Wednesday, February 9, 2011

Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Langgar Terakhir Denis Law

Semua orang punya hari sial. Klub juga begitu, tak selamanya punya hari baik. Penggemar United berdebar-debar menanti The Manchester Derby melawan City, pada Sabtu, 12 Februari 2011 di Old Trafford. Bukan apa-apa; misalnya dari sisi teknis, rekor, atau faktor kandang yang pasti menguatkan peluang tuan rumah; tapi soal menghindari nasib apes, ketidakberuntungan, sanggupkah mereka.

debar menanti The Manchester Derby melawan City Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Laga Terakhir Denis Law
Derby of Manchester: United vs City.
Satu hal yang niscaya, kita tak akan pernah tahu kapan datangnya nasib apes. Dari sisi mana pun, terang United lebih andal dari City. Tapi di sepak bola segala sesuatunya bisa terjadi. Tiada yang musykil dalam sepak bola. Justru United-lah biangnya untuk urusan yang mustahil-mustahilan.

Tanpa ini tak mungkin mereka meraih treble 1999.  Jika tak punya keyakinan, mana bisa mereka mengejar skor 0-3 menjadi 5-3 lawan Spurs pada 2001? Perlu disadari bahwa kemustahilan bersifat dua arah. Kemustahilan bagi United berujung senang, tapi kemustahilan buat Bayern Muenchen dan Tottenham Hotspur berakhir murung.

Sesungguhnya mengetahui hasil tamat kemustahilan dalam sepak bola bisa dilihat atau dirasakan sebelum pertandingan dimulai. Misalnya dari siapa yang terlalu percaya diri atau sebaliknya, yang merasa sangat tertekan. Soal akidah bermain, Red Devils yaitu salah satu tim terbaik di Eropa.

Itulah mengapa mereka jarang sekali sial, atau dengan kata lain sering merasakan keberuntungan. Namun, pernahkah Manchester United mengalami hari naas di Old Trafford, maksudnya khusus melawan Manchester City? Tentu saja pernah, dan celakanya kekalahan itu menggoreskan luka yang amat dalam.

Kekalahan terakhir United pada derby Manchester mencoreng perjalanan karier Sir Alex Ferguson selama seperempat abad penuh mengendalikan Setan Merah. Pada Minggu, 10 Februari 2008, City yang tengah diasuh Sven-Goran Eriksson, secara mengejutkan menang 2-1 melalui dua gol Darius Vassell dan Benjani Mwaruwari sebelum dibalas satu gol konsolasi Michael Carrick di menit 91.

Ironisnya kekalahan itu tepat di ketika United lagi memperingati 50 tahun Tragedi Muenchen. Tapi yang paling bikin mengganjal hati adalah; itulah kekalahan pertama Fergie dari City di depan publik Old Trafford. Naas? Bisa jadi.

Tak selamanya orang bernasib baik. Entah kapan munculnya, nasib sial mampu tiba sekonyong-konyong. Secara personal, ini jadi aib Fergie seumur hidup alasannya dari tujuh kekalahan dari City, itulah satu-satunya yang terjadi di Old Trafford! Menariknya, derby mendatang juga terjadi di awal Februari, saat United merayakan Peristiwa Muenchen ke-53 kali. Akankah sejarah itu berulang? Entahlah. Keunikan juga melihat lawan berikut Fergie. Jika di 2008 adalah Eriksson, maka besok yang muncul Roberto Mancini, murid Eriksson yang gayanya mirip sang guru namun lebih efektif dan pragmatis.

debar menanti The Manchester Derby melawan City Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Laga Terakhir Denis Law
Pendukung Manchester City menyerbu lapangan Old Trafford.
Sejak pertama kali ber-derby ria pada 1894/95, khusus di liga hingga sekarang United telah menang 57 kali, sementara City 37 kali. Sebenarnya yang menarik dari duel sekota yakni komposisi kemenangan di sangkar lawan. Dari statistik diketahui The City cuma menang 13 kali di Old Trafford, sedangkan United dua kali lipatnya, 26 kali, menang di Maine Road atau City of Manchester Stadium.

Puncak dominasi City atas United terjadi di kala 1930-an, 1960-an, dan 1970-an. Sementara kejayaan United dari City, simpel sejak Ferguson masuk Old Trafford pada trend 1986/87, dan bertahan hingga milenium ini. Bentrok Mancunian juga kerap melahirkan dongeng-kisah antagonis, yang diukir para pemain spesial, paling kontroversial, mirip dua orang berikut ini. Jika sekarang yaitu Carlos Tevez, maka di abad 70-an tak lain Denis Law! Karier dua orang ini mirip, mantan pemain United yang membela City.

Mereka juga sering terlibat dalam perang antar-Manchester. Tapi tak mirip Tevez yang kepribadiannya saja yang mengesalkan, agresi profesional Denis Law mengecewakan fans United. Jika sejauh ini ulah Tevez seakan-akan cuma menggertak atau mengancam, maka Denis Law sungguhan telah membunuh United!

Sebuah peristiwa di hari Minggu, 27 April 1974, tak akan pernah dilupakan bahkan dimaafkan publik Old Trafford hingga sekarang. Pada balasannya, ini menjadi alasan kenapa buat penggemar United yang berstatus die-hard, apalagi dengan jam terbang di atas 50 tahun, tak sudi mengakui The Lawman yaitu legenda klub.

Waktu itu divisi satu Liga Inggris yang masih menggunakan sistem dua poin untuk tiap kemenangan menyisakan dua pekan lagi untuk mengakhiri kompetisi. Juaranya telah dipastikan: Leeds United, dengan runner-up-nya Liverpool. Tapi pertempuran di zona degradasi tetap belum kelar. Dari 22 penerima, United berada di urutan 21 dan telah 40 kali main dengan nilai 32. Sebagai juru kunci, Norwich City sudah dipastikan turun ke divisi dua alasannya punya nilai 29. 

Pesaing terdekat United ialah Southampton, di posisi 20, yang telah meraih 34 poin tapi cuma menyisakan satu pertandingan. Di atasnya ada Birmingham (35) dan West Ham (36) yang juga tinggal menyelesaikan satu langgar. Kecuali Norwich, keempat klub ini gontok-gontokan menghindari sisa dua tiket degradasi. Nilai maksimal United adalah 36, jika sukses mengatasi Manchester City dan kemudian Stoke City di sabung terakhir. 

Gol Emosional
debar menanti The Manchester Derby melawan City Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Laga Terakhir Denis Law
Sontekan Denis Law yang membunuh bekas klubnya.
Minggu sore, 27 April 1974 di Old Trafford, 56.996 pasang mata jadi saksi perang Mancunian yang memastikan nasib United besutan Tommy Docherty di demam isu 1973/74. United harus menang, apalagi Soton bertandang ke Everton, dan West Ham United bersua Liverpool. Jika dua pesaing itu kalah, United dipastikan berada di atas Southampton dan mendekati poin West Ham, tapi telah menyelesaikan kompetisinya.

Memang, United tetap butuh pinjaman klub lain, dan itu terang berbau keberuntungan. Di tubruk pamungkas, jikalau mengalahkan Stoke telah berada di zona nyaman United bisa selamat dari turun kasta. Namun kunci awal dari semuanya itu adalah mengalahkan City, klub yang memakai sisa-sisa tenaga Law saat itu kariernya memasuki senja karena telah berusia 34 tahun. Jika gagal mengalahkan City, semua hitung-hitungan percuma. 

Entah karena sosok Law atau alasannya adalah lain, permainan United ternyata tidak berkembang sesuai skenario. Inisiatif serangan yang seharusnya lebih banyak dibuka United, justru tak kelihatan. Derby kali ini ternyata berjalan loyo. Babak pertama usai begitu saja, jangan lagi mengharap prospek United menang, untuk bikin satu gol pun terasa masih gelap.

Buat penggemar United hal itu ternyata dianggap remeh. Pasalnya mereka kurang memberi suntikan tabiat berupa teriakan atau sumbangan semangat. Yang dilakukan hanya menunggu, menunggu, dan menunggu datangnya gol. Pada balasannya cita-cita mereka salah. Didera perasaan bosan main adem ayem, pemain City coba iseng-iseng menggebrak.

Di menit 84 terjadilah insiden yang kelak akan dikenang sebagai The Denis Law Game. Prahara diawali saat bola yang digiring sayap kiri United, Willie Morgan, direbut oleh Mike Doyle. Oleh Doyle bola segera dioper ke Mike Summerbee yang bangkit bebas.

Dari tengah, Summerbee yang tak terkawal sama sekali dengan akselerasi tinggi menuju kotak penalti United. Ketika coba dihadang dua bek United, ia mengumpan bola ke Francis Lee yang pribadi merobek sisi kiri pertahanan United. Lee dikawal dua pemain lawan, tapi secara berilmu mampu meloloskan bola di antara kaki.
debar menanti The Manchester Derby melawan City Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Laga Terakhir Denis Law
Denis Law diapit Frank Summerbee dan Francis Lee.
Bola itu bahwasanya telah menciptakan Denis Law yang tak bebas bangkit di depan gawang - mati langkah. Namun nalurinya sebagai eks bintang besar ternyata masih ada. Terkesan malas-malasan dan asal kena, sambil membelakangi gawang ia mencocor bola dengan tumitnya, dan gol! 0-1. Publik Old Trafford tersentak melihat back-heeled goal yang dibentuk eks pujaannya. Law lebih kaget lagi, tak menyangka sepakan isengnya malah jadi gol emas yang menciptakan United terdegradasi pada ekspresi dominan 1973/74 itu!

