

Stigma atau persepsi di La Liga yang paling santer adalah di kompetisi ini cuma Barcelona  Malaga CF: Mimpi Mendobrak Duopoli
Pemilik Malaga CF, Abdullah Al-Thani.
Fakta ini memang sedikit kurang manis buat buat kesebelasan olahan Manuel Pellegrini. Orang Chile pengganti manajer Jesualdo Ferreira (Portugal), yang di-PHK di tengah jalan, dibela pemain impor berkelas tidak mengecewakan mirip Martin Demichelis (Argentina/Bayern), Julio Baptista (Brasil/Roma) dan Enzo Maresca (Italia /Olimpiacos). Banyak yang bilang, dengan amunisi begini mimpi Malaga masuk 7 besar La Liga saja cuma imajinasi.

Sadar waktunya memang belum mumpuni, di demam isu keduanya rezim Sheikh Al-Thani kembali merogoh uang. Cinderella Story berlanjut dan terus dirajut. Dalam sekejap, sim-salabim, datanglah Ruud van Nistelrooij (gratis) dan Joris Mathijsen (2,5 juta euro), dua pemain teras De Oranje. Lalu dengan metode 'karpet terbang, Malaga menjemput Nacho Monreal (6 juta, Osasuna) dan Joaquin Sanchez (4,2 juta, Valencia).

Dirasa masih belum mantap, Pellegrini minta mengangkut lagi potensi lokal mirip Sergio Sanchez (2,8 juta, Sevilla), Isco Suarez (6 juta, Valencia), Diego Buonanotte (4,5 juta, River Plate), termasuk yang paling 'nendang' ialah duet Jeremy Toulalan (11 juta, Lyon) dan Santiago Cazorla (21 juta). Jika dijumlah nilai transfernya saja, di luar honor masing-masing, maka 9 pemain ini berharga total 58 juta euro.

Santi Cazorla yaitu murid kesayangan Pellegrini sewaktu di Villarreal, yang terkenal sebagai salah satu pemain sayap tercepat Spanyol selain Juan Mata. Pendek kata, Al-Thani meluluskan semua permintaan Pellegrini yang bernilai sekitar Rp 712 milyar. Bahkan jika Malaga punya prestasi yang lumayan sedikit saja, sehingga lebih kredibel, barangkali Didier Drogba, Javier Pastore, dan Wesley Sneijder mau bergabung.

Proyek Ambisius

Soal bujet transfer, Malaga kini mampu menyaingi Manchester City atau Paris Saint-Germain. Sukses di sepak bola mampu dibeli oleh uang dan ambisi semakin terkenal. Mazhab nan instan yang awalnya diterapkan oleh Chelsea itu sampai juga ke Spanyol. Walau berbenturan dengan tradisi sejati sepak bola, tapi di sisi lain fenomena Malaga melahirkan hal yang menarik. Persaingan di La Liga kini kian garang dan terbuka.

Selama dua dekade, dominasi Hala Madrid dan Visca Barca amat mencengkeram La Liga, dengan gangguan kecil sempat dilakukan Deportivo La Coruna dan Valencia. La Coruna sudah habis nafas, sementara Valencia sekarang pindah kuadran bersama Villarreal, Sevilla, dan Atletico Madrid sebagai barisan klub yang mengakui sulit jadi juara kecuali bersyukur bisa lolos ke Liga Champion, menabung uang dulu untuk di kurun depan.

Dengan konsep dan terobosan dari sisi bisnis, sepertinya Malaga, klub yang bernama asli Atletico Malague ini boleh jadi telah melampaui keempat pesaingnya. Direktur olah raga Malaga, yang tugas utamanya memelototi sumber daya baru dan melakoni transfer, yakni Fernando Hierro. Kiprah legenda hidup El Real ini cukup kuat di Spanyol dan lumayan punya banyak jaringan di Amerika Latin.

Keniscayaan akan ambisi Malaga makin mantap melihat figur papan atas seperti Van Nistelrooij, Cazorla, dan Toulalan mau join. "Saya terpukau dengan rencana ambisius Malaga di kurun depan. Tujuan utama kami yakni menembus Eropa. Saya kenal baik Pellegrini, filosofinya, dan gembira jadi bab dari proyek ini," kata Cazorla yang berkesempatan bisa menjelaskan karena atas nilai transfernya yang mahal.

Stigma atau persepsi di La Liga yang paling santer adalah di kompetisi ini cuma Barcelona  Malaga CF: Mimpi Mendobrak Duopoli
Santi Cazorla dan Manuel Pellegrini, bermimpi bersama.
Ambisi Malaga mulai menyemarakkan lagi atmosfir liga supaya tak melulu dikuasai Real dan Barca. Publik kian bosan dengan liga. Apalagi pihak TV dan sponsor juga 'ingin' gairah baru. Untung operator La Liga menggubris sinisme. Tapi, Malaga? Lho, mengapa tidak!? "Kami sadar, kami kini dalam sorotan. Malaga, Barcelona, dan Madrid ialah acuan gres dalam sepak bola Spanyol," sergah Antonio Apono, gelandang spesialis tendangan penalti. "Setidaknya ketika menjuarai liga tetap nyaris tidak mungkin, namun lolos ke Liga Champion akan menjadi pilihan realistis. Toh pada waktunya kami akan berada di sana."

Hmm, inilah rupanya posisi sejati Malaga. Sebagai kontingen Spanyol yang gres untuk Liga Champion plus syukur-syukur mampu mengacaukan dominasi Madrid-Barca. Situasi ini semenjak awal telah dipahami Al-Thani. Sebagai bankir, pebisnis dan milyarder, potensi dan peluang sudah tercium. Wajar bila pria Qatar ini tidak ragu untuk membeli Malaga 'cuma' 36 juta euro (Rp 442 milyar) pada Juni 2010.

Stadion yakni pasar dan mesin uang klub. Maka target berikut Al-Thani tak lain bikin markas baru berkapasitas 65.000 orang, yang kelak dinamakan Qatar Estadio. Bukan bisnis yang oke kalau Malaga terus mengandalkan La Rosaleda yang berdaya tampung 29.000 orang. Musim lalu rata-rata okupasi stadion ini 17.000 orang. Hanya bisa full jikalau Al-Thani menyuruh semua karyawannya dari seluruh dunia untuk menonton.
Stigma atau persepsi di La Liga yang paling santer adalah di kompetisi ini cuma Barcelona  Malaga CF: Mimpi Mendobrak Duopoli
Wajah baru hero dari Andalusia yang dipenuhi keinginan.
Sebagai kota keenam terbesar di Spanyol dengan populasi 534 ribu jiwa, Al-Thani telah mengukur besaran pertumbuhan bisnis Malaga. Sasaran lain yang juga masuk agenda berupa sekolah tinggi dan pusat latihan klub seluas 12 hektar. Itulah, pasti, yang membuat kehadiran para bintang, meski sebagian telah pudar, sebagai jaminan pada demam isu Malaguistas dan masyarakat Andalusia tiba ke stadion.

Satu imbas terpenting dibangunnya Qatar Estadio tiada lain soal kontrak TV. Selama ini 18 klub La Liga lainnya selalu sakit hati melihat Madrid dan Barca mendapat 300 juta euro atau 80 persen total bujet. Alasan lain butuh stadion yang besar adalah posisi tawar di depan pemegang hak siar. Santiago Bernabeu mampu disarati 80.354 orang, sedang Camp Nou, stadion terbesar di benua Eropa, malah 99.354 penonton!

Setengah Jalan

Jika sudah bangkit, maka itulah stadion ketiga terbesar di Spanyol. Dengan 65.000 penonton, Qatar Estadio akan mengalahkan Mestalla (55.000, Valencia), Vicente Calderon (54.851, Atletico Madrid), dan Benito Villamarin (52.745, Sevilla). Argumen Malaga untuk pelan-pelan menyaingi Madrid-Barca juga mampu diendus dari sini. Setidaknya, rancang bangunnya sudah ada.

Semuanya dimulai dari kekuatan uang. Sejauh ini ambisi Al-Thani dan Malaga yang paling kongkrit baru terlaksana di transfer atau kehadiran sosok manajernya. Artinya, mereka bahwasanya sudah setengah jalan. Namun pada alhasil perhitungan teknis di atas lapangan paling menentukan. Kompetisi di sepak bola hanya akan dimenangkan bukan oleh tim yang paling baik, tapi oleh tim yang paling konsisten.

Stigma atau persepsi di La Liga yang paling santer adalah di kompetisi ini cuma Barcelona  Malaga CF: Mimpi Mendobrak Duopoli
Pellegrini memikirkan peran besar dan berat.
Itulah peran terbesar Pellegrini. Siapapun kenal kualitas Van Nistelrooij atau Joaquin. Potensi mereka tetap ada meski usianya merambat. Bila Pellegrini bisa memotivasinya lagi, bukan mustahil Malaga bakal menuai kejutan demi kejutan. Di La Liga, mazhab permainan yang berlaku adalah sepak bola menyerang. Bisa dipastikan, Demichelis-Mathijsen akan dijadikan tandem di jantung pertahanan.

Lini pertahanan terpenting ada di tengah. Toulalan dan Isco paling bertanggung-jawab di sana. Jika Joaqui­n ditaruh di sayap kanan, maka di kiri hampir dipastikan akan diisi Cazorla. Jika pola 4-3-3 yang dipilih, maka Antonio Apono atau Cazorla didorong ke depan untuk menemani Van Nisterooij atau Julio Baptista. Pertanyaannya, mampukah Los Boquerones menyaingi Barcelona dan Real Madrid?

Jika barisan strata kedua (Valencia, Villarreal, Sevilla, Atletico Madrid) juga bertekad sama, saling mengguncang dominasi duopoli, maka jawabannya adalah mungkin saja. Tidak ada yang tidak mungkin di sepak bola. Namun untuk menuju ke sana para pengelola Malaga mesti meng-'copy-paste' lakon Manchester City di Inggris. Dan beruntunglah, Manuel Luis Pellegrini Ripamonti ialah pelatih bermental pemenang.

