Tuesday, February 3, 2004

Cerita Aib Nigeria Di Kamar 343

Banyak kejutan terjadi di Piala Afrika 2004. Untuk pertama kalinya, Tunisia meraih titel juara. Lalu, ada berbagai pemecatan instruktur dan pemain sebelum dan selama turnamen, vandalisme, sampai perampokan. Tapi yang terheboh, sudah pasti, skandal atau beberapa insiden yang menerpa Super Eagles alias tim nasional Nigeria.

 ada berbagai pemecatan pelatih dan pemain sebelum dan selama turnamen Kisah Aib Nigeria di Kamar 343

Seperti sudah garis tangan, bukan sepak bola Afrika jikalau tidak ada kehebohan. Bahkan di luar logika sekalipun. Di benua yang lafalnya berasal dari pengecap orang Arab, Ifrikiya, itu sering banyak kelucuan, terkadang dongeng angker.

Unsur klenik, memakai dukun atau santet biar tim lawan jadi lemas bermain atau ngaco, masih mentradisi di milenium gres ini. Bahkan hal itu masih muncul di Tunisia, negeri yang bekerjsama religius, di mana seharusnya segala kelakuan bejat haram terjadi.

Edisi kontroversial diawali dikala Ephraim Masabha, pelatih Bafana-Bafana -  tim nasional Afrika Selatan - dipecat SAFA (“PSSI” Afsel) lantaran terlalu ngotot menarik bintang Afrika Selatan yang bertebaran di Eropa. Lalu, setelah bermain di perempatfinal, dan kalah, datang-datang El-Hadji Diouf (Senegal) menantang seluruh isi stadion sambil berkecak pinggang. Lho? Dengan lantang, pemain Liverpool itu berani memaki-maki tim tuan rumah Tunisia. Sontak, CAF (Konfederasi Sepak Bola Afrika), atas rekomendasi FIFA, menghukum penyerang paling nyeleneh itu.

Bukan apa-apa, masalahnya Presiden Tunisia, juga petinggi CAF dan FIFA, masih belum angkat pantat dari stadion! Masih di tengah perhelatan ajang berusia 47 tahun, pintu kamar mandi sebuah hotel jebol berat akibat didobrak oleh pria asal Guinea bernama Bobo Balde. Apakah bek Glasgow Celtic ini sangat kebelet mau kencing? Sama sekali bukan! Tak tahunya dia melampiaskan kemarahan, berang dong, seusai timnya kalah dari Mali. Dampaknya, Balde pun merogoh koceknya sebesar 500 dolar untuk bayar denda.

Tapi episode yang paling bikin Anda melamun terjadi pada tim nasional Nigeria. Yang pertama barangkali Anda tidak perlu sampai mengelus dada. Ceritanya begini. Pulang tanding lawan Zimbabwe, yang mereka remukkan 5-3, biji mata lima punggawa tim Super-Eagles membulat begitu hingga kamar hotel.

Tawa ha-ha he-he dan guyonan Geremi Njitap, Idriss Kameni, Mohammed Idrissou, dan Daniel Ngom Kome, langsung stop karena melihat bekas pintu didobrak dan kamar mereka awut-awutan. Setelah dihitung tekun bareng-bareng sambil harap-harap cemas, total 66 ribu pound uang mereka dirampok dari safe deposit box yang dijebol paksa ala Balde. Ekstra apes untuk Geremi, si gelandang kekar Chelsea. Jam Rolex-nya seharga 20 ribu pound, sekitar Rp 300 juta, secara tidak resmi telah pindah tangan.

Nah telenovela Nigeria yang kedua badung membuat Anda mengucek-ucek mata, jadi berdoa atau malah mengutuk. Pasalnya ini amat geger. Kisah bermula saat tiga pemain yang cari makan di Eropa, Aiyegbeni Yakubu (Portsmouth), Celestine Babayaro (Chelsea), dan Victor Agali (Schalke), pulang bareng seusai tubruk. Menurut sebuah insider, mereka terpaksa tidak pulang bareng dengan tim alasannya adalah habis dimaki-maki oleh pelatih nasional dengan dakwaan tidak disiplin. Maklum, saat itu Nigeria secara mengejutkan kalah dari Maroko.

Skandal Bejat

Berdasarkan inside stories dan investigasi lengkap dari Vanguard, koran olah raga terbesar di Lagos, dongeng Aiyegbeni, Babayaro, dan Agali jadi menggegerkan khalayak ramai. Kenapa? Rupanya mereka ketangkep berair di sebuah kamar, berpesta seks!

“Mereka bukan saja melanggar disiplin tim, bejat, tapi sudah bikin aib negara! Pemerintah harusnya ikut menghukum mereka. Tapi biarlah, sisanya Tuhan yang akan menghukum mereka. Garba Lawal dan Ifeanyi Ekwueme akan menggantikan posisi para pembejat itu,” kata Dr. Rafiu Ladipo, pemimpin kontingen suporter Nigeria.

Para petinggi Nigerian Football Association (NFA) dan Kementerian Olah Raga Nigeria eksklusif menilik kejadian 27 Januari nan memalukan itu di kota Monastir. Saksi telah didapat, yakni seorang ofisial tim dan sekuriti hotel. Ketiga pemain berkilah itu sebagai urusan pribadi, namun NFA tetap bereaksi keras.

“Saya sangat shock. Ini tindakan indisipliner terparah, tidak patriotik, dan kami sulit mengampuninya. Anggota Dewan NFA telah bertemu dan setuju untuk memulangkannya. Tindakan mereka itu bisa menulari pemain lain,” gerutu Presiden NFA, Haji Ibrahim Galadima.

Kejadian bermula periode ketiga pesepak bola ini keluyuran malam seusai kalah di partai awal penyisihan grup. Mungkin sebagai pelampiasan kecewa akhir dimaki-maki oleh manajer tim serta ketua rombongan, mereka - Yakubu, Babayaro, dan Agali – malah menjudikan reputasi dirinya dan juga negaranya. Awalnya, sekuriti hotel mencurigai ketiganya lantaran bermain ‘kucing-kucingan’ dengan tiga perempuan bule tidak dikenal.

“Saya terus memonitor pergerakan ketiga wanita itu sejak memesan kamar di lantai tiga. Beberapa pemain juga diawasi sesuai dengan ajakan ofisial tim. Melihat ada yang menyelinap masuk ke kamar wanita itu, saya laporkan langsung ke ofisial tim,” tutur sekuriti hotel tersebut.

Seluruh tim Nigeria tinggal di lantai empat Kuriat Palace, hotel berbintang lima. Berniat nyelonong ke lantai lain kemudian ‘ketanggor’ tentu saja mencurigakan. Mereka tetap melakukannya. Yang terjadi kemudian bikin verbal orang menganga. Atas tunjangan petugas hotel, para ofisial membuka membisu-membisu pintu kamar dengan kunci cadangan.

“Apa yang kami saksikan ketika itu mungkin menciptakan anda tak percaya. Kami menemukan mereka tengah bergumul berpasang-pasangan. Gilanya, meski sudah melihat kami, mereka tak menghentikan aksinya!” ujar seorang ofisial masih tak percaya melihat adegan luar biasa tersebut. Barangkali ya memang tanggung.

Tak disebutkan bagaimana cara menyetop orgy kolosal di kamar 343 itu. Tapi sesudah simpulan, cuma kaum wanita yang diinterogasi sekuriti hotel. Dari verbal ketiga cewek bule tersebut – dua dari Inggris dan satu Jerman – keluar pengesahan bahwa mereka sengaja diinapkan oleh Agali cs. Nigeria pun geger. Laporan Vanguard dan harian This Day membuat pro-kontra dan polemik bermunculan di masyarakat.

Nigeria bak ditabok telak. Aib hina ini awalnya tak terendus eksklusif media lokal dan abnormal. Menteri Olah Raga Kolonel Musa Muhammed, marah semurka-murkanya dan bilang bangsa terhinakan. Meski akhirnya meraih juara ketiga, prestasi Super-Eagles menjadi tidak berarti. Banyak masyarakat yakin skandal di Kamar 343 itu telah menguras mentalitas serta stamina skuad nasional Nigeria. Ketiga pemain internasional Super-Eagles tersebut tentu wajib dan harus segera meminta maaf pada NFA. Namun itu hanya dilakukan Babayaro. 

Sementara dua lainnya tidak mau. Yakubu buru-buru kabur ke Portsmouth dengan sakit hati alasannya adalah merasa peristiwa itu dibesar-besarkan. Reaksi paling keras tiba dari Victor Agali. “Kenapa harus minta maaf? Hal itu akan menawarkan bahwa kami salah. Saya berani jamin bahwa kami tak melaksanakan apa pun. Saya akan menuntut NFA dan Menteri Olah Raga kalau perkawinan kami terganggu,” kilah striker kelahiran 27 Juni 1979 yang mengaku tak dicurigai istrinya.