"Saya tak pernah merasa tertekan selama hidup kecuali hari ini. Setelah 19 tahun selalu puas kalau mencetak gol, pada akibatnya saya telah menciptakan sebuah gol yang paling aku sesali, gol yang tak pernah aku maui. Ini yaitu gol paling emosional yang pernah aku buat. Tapi begitulah sepak bola, alasannya adalah ketika ini saya adalah pemain City," ucap Denis Law usai pertandingan.

Setelah bola bersarang di gawang Alex Stepney, Law berjalan gontai. Tiada selebrasi sama sekali. Uniknya, barangkali untuk mengantisipasi segala kemungkinan, manajer City Tony Book eksklusif mengganti Law dengan Phil Henson. Law masih duka dan berjalan ke luar lapangan dengan kepala tertunduk.

Ada cemohan, makian dari publik Old Trafford, tapi mereka tak menyadari bahwa kekecewaan Law jauh lebih andal. Meski masih tersisa beberapa menit, tiba-datang langgar disudahi wasit sebelum waktunya lantaran para pendukung kedua tim masuk ke lapangan. Rusuh? Tidak, mereka hanya mengungkapkan emosi.
debar menanti The Manchester Derby melawan City Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Laga Terakhir Denis Law
Denis Law diserbu pendukung The Cityzen.
Pendukung United memaki para pemainnya, sementara kubu City besar hati dengan hasil akhir. Kelak di kemudian hari, fans The Cityzen selalu senang menyampaikan ini kepada tetangganya: The day Denis Law back-heeled United into the Second Division. Karena masih dirundung sedih, United main tanpa semangat di langgar simpulan. Mereka kalah lagi dari Stoke 1-0.

Red Devils resmi "masuk Neraka" alias turun ke divisi dua bersama Norwich dan Southampton. Itu merupakan degradasi United ketiga selain di 1921/22 dan 1930/31, serta jadi masa-kala yang sulit setelah tak diperkuat lagi oleh trio ajal Law, George Best, dan Bobby Charlton. Namun tidak seperti di abad 30-an, di mana diharapkan delapan animo kembali ke divisi satu, United hanya satu musim main di divisi dua. 

Pada isu terkini 1975/76, mereka kembali lagi ke divisi satu, dan secara luar biasa pribadi nangkring di urutan ketiga di bawah Liverpool dan Queen's Park Rangers. Kalau pun ada sedih berkepanjangan, justru dialami Denis Law. Saking sedihnya bikin United degradasi, penyerang yang 309 kali membela United dengan rekor 171 gol eksklusif gantung sepatu! Di Manchester City, dia hanya main 24 kali dan 9 gol, di mana sebuah golnya menentukan nasib Setan Merah sekaligus kurun depan dirinya.

DATA-FAKTA

PEKAN KE-40 LIGA INGGRIS 1973/74

debar menanti The Manchester Derby melawan City Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Laga Terakhir Denis LawManchester United 0-1 Manchester City
Waktu: Minggu, 27 April 1974
Tempat: Old Trafford, Manchester
Penonton: 56.996
Gol: 0-1 Denis Law 84'.
Manchester United (4-4-2): Alex Stepney; Alex Forsyth, Stewart Houston, Brian Greenhoff, Jim Holton; Martin Buchan, Willie Morgan, Lou Macari, Sammy McIlroy; Jim McCalliog, Gerry Daly. Manajer: Tommy Docherty
Manchester City (4-4-2): Joe Corrigan; Colin Barrett, Willie Donachie, Mike Doyle, Tommy Booth; Alan Oakes, Mike Summerbee, Colin Bell, Francis Lee; Denis Law (Phil Henson), Dennis Tueart. Manajer: Tony Book

KLASEMEN AKHIR DIVISI 1 LIGA INGGRIS 1973/74


debar menanti The Manchester Derby melawan City Drama 27 April 1974: Gol Fantastis Di Laga Terakhir Denis Law

(foto: citytilldie/dailymail/manchestereveningnews/manchesterlalala/statto) 

Saturday, January 22, 2011

Laurent Gbagbo: Berpolitik Sepak Bola

Politik seharusnya mendukung sepak bola. Bukan sepak bola mendukung politik. Keduanya membutuhkan dan saling menguntungkan. Sayangnya banyak penguasa yang tak mampu mengendalikan simbiosis-mutualisma ini. Salah satunya yang faktual sedang dialami oleh seorang Laurent Gbagbo, presiden Pantai Gading. Rupanya beliau tak sanggup mengelola sepak bola dan politik di balik sikap ambisiusnya. 

 Keduanya membutuhkan dan saling menguntungkan Laurent Gbagbo: Berpolitik Sepak Bola
Dampaknya sangat fatal: persatuan bangsa luntur dan keutuhan sepak bola pun hancur! Yang kini lagi berkecamuk di negara subur di tepi Laut Atlantik jadi bukti tak terbantahkan. Si penguasa ogah turun meski kalah pilpres. Kehidupan aman sentosa menjelma amat seram, horor. Cote d'Ivoire terpecah belah karena dilanda perang saudara. Semoga jangan hingga seperti bencana Rwanda di 1994. Kalau sudah begini, jangan lagi kehidupan, urusan bola pun terganggu bila tak bisa dibilang jadi awut-awutan. 

Pantai Gading yaitu salah satu negara sepak bola yang terkemuka di Afrika. Bisa dibayangkan bimbangnya Didier Drogba, Emmanuel Eboue, Kolo dan Yaya Toure atau Salomon Kalou - segelintir pemain top Les Elephants yang kini bertebaran di Liga Primer Inggris. Gbagbo sepertinya lupa bahwa di negerinya hampir 3000-an pertandingan sepak bola bergulir setiap hari, entah di jalan-jalan, di tengah pasar, pinggiran gedung, padang sabana, sampai yang resmi di stadion-stadion.

Ironisnya Gbagbo menimbulkan sepak bola sebagai alternatif menaikkan martabat politiknya. Di situ gerakan moralnya terbilang baiklah meski tendensius. Ia gemar bola dan banyak mencar ilmu bahwa dibanding politik, kadang efek sepak bola mampu mengubah segalanya. Tepat atau tidak, Gbagbo sering cuap-cuap soal sepak bola di tengah pertemuan resmi kenegaraan atau di seputaran urusan kabinet, suka ataupun sedih. Tak jarang beliau mengundang Didier Drogba makan malam ke istananya, nonton langsung ke stadion, bahkan urun rembug sampai karenanya memutuskan Sven-Goran Eriksson menjadi pelatih nasional di Piala Dunia 2010.

Tragedi di sepak bola pun bisa menjadi peluang emas menguatkan kharismanya. April 2009 di Abidjan, 19 orang tewas dan 130 lainnya luka dikala ribuan penonton tanpa tiket menerobos stadion nasional, beberapa jam berkelahi melawan Malawi di Pra Piala Dunia 2010 digelar. Apa yang dilakukan Gbagbo? Saat itu juga, dia eksklusif menyatakan negara dalam keadaan berkabung serta meliburkan tiga hari kerja mulai besok, yang sebenarnya merugikan dunia bisnis.

Gbagbo juga hadir saat penguburan korban, meski tiada sangkut pautnya, kecuali, karena program itu disiarkan pribadi TV nasional ke seluruh negeri. Bukti Gbagbo mengintervensi dan memanfaatkan tragedi itu bisa dilihat dari tubruk tersebut tetap digelar, sesuai permintaannya! FIFA yang tadinya prihatin, jadi geram. Sedang tim nasional Malawi hanya cuma bisa bengong tak mengerti. 

Selang beberapa hari, BBC mewawancarai seorang pemain Malawi. "Tadinya saya pikir wasit meminta kami semua untuk mengheningkan cipta sebentar untuk menyatakan belasungkawa. Ternyata tidak. Saat aku tanyakan, ia menjawab 'tidak, tidak ada, saya cuma mengikuti perintah'," beber Elvis Kafoteka, seorang pemain Malawi.

 Keduanya membutuhkan dan saling menguntungkan Laurent Gbagbo: Berpolitik Sepak Bola
Kolo Toure (Muslim), Laurent Gbagbo, dan Didier Drogba (Katolik).
Gbagbo amat memuja tim Les Elephants, julukan tim nasional Pantai Gading. Di luar dia jadi garda terdepan pendukung sepak bola Afrika. Pada 16 Oktober 2009, ia sengaja melaksanakan kunjungan kenegaraan ke Mesir agar bisa juga menghadiri selesai Piala Dunia U-20. Eh, kebetulan Ghana menang, tapi entah bagaimana caranya dia mampu jadi tamu kehormatan pemberi medali.

