Sunday, March 22, 2015

Penurunan Kualitas Serangan Arsenal

Arsene Wenger sangat keras kepala untuk menggantungkan hidupnya pada filosofi, apapun itu termasuk soal mazhab sepak bola yang dianutnya. Dia tidak pernah takut mengungkapkan semua yang ada di benaknya tentang kehidupan, ihwal permainan. Keyakinannya adalah tiada martabat tertinggi di permainan terindah itu selain tampil menyerang, menyerang, dan menyerang.
Arsene Wenger sangat keras kepala untuk menggantungkan hidupnya pada filosofi Penurunan Kualitas Serangan Arsenal
Perhatikan kualitas yang dimiliki Arsenal pada ekspresi dominan ini.
Sejak itu kata Forward pun dijadikan jargon lain klub bersanding dengan Victoria Concordia Crescit. Sejarah telah menuliskan dialah penggusur gaya traktor warisan George Graham, - boring boring Arsenal - tatkala resmi memasuki pintu gerbang Highbury. Ia peletak dasar seni permainan menyerang, memodernkan klub tanpa harus menghilangkan identitas atau tradisinya.

"Tak seorang pun yang dikontrak di klub ini tanpa persetujuan saya!" inilah kalimat kedua yang diucapkan Le Professeur di hadapan para eksekutif dan pemilik klub yang terletak di wilayah Holloway, London Utara, pada hari Senin 30 September 1996. Ucapan ini merupakan sinyal awal dia akan membangun konsep permainan.

Titah Wenger yang pertama, ketika itu pada David Dein dan Ken Friar (wakil presiden dan administrator klub): "Sekarang aku menginginkan transfer pemain gres. Saya tidak mau buang-buang waktu berdebat soal keuangan klub dan gaji mereka. Saya akan memberi saran siapa yang kita harus pilih, pemain yang sempurna untuk waktu yang tepat".

"Saya mempunyai kekuatan teknis atas pemain-pemain baru tapi tidak berkecimpung dalam penyelesaian soal keuangan klub. Yang paling penting dari itu semua yakni tidak satupun pemain yang terlibat dengan Arsenal tanpa persetujuan aku. Ini hal sakral," imbuhnya tegas. Uniknya, hal ini terjadi sebelum beliau dipilih resmi menjadi manajer Arsenal.

Saat mengepak koper-kopernya di Nagoya untuk siap-siap terbang ke London, Wenger telah meng-order pada Arsenal untuk segera mengamankan dan menciduk Remy Garde dan Patrick Vieira, yang ironisnya ialah dua pemain bertahan. Hanya dalam hitungan hari, Dein pun mengumumkan Arsenal telah mengontrak kedua pemain yang sama sekali tak dikenal pers Inggris itu dengan biaya 4 juta pound.

Orang bertanya-tanya, apa maksud semua ini? Bukankah Arsenal mempunyai Five Companions untuk pelapis gawang David Seaman - Tony Adams, Steve Bould, Martin Keown, Lee Dixon, Nigel Winterburn - yang sangat berkilau? Betul. Walau diisi Paul Merson, Ray Parlour dan David Platt, lini tengah Arsenal kadang masa menjadi sansak di hadapan tim-berpengaruh kuat alasannya adalah tidak punya jangkar.
Arsene Wenger sangat keras kepala untuk menggantungkan hidupnya pada filosofi Penurunan Kualitas Serangan Arsenal
Tanpa pertahanan mumpuni, konsep Arsenal Way gagal melulu.
Permainan Arsenal mirip poker. Kadang ahli, tak jarang pula loyo. Duet Dennis Bergkamp dan Ian Wright keseringan tidak mendapat suplai sebab lini tengah yang mudah bolong. Efek lebih angker terjadi pada Adams, Bould, atau Keown yang kerap bergantian cedera akhir mendapatkan tekanan bertubi-tubi. Lini tengah Arsenal tidak pernah stabil untuk konsep permainan menyerang.

Itulah kenapa Vieira didatangkan Wenger, dengan Garde menjadi pelapisnya termasuk untuk cadangan tiga bek tengah. Seperti diduga, korban pun berjatuhan. Merson dan Platt tersingkir. Ini adalah proses awal transisi permainan pragmatis warisan Graham menuju ofensif murni. Setelah enam bulan menjalani musim pertamanya, 1996/97, Wenger menjalankan bab kedua misinya.

Di bursa transfer ekspresi dominan acuh taacuh, Wenger kembali bikin termenung para administrator klub, juga fan, ketika mendatangkan Nicolas Anelka, 18 tahun, seorang Mike Tyson di sepak bola. Apa maksud beliau memungut anak jalanan yang belum usang dibina Paris Saint-Germain itu? Dengan tubuh yang berpengaruh tinggi dan cepat, Anelka difungsikan untuk menambah pergerakan dan rotasi di lini depan.

Sebelum abad Wenger, Arsenal bergotong-royong punya duet striker top pada sosok Ian Wright dan John Hartson. Wright bertipe finisher yang kelihaiannya bikin gol di dalam kotak penalti. Sedangkan Hartson difungsikan menjadi catu daya bagi Wright melalui banyak sekali flick-nya. Jelas terlihat gaya klasik Inggris yang menjiwai seluruh aspek serangan Arsenal.

Adapun tipikal Bergkamp ialah attacking-midfielder, playmaker, atau second-striker yang kinerjanya kerap tambal sulam dengan Merson. Selama ini tidak banyak yang melihat kelebihan Bergkamp selain Wenger. Dalam konsep sepak bola menyerang yang dibangunnya di Arsenal, satu-satunya puji syukur yang harus dipanjatkan Wenger ada di Arsenal ialah beliau diwarisi Bergkamp!
Arsene Wenger sangat keras kepala untuk menggantungkan hidupnya pada filosofi Penurunan Kualitas Serangan Arsenal
Duet penyerang Arsenal sebelum ada Thierry Henry.
Duet penyerang Arsenal kemudian diisi oleh Anelka-Bergkamp. Lewat perubahan inkremental di tahun perdananya, Wenger mengakhiri musimnya dengan mencetak 62 gol, kemasukan 32 gol serta meraih 68 poin bersama Newcastle United dan Liverpool. Hanya kekalahan agregat gol saja yang menciptakan Arsenal berada di urutan 3 di bawah Manchester United (75 poin) dan Newcastle.

Emirates-Dein-Henry

Dari statistik terlihat jumlah kebobolan Arsenal paling sedikit di Premiership, hanya 32 gol. Namun level produktivitas gol mereka, 62 gol, kalah jauh dari Manchester United dan Newcastle yang melesakkan 76 dan 73 gol. Benang merah telah ditemukan, improvisasi penyerangan mutlak harus dilakukan pada demam isu berikutnya, terutama di lini sayap karena kontribusinya rada minim.

Tersebutlah dongeng bergabungnya Marc Overmars, Luis Boa Morte dan Christoper Wreh jadi laskar penyerangan di tapal batas permainan. Overmars di kiri, Boa Morte di kanan. Wenger juga menarik Emmanuel Petit dan Gilles Grimandi untuk memperkukuh sentrum permainan. Duet Vieira-Petit tercatat dalam sejarah sebagai pondasi awal perubahan formasi 3-5-2 menjadi 4-4-2.

Winterburn dan Dixon, yang mulai menua, sekarang bekerja ringan sebab hanya lebih fokus di pertahanan sayap. Wenger juga mengurangi tembok pertahanan menjadi dua. Adams-Bould atau Adams-Keown atau Bould-Keown. Proses ini berjalan mulus sebab jadinya Wenger membawa Arsenal menjuarai liga dengan keseimbangan permainan yang lebih baik.

Mereka meraih 23 kemenangan, 9 kali seri dan hanya enam kali kalah. Produktivitas gol 68 dan kebobolan 33 gol. Kemapanan skuad 1997/98 ini mencapai puncaknya sehabis sukses meraih titel Piala FA. Bayangkan, cukup dua demam isu Wenger telah merenggut gelar ganda di Inggris. Dia puas dikarenakan telah menemukan blue-print konsep permainan Arsenal di masa depan.