Gilanya lagi, penyerang FC Schalke itu malah menyerang ke sana ke mari, termasuk ke instruktur Nigeria, Christian Chukwu, yang dinilainya tidak cakap dan kurang pandai.  “Ah, mereka itu cuma ingin menyelamatkan jabatannya saja setelah kekalahan pertama. Saya juga kaget. Saat menangani berita ini gaya Pak Menteri seperti tentara. Beliau tidak memberi kami waktu untuk membela diri,” lanjut Agali, yang lupa bahwa sang menteri memang tentara!

Kutukan Langsung

Tahukah Anda apa yang terjadi pada Agali kemudian? Setibanya di Jerman, dia di-PHK klubnya karena malu dengan kelakuan tidak terpujinya! Oleh manajer Schalke, Rudi Assauer, lelaki setinggi 193 cm itu disarankan bergabung ke klub Swiss, FC Basel. Agali mesti membayar dosa dan kesalahannya secara langsung. Reaksi Agali? Kali ini pemain yang gabung sejak 2001 itu tidak bernafsu kecuali pasrah. 

“Saya kecewa sekali. Ini datang-tiba sekali,” keluh Agali pada Kicker. “Sebelum winter break, saya enggan pergi dengan free-transfer, mereka ingin memperpanjang kontrak. Schalke ambil laba dikala saya pergi ke Tunisia. Padahal aku yang terbanyak mencetak gol di Schalke dua tahun terakhir,” omel Agali.

Kutukan Yakubu lain lagi. Manajer Porthsmouth, Harry Redknapp, seolah tidak mau tahu dengan skandal seks yang dianggapnya sebagai duduk perkara pribadi. Dia justru merasa bahagia begitu striker berusia 22 tahun itu diusir Super-Eagles karena tenaganya dibutuhkan klubnya. Bahkan Redknapp menyuruhnya buru-buru terbang ke Portsmouth untuk menghadapi Wolverhampton Wanderers di tabrak Premier League, beberapa hari kedepan.

Namun, seperti Agali, kali ini Yakubu pun mesti membayar dosa dan kesalahannya. Saking terburu-burunya ke pertandingan Sabtu (31/1), penyerang klub Pompey berleher beton itu menuruh sopirnya untuk ngebut, mengendarai mobil dengan kecepatan tidak masuk akal di jalanan umum.

Sontak mereka dikejar patroli jalan raya. Di lampu merah, mobil Yakubu distop polisi, dan beliau ditilang sebab melanggar batas kecepatan. Untung, pak polisi mengenali wajah Yakubu yang tidak mengecewakan ngetop lantaran jadi pemain Portsmouth. Setelah catat sana-sini, dia dilepas beberapa menit lalu. Walhasil, dia telat 19 menit sesudah waktu kick-off. Itu yang membuatnya baru dimainkan Redknapp di babak kedua. 

Mendengar informasi ini, tabloid The Sun sontak mengirim wartawannya untuk mengonfirmasi info tersebut, kemudian bertemu dengan inspektur polisi John Happel. “Betul, anak buah aku menilangnya alasannya beliau (Yakubu) memaksa sopirnya mengebut untuk mengejar waktu kick-off. Itu alasan mereka. Kami harus semakin tegas dengan kebut-kebutan alasannya adalah belum lama ini ada anggota Parlemen Inggris mengalami kecelakaan di kota ini,” beber Inspektur Happel. Ah, seandainya Pak Polisi tahu alasan dari alasan tilang itu niscaya melongo juga.

(foto: nigerianeye/dailymail/solofutbol/naijaloaded)

Saat Sepp Blatter Membela Afrika

Menjelang undian kualifikasi grup Piala Dunia 2006, Desember 2003 silam di Frankfurt, pria berkuasa yang menguasai bahasa Inggris, Spanyol, Prancis, Italia, plus Jerman ini datang-tiba mengecam perilaku “orang-orang Eropa” pada orang-orang Afrika di depan elite UEFA. Waw, ada apa dan mengapa beliau hingga nekat bertindak begitu?

Menjelang undian kualifikasi grup Piala Dunia  Ketika Sepp Blatter Membela Afrika
Konkretnya, Sepp Blatter geram dengan kelakuan klub top Eropa yang mencomot bakat-bakat Afrika secara serampangan. “Saya lihat ada yang tidak sehat, jika tak pantas disebut kekejian, saat klub kaya mengirim pencari bakat untuk cari pemain di Afrika, Amerika Selatan, dan Asia dengan cara memberi keinginan. Setelah dilatih serius, mereka memainkan (politik) uang dikala pemain tadi tertimpa kesulitan,” terperinci Blatter berapi-api.

Yang paling banyak jadi korban, siapa lagi jikalau bukan Benua Hitam. Tak terhitung berapa belum dewasa Afrika yang dieksploitasi besar-besaran oleh agen-distributor yang berstatus unscrupulous, tak bermoral. Dalam kolomnya di The Financial Times, laki-laki kelahiran 10 Maret 1936 ini berani menyebut frasa Football Slavery alias perbudakan sepak bola (oleh Eropa)!

Buat negara-negara dunia ketiga, Blatter adalah hero mereka. Dia punya moto “Football for All, All for Football”. Visinya yaitu tiada hari tanpa modernisasi sepak bola, dan tentu saja keadilan untuk semua insan. Kapasitas jabatannya melebihi seorang pemimpin negara mana pun sebab sebagai capo di cappi tutti (bos dari segala bos), ia ialah presiden dari 204 negara sejagat. Makara kekuatan dan kekuasaan untuk mempengaruhi atau mengubah keadaan amat mumpuni. Ironisnya, realitanya tidak begitu.

Menjelang undian kualifikasi grup Piala Dunia  Ketika Sepp Blatter Membela Afrika

Joseph “Sepp” Blatter (68) mengaku saban hari selalu menemukan permasalahan di sepak bola yang juga menjadi misinya. Dan orang Swiss ini tampak pro anti-kemapanan. Perkembangan sepak bola di Monserrat atau Ethiopia, wasit yang curang, klub yang tak membayar gaji pemainnya, transfer terselubung, perkara doping Rio Ferdinand, hingga perkara akhir hayat pesepak bola. Karena harus terus berada di tengah-tengah, bila ombak ada di kiri dia harus membanting kapal (FIFA) ke kanan dan sebaliknya, balasannya Blatter rentan dimusuhi segala pihak mulai orang per orang, instruktur, bos klub, perusahaan, bahkan negara!

Bahkan dengan UEFA, dia tidak akur. Blatter sering bersilat lidah dengan Presiden Lennart Johansson. Maklum, konotasi UEFA yaitu profesional, kapitalis, uang alias cari untung. Sementara itu, FIFA condong amatir, penyamarataan, mengarah ke sosialisme. Itulah yang membuat Blatter - suksesor Dr. Joao Havelange semenjak 8 Juni 1998 - lebih terkenal di kalangan proletar ketimbang borjuis.

“Istilah perbudakan sepak bola yaitu gambaran seorang pemain bola yang di akhir karier jatuh miskin dan tak punya cukup uang untuk membiayai kehidupannya yang jauh dari Tanah Air-nya,” papar eks pesepak bola Liga Amatir Swiss di abad 1948-71 itu. Blatter menuduh klub kaya Eropa telah memperkosa hak-hak sosial dan ekonomi para pemain Afrika dengan berbungkus membangun dunia untuk talenta dan hiburan atau industri. Jika terlalu berorientasi market, kehormatan, dan integritas berada di ujung tanduk.

Munculnya tarik-ulur antara klub Eropa dan negara-negara Afrika menjelang Piala Afrika 2004 menandakan teori Blatter benar. Tunisia harus berterima kasih pada bos besar FIFA ini yang mengancam akan menghukum klub-klub Inggris kalau tak melepas pemain Afrika untuk membela negaranya. “Kelakuan klub-klub kaya Eropa itu seperti neokolonialis, penjajahan gres, yang merampok warisan dan budaya munculnya pemain-pemain ahli di bagian dunia. Jika tak waspada, sepak bola akan menjadi sebuah permainan ketamakan. Saya akan lawan itu sekuat tenaga,” komitmen Blatter.