"Saya bahagia melihat anak-anak muda ini di kurun hari-hari kita makin menjauh. Hari ini ialah peresmian integrasi Afrika. Saya berjuang keras supaya kita tidak diinjak-injak. Saya ingin Afrika jadi pemimpin dunia! Itulah makna kemenangan ketika ini," kata Gbogba berapi-api. Di satu sisi Pantai Gading merupakan permata-nya Prancis karena coklat dan kopinya, dengan balasan menimbulkan Abidjan sebagai 'Paris-nya' Afrika.

Setelah Pantai Gading meluncur ke World Cup 2010, Gbagbo bermanuver lagi pada Desember 2009. Kali ini beliau mengundang bos-bos sepak bola wakil Afrika yang juga lolos, Ghana, Afsel, Kamerun, dan Nigeria dan Aljazair, ke istananya di Yamoussoukro. Beberapa dikala sebelumnya, dia mendukung penggunaan hal-hal superstitions seperti juju, muti, atau marabouts di seluruh negeri untuk mendukung lolosnya Pantai Gading ke Afrika Selatan.

Menjelang adu krusial melawan Kamerun, para dukun suruhan memerahi got dan selokan di pelbagai kota dengan darah ayam, yang menjadi salah satu syarat semoga mampu sukses. Laurent Gbagbo yakni presiden ketiga Ivory Coast, setelah Aime Henri Konan Bedie (1993-1999) dan tokoh pejuang kemerdekaan Felix Houphouet-Boigny (1960-1993). Usai meraih kekuasaan pada 26 Oktober 2000 dengan susah payah, perlahan tapi niscaya sifat aslinya yang buas mulai keluar.

Menantang Dunia

Kesuksesan yang datang terlambat menjadi duduk perkara di periode depan. Bisa bikin orang jadi kalap tidak keruan dan ketagihan. "Dia itu mirip Simon Cowell-nya diktator," sebut Antony Goldman, bekas konsultan politik Gbagbo. Selama 40 tahun hidupnya habis sebagai figuran pinggiran, cuma sebagai wallpaper politik. Otak dan hati Gbagbo ternyata berkebalikan. Lain ucapan, lain pula perbuatan. Ke kiri dikala berjuang, ke kanan pula ketika bertahta.

Tatkala berkuasa, Gbagbo mampu sangat kurang ajar, munafik, terutama pada para tetangganya. Gbagbo mengakibatkan Robert Mugabe terlihat seperti anjing peliharaan Barat. Ia narsis dan gila hormat. Di kurun mudanya, beliau membuat sendiri nama panggilan Cicero karena menyukai tokoh Romawi, mengasihi budaya Latin, dan membenci otorianisme, kediktatoran. Dulu beliau senang dipanggil Little Brother, tapi kini ia minta disapa Big-Man.

Gbagbo pernah dibui lantaran kritiknya menyakitkan tokoh diktator Felix Houphouet-Boigny. Setelah bebas, dia terus berjuang demi demokrasi dan mendirikan FPI (Front Populaire Ivoirien), yang melakukan perlawanan politik dari Paris sejak 1982. Pada 1988 hingga 90-an awal, ia pulang kampung dan mengajar arkeologi di Universitas Abidjan sambil berpolitik. Keberuntungan Gbagbo mulai datang tatkala pada 1993, Houphouet-Boigny wafat dan terjadi vacum of power selama 6 tahun.

 Keduanya membutuhkan dan saling menguntungkan Laurent Gbagbo: Berpolitik Sepak Bola
Laurent Gbagbo, politisi ulung berbasis sejarah Romawi.
Meski Aime Henri Konan Bedie menjadi presiden selama enam tahun, nyatanya di lapangan yang berkuasa yaitu tentara, sedang di pentas politik yakni dua tokoh oposisi yang waktu itu masih satu aliansi; Gbagbo dari FPI dan Outtara dari RDR. Gontok-gontokkan itu akibatnya melahirkan perebutan kekuasaan militer yang dilakukan Jendral Robert Guei. Namun tentara yang juga loyalis sejati Houphouet-Boigny itu tak kuasa melawan Gbagbo yang lebih dominan di pentas politik.

Krisis politik di Pantai Gading disebabkan oleh isu etnis, xenofobia, imigran-pribumi. Secara politis, negara ini terbelah oleh wilayah utara yang dikuasai oposan, pemberontak, serta wilayah selatan yang berisi para penjilat dan pro-pemerintah. Utara secara umum dikuasai Muslim, selatan secara umum dikuasai Nasrani. Felix Houphouet-Boigny, niscaya tak menduga bahwa kebaikannya justru melahirkan duduk perkara di masa depan.

Pada 1960-an beliau-lah yang pertama kali mengundang warga negara tetangga seperti Mali, Guinea, dan Burkina Faso untuk bekerja dan menggarap perkebunan coklat, kopi, katun, atau kelapa sawit. Yang tak disadari, mereka lambat laun berbaur, menjadi warga asli Ivoirite juga berpartisipasi dalam politik. Adalah profesor Niangoran Porquet yang pertama-tama mengupas tuntas apa dan siapa Ivoirite itu bergotong-royong.

Pada awal 70-an, sambil mengajar di Universitas Cocody, Abdijan, dia juga banyak menulis buku wacana budaya dan ciri khas Pantai Gading. Konsep Ivoirite inilah yang dimanipulasi total oleh politisi, terutama setelah Houphouet-Boigny mangkat pada 1993. Aliansi Outtara-Gbagbo yang terbina sejak usang jadi retak dan jadinya pecah awut-awutan juga gara-gara itu.

Prahara di negeri penghasil coklat nomor satu di dunia, dan kopi nomor dua di dunia, itu dimulai saat profesor sejarah yang puluhan tahun memuja demokrasi tiba-tiba menghancurkan sesembahannya itu sendiri. Laurent Gbagbo, 66 tahun, seharusnya menunjukkan jabatannya kepada Alassane Outtara, pimpinan partai RDR (Rassemblement des Republicains), setelah kalah dalam putaran kedua pilpres, 2 Desember 2010 dengan hasil 45,9% berbanding 54,1%.

Namun alasannya adalah merasa dicurangi, melalui partai FPI, Gbagbo menolak mengakui kemenangan seterunya. Padahal proses voting dilakukan oleh sebuah komisi netral IEC (the Independent Electoral Commission) dan diawasi oleh PBB. Dibujuk susah, ditekan juga malah murka, Gbagbo berniat mengacak-acak Pantai Gading. Walhasil, negara di sisi barat Afrika itu jadi tegang sebab kedua kubu pasang kuda-kuda mengantisipasi keadaan.

Angkatan bersenjata terpecah belah, tapi kebanyakan memihak Gbagbo karena alasan politik dan ekonomi. Kondisi mencekam juga melanda rakyat. Meski ditekan sana-sini, kiri-kanan dan atas-bawah, Gbagbo pokoknya tetap ndablek. Keadaan ekonomi semakin runyam lantaran mulai Bank Dunia, Uni-Eropa, AS, serta Prancis - eks penjajahnya - mengembargo ekonomi Cote d'Ivoire dan membekukan semua asetnya. PBB turun tangan dan mengirim pasukan ke sana.

Gbagbo malahan merespon dengan menantangnya. Sekarang para tentara sering melaksanakan sweeping, atau menandai rumah-rumah penduduk - mana yang dari utara (wilayah kekuasaan Outtara), mana yang dari selatan (wilayah kekuasaan Gbagbo). Lazimnya di benua hitam, hasil konkrit semua kekhaosan politik seperti itu biasanya adalah pembantaian etnis.

Bisa dibayangkan resahnya para pemain tim Les Elephants dari wilayah utara, yang jumlahnya lebih banyak, melihat kondisi demikian. Misalnya Habib Kolo Toure dan Yaya Gnegneri Toure, Bakary Kone, Kouamatien Kone, Abdoulaye Meite, Sekou Cisse, atau Aboubacar Sanogo. Lalu juga Kader Keita, Aruna Dindane dan Bary Copa.

Keharmonisan mereka dengan rekan-rekan dari selatan seperti Didier Drogba, Salomon Kalou, dan Emmanuel Eboue jadi terancam akhir dampak dari ulah Gbagbo. Selama ini di timnas Pantai Gading tak ada jurang pemisah atau perbedaan sedikitpun yang terjadi. Menurut Dr. Mangoua, para politisi dan pimpinan negara belajar dari tim Les Elephants bagaimana mengusung persatuan.

Konflik Istri

"Tim nasional sengaja dibentuk dari latar belakang etnis berbeda untuk mengurangi rasa tidak kondusif, dan pembentukan identitas baru agar dapat diterima semua pihak. Bukan dari prestasi semata," kata psikolog tim tersebut. Jika kondisi destruktif terus berjalan, maka sebentar lagi tim Les Elephants juga akan dilanda perpecahan. Hal inilah yang merisaukan CAF dan FIFA. Organisasi netral seperti Uni Afrika dan Amnesti Internasional juga telah merayu Gbagbo untuk berkorban demi ketenangan semuanya.

