Monday, November 10, 2014

Polandia: Sukses Sebuah Perubahan

Setelah mengalahkan Jerman 2-0 di kualifikasi Piala Eropa 2016, 11 Oktober 2014, masuk akal sekali bila banyak yang pribadi mengulik nama Polandia. Lebih alasannya lawannya itu sang juara dunia gres dan menjadi induk semang bagi sebagian skuadnya, namun inilah kejayaan pertama sepanjang sejarah Biale Orly (Elang Putih) dari 19 sabung yang dimulai semenjak 3 Desember 1933.
 wajar sekali jika banyak yang langsung mengulik nama Polandia Polandia: Sukses Sebuah Perubahan
Polandia mulai mengimbangi Jerman.
Rahasia kebangkitan Polandia di lapangan hijau agaknya lebih menarik ditelusuri ketimbang menguak misteri yang menyelimuti Jerman. Soalnya kemolekan tim Elang Putih di pentas “Road to France” itu tak melulu dari hasil tubruk historis di Stadion Narodowy itu saja. Pelototilah papan klasemen Grup D, kejutan! Hingga sesi ketiga kualifikasi, Polska ada dua tingkat di atas Germany.

Jerman dengan Bundesliga-nya selalu menjadi panggung utama pesepak bola Polandia. Maka muncullah drama sensasional bila si buruh bisa menumbangkan sang majikan. Gara-gara tautan geografis, Polandia tak beda jauh dengan bab kanan Jerman yang dulu berjulukan Jerman Timur. Kota-kota Szczecin, Lubin hingga Poznan sangat beraroma dan bercita rasa Jerman.

Polandia yaitu salah satu daerah terbaik di mana Ius Soli dan Ius Sanguinis berkembang, yang bikin identitas asli terkesan jadi kabur. Pelototilah tampang Wojciech Szczesny misalnya, yang lebih Jerman daripada Polandia lantaran leluhurnya memang dari Szczecin. Atau bek kanan Lukasz Piszczek, yang berasal dari Czechowice-Dziedzice yang letaknya selemparan kerikil dari Ceko.

Bahkan salah satu bek nasional Bialo-czerwoni yang membela Bayer Leverkusen, Sebastian Boenisch, berleluhur Jerman tapi ber-KTP Polandia karena diberojolkan ibunya di Gliwice, kota erat Ceko. Aslinya Sebastian bermarga Pniowski, sehingga beliau menguasai tiga bahasa sekaligus, Jerman, Polandia dan Silesian, bahasa Ceko yang berdialek Polandia.

Lantas donasi darah Polandia yang ada di kubu Jerman jangan ditanya lagi. Siapa tidak kenal Miroslav Josef Klose? Legenda dunia yang membela panji Die Nationalmannschaft itu cuma beda kampung dengan Sebastian Boenisch. Lalu ada Lukas Josef Podolski, yang asli sekampung dengan Boenisch, striker Jerman yang masih jadi andalan pelatih Joachim Loew.

Polandia ikut menopang sejarah dan kedigdayaan Jerman di kancah dunia. Bahkan bila dikumpulkan, maka terbentuk satu tim idaman nan komplit dari aneka macam posisi. Mulai Heinz Kwiatkowski, Hans Tilkowski, Erich Juskowiak, Günter Sawitzki, Willi Koslowski, Dieter Burdenski, Pierre Littbarski, Juergen Grabowski, Tim Borowski, Piotr Trochowski, serta Klose dan Podolski.

Apakah Jerman selalu jadi laboratorium untuk menempa pemain terbaik Polandia? Bisa jadi tak lagi. Ketergantungan agaknya telah berakhir. Warna pun berubah. Dari semua 14 pemain yang diturunkan pelatih Adam Nawalka dikala meladeni Jerman, catatlah, cuma dua saja yang bernafas Bundesliga: Grzegorz Krychowiak, Lukasz Piszczek, dan Robert Lewandowski.

Nawalka justru menyeimbangan skuad yang berasal dari Liga Polandia sendiri, Ekstraklasa, selain segelintiran dari Liga Primer Rusia, Belgia, Prancis, Rumania, Italia, dan Inggris. Komposisi merata Bundesliga-Ekstraklasa terlihat tatkala duo Legia Warszawa, Tomasz Jodlowiec dan Jakub Wawrzyniak, dan seorang striker Slask Wroclaw – Sebastian Mila – jadi pondasi baru Biale Orly.