Identitas Eropa

Andaikata Anda yaitu bagian dari sebuah klub yang begitu digdaya, maka Anda tentu saja gembira dan puas. Perasaan lain akan muncul jikalau anda berada di pihak yang disetir uang. Ingat perkara Kaka, yang dilarang dijamah tim nasional Brasil oleh AC Milan? Pekerjaan rumah Blatter tampaknya masih menumpuk.

Memang sudah seharusnya Eropa, dan juga sebagian Amerika Latin, tak boleh menyepelekan Afrika. Banyak fakta tersaji bahwa kehebatan beberapa negara di dua kontinen itu didongkrak oleh putra-putra Afrika. Siapa yang paling berpengaruh mengakibatkan Prancis juara dunia pertama kalinya pada 1998? Zinedine Zidane ‘kan? Dari mana beliau? Aljazair, negara di Afrika Utara.

Lalu masih ingatkah anda akan gol emas Basile Boli, yang mengantar Olympique Marseille sebagai klub pertama Prancis yang menjuarai Liga Champion edisi perdana pada 1992/93? Boli yakni bek kenamaan Les Bleus asal Pantai Gading. Siapa yang melesatkan reputasi Benfica, bahkan tim nasional Portugal di kurun 1960-an? Jelas Eusebio Ferreira. Legenda hidup Portugis ini diadopsi eksklusif dari tanah leluhurnya, Mosambik, yang berada di sentra Benua Hitam.

Di pentas Liga Champion 1961/62, dua gol terakhir Eusebio menamatkan perlawanan klub 'bule' Real Madrid 5-3 di Amsterdam, 2 Mei 1962. Di Piala Dunia 1966, Portugal mencatat prestasi sempurna dalam penyisihan grup. Hongaria disikat 3-1, Bulgaria 3-0, dan Brasil 3-1! Lalu dia bikin empat gol beruntun dan menang 5-3 atas Korea Utara. Akhirnya, satu gol Eusebio ke gawang Lev Yashin (Uni Soviet) di selesai tiga-empat memberi titel terbaik Portugal sampai sekarang.

Kalau mau jujur, kehebatan Brasil sampai sekarang juga berkat Afrika. Sebagai jajahannya, Portugal mendatangkan budak-budak dari koloninya di Afrika mirip Mozambik atau Angola. Dari moyang mereka, lahirlah Pele, Leonidas, Garrincha, dan seterusnya. Di periode modern, pemain ber-DNA Afrika makin bertebaran. Marcel Desailly contohnya yang asli orang Ghana. Tapi, dialah pemegang cap terbanyak Les Bleus, 112 kali (terakhir 18/2 vs Belgia), ketimbang putra orisinil Prancis yang juga menjadi kapten, Didier Deschamps (103).

Banyak alasan mereka hingga menukar kewarganegaraan. Ada yang dibajak mirip Eusebio Ferreira dulu hingga yang termuda, Freddy Adu, anak Ghana berumur 14 tahun yang digaet Amerika Serikat. Tapi, dalih terbanyak ialah profesionalitas dan gengsi, yang ujung-ujungnya soal persamaan hak. Jika ingin maju, ingin lebih sukses, ingin punya kesempatan dan hak apa saja, bermainlah dan jadilah warga Eropa!

Menjelang undian kualifikasi grup Piala Dunia  Ketika Sepp Blatter Membela AfrikaTapi tak semua anak Afrika bersikap sama. Frederic Kanoute memulangkan paspor Prancis dan mendapatkan Mali sebagai negara yang harus diabdinya. Luar biasa. Tapi di masa depan, cerita Kanoute hanya jadi kisah langka.

Yang ada malah kebalikannya. Di kemudian hari bakal semakin banyak belum dewasa Afrika akan dipaksa, atau terpaksa, harus ber-KTP Eropa. Menyanyikan lagu kebangsaan negeri gres, mengenakan simbol yang tidak cocok di seragam hingga berlagak-lagu ala bule. Untuk keberlangsungan hidup atau memuja passion, mereka akan begitu. Menjual identitas lama demi identitas baru. Apa mau dikata, bukankah mereka lebih meyakini aturan ‘terkuat’ di bumi, hak asasi manusia?

EROPANISASI AFRIKA

ALJAZAIR: Zinedine Zidane (Prancis); AFRIKA SELATAN Sean Dundee (Jerman); SENEGAL Patrick Vieira (Prancis), Ibrahim Ba (Prancis), David Bellion (Prancis); KONGO Claude Makelele (Prancis), Peguy Luyindula (Prancis), Blaise N'Kufo (Swiss), Emile Mpenza (Belgia), Mbo Mpenza (Belgia), Kiki Musampa (Belanda), Ali Maboula Lukunku (Prancis), Gaby Mudingayi (Belgia), Patrick Dimbala (Belgia), Vincent Kompany (Belgia); GHANA Freddy Adu (AS), Gerald Asamoah (Jerman), Marcel Desailly (Prancis), George Boateng (Belanda), Eric Ofori Okyere (Belgia), Daniel Ofori Okyere (Belgia); NIGERIA Emmanuel Olisadebe (Polandia), Okonkwo Digger Ifeani (Malta), Shola Ameobi (Inggris), Ugo Chukwu Ehiogu (Inggris), Ade Akinbiyi (Inggris), George Ndah (Inggris); PANTAI GADING Olivier Kapo (Prancis), Djibril Cisse (Prancis); KAMERUN Jean Alain Boumsong (Prancis), Charles Itanje (Prancis), Bruno N'Gotty (Prancis), Pascal Nouma (Prancis); TUNISIA Sabri Lamouchi (Prancis); MESIR Rami Shabaan (Swedia); SIERRA LEONE Carlton Cole (Inggris); SOMALIA Fabio Liverani (Italia); ETHIOPIA Youssouf Hersi (Belanda); ZAMBIA Robert Earnshaw (Wales); MOZAMBIK Abel Xavier (Portugal); MAROKO Yassine Benajiba (Belgia); GAMBIA John Alieu Carew (Norwegia).

(foto: swiss.gosip/news.yahoo/sofoot)

Wednesday, November 12, 2003

Dikala Eusebio Terengah-Engah

Bem-Vindo! Ini liputan internasional saya setelah empat tahun. Tidak tanggung-tanggung, yang saya kunjungi adalah bekas musuh bebuyutan terakhir bangsa kita, Portugal. Apalagi dengan negeri yang semasih saya Sekolah Dasar dulu disebut Portugis, kekerabatan diplomatik baru dibuka lagi oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada 2001.

 Ini liputan internasional saya setelah empat tahun Ketika Eusebio Terengah-engahTapi memperkenalkan diri dari Indonesia cukup sakti juga. Mereka tak merasa asing mendengarnya, tapi jangan mengharap dapat senyum Pepsodent. Yang niscaya mereka biasanya termangu. Agaknya gara-gara informasi Timor Timur menciptakan bangsa Portugal tak akan lupa tujuh turunan dengan Indonesia. Banyak kesan di negara yang cuma berbatasan dengan Spanyol dan Lautan Atlantik ini. 

Saya sempat menerka akan mendapat penjagaan zona marking begitu mendarat di Lisbon (28/11). Maklumlah, ini pertama kali Portugal menyelenggarakan Piala Eropa. Saya pikir, faktor keamanan, yang di seluruh jagat sekarang menjadi super-VVIP, juga dimulai dari sana.

Nyatanya tidak. Kondisi Aeroporto de Lisboa, bandara Lisbon, rada mencengangkan. Petugas keamanan tak terlihat pagi itu. Apakah mereka memakai agen rahasia? Saya tak yakin. Pasalnya dikala ada seorang negro yang mabuk, tak satupun polisi terlihat hingga alhasil laki-laki itu ngeloyor pergi sendiri. Padahal beberapa turis Belanda sudah salah tingkah.

Saya masih ingat bagaimana siaganya polisi Prancis sebelum menyelenggarakan Piala Dunia 1998 setahun lebih sebelumnya dikala Tournoi de France. Kemana saja pergi harus melalui detektor. Tapi terus jelas sih, kondisi itu malah melegakan aku kalau mengingat ketatnya mengurus visa di Kedubes Portugal di Menteng.

 Ini liputan internasional saya setelah empat tahun Ketika Eusebio Terengah-engahDis-komunikasi, mis-isu dikala acara cukup terasa. Ini merembet di Pavilhao Atlantico, sentra acara. Ada jurnalis Prancis yang hingga nyasar atau telat dikala mengambil pengukuhan. Press-release hanya ada dalam bahasa Inggris dan Portugal. Bahasa Spanyol, Prancis, Jerman, apalagi Indonesia, maaf-maaf saja, tidak dianggap! Padahal dua bahasa resmi lain di sepak bola selain Inggris yaitu Prancis atau Spanyol. 