 Keduanya membutuhkan dan saling menguntungkan Laurent Gbagbo: Berpolitik Sepak Bola
Manuver politik ke wilayah muslim bersama Yaya Toure.
Tapi tetap saja, tidak mempan! Malah Gbagbo menantang mereka dengan mengatakan: "Ada saatnya di setiap negara muncul semangat yang meluap-luap dan kekonyolan. Kepala negara seharusnya memiliki kekuasaan mengendalikan itu. Apakah pemimpin Prancis mampu mengontrol kerusuhan Mei 1968? Apakah pemilik mahkota di Inggris bisa mengatasi revolusi pimpinan Oliver Cromwell?"

Prancis pernah memburu Louis XVI untuk dipotong kepalanya. Adakah keadilan buat beliau untuk sekedar menanyakan 'apakah Yang Mulia mampu mengatasi kerusuhan di seluruh negeri?' Setelah 10 tahun bertahta, doktor sejarah lulusan Universitas Sorbonne, Paris, ini jelas pede menjungkir-balikkan negara. Apakah orang ini berotak sarjana tapi berhati bandit? Waktu jua yang akan membuktikannya.

Sepanjang Gbagbo berkuasa, di wilayah utara, golongan muslim yang mendirikan peradaban awal Pantai Gading, justru ditindas. Pemimpin impian mereka, Alassane Outtara, secara sistematis dihambat masuk ke kancah politik. Ketika tensi dan suasana semakin mengepul bak lobang kepundan di seantero negeri, dengan kekuasaannya Gbagbo sudah mengatur seni manajemen berikutnya berupa opini publik melalui media massa. Dia mencap golongan muslim sebagai pemberontak, berniat mengkudeta, dan ini yang mengejutkan: pendukung xenophobia.

Pada September 2002, Pantai Gading terpecah dua. Utara dikuasai Islam, selatan oleh Kristen. Ribuan korban tewas, dan suasana kian mencekam. Orang-orang Barat, yang begitu memuja demokrasi justru memberikan kehilangan logika sehat mereka. Bukannya mendesak Gbagbo mundur,  karena menunda pilpres selama enam tahun, malah mencari motif lain. Tentara Prancis mau saja diundang Gbagbo untuk membantu tentara selatan atas gempuran pasukan utara. Gbagbo juga merekrut preman-preman bayaran, tergabung dalam milisi The Young Patriots, untuk melindungi kekuasaan dan dirinya.

Organisasi internasional, termasuk PBB, meminta Gbagbo turun untuk meredam keadaan. "Ini tipikal kekuasaan di Afrika, buah efek Robert Mugabe dan Mwai Kibakis. Jika kalah di pemilu, dengan kekuasaan yang masih menempel di dirinya, mereka akan membentuk mediator, memotong janji, dan lebih baik meledakkan negaranya," kata Greg Mills, si pengarang buku Why Africa is Poor yang kini mengepalai Yayasan Brenthurst.

Tren di Pantai Gading, tak pelak, juga mirip itu. Ironisnya, masih kata Mills, warisan kolonial Barat kini dilanjutkan oleh putra-putra Afrika sendiri. "Kita harus memahami Afrika di mana multietnis dan multirasial sering melahirkan aneka macam kesalahan mereka. Kondisi diperparah dengan stigma jikalau tidak mampu berkuasa di rumah sendiri, maka Anda akan membayar lebih banyak untuk mendapatkannya."”

Uniknya bagi Pantai Gading, ternyata Gbagbo mengalaminya dalam kehidupan aktual. Dia punya dua bini. Simone Ehivet, dinikahi 1989, beragama kristiani. Satu lagi Nady Bamba, seorang muslimah. Merasa sebagai First-Lady resmi tentu saja Simone berhak menguasai istana, yang berarti juga mengusai negara. Namun kiprah Nady Bamba jauh lebih memukau. Dia seorang enterprener murni yang punya surat kabar dan bisnis komunikasi. Konon kabarnya perempuan ini lebih luwes dalam pergaulan alasannya adalah bertahun-tahun menjadi seorang administrator dan profesional.

 Keduanya membutuhkan dan saling menguntungkan Laurent Gbagbo: Berpolitik Sepak Bola
Presiden Gbagbo bersama bini tua Simone Ehivet.
Sebaliknya Simone bertipe garis keras, jenis istri yang menguasai suami. Richard Dowden, administrator Riyal African Society berkisah terus terang. "Karakter Gbagbo keras, menggertak, dan sedikit berakal berbicara. Namun Simone benar-benar angker. Ketika perang saudara mulai meletus, dia bilang kepada suaminya: Kita tidak mampu mendapatkan pemerintahan Pantai Gading dikuasai oleh para pendatang. Obrolan di dalam rumah mirip itu tak lepas dari berita rasisme dan ketakutan normal yang berubah menjadi aksi-agresi yang abnormal."

Banyak yang galau Gbagbo jadi linglung. Pria besar yang mulai memimpin Pantai Gading pada 26 Oktober 2000 itu yaitu lulusan Sorbonne (salah satu universitas tertua di dunia) dan punya aura menarik di pentas internasional. "Saya tidak tahu bagaimana cara mereka (Gbagbo dan Simone) akan melalui semuanya. Ini seperti lompatan seorang sersan mayor atau kolonel yang tidak pernah keluar dari negaranya. Saya coba mengimajinasikan skenario kemenangan mereka, tapi tidak mampu. Kecuali akan berakhir di pengadilan di Den Haag," ucap Dowden.

Di dalam negeri, Gbagbo terkenal bahagia pesta, doyan makan sebab ia pencinta masakan serta pendengar musik yang baik. Semua acara di istana tak lepas dari dua hobinya itu. Sebagai alumni pendidikan Barat, dia begitu mempesona dengan jabatan tangan yang kuat, canda dan tawa yang memukau meski gampang murka, terutama pada wartawan-wartawan yang angkuh. Gbagbo yakni profesor sejarah lulusan Prancis. Dia seorang bayi normal yang lahir dari buah perkawinan Zepe Paul Koudou dan Gadi Marguerite Koudou Paul pada 31 Mei 1945 di Gagnoa.

Dunia politik Afrika memasuki zaman baru. Fenomena Gbagbo, yang pada 1982 menceraikan istri pertamanya, Jacqueline Chanoos, sejak dinikahi pada 1967, berbarengan dengan gosip kekuasaan dan referendum yang terjadi di Republik Demokratik Kongo, Mesir, Madagaskar, Nigeria, Uganda, Zambia, dan kemungkinan Zimbabwe di mana Mugabe sudah menunggu-nunggu apa yang terjadi pada Gbagbo untuk strategi politiknya ke depan.

Dalam sisi lain, dunia juga menunggu apakah Gbagbo menerusi kiprah Idi Amin, Jean-Bedel Bokassa dan Mobutu Sese Seko sebagai putra-putra Afrika yang kekuasaannya berakhir dengan tragis. Namun di awal milenium gres itu, tanda-tanda sindrom itu makin melingkupi Gbagbo. "Saya tidak akan berubah. Terkadang Anda hanya harus mengganti beling mata," begitu prinsipnya menghadapi krisis politik dan perang saudara di Pantai Gading.

Gbagbo banyak melihat dan mendengar sehingga sering menerima momentum. Ketika Les Elephants melaksanakan laga persahabatan melawan Afrika Selatan, 8 September 2002, beliau hadir di stadion. Gbagbo meminta pada Didier Drogba, kapten Les Elephants yang bersahabat dengannya, biar memandunya turun ke lapangan untuk menyalami para pemain nasional Pantai Gading.

Gbagbo percaya sepak bola mampu mengubah kekuasaannya bahkan melanggengkan. Mungkin benar. Tapi sayangnya Gbagbo juga lupa, dia bukan pesepak bola atau bekas jagoan bangsa di lapangan hijau. Dia yakni politisi. Beda dengan George Weah atau Didir Drogba kelak.

(foto: www.civox.net/sport.yahoo/ladepechedabidjan)

Sunday, January 9, 2011

Than Shwe: Tambah Berkuasa Berkat Cucu

Gaung dan pengaruh fenomena Wikileaks ternyata tak melulu mengarah ke urusan politik, keamanan negara, atau dunia bawah tanah, namun juga merambah ke sepak bola segala! Saat situs kontroversial karya Julian Assange itu membongkar planning pembelian Manchester United oleh seorang tiran nomor dua terburuk di Asia, keempat di dunia, perasaan geger bin heran agaknya tak bisa disembunyikan.

 ternyata tak melulu mengarah ke urusan politik Than Shwe: Tambah Berkuasa Berkat CucuIni tentunya kabar menarik di dunia sepak bola. Satu dari 250.000-an transkrip diplomatik yang katanya bocor ke tangan Wikileaks, awal Desember silam, jadi bukti sahih sebab Than Shwe, orang nomor satu di Myanmar, pernah berniat membeli klub kedua terkaya di dunia itu pada Januari 2009. Karuan saja selain awak media massa dan politisi, banyak penggila United, tak peduli The Lovers atau The Haters, sontak buru-buru berselancar di jagat maya untuk mendalami kebenaran kisah tersebut.