Hal itu tentu saja mengagetkan para pengamat, mengingat kelas Ekstraklasa jauh di bawah Bundesliga. Namun tim nasional soal lain. Kesuksesannya lebih ditentukan hati dan bukan otak. Oleh alhasil, hasil di Narodowy amat bermakna dan membuat Polandia menjadi bermartabat. Lihatlah, dengan formasi 4-4-2 cara main Polandia tak terlihat modern, sangat konvensional.

Akan tetapi jika diteropong lebih dalam, yang muncul yaitu semangat patriotik dan bara semangat yang tiada hentinya. Siapapun paham dengan gaya Jerman. Mencegah dibobol Jerman di 45 menit pertama saja sudah prestasi Istimewa. Inilah yang ditunjukkan bawah umur Biale Orly. Usai abad rehat titik balik ditemukan. Kelemahan Jerman terungkap, dan Polandia menuai alhasil.

Kelahiran Ekstraklasa

Itulah kenapa kemenangan di Narodowy lebih dari bersejarah. Boleh jadi, di kurun depan mereka tidak harus lagi memaksakan internasionalisasi gaya permainan kecuali menasionalisasi spirit dan mentalitas. Bagaimana pun tim nasional mesti punya abjad tersendiri, ciri khas yang mendasari acuan permainan, dan tentu saja yang terdekat berasal dari liga domestik sendiri.
 wajar sekali jika banyak yang langsung mengulik nama Polandia Polandia: Sukses Sebuah Perubahan
Salah satu tubruk big-match di Liga Polandia.
Sebab tim nasional selalu menjadi hasil dari pembinaan dan sukses kompetisi. Selama ini para ayah di Polandia segera mengirim anaknya ke Jerman atau Belanda begitu bakatnya makin menggelegar. Maklum, fenomena di Liga Polandia, Ekstraklasa, seperti tak menjamin periode depan. Liga ini hanya berisi 16 klub utama, namun yang muncul adalah drama lebih kental dari fakta.

Buat orang luar, mengeja nama-nama anggota Ekstraklasa saja rentan bikin pengecap keseleo. Bahkan Anda mampu naik pitam saat nekat berusaha membaca cepat berkali-kali. Penonton Ekstraklasa kebanyakan brengsek, alasannya adalah punya hobi menonton bola sambil mencekik botol alias nenggak alkohol yang ujung-ujungnya sangat bisa dipastikan: teler!

Meminum "kencing setan" itu memang budaya lama kakek buyut mereka yang terus diwariskan kepada generasi ketiga dan keempat. Jarang ada klubyang tegas melarang alkohol dibawa masuk jika kursi-dingklik stadion tak ingin sunyi, atau bakal nombok balasan tiket tak terjual. Liga ini sangat rentan dengan kerusuhan, onar, amuk massa dan berisiknya minta ampun.

Ulah dan aksi suporter klub-klub Ekstraklasa terkadang menutupi konten pertandingan alasannya fenomenanya jauh lebih merangsang disaksikan. Selain medan dan realitanya memang menyeramkan, sejumlah teror dan intimidasi bisa tiba kapan saja saat Anda berhadapan dengan para fans klub terutama di luar stadion. Kadang kita mirip nonton tinju ketimbang bola.

Suasana bisa memukau, mampu pula horor. Tak heran jika banyak tim Eropa yang berdoa supaya jangan satu grup dengan tim Polandia manapun. Klub-klub Ekstraklasa terkenal jarang punya kostum yang elegan, bahasa halus untuk bilang norak. Sebelum direformasi pada demam isu lalu, Liga Polandia selalu akrab menjadi sarangnya penyuap, koruptor, dan spekulator.

Klub-klub macam Arka Gdynia, Górnik Leczna, Górnik Polkowice, Jagiellonia Bialystok, KSZO Ostrowiec Swietokrzyski, Zaglebie Sosnowiec, Korona Kielce, Zaglebie Lubin jadi langganan "KPK" Polandia. Malahan ada satu kejadian saat Zaglebie Lubin, yang sesudah meraih titel liga 2006/07, besoknya pribadi dicopot dijebloskan dan diseret paksa ke divisi dua karena didakwa curang.

Saking banyak masalah di kerusuhan penonton, dan korupsi di PZPN (PSSI-nya Polandia), membuat  prestasi negara ini berjalan seperti keong di pelataran Liga Champion apalagi hingga di putaran elite. Melihat atau mendengar klub Polandia main di Liga Champion barangkali hitungannya seperti kita ketemu tahun kabisat, alias empat ekspresi dominan sekali gres sekali muncul.

Tak satu pun klub Polandia mampu menjuarai ajang Eropa. Prestasi tertinggi mereka diraih pada “zaman baheula” yaitu Legia Warszawa menembus semifinal Liga Champion 1969/70 atau perempatfinal 1995/96. Satu lagi dibuat oleh seterus mereka, Widzew Lodz, yang melaju di semifinal 1982/83 dan tampil di putaran grup 1996/97, juga di Liga Champion.