Di benua biru yang berbahasa Portuguese memang cuma Portugal. Di luar Eropa, ada Brasil, Angola, Makau atau... Timor Leste! Saya jadi ingat betapa fasihnya seorang bermata sipit mewawancarai Nuno Gomes. Dan memang, wartawan itu berasal dari eks koloni Portugal yang sudah dikembalikan ke Cina pada 1999 itu.

Yang mengagetkan, beberapa volunteer banyak yang payah. Membedakan ID-Card saja sering salah. Untunglah pada persiapan tamat drawing EURO-2004 itu tidak didominasi oleh tuan rumah, kecuali petugas keamanan. Banyak officer UEFA yang tiba dari Prancis, Belanda dan Swedia yang lebih ramah dan informatif. Kultur memegang peranan penting pada kesiapan Portugal menggelar Piala Eropa.

Selain soal bahasa, perilaku menutup diri tapi over-confident mendominasi kehidupan sehari-hari. Masyarakat seperti tak mau tahu bagaimana kredibilitas negaranya dipertaruhkan bukan saja di atas rumput hijau, tapi juga secara profesional keseluruhan. Jika bicara soal EURO-2004, tanpa ditanya ujung-ujungnya mereka bilang: "Kami akan juara!" 

 Ini liputan internasional saya setelah empat tahun Ketika Eusebio Terengah-engahKetika Pele dan Eusebio menghadiri program AllFootball, semacam bazaar, pengunjung menyemut dari anak-anak hingga kakek-nenek. Sambil terengah-engah dan acapkali menunduk, Eusebio bilang: "Saya amat letih seperti habis bertanding!" Tapi tatkala ada Johan Cruijff, warga sana biasa saja. Legenda hidup totaal-voetbal ini malah diserbu wartawan non-Portugal, termasuk aku yang merasa mendapatkan kesempatan superlangka.

Mereka hanya menonton dari kejauhan. Tidak mengejar-ngejarnya seperti kepada Pele dan Eusebio untuk sekedar menyentuhnya atau menyalaminya. Namun kenangan saya pada Portugal adalah menikmati betul bertemu tiga legenda dunia yang di waktu kecil hanya bisa saya lihat dari belahan koran atau cuplikan di televisi: Pele, Cruijff, dan Eusebio!

Lalu apa yang bikin kagum pada persiapan tuan rumah Piala Eropa ke-12 itu? Selain stadion, ada tiga kata: teknologi informasi, akomodasi, dan transportasi. Bisa dibilang ini yang siap pada 193 hari menjelang EURO-2004. Dan buat wartawan, jelas, ini paling melegakan. Mahal menjadi nomor dua, yang penting urusan kerjaan lancar.

Sebagian besar hotel di Portugal baru dibangun dan fasilitasnya canggih. Jauh misalnya dibandingkan dengan di Italia yang renta dan kuno. Beberapa lagi sedang tahap pembangunan. Begitu juga transportasi kota, bus, taksi dan subway. Ini yang mengakibatkan kota Lisboa tampak acak-acakan karena banyak pekerjaan di sana-sini.

(dokumentasi: arief natakusumah)

Tuesday, December 4, 2001

Misteri Penalti Dan Kekalahan Chievo 2-3

Internazionale Milano memang sudah lama tidak rela posisinya diambil Chievo Verona sebagai capoclassifica. Setelah empat pekan membayangi, pada tredicesima giornata, pekan ketigabelas, Ahad (2/12), Christian Vieri dkk. merengkuhnya kembali.
Internazionale Milano memang sudah lama tidak rela posisinya diambil Chievo Verona sebagai Misteri Penalti dan Kekalahan Chievo 2-3
Luigi Del Neri menerima pelajaran mahal.
Bulan Desember, seperti yang sudah-sudah, selalu menjadi waktu penentuan para calon scudetto untuk memantapkan posisinya sebelum D'Inverno - jeda kompetisi di ekspresi dominan dingin. Momentum itu yaitu ambruknya Chievo. Hebatnya kecuali Parma, semuanya sukses. Tapi, paling sukses ya Inter, yang menang tandang 4-2 atas tuan rumah Atalanta.

Inter, yang sempat tertinggal 1-2 hingga 60 menit dan tak lama menyamakan diri melalui rigore yang dilakukan Vieri, secara spektakuler menambah dua gol begitu instruktur Hector Cuper menarik Sergio Conceicao lalu memasukkan Alvaro Recoba. Lewat dua umpan bintang Uruguay ini pada Vieri dan Mohammed Kallon, pasukan Hitam-Biru itu pun berjaya.

Dengan komposisi gres format usang (4-4-2), Cuper menempatkan il capitano Javier Zanetti, Luigi Di Biagio, Oscar Cordoba, dan Vratislav Gresko melapis Francesco Toldo. Namun, dobrakan lini tengah Atalanta yang diotaki Ousmane Dabo (eks Inter) dan Cristiano Doni menciptakan Cristiano Zanetti, Francisco Farinos, Andres Guly, dan Conceicao keteteran.

"Kita bermain harus memakai otak. Kekalahan dari Udinese (di Piala Italia - Red.) yaitu alasannya sikap beberapa pemain yang mencari hasil seri, padahal stamina yang dikeluarkan sama saja besarnya," terperinci Cuper sebelum duel di kota Bergamo yang dijuluki Derby Lombardo, langgar sesama penghuni wilayah (pegunungan) Lombardo itu.

Cuper memang cuma mengkritik para difensas-nya. Tapi mungkin juga para gelandangnya. "Mereka harus percaya pada aku. Contohlah Vieri, Ronaldo, Conceicao, dan Recoba yang mental kemenangannya tinggi. Sayang, jika mereka tak pernah mendapat umpan," seru Cuper, yang hasilnya terpaksa menaruh Recoba di tengah dikala lawan Atalanta.

"Inilah (permainan) Inter bahwasanya. Jika penyerangan lancar, maka duduk perkara kami di pertahanan selama ini akan tertutupi. Atalanta lawan yang tangguh, tapi kami menjawab kritikan tifosi kami dengan permainan menyerang dan penuh improvisasi. Saya selalu yakin Inter masih mampu lebih baik lagi," ucapnya lagi pada Datasport usai tanding.

Merasa Dicurangi

Sayang bergesernya capolista di pekan ini konkretnya diawali balasan ulah arbitri Graziano Cesari. Banyak yang setuju, Milan harusnya kalah 1-2 dari Chievo alasannya dua gol kemenangan yang dibentuk Filippo Inzaghi dan Andriy Shevchenko patut dipertanyakan. 

Begitu teganya Cesari memberi penalti hanya sebab melihat Sheva didorong Eriberto? Dari segi permainan pun, Eugenio Corini cs. mampu meladeni aneka macam agresi pemain Rossoneri. Kalaupun ada yang perlu dikritik untuk pasukan Luigi Del Neri, selama ini, paling cuma kekurang-matangan menjalankan strategi. Chievo terbiasa tampil spartan 90 menit tapi tanpa dibarengi pengaturan ritme. Walhasil mereka sepertinya tak pernah main damai.

"Jika tak ada penalti itu alhasil akan lain. Milan tertinggal dan tertekan. Kami makin nyaman bermain. Wasit terlalu memihak tuan rumah. Padahal dia seharusnya juga memberi dua penalti lagi, satu untuk kami (Martin Laursen yang tertangkap handsball). Tapi, inilah pelajaran mahal lagi, bagaimana mampu menciptakan gol dikala tertekan," kata Del Neri.

Kalau Del Neri menciptakan akreditasi begitu, itu yakni urusan dalam negerinya. Tapi ada torehan fakta yang sungguh gila tapi positif. Tiga kekalahan Chievo selama ini selalu berakhir dengan skor 2-3. Ketiganya dalam partai tandang dan semuanya selalu diderita Chievo lewat hukuman penalti dari tiga wasit yang berbeda!

Dua kekalahan Chievo sebelumnya saat lawan Juventus (16/9) dan Verona (18/11). Saat lawan Juventus, saat skor 2-2, Chievo dieksekusi wasit Cosimo Bolognino dan penalti yang diambil Marcelo Salas di menit 82 membuat mereka kalah. Demikian juga pada derby dengan Verona. Salah satu kekalahan scudetti Serie B trend lalu ini diakibatkan oleh rigore Massimo Oddo di menit ke-40 santunan arbitri Alfredo Trentalange.