Meski kurang memuaskan, mereka mendapati patokan harga yang diajukan beliau: 1 milyar dolar AS, atau hampir 10 trilyun rupiah! Artinya, tawaran itu akan menuai 56% saham mayoritas di Manchester United yang total asetnya sekitar 1,8 milyar dolar AS. Hmm, jadi berapa total kekayaan Than Shwe seluruhnya? Ini Myanmar lho, salah satu negara miskin yang paling dimusuhi Barat di bumi!

Menurut The Guardian, meski tak menyebut namanya, bahu-membahu hasrat liar itu muncul dari rengekan cucu kesayangan sang panglima besar yang terkenal maniak bola, Nay Shwe Thway Aung. "Sumber terpercaya kami di Myanmar bilang, hasrat itu eksklusif bikin galau pejabat dan para jenderal lainnya," ungkap koran Inggris ini. 

Pikir punya pikir, meski jantung mereka rada berdegup keras, beberapa jenderal alhasil berani juga berniat meredam inspirasi liar sembari bilang, "Pak, ini uang yang banyak dan mampu berdampak buruk bagi citra kita di luar. Bukankah lebih elok dipakai untuk membangun sepak bola kita sendiri?"

Detik-detik hidup dan mati pun usai alasannya Than Shwe mau menerima tawaran. Ah, leganya! Tapi, efeknya tetap getir. Gara-gara bocoran Wikileaks dari Kedubes AS di Yangoon lansiran 3 Mei 2008 itu, hujatan pada diktator yang dianggap paling bedebah se-Asia Tenggara di mata pemuja demokrasi itu berkobar lagi.

Meski telah membebaskan oposisan dan ketua partai NLD, Aung San Suu Kyi, pada 13 November 2010, usai 21 tahun dibui, kebencian orang pada jenderal yang diketahui takut istri itu tak pernah surut. San Suu Kyi - pemenang Nobel 1991 dan anak pendiri bangsa, Jenderal Aung San - seharusnya yang jadi pemimpin Myanmar semenjak menang pemilu di 1990.

Namun Than Shwe sukses membelokkan sejarah dunia. Walau nyebelin banget, garis tangan Than Shwe rupanya bagus. "Ia jadi begitu alasannya adalah tak mau mati terhina mirip Ne Win," papar Christina Fink, penulis buku Living Silence: Burma Under Military Rule. Rezim junta militer - pengendali Myanmar sejak 1962 - dituding bermata gelap alasannya adalah melepas tanggungjawab atas tewasnya 140 ribu jiwa korban angin kencang Nargis, yang waktunya berdekatan dengan niat membeli Manchester United.

Bukan itu saja. Mereka juga telah bikin berang seisi dunia lantaran menolak derma internasional. Barangkali, Than Shwe, laki-laki 77 tahun - besar hati disapa Abi Gyi (kakek), gemuk, suka makan sirih dan berkacamata - telah menelan bundar-lingkaran prinsip dasar kepemimpinan berbau sewenang-wenang, yang ironisnya menyitir ucapan Mahatma Gandhi: "Warisan sejarah yang Anda telah torehkan ditentukan oleh apa yang Anda buat sekarang."

Walau cacat memahami falsafah itu, namun pemilik pabrik bir Mandalay itu punya mata batin, intuisi, feeling tajam untuk memahami hasrat sosok yang paling dipercayanya, dikasihinya, sekaligus diharapkannya: Thway Aung. Itulah kenapa di tengah hujatan, cercaan, kutukan, dia justru nekat sensasi: mau mengendalikan klub Barat yang dipuja 90-an juta orang sejagat untuk diberikan kepada sang cucu tercinta. Meski dikenal Xenofobia kelas berat, anti-Barat tapi demi taktik besarnya ia mampu pro-Wayne Rooney.

Membuat kesal pihak Barat merupakan spesialisasi suksesor diktator Jenderal Ne Win semenjak 1992 ini. Demokrasi berarti pemerintahan sendiri atau bersama rakyat. Dalam demokrasi anda tak berhak menetapkan semuanya kecuali lewat konsensus. Konsensus? Cukuplah itu dengan bawahannya atau Thway Aung. Ketika dunia mengutuk, rakyat jadi frustrasi dan murka, ia tak panik karena ilham cucunya yakni penangkalnya. Than Shwe yaitu cerita klasik kehidupan kecintaan pria pada keturunannya.

Atau kisah bagaimana sepak bola selalu dan selalu jadi agen kekuasaan. Keduanya berisiko tinggi. Dia tahu cucunya kegilaan bola meskipun kuatir juga sebab kebanyakan begadang, nonton sampai subuh. Di sisi lain, Than Shwe juga mengakui magnet bola sama kuatnya dengan perintah tembak di daerah. Maka itu lupakanlah Manchester United, walau si diktator punya uang, sanggup, bahkan didukung semua jenderal dan rakyat.

Sebelum dibocor Wikileaks pun, AS dan eks penjajahnya, Inggris, sudah tahu soal konstelasi tadi dengan hasil tambah murka. Cuma itu. Tapi esensinya? Lewat kontra-publikasi, secara politis suami dari Kyaing Kyaing itu tetap pemenangnya. Toh, tiada yang mampu diubah atau berubah di negeri berpenduduk 50 juta jiwa itu selama kakek kelahiran Kyaukse, 2 Februari 1933 ini berkuasa.

Jago Kongkalikong

 ternyata tak melulu mengarah ke urusan politik Than Shwe: Tambah Berkuasa Berkat Cucu
"Rakyat dipaksa untuk memilih yang lebih penting dari yang tak penting. Than Shwe membalikkan kegelisahan dan kemarahan rakyat saat itu menjadi panggung keinginan penuh keinginan di masa depan," papar Avram Noam Chomsky, pakar filsafat yang juga profesor linguistik dan politik di Massachussets Institute Technology (MIT). Than Shwe faham kebutuhan dan kesukaan rakyatnya lahir-batin. Meski dikenal mentalist perang, beliau jarang berpropaganda.

Than Shwe lebih suka pamer wajah kasar bila hatinya risau atau berbinar jika bahagia, hal yang dipelajari dari Saddam Hussein, Kim Il-sung, dan Slobodan Milosevic. Kebetulan wajah ia juga menyeramkan. Kisah perihal simbiosis-mutualisma antara Than Shwe dan Nay Shwe Thway Aung di sepak bola lebih menarik lagi. Anak muda berusia 19 ini semenjak kecil sudah kesetanan bola. Apapun dilakoni si kakek demi cucunya ini.

Thway Aung alias Pho La Pyeit, adalah pemuja kelas wahid Manchester United, dan anehnya, jugaLiverpool. Saat beliau merayakan HUT ke-16, semua jenderal, pejabat dan keluarganya tiba ke hotel termewah di Yangon, Sedona, termasuk instruktur nasional asal Brasil, Marcos Antonio Falopa. Menurut harian The Irrawaddy, pesta itu diorganisir oleh Zaw Zaw, pebisnis peliharaan istana yang juga ketua umum PSSI-nya Myanmar!

Thway Aung pernah sekolah di Singapura, tapi karena takut jadi sasaran musuh, Than Shwe menyuruhnya pulang dan meneruskan di Universitas Teknologi Yangon. Tapi hal ini malah bikin repot pihak kampus. Than Shwe ingin cucunya itu sekelas dengan 17 mahasiswa jenius di ruangan khusus dengan keamanan superketat. Tapi dasar ajaib bola, Thway Aung lebih keseringan muncul di stadion dan di TV jadi komentator liga-liga Eropa.

Apalagi Zaw Zaw menimbulkan dia sebagai bos salah satu klub liga. Walhasil, berkat sosok Thway Aung, rakyat Myanmar sangat dimanjakan oleh tontonan sepak bola dunia. Oleh risikonya, dengan atau tanpa derma Wikileaks pun, dia percaya di negaranya sepak bola akan selalu jadi candu rakyat. Itulah kenapa lahir berita Manchester United, klub yang banyak digemari dan juga dipuja Thway Aung. Di Myanmar, sepak bola ialah politik itu sendiri.

Jangan dikira Than Shwe hanya bertangan besi jika ada yang berani mengais-ngais politik dalam negerinya. Zaw Thet Htwe, jurnalis top dan pendiri tabloid sepak bola First XI, kini lagi dibui di penjara Taungyi, 400 km dari Yangon, gara-gara pada 2007 beliau menulis tunjangan 4 juta dolar AS untuk sepak bola Myanmar yang tak terang rimbanya. Di Myanmar sepak bola adalah ilham politik dan bisnis. Urusan sesulit apapun cepat beres jikalau menyerempet bola.

Acapkali hal itu menguntungkan rakyat. Aliran listrik yang 8 tahun selalu byar-pet, sontak lancar ketika ada Piala Dunia. Padahal biasanya ribuan rumah, kantor, dan sekolah cuma dapat jatah listrik tiga-empat jam sehari tiap November-April. Selain saling bercokol di puncak piramida PSSI Myanmar (MFA), liga, dan klub-klub, para jenderal atau pebisnis plus kroni dan anak-anaknya juga menguasai hajat hidup lain sepak bola mirip PLTA, PLN, telekomunikasi, stasiun TV hingga operator internet.