Dia mampu mengarungi perjuangan Roberto Mancini abad mesti meladeni dominasi Alex Ferguson dan Arsene Wenger. Dari sisi kapasitas juga kapabilitasnya, Pellegrini mampu saja masuk satu kuadran bersama Jose Mourinho dan Pep Guardiola sebagai pelatih terdepan di La Liga. Pellegrini kenyang bergaul dan bertempur dengan Barcelona serta kenal betul kekuatan Real Madrid karena sebelumnya ia berada di sana.

Jarak nilai per-posisi, yang dikenal sangat renggang di luar dua besar La Liga, mungkin bisa dimanfaatkan Pellegrini untuk mengunci posisi pesaing utama sehingga upaya memfokuskan timnya untuk menghadang superioritas Madrid-Barca makin terperinci. Bisa dibilang, kini kekuatan Valencia memudar sehabis kejadian cuci gudang akhir krisis finansial. Hal sama menerpa pada Atletico Madrid dan Sevilla.

Seperti yang dibuat Manchester City, mereka tidak pribadi menyaingi Manchester United atau Chelsea, tapi memerotoli dulu Arsenal atau Liverpool di manapun: bisnis, transfer, sampai ke permainan. Dan ingat, rasa minder berlebihan serta mental lemah seperti dikala digunduli Real Madrid 7-0 pada Maret silam harus segera dikubur dalam-dalam. Apakah klub berjuluk Los Boquerones alias ikan hering itu tabah melakoninya?

(foto: thesun/malagacf/rcdm/eventplannerspain)

Thursday, June 16, 2011

Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis

Di kala trend gres kompetisi liga utama Eropa dan Liga Champion belum dimulai, juga Piala Libertadores barusan usai, Copa America 2011 niscaya jadi satu-satunya ajang kelas atas yang layak dinikmati penggila bola. Sepekan ini mata dunia telah mengarah ke Argentina, yang menggelar kejuaraan kuno Campeonato Sudamericano de Selecciones.

Di kala musim baru kompetisi liga utama Eropa dan Liga Champion belum dimulai Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis
Copa America masih mencari model bisnis yang tepat.
Dalam konteks bisnis, Piala Dunia, Piala Eropa, dan Liga Champion ialah tiga besar marketshare pagelaran sepak bola dunia. Dalam deret ukur, posisi Copa America rasanya terperinci. Ia ada di urutan empat, masih mentereng dibanding Piala Afrika, Piala Emas, Piala Libertadores, bahkan Piala Asia. Tapi lazimnya sebagai salah satu turnamen regional utama, benturan antara gengsi, tendensi, dan bisnis tampaknya sulit teratasi di tanah Latin.

Dalam hal marketing dan promo contohnya, maaf, jauhlah dibanding perhelatan EURO di Eropa. Padahal dari sisi kualitas turnamen, bisa jadi Copa America ada di urutan satu. Lucunya lagi, di antara tujuh kejuaraan tradisional utama tadi, Piala Amerika yakni kejuaraan sepak bola internasional yang tertua alasannya digelindingkan pertama kali pada 1916. Tahun ini Copa America memasuki edisi yang ke-44.

Kenapa Copa America sulit berkembang bisnisnya? Bukankah FIFA sudah habis-habisan membantunya? Benar, dalam dua pagelaran terakhir, 2007 dan 2011, keputusan FIFA memperbanyak tubruk persahabatan antarnegara, membuat Copa America lebih bermutu sebab setiap peserta punya persiapan matang. Itu teorinya. Prakteknya tak semudah itu. Makara apa ujung pangkalnya? Sepele, ini cuma soal genap atau ganjil! Ia ada di tahun ganjil.

Barangkali karena merasa terdepan peradabannya dengan fakta menguasai bisnis dunia, orang-orang Eropa dikenal lihai dalam lobi dan perundingan. Pada kesannya, risikonya seperti ini. Piala Dunia dan Piala Eropa ada di tahun genap. Piala Amerika dan Piala Emas pada tahun ganjil.

Sementara itu di Piala Afrika dan Piala Asia, meski masuk tahun genap, tapi bahwasanya ada di tahun ganjil. Tepatnya pada awal tahun genap, antara Januari-Februari. Begitulah seterusnya pokok duduk perkara bagi bangsa-bangsa Latin, Afrika, dan Asia yang tidak pernah bisa mengalahkan pamor sepak bola bangsa Eropa.

Berangkat dari sini esensi dan tendensi Copa America membias secara evolutif. Alih-alih mau mengembalikan supremasi Futbol Latino di pentas dunia juga meraih keuntungan besar sisi bisnisnya, Conmebol - federasi sepak bola Amerika Selatan - justru melupakan tradisi asal, kadang melepaskan identitas asli.

Sungguh ironis kalau hampir semua peserta, plus Brasil dan Argentina, menjadikan Copa America medan preparasi sempurna untuk tujuan utama: kualifikasi World Cup! Dengan jatah 4+1, sekarang 9 negara Conmebol minus Brasil, tahun ini akan memainkan lakon yang paling menjanjikan sepanjang sejarah.

Jika bukan dari Copa America 2011, kapan tim nasional Brasil mampu bertemu lawan tangguh secara intensif dan kompetitif? Dengan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014, Selecao tidak ikut kualifikasinya. Ini yang bikin Copa America di bulan Juli ini dianggap sangat serius oleh pelatih nasional Mano Menezes.

Beban lebih berat ikut dirasakan Argentina. Selain temanya sama dengan Brasil, namun puasa gelar internasional sejak 1993, bikin pelatih Sergio Batista kadang suka merenung. Secara spesifik, Brasil dan Argentina punya masalah internal yang paling pelik, ironisnya, justru sebab kebanjiran pemain anggun.

Tanpa metode dan sistem permainan yang baku, rasanya keberhasilan tetap sulit dicapai. Brasil yang ingin mematangkan teladan 4-2-3-1 atau Argentina yang 4-3-3 harus menentukan siapa starter di tiap posisi. Saat ditahan 0-0 oleh Kosta Rika bulan lalu, La Albiceleste tampil tanpa Lionel Messi. Batista mencoba Jose Sosa dan Nicolas Gaitan sebagai penyerang sayap. Hasilnya pun awut-awutan. Brasil pun sekarang sudah dirundung polemik. Mulai dari rakyat, data statistik, dan fakta lainnya; diyakini tim Samba harus menyediakan tempat buat pemain old crack seperti Lucio di belakang dan Elano di tengah.

Persoalan kedua Copa America ialah pandangan sinis publik dan pers Eropa yang menganggap kejuaraan yang dilahirkan untuk memperingati Revolusi Mei di Argentina ini sebagai banyolan. Copa America bukanlah turnamen yang murni mewakili aspirasi sepak bola negara-negara Amerika Selatan. Ketika urusan belum kelar, pada 1993 Conmebol malah mengundang dua anggota zona Concacaf - Meksiko dan AS - sebagai pelanggan gres tanpa menyadari dampaknya.

Ini lucu mengingat tiga negeri Amerika Latin - Guyana, Suriname dan Guiana Prancis - yang jelas-terperinci tetangganya Venezuela dan Brasil, malah 'dibuang' ke zona Concacaf! Ketianya dilempar paksa ke bumi Amerika Tengah. Peta bumi coba diubah-ubah, namun realitanya tidak mampu kecuali memaksakan fantasi. Begitulah, barangkali, sifat mendasar manusia yang sering meminta 'pemakluman'. Namun bagi yang sedikit menghormati adat dan moralitas, ini merupakan sebuah paradoks.

Sinisme Eropa
Di kala musim baru kompetisi liga utama Eropa dan Liga Champion belum dimulai Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis
Jepang terpaksa diundang demi menaikkan nilai jual turnamen.
Perjudian Conmebol nyaris celaka setelah dalam debutnya itu, Meksiko nyaris jadi juara sebelum dihentikan Argentina 2-1 di final. Meksiko dan AS hadir lagi di 1995. Lantas kekonyolan Conmebol makin lama makin menjadi-jadi. Kosta Rika, Honduras, bahkan Jepang pernah hadir atau diundang. Bayangkan, Jepang! Kenapa tidak China saja sekalian? Pasti Copa America mampu nilai audiensi mengingat populasi negeri itu.

Banyak pihak yang nyengir kuda melihat terobosan Conmebol yang mengabaikan tradisi dan identitas kejuaraan. Meksiko paling berilmu memanfaatkan momentum ketika diundang. Negeri Sombrero ini segera mengirimkan barisan talentanya, menyisipkan para pemain muda (U-23) untuk pematangan sesungguhnya menghadapi era depan. Namun lucunya, Kanada di 2001 dan Jepang di 2011 ditolak ketika akan mengirim pemain mudanya.

Lantaran tradisinya yang sudah cacat, dan gengsinya tengah dipertaruhkan, ada rumor yang mengatakan bergotong-royong Polandia - salah satu tuan rumah EURO 2012 - ingin sekali diundang tahun ini! Bos PZPN (PSSI-nya Polandia), Grzegorz Lato, sangat berkepentingan dengan Copa America di Argentina. Lato ialah legenda hidup Polska yang datang-tiba merasa dekat dengan Argentina sewaktu bermain gemilang di Piala Dunia 1978.

Selain itu dikabarkan pelatih nasional Franciszek Smuda dirundung rasa pesimis alasannya ujicoba timnya untuk persiapan di putaran selesai nanti amat minim. Boleh jadi Polandia masih punya gengsi ketimbang Conmebol. Mereka jelas risih meminta-minta diundang. Namun ini bukan tanpa alasan.

Jepang, yang ada di zona Asia (AFC), selalu dibutuhkan hadir alasannya adalah Conmebol melihat sisi sponsor dan nilai marketing yang dibawa Japon. Alasan lain pantasnya Polandia hadir sebab sebelum mengundang Jepang, Conmebol resmi mengundang juara dunia Spanyol! Namun RFEF (PSSI-nya Spanyol) tidak berani mengusik masa liburan para pemain nasionalnya.