"Ketenangan pemain menjadi persoalan kami. Mereka harus tetap berusaha keras. Tertinggal bukannya kalah. Tiga kekalahan itu selalu kami awali dengan penampilan yang baik, tapi diakhiri dengan penampilan baik lawan," sebut Del Neri yang tak mau mengomentari kepemimpinan Cesari alasannya adalah merasa cuma buang energi itu. Perjalanan memang masih jauh, Mister. Tapi jangan sampai empat kali kalah dengan cara, nasib, dan skor yang sama dong!

(foto: ilnumerodieci/rai)

Tuesday, November 27, 2001

Kalahkan Australia 3-0, Uruguay Raih Tiket Terakhir Ke Korea-Jepang 2002

Darah dan air mata hasilnya mewarnai langkah sensasional Uruguay ke Piala Dunia 2002. Perjuangan melelahkan, menegangkan, dan memakan urat syaraf itu hasilnya berakhir. Juara dunia 1930 dan 1950 ini memenuhi janjinya untuk lolos ke Korea-Jepang.

Darah dan air mata akhirnya mewarnai langkah sensasional Uruguay ke Piala Dunia  Kalahkan Australia 3-0, Uruguay Raih Tiket Terakhir Ke Korea-Jepang 2002
Tak syak lagi, hari Minggu (25/ 11) waktu setempat yaitu hari terbaik di tahun ini bagi rakyat Uruguay. Dari presiden hingga rakyat jelata pasti merasa bergembira. Baru pada perhelatan terakhir, partai ke-778 babak kualifikasi Piala Dunia 2002, mereka bisa bernapas lega.

Janji Alvaro Recoba, yang terlihat sangat meremehkan Australia, rupanya benar-benar dipenuhinya. Dia ialah bintang lapangan, pahlawan nasional Uruguay ketika itu selain substitute Richard Morales dan bomber klub Malaga (Spanyol), Dario Silva. Dua assist pemain FC Internazionale Milano ini telah merontokkan ketakutan seluruh negeri akhir kekalahan 0-1 pada adu pertama di Melbourne. "Kami akan mengalahkan Australia di Montevideo," ucap Recoba usai kekalahan pertemuan pertama yang sekarang terbukti.

Baru 14 menit. Centenario terasa pecah oleh pekikan sekitar 68.000 penonton saat umpan Gianni Guigou, bek yang bermain di AS Roma, dimanfaatkan Dario Silva. Meski sudah unggul, terlihat banyak ketegangan yang melanda pasukan Victor Pua ini. Beberapa kesalahan tak perlu nyaris dimanfaatkan para pemain Aussie.

Akibat gencarnya tekanan lawan lewat bola-bola atas menuju Mark Viduka, kepala bek Uruguay Mario Regueiro sampai mengocorkan darah balasan benturan dengan bomber bertubuh besar itu. Duel memang berlangsung keras sehingga wasit Ali Bujsaim (UEA) mengeluarkan tujuh kartu kuning, 6 di antaranya buat tuan rumah yang meladeni permainan fisik belum dewasa Australia.

Mengingat skor 1-0 belum aman, di babak kedua titah Pua untuk memaksimalkan serangan sayap membuahkan hasil. Keputusannya memasukan Morales, dengan menarik Federico Magallanes, ternyata sempurna. Hebatnya, dua gol Morales di menit ke-70 dan 90 ialah berkat penetrasi yang dilakukan Recoba.

Bagi Australia, ini merupakan kegagalan keempat, tiga diantaranya beruntun setelah tahun 1997 (1-1 dan 2-2 vs Iran), 1994 (0-0 dan 1-1 vs Argentina), serta 1986 (0-0 dan 1-1 vs Skotlandia). Pelecehan yang diderita para pemain Socceroos ketika tiba pertama kali di bandara serta diremehkan Recoba cs. seolah semakin menyakitkan dengan hasil ini.


Menit Per Menit

00' Kick-off oleh Kewell-Viduka
01' Australia pribadi menyerang, tendangan Viduka melebar
03' Sepak pojok Uruguay, tendangan Recoba dihalau Vidmar
05' Umpan sundulan Moore ke Kewell, tapi diamankan Rodriguez
06' Umpan silang Dario Silva dari kiri, diamankan Murphy
08' Tendangan Recoba dari jarak 30 meter: melebar
11' Umpan jarak jauh Santos tak bisa digapai Magallanes
14' Umpan menusuk Guigous ke Dario Silva di kiri: dengan sekali liukkan, beliau menembak menyilang ke gawang Schwarzer: Gol! 1-0
16' Recoba dilanggar di sayap kiri; tendangan bebasnya dari jarak 40 meter melayang di atas gawang
22' Tendangan bebas Kewell: bola melayang tipis di atas mistar
24' Aksi individu Regueiro: bola melewatl kiper, namun Murphy menyelamatkan di bawah gawang
31' Kartu kuning bagi Muscat, alasannya adalah melanggar Regueiro
33' Tendangan bebas, umpannya ke Dario Silva diantisipasi Murphy
35' Clash antara Kewell dan Montero. Tendangan bebas untuk Australia: sepakan Kewell membentur mistar
37' Magallanes putar posisi dengan Dario Silva: dari sayap kiri ke kanan
38' Kartu kuning buat Regueiro akibat protes
41' Muscat melanggar Regueiro: wasit tidak meniup peluit
42' Dan kin, Recoba melaju melewati Moore: umpannya ke Dario Silva di depan gawang diamankan Vidmar
43' Kepala Regueiro mengeluarkan darah dan digotong ke pinggir lapangan
44' Sundulan Kewell dimanfaatkan Skoko, namun terkena badan Montero
46' Sundulan Moore meleset, bola ditendang Magallanes lalu diblok Schwarzer
47' Tendangan spekulasi Kewell ditangkap Carini tanpa kesulitan
46' Wasit Ali Bujsaim meniup panjang peluitnya, simpulan babak pertama
49' Muscat menyikut Dario Silva: wasit tak melihat
50' Murphy mencuri bola dari Magallanes, umpannya ke Viduka dihentikan Montero
57' Tendangan jarak jauh Viduka diblok Carini
64' Cross Skoko disambut Viduka oieh sundulan, bola tipis di atas mistar
65' Morales masuk menggantikan Magallanes
70' Tendangan bebas Recoba disambut sundulan Morales: Gol! 2-0
73' Agostino masuk: Muscat keluar
74' Sorondo masuk: Regueiro keluar
79' Tendangan penjuru Emerton disundul Kewell, ditip Carini
82' Kartu kuning untuk Dario Silva
83' Aloisi masuk: Murphy keluar
87' Peluang Kewell, umpan dari Agostino diamankan Carini
88' Umpan Kewell; rekannya tak ada yang menyambut
90' Penetrasi Recoba ke kotak penalti, disambut sontekan Morales. Gol! 3-0
92' Pemain-pemain Uruguay dilanda kegembiraan. Morales terlihat menangis
94' Permainan masih berjalan, namun kedua tim tampaknya sudah menurunkan tempo
96' Wasit Ali Bujsaim meniup peluit tamat. Uruguay lolos ke Korea-Jepang 2002!

Data Fakta


URUGUAY vs AUSTRALIA 3-0

Waktu: Minggu 25 November 2001
Tempat: Estadio Centenario, Montevideo
Penonton: 68.000
Wasit: Ali Bujsaim (UEA)
Gol: Dario Silva 14, Richard Morales 70, 90
Kartu Kuning: Mario Regueiro 39, Pablo Garcia 67, Richard Morales 71. Gonzalo Santos 81, Dario Silva 83, Fabian Carini 90; Kevin Muscat 32.
Uruguay (3-4-1-2): 1-Fabian Carini; 2-Washington Tais, 3-Alejandro Lembo, 4-Paolo Montero; 6-Dario Rodriguez, 7-Gianni Guigou, S-Pablo Garcia, 9-Dario Silva (14-Gonzalo Sorondo 78); 11-Federico Magallanes (18-Richard Morales 65); 15-Mario Regueiro (8-Gonzalo Santos 75), 20-Alvaro Recoba. Pelatih: Victor Pua.
Australia (4-4-2): 1-Mark Schwarzer; 2-Kevin Muscat (10-Paul Agostino 73), 3-Craig Moore, 14-Shaun Murphy (21-John Aloisi 87), 5-Tony Vidmar; 7-Brett Emerton, 4-Paul Okon, 8-Josip Skoko, 11-Stan Lazaridis; 9-Mark Viduka, 10-Harry Kewel. Pelatih: Frank Farina.