Kong kalikong-nya begini. MEPE, PLN-nya Myanmar dikuasai Thway Aung, sedang Zaw Min Aye, putra Letjen Tin Aye - salah satu jenderal top - memegang hak siar World Cup 2010. Program World Cup hanya tayang di MRTV dan Myawaddy, dua stasiun yang sahamnya dikeroyok belum dewasa penguasa. Piala Dunia 2010 benar-benar pesta besar bagi pebisnis yang bersahabat dengan ring satu. Ada jelek, tentu ada baiknya. Begitu pun fenomena di Myanmar.

Meski lanjutan masalah Manchester United ternyata ada udang di balik bakwan, namun apa yang dititahkan Than Shwe barangkali lebih banyak positifnya bagi sepak bola. Caranya? Jenderal penderita diabetes itu 'menodong' pebisnis kelas kakap untuk membangun kembali kebanggaan nasional yang telah usang hilang. Mereka wajib membeli klub serta mengelolanya secara profesional untuk mencari sponsor, iklan, kostum dan gaji pemain plus fasilitas kendaraan beroda empat dan rumahnya.

Kerennya lagi, puluhan pebisnis top dipaksa membangun stadion masing-masing minimal senilai 1 juta dolar. Siapa berani menolak maka usahanya bakal susah. Titik! "Jika jenderal senior sudah menyatakan keinginannya, mengeluh saja kami tak boleh," aku seorang eksekutif perusahaan yang kena todong. Liga sepak bola versi gres diluncurkan 16 Mei 2009.

Reformasi melanda banyak hal mulai nama, logo liga, jumlah klub, pemain abnormal, sampai izin bergabungnya sebuah klub Thailand. Myanmar Premier League (MPL) sekarang diganti menjadi Myanmar National League (MNL). Kanbawza, urutan ketiga MNL isu terkini kemudian, punya lima pemain Afrika. Sementara Delta United, runner up liga, merekrut pemain-pemain Argentina.

Lewat pemahaman yang paling sederhana di sepak bola saja, tapi dengan langkah kongkrit, bisa bikin seorang leader antagonis semacam Than Shwe meraih hasil konkret secara bisnis dan politis. Seperti penguasa yang sukses merajutnya, beliau juga punya modal dulu, maniak bola sungguhan! Tanpa itu percuma. Jika sudah nonton bola di depan TV, bila matanya belum sampai lamuran ia tak berhenti.

Than Shwe pernah benci bola gara-gara melihat timnas Myanmar keok, yang berujung pelarangan seluruh tayangan bola di TV. Lalu beliau banting stir jadi fans-nya Song Hye-kyo, bintang telenovela Korea yang semlohey itu. Tapi sejak 2006, dikala secara mengejutkan Myanmar jadi juara Turnamen Merdeka setelah di final menang 2-1 atas Indonesia, adrenalin bola-nya menggelegak lagi, dan sekarang kian sulit dia kendalikan.

(foto: alchetron)

Wednesday, December 8, 2010

Hanya Helena Penakluk Zlatan

Dugaan Zlatan Ibrahimovic (29) seorang psikopat kian menjadi. Selain biang kerok, striker Barcelona yang disewa AC Milan ini juga dikenal sok pendekar. Belum lama koran-koran se-Italia riuh mewartakan tawuran bapak dua anak itu dengan rekan setimnya, Oguchi Onyewu, ketika latihan rutin klub di markas latihan Milanello, awal November kemudian.

 striker Barcelona yang disewa AC Milan ini juga dikenal  Hanya Helena Penakluk Zlatan
Pangkal persoalan dimulai saat Ibra, diyakini sengaja, menekel bek nasional AS yang badannya tinggi besar kolam petinju itu. Begitu bangkit, Onyewu kontan memiting leher Ibra lalu siap membantingnya. Jelas saja Ibra melawan. Seperti zebra yang lehernya dicengkram singa, beliau melayangkan sejurusan tendangan serius. Maklum, Ibra yaitu pemegang sabuk hitam Tae Kwon-do. Sedangkan Onyewu sah disebut sebagai petinju. 

Para redaktur harian La Gazzetta dello Sport minta para ilustrator untuk mengimajinasi kerusuhan dua pemain bertipe rino tersebut berdasarkan penglihatan langsung reporternya di lapangan. Hasilnya, karikatur yang dramatis. Latihan bola, yang dikala itu ditonton sekitar 30-an Milanista, berubah jadi ajang wrestling. Kantor info ANSA dan TV SkySport 24 mendeskripsikan perkelahian itu kolam langgar smackdown sungguhan! Ini benar-benar Clash of Titans, alasannya tinggi keduanya di atas rata-rata, 195 cm! Seimbang. 

 striker Barcelona yang disewa AC Milan ini juga dikenal  Hanya Helena Penakluk Zlatan
Ibra paling banter unggul empat kilo doang dari bek gacoan Amerika Serikat itu. Bisa dibayangkan betapa repotnya pemain sekecil Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo, atau Mathieu Flamini bila coba melerainya. Boleh jadi, ini puncak muaknya Onyewu melihat lagak lagu Ibra yang suka cari gara-gara, dan kebetulan timing-nya datang.

Bos Adriano Galliani mesti angkat bicara untuk meneduhkan keadaan. "Perkelahian yang menyeramkan, tapi keduanya sudah akur lagi. Insiden telah berakhir." Tampaknya, Ibra kena batunya. Pada September, juga saat latihan, tak ada angin tak ada hujan, eh tiba-tiba saja kapten nasional Swedia ini melaksanakan Sip Chagi An Chagi - tendangan sambil melompat - ke punggung Rodney Stresser, youngster asal Sierra Leone yang pribadi termangu bak melihat alien.

 striker Barcelona yang disewa AC Milan ini juga dikenal  Hanya Helena Penakluk Zlatan Jika anda melihat adegan yang bisa disaksikan di Youtube itu, maka anda barangkali rada memahami betapa gendheng-nya Ibra, yang jago Tae Kwon-do semenjak berusia 17 tahun ini. Bukan sekali-dua kali laki-laki kelahiran 3 Oktober 1981 ini suka gila begitu. Tatkala diwawancara TV, dia memaki-maki Arrigo Sacchi dengan kasar, bahkan menantangnya berantem, yang membuat tayangan live itu diputus mendadak.

Dulu saat di Ajax, lelaki blaster Bosnia-Swedia itu mematahkan kaki rekannya, Rafael van der Vaart, ketika latihan yang membuatnya buru-buru dilego ke Juventus. Di sini pun, Ibra berani memaki-maki instruktur Fabio Capello dari pinggir lapangan. Aksi personalitas anti-sosial ala Ibra juga bikin Barcelona menggerutu, sampai-hingga instruktur Pep Guardiola ogah lagi ngomong dengannya. Sepertinya hanya Jose Mourinho yang mampu menjinakkannya. 

 striker Barcelona yang disewa AC Milan ini juga dikenal  Hanya Helena Penakluk Zlatan Sebab pemain termahal ketiga di dunia ini lumayan rada kalem selama di Inter. Sebenarnya ada satu orang lagi yang bikin Ibra klepek-klepek tak berdaya. Dia yakni Helena Seger, cewek berusia 37 tahun yang telah 10 tahun jadi pasangan hidupnya. Warga Milano mengenal tandem ini dengan baik karena sering berpapasan di pelosok kota, terutama di butik-butik dan pusat perbelanjaan. Di mana ada Helena, di situ niscaya ada Ibra yang selalu setia mengawalnya kolam bodyguard. Selain merasa kondusif, barangkali wanita yang pernah jadi account-manager Swatch Group dan marketing manager FlyMe itu juga seperti punya sherpa. Suatu kali, orang-orang kaget melihat Ibra menyengget kardus besar belanjaan Helena di lengan kanannya. Owalaaa...ternyata oh ternyata...

(foto: AC Milan/Gazzetta/Dagblad)

Alexandre Song: Berkah Wedhus Gembel

Banyak cara untuk meningkatkan keyakinan diri, bahkan untuk mengatrol peruntungan. Salah satunya ialah lewat mengubah penampilan fisik. Bila anda pernah menonton live Arsenal di televisi belakangan ini, apalagi yang berstatus Arsenalist, boleh jadi mata kita pernah terkesiap sebentar menatap sosok ini.

Banyak cara untuk meningkatkan kepercayaan diri Alexandre Song: Berkah Wedhus Gembel
Dan gol yang terjadi di menit-menit simpulan itu melambungkan nama Alexandre Song sebagai pujaan gres di Emirates. Hingga sekarang, gelandang tim nasional Kamerun ini menuai total empat gol. Sebelumnya, berkah wedhus gembel-nya Song juga terjadi di gawang Bolton, Manchester City, dan Shakhtar Donetsk di Liga Champion. 