Patut dipertanyakan, kenapa orang-orang Latin tak berguru dari pengalaman kala kemudian? Mengapa spekulasi ini dibiarkan FIFA? Hal lain juga sering menjadikan sinisme pada Copa America yaitu soal ketidak-siapan infrastruktur, musibah, insiden heboh yang dilakukan pemain, sampai wasit yang kerap kontroversial. Anda seharusnya masih ingat yang ditorehkan Martin 'El Loco' Palermo pada Piala Amerika 1999 di Paraguay.

Di kala musim baru kompetisi liga utama Eropa dan Liga Champion belum dimulai Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis
Kisah unik Martin Palermo pada 1999 menjatuhkan nilai Copa America.
El Loco mempermalukan dirinya sendiri karena gagal mengeksekusi penalti sampai tiga kali ke gawang Kolombia! Saat itu Palermo yakni striker kelas atas Argentina. Ada acuan lain yang lebih kontroversial. Di abad reputasinya sedang membubung tinggi, Luiz Ronaldo bikin ulah yang tidak terlupakan. Kesal karena diganti dikala lawan Meksiko di semifinal, dia eksklusif ngeloyor ke luar kamar ganti, ambil baju, dan ngabur ke hotel.

Usai lepas kostum, Ronaldo ngacir keluar stadion untuk berkencan dengan wanita serta berbelanja di Ciudad del Este. Itu dilakukan saat timnya masih main! Media massa di Eropa bikin cerita Cash for Chaos untuk menyorot kelakuan profesional negatif bintang-bintang Latin yang bermain di klub Eropa saat berada di rumahnya sendiri. Dikatakan, mereka berbuat begitu alasannya adalah di Eropa tidak punya kesempatan sama sekali dan dibayangi disiplin yang ketat.

Ulah heboh juga pernah ditunjukkan kiper Paraguay, Jose Luis Chilavert, yang mogok main justru alasannya negaranya menggelar Copa America! Jauh-jauh hari si eksentrik protes bahwa masih banyak dilema ekonomi yang dihadapi Paraguay ketimbang buang-buang uang dengan menjadi tuan rumah Copa America 1999. Belum lagi drama soal kepemimpinan kontroversial wasit yang memalukan mirip di Copa America 2007.

Namun dari semua kelemahan dan keganjilan tapi faktual Copa America yang disorot media massa Eropa, tak lain soal pengaturan langgar dan jumlah akseptor. Sejujurnya, 12 negara partisipan tidak ideal buat sebuah kejuaraan yang memakai sistem round-robin. Mereka selalu butuh dua tim terbaik yang diambil dari tiga runner-up. Mulai tahun ini langgar tidak dilanjutkan dengan sabung penalti langsung jikalau di 90 menit pertama berakhir imbang.

Copa America suka terjebak dalam geliat bisnisnya sendiri. Demi obsesi menyamai pamor Piala Eropa, Copa America justru semakin mengorbankan gengsi dan tradisinya. Padahal dengan mengajak Amerika Serikat saja sudah cukup. Banyak sponsor dan stasiun TV yang bahagia dengan Copa America mengingat jumlah komunitas Latino di AS.

Namun agaknya Conmebol ingin mencari untung yang lebih besar. Padahal sudah mentok sama sekali, sudah terukur. Satu contoh kecil saja, jikalau FC Barcelona tidak menginzinkan Messi tampil dengan aneka alasan, maka AFA (Federasi Sepak Bola Argentina) tidak bisa apa-apa karena pada faktanya Barcelona yang mengelola dan menjamin hidup Messi, bukan tim nasional Argentina, AFA, atau negaranya.

Bussines-Driven
Di kala musim baru kompetisi liga utama Eropa dan Liga Champion belum dimulai Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis
KIA butuh market gres di Amerika Selatan.
Kepentingan bisnis selalu bergerak ke mana-mana mencari peluang. Soal perlengkapan Lionel Messi misalnya. Sebagai sponsor resmi tim Tango, Adidas memainkan peranan penting. Seperti diketahui, ras Hispanik dan AS yakni market utama Barcelona. Inilah yang akan diatur bagaimana Barcelona dan Adidas mampu cincay. Apalagi kejuaraan bakal digelar di kampungnya Messi.

Itu kenapa Univision, jaringan TV dari AS yang memegang hak siar Copa America 2011, berharap banyak. Revenue utama TV yang berkantor sentra di New York ini ialah telenovela dan sepak bola (La Liga) yang berbahasa Spanyol, namun khusus Copa America mereka menggunakan English language.

Biaya produksi dari studio di Doral, Florida dan unit di lapangan telah ditutup oleh sponsor non-Eropa seperti: LG, MasterCard, Santander, KIA, Telcel, Claro, Canon, Budweiser, Coca-Cola, Petrobras, Seara, sampai UNICEF. Semuanya berharap banyak pada kesuksesan turnamen kuadranial ini. Kue laba pun sudah dikapling-kapling.

Uniknya, Argentina tidak mampu berbuat banyak alasannya event organizer Copa America 2011 yaitu Traffic Sports, sebuah perusahaan Brasil yang bermarkas di Miami, Florida. Traffic Sports dan Univision inilah yang mengatur liveshow ke 196 negara sejagat termasuk Indonesia.

"Walau digelar di Argentina, tapi alasannya adalah Univision yakni market leader di AS yang menguasai ajang top olah raga, maka kami mampu mendapat fragmentasinya sebagai magnet berpengaruh menjadi tontonan utama," saya Aaron Davidson, Wakil Presiden penjualan dan pemasaran Traffic Sports.
Di kala musim baru kompetisi liga utama Eropa dan Liga Champion belum dimulai Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis
Tiga sponsor utama Copa America 2011.
Mereka memilah mana sponsor berkelas platinum, gold, dan silver. Misal untuk bir yang masuk kategori silver. Saat Meksiko main, maka iklan salah satu produk Budweiser yakni InBev, yang akan terlihat. Akan tetapi saat tim Samba tampil, maka perusahaan bir Brasil, Brahma, yang mendominasi iklan baik di tayangan atau di stadion. Ketika Argentina yang main, maka bir lokal Quilmes-lah yang tayang.

Berbekal data ajang sebelumnya pada 2007, maka tingkat audiens Copa America yang dibidik Univision cukup dengan angka 2,6 juta penonton tiap pertandingan. Artinya ada angka total 67,6 juta penonton. Sebuah angka yang 'sangat kecil' dibandingkan Piala Eropa.

Tipe sponsor di Copa America juga minim jenisnya. Bank, kartu kredit, minuman, bir, kendaraan beroda empat, elektronika, tambang, dan telekomunikasi. Namun ketika dikombinasi dengan demografi penonton kejuaraan sebelumnya milik Scarborough Research, ternyata potensinya cukup menjanjikan alasannya adalah 70 persen penonton Copa America ialah kaum Adam.

Komposisi usia penonton Copa America di AS juga menarik datanya. Di usia 18-22 sekitar 6%. 25-34 (22%), 35-44 (24%), 45-54 (18%), 55-64 (11%), dan di atas 65 tahun (9%). Sedangkan dari segi penghasilan audiens, angkanya makin prospektif, 30% ada di pendapatan di atas $100.000 setahun. Berikutnya 75.000-100.000 (17%), persis sama rentang 35.000-50.000. Pendapatan antara 50.000-75.000 (15%), 25.000-35.000 (11%), serta di bawah 25.000 cuma 10%.

Jika data ini dipaparkan ke audiens di Eropa, bisa jadi dikategorikan suram. Namun itulah, standar pasar bola di Latin yang punya ekosistem tersendiri. Urusan keruk-mengeruk duit, sepak bola selalu ada celah dan celah. Untuk yang bernilai mega, Traffic Sports telah mematok bayar di muka, enam bulan sebelum Copa America bergulir. Kategori ini juga diharuskan menggelar acara ekstra seperti nonton bareng atau ekspo.

Sementara itu untuk sponsor bernilai ritel masih ditunggu sampai jelang kick-off. Bussines-driven yang digenjot kuat-berpengaruh Traffic Sports bukan tanpa hujatan di kampung sendiri. Manuel Figueroa, wartawan harian El Espectador di Bogota, pernah menulis bahwa untuk berilusi saja, Conmebol telah gagal mengangkat sepak bola Latino! Kolusi dan konspirasi para birokratnya sulit diusik.

Wilayah ini hanya diselamatkan oleh bakat dan mutu permainannya. Amerika Selatan ialah lahan Conmebol, di mana sebagian pejabatnya juga adalah tokoh teras FIFA. Jika di atas permainan, Argentina dan Brasil yakni dua besar di tanah Latin, maka begitu juga klik di Conmebol dan bisnisnya.

Terlepas itu semua, ini yang menjadikan Copa America tetap spesial, seperti gaya permainannya mereka. Bagi sebagian wartawan, dibanding turnamen ala Eropa seperti Liga Champion atau Piala Eropa yang miskin drama, Copa America biasanya penuh dengan dongeng unik di luar lapangan. Cocoklah dengan kesukaan mereka pada telenovela.

(foto: exspanish/dailymail/racing5/football-marketing/kolkatafootball)

Monday, April 18, 2011

Angela Merkel: Wanita Terkuat Di Dunia

Sejarah mengajarkan bagaimana tirani kelas kakap dengan tugas sebagai politisi sepak bola, sering terlibat langsung dan total masuk ke dalam tim nasionalnya. Idi Amin yaitu manajer dan pelatih' tak resmi kesebelasan nasional Uganda, Cranes. Dia menyuruh pelepasan dua tapol untuk satu langgar penting.

Sejarah mengajarkan bagaimana tirani kelas kakap dengan peran sebagai politisi sepak bola Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia
Suasana tak terlupakan, di kamar ganti sang jawara.
Tak terkecuali Angela Merkel. Apa gerangan yang dikreasi Die Bundeskanzlerin itu? Tentu, ia tidak mirip Idi Amin, atau Benito 'Il Duce' Mussolini yang untuk menggaransi sukses propaganda fasisme-nya, beliau menunjuk manajer, pelatih, dan pemain plus daftar reward and punishment-nya.