Proses ketiga masuk tahun 2000-an sudah bukan transisi lagi, tapi menuju kemapanan. Di era ini tinggal Vieira, Parlour dan Bergkamp yang memanggul roh permainan. Sementara Adams, Keown, Bould, sampai David Seaman telah berakhir masanya. Skenario Wenger sesuai rencana. Arsenal kini berada di bawah kendalinya. Pikiran dia terus menerawang jauh ke masa depan.
Arsene Wenger sangat keras kepala untuk menggantungkan hidupnya pada filosofi Penurunan Kualitas Serangan Arsenal
Arsenal The Invincibles. Sulit diulangi dalam 100 tahun.
Masuknya Nkwanko Kanu, Fredrik Ljungberg, Davor Suker, Robert Pires, Sol Campbell, Lauren Etame Mayer, Sylvain Wiltord, Kolo Toure, Ashley Cole, Gilberto Silva, Jens Lehmann, dan tentu Thierry Henry, mengukuhkan Arsenal sebagai salah satu klub terkuat di Inggris yang mencapai puncaknya di ekspresi dominan 2003/04 dengan mencatatkan diri menjadi The Invincibles.

Konsep permainan menyerang yang diinginkan Wenger, The Arsenal Way, dilahirkan tidak sempurna karena di sisi lain, Wenger bukan lagi cuma mengkreasi skuad akan tetapi stadion. Kegagalan mendatangkan Cristiano Ronaldo, Zlatan Ibrahimovic, hingga Didier Drogba disebabkan oleh informasi kebijakan uang ketat setelah Arsenal membangun stadion Emirates pada 2004. Duet Cesc Fabregas dan Robin van Persie menjadi harapan konsep permainan Arsenal di era depan.

Perpindahan tuas dari Vieira ke Fabregas sangat radikal alasannya adalah Wenger kembali bereksperimen untuk mengakali sumber daya yang ada sesuai terbatasnya bujet transfer. Kenapa beliau berharap banyak pada mereka? Tidak lain alasannya adalah Wenger membentuk keduanya semenjak awal.

Namun Wenger harus membayar mahal alasannya adalah dia mesti menunda idealismenya wacana sepak bola atraktif. Publik menilai beliau hanya mencari nalar supaya keuangan klub tidak terganggu. Di dikala proses transformasi sedang berlangsung hangat, tiba-datang bom waktu meledak di ruangan komisaris. David Dein diusir sebagai administrator klub oleh para pemegang saham pada 2007.

Faktor Emirates dan Dein sangat mempengaruhi kebijakan permainan Wenger, yang mulai mengenalkan teladan garang 4-3-3 sejalan dengan merekahnya Theo Walcott, Jack Wilshere, dan Aaron Ramsey. Walcott ialah warisan terakhir Dein di Arsenal. Konsentrasi Dein dianggap mulai buyar alasannya beliau keblinger tidak menjaring tandem Walcott di Southampton: Gareth Bale!

Bahkan kepergian Henry dan Ljungberg di 2007 dianggap sebagai dua faktor lainnya yang ikut meruntuhkan acuan permainan Arsenal. Carlos Vela, Alexander Hleb, Thomas Rosicky, Emmanuel Adebayor, Nicklas Bendtner, dan Eduardo Da Silva sempat dicoba jadi andalan gres. Keenamnya bertipe menyerang. Namun di sisi lain, Arsenal tidak membeli 'bintang' untuk lini pertahanannya.
Arsene Wenger sangat keras kepala untuk menggantungkan hidupnya pada filosofi Penurunan Kualitas Serangan Arsenal
Sanggup mengalahkan Barcelona dengan gaya menyerang.
Periode 2008-2010 merupakan kala keemasan permainan ofensif sekaligus produktivitas gol The Gunners. Lewat kharismanya, Wenger masih bisa menarik Samir Nasri dan Andrey Arshavin, dari Marseille dan Zenit yang semakin menguatkan konsep The Arsenal Way. Bahkan di masa inilah untuk pertama kalinya Arsenal mengalahkan Barcelona di pentas Liga Champion.

Keasyikan mengidamkan sepak bola garang, beliau mulai melupakan pentingnya pertahanan sebagai basis utama permainan menyerang. Musuh-musuh Arsenal kesenangan karena Wenger sudah tidak butuh lagi pada standar pemain seperti Vieira atau Gilberto. Walhasil di kurun ini, hasil menyakitkan diterima Arsenal alasannya adalah berkali-kali gagal juara meski produktivitasnya luar biasa.

Pepatah Cina

Poros Fabregas-Nasri-Arshavin-Rosicky-Walcott-Van Persie sangat menyeramkan lawan. Plus duet Wilshere-Ramsey sebagai suksesor. Namun jangkar elegan (dua titik terpenting dalam sepak bola) yang cuma dipanggul pemain sekelas Mathieu Flamini, Alex Song, atau Denilson, membuat mimpi-mimpi Arsenal musnah dengan cepat. Kegagalan demi kegagalan membuat pemain frustrasi. Tapi Wenger seperti tak mau tahu.

Sesudah Lehmann dan Gilberto pensiun bareng pada 2008, Arsenal telah kehilangan leader sejati yang tidak pernah ada gantinya hingga kini. Walau bukan yang terbaik, William Gallas sempat dipaksakan jadi penerus. Sayangnya selain sentimental dan temperamental, eks bek Chelsea ini bukan produk binaan Arsenal. Gara-gara Gallas pula, Kolo Toure jadi hengkang dengan membawa sakit hati.

Usai Gallas, giliran Fabregas yang tampil jadi pimpinan di lapangan. Orang yang memahami permainan niscaya mengerti fungsi kapten sebagai sumber ilham dan stabilitas permainan. Dari sinilah konsentrasi serangan bisa terbangun dengan sempurna seperti halnya Vieira dulu. Terbukti pula Fabregas berat menjalaninya. Rasa frustrasi semakin memuncak.

Wenger memang menjamin posisi mereka, namun tidak pada kebutuhan mereka: titel juara. Akibatnya dalam enam animo beruntun terjadi eksodus besar-besaran. Flamini dan Hleb (2008), Adebayor dan Kolo Toure (2009), Gallas, Sol Campbell, Senderos (2010), Gael Clichy, Fabregas, Nasri, Emmanuel Eboue (2011), Van Persie dan Song (2012) sampai Arshavin dan Gervinho (2013).
Arsene Wenger sangat keras kepala untuk menggantungkan hidupnya pada filosofi Penurunan Kualitas Serangan Arsenal
Lini tengah Arsenal selalu berkualitas.
Sekarang apa yang diandalkan Wenger semoga panji sepak bola menyerang di Arsenal selalu berkibar? Apakah ia sudah besar hati dengan kehebatan hidangan racikannya yang hanya hebat untuk melahirkan peluang demi peluang? Bagaimana cara beliau menjaga Mesut Oezil, Alexis Sanchez, Santi Cazorla, atau Jack Wilshere jangan sampai frustrasi lagi?

Sungguh sepak bola mengontrol dan membuka peluang sebanyak mungkin sedang dijalani di Arsenal. Sayangnya kualitas penyerang tenah Arsenal tertinggi hanya di diri Olivier Giroud. Bukan Luis Suarez atau Edinson Cavani. Perhatikan pula di animo ini di mana Francis Coquelin didapuk jadi gelandang bertipe 'tukang angkut air' bahkan bertanggung-jawab juga pada bola-bola udara.

Konsep permainan Arsenal kini bergotong-royong tak jauh dari sebelumnya. Ditujukan bukan menjadi juara, kecuali untuk meraih posisi empat besar. Penciptaan banyak peluang itu tandanya. Dari 10 peluang, 1-2 gol yang tercipta. Sementara di pertahanan justru kebalikannya. Lawan mampu mencetak 1-2 gol dari 4-5 kali upaya penyerangan. Kekalahan 2-3 dari Stoke City jadi acuan sahih.

Yang sudah kelotokan menonton bola pasti paham, ada sesuatu yang terlihat bagaimana sebuah tim atau seorang manajer bisa mencapai keinginan tertingginya. Lalu apa yang terjadi di sana? Kelemahan terbesar permainan ala Wenger mempertahankan keadaan dikala skor ketat. Keunggulan mampu berbalik. Begitu juga sulit mengejar ketertinggalan skor permainan.

Pada umumnya, saat sebuah tim tertinggal satu gol, apapun dilakukan untuk menebusnya. Entah itu tembakan jarak jauh, bahkan keberuntungan untuk mencari penalti dengan menerobos penuh resiko pada kerumunan bek lawan di kotak penalti. Seperti yang dilakukan Wayne Rooney dikala menghadapi Swansea. Pola penyerangan Arsenal selalu merasa situasi dalam status ideal.

Ketika unggul, untuk beberapa ketika biasanya kesebelasan cerdas lebih banyak mengontrol bola ketimbang bikin serangan baru. Secara psikologis ini menguntungkan sebab tim tertinggal pasti akan melaksanakan serangan akhir untuk menebus skor. Keputusan Wenger yang sering telat bahkan tidak memainkan Walcott atau Rosicky juga bikin orang geregetan.