Pengelolaan kompetisi negeri yang punya tiga legenda pada sosok Grzegorz Lato, Kazimiers Deyna dan Zbigniew Boniek itu masih di bawah Ukraina dan Rusia misalnya. Di tengah angin kencang kerusuhan antar-fan, isu terkini lalu Polandia memaksa bikin “breakthrough” dengan mengganti Liga Pilki Noznej yang semenjak 1927 itu, dengan Ekstraklasa, sebagai bab dari reformasi sepak bolanya.

Selalu ada harga sepadan yang didapat dari perubahan dan mengatasi risiko. Bertahun-tahun menjadi biang kerok, Liga Polandia langsung menunjukkan sesuatu untuk bangsa. Baru semusim Ekstraklasa berjalan, sebuah rekor yang bertahan 81 tahun pun pecah. Untuk pertama kalinya, Polandia mengalahkan “induk semang sepak bola” mereka, Jerman. Lumayanlah.

KLASEMEN ABADI EKSTRAKLASA (1927-2014)

No. Klub
Musim
Level
Main
Poin
Produksi Gol
Titel
01. Legia Warszawa
76
1
2044
2802
[3389-2176]
10
02. Wisła Kraków
73
1
1909
2514
[3125-2232]
14
03. Ruch Chorzów
73
1
1922
2249
[2936-2446]
13
04. Górnik Zabrze
56
1
1594
2028
[2414-1712]
14
05. Lech Poznań
52
1
1462
1673
[1973-1730]
6
06. ŁKS Łódź
65
4
1720
1761
[2230-2361]
2
07. Widzew Łódź
34
2
1038
1329
[1365-1187]
4
08. Pogoń Szczecin
40
1
1158
1158
[1324-1579]
0
09. Śląsk Wrocław
34
1
1014
1124
[1167-1211]
2
10. GKS Katowice
30
2
894
1030
[1023-977]
0
11. Zagłębie Lubin
25
2
774
977
[957-903]
2
12. Polonia Warszawa
31
4
800
966
[1165-1251]
1
13. Zagłębie Sosnowiec
35
3
950
889
[1131-1250]
0
14. Polonia Bytom
35
4
892
881
[1099-1141]
2
15. Cracovia
34
1
804
852
[1174-1184]
4
16. Stal Mielec
25
3
738
726
[834-844] 
2
17. Szombierki Bytom
25
4
702
645
[875-999] 
1
18. Gwardia Warszawa
23
7
572
539
[682-764] 
0
19. Odra Wodzisław Śląski
14
5
418
529
[487-570] 
0
20. Odra Opole
22
4
564
523
[645-740] 
0 
21. Lechia Gdańsk
21
1
526
501
[526-710] 
0
22. Amica Wronki
11
†
332
498
[452-370] 
0
23. GKS Bełchatów
11
1
338
450
[387-403] 
0 
24. Dyskobolia Grodzisk
10
7
293
441
[420-357] 
0 
25. Warta Poznań
18
4
410
423
[841-733]
1
26. Arka Gdynia
12
2
360
346
[344-451] 
0 
27. Garbarnia Kraków
15
4
315
306
[561-561] 
1
28. Wisła Płock
9
2
270
306
[290-400] 
0
29. Pogoń Lwów
13
↑
273
304
[537-439]
0
30. Korona Kielce
7
1
210
303
[260-254] 
0 
31. Jagiellonia Białystok
10
1
304
299
[281-428] 
0 
32. Stomil Olsztyn
8
2
254
296
[255-339] 
0
33. Zawisza Bydgoszcz
12
1
356
292
[368-540] 
0 
34. Olimpia Gdańsk
9
†
290
265
[313-380] 
0 
35. Stal Rzeszów
11
4
290
255
[297-377] 
0
36. Hutnik Kraków
7
4
234
254
[299-284] 
0 
37. KS Warszawianka
13
†
271
227
[427-612] 
0 
38. Motor Lublin
9
4
274
220
[259-372] 
0
39. AKS Chorzów
10
†
192
196
[336-307] 
0 
40. Bałtyk Gdynia
7
4
210
186
[184-247] 
0 
41. ROW Rybnik
7
3
198
165
[165-233] 
0 
42. Górnik Wałbrzych
6
3
182
157
[194-246] 
0
43. Górnik Radlin
9
6
188
155
[238-344] 
0
44. Zagłębie Wałbrzych
6
8
160
142
[131-166]
0 
45. Czarni Lwów
7
†
164
141
[265-326] 
0 
46. Raków Częstochowa
4
3
136
136
[120-186] 
0 
47. Sokół Tychy
4
5
136
130
[128-190] 
0 
48. Polonia Bydgoszcz
7
5
156
129
[186-296] 
0 
49. Górnik Łęczna
4
1
112
128
[105-169] 
0 
50. Ruch Radzionków
3
4
90
109
[105-135] 
0 
51. Piast Gliwice
3
1
90
106
[88-117]
0
52. Stal Stalowa Wola
4
3
132
103
[113-173] 
0
53. 1. FC Katowice
3
7
78
88
[164-143] 
0 
54. GKS Tychy
3
2
90
86
[105-113] 
0
55. Union Touring Łódź
4
†
90
76
[149-212] 
0
56. KSZO Świętokrzyski
3
4
92
71
[73-147]
0
57. Podbeskidzie
2
1
60
67
[65- 82]
0
58. Siarka Tarnobrzeg
3
3
102
65
[88-169]
0
59. Arkonia Szczeci
4
5
88
64
[100-166] 
0 
60. Śląsk Świętochłowice
3
6
66
45
[84-166]
0
61. Unia Racibórz
2
5
52
38
[77-126]
0
62. Hasmonea Lwów
2
†
54
38
[98-149]
0
63. Wawel Kraków
2
7
32
37
[50-36] 
0
64. Igloopol Dębica
2
6
64
37
[43-121]
0
65. Strzelec 22 Siedlce
3
†
64
36
[84-169]
0
66. Szczakowianka Jaworzno
1
5
30
32
[40-54]
0
67. RKS Radomsko
1
†
28
31
[23-34]
0
68. TKS Toruń
2
†
54
30
[84-185]
0
69. Podgórze Kraków
2
6
42
27
[56-103]
0
70. Radomiak Radom
1
4
30
25
[29-32]
0
71. Górnik Polkowice
1
Φ
26
23
[17-37]
0
72. Tarnovia Tarnów
1
6
26
22
[42-48]
0
73. Świt Dwór Mazowiecki
1
4
26
22
[21-42]
0
74. GKS Jastrzębie
1
4
30
19
[24-43]
0
75  Dąb Katowice
2
†
36
14
[29-97]
0
76. ŁTS-G Łódź
1
†
22
12
[25-67]
0
77. Śmigły Wilno
1
†
18
11
[29-50]
0
78. Jutrzenka Kraków
1
†
26
11
[41-82]
0
79. Lechia Lwów
1
†
22
11
[23-66]
0
                                                         sumber: 90minut.pl  Φ = mundur, ↑= pindah ke Ukraina, † = bubar                   