Frau Merkel juga pasti tidak mau mengikuti Sheikh Fahd Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah, salah satu pangeran terkaya di bumi, dengan memerintahkan tim nasional Kuwait untuk walk out dari lapangan hijau sebagai protes sehabis merasa dicurangi wasit saat bertemu Prancis pada Piala Dunia 1982.

Kiprah nyonya besar yang satu ini tak hingga begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan sopan santun Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit alasannya sering dilakukan yakni nyelonong ke kamar ganti pemain! Ini berarti, wanita kelahiran 17 Juli 1954 itu selalu sudi masuk ke kamar ganti pria. Bukan main.

Suatu hari verbal PM Jepang Junichiro Koizumi menganga mendadak sembari mengucek-ucek matanya, usai melihat sendiri Merkel, saat itu sebagai ketua Bundestag - dewan legislatif Jerman, lagi dikelilingi belasan laki-laki bertelanjang dan bercawat di Piala Dunia 2002.

Kiprah Merkel yang erat dengan bola jadi gunjingan orang, sekaligus cibiran. Mulai rakyat, pers, sampai lawan-lawan politiknya dibuat garuk-garuk kepala. Apakah ia maniak beneran atau cuma politisi oportunis yang cuma memanfaatkan kebaikan hati sepak bola?

Saat instruktur Joachim Loew diusir wasit dalam tabrak Austria vs Jerman di Grup B EURO 2008, di boks VIP stadion orang bisa melihat gestuur Merkel yang menghibur Jogi Loew, mirip layaknya seorang ibu pada anaknya. Dari situ Merkel juga diketahui ber-SMS-ria dengan pemain pujaannya, Bastian Schweinsteiger, yang kebetulan saat itu tak dimainkan.

Merkel pertanda kepada publik bahwa ia tak melulu kejangkitan kickerfieber, demam bola, tapi juga sungguhan mencintainya. Bahkan jadi Dewi Fortuna-nya. Piala Dunia 2006 merupakan oleh-oleh Gerhard Schroeder, yang sejak hari pertama jadi kanselir pada 1998 langsung bekerja biar Jerman jadi tuan rumah yang baik. Namun Schroeder tak sempat mencicipi puncak kariernya itu alasannya pada Mei 2005, dia ditumbangkan Merkel!

Sejarah mengajarkan bagaimana tirani kelas kakap dengan peran sebagai politisi sepak bola Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia
Angela Merkiel, simbol kickerfieber 2006-2008.

Itu barangkali cuma satu kebetulan, tapi tidak bagi Merkel. Lagi pula, dia membuktikannya. Sepanjang 2006-2008, tak pelak, Merkel jadi simbol 'kickerfieber' nomor satu di Jerman. Bagaimanapun yang diharapkan sepak bola bukan dari hal-hal lahiriah saja, namun juga batin suci mirip ketulusan, kejujuran, hasrat, atau itikad baik. Jika bisa dilalui, buahnya pun bagus.

Menurut Barney Ronay dari The Guardian, mantan istri Ulrich Merkel itu meraih banyak ide dari Tony Blair, PM Inggris 1997-2007, yang populer dan langgeng jadi penguasa politik lantaran bergaul intim dengan sepak bola. Pengalaman di Jepang pada 2002 jadi bukti otentik tulusnya Merkel pada sepak bola. Belum cukup? Barangkali iya. Kecuali sebuah momen pada Januari 2006 yang akan mengubah segalanya.

Iman Fussball

Dalam satu wawancara khusus, harian terbesar di Jerman Bild Am Sonntag tanpa diduga berani bertanya eksklusif motif keterlibatan Merkel di Nationalmannschaft. Dan gilanya lagi, trio jurnalis Ulrich Deupmann, Claus Strunz dan Peter Wenig juga mengetes eksklusif 'keimanan' sepak bola sang kanselir.

Apa saja? Mulai dari menanyakan siapa pimpinan klasemen Bundesliga dikala itu hingga minta klarifikasi dan menyuruhnya menggambar hukum offside! "Sungguhan kalian meminta itu? Asal kalian tahu, saya sudah memikirkan hal itu ketika saya sedang menggosok gigi tadi pagi," tukas Merkel sambil tertawa. Dasar politisi, ketika diwawancara banyak tanggapan Merkel berisi canda atau sindiran yang beraroma politis, klise, juga tendensius. "Saya bocorkan kalian sesuatu. Jika hal ini kalian tanya kepada beberapa kanselir federal, aku sangat yakin mereka tak bisa jawab!"

Publik rada geger, karena di Bundestag jumlah kanselir federal itu bisa dihitung dengan jari! Begitu cara Merkel menyentil lawan-lawan politiknya. Barangkali, selama ini mereka itu paling banyaomong dikala Merkel mengakrabi Jogi Loew, komandan Nationalmannschaft, atau ada komentar sumbang saat ia ber-SMS ria dengan Schweinsteiger, pemain idolanya.

Padahal SMS Merkel pada Schweini berisi spirit dan bantuan, juga nasehat khusus. "Dia bilang semoga saya jangan mengulangi kebodohan lagi. Jika seorang Frau Bundeskanzler yang mengatakan itu sudah sepatutnya anda mengikutinya," terperinci Schweini, yang terkena kartu merah ketika Jerman ditekuk Kroasia 1-2 dalam tubruk Grup B EURO 2008 di Klagenfurt. Lepas dari pro-kontra, faktanya lewat pagelaran Piala Eropa di Austria-Swiss itulah nama Merkel membubung sebagai pimpinan spiritual Der National.

Rakyat Jerman jadi saksi. Buktinya, dari yang tadinya tertatih-tatih, Der Panzer jadinya mencapai babak akhir. Satu duel penuh drama dilakoni Nationalmannschaft abad bersua Turki di semifinal. Ketika ratusan ribu rakyat Jerman turun ke jalan usai gol Phillip Lahm di era injury-time, predikat satria nasional tak diraih Lahm saja tapi juga oleh Merkel!

Sejarah mengajarkan bagaimana tirani kelas kakap dengan peran sebagai politisi sepak bola Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia
Mesut Ozil kebagian pelukan dari sang pemimpin.
Kehadiran sang kanselir di Stadion Saint-Jakob, Basel, seolah jadi magnet tim diesel untuk berjuang sampai titik keringat penghabisan. Jerman menang 3-2. "Harus diakui bahwa berkali-kali jantung saya seolah berhenti melihat berkelahi ini. Turki bermain sangat baik, tapi saya lebih puas dan senang alasannya adalah Jerman yang menang," celoteh Merkel ketika itu di hadapan pers.

Di EURO 2008 itu, Frau Merkel hanya sekali bolos menyaksikan Jerman. Itupun alasannya adalah tak ada pilihan. Dia harus menghadiri pertemuan rutin pemimpin G-8 di Brussels. Namun kepedulian Merkel tetap bocor ke media massa. Bayangkan, di tengah rapat dengan Nicolas Sarkozy (Prancis), Silvio Berlusconi (Italia), Dmitri Medvedev (Rusia) atau Gordon Brown (Inggris), ia tetap rutin mengirim SMS ke Jogi Loew dan para pemain untuk memberi semangat.

Rumor sempat beredar bahwa gara-gara ulah Merkel pertemuan G8 diduga tidak serius yang diperkirakan. Apalagi diketahui empat nama pemimpin di atas juga dikenal biang bola. Masihkah kita mewaspadai Merkel? Kembali ke wawancara dengan Bild Am Sonntag. Tiba-tiba Merkel mengambil kertas dari mejanya. Dia menggambar aturan offside dengan dua warna, hijau dan hitam. Hasilnya? Wow, rombongan wartawan tadi langsung terkesima dan menyatakan bahwa Merkel ternyata memahami sepak bola! Lulus.

Di mata mereka, Merkel termasuk golongan sangat interes dengan fussball, sepak bola. Tidak menggilai, tapi berhasrat. Dalam skala 1-10, maka Bild Am Sonntag mematok skala 7 untuk Merkel. Namun yang unik, usai wawancara Merkel meminta gambar hasil corat-coretnya supaya dimuat di koran itu untuk edisi besok. Lagi-lagi, ini langkah politis!

"Sebenarnya saya nggak mau membesar-besarkan pengetahuan aku wacana sepak bola. Tapi, oke. Saya memang bukan seorang yang jago, tapi aku terus update perihal Bundesliga lho. Saya juga mengikuti terus perkembangan Piala Dunia atau Piala Eropa. Saya paling bahagia nonton bareng di pub daripada nonton sendiri di rumah, dan itu aku sudah lakukan semenjak masih menjadi menteri lingkungan hidup."

"Sepanjang EURO 96 saya selalu nonton di pub," kata perempuan yang tak punya anak dari perkawinan pertamanya, dan sekarang jadi istri Joachim Sauer, seorang profesor kimia kuantum, sejak 1998 itu. "Artinya suami Anda tak tertarik dengan bola, hingga-hingga anda malas nonton bola sendirian begitu?" tanya Bild Am Sonntag lagi."Dia tidak mirip aku. Hahaha. Sejujurnya, kami tak menggunakan televisi dikala berlibur."

"Sewaktu Piala Dunia 2002 berlangsung, banyak warga di sekitar vila seringkali menanyakan pada aku apakah aku menontonnya. Tapi bila Jerman main di Piala Dunia dan Piala Eropa, suami saya pasti nonton kok. Baik ke stadion eksklusif maupun lewat TV di rumah," lanjut ibu tiri dari dua anak Sauer yang menimbulkan simpulan 2002 Jerman vs Brasil sebagai pertandingan sepak bola paling mengesankan dalam hidupnya.

Drama Gol Lampard

Karena usang berkecimpung di dunia politik, Merkel sering ganti sparring-partner juga di dunia bola. Dulu dengan Vladimir Putin, kini dengan Medvedev. Sebelumnya dengan Brown, kini dengan David Cameron. Sempat juga dengan Romano Prodi sebelum ada Berlusconi. Mana di antara mereka yang paling tangguh, paling dia sukai?