(foto: efectofutbol.net/reuters)

Friday, November 9, 2001

Luiz Nazario De Lima Ronaldo: Kehebatannya Terganjal Gaya Hidup

Meminjam istilah dari teori evolusi Charles Darwin, ternyata rantai yang terputus (missing link) juga berlaku di blantika sepak bola modern. Selama hampir dua dekade (1958-1970) dunia menikmati atraksi seorang Dos Nascimento de Araujo alias Pele. Hanya vakum selama satu dekade, kemudian muncul seseorang yang ditakdirkan Tuhan sebagai penghibur dunia melalui kemilau dan keindahan olah kakinya. Tak syak lagi, dialah Diego Maradona (1979-1994).  

Meminjam istilah dari teori evolusi Charles Darwin Luiz Nazario De Lima Ronaldo: Kehebatannya Terganjal Gaya HidupKekhawatiran penikmat sepak bola menunggu usang lahirnya sang penerus, sempat sirna begitu nongol lagi seorang putra dari tanah Amazone yang lahir di Bento Ribeiro 22 September 1976. Namanya sesuai akte kelahiran: Luiz Nazario de Lima, yang beken dikenal dengan Ronaldo. Dunia lantas memvonis inilah sang putra mahkota, missing link yang telah lama dinantikan-tunggu di sepak bola! 

Rakyat Indonesia beruntung, alasannya adalah jadi masyarakat pertama di dunia yang melihat aksinya sebelum dia berkiprah di PSV Eindhoven selama dua musim. Viva futebol, penerus Pele dan Maradona telah lahir! Setelah transfernya dari Cruzeiro ke PSV Eindhoven di awal animo 1994/95 berjalan mulus. Saat itulah belalakan mata mulai terus menerpa dirinya. 

Bermain di Belanda, di bawah bimbingan instruktur gaek yang disebut sebagai kakeknya, Bobby Robson, pemain yang memulai debut di Selecao pada 4 Mei 1994 (vs Islandia) ini menemukan kurun-era pembentukan dirinya. "Bak menggosok intan berlumpur. Harus hati-hati, kalau salah justru merusaknya," tutur orang Eropa pertama penggembleng Ronaldo yang sekarang melatih Newcastle United itu.

Seperti orang dusun masuk kota, begitu menggambarkan kiprah awal Si Fenomena di Liga Belanda. Hanya sekali mangkir selama semusim, itupun alasannya adalah kena flu, Ronaldo membuat decak kagum seluruh negeri Belanda. Ia menjaringkan 30 gol dari 33 laga. Di isu terkini berikut, cerita sensasionalnya mulai meredup seiring dengan cedera dan perilaku-perilaku kampungan, yang aslinya, mulai keluar. Manajemen PSV mulai kelimpungan, apalagi setelah Robson pergi digaet Barcelona.

Kontras, cuma 13 kali main, meski ketajaman tetap yahud dengan 12 golnya, instruktur baru PSV yang populer streng, Dick Advocaat kentara sekali tidak menyukai perilaku liarnya. Sebagai bintang, tindakan Ronaldo, jelas, agak diberi keleluasaan; seperti halnya dia memacari Erica Arnesen, putri manajer tim PSV yang asal Denmark, Frank Arnesen. Namun bila sudah melanggar budbahasa profesional, misalnya telat datang ketika latihan, bekas pelatih Belanda di Piala Dunia 1994 itu sangat tidak mentolerirnya.

Gaya Hidupnya

Meminjam istilah dari teori evolusi Charles Darwin Luiz Nazario De Lima Ronaldo: Kehebatannya Terganjal Gaya HidupHubungan Ronaldo dan Advocaat memang cuma berlangsung di atas lapangan. Ancaman laten inilah yang membuat kekerabatan antar mereka usang-usang mengalami friksi tajam. Komunikasi semakin terbatas. Hal tersebut mungkin juga alasannya adalah hingga saat itu Ronaldo tak bisa ngomong Belanda atau Inggris. Selalu ada orang ketiga yang menjadi perantara dalam komunikasi, Nilton File Petrone, yang pernah menangani Romario Faria. Puncak kesabaran PSV pada Ronaldo terjadi pada isu terkini 1995/96 tatkala klub milik perusahaan listrik Philips ini kehilangan gelar sebagai juara Eredivisie.

Menurut beberapa sumber di tim berkaos strip merah tersebut, salah satu kelemahan Ronaldo adalah tidak ada perjuangan untuk meningkatkan intelektualnya. Katakanlah membaca, berguru serius bahasa asing atau. Ironisnya itu justru berkebalikan dengan sejumlah pemain pribumi PSV macam Philip Cocu, Boudewijn Zenden, Stan Valckx atau Arthur Numan yang terlihat kutu buku. "Ia lebih menyukai gaya hidup yang memanjakan diri," sebut seorang legiun PSV yang juga pemain nasional Belanda kala itu, tanpa mau memerincinya lebih jauh.

Padahal banyak yang telah didapatkan Ronaldo di PSV dan kompetisi Eredivisie. Dari segi mental, beliau mencicipi pergaulan internasional, tempaan diri dengan disiplin tinggi, profesionalisme. Lalu dari segi fisik, selain badannya jadi gempal, tentunya berkat asupan gizi dan fitness teratur khas klub Eropa, tinggi Ronaldo juga mengalami kenaikan luar biasa. Waktu tiba, tingginya 179 cm dan berat 75 kg, kemudian selang setahun telah menjadi 183 cm dan 80 kg. Yang pasti lagi, duitnya juga banyak!

Meminjam istilah dari teori evolusi Charles Darwin Luiz Nazario De Lima Ronaldo: Kehebatannya Terganjal Gaya Hidup
Meski demikian, hebatnya, pihak PSV bisa menutupi negativitas Ronaldo sehingga harga jualnya ke Barcelona justru melambung jauh dibanding ketika menciduknya dari Cruzeiro. Si gigi kelinci ini dibandrol 20 juta dolar AS demi mengimbangi hasrat Josep Luiz Nunez, yang muncul berkat gosokan pelatih El Barca; Bobby Robson! Sentuhan Midas kembali dibentuk sang opa, yang punya ajudan jenius dari Portugal bernama Jose Mourinho, serta lewat jasa Ronaldo, Barcelona diantarnya menjuarai La Liga ke-14 kalinya di trend 1996/97.  

Meminjam istilah dari teori evolusi Charles Darwin Luiz Nazario De Lima Ronaldo: Kehebatannya Terganjal Gaya HidupWalau cuma semusim di Barcelona, dampak Ronaldo sangat mumpuni di masyarakat Spanyol. Gol gilanya melawan Compostella, dari garis tengah ia melewati seluruh pemain lawan, sontak mencuatkan hegemoni Ronaldomania. Sekali tampil di La Liga, 37 kali main dengan tabungan 34 gol, Ronaldo langsung menyabet gelar El Pichichi alias Raja Gol! Namun akibat nafsu duniawinya, membuat Ronaldo terserabut dari Barcelona. Bermula dari ingin gajinya dinaikkan menjadi 4 miliar pesetas atau sekitar 27 juta dolar AS setahun, dan ini diprotes administrasi klub, Ronaldo merasa bahwa gelar juara La Liga, lalu Piala Winner Eropa cukup pantas buat kompensasi yang telah dikontribusikan untuk Barca. 

Protes Baggio

Polemik terus terjadi hingga tiba usulan menggiurkan dari FC Internazionale Milano, yang risikonya mengubah segalanya. Dengan angka tertera 27 juta dolar AS, Barcelona oke menjual maestronya itu daripada melarat untuk membayar honor tahunannya. Di Inter inilah, keluarga Ronaldo mendapat kenikmatan duniawinya. Itu dikarenakan semua klausul dari ekstra kontraknya hampir disetujui taipan minyak Massimo Moratti, capo di cappi tutti (bos dari segala bos) klub berjuluk Nerazzurri tersebut. 

Rumah luks, kendaraan beroda empat mewah, uang berlimpah menciptakan Ronaldo mampu menyeimbangkan kepintarannya bermain bola dengan kini, bermain angka-angka, alias memutar uang! Saham Pirelli dibelinya dan cewek bulenya, Susana Werner, diberikan rumah mode untuk kesibukannya di Italia.

Bagaimana perannya di lapangan hijau? Ronaldo tak lupa sama akarnya. Ia memperlihatkan yang terbaik untuk Inter. Aksinya selalu ditunggu khalayak Interisti, terutama di San Siro yang selalu hampir full-house jikalau Inter mendapatkan tamu-tamu Serie A-nya. Mulai dari Luigi Simoni, Luciano Castellini, Roy Hodgson hingga Mircea Lucescu dan Marcello Lippi kemudian kesannya Marco Tardelli, seakan tak ada allenatore yang mampu menyentuhnya. Kecuali Roberto Baggio. Protagonis numero uno Italia itu paling kritis terhadap Ronaldo. Persaingan pribadi? Mungkin saja.