Penonton bisa melihat hanya pada diri Walcott dan Rosicky terdapat self belief untuk mengubah keadaan. Pergerakan dan motivasi mereka lain dari yang ada. Keduanya pula yang suka melaksanakan tembakan jarak jauh bagaimanapun sulitnya. Statistik menyampaikan rasio tembakan jarak jauh Arsenal untuk menjadi gol cukup mengkhawatirkan 19: 1,8 gol.
Arsene Wenger sangat keras kepala untuk menggantungkan hidupnya pada filosofi Penurunan Kualitas Serangan Arsenal
Kehadiran Alexis Sanchez mengubah gaya Arsenal Way.
Sering terlihat Alexis Sanchez atau Mesut Oezil kelamaan berputar-putar menembus barisan pertahanan lawan yang seperti bus sedang parkir. Sanchez barangkali berani melanggar perintah Wenger yang mengharamkan menendang eksklusif ke gawang (shot on sasaran). Tapi Oezil atau Kieran Gibbs? Perhatikan cara Aaron Ramsey, Alexis atau Rosicky mencetak gol. Kebanyakan bukan dari gaya khas Arsenal.

Ada pepatah Cina yang mengatakan "Jangan pernah mengatasi duduk perkara dengan mata Anda, tetapi dengan semangat Anda." Ungkapan ini mungkin patut dimaknai dalam-dalam oleh Wenger. The Arsenal Way mulai hidup saat ada Jack Wilshere. Ini satu-satunya pemain Arsenal yang punya sentuhan magis ala Maradona. Lawan sangat sulit membaca gerakan pemain yang satu ini.

Merosotnya gol Arsenal belakangan ini juga karena absennya Wilshere dan Ramsey serta belum optimalnya kontribusi Walcott yang memang jarang diberi kesempatan main sejak awal. Untuk memainkan sepak bola menyerang, dituntut kepekaan terhadap sesama rekan. Wenger harus memahami pola pikir pemainnya kepada siapa mereka lebih klik di lapangan.

Ingat-ingat bagaimana dulu Bergkamp selalu tahu kemana dan apa maunya Henry. Pires sangat paham efek dari gerakan Henry. Ljungberg yang berani mati sehingga menjadi rebounder terbaik di Inggris. Ah, sudahlah, itu kala silam. Harus diterima memang sulit di kala sekarang mencari sesuatu yang bermutu dan bermakna seperti di kala kemudian.

Produktif Tanpa Hasil

Tampaknya terlalu sulit untuk tidak mengakui Arsenal sebagai salah satu kesebelasan paling bernafsu di Inggris juga di Eropa. Statistik di tiga animo terakhir menjadi cerminan Arsene Wenger, sebagai juru strategi, sangat mencintai permainan menyerang. Meski bukan yang terbaik, namun di Premier League rata-rata tim Merah-Putih mencetak 71 gol atau hampir dua gol di setiap berkelahi.

Sementara untuk total gol di seluruh kompetisi, The Gunners mampu menciptakan rata-rata gol di atas 100. Musim lalu dan juga sebelumnya merupakan kurun terbaik agresivitas Arsenal. Di 2013-14, Arsenal mencetak total 105 gol di semua ajang resmi (Liga, Piala Liga, Piala FA dan Liga Champion). Hal sama pada 2012-13 di mana torehan gol mencapai 106.

Catatan kurang menggembirakan, yang menguak kelemahan terbesar Arsenal, tak pelak lagi ada di pertahanan yang bertanggung-jawab atas rata-rata 42 gol di setiap isu terkini Premier League (2011/12, 2012/13, 2013/14). Di ajang cups, sektor ini juga menerima rata-rata 63 gol lawan untuk semua kompetisi di tiga trend  (2011-2014).
Arsene Wenger sangat keras kepala untuk menggantungkan hidupnya pada filosofi Penurunan Kualitas Serangan Arsenal
Starting XI Arsenal The Invincibles 2003-04.
Sebagai bandingan, dikala menjuarai Premier League terakhir kali di 2003/04, total gol memasukkan Arsenal mencapai 124 gol di empat ajang. Namun uniknya, total gol memasukkan di pentas liga hanya 73 gol alias masih kalah sebiji gol dari pencapaian di 2011/12. Jumlah gol kemasukan mampu mencerminkan berapa banyak kekalahan.

Jika pada 2011-2014 rasio kebobolan Arsenal rata-rata 42 gol di liga, maka di demam isu 2003/04 mereka hanya kebobolan 26 gol! Mengapa mampu terjadi? Jawabannya, mereka tidak terkalahkan sama sekali! Namun harapan publik Gooner untuk mengulangi kejayaan Invincibles 2004, mahakarya Arsenal dan Arsene Wenger, simpel sirna semenjak mereka pindah markas, dari Highbury ke Emirates pada 2006.

Pasca kurun ini, untuk membayar hutang stadion megahnya sebesar 260 juta pound (total pembangunan 390 juta pound, dana sendiri 130 juta pound), Wenger menerapkan kebijakan gres penggunaan pemain muda yang dididik semenjak di perguruan sebagai improvisasi sekaligus transformasi abjad permainan Arsenal untuk era depan. Ia lihai membongkar skuad setiap animo demi membidik produktivitas gol, namun sudah 11 ekspresi dominan titel liga bagi Arsenal selalu jauh dari realita. Pertanyaan sepele, apa penyebabnya? Nah jawabannya yang panjang kali lebar.


FENOMENA GOL ARSENAL DI EMPAT MUSIM


2011-12           Gol 
👉Premier League 74-49
👉Liga Champion 10-10
👉Piala FA                 4-4
👉Piala Liga         5-3
🔺Total         93-66

catatan menarik: Dihantam Manchester United 2-8. Menang atas Blackburn 7-1. Mengalahkan Chelsea 5-3 di Stamford Bridge. Menang 5-2 atas Spurs.

2012-13        Gol
👉Premier League 72-37
👉Liga Champion 13-11
👉Piala FA                 6-5
👉Piala Liga         14-7
🔺Total         105-60

catatan menarik: Menghantam Southampton 6-1. Menang atas Spurs 5-2. Mengalahkan Newcastle 7-3. Mengalahkan West Ham 5-1. Mengalahkan Reading 5-2 di liga dan 7-5 di Piala Liga. Menang atas Coventry 6-1 di Piala Liga.

2013-14        Gol
👉Premier League 68-41
👉Liga Champion 14-8
👉Piala FA                 20-7
👉Piala Liga         4-7
🔺Total         106-63

catatan menarik: Selama 20 pekan peringkat 1 (4-16) dan (18-24), peringkat 2 (25-27), peringkat 3 (28-29), peringkat 4 (30-38). Kalah dari Manchester City 3-6. Kalah dari Liverpool 1-5. Dihantam Chelsea 0-6. Kalah dari Everton 0-3.

2014-15           Gol
👉Premier League 51-29*
👉Liga Champion 17-11*
👉Piala FA                 7-2*
👉Piala Liga         1-2
🔺Total         76-42*

*sampai 1 Maret 2015

catatan menarik: Menang 5-0 atas Aston Villa, Kalah 1-3 dari Monaco di Liga Champion pada babak 16 besar di Emirates. Sanggup melakukan 'ugly-win' (Crystal Palace 2-1 dan Everton 2-0).

(foto: skysports/fourfourtwo/grandoldteam)

Monday, March 9, 2015

Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

Medio 1980-an, saat penulis masih anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka bahu-membahu sudah sering dihembuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran eksklusif Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI.  Satu yang paling rajin berdasarkan aku adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong. 

Bangunan khas gaya tiki-taka.
Namun, maaf, sumber kicauan ihwal tik-tak alias tiki-taka atau tuqui-taca saat itu bukan mengomentari sepak bola Matador, namun gaya permainan Latin kebanyakan tim-tim Brasil atau Argentina. Tidak ada nama Spanyol dikala itu di sanubari penggila bola di Tanah Air. Reputasi Real Madrid atau Barcelona pun tidak berdengung di sini alasannya adalah tertelan oleh gaya Italia, Jerman, Belanda dan Latin. Tapi saya ingat, gol Johan Cruijff ke gawang Argentina pada Piala Dunia 1974 yakni gol beraroma tiki-taka.  

Kaprikornus di abad itu di Indonesia, para pengamat sepak bola, wartawan, instruktur termasuk pemain bahkan masyarakat pasti tidak gila dan sudah dekat dengan istilah tiki-taka yang bersumber dari ucapan ‘tik-tak’. “Kita harus main tik-tak, oper dengan cepat, berlari melintasi lawan dan terima bola itu lagi ya,” begitu bunyi seni manajemen main sebuah tim sepak bola kampus di selesai 1980-an.