Satu dongeng pada selesai Juni 2010 menjawab itu: Cameron! Siapapun maklum, adu Jerman vs Inggris selalu panas, diboncengi bentrok budaya dan penuh muatan politik. PM Inggris itu menyadari. Merkel pun memahami. Namun luar biasanya, mereka setuju nonton bareng!

Sejarah mengajarkan bagaimana tirani kelas kakap dengan peran sebagai politisi sepak bola Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia
Aktivitas Merkel yang sama pentingnya dengan lobi politik.
Kejadian itu diliput beberapa media Inggris dan Jerman dengan permintaan terbatas. Lucunya bukan oleh para wartawan olah raga atau sepak bola, tapi wartawan politik dan ekonomi! Asal tahu saja, peristiwa itu terjadi di Toronto, Kanada, kala digelar konferensi negara-negara G20 yang waktunya memang bersamaan dengan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Yang jadi heboh; sudah duelnya full gengsi, eh muncul pula momen langka plus kontroversial. Sebuah gol Frank Lampard yang tak diakui wasit! Merkel, yang bersanding dengan Cameron, jadi salah tingkah. Cameron pun begitu. Mau murka tapi malu. Pasalnya Cameron sempat melonjak kegirangan.

Dari kalangan internal diketahui bahwa Angela Merkel pun mengakui bahwa gol kedua Inggris itu seharusnya disahkan dan ia sontak bilang ke Cameron 'I am so sorry'. Skor tetap 2-1 buat Jerman. Gol Miroslav Klose dan Lukas Podolski dibalas segera oleh sundulan Matthew Upson.

Tapi gol Lampard tetap invalid. Suasana tegang alasannya wajah Cameron tampak kusut dan kecewa. Babak pertama usai dengan kesan sama-sama tidak yummy. Tapi lihat bedanya. Saat jeda, dari Kanada itu Merkel banyak menelpon dan meng-SMS dukungan pada skuad Der Panzer di Afrika. Pas babak kedua, anehnya deretan nobar diubah, entah ada hubungannya dengan peristiwa kontroversial tadi atau tidak, faktanya demikian. Jangan lagi wartawan ingin melihat, para pejabat teras dua negara juga tidak mampu.

Di babak kedua, Merkel dan Cameron tiba-datang memisahkan diri ke ruangan sebelah dan cuma ingin ditemani kanselir David Osborne dari Inggris serta menteri keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble beserta ajudan masing-masing. Ketika emosi Cameron mereda, apalagi Jerman membabi-buta di babak kedua lalu menang 4-1, PM Inggris itu balasannya memberi selamat pada Merkel lewat jabat tangan.

Sukses kali ini amat berarti, alasannya adalah ia juga mampu 'mengatasi' bangsa Inggris (di diri Cameron) dari sisi psikologis. Bayangkan, Merkel harus bijaksana dan koperatif di kala Cameron tengah spaning dan gondok balasan gol Lampard yang tak diakui tadi. Media gila memujinya. ABC News membuat judul 'German Football's Biggest Fan'. Merkel tersenyum. Dia ingat ucapannya sendiri.
Sejarah mengajarkan bagaimana tirani kelas kakap dengan peran sebagai politisi sepak bola Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia
Nobar politik bersama David Cameron dan Barrack Obama.
"Ada dua persamaan antara politik dan sepak bola. Pertama, anda harus fit di dikala yang sempurna. Kedua, tak ada yang tidak mungkin." Gara-gara dampaknya yang signifikan buat moralitas tim, Merkel kerap didaulat jadi nara sumber program sepak bola. Gagalnya Jerman jadi juara dunia 2006 di rumah sendiri, balasan Juergen Klinsmann itu pendukung berat Gerhard Schroeder! Bukan belakang layar lagi karena di kala Klinsmann, Merkel tak mau masuk ke skuad Der Panzer.

"Mereka datang dari aneka klub yang wajib saling mengenal dalam dan luar lapangan. Itu mirip koalisi Katolik Demokrat dengan Sosial Demokrat di Bundestag dan pemerintahan. Harus ada yang bertugas jadi sweeper, penekel, playmaker bahkan cadangan. Pokoknya tak ada yang di sayap kiri! Hingga sekarang kabinet banyak diisi oleh orang-orang berbakat," begitu analogi Merkel tentang 'kesebelasan' kabinetnya.

Kelincahan Merkel bicara politik dan sepak bola memang mengagumkan. "Politik juga begitu, mirip bola, sering akibatnya terjadi di menit-menit final. Pesepak bola perlu fisik dan stamina yang prima. Begitu juga politisi. Ada politisi oportunis mirip halnya pemain oportunis di lapangan. Tugasnya mencari peluang.

"Kemenangan di politik persis di sepak bola, sebuah tim yang paling komplit alasannya terdiri dari individu yang berbeda. Mereka yang terlalu mengandalkan teknik tinggi sering dikalahkan oleh mereka yang bermain lebih efektif," pesan Die Bundeskanzlerin Jerman ini pada dunia.

Sehari usai wawancara, Bild Am Sonntag menurunkan judul di halaman pertamanya: '100 Besar Wanita Terkuat di Dunia: #1 Angela Merkel'. Tak syak lagi, di mata Merkel, politik dan di sepak bola itu kongruen. Siapa yang main lebih efektif, maka dialah yang lebih sukses meraih kemenangan dan lebih cepat mencapai tujuannya.

Semua itulah yang melatar-belakangi kepuasan ia dalam mengkreasi, dan merasa sangat berkepentingan dengan Die Frauen-Fussball-Weltmeisterschaft 2011 yang di Jerman, 26 Juni-17 Juli mendatang. Wilkommen, Piala Dunia Wanita 2011

(foto: dreamwidth/tagespiegel/gazzetta/irishmirror/eleconomista/telegraph)

Thursday, March 3, 2011

Muammar Al-Qaddafi: Simon Bolivar Arab Dan Raja Afrika

Tampaknya sudah menjadi suratan takdir Muammar Al-Qaddafi dilahirkan jadi pemimpin. Sebab kalau tidak, tidak mungkin ia bisa bertahan selama 42 tahun, terhitung semenjak 1 September 1969. Masa kekuasaannya dicatat sebagai kurun terpanjang dalam sejarah politik modern.
Tampaknya sudah menjadi suratan takdir Muammar Al Muammar Al-Qaddafi: Simon Bolivar Arab dan Raja Afrika
Bagaimana sikap Muammar Al-Qaddafi di depan Silvio Berlusconi.
Lantaran gemar menghadang kapitalisme bin imperialisme di seluruh garis depan perlawanannya, Libya sering diserang dan dijadikan sasaran musuh. Seperti halnya Bung Karno, dia tahu politik dan olah raga saling terkait. Kini ia satu-satunya garda terdepan yang coba meladeni kekuatan Barat di banyak sisi.
Diktator kharismatik, nyentrik, plus kontroversial ini selalu menyuarakan ketidak-adilan, termasuk di sepak bola. 

Menapaki dongeng kehidupannya, tugas Qaddafi secara klasik mampu terlihat sebagai sosok penyeimbang kutub ketimpangan pelbagai ideologi di dunia. Politik, sosial, budaya, ekonomi, doktrin, hingga ke sepak bola. Kontribusinya lebih konkrit, lebih serentak, malahan lebih kompleks dibanding perbuatan Soekarno, salah satu inspiratornya, di periode 1960-an.

Terhadap apa yang diyakininya, laki-laki berjulukan komplit Muammar Muhammad Abu Minyar Al-Qaddafi selalu mengerahkan sumber daya di sekelilingnya. Kekuasaan. Harta. Bahkan nyawa. Dunia mesti melihat Qaddafi di banyak sisi dan persepsi, impian dan perbuatan, harapan dan kenyataan semoga tidak dijebak dalam polarisasi pemikiran.

Saat Aljazair dan Mesir nyaris berperang gara-gara kualifikasi World Cup, November 2009, gugusan moralis di Eropa dan Amerika cuma melongo tanpa daya. Tak satupun jua penguasa dunia yang 'jemput bola' di kala FIFA dibekap kebingungan. Lalu Qaddafi-lah yang berinisiatif dengan memediasi duduk perkara untuk menemukan jalan tengah. Pembelajaran sepak bola mulai didapatkan.

Kemunculan Kolonel Qaddafi di pentas politik laksana Pele di pentas sepak bola. Awalnya tak diperhitungkan, tapi risikonya melegenda. Lihai bin berilmu memanfaatkan peluang ialah keunggulannya. Ini tempaan abad kecilnya hidup di Gurun Syrt, dalam budaya suku Qaddadfa di Sabha, di tengah-tengah Libya. Qaddadfa yaitu salah satu etnis suku Badui yang oleh Qaddafi diabadikan jadi namanya.

Qaddafi mirip penyerang ulung yang banyak akal, sangat percaya diri. Dia amat piawai memerotoli akidah diri bek musuh atau kekuatan lawan, seperti yang dilakoninya pada alam gurun yang keras dan memperabukan. Barat selalu membenci Qaddafi sebab perlawanan sosialnya, solidaritas luar biasa untuk kehidupan yang alamiah.

Tampaknya sudah menjadi suratan takdir Muammar Al Muammar Al-Qaddafi: Simon Bolivar Arab dan Raja Afrika
Muammar Al Qaddafi dan Hugo Chavez.
Dalam aneka macam sisi, pers Barat selalu salah menulis wacana Qaddafi. Padahal itu justru menjauhkan diri dari cara yang bantu-membantu mereka ingin dapatkan. Barat dengan gampang menyetir opini, memutuskan akidah, dan membuat persepsi. Demokrasi semata-mata dipakai untuk menjustifikasi tujuan mereka. Padahal bahu-membahu yang diincar adalah sumur-sumur minyak di gurun-gurun Libya.

Minyak dan gas alam menciptakan Qaddafi besar lengan berkuasa dan berkuasa. Dengan kekayaan tak berbatas, dia mengatur dan menyeimbangkan politik dunia, dan menerobos ke sela-sela yang sulit diduga. Qaddafi mengibarkan nama di Italia dengan membeli 7,5% saham di Juventus melalui FIAT, perusahaan mobil nomor sembilan di dunia yang selama ini menjadi mesin uang Agnelli.