"Sebelum main lawan West Ham, Olivia bilang padaku: 'kau akan mencetak gol hari ini'. Saking gembiranya, usai main saya segera menelponnya lantas dia eksklusif berkata 'apa aku bilang', dan aku pun bilang padanya: 'ini yaitu gol kau'," tutur pria yang pernah main di tim nasional Prancis U-16 itu. "Belakangan beliau jadi a good trainer saat berlatih, itulah kuncinya," tambah manajer Arsenal yang punya rencana lain untuk Song. 

Apakah beliau akan dijadikan bek tengah lagi? "Tidak. Ia masuk ke Arsenal sebagai bek, dan akan mengakhiri kariernya sebagai penyerang tengah." What!? Serius nih, Mister Wenger? Lagak-lagu Alexandre Dimitri Song Billong (23) di lapangan makin mudah dikenal, bukan alasannya belakangan memang sering bikin gol, tapi juga pasti lantaran potongan rambutnya yang seperti wedhus gembel alias bulu yang menggumpal milik seekor domba. Ingin tampil beda, Song?

Bicara khusus di ArsenalTV Online, Alex Song menceritakan karena kenapa ia memotong dan mengecat rambut ala bulu domba tersebut? "Ini semua gara-gara Olivia. Saat di rumah, dia ingin biar rambutku dibikin gimbal seperti banyak pemain lain yang ia sering lihat," tukas si pemilik nomor 17 yang kelahiran Douala, 9 September 1987 itu.

Banyak cara untuk meningkatkan kepercayaan diri Alexandre Song: Berkah Wedhus GembelOlivia yakni teman era kecil Song yang sekarang jadi istrinya. "Supaya lebih unik lagi, di-blonde deh. Aku senang berubah begini, sebab akan menjadi cermin kepribadianku." Eh, ndilala, gara-gara belahan rambut seperti itu, performa lelaki bertinggi 185 cm ini malah meroket. Buntutnya, Song malah keseringan bikin gol! Terakhir, gol emas keponakan Rigobert Song, bek legendaris Kamerun, itu bisa memenangi Arsenal atas West Ham United di pekan ke-12 Premier League, di Emirates, simpulan Oktober silam. Entah kenapa ia seperti kedatangan berkah khusus semenjak ganti model rambut.

Tapi buat Arsene Wenger bukan itu penyebabnya. "Dia telah memperbaiki mesin tubuhnya. Ia lamban, boros nafas saat bergerak. Sesuatu telah ditambahkan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas staminanya." Demikian kata orang yang tahu segala rahasia permainan dan stamina Song.

(foto: arsenal.com/barcaforum/goonerscorner)

Saturday, September 18, 2010

Sporting Braga: Arsenalistas Do Portugal

Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika si pemuja bertemu dengan sang pujaan. Nama resminya Sporting Clube de Braga alias Sporting Braga, namun peringkat kedua Liga Portugal 2009/10 yang menyingkirkan Celtic dan Sevilla di kualifikasi itu sungguh bahagia bila disebut juga sebagai (pemuja) Arsenal alias Os Arsenalistas. Hebatnya, secara kebetulan Arsenal dari Braga ini bersatu padu dengan Arsenal 'asli' di Grup H putaran grup Liga Champion 2010/11.
Bisa dibayangkan apa yang terjadi bila si pemuja bertemu dengan sang pujaan Sporting Braga: Arsenalistas do Portugal
Skuad Sporting Braga. Perhatikan corak kostumnya.
"Ini sebuah pertandingan yang unik bagi karier seluruh pemain dan bersejarah. Namun kami menyadari siapa yang akan kami hadapi dan kualitasnya. Kami tahu jarak antara Arsenal di London dan Arsenal di Braga amat besar, tapi sekarang saatnya untuk memperpendek jarak itu," tutur pelatih Braga Domingos Paciencia di ruang jumpa pers Stadion Emirates, sehari sebelum mereka dipermak Arsenal beneran 0-6 pada matchday 1 di Emirates, 15 September 2010.

Pemilik stadion terunik sedunia, alasannya salah satu tribunnya berdinding tebing sungguhan itu untuk pertama kalinya lolos ke Liga Champion isu terkini ini sejak bangun pada 1921. Braga menjadi klub Portugal kelima yang ikut ajang paling prestisius antarklub setelah Benfica, Sporting Lisbon, FC Porto, dan Boavista. Nama Braga terdengar pertama kali di pentas Eropa usai ikut Piala UEFA (format usang Liga Europa) 2004/05. Prestasi serupa terulang pada 2006/07 dan 2008/09.

Munculnya mereka di Liga Champion barangkali lanjutan dari pelbagai kejutan yang ditorehkan selama berpartisipasi di Piala UEFA 2008/09. Braga tampil di ajang Eropa animo ini berkat prestasi top mereka di Eropa, menjuarai Piala Intertoto 2008. Namun yang lebih penting, sebelum mentas di Liga Champion, klub yang sering disapa Bracarenses itu sebelumnya menimba pengalaman tatkala segrup dengan Portsmouth, Wolfsburg, Heerenveen dan AC Milan di Piala UEFA 2008/09 dengan hasil tidak mengecewakan.

Namun di ajang prestisius seperti putaran selesai Liga Champion, Braga mereguk pelajaran mahal. "Itu malam yang jelek. Kami akui Arsenal memang kandidat serius menjuarai Liga Champion. Tapi masih ada lima partai ke depan dan kami tetap bisa lolos dari grup ini. Kami kalah pertarungan tapi tidak dalam peperangan," sebut Alan, gelandang dari Brasil. "Kami start dengan tegang dan grogi sehingga banyak bikin kesalahan. Sebenarnya langgar sudah simpulan di babak pertama," timpal Pacencia.

Menurut analis sepak bola Portugal, Tom Kundert, tipikal Braga memang selalu begitu. Spesialis kejutan. "Contohnya dikala lolos ke Liga Champion. Tak satupun ada yang menerka, bahkan di Portugal sendiri. Dalam konteks kekuatan, Braga itu seperti Aston Villa di Inggris. Selalu masuk papan atas, tapi hanya kejutan yang bisa menciptakan mereka sampai menjuarai Liga Portugal. Bertahun-tahun Braga dikelilingi tiga klub legendaris, Sporting Lisbon, Porto, dan Benfica."
Jack Wilshere di antara pemain Arsenalistas do Portugal.
Sukses ke Liga Champion melahirkan kemakmuran yang tak pernah diraih sebelumnya. Setidaknya Braga menangguk income senilai 16,69 juta pound (setara dengan Rp 200-an milyar), di mana 7,1 juta pound datang dari sisi prestasi (3,8 juta sebab lolos ke putaran grup, dan 3,3 juta dari bonus pertandingan (6 partai x 0,55 juta) serta 9,59 juta dari hak siar TV di Portugal. "Target kami tampil di Liga Champion tentu bukan jadi juara, tapi untuk menimba pengalaman dan kebanggaan," kata Paciencia.

Omong-omong, kenapa Braga sampai mampu mengidolai Arsenal? Semuanya ini bermula pada 1920 era instruktur asal Hongaria, Jozsef Szaba, membawa timnya ke Inggris dan sempat bermain di Highbury, markas besar The Gunners. Saking salut dan kagum, terutama pada warna kostum Arsenal, klub itu sontak memproklamirkan diri jadi Arsenal do Braga atau Arsenal do Minho sebagai nama aliasnya. Warisan ini terus dipertahankan usai melihat warna dan corak kostum utama Braga yang mirip Arsenal.

Bahkan hingga sekarang tim bau kencur mereka tetap berjulukan Arsenal do Braga. Musuh turun-temurun Braga bukanlah Sporting, Porto atau Benfica, tetapi Vitoria de Guimaraes. Derby mereka sungguh angker. Konon kabarnya, siapapun tak boleh masuk ke stadion sebelum berumur 13 tahun. Namun perlahan tapi pasti, terutama dalam lima trend terakhir, Braga bisa menyaingi mereka sampai-sampai muncul fenomena The Big Four di pentas Liga Portugal.

(foto: venuscreations/telegraph)

Wednesday, June 2, 2010

Piala Dunia Ialah Pandemi Dunia

SELALU banyak hal-hal menarik yang terjadi setiap Piala Dunia berlangsung. Bila saatnya datang, tanpa diperintah siapapun masyarakat di seluruh jagat terlihat lebih peduli dan lebih aneh bola dari biasanya. Efek dahsyat Piala Dunia bahkan menerpa kepada yang tak berkepentingan eksklusif.

hal menarik yang terjadi setiap Piala Dunia berlangsung Piala Dunia adalah Pandemi Dunia
Kala Piala Dunia tiba, banyak yang mencicipi seperti hidupnya lebih bebas, optimis, agresif. Manfaat lebih besar didapat mereka yang jadi lebih menghargai waktu. Bak kena sihir, seluruh tepian dunia akan disapu higienis oleh pandemi World Cup. Tak usah heran, alasannya adalah Piala Dunia yakni cita-cita, cita-cita, ide sekaligus berkah bagi insan dan bangsa-bangsa di dunia. Pesta hati bagi siapa saja yang memiliki hati. Pencerahan nalar paling sempurna manusia sebagai Homo Ludens.

