Wednesday, April 16, 2014

Renaissance Liverpool (2): Kohesi Sempurna 3 Predator

Ini yaitu serentetan trilogi mana periode Liverpool berubah menjadi menjadi kesebelasan yang paling lezat ditonton, menghibur, genit, menggemaskan, penuh gairah di mana romantisme dan keganasan bersatu padu. Jangan lagi Anda, siapapun pelatih bola di dunia ini pasti menyukainya.
Ini adalah serentetan trilogi mana kala Liverpool menjelma menjadi kesebelasan yang paling Renaissance Liverpool (2): Kohesi Sempurna 3 Predator
Duet Sturridge-Suarez mengingatkan Shearer-Sutton.
Ada sepasang striker ambisius yang punya karakterisitik permainan dan tingkah acuan yang sangat berbeda tapi saling menunjang, saling melengkapi, saling mengisi. Ada sebaris trisula predator ganas yang selalu bikin ciut nyali musuh-musuhnya sekaligus perasaan tidak nyaman pendukung lawan.

Gol-gol mereka selalu mengandung unsur egoisme, ambisi, kerja keras, kerapkali mesti egosentris yang menjadi DNA-nya. Apapun rintangannya bukanlah penghalang buat Daniel Sturridge dan Luis Suarez untuk melesakkan bola lewat berbagai cara dan tindakan. Di atas itu semua, pahala terbaik mereka buat Liverpool, tiada lain, mampu menebarkan harapan.

Ini bantu-membantu yang sangat dan paling penting. Hampir seperempat abad, Liverpool tak pernah lagi mengelus atau membelai trofi liga. Bayangkan, nyaris 25 tahun! Buat klub legendaris tentu sangat sangat usang, keterlaluan bahkan waktunya sudah hampir dua kali lipat dari Arsenal. Tapi, syukur Alhamdulillah, peluang itu telah terbuka lebar-lebar sekarang. Ya, apalah artinya hidup tanpa memiliki cita-cita?

Tak syak lagi, keduanya soulmate penyerang idaman ketika ini. Itulah positioning terbaik Sturridge-Suarez di Liverpool. Sebuah duo ideal yang di setiap gerak-geriknya, kegembiraannya, selebrasinya, menjadi denyut nadi keinginan dan tarikan nafas peluang pasukan Brendan Rodgers beserta khalayak ramai Republik Liverpudlian. Mereka telah mengguncangkan bumi Britania!

Publik menamakan pasangan ini SAS, plesetan dari pasukan komando elite Inggris yang amat ditakuti sejagat, Special Air Service. SAS tentu bermakna Sturridge And Suarez seperti yang dibutuhkan pers. Bak sebuah unit komando militer yang selalu menghadapi risiko terberat, tertinggi di dalam tugasnya, begitu pula hambatan yang dihadapi Sturridge-Suarez.
Ini adalah serentetan trilogi mana kala Liverpool menjelma menjadi kesebelasan yang paling Renaissance Liverpool (2): Kohesi Sempurna 3 Predator
Duet striker memang punya sejarah cantik di liga.
Suarez ialah seorang pejuang yang pantang menyerah, papar Ole Gunnar Solskjaer, usai perjuangan batalyonnya dilumat duet SAS dengan skor 3-6. Secara spesifik, manajer Cardiff City itu menganggap sosok Suarez sebagai biang keladi kehancuran timnya. Di matanya, laki-laki Uruguay itu orang yang selalu optimistis pada upayanya, lebih hebat dari sekadar striker top.

Pers di Inggris malahan menganggap tandem SAS 'KW1' (Suarez-Sturridge) itu lebih mahir dari duet SAS 'Ori' milik Blackburn Rovers 1994/95 di diri (Alan) Shearer dan (Chris) Sutton. Jika di simpulan animo ini duet 'KW1' bisa menyamai peran duet 'Ori' yaitu memberi andil besar menjadi juara liga, maka bisa jadi posisi historis mereka jadi terbalik.

Hal paling menarik menonton Liverpool di musim ini, ya tiada lain suguhan puisi dan prosa bergerak dalam diri trio-pembunuh: Luis Suarez, Daniel Sturridge dan Raheem Sterling. The Reds boleh memble di belakang, tidak mentereng di zona sayap, kurang sip di lini tengah bahkan pas-pasan di bawah mistar gawang. Sungguh, semua itu tak soal alasannya mereka punya tridente akhir hayat, metamorfosa dari SAS menjadi SSS, tripel S!

Pujian Italia

Ibarat predator, Suarez ialah Tyrannosaurus-Rex, dinosaurus terganas yang selalu menyantap mangsa apa saja, termasuk dinosaurus itu sendiri dengan tega bin kejam. Sementara Sturridge lebih mirip seekor Troodon, dinosaurus paling cendekia yang membunuh korbannya dengan berdarah hambar, dikunyah bertahap dan punya cara ekslusif dengan memainkan mangsanya terlebih dulu.

Adalah mimpi jelek buat lawan sebab Liverpool punya dinosaurus ketiga! Barangkali banyak orang tahu. Ya, Raheem Sterling. Gelandang serang yang sekampung dengan musisi legendaris Bob Marley, Jamaika ini yaitu stimulan vital yang melakoni peran pembuka jalan atau pemecah kebuntuan bagi duet SAS. Sterling kolam seekor Dromiceiomimus, dinosaurus tercepat yang sanggup berlari 60 km/jam. Pemuda yang gerakannya seperti nyamuk ini melengkapi trio akhir hayat The Reds di abad ini.
Ini adalah serentetan trilogi mana kala Liverpool menjelma menjadi kesebelasan yang paling Renaissance Liverpool (2): Kohesi Sempurna 3 Predator
Raheem Sterling sering membuat bek lawan terjengkang mendadak. 
Sebagai mahluk paling eksplosif di Liverpool animo 2013/14, cowok yang baru 19 tahun tapi sudah beristri dan beranak dua itu tahu betul menggunakan kecepatan. Manchester United, Tottenham, dan Arsenal tak pernah lupa pada akselerasinya menggiring bola, kadang sambil meliak-liuk atau sekonyong-konyong mengerem mendadak yang bikin pengawalnya terjungkal.