Hingga awal 2000-an saham Qaddafi di FIAT masih 10,6% melalui label LAFICO (Libyan Foreign Investment Company). Desas-desus berkembang karena Al-Saadi, putra tertua Qaddafi, diketahui banyak orang sangat menggilai sepak bola dan mulai berlatih dengan beberapa klub Serie A. Saat yang sama, pada Juni 2001, Silvio Berlusconi memenangi lagi pemilu. Ia kembali menjadi PM Italia.

Pemimpin gila bola ini amat teliti soal investasi ajaib, apalagi yang berafiliasi dengan calcio. Berlusconi sontak menggagalkan harapan LAFICO yang berambisi menambah sahamnya ke angka 20%. Walau dibayangi risiko dan friksi tajam melawan keluarga Agnelli, namun bermodalkan otorisasi politik, Don Silvio memenangi obyektivitas ketika berdebat di dewan legislatif.

Pasalnya dengan 20% saham, berarti Qaddafi semakin punya efek di FIAT. Berlusconi sadar betul, otomotif dan calcio adalah dua industri papan atas di Italia selain masakan, pariwisata, dan fesyen. "Dan FIAT ialah Juventus," begitu kira-kira pikiran Berlusconi. Pasar global FIAT mencengkram besar lengan berkuasa Afrika, India, Cina, Eropa, Amerika Latin termasuk AS.

Namun yang dikuatirkan Berlusconi bukan itu, tetapi bagaimana menjaga policy dan mengontrol biar investor abnormal tidak macam-macam. Dia takut sepak terjang Qaddafi, dengan duit yang tak terbatas, akan memengaruhi atau memecah belah panggung parlemen. Di atas kertas saja, bukankah dengan saham di FIAT berarti juga Qaddafi punya andil dan jalan masuk ke Juventus?

Banyak Berbuat

Bagaimana jika Qaddafi mengguyurkan uangnya untuk menguatkan Juventus dengan membeli para bintang terbaik di dunia? Juga 'berbagi' Bianconeri sebuah stadion yang luks. Tidak ada satu pun klub ahli di Italia yang mempunyai mesin uang berupa stadion sendiri. Terus terperinci, kepedulian Don Silvio terhadap negara berbanding lurus dengan kepentingan pada klubnya.

Sepak terjang Qaddafi mengacak-acak ekonomi Italia, salah satu negara G-8 dan Uni Eropa, belum usai. Qaddafi juga menunjuk Khaled Faruq Zentuti sebagai bos LAFICO. Zentuti eksklusif jajaran board di FIAT dan Juve. Di lain kesempatan, Qaddafi diketahui membeli saham Unicredit, bank AS yang menyoponsori AS Roma. Unicredit dimiliki pengusaha AS berdarah Italia, Thomas Di Benedetto.

Tampaknya sudah menjadi suratan takdir Muammar Al Muammar Al-Qaddafi: Simon Bolivar Arab dan Raja Afrika
Kedekatan Al Saadi dengan sepak bola Italia.
Modal juga ditanam Qaddafi di Eni SpA, korporasi minyak dan gas Italia, yang 30% sahamnya dikuasai pemerintah. Begitu juga di Finmeccanica, perusahaan negara di industri mesin, teknologi, pesawat serta militer. Khusus di Unicredit, Eni, dan Finameccanica, holding-nya adalah LIA (Libyan Investment Authority) yang dikontrol penuh oleh tiga dari tujuh anak lelaki Qaddafi: Saif Al-Islam, Mu'tassim-Billah, dan Hannibal Qaddafi.

Orang bertanya-tanya, kenapa Italia yang dijadikan target Qaddafi? Alasan simpelnya cuma dua, latar belakang historis dan sepak bola. Sejak kecil Qaddafi memahami kultur Italia, negara yang menjajah Libya semenjak 1911 hingga 1947. Dia mengidolakan Omar Mukhtar, pejuang legendaris melawan kolonialisme Italia. Antara 1912-1927, Libya masuk dalam peta negara Italia dengan nama khusus Africa Settentrionale Italiana.

Inspirator lain Qaddafi ialah Idris Al-Mahdi As-Sanussi, orang yang berandil membunuh jutaan etnis Badui sehabis diangkat Italia jadi Raja Idris I. Raja Idris II, keturunannya itulah, yang ditumbangkannya lewat kudeta militer bentukan Italia. Jadi bukan kebetulan jikalau sekarang sejarah itu berulang tapi dengan lakon dan skenario berbeda. Apakah Qaddafi kini membalas dengan perebutan kekuasaan ekonomi?

Pada sebuah artikelnya, Roberto Alvarez-Galloso, seorang martir demokrasi, pernah mempertanyakan kongkalikong para penguasa dan penguasa Italia dengan rezim Qaddafi. Di Inggris, London School of Economics disinyalir telah mendapatkan kontribusi dari Libya. Sementara di Swiss, beberapa bank dikabarkan berbisnis dengan keluarga Qaddafi. Tak perlu memaknai dalam-dalam lagu Money di album The Darks Side of The Moon-nya Pink Floyd untuk memahami kekuatan uang dalam mencapai tujuan. 

Agaknya Qaddafi tahu betul dengan apa beliau harus meladeni Barat. Propaganda saja tidak cukup. Jika Saddam Hussain kebanyakan mengancam, lantas Hosni Mubarrak malah keseringan nurut, maka Qaddafi melaksanakan dengan perbuatan. Tidak semua publik dunia benci Qaddafi. Di Amerika Latin, pemimpin Libya yang lahir pada 7 Juni 1942 ini punya sekutu penting sama-sama dari negeri kaya minyak. Presiden Hugo Chavez paling gigih membelanya. Ini bak kisah balas kebijaksanaan.

Saat dihujat Barat, dan Venezuela nyaris diinvasi AS pada 2004, Qaddafi malah memberi nobel perdamaian sendiri bertitel The Qaddafi Human Rights Prize. "Beliau prajurit revolusi yang berani melawan superlatif Barat. Ia pemimpin Libya, Afrika, dan di Amerika Latin sekaligus. Dia seperti Simon Bolivar buat kami," kata presiden Venezuela ketika memberi replika pedang Simon Boli­var, pejuang legendaris Bolivia-Venezuela. 

Kabarnya Chavez telah menyiapkan istana rahasia buat keluarga Qaddafi kalau suatu dikala pemimpin Libya itu digusur Barat. Saat Chavez berkunjung resmi ke Libya di 2009, Qaddafi memberi hadiah kejutan buat tamunya: menabalkan stadion di Benghazi dengan nama Hugo Chavez Stadium. Pada 2010 Fidel Castro meramalkan AS dan sekutunya, cepat atau lambat, akan menginvasi Libya untuk menguasai sumber daya alamnya. "Mereka mengincar negara kaya Libya. Kita butuh waktu menunggu kebohongan fakta-fakta mereka," tulis pemimpin legendaris Kuba di harian Granma.

Tampaknya sudah menjadi suratan takdir Muammar Al Muammar Al-Qaddafi: Simon Bolivar Arab dan Raja Afrika
Adriano Galliani, Luciano Moggi, dan Al Saadi Qaddafi.
Namun tiada tempat terbaik untuk memuja Qaddafi selain di Afrika. Tak pelak dialah pemimpin spiritual numero uno se-benua hitam, sejak 200 ketua suku dan semua raja se-Afrika menabalkannya sebagai 'Raja Diraja Afrika', 29 Agustus 2008. Qaddafi memang pemimpin yang peduli dengan kemiskinan dan keadilan. Tiada dilema tipikal Afrika yang luput dari upaya pemecahannya.

Mulai dari AIDS, kelaparan, menyeimbangkan kekuatan, hingga sepak bola, sebab secara formal pantas. Qaddafi yakni ketua presidium Pan-Afrika. Impian 'sang kolonel kekal', yang tanggal kelahirannya misterius itu, amat angker negara-negara Barat. Tak pernah ada pemimpin Afrika, dulu atau kini, yang punya keinginan mendirikan The United States of Africa kecuali ya Qaddafi.

Negara non-Barat lain boleh tidak suka, tapi sulit membenci habis Qaddafi sebab dihadapkan pada fakta: amal kebaikan Qaddafi lebih banyak dari kemungkaran, atau melihat harga minyak yang dijual murah hanya kepada mereka. Orang ini pemimpin yang egaliter, ringan tangan, hobi mendonasi hartanya untuk proyek sosial dan kemanusiaan mulai dari rumah sakit, kawasan ibadah, hingga stadion.

Sikap kontroversial dan temperamentalnya eksklusif menyeruak ke permukaan jikalau melihat ketidak-adilan atau kecurangan. Jangan lagi di ajang politik, soal sepak bola pun beliau menjadi garda terdepan membela kecurangan. Secara langsung, Qaddafi punya pengalaman buruk pada sepak bola modern yang sekarang sarat teknologi dan sains, intrik bisnis, serta kepentingan politik.

Misteri Calciopoli

Tentu saja ini tak jauh-jauh dari dongeng Al-Saadi, anak ketiganya. Al-Saadi tercatat menjadi pemain Serie A 2003-2006 di Perugia, Udinese, Sampdoria, dan suatu saat ngotot mau ke Juve. Banyak klub Serie A berlomba-lomba meminangnya sebab tahu siapa bapaknya Al-Saadi. Qaddafi mendukung talenta putranya yang kebetulan memang pesepak bola. Dia mengucurkan uang ke klub-klub itu dengan harapan Al-Saadi dapat kesempatan. Sayang harapannya jauh panggang dari api.

Tampaknya sudah menjadi suratan takdir Muammar Al Muammar Al-Qaddafi: Simon Bolivar Arab dan Raja Afrika
Al Saadi ketika bermain di Perugia.
Anaknya terseret dalam sebuah konspirasi. Pada isu terkini perdananya di Perugia, Al-Saadi dijebak menelan Nandrolone! Walhasil ia dihukum FIGC tiga bulan. Selama semusim, anak ketiga Qaddafi itu cuma tampil 15 menit. Walhasil, bukan saja Qaddafi yang terkejut, tapi juga Berlusconi. Jauh-jauh hari, PM Italia sudah minta Serse Cosmi semoga dia memainkan Al-Saadi. Hah, benarkah begitu?