Piala Dunia, sejenak, akan mengubah gaya hidup. Di sana-sini prioritas juga akan terbalik-balik. Beberapa negara yang menunda pemilihan umum, banyak dewan perwakilan rakyat direses-kan, perang agama di Timur Tengah atau perang suku di Afrika bakal mereda. Muncul optimisme dalam skala bisnis. Akan ada banyak mimpi-mimpi. Itulah, kenapa bangsa Amerika, pada akhirnya, mengakui World Cup yakni pesta olah raga terbesar di planet ini, bukan Olimpiade. Malahan, acap kali imbas Piala Dunia lebih signifikan dari beberapa program PBB.

Piala Dunia merupakan pembelajaran global dalam memahami kelemahan dan kekuatan ras manusia, karakteristik bangsa-bangsa, proses unifikasi, yang faktanya programnya kerapkali gagal dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau lewat seni manajemen politik negara-negara multi-rasial seperti AS, Inggris, dan Prancis. Setelah perang masbodoh simpulan, AS - menganggap dirinya sebagai polisi dunia - kini makin menyimak World Cup, sekaligus mencampakkan Olimpiade alasannya adalah dianggap lebih kepada butik atletik ketimbang esensi yang dicari dan diingininya.

Bayangkan keindahan madani Piala Dunia. Ini belum soal permainan atau efek kolosal lainnya. Seorang guru dari El Salvador, sesosok marinir berpangkat letnan asal Selandia Baru, atau seorang penjual video game di Prancis - sehabis diuji berat - akan dibaiat jadi pengadil. Puluhan bocah-bocah dari berbagai ras dituntun dua tim yang siap berlaga. Keheningan, kala lagu kebangsaan yang bikin dada bergemuruh dan pelupuk mata membasah, nyaring berkumandang. Dan selama 90 menit berikutnya, perasaan diaduk-aduk mirip naik roller-coaster.

Kota-kota di AS dilanda kegandrungan. Terdengar pekikan "USA, USA, USA!" yang diteriakkan beberapa orang berkulit putih, peranakan Cina bermata sipit, negro berkulit legam, dan Hispanik berambut ikal. Tua, muda, laki-laki, perempuan, pundak membahu menyemangati timnya di bar, kasino, juga perumahan.

Presiden Barack Obama tak mau kalah. Dia menonton duel seru AS vs Inggris, yang jatuh di waktu luang, Sabtu sore. Tapi saat AS bertemu Slovenia, beliau berkemas-kemas menunda pekerjaan sebab kick-off -nya tepat jam 07.00 pagi di Washington. Di pelosok Asia, malam hari tampak semakin panjang. Hiburan tunggal yang paling diminati miliaran pasang mata dan ratingnya naik mendadak: siaran eksklusif dari Afrika Selatan. Di sini, siapapun ia yang berbisnis kafe dijamin meraih keuntungan besar.

Saat bersamaan dari Havana, Fidel Castro menyerukan rakyatnya agar mendoakan Argentina. Dua presiden yang gila bola, Lula Da Silva (Brasil) dan Sebastien Pinera (Chile) harus tabrak berpengaruh untuk mengundang nonton bareng dua koleganya dari Venezuela dan Bolivia, Hugo Chavez dan Evo Morales. Begitu pun kenikmatan menonton siaran langsungnya. Saat Lionel Messi bikin gol, kelak semua presenter seantero berteriak, "Goooooooolllll, gol... gol... gol... gol...gol...gol...gol!" lewat aksen khas Spanyol. Di tanah Latin, acap kali hasrat duniawi seperti itu diperkaya oleh gerakan religius.

Beberapa tokoh agama memanfaatkan Copa del Mundo untuk menyadarkan para jemaatnya. Mereka bicara atas nama agama di satu sisi, meski tak punya cara untuk menghentikan satu motif sepak bola paling membabi buta di sana: kerusuhan, pembunuhan, kecurangan, penipuan dan seterusnya. Di cuilan dunia seperti ini, yang dogma pada Tuhan sama kuatnya dengan uang, sepak bola dilumat bulat-lingkaran sembari dijadikan way of life. Mereka menganut kapitalisme hasil balutan kesenangan, kerja keras, pikiran kekanak-kanakan, obsesi, serta kombinasi komoditi dan cita-cita.

Apa dampaknya secara masif? Peraturan sepak bola (laws of the game), yang terdiri 17 bab dijadikan "kitab suci" sebab dianggap menyuarakan aturan keseimbangan, the spirit of fair play. Ada kalanya main berangasan atau menahan diri, ada gembira atau saatnya sedih.

Piala Dunia pun bermetamorfosis puncak ritual relijiusasi sepak bola. Lihatlah mulut mereka sebelum main atau usai mencetak gol. Logo organisasi, corak kostum, atau yang ada di dalam strategi dalam strategi. Sebagian negara penggila bola, para pemainnya di Piala Dunia disimbolisasikan sebagai tentara-tentara suci seperti di zaman Perang Salib. Dorongan metafora seperti itu kerap menentukan, lebih dari sekedar mengada-ada. Itulah yang merasuki Marco Materazzi memprovokasi Zinedine Zidane di adu terakhir Piala Dunia 2006.

Di sisi lain, Piala Dunia selalu menjadi jembatan mengatasi perbedaan dan prasangka nasional, selain elemen sempurna propaganda politik. Inilah tema besar Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang, dua bangsa yang secara temurun berseteru, yang selama 50 tahunan selalu menolak paspor masing-masing. Hanya Piala Dunia yang bisa menyatukan mereka.

Beri waktu pada dunia 50 tahun atau lebih, barangkali kita baru melihat perdamaian sejati sesudah Palestina dan Israel menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia. Piala Dunia 2010 yang terhampar di Afrika Selatan, masih meneruskan masalah dunia yang belum kelar, kesetaraan manusia. Setelah 80 tahun, ini untuk pertama kalinya benua Afrika dipercaya menggelar kejuaraan dunia sepak bola.

Let's Celebrate Africa's Humanity. Misi FIFA di 2010 kali ini tidak main-main alasannya secara vested interest mempertaruhkan masa depan humanisme. "Perdamaian bukan cuma tak ada peperangan. Perdamaian ialah menciptakan kondisi untuk melahirkan harapan. Inilah warisan terbesar Piala Dunia."

Mungkinkah berhasil? Kenapa tidak! Singkirkan rasa pesimis, alasannya sepak bola adalah olah raga paling sederhana yang mampu dimainkan siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Sepak bola - lepas dari keterkaitan kekuatan bisnis dan keagamaan - suatu beautiful game yang diyakini bisa mengubah wajah dunia dan mengobati keputusasaan.

Namun sepak bola juga sarangnya kriminal, sebuah olahraga yang tak pernah mampu membasmi ketidakadilan, bahkan di ajang yang jadi puncak ritual permainan universal dan paling mudah itu sendiri, Piala Dunia. Nah, peperangan menunggu keadilan itu biasanya kita arungi selama Piala Dunia berlangsung, meski harus terus mengingkari kebosanan dan cita-cita.

Inilah epilog paling menarik Piala Dunia, sebagai medan justifikasi iman dan keraguan kita, teladan pikir, analisis, ambiguitas. Tantangan yang menjelma kecintaan. Selebihnya, nikmatilah dan ikuti saja suasana hati dengan memikirkan keseimbangannya, kesannya. Bersatulah dengan miliaran insan sedunia yang selama sebulan penuh disirami hiburan Piala Dunia.

Selama sebulan, bahkan haluan hidup mereka - yang tim nasionalnya tak pernah menjuarainya seperti kita - yang termasuk di barisan negara pemimpi lantaran belum pernah ikut serta, diubah paksa atau terpaksa mengubah demi tuntutan sebuah sensasi zaman.

"Tanpa memperhatikan demografi insan atau distribusi etnis, pesta sepak bola (Piala Dunia) memainkan peranan penting bagi insan dalam proses membangun identitas dan berafiliasi dengan masyarakat dan negara di mana mereka tinggal. Permainan dunia itu yaitu kendaraan paling potensial yang menampakkan diri sebagai ekspresi terkuat untuk mencari identitas dan kebanggaan nasional," tulis Paul Darby dalam bukunya, Africa, Football and FIFA: Politics, Colonialism and Resistance yang terbit pada 2002.

Yang ajaib, ruas-ruas lalu lintas di Jakarta yang biasa macet pada jam pulang kantor, di hari-hari tertentu justru lengang. Oh rupanya big-match Argentina-Nigeria, Jerman-Serbia, Prancis-Meksiko, atau Denmark-Belanda, bergulir dikala traffic jam di ibukota berada di puncaknya, jam 18.30 WIB. Tempat paling fanatik untuk mencicipi atmosfir lain Piala Dunia ada di tanah Latin. Produktivitas di Honduras merosot karena rakyat mementingkan Piala Dunia. Di Brasil, badan legislatif usang telah memutuskan pilpres 2010 harus digelar usai Piala Dunia.

(foto: bahram mark sobhani)