(foto: deccanchronicle.com/epa)

Tuesday, November 4, 2014

Persija, Pandangan Baru Dari Soempah Pemoeda

Walaupun di isu terkini 2014 gagal memenuhi target yang dicanangkan, namun reputasi Macan Kemayoran sebagai salah satu kesebelasan terpandang di Tanah Air tidak pernah tergoyahkan. Dan, ini selalu terjadi dari musim ke ekspresi dominan.

Berkat sejarahnya yang gilang gemilang, bahkan Persija menjadi klub paling sukses di pentas sepak bola Indonesia sepanjang sejarah. Klub ini sukses merebut 11 kali juara. Sembilan kali era kolonial hingga amatir, sekali juara bersama 1975 (bersama PSMS Medan), dan sekali di periode baru kompetisi profesional pada 2001. Berkat sejarahnya pula, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi semenjak debut pada 1931.

Dilahirkan dengan nama Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ), pada 28 November 1928, sungguh, Persija menjadi sejarah sepak bola Indonesia itu sendiri. Seperti diketahui, pendirian Persija sangat terkait dengan lahirnya Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928. Makara sebulan pas, organisasi terkuat di lapangan hijau itu berdiri. Sehingga pada kurun 1930-an di VIJ, klub yang menjadi cikal bakal, Persija memiliki pengurus top di diri Muhammad Husni Thamrin (MH Thamrin), seorang Betawi tulen yang kelak di kemudian hari menjadi jagoan Jakarta dan pahlawan nasional pra kemerdekaan.