Inilah menariknya budaya polemik dan konspirasi di Italia. Benarkah jika di politik sang PM takut dengan Qaddafi tapi di sepak bola membutuhkannya? "Serse, tahukah kau, adanya Al-Saadi di sini akan membantu eratnya korelasi kita dengan Libya. Dia memang buruk mainnya, tapi berharaplah dia main anggun. Tapi kini apa mau dikata?" saya allenatore Perugia soal ucapan PM Italia.

Bangkai mulai tercium. Boleh jadi Berlusconi memang punya agenda Istimewa. Dalam buku Winning at All Costs: A Scandalous History of Italian Soccer karya John Foot, profesor sejarah Italia pada Universitas College di London, jadinya terungkap kepentingan rezim Partai Forza Italia dengan Qaddafi. Inikah awal kehancuran Serie A? Intinya, Serie A menerima duit Libya atas usulan PM-nya.

Standar Italia untuk sepak bola sangat ketat. Pemain yaitu mirip susu khusus untuk membuat keju Parmesan atau kulit untuk bahan dasar jok, door trim, dan dashboard Ferrari. Al-Saadi bukan golongan ini. Namun beliau tetap diterima, dimainkan, dan hasilnya dienyahkan dengan cara tidak etis, konspiratif. Qaddafi merasa ditohok. Knowledge-nya pada sepak bola benar-benar tak seujung kukunya orang Italia.

Yang ada Qaddafi pun murka. "Jangan bermain bola lagi! Kamu lebih besar dari itu. Pulanglah Nak! Lebih baik saya jadikan kau duta besar di AS, atau posisi apapun yang layak yang kau inginkan," ucap Qaddafi mirip dituturkan Al-Saadi pada satu wawancara. Darah bola Al-Saadi ternyata paten. Eks gelandang Al-Ahly Tripoli dan Birkirkara FC (Malta) itu masih ngotot bertahan di Italia.

Selama tiga tahun di Serie A, Al-Saadi yang punya kaki kiri tidak mengecewakan itu cuma tampil dua kali. Statistiknya: 8 kali passing, sekali shot, dan dua kali winning-tackles. Akhirnya perjuangan Qaddafi untuk menarik pulang anaknya kesampaian juga. "Berhenti jadi pesepak bola profesional ialah keputusan terbesar hidupku. Aku asing bola. Aku selalu ingin main. Itu dorongan hati," kenang Al-Saadi, 38 tahun, yang pernah latihan di Lazio bersama Paul Gascoigne di 1990-an.

Tampaknya sudah menjadi suratan takdir Muammar Al Muammar Al-Qaddafi: Simon Bolivar Arab dan Raja Afrika
Melawan juara dunia Argentina sebagai kapten nasional.
Kini Al-Saadi masih jadi kapten tim nasional Libya sekaligus Presiden LFF (PSSI-nya Libya). Kisah Al-Saadi berlalu, tapi konspirasi tetap berkembang makin liar. Di simpulan 2005/06, bobrok dan borok besar Serie A risikonya terkuak dikala skandal Calciopoli jadi buah bibir sedunia. Salah satu analisis tidak resmi tapi menarik adalah terkaitnya nama Qaddafi yang terbukti mengguyurkan uang di Serie A.

Biang kerok yang diciduk carabinieri yakni Luciano Moggi, CEO Juventus sehingga kasus itu kerap disebut Moggiopoli atau Calciocaos. Di satu sisi, Moggi pula yang sukses melobi sehingga tamat Piala Super Italia 2002 antara Juve vs Parma digelar di Tripoli, ibukota Libya. Citra Bianconeri tercoreng bukan saja dari Calciopoli, tapi juga dari sosok Qaddafi, yang sesuai fakta, mulai masuk masuk ke Italia dan berkiprah di Serie A melalui Juventus.

Eksesnya ke mana-mana. Bisa ditebak, Roma dan klub satelitnya, Perugia, juga terlibat. Begitu juga Milan, Lazio, Fiorentina, dan Reggina. Titel scudetto yang disandang Juventus di demam isu itu pribadi dicabut, diberikan kepada Inter yang bak orang sedang menganga lalu kejatuhan sekarung emas. Drama berguliran. Karena malunya, tertekan sudah hingga ubun-ubun, manajer Juve Gianluca Pessotto kemudian menetapkan harakiri. Dia loncat dari kantornya, eh 'sayangnya' tidak mati!

Meski Calciopoli sudah berlalu, hingga kini banyak pihak tak puas. Kenapa Roma serta Perugia lolos dari hukuman? Siapa yang dilindungi Moggi yang rela pasang tubuh? Bisa-bisanya Silvio Berlusconi, minimal Adriano Galliani, tidak tersentuh sama sekali? Di sisi lain skandal ini mengambarkan Qaddafi, dengan kenaifan calcio-nya, sanggup juga mengacak-acak salah satu industri besar di Eropa.

Barangkali Qaddafi mesem-mesem membaca cerita Calciopoli lewat kaca mata politik. Barangkali ia merasa telah membalas kezaliman Italia sewaktu menjajah Libya. Suatu dikala Qaddafi mulai mengakui juga kurotul qodam merupakan medan pertempuran modern. Buktinya masa Afrika kebagian jatah jadi penyelenggara World Cup 2010, Qaddafi ngotot berusaha memenangi Libya, tapi gagal. Ini pelajaran mahal lagi baginya, dan menyadarkan mirip apa dunia itu.

Proposal Libya dan Tunisia, yang ingin menjadi tuan rumah bersama, eksklusif ditolak FIFA dibanding Mesir, Maroko, dan Afrika Selatan. Lalu Qaddafi sadar ternyata menjadi tuan rumah Piala Dunia "diarahkan" seperti pengemis yang minta diborgol. Dia bersyukur tidak harus mengorbankan reputasi atau kehormatan ideologi, juga menggadaikan kedaulatan untuk sesuatu yang tidak mungkin dimenangkan.

Buat negara yang telah menjadikannya industri, terkadang fungsi sepak bola bermetamorfosis investasi politik. Ada lobi, ada prestasi, dan ada tradisi. Libya belum memiliki itu semua. Apalagi dalam konteks ini FIFA ialah sebuah mega-korporasi politik terbesar, yang lebih besar lengan berkuasa dari PBB. Dia tak kecewa Libya tidak terpilih kecuali sesudah tahu seperti apa FIFA itu. Oleh hasilnya di situs resmi Qaddafi, algathafi.org, tertulislah judul: The FIFA: Reform or Abolition?

(foto: thetimes/ limmattalerzeitung/numer10.bloxy)

Wednesday, February 9, 2011

Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Langgar Terakhir Denis Law

Semua orang punya hari sial. Klub juga begitu, tak selamanya punya hari baik. Penggemar United berdebar-debar menanti The Manchester Derby melawan City, pada Sabtu, 12 Februari 2011 di Old Trafford. Bukan apa-apa; misalnya dari sisi teknis, rekor, atau faktor kandang yang pasti menguatkan peluang tuan rumah; tapi soal menghindari nasib apes, ketidakberuntungan, sanggupkah mereka.

debar menanti The Manchester Derby melawan City Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Laga Terakhir Denis Law
Derby of Manchester: United vs City.
Satu hal yang niscaya, kita tak akan pernah tahu kapan datangnya nasib apes. Dari sisi mana pun, terang United lebih andal dari City. Tapi di sepak bola segala sesuatunya bisa terjadi. Tiada yang musykil dalam sepak bola. Justru United-lah biangnya untuk urusan yang mustahil-mustahilan.

Tanpa ini tak mungkin mereka meraih treble 1999.  Jika tak punya keyakinan, mana bisa mereka mengejar skor 0-3 menjadi 5-3 lawan Spurs pada 2001? Perlu disadari bahwa kemustahilan bersifat dua arah. Kemustahilan bagi United berujung senang, tapi kemustahilan buat Bayern Muenchen dan Tottenham Hotspur berakhir murung.

Sesungguhnya mengetahui hasil tamat kemustahilan dalam sepak bola bisa dilihat atau dirasakan sebelum pertandingan dimulai. Misalnya dari siapa yang terlalu percaya diri atau sebaliknya, yang merasa sangat tertekan. Soal akidah bermain, Red Devils yaitu salah satu tim terbaik di Eropa.

Itulah mengapa mereka jarang sekali sial, atau dengan kata lain sering merasakan keberuntungan. Namun, pernahkah Manchester United mengalami hari naas di Old Trafford, maksudnya khusus melawan Manchester City? Tentu saja pernah, dan celakanya kekalahan itu menggoreskan luka yang amat dalam.

Kekalahan terakhir United pada derby Manchester mencoreng perjalanan karier Sir Alex Ferguson selama seperempat abad penuh mengendalikan Setan Merah. Pada Minggu, 10 Februari 2008, City yang tengah diasuh Sven-Goran Eriksson, secara mengejutkan menang 2-1 melalui dua gol Darius Vassell dan Benjani Mwaruwari sebelum dibalas satu gol konsolasi Michael Carrick di menit 91.

Ironisnya kekalahan itu tepat di ketika United lagi memperingati 50 tahun Tragedi Muenchen. Tapi yang paling bikin mengganjal hati adalah; itulah kekalahan pertama Fergie dari City di depan publik Old Trafford. Naas? Bisa jadi.