Di kompetisi Galatama (pro) atau Perserikatan (amatir) di kurun itu juga, permainan bola-bola pendek sangat mewarnai pertandingan resmi di Indonesia. Orang yang paling getol memainkannya ialah (almarhum) Ronny Pattinasarani di Warna Agung – tim yang dikapteninya. Kolaborasinya dengan Rully Nere, Robby Binur, dan Stefanus Sirey di lini tengah tik-tak Warna Agung begitu aduhai. Waktu kecil saya melihat sendiri bagaimana ia mengorkestrai untuk menggedor catenaccio alot ala Jayakarta dalam kompetisi Galatama 1979/80 di Senayan.  

Kata tiki-taka pertama kali mendarat di gendang telinga orang pada Piala Dunia 2006. Saat itu presenter Andrés Montes yang mengomentari jalannya berkelahi Spanyol vs Tunisia bertanya pada komentator Javier Clemente perihal cara passing tim La Furia Roja. “Estamos tocando tiki-taka tiki-taka,” kata mantan pelatih nasional itu. Maknanya “kita bermain tiki-taka tiki-taka.”  

Asal muasal frasa tiki-taka atau clackers dalam Inggris sampai sekarang diperdebatkan. Dalam bahasa umum, umpan pendek diantara pemain sering disebut “tick”, apakah dari situ beliau berasal? Bisa juga ia berasal dari ungkapan Latin, “onomatopoeic”, yang kira-kira mirip “wush atau duarr” di Indonesia. Tapi yang niscaya, inilah ungkapan yang mewarnai perjalanan Barcelona.
 sebenarnya sudah sering dihembuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri
Puncak kejayaan tiki-taka ada di tahun 2010.
Ketika Spanyol meraih tripel trofi terhebat sepak bola pada 2008, 2010, dan 2012, tiba-tiba tiki-taka berdengung keras bak baling-baling helikopter. Hampir semua media di seluruh dunia mustahil tak menulis atau membahas konsep permainan fantastis itu di Piala Eropa dan Piala Dunia. Begitu juga di 2009 ketika Blaugrana meraih La Sexta, enam trofi, di Spanyol hingga Eropa.   

Di bawah komando Pep Guardiola sepanjang 2008-2012, Barcelona mengubah konsep tiki-taka secara ekstrem. Ia mencuci otak seluruh alumnus La Masia – perguruan tinggi sepak bola Barca – untuk memainkan sepak bola menekan dan menyerang secara simultan 2 x 45 menit konstan bin intensif! Sebelum menangani tim senior, ia memang pelatih di perguruan tinggi itu. Pep menyempurnakan visi Cruijff secara modern, dan eksklusif kena di era milenium ini - di mana teknologi, transformasi, komunikasi, infrastruktur banyak mengubah sepak bola sebagai permainan digital dan matematis.  

Jakun Pep kian naik-turun memikirkan potensi tiki-taka dan peluang besar Barcelona seusai lahirnya perubahan Hukum Offside yang disahkan oleh dua kekuatan sepak bola dunia, FA dan FIFA, pada 2005. Kebetulan antara tahun 2000-2006, Barca sedang hilang dari “peredaran” blantika La Liga. Di sinilah dia menyiapkannya dengan baik. Dengan hukum gres ini tiki-taka lebih mendorong bek lawan dan memperluas efektivitas bermain melebar. Di sisi lain, keterampilan para bintangnya akan lebih tereksplorasi dengan baik.  

Mazhab Barcelona  

Mentor Guardiola untuk mengimprovisasi tiki-taka gaya gres tiada lain “Pakde-nya sepak bola Spanyol dan Barcelona” plus tiki-taka juga, yakni Meneer Cruijff. Keduanya membuka berkas-berkas lama. Memelototi pedoman totaal voetball termasuk menciptakan garis pertahanannya, pertukaran posisi, cara mengontrol permainan, dan yang lebih penting cara melepaskan umpan dengan segala kondisi.   

Cruijff mengimplementasikan tiki-taka sewaktu berada di Barcelona, mulai dari jadi pemain, manajer hingga administrator teknik. Bukan Guardiola tapi dua manajer asal Belanda, Louis van Gaal dan Frank Rijkaard, yang pertama kali menerima rumusan tiki-taka. 
 sebenarnya sudah sering dihembuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri
Salah satu syarat supaya tiki-taka berjalan ideal ialah pemainnya harus pendek!
Sistem permainan ini amat ciamik bin ideal jika dijalankan oleh pemain muda berusia antara 22-27 tahun dan harus bertubuh kecil alias tidak tinggi. Tak heran jikalau selain Xavi, pemain macam Andrés Iniesta, Cesc Fàbregas, Lionel Messi, Pedro Rodriguez, selain jadi produk La Masia juga berpostur mini untuk ukuran Eropa (di bawah 180 cm).   

Hingga sekarang tradisi itu dipertahankan. Jordi Alba, Luis Suarez, Neymar, Dani Alves sampai Rafinha. Pendek kata, kalau Anda jangkung maka peluang jadi pemain Barcelona terbilang kecil karena, barangkali, punya gaya gravitasi yang lemah. Konsep tiki-taka amat bergantung pada kehebatan sentuhan, keluasan visi, dan kematangan operan sebagai modal dasar permainan possession yang menjadi identitasnya. 

“Anda harus memenangkan bola lagi dikala berada di zona 30 meter dari gawang lawan, bukan di zona 80 meter,” kalimat ini sangat populer beradar di La Masia atau markas besar Camp Nou. Tiki-taka menyisakan satu striker palsu yang sering disebut “false-9” yang seluruh potensi permainannya didukung tujuh pemain kecuali kiper dan dua bek tengah. Aliran bola harus lancar, mulus, dan fasih dari segala penjuru. Dua bek sayap juga dipaksa berkecimpung dalam serangan, menuntut gelandang bertahan mengerahkan kemampuan operannya serta kiper harus rela merangkap jadi libero.  

Barcelona memainkan tiki-tiki model gres lebih sempurna ketimbang tim nasional Spanyol. Outcome produktivitas gol sering jadi pembeda di mana Barcelona lebih gampang bikin gol alasannya adalah lebih kompak dan fasih menerapkannya. Tapi prinsip permainan keduanya tetap sama, berasal dari istilah Tiqui-Taca yang menggambarkan abjad permainan umpan pendek dan pergerakan.  

Jika Pep Guardiola maestro terakhir yang menerapkannya, maka tiki-taka diperkenalkan pertama kali secara lengkap oleh Hendrik Johannes Cruijff alias Johan Cruijff, manajer Barcelona 1988-1996. Selain Pep dan Cruijff ada pula almarhum Luis Aragonés dan Vicente Del Bosque, dua instruktur La Furia Roja yang memberi Spanyol gelar juara Eropa 2008, juara dunia 2010, juara Eropa 2012. 

 sebenarnya sudah sering dihembuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri
Tiki-taka selalu menyajikan pemandangan geometris dan diagonal.
Pada dasarnya tiki-taka yakni konsep permainan zona. Sewaktu masih menjadi instruktur kepala di La Masia, Pep mengecat seluruh lapangan bola dengan puluhan kotak besar dan kecil hingga-hingga terlihat seperti lapangan bulutangkis. Tindakan ini merefleksikan pentingnya zona per zona untuk setiap pemain Barcelona semoga bisa memainkan tiki-taka dengan tepat.

Di atas semua itu, tiki-taka menjadi satu-satunya sistem permainan sepak bola yang amat mementingkan kekompakan dan persatuan tim untuk dapat memahami secara komprehensif tentang sepak bola geometri. Sekali lagi, deskripsi tiki-taka begitu mudah: operan pendek sekali-dua kali, bergerak liar, kuasai bola sampai terlihat tidak ada bedanya antara bertahan dan menyerang.  

Di lapangan, tiki-taka butuh seorang yang bertugas sebagai kopling permainan. Jika Arsenal 2007-2008 punya Cesc Fabregas sebagai pemain yang bertugas memindahkan tuas permainan, dari cepat ke lambat atau sebaliknya, maka Barcelona dan Spanyol punya Xavi Hernandez. Oleh alasannya adalah itu tiki-taka menuntut kecakapan, kreativitas, talenta serta sentuhan seorang pemain berkelas.  