Ke-Jakarta-an MH.Thamrin ini mampu dibuktikan dengan dipakainya nama jalan paling prestisius, nomor satu di Ibukota dan di Indonesia, Jl.MH.Thamrin. Beliau tidak sendirian, alasannya adalah Persija juga diurus para teknokrat Dr A. Halim, Dr. Moewardi, Dr Koesoemah Atmadja, Mr Abdulwahab, Mr. Basri. Nama-nama seperti Roeljaman, Moh. Saridi, Soetarno, A. Gani, Djaimin, Soemarno, Soetjipto, Soetedjo, Iskandar, Oentoeng, atau Moestari, sangat dikenal orang Jakarta ketika itu. Mereka berkontribusi mengerek reputasi Persija di Tanah Jawa. Inilah skuad legendaris Persija yang merebut gelar juara nasional pada 1930-an.

Kebanyakan mereka datang dari klub-klub lokal yang menjadi sumber pemain Persija seperti Sinar Betawi, Jong Krakatau, Tjahaja Kwitang, STER, Setia, Malay Club, Keroekoenan, atau Andalas. Secara historis, wilayah-wilayah Petojo, Kramat, Tanah Tinggi, Tanah Abang, hingga Mesteer atau Jatinegara ialah basis utama klub pujian Jakarta semenjak awal.

Persija=Tim Nasional

Nama-nama Fredy Timisela, Kweet Kiat Sek, Fatah Hidayat, dan Thio Him Tjiang mulai bermunculan. Ada lagi Hong Sing, Van der Vin, Djamiaat Dalhar, Kwee Tek Liong, Van den Berg, Van der Vin, Pietersen. Juga Chris Ong, Giok Po, dan Tan Liong Houw. Disambung Soetjipto Soentoro, Sinyo Aliandoe, Yudi Hadiyanto, Fam Tek Fong, Reni Salaki, Tahir Yusuf, Supardi - yang dikenal semua orang Jakarta di abad 1960-an.
Belakang: Suaeb Rizal(2), Sutan Harhara (3), Ronny Paslah (4), Oyong Liza (5).
Depan: Sofyan Hadi (1), Andi Lala (3), dan Iswadi Idris (4)
Era keemasan Persija pada 1970-an ditandai dengan kawasan lahirnya legenda sepak bola dan pemain nasional. Sebut saja Iswadi Idris, Risdianto, Sofyan Hadi, Anjas Asmara, Sutan Harhara. Masih ada Andi Lala, Oyong Liza, Simson Rumapasal, Johannes Auri, Sudarno, Suaeb Rizal, Ronny Paslah dan lain-lain. Pada dekade ini, reputasi Persija juga membubung tinggi, ditakuti dan disegani lawan. Bukan saja di dalam negeri namun oleh klub-klub top Eropa!

Deretan adu internasional melawan OFK Beograd, Dukla Praha, atau Ajax Amsterdam, menjadi saksi betapa tingginya reputasi Persija kurun itu. Dominasi merambah ke tim nasional di mana mayoritas pemain Persija merupakan pemain nasional. Apalagi warna jersey utama Persija persis sama dengan kostum tim nasional, ialah merah.

Lalu kurun 1980-an pada diri Rully Nere, Ronni Pattinasarani, Junaidi Abdillah, Dede Sulaiman, Memasuki dekade 1990-an, reputasi Persija mulai mendapat banyak pesaing di pentas sepak bola nasional. Nama-nama Berti Tutuarima, Tony Tanamal, Darmadi bersaudara (Didik dan Adityo), Marzuki Nyak Mad, Tias Tono Taufik, Patar Tambunan, hingga Rahmad Darmawan mengisi album berikut.

Bang Yos, seorang pecinta Persija yang kebetulan menjadi Gubernur DKI sempat menaikkan pamor klub legendaris di selesai 1990-an hingga awal 2000-an. Lewat perjuangan gigih dan dana yang tidak sedikit, kesudahannya setelah 22 tahun berpuasa gelar, Persija meraih impiannya dikala merebut gelar ke-11, titel terakhirnya pada 2001.

Dalam perjalanannya, nama Persija terus melanglang buana lewat nama-nama Widodo Cahyono Putro, Kurniawan Dwi Yulianto, Miro Baldo Bento, Rochy Putiray, Deddy Umarella, Nuralim. Juga eranya Emmanuel De Porras, Imran Nahumaruri, Ali Sunan, Khair Rifo, Ponaryo Astaman, Luciano Leandro, Bambang Pamungkas, atau Ismet Sofyan.

Kini di dekade kedua periode milenium, di mana sepak bola dipaksa profesional total, tantangan Persija tentu tidak mudah. Dan ini menjadi tantangan serius untuk mengembalikan reputasi, kedigdayaan, dan dominasinya mirip impian jutaan warga Jakarta dan para pendukung fanatiknya. Selamat ulang tahun, Persija! Tanah Betawi selalu merindukan kejayaanmu. 

(foto: majalah olah raga Olympic)