Fakta bahwa Ronaldo banyak yang membela adalah soal nomor punggung. Ketika baru masuk beliau memang menggunakan nomor 10. Nomor 9 masih milik Ivan Zamorano. Tatkala Roberto Baggio bergabung lalu meminta nomor 10, serta merta Ronaldo sukses bisa 'merampas' nomor milik Zamorano. Yang belakangan ini bahu-membahu murka, namun akalnya masih ada di mana dia akibatnya memakai nomor 18 meski ditulisnya 1+8 yang berarti 9. Sepintas, ia tidak rela nomornya dirampas.

"Biarkan, dia masih muda dan ingat, beliau aset kita yang paling berharga sekarang ini. Bukan saja di atas lapangan, tapi juga pengaruh ke luar," demikian ucapan Moratti yang seolah menuntaskan semua polemik. Akhirnya sejarah memang menerangkan, justru Baggio yang terlempar dari Inter. Juga Youri Djorkaeff. Banyak yang bilang, dikala itulah puncak kejayaan Ronaldo.

Meminjam istilah dari teori evolusi Charles Darwin Luiz Nazario De Lima Ronaldo: Kehebatannya Terganjal Gaya HidupUsai ekspresi dominan 1997/98, di mana Inter kalah bersaing dengan Juventus di final-akhir kompetisi, Ronaldo terlihat kecewa. Hal ini masih terbawa dikala membela Brasil di Piala Dunia 1998. Tekanan psikis jadi penyerang terbaik dunia tapi sibuk secara pribadi, jadwal latihan, jadwal tanding yang padat serta melakoni hobi-hobinya, menciptakan beliau tak siap mengarungi France '98. Puncaknya malah terjadi jelang final melawan Prancis. Tiba-tiba saja dia terkena serangan penyakit misterius. Ada yang bilang sindroma epilepsi, ada yang mengatakan dia keracunan kuliner (karena masih hobi makan yummy). 

Banyak pula yang menerka beliau terkena stres dan depresi berat akhir tekanan hidup yummy. Ini cukup mengherankan mengingat dia sebelumnya tak pernah mengalaminya. Garis keturunan, jikalau bisa dibilang, mungkin ada mengingat ayahnya dulu pecandu berat alkohol. Tapi Ronaldo tak suka minuman keras. Ia cuma penggemar hidup lezat. Seperti halnya pemain-pemain dari Amerika Latin atau negara-negara dunia ketiga, perilaku profesional sebagai pesepak bola memang mudah terserabut.

Dari hari ke hari, tubuhnya semakin tambun dan pinggulnya semakin lebar dan berlemak. Ketika dipaksakan, dia memang masih mampu bergerak cepat, namun otot-otot kakinya tak berpengaruh menahan beban tubuhnya. Ia jadi sering cedera. Final Piala UEFA 1997/98 yaitu ketika terakhir kali orang menyaksikan kehebatannya. Di tamat ia membawa Inter memukul Lazio 3-0 di Parc Des Princess, Paris.

Di ekspresi dominan 1998/99, kans Ronaldo, yang ketika itu sudah menjadi kapten gres Inter menggeser Javier Zanetti, turun ke lapangan cuma berkisar 50:50. Kalau tak cedera, alasan lainnya adalah perlu istirahat (sindrom Piala Dunia masih menghantuinya). Padahal urusan pribadinya, semisal percintaannya dengan Susana si model iklan, banyak menyita waktu dan acara profesionalnya.

Penampilan cuma 19 kali di lapangan, alasannya faktor pembelaan tadi, menunjukan bahwa sinar sang bintang mulai tak terperinci lagi. Pembelaan untuk Ronaldo datang lagi, begitu Inter membeli Christian Vieri. Padahal produktivitas gol Ronaldo tetap saja tajam, 14 gol. Dan dia pun memberi bantuan terciptanya gelar juara bagi Brasil di Copa America 1999.

Lebih Dewasa

Waktu terus berjalan. Di demam isu 1999/2000, alasannya adalah masih adanya Ronaldo, Inter tetap masuk bursa scudetto. Apalagi instruktur Inter saat itu ialah Marcello Lippi, salah satu allenatore terbaik di Italia. Namun aneka aktivitas yang menyita waktu dan enerjinya tetap dilakoninya. Ia terbang dari Milano ke Kosovo untuk acara amal kemudian lanjut ke Rio De Janeiro pergi pulang belasan kali demi mengunjungi usahanya di Brasil.

Meminjam istilah dari teori evolusi Charles Darwin Luiz Nazario De Lima Ronaldo: Kehebatannya Terganjal Gaya HidupBermula dari keluhan di sekitar engkelnya, pada November 1999, cederanya kian usang kian serius. Waktu melawan Lecce, ia sampai dua kali menghentikan bola yang dikuasainya. Lutut kanan serta ototnya mulai koyak-koyak. Tak lama lalu dia terbang ke Paris menemui Profesor Saillant. Vonis sang dokter hebat tulang ternama itu memberi angka 4 bulan untuk istirahat.
Kesempatan ini dipakai Ronaldo untuk mengawini Milene, cewek barunya yang telah hamil itu. Pada 6 April 2000, Ronald, putranya itu lahir. Lalu di 12 April 2000, terjadilah insiden yang tak terlupakan sepanjang abad buat Ronaldo termasuk seluruh pemirsa sepak bola. Di selesai pertama Coppa Italia melawan Lazio, sehabis Profesor Saillant memberi rekomendasinya, Ronaldo dimainkan Lippi sesudah menarik keluar Adrian Mutu. 

Di bawah kegemukan tubuhnya, dia mulai berlari, berlari dan terus bergerak. Ia sengaja diposisikan sebagai gelandang. Seisi Olimpico memberi aplaus dan anehnya, banyak pemain Lazio yang enggan meng-counter-nya, hingga kesannya dia limbung sendiri, terjatuh dan menggelepar-gelepar sembari menjerit-jerit kesakitan. Terlihat tempurung lutut kanannya menonjol dan nyaris copot. Astaga! Hebohnya, ini terjadi pada putra mahkota sepak bola.

Sebelum tragedi itu muncul, sebuah sepakan dari belakang yang dilakukan Fernando Couto mengenai kaki Ronaldo. Setelah 6 menit, mirip biasanya ia selalu punya peluang untuk membobol gawang lawan, pada dirinya Ronaldo seperti mendengar bisikan "Terus Ronaldo! Terus Ronaldo, kamu mampu!", dan seluruh bek serta kiper Lazio mulai ngeri hingga akhirnya peristiwa itu terjadi.

Istirahat panjang kembali dilakoni Ronaldo. Apa saja yang dilakukannya? "Merenungi perjalanan hidup saya. Sepak bola itu bisa menjadi cerita indah jika kita ikut bermain di dalamnya. Saya ingin anak saya melihat ayahnya bermain bola, bukan dari cerita-dongeng, tapi pribadi," ucap lelaki plontos ini.

Selama setahun Ronaldo tak pernah menggunakan kaos biru-Hitam dan nomor 9 miliknya. Ia hanya cuma berlatih dan berlatih. Namun di bawah instruktur gres Hector Raul Cuper, sinar redup itu sepertinya mulai tersingkap. Ia dimainkan lagi ketika Inter tampil di Piala UEFA. Lalu, bukannya kebetulan, ketika beliau turun bermain lagi melawan Lecce di Serie A, 4 November 2001, meski hanya 13 menit.

Harapan melihat Ronaldo tampil utuh mirip sedia era, memang masih menunggu waktu lama. Tapi paling tidak, penampilannya sudah mampu dinikmati tak lama lagi. Masuknya Inter di jajaran atas Serie A trend 2001/02, telah menyemangati dirinya untuk menawarkan sumbangsihnya: agresi-aksi menawan dan gol-gol spektakulernya. Ya, dibutuhkan sekian waktu untuk menandakan bahwa dia memang pantas disebut sebagai penerus Maradona dan Pele.


SERBANEKA RONALDO

→ Jika Pele dan Diego Maradona dengan nomor 10, beliau mengidentikan dirinya dengan nomor 9 

→ Merupakan penyerang paling sensasional ketika ini di dunia, baik dari segi teknikal maupun fisikal. Secara atletis, beliau juga punya kecepatan luar biasa dalam menggiring dan mengolah bola serta membuat gol. Jika dalam kondisi top, tak seorang pun yang bisa menghentikannya. 

→ Tinggal di Milano, berkediaman bersahabat Stadion San Siro, bersama istrinya Milene dan putra semata wayangnya, Ronald, serta sang ibu, Sonia. 