Rinus Michels  

Demi mencapai tujuan tertingginya sebagai estetika permainan, kerapkali tiki-taka harus mengorbankan efektivitas. Menurut Raphael Honigstein, tiki-taka lahir alasannya adalah sejatinya orang Spanyol tak tahan dengan tubruk fisik dengan tim-tim Inggris, Italia, Jerman. Untuk mengatasi itu atau menyeimbangkannya taktik mereka adalah bagaimana cara memonopoli bolanya. Kebetulan budaya yang paling cocok dengan gaya itu ialah kultur Hispanik dan sedikit Mediterania yang lebih retro ketimbang budaya Eropa tengah apalagi di utara sana.
                            
Sebenarnya Spanyol hanya memanfaatkan ‘kesulitan’ yang dirasakan oleh bapak moyang tiki-taka sedunia, adalah Marinus Jacobus Hendricus Michels alias Rinus Michels. Pelatih Ajax Amsterdam 1965-1971 ini gedeg melihat gaya Catenaccio, mahakarya Helenio Herrera mampu gegremetan ke-mana-mana termasuk ke Amerika Latin dan Asia selain dijadikan mazhab resmi di beberapa negara Eropa.  

Dulu belum ada istilah tiki-taka ala Spanyol, tetapi orang Belanda menyebutnya sebagai totaal voetbal, sepak bola total. Gaya baru ini makin santer dikenal sebagai tiki-taka saat Rinus sang maestro menukangi Barcelona 1971-1976, hanya beberapa bulan setelah Ajax menjuarai Liga Champion 1970/71.  

Seperti sudah ditakdirkan harus terus bersama, Rinus dan Johan berkumpul lagi di Spanyol melalui Barcelona. Butuh dua tahun bagi Rinus untuk reuni dengan anak kesayangannya itu. Bahkan setahun lalu, Rinus mendatangkan juga ‘fotokopi’ Cruijff, ialah Johan Neeskens. Kerajaan sepak bola juga mengenal istilah dinasti, pewaris, atau putra mahkota.

 sebenarnya sudah sering dihembuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri
Rinus Michels dan Johan Cruijff saat di Barcelona.
Di periode 1970-an, Rinus meneruskan visinya kepada Cruiff untuk dikelola di dekade 1980-an. Di periode ini Cruiff juga membangun dinasti yang berjaya di periode 1990-an melalui Josep 'Pep' Guardiola. Butuh sepuluh tahunan bagi Pep untuk melihat kedigdayaan tiki-taka di awal dekade kedua milenium.  

Seorang analis sepak bola dari Universitas Oxford, Jed C. Davies, berkesimpulan tiki-taka merupakan revolusi konseptual permainan yang lahir dari gagasan bahwa sejatinya lapangan bola itu fleksibel. Di dalam bukunya, “Coaching the Tiki-Taka Style of Play” ia membeberkan di mata Barcelona satu lapangan mampu menjadi 8 lapangan alasannya adalah seluruh pemainnya fasih geometri. Bukan main.  

Di benak pemain Barcelona, satu lapangan itu otomatis terbagi oleh beberapa lapangan kecil. Saat beraksi, formasi harus dijaga tepat demi penciptaan celah atau ruangan untuk berkreasi. Mereka bisa bermain 3 on 3, 2 on 2, hingga 1 on 1 dari zona satu ke zona lain dengan ritme cepat dan berubah-ubah. Anda bisa membayangkan contoh rubik ini untuk memahami bagaimana Barcelona bermain.

 sebenarnya sudah sering dihembuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri
Evolusi totaal voetbal ke tiki-taka di Barcelona.
Sementara jurnalis sepak bola Spanyol kenamaan, Sid Lowe, berpendapat lain. Orang Inggris ini lebih mengemukakan aspek psikologis ketimbang teknis, motif dari pada cara, kenapa tiki-taka sangat terkenal di Negeri Matador. Ia mencap tiki-taka sebagai satu hasil sempurna dari perbuatan pragmatis yang berkecamuk di kepala Aragonés. Memainkan bola sendiri sementara 11 orang pihak lawan jikalau mampu, ya menonton saja. Sekilas inilah irisan terbesar dengan tiki-taka-nya Barcelona.  

Ketika membelokkan sejarah indah di 2008, titel pertama Spanyol semenjak 1964, bantu-membantu Aragonés menggunakan tiki-taka untuk mengamankan pertahanannya dari kenakalan penyerang lawan. Lowe sangat meyakininya mengingat seluruh enam gol yang dibuat La Furia Roja, tidak lahir dari gaya tiki-taka. Lima dari serangan balik dan satu dari bola mati.  

Barisan Penentang  

Ketika diambil alih oleh Del Bosque, La Furia Roja semakin bertenaga, garang dan seketika. Maklum banyak rombongan Real Madrid di skuad Piala Dunia 2010 yang terkenal beringas mirip Xabi Alonso, Sergio Ramos, Alvaro Arbeloa atau Fernando Torres. Sebagai mantan pelatih El Real, Del Bosque tahu betul bahwa kolektivitas jadi isu paling strategis di timnya dan beliau pun sukses.

 sebenarnya sudah sering dihembuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri
Pep Guardiola yakni murid kesayangan Johan Cruijff.
El Barca dianggap sebagai motor tiki-taka sejati sedangkan El Real Madrid melengkapinya dengan ambisi, gairah, tenaga dan garang. Honigstein mendeskripsikan kemenangan Spanyol atas Jerman di semifinal sebagai versi kemenangan paling sulit di mana semua cara main La Furia Roja mampu dibendung Der Panzer kecuali satu hal: kekuatan mengontrol bola.  

Di mata Guy Hedgecoe, wartawan sepak bola dari Iberoshpere, tiki-taka itu justru tidak menghibur dan tidak menyenangkan untuk ditonton. Tiki-taka memang tidak menyajikan serta mewajibkan finisher murni dan saat kita menyaksikannya, maka tidak ada satu pun pemain di depan berkeliaran kecuali gerakan sejajar atau diagonal tiga empat pemain hingga kotak penalti atau gawang lawan!  

“Tidak ada striker, tidak ada bek, dan tidak ada kiper. Sungguh asing, semua 11 pemain bermain sebagai gelandang dan menumpuk di lini tengah. Hanya sesekali saja seseorang berhasil keluar dari gulungan pemain lalu mencetak gol,” katanya. Barangkali di mata Hedgecoe tiki-taka sudah mirip segerombolan ikan sarden yang membentuk bola pertahanan dari serbuan hiu. Kalau Anda sering menonton National Geographic di televisi, pasti sangat mafhum dengan ucapan Hedgecoe tadi.

Memang banyak juga yang mencerca tiki-taka sebagai sepak bola egois. Maksudnya egois adalah karena tim seperti Barcelona tidak memberi kesempatan buat penonton melihat mereka diserang atau lawan menyerang mereka. Di mata kompetitor, tiki-taka juga jadi perburuan obsesi. Hampir semua klub besar Eropa berlomba-lomba menemukan formula anti-nya.

Setelah kekalahan 1-2 Barcelona dari Glasgow Celtic di Liga Champion 2012/13, mata dunia mulai terbelalak alasannya adalah kubu tuan rumah sukses menutup seluruh jenis serangan dan pintu akses Barcelona ketika masuk ke pertahanan Celtic. Ini mirip berkelahi tubruk bosan. Belasan bahkan puluhan serangan sejenis terjadi, namun tim Skotlandia itu sabar menanti dan tabah mengimbanginya.

Di mata Ben Hayward dari ESPN, peristiwa yang menghentak dapat dipercaya manajer (almarhum) Tito Vilanova itu menunjukan Barcelona bisa juga dilanda kejenuhan dan seni manajemen monoton. Mantan tangan kanan Guardiola itu tidak bisa menerapkan tiki-taka dengan tepat. Taktik Celtic mengingatkan orang dengan disiplin besi Chelsea tatkala mengandaskan El Barca 1-0 di Stamford Bridge, April 2012.
 sebenarnya sudah sering dihembuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri
Gaya disiplin dan terus kejar ala Jose Mourinho menghambat tiki-taka.
José Mourinho ialah garda terdepan anti tiki-tika. Tidak ada yang mencurigai reputasinya sebagai pengganjal tiki-taka. Tambahan, ia suka yakin bisa mengatasinya alasannya pernah ikut membesarkan Barca sewaktu bersama almarhum Bobby Robson. Jangan lagi Barcelona, tim nasional Spanyol pun dikritiknya. Di mata orang yang menjuluki dirinya sendiri sebagai The Special One itu gaya tiki-taka seperti mengebiri keindahan sepak bola. “Tanpa striker, semua gelandang? Come on,” sindirnya.  