Tak selamanya orang bernasib baik. Entah kapan munculnya, nasib sial mampu tiba sekonyong-konyong. Secara personal, ini jadi aib Fergie seumur hidup alasannya dari tujuh kekalahan dari City, itulah satu-satunya yang terjadi di Old Trafford! Menariknya, derby mendatang juga terjadi di awal Februari, saat United merayakan Peristiwa Muenchen ke-53 kali. Akankah sejarah itu berulang? Entahlah. Keunikan juga melihat lawan berikut Fergie. Jika di 2008 adalah Eriksson, maka besok yang muncul Roberto Mancini, murid Eriksson yang gayanya mirip sang guru namun lebih efektif dan pragmatis.

debar menanti The Manchester Derby melawan City Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Laga Terakhir Denis Law
Pendukung Manchester City menyerbu lapangan Old Trafford.
Sejak pertama kali ber-derby ria pada 1894/95, khusus di liga hingga sekarang United telah menang 57 kali, sementara City 37 kali. Sebenarnya yang menarik dari duel sekota yakni komposisi kemenangan di sangkar lawan. Dari statistik diketahui The City cuma menang 13 kali di Old Trafford, sedangkan United dua kali lipatnya, 26 kali, menang di Maine Road atau City of Manchester Stadium.

Puncak dominasi City atas United terjadi di kala 1930-an, 1960-an, dan 1970-an. Sementara kejayaan United dari City, simpel sejak Ferguson masuk Old Trafford pada trend 1986/87, dan bertahan hingga milenium ini. Bentrok Mancunian juga kerap melahirkan dongeng-kisah antagonis, yang diukir para pemain spesial, paling kontroversial, mirip dua orang berikut ini. Jika sekarang yaitu Carlos Tevez, maka di abad 70-an tak lain Denis Law! Karier dua orang ini mirip, mantan pemain United yang membela City.

Mereka juga sering terlibat dalam perang antar-Manchester. Tapi tak mirip Tevez yang kepribadiannya saja yang mengesalkan, agresi profesional Denis Law mengecewakan fans United. Jika sejauh ini ulah Tevez seakan-akan cuma menggertak atau mengancam, maka Denis Law sungguhan telah membunuh United!

Sebuah peristiwa di hari Minggu, 27 April 1974, tak akan pernah dilupakan bahkan dimaafkan publik Old Trafford hingga sekarang. Pada balasannya, ini menjadi alasan kenapa buat penggemar United yang berstatus die-hard, apalagi dengan jam terbang di atas 50 tahun, tak sudi mengakui The Lawman yaitu legenda klub.

Waktu itu divisi satu Liga Inggris yang masih menggunakan sistem dua poin untuk tiap kemenangan menyisakan dua pekan lagi untuk mengakhiri kompetisi. Juaranya telah dipastikan: Leeds United, dengan runner-up-nya Liverpool. Tapi pertempuran di zona degradasi tetap belum kelar. Dari 22 penerima, United berada di urutan 21 dan telah 40 kali main dengan nilai 32. Sebagai juru kunci, Norwich City sudah dipastikan turun ke divisi dua alasannya punya nilai 29. 

Pesaing terdekat United ialah Southampton, di posisi 20, yang telah meraih 34 poin tapi cuma menyisakan satu pertandingan. Di atasnya ada Birmingham (35) dan West Ham (36) yang juga tinggal menyelesaikan satu langgar. Kecuali Norwich, keempat klub ini gontok-gontokan menghindari sisa dua tiket degradasi. Nilai maksimal United adalah 36, jika sukses mengatasi Manchester City dan kemudian Stoke City di sabung terakhir. 

Gol Emosional
debar menanti The Manchester Derby melawan City Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Laga Terakhir Denis Law
Sontekan Denis Law yang membunuh bekas klubnya.
Minggu sore, 27 April 1974 di Old Trafford, 56.996 pasang mata jadi saksi perang Mancunian yang memastikan nasib United besutan Tommy Docherty di demam isu 1973/74. United harus menang, apalagi Soton bertandang ke Everton, dan West Ham United bersua Liverpool. Jika dua pesaing itu kalah, United dipastikan berada di atas Southampton dan mendekati poin West Ham, tapi telah menyelesaikan kompetisinya.

Memang, United tetap butuh pinjaman klub lain, dan itu terang berbau keberuntungan. Di tubruk pamungkas, jikalau mengalahkan Stoke telah berada di zona nyaman United bisa selamat dari turun kasta. Namun kunci awal dari semuanya itu adalah mengalahkan City, klub yang memakai sisa-sisa tenaga Law saat itu kariernya memasuki senja karena telah berusia 34 tahun. Jika gagal mengalahkan City, semua hitung-hitungan percuma. 

Entah karena sosok Law atau alasannya adalah lain, permainan United ternyata tidak berkembang sesuai skenario. Inisiatif serangan yang seharusnya lebih banyak dibuka United, justru tak kelihatan. Derby kali ini ternyata berjalan loyo. Babak pertama usai begitu saja, jangan lagi mengharap prospek United menang, untuk bikin satu gol pun terasa masih gelap.

Buat penggemar United hal itu ternyata dianggap remeh. Pasalnya mereka kurang memberi suntikan tabiat berupa teriakan atau sumbangan semangat. Yang dilakukan hanya menunggu, menunggu, dan menunggu datangnya gol. Pada balasannya cita-cita mereka salah. Didera perasaan bosan main adem ayem, pemain City coba iseng-iseng menggebrak.

Di menit 84 terjadilah insiden yang kelak akan dikenang sebagai The Denis Law Game. Prahara diawali saat bola yang digiring sayap kiri United, Willie Morgan, direbut oleh Mike Doyle. Oleh Doyle bola segera dioper ke Mike Summerbee yang bangkit bebas.

Dari tengah, Summerbee yang tak terkawal sama sekali dengan akselerasi tinggi menuju kotak penalti United. Ketika coba dihadang dua bek United, ia mengumpan bola ke Francis Lee yang pribadi merobek sisi kiri pertahanan United. Lee dikawal dua pemain lawan, tapi secara berilmu mampu meloloskan bola di antara kaki.
debar menanti The Manchester Derby melawan City Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Laga Terakhir Denis Law
Denis Law diapit Frank Summerbee dan Francis Lee.
Bola itu bahwasanya telah menciptakan Denis Law yang tak bebas bangkit di depan gawang - mati langkah. Namun nalurinya sebagai eks bintang besar ternyata masih ada. Terkesan malas-malasan dan asal kena, sambil membelakangi gawang ia mencocor bola dengan tumitnya, dan gol! 0-1. Publik Old Trafford tersentak melihat back-heeled goal yang dibentuk eks pujaannya. Law lebih kaget lagi, tak menyangka sepakan isengnya malah jadi gol emas yang menciptakan United terdegradasi pada ekspresi dominan 1973/74 itu!

"Saya tak pernah merasa tertekan selama hidup kecuali hari ini. Setelah 19 tahun selalu puas kalau mencetak gol, pada akibatnya saya telah menciptakan sebuah gol yang paling aku sesali, gol yang tak pernah aku maui. Ini yaitu gol paling emosional yang pernah aku buat. Tapi begitulah sepak bola, alasannya adalah ketika ini saya adalah pemain City," ucap Denis Law usai pertandingan.

Setelah bola bersarang di gawang Alex Stepney, Law berjalan gontai. Tiada selebrasi sama sekali. Uniknya, barangkali untuk mengantisipasi segala kemungkinan, manajer City Tony Book eksklusif mengganti Law dengan Phil Henson. Law masih duka dan berjalan ke luar lapangan dengan kepala tertunduk.

Ada cemohan, makian dari publik Old Trafford, tapi mereka tak menyadari bahwa kekecewaan Law jauh lebih andal. Meski masih tersisa beberapa menit, tiba-datang langgar disudahi wasit sebelum waktunya lantaran para pendukung kedua tim masuk ke lapangan. Rusuh? Tidak, mereka hanya mengungkapkan emosi.
debar menanti The Manchester Derby melawan City Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Laga Terakhir Denis Law
Denis Law diserbu pendukung The Cityzen.
Pendukung United memaki para pemainnya, sementara kubu City besar hati dengan hasil akhir. Kelak di kemudian hari, fans The Cityzen selalu senang menyampaikan ini kepada tetangganya: The day Denis Law back-heeled United into the Second Division. Karena masih dirundung sedih, United main tanpa semangat di langgar simpulan. Mereka kalah lagi dari Stoke 1-0.

Red Devils resmi "masuk Neraka" alias turun ke divisi dua bersama Norwich dan Southampton. Itu merupakan degradasi United ketiga selain di 1921/22 dan 1930/31, serta jadi masa-kala yang sulit setelah tak diperkuat lagi oleh trio ajal Law, George Best, dan Bobby Charlton. Namun tidak seperti di abad 30-an, di mana diharapkan delapan animo kembali ke divisi satu, United hanya satu musim main di divisi dua. 

Pada isu terkini 1975/76, mereka kembali lagi ke divisi satu, dan secara luar biasa pribadi nangkring di urutan ketiga di bawah Liverpool dan Queen's Park Rangers. Kalau pun ada sedih berkepanjangan, justru dialami Denis Law. Saking sedihnya bikin United degradasi, penyerang yang 309 kali membela United dengan rekor 171 gol eksklusif gantung sepatu! Di Manchester City, dia hanya main 24 kali dan 9 gol, di mana sebuah golnya menentukan nasib Setan Merah sekaligus kurun depan dirinya.

DATA-FAKTA

PEKAN KE-40 LIGA INGGRIS 1973/74

debar menanti The Manchester Derby melawan City Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Laga Terakhir Denis LawManchester United 0-1 Manchester City
Waktu: Minggu, 27 April 1974
Tempat: Old Trafford, Manchester
Penonton: 56.996
Gol: 0-1 Denis Law 84'.
Manchester United (4-4-2): Alex Stepney; Alex Forsyth, Stewart Houston, Brian Greenhoff, Jim Holton; Martin Buchan, Willie Morgan, Lou Macari, Sammy McIlroy; Jim McCalliog, Gerry Daly. Manajer: Tommy Docherty
Manchester City (4-4-2): Joe Corrigan; Colin Barrett, Willie Donachie, Mike Doyle, Tommy Booth; Alan Oakes, Mike Summerbee, Colin Bell, Francis Lee; Denis Law (Phil Henson), Dennis Tueart. Manajer: Tony Book

KLASEMEN AKHIR DIVISI 1 LIGA INGGRIS 1973/74


debar menanti The Manchester Derby melawan City Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Laga Terakhir Denis Law

(foto: citytilldie/dailymail/manchestereveningnews/manchesterlalala/statto)