Trio SSS yang dialiri enerji kohesi tepat bermetamorfosis menjadi kombinasi free-scoring tepat dan klik mematikan. Selain mendapat apresiasi, tridenta ini memang terbukti telah sebagai fear factor buat siapapun yang menghadapi Liverpool. Tiga teroris ulung ini yakni bangunan dasar ambisi Liverpool yang terlihat tak pernah terpuaskan dan sangat berbeda kinerjanya dibandingkan animo sebelumnya.

Determinasi mereka mensugesti komposisi permainan dan nyali rekan-rekannya. Saat getaran passion ketiganya muncul, dikala itu pula gelegak adrenalin menulari skuad. Intisari skuad Liverpool sesungguhnya cuma dibentuk oleh 5-6 pemain saja. Duet SAS atau trio SSS selalu ditopang Steven Gerrard, Jordan Henderson, atau Philippe Coutinho, atau Joe Allen atau Lucas Leiva.

Manakala trisula akhir hayat ini tak bermain baik, dijamin permainan Liverpool akan hancur. Jose Mourinho, Manuel Pellegrini dan Arsene Wenger, yaitu sedikit pelatih yang hafal tahu betul bagaimana cara menanggulangi mereka, intinya jangan hingga ada bola yang dikirim ke mereka. Pola main Rodgers adalah sistem blok, di mana organisasi sejajar menjadi kunci permainan, bertahan dan menyerang.

Kinerja trio SSS menutupi serta menolong pertahanan Liverpool yang sesungguhnya kacrut. Gerrard, Henderson, atau Coutinho sangat lazim segera mengirim bola ke kiri, kanan, atau depan di mana Sturridge-Suarez-Sterling sontak melaksanakan rotasi secara otomatis. Ketika itulah lini belakang Liverpool punya waktu memulai konsolidasi dan koordinasi lagi. Begitu seterusnya.
Ini adalah serentetan trilogi mana kala Liverpool menjelma menjadi kesebelasan yang paling Renaissance Liverpool (2): Kohesi Sempurna 3 Predator
Trio SSS The Reds. Sulit diulangi 20 tahun sekali.

Kedigdayaan trio SSS memang memukau siapa pun. Secara spesifik instruktur nasional Italia Cesare Prandelli berandai-andai apabila Sturridge dan Sterling orang Italia. Seperti diketahui, di Piala Dunia 2014 Italia sekandang di Grup D bersama Costa Rica, Inggris serta Uruguay. Ini berarti lawan terberat yang dihadapi Gli Azzurri ialah trio SSS!

70 Juta Pound

"Alangkah bahagianya jika kami punya Sturridge dan Sterling. Kecepatan, enerji dan stamina mereka sangat ahli serta bermain luar biasa untuk klub mereka. Inggris beruntung menemukan sepasang pemain menarik mirip itu," kata Prandelli, yang di perempatfinal EURO 2012 menyingkirkan skuad Roy Hodgson lewat drama tabrak penalti.

Namun sorry to say, untuk menemukan pemain bertipe Sturridge dan Sterling buat bangsa Italia memang bak mencari dua jarum di tumpukan jerami. Italia beruntung di Ukraina 2012 sebab duo Sturridge-Sterling belum dipanggil tim nasional Inggris. Tapi nanti di Brasil ceritanya pasti lain. Tak heran bila Prandelli sekarang sangat khawatir dengan kekuatan Inggris.

Sadar betapa prospektifnya abad depan Liverpool melihat potensi duet SAS atau trio SSS, manajemen berniat untuk melindungi ketiga bintangnya dari incaran para pesaing, terutama sang hero utamanya, Luis Alberto Suarez Diaz alias Luis Suarez. Menurut si pemilik Liverpool, John W Henry, pihaknya punya dua cara untuk mengikat El Pistoleiro selama mungkin di Anfield.

Pertama beliau akan menaikkan nilai kontrak dan gajinya, kedua: mengabaikan semua penawaran. Dengan status tak mau menjual, tak berminat dan tak berniat, secara moril Liverpool masih punya hak pada laki-laki yang dibeli dari Ajax, Januari 2011. Ketika Suarez datang-datang mbalelo karena merasa klubnya tak punya ambisi dan peluang ke Liga Champion, seketika itu pula suasana jadi heboh.

Arsenal dan Real Madrid paling berpeluang menggunakan jasa dan tenaganya. Tarik ulur kubu Emirates dan Anfield sedemikian intensnya yang berujung tensi tinggi usai kedua pihak saling sindir menyindir. Suarez memang punya klausul membeli kontraknya sendiri pada sisa waktunya di Anfield senilai 40 juta pound. Pada Agustus 2013, Arsene Wenger melayangkan proposal melecehkan nan ngeledek 40.000.001 pound saking frustrasinya menghadapi kepala kerikil kubu Liverpool!

Ini adalah serentetan trilogi mana kala Liverpool menjelma menjadi kesebelasan yang paling Renaissance Liverpool (2): Kohesi Sempurna 3 Predator
Tatapan Arsene Wenger pada Luis Suarez yang penuh arti.
Andai tiada upaya keras, plus sembah sujud dengan sangat dari Gerrard dan Rodgers, sambil berjanji akan menjamin ajang Liga Champion sesuai hasrat