Bahkan Arsene Wenger, manajer Arsenal yang punya konsep permainan menyerang pun ikut mengkritik tiki-taka yang telah mengubah falsafah sepak bola Spanyol. “Awalnya tiki-taka mereka untuk menyerang dan memenangkan pertandingan, namun kini prioritasnya telah berubah. Mereka bertiki-taka yang bosan ditonton itu untuk menghindari kekalahan,” ucap Wenger.  

Sekilas dua ucapan manajer top ini benar. Penonton juga berhak melihat dua tim bertanding dengan semua kemampuannya, menyerang dan bertahan. Bertahun-tahun orang dicekoki Barcelona dengan tontonan timpang. Satu tim memutar-mutar bola, satu tim lagi “memarkir bus” di daerahnya. Tidak ada jalan lain. Sepak bola memang tidak harus berisi tiki-taka semua toh? Layaknya pilihan dalam hidup yang ada potensi dan risiko, maka apapun gaya permainan di sepak bola, juga pasti akan ada anti penangkalnya.

(foto: 101greatgoals/diariogoals/theviewspaper/slate/sport.es/passionFM)

Friday, January 16, 2015

Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah jika pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa mulut, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya acuh taacuh, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan sobat atau sahabat.

 pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger
Dua orang terpenting yang mengemudikan kapal Arsenal ke kurun depan. 
Pria berkumis inilah yang membuat David Barry Dein, pujaan sejati kaum Gooner sejati, hingga terusir dari ruang komisaris Arsenal. Enos Stanley Kroenke, 67 tahun, beken disapa Stan Kroenke, ialah pebisnis Amerika Serikat yang kini menjadi pemegang saham terbesar Arsenal Football Club dengan kepemilikan 66,94% atau 41.652 lembar saham atau senilai lebih dari 1 milyar pound alias setara dengan Rp 20 trilyun. Bagaimana beliau melaksanakan ini semua?

Tampaknya cuma pembicaraan bisnis bermutu saja yang bikin dia mau menggerakan bibirnya. Namun di balik banyak sekali ketidak-asyikan tersebut, sungguh beruntung, dia super kaya raya alias tajir banget. Sepintas tak ada tongkrongan mahluk ini menjadi Qarun zaman modern, salah satu warga bumi terkaya nomor 247 di dunia, 89 di AS. Menurut situs Forbes, Kroenke punya harta 5,8 milyar dollar AS atau setara dengan Rp 75 trilyun.

Sebagai komparasi, 'Paman Gober' nomor satu di dunia termasuk di AS adalah William Henry Gates III, 59 tahun. Gudang uang pendiri Microsoft ini ditimbuni harta 79,2 milyar dollar AS atau sekitar Rp 10,1 bilyun alias Rp 10 ribuan trilyun. Dengan kekayaan ini, bila mau, Bill Gates bisa membeli semua klub sepak bola yang ada di dunia. Soal harta, Kroenke boleh kalah sangat jauh darinya, namun soal minat dan kegairahan di olah raga ceritanya berbeda.

Di AS ia dikenal sebagai pemilik 5 klub top di NBA, MLS, NHL, NLL, dan NFL yang semuanya berada di bawah imperium bisnisnya, Kroenke Sports Entreprises (KSE). Portofolionya belum stop hingga di sini. Kroenke juga menjadi salah satu mogul real estate dan bankir ulung. Reputasinya kian paten alasannya adalah dia suami dari Ann Walton, putri James Lawrence Walton, pendiri Wal-Mart, jaringan ritel terkuat di dunia.

Hikayat lulusan MBA dari Universitas Missouri ini bisa hingga terdampar di Arsenal, lantas menjadi orang nomor satu di klub paling tradisional se-London itu menjadi menarik atensi lantaran jalannya tidak mengecewakan berliku-liku. Tanpa Arsenal, boleh jadi beliau tidak dikenal dunia kecuali di negerinya sendiri. Serial hidup Kroenke di blantika Premier League yaitu pengayaan kredibilitasnya sebagai pecinta olah raga.

Buat Gooner yang belum sampai lima tahun, Kroenke boleh saja disukai. Tapi bagi Gooner karatan dan konservatif, katakanlah seperti Piers Morgan atau Myles Palmer, sangatlah berbeda. Mereka tahu, Kroenke-lah yang dianggap menghentikan roda juara Arsenal di Premier League akibat kebijakan keuangan lantaran masih berkutat dengan peperangan perebutan saham serta dituding tidak tahu banyak soal Arsenal dan tradisi sepak bola Inggris.

Sumber malapetaka prestasi The Gunners di Liga Inggris terjadi pada 2006-2007, yang dimulai dari peperangan di ruangan komisaris alias para pemilik. Yang jadi ironi hal itu terjadi justru seusai Arsenal merenggut prestasi tiada tara yang sulit dijiplak di Inggris: menjuarai Premier League tanpa terkalahkan pada 2004. Kemudian disusul raihan Piala FA 2005, kemudian ke simpulan Liga Champion 2006 serta memiliki stadion baru nan megah bernama Emirates.

Bagaimana semuanya bisa terjadi? Keempat torehan indah itu bak menjadi karya terakhir duet Dein dan Arsene Wenger. Dein yang dikenal master di bursa transfer, hebat dalam melobi atau negosiator ulung mendedikasikan semuanya itu untuk melengkapi kehebatan Wenger. Keduanya sangat inovatif, ekspansif, punya khayalan liar dan yang terpenting saling mengisi satu sama lain sehingga suka dianggap sebagai Yin dan Yang-nya sukses Arsenal.

Ancaman Usmanov

 pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger
Barangkali Kroenke tersenyum melihat Wenger tidak menuntut saham Arsenal.
Saking liarnya duet ini suka berkreasi di luar otoritasnya, contohnya hasrat memiliki stadion yang besar dan megah. Stadion Highbury merupakan satu-satunya minus Arsenal di mata Wenger sejak dia tiba di London pada 1996. Dengan kapasitas hanya 37-an ribu penonton plus luas lapangan 100 x 67 meter, Wenger berani bilang ke dewan komisaris Highbury kurang layak menjadi stadion klub sekharismatik Arsenal.

Mereka harus punya stadion besar dengan tiga alasan: untuk menampung lebih banyak fan, menikmati permainan lebih tepat secara langsung ataupun dari televisi, serta sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian historis Arsenal dan menyongsong era depannya. Bahkan Wenger punya rancangan beberapa bagian stadion baru mirip atap, lantai, kamar ganti dan kamar mandi pemain, auditorium pers serta ruangan rehabilitasi cedera.

Di sisi lain Dein bicara potensi pendapatan tiket, iklan dan sponsor yang dijamin jauh lebih besar. Mereka telah menciptakan mesin uang untuk periode depan. Presentasi keduanya memuaskan dewan komisaris sehingga bersedia membebaskan satu lahan di pinggir jalan kereta di area Ashburton Grove. Namun seseorang mengawasi Dein dengan kewaspadaan: Peter Hill-Wood (PHW). Dia yaitu anaknya Denis Hill-Wood, dan cucu dari Samuel Hill-Wood.

Samuel menguasai saham terbesar semenjak 1929 serta mengkreasi Arsenal meraih era kejayaan pertama di 1930-an. Pada 1946 beliau mengajak rekan Partai Konservatifnya, Sir Guy George Bracewell Smith, membangun ulang manajemen Arsenal yang berantakan usai Perang Dunia II. Karena itulah, demi menjaga tradisi dan menghormati keluarga Hill-Wood, lalu Peter diaklamasikan menjadi presiden klub semenjak 1983 setahun setelah wafatnya sang ayah.

Rupanya kesuksesan Dein dengan mahakarya melahirkan Premier League di 1992 dan mendatangkan Arsene Wenger pada 1996 menciptakan saling silang di dewan komisaris. Ada yang pro, namun lebih banyak yang kontra. Meski jadi pendatang gres sehabis membeli 16,6% saham Arsenal pada 1983, reputasi Dein eksklusif meroket dengan posisi wakil presiden klub sekaligus chief operating untuk semua aktivitas bisnis. Selain itu beliau juga master transfer jempolan.

Lewat tangan acuh taacuh lelaki kelahiran 7 September 1943 itu datanglah Ian Wright pada 1991 dan Dennis Bergkamp pada 1995 di abad George Graham. Ketika Wenger masuk, semua orderan sang profesor dipenuhinya. Patrick Vieira, Emmanuel Petit, Marc Overmars, Thierry Henry, Davos Suker, Robert Pires, Sol Campbell, Gilberto Silva, Gael Clichy, Kolo Toure, Cesc Fabregas dan Robin van Persie hingga nama yang terakhir...Theo Walcott.