→ Panggilan Ronaldo pertama kali diberikan oleh adik terkecilnya, Nelinho. Ketika masih bocah ia sering dipanggil "Dadado..Dadado" yang akibatnya berubah menjadi menjadi Ronaldo. 

→ Pemain yang paling diidolakannya berasal dari Brasil juga, adalah Arthur Antunes Coimbra alias Zico, yang pernah merumput di Serie A bersama Udinese. 

→ Seperti juga Gabriel Omar Batistuta, salah satu hobinya menonton dan berkecimpung dalam Formula 1. Ia berafiliasi baik dengan pembalap top Ferrari, juara dunia Michael Schumacher. 

→ Pada tahun 1990, beliau pernah dicampakkan Flamengo, ketika menjalani tes pertama kali masuk ke klub sepakbola. Persoalannya sepele dan bukan persoalan teknis; Ronaldo tetap ngotot tinggal di Bento Ribeiro yang jikalau ingin latihan harus menggunakan bus pulang pergi setiap hari ke Rio de Janeiro; sementara klub top Brasil itu tak memberi ongkos transportasi. 

→ Ketika main di Sao Cristovao, seorang pemandu bakat Cruzeiro menyaksikannya dan berkomentar "Benar usianya 16 tahun? Kok, beliau tidak mau menendang bola?" 

→ Banyak yang bilang, dia mirip titisannya Jairzinho; yang lebih banyak menggiring bola ketimbang menendangnya 

→ Waktu bawah umur tubuhnya tinggi dan begitu kurus; bukan alasannya adalah kurang makan 

→ Makanan favoritnya nasi dan ikan, dan juga kentang goreng 

→ Sikap utamanya hening, sopan dan respek terhadap orang. Terlalu pendiam untuk orang yang gres dikenalnya. Tapi kalau di rumah beliau bahagia bergurau, bercanda dengan ucapan dan wajahnya yang dibikin lucu. 

→ Sepanjang kariernya sampai kini, dia meraih 5 prestasi puncak; Juara Piala Brasil 1993, Juara Dunia 1994, Juara Liga Belanda 1995/96, Juara Belanda 1995/1996, Juara Piala Winner 1996/97, Juara Spanyol 1996/97, Juara Piala UEFA 1997/98, Juara Piala Amerika 1999. 

→ Juga masuk nominasi sebagai Pemain Terbaik Dunia 1996, 1997 dan 1998, namun yang baru dimenangkannya ialah Golden Ball 1997. 

→ Di Piala Dunia 1998, dia memenangkan gelar hiburan; penyerang terbaik selama kejuaraan 

→ Sepanjang 6 musimnya di Liga Eropa, dia telah mencetak 118 gol dalam 114 pertandingan, dengan rata-rata 4 gol setiap 5 pertandingan, yang menjadikannya salah satu penyerang terbaik sepanjang kala

DATA DIRI

Nama Lengkap: Luiz Nazario De Lima Ronaldo
Lahir: Bento Ribeiro, 22 September 1976
Tinggi: 183 cm
Berat: 82 kg
Posisi: Penyerang
Negara: Brasil
Ayah: Nelio Nazario de Lima
Ibu: Sonia dos Santos Barata

(foto: interfc/barcafan/sportnaluzi/youtube/dailymotion)

Monday, November 5, 2001

Chievo Punya Ambisi Unik

Bisa jadi ini sebuah anti-teori terkini dalam sejarah Serie A di abad milenium gres. Mau dibilang cuma kebetulan, terserah. Mau dianggap beruntung juga no problemo. Nyatanya tanpa tradisi dan khayalan, Chievo terus meluncur dan mantap menggenggam capolista, pimpinan klasemen, selama tiga pekan terakhir!
teori terkini dalam sejarah Serie A di era milenium baru Chievo Punya Ambisi Unik
Kegembiraan tiga pekan dibentuk oleh Chievo.
Berlaga di sangkar sendiri, Stadio Mario Antonio Bentegodi di kota Verona, Scudetti Serie B 2000/01 itu sukses melindas Perugia 2-0 lewat gol penalti playmaker Eugenio Corini (27) dan sundulan sweeper Lorenzo D'Anna (77). Bentrok kedua tim dilaporkan berjalan sengit, keras menjurus brutal, dipenuhi protes dan hujan kartu. 

Tak heran jika arbitri Stefano Braschi dipaksa kerja keras termasuk sering tubruk urat leher dengan pemain kedua tim. Jalannya pertandingan datang-datang jadi keras cenderung main kayu memasuki menit ke-15 dikala Marco Di Loretto menghantam sayap kanan Chievo, Eriberto Da Silva. Oleh wasit terbaik Serie A Italia tersebut, bek Perugia itu kontan diganjar kartu kuning.

Setelah itu, dalam era waktu 15 menit ke depan, Braschi lagi-lagi merogoh kantongnya untuk memvonis D'Anna dan Simone Perrotta serta Salvatore Monaco (Perugia) dengan kartu kuning, serta espulsi buat gelandang Perugia asal Argentina, Claudio Martin Paris, sebab menghajar dari belakang Federico Cossato di dalam kotak penalti. Suasana kian panas usai penalti Corini sukses menembus gawang Andrea Mazzantini.

Di menit ke-36 dan 38, Braschi kembali menghukum dua pemain tamu Davide Baiocco (kartu kuning) dan Monaco (kartu merah). Urusan kelihatannya bakal runyam sebab kedua pelatih mulai berteriak protes dari pinggir lapangan. Pelatih Perugia Serse Cosmi, yang dikenal sangat temperamental, langsung mencak-mencak melihat kartu merah untuk Monaco.

"Sulit mempercayai dua vonis Braschi dalam waktu berdekatan," ucap Cosmi, yang oleh beberapa wartawan lokal diacungi jempol alasannya adalah taktiknya sukses membendung lawan walau timnya bersisa 9 pemain. "Anda 'kan mampu lihat, Cossato tak berpeluang mencetak gol. Makara tak ada alasan Braschi memberi kartu merah Paris," tambahnya dalam jumpa pers usai pertandingan.

Ambisi Bertahan

Keputusan Braschi atau pendapat Cosmi justru dibenarkan oleh gelandang Chievo, Christian Manfredini. "Saya pikir Braschi tidak perlu memberi penalti serta mengusir Paris atau mengeluarkan Monaco," sebut Manfredini apa adanya. Sayang, tidak ada komentar dari Braschi alasannya adalah memang wasit tidak diwajibkan menghadiri jumpa pers. Keunggulan kubu tuan rumah dipertegas ketika mereka menambah golnya di 10 menit terakhir.

Assist Manfredini dari sayap kiri disambut pas oleh sundulan D'Anna yang maju ke depan. Skor 2-0 tak berubah hingga 3 menit tambahan waktu di tamat babak kedua. Hasil itu disambut sukacita oleh allenatore Chievo, Luigi Del Neri. "Dengan sembilan pemain, Perugia justru bermain anggun. Kami jadi terlihat ndeso dan merasa dipermainkan. Tapi hasil ini secara objektif makin menyelamatkan kami dari zona degradasi. Itu yang terpenting," papar Del Neri rada hiperbola usai pertandingan.

Memang, meski faktanya memimpin klasemen sementara Serie A ekspresi dominan 2001-02, namun semenjak semula Del Neri selalu menyampaikan bahwa sasaran Chievo animo ini cuma bertahan di Serie A alias jangan hingga kena degradasi ke Serie B. Ajaibnya, hal itu terus diamini oleh para pemainnya, termasuk bos Chievo. Luigi Campedelli, serta tifosi setia mereka.

Secara psikologis hal ini sangat positif. Gialloblu selalu bermain lepas tanpa beban atau tekanan. Bagaimana pekan ke depan? Setelah 11 pekan, ketangguhan Chievo sekarang tinggal diuji oleh tiga favorit Serie A animo ini, AC Milan (tandang) pada pekan ke-12, Inter (kandang, 16/12) dan Roma (tandang, 23/12). Milan, yang di dua duelnya ke depan akan main di San Siro, sukses membekuk tuan rumah Parma melalui gol emas Filippo Inzaghi. Demikian pula Roma yang menang 3-1 atas tuan rumah Bologna di Renato Dall'Ara.

"Obsesi kami tetap bertahan di Serie A, meski kesempatan untuk bersaing tetap terbuka. Namun. yang lebih aku pikirkan ialah bagaimana bermain menyerang dan menyerang. Ini terlihat lebih realistis buat kami, terserah orang menganggap kami apa," ungkap Eriberto, gelandang asal Brasil yang pernah membela Bologna seolah menyepakati ucapan pelatihnya.

(foto: gazzetta)