Akibat kiprahnya yang kian dahsyat, saham Dein di Arsenal sempat melesat jadi 42% pada 1991. Lama kelamaan PHW, dan juga pemegang saham tradisionalis merasa Arsenal akan dijadikan ajang kepentingan bisnis eksklusif Dein. Apalagi di Rusia, bisnis langsung PHW ikut bersentuhan dengan kekerabatan bisnis Dein. Salah satunya dengan Alisher Burkhanovic Usmanov.

Di era PHW amat membenci pebisnis baja Rusia berdarah Uzbekistan itu, Dein justru menjadikan kolega terbaiknya. Api perseteruan di dewan komisaris pun kian membara. April 2007, dewan mencopot jabatan Dein dari semua aktivitas sebagai eksekutif alias dipaksa cuma disuruh duduk hening menunggu deviden. Merasa telah berbuat banyak untuk mereka dan Arsenal, tentu saja Dein sangat sakit hati akhir pengkhianatan tersebut.

Bukan Dein namanya kalau tidak kontroversial. Pada Agustus 2007, datang-datang dia melepas seluruh 14,58% sisa sahamnya ke Usmanov yang kmeudian mengajak Farid Moshiri, pebisnis Iran, mendirikan konglomerasi khusus bernama Red & White Holdings. Mereka mengangkat Dein sebagai CEO-nya. Misi ketiganya yaitu mengambil alih secara umum dikuasai saham Arsenal. Tapi PHW dan semua anggota dewan komisaris lain telah menebaknya Dein akan melaksanakan apa.

Kematian Fiszman

 pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger
Tanpa Wenger, mustahil Kroenke mampu percaya diri seperti ini.
Sebelum memecat Dein, PHW telah mengontak seorang investor Amerika tidak populer. Digembongi PHW, dewan komisaris mengundangnya untuk membeli saham ITV. TV kabel asal Irlandia itu melepas 9,9% andilnya di Arsenal sebab butuh investasi di bidang lain. Harga saham per lembar masih dihargai 8.000 pound. Orang Amerika ini berjulukan Stan Kroenke. Dewan juga segera memasukkan Kroenke jadi direktur non-executive pada September 2008.

Kroenke segera tahu soal prahara kepemilikan yang sedang terjadi di Arsenal. Akal bulus bisnisnya eksklusif menerawang. Ia ingin lebih jauh terlibat. Sesuai aturan, untuk jadi eksekutif dan mengontrol semua bisnis Arsenal, minimal harus punya 30% saham. Selang tak usang Kroenke melaksanakan misinya. Pertama membeli saham Danny Fiszman sebanyak 10,6%, kedua memborong saham keluarga Richard Carr lebih dari 17,7%. Saham Kroenke menjadi 29,9%!

Namun mencari 0,1% saham setengah mati sulitnya alasannya adalah semua pemilik saham tahu, Kroenke berambisi mengontrol Arsenal. Akibatnya saham Arsenal per lembarnya melonjak jadi 12.000-an pound per lembar. Kubu trio Dein-Usmanov-Moshiri juga melakukan ekspansif. Mereka bergerilya melaksanakan pembelian saham dengan cara retail, lembar per lembar, dari beberapa orang yang punya saham minoritas di Arsenal. Meski capek, akhirnya lumayan.

Hingga masuk ke 2011, Usmanov cs sukses mengumpulkan saham 29,25%! Final antara Amerika vs Rusia di bisnis Arsenal mencapai kulminasinya. Kroenke cuma butuh 0,1% sedang Usmanov 0,75%. Sementara itu harga saham AFC terus melonjak di London Stock Exchange (LSE) meroket 16.000-an pound (Rp 300-an juta) per lembar! Kedua kubu dengan progresif merayu pemegang saham minoritas. Namun mereka bersepakat untuk menunggu keadaan, termasuk perwakilan fans, Arsenal Supporters Trust (AST) yang hanya punya 3 lembar saham!

Prestasi The Gunners abad itu mencapai puncak kegelisahan. Satu-satunya kans juara, di Piala Liga 2011 pun gagal alasannya adalah secara mengejutkan Arsenal ditaklukkan Birmingham 1-2 di Wembley pada bulan Februari. Di grup pemilik saham minoritas, muncul faksi pro dan anti baik Kroenke maupun Usmanov. Bukan itu saja, abad depan sang manajer juga tidak terang. Kontrak Wenger habis di medio 2011. Mudah, ia sedang berdiri di persimpangan jalan.

Di luar pintu, Real Madrid, Bayern Muenchen, PSG bahkan Juventus sudah mengantri untuk meminangnya. Di dikala menegangkan mirip itu, muncullah sesuatu yang tidak diduga, yang membelokkan nasib baik menjadi milik Kroenke dan Wenger: akhir hayat Fiszman pada April 2011. Fiszman, pemilik saham terbesar sebelum dibeli Kroenke, merupakan satu-satunya teman Dein di dewan. Pedagang berlian itu meninggal dunia sehabis usang sakit keras.

Entah mengapa sisa 16,11% saham almarhum bisa dibeli Kroenke, hanya beberapa hari kematiannya. Kroenke pun otomatis jadi preskom Arsenal dengan saham 45,36%. Tamatlah harapan Usmanov dan Dein untuk mengusai Arsenal! Bola salju tidak stop sampai di situ. Wafatnya Fiszman, plus jenuh dengan prahara kepemilikan dan prestasi klub yang merosot; melahirkan sesuatu yang mengubah era depan Kroenke menjadi jelas.

Lady Nina-Bracewell Smith, adalah janda Sir Charles Bracewell-Smith, anak dari Sir Guy George Bracewell Smith ikut melepas seluruh sahamnya yang 15,9%. Langkah itu juga diikuti oleh cucu Sir Guy ialah Clive dan Richard Carr untuk menjual sisa sahamnya pada Kroenke. Per 4 September 2011, Kroenke mutlak menguasai Arsenal dengan 66,76% saham atau 41,537 lembar. Dasar kapitalis, beliau makin giat membeli saham lembar per lembar tiada henti hingga sekarang.

Menurut LSE, di 3 Oktober 2014 saham Kroenke berjumlah 41.639 helai usai membeli 36 lembar saham perorangan. Persentase naik jadi 66,92. Lalu 8 Desember 2014, tim sukses Kroenke menemukan 13 lembar lagi saham yang bersedia dilepas 15.500 pound per lembar. Andilnya pun naik lagi menjadi 66,94% dengan 41.652 lembar saham. Ia masih butuh 3,06% saham untuk menguasai mutlak Arsenal tanpa halangan dari siapapun adalah senilai 70%.

Terkesima Wenger

 pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja WengerHal pertama yang dirasakan Stan Kroenke, Arsenal itu identik dengan Arsene Wenger. Di matanya cuma orang inilah sejagat yang paling pas jadi panglima The Gunners. Kontroversial atau normatif, benci atau cinta, beliau berharap Wenger terus meneruskan darma baktinya di Emirates, kalau perlu sampai jompo sendiri. Ada alasan? "Arsene adalah orang paling mengesankan yang pernah aku temui 20 tahun terakhir ini. Dia orang besar dan aku sangat suka melihat caranya mengatasi dirinya sendiri. Orang ini sangat cerdas alasannya beliau bisa bicara hal apa pun dan amat mengesankan saat berbicara. Saya terpukau mendengarkannya. Harusnya beliau sering mengadakan seminar bisnis," kata Kroenke dikala diwawancarai Jeremy Wilson (The Telegraph).

Faktor Wenger juga jadi motif terkuat Kroenke ketika membeli saham Arsenal. Keyakinannya pada manajer hebat, instruktur luar biasa, ekonom mumpuni, sosiolog, jago gizi atau masakan, pakar statistik, arsitek stadion, konsultan bisnis sampai motivator ini semakin menggiatkan dirinya untuk terus menambah sahamnya di salah satu klub paling tradisional di Inggris tersebut.

Mana kala kepeduliannya pada Arsenal makin besar, semakin terikat pula Kroenke pada sang manajer. Di mata pemilik klub NBA Denver Nuggets ini, enerji Wenger sangat membara. "Fisik dan staminanya luar biasa. Dia merancang, membina, melatih, bepergian, berbicara dan meladeni tekanan dengan luar biasa. Begitu seterusnya. Kadang era beliau seperti yang terlihat menjadi atlet. Arsene adalah Arsenal itu sendiri," papar orang kaya berpenampilan sederhana yang mengaku telah memantau Wenger dan Arsenal semenjak 15 tahun kemudian.

"Saat Arsene membawa Arsenal juara tidak terkalahkan di 2004 itu sesuatu luar biasa dan aku semakin yakin untuk terlibat ke dalamnya," lanjut pengusaha asal Missouri yang mulai masuk ke Arsenal sesudah membeli 9,9% saham Arsenal Holdings plc melalui ITV pada 2007. Di luar respek yang mendalam pada Wenger, tentu Kroenke terkesima dengan karyanya. "Saya suka dengan cara main Arsenal, umpan-umpannya, pergerakan, indah untuk ditonton dan sangat menarik. Saya mengikutinya dari dekat dikala mereka menjadi juara tak terkalahkan pada 2004. Itu hal luar biasa. Saya sering menontonnya eksklusif dikala Thierry Henry masih ada. Itulah awal mula saya suka Arsenal," timpalnya lagi.

Setiap tahunnya owner klub hoki NHL Colorado Avalanche ini menghabiskan 30-40 hari berada di London untuk kegiatan bisnis. Di saat-ketika seperti itu, hampir saban hari beliau pasti bertemu dan berbicara dengan Wenger. Ada banyak kepentingan. Selain salah satu ladang usahanya, kini Arsenal jadi passion barunya. Apalagi putra semata wayangnya, Josh, kebetulan seorang Gooner. Belakangan Josh telah diangkatnya menjadi salah satu administrator Arsenal.

Keterkaitan hubungan pemilik klub MLS Colorado Rapids dengan Wenger lebih dari sekedar profesional tingkat tinggi tapi juga keeratan personal. Mereka saling menghormati, memahami, membutuhkan dan tentu saling berkepentingan. Dua hal yang disukai Wenger padanya: ia fokus pada bisnis dan bukan jenis pemilik yang main atur atau intervensi konten sesukanya. Kroenke bukan bertipe Abramovich atau Berlusconi.

Sebaliknya Wenger dihargai Kroenke karena tak cengeng, tukang todong minta ini-itu bahkan acara terpenting di bisnis sepak bola: bursa transfer. Kroenke paham bursa transfer separonya sepak bola. Respek melahirkan doktrin. Saking percayanya, Kroenke memberi kekuasaan mutlak pada Wenger untuk mengambil semua keputusan go or no go soal produksi, soal teknis, soal pemain dan permainan. Faktor subyektif lainnya ialah, Kroenke dan Wenger nyaris seumuran. Artinya semenjak kecil hidup di zaman yang sama.

Dia merasa hanya disuruh duduk manis oleh sang manajer asal Ivan Gazidis memahami apa yang diinginkan dan dibutuhkan Wenger. Jika Wenger tangan kirinya, maka Gazidis - CEO Arsenal - merupakan asisten Kroenke.

"Saya sangat menikmatinya. Dia sangat cerdas, berintelejensia tinggi dan kita semua tahu Arsene berpendidikan ekonomi seperti halnya saya. Ide beliau bagaimana menjalankan klub amat luar biasa. Arsene adalah pemikir, perencana, pekerja keras, manusia yang mempunyai rekor serta sejarah indah," papar presiden komisaris korporasi KSE UK itu lagi, yang dua tahun lebih bau tanah dari Wenger.

Khawatir Petir

Kisah penyanjungan penganut Partai Republik ini pada Wenger tak berhenti hingga di situ. Anda pernah membaca novel atau minimal menonton film Moneyball? Di situ diungkap sosok konkret Billy Beane, diperankan dengan apik oleh pemain drama Brad Pitt, yang sepintas mengesankan peran Wenger sebab kemiripan contoh pikir. Ternyata memang berkaitan. Keahlian Wenger: kehebatan membelanjakan uang dan menggali nilai secara efektif dan efisien menjadi wangsit Michael Lewis menulis sosok Billy Beane dalam buku Moneyball: The Art of Winning an Unfair Game.

"Billy Beane itu sosok olah raga populer di AS. Anda tahu siapa idola beliau? Arsene Wenger! Ini bukan guyon. Anda tahu itu kenapa," ujar lelaki kalen itu penuh semangat. Alumnus master bisnis di Universitas Missouri begitu takjub alasannya inspirator kunci sukses bisnis olah raga apa pun di dunia itu mengidolai juga Wenger. "Jika Anda melakukan lebih baik dari orang lain, maka Anda selalu jadi yang terbaik. Ini bukan ucapan saya tetapi ucapan Billy Beane, orang yang mengidolakan Arsene Wenger. Silakan Anda cek," sergah laki-laki berkumis ala Adolf Hitler itu dengan serius. Luar biasa.
 pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger
Dedikasi Arsene Wenger seperti ini yang dikagumi Stan Kroenke.
Waktu terus berjalan. Tak terasa sudah delapan tahun Kroenke berkutat di Arsenal. Namun di balik kekagumannya ada kerisauan mendalam pada Wenger. Bukan kasus sudah 10 tahun Arsenal tanpa gelar liga, tapi soal kelayakan sang maestro meneruskan darma baktinya. Meski dia punya hak prerogatif mempertahankan pria Prancis itu, namun bunyi terkuat pantas tidaknya kelanjutan misi sang profesor ada pada suporter, 60-an ribu pelanggan tetap yang saban minggunya membanjiri Stadion Emirates.

Setelah Sir Alex Ferguson pensiun, Wenger sekarang menjadi manajer paling kekal di Premier League dengan dua rekor terukir langgeng: manajer asing terbaik sepanjang era di Arsenal dan di Inggris, serta satu pencapaian awet: meraih juara tanpa terkalahkan di 2003/04, menjadi tiga rekor kalau dia sukses mengantarkan Arsenal menjuarai Piala FA 2016. Tampaknya hanya Wenger sendiri yang bisa mengusir dirinya dari Emirates. Musim 2016/17 adalah periode terakhir sang profesor di Arsenal sesuai kontrak pada Juni 2017.

"Ia memahami perasaan kita, apa filosofi klub, apa yang ingin kita lakukan dan ini menciptakan saya merasa bahwa kami total menyatu. Arsene Wenger selalu ingin melaksanakan cara yang sama dengan yang kita pikirkan. Saya tidak mau berbicara sesuatu yang bukan beliau rasakan. Selama ini ia telah melakukan apa yang dia cintai. Pada akibatnya keputusan ada pada Arsene sendiri," jelas laki-laki kelahiran 29 Juli 1947 itu dengan pasrah.

Tak satupun orang di Diklat Colney atau di kabinet Emirates ingin Wenger pergi, bahkan membayangkan kelanjutan Arsenal pun tidak. Semua besar hati bekerja untuk dan dengan Wenger semoga roda klub terus menggelinding ke seluruh dunia. Sebuah klub berusia 127 tahun. "Ia telah melaksanakan hal luar biasa untuk Arsenal. Namun Arsene pemilik dirinya sendiri, pikirannyalah yang kelak menetapkan itu," imbuh ayah dari Josh Kroenke dan Whitney-Ann Kroenke.

Kroenke menanggung beberapa perasaan sekaligus. Tatkala membahas Wenger, pria bermisai ini bersemangat namun juga berhati-hati. Ia harus mengakui dirinya telah terlibat dalam dengan Arsenal, baik sebagai penggemar maupun pemilik. Semua orang suka dengan kemenangan. Pemilik, pemain, instruktur, apalagi fans. Buat Arsenal dengan sejarah hebatnya, kepedulian mereka untuk menjadi yang terbaik menjadi gairah hidup sehari-hari yang bisa menembus khayalan dan membuka motivasi. Ini pula yang dirasakan Stan Kroenke.

Satu kisah pada 2012 yang kelak tak pernah dilupakan Kroenke perihal Wenger. Saat itu beliau mengajak Josh dan beberapa temannya, juga rombongan tim basket Denver Nuggets ke Colney untuk melihat latihan Arsenal. Tiba-datang hujan turun dengan deras, ada gemuruh halilintar.

Mereka tak percaya pada pemandangan gila. Wenger masih di lapangan terbuka, basah kuyup, tetap melatih skuatnya sambil berteriak meski suaranya tak didengar pemain. "Oh, begitu rupanya keseharian Arsene. Oh Tuhanku, saya khawatir mereka disambar petir. Semuanya itu pasti alasannya adalah cinta karena Anda tak akan melakukan tanpanya. Itulah sebuah passion," pungkas Kroenke sepenuh hati.

(foto: mirror.co.uk /greatgoals/thesun/arsenal.ir/sport&style/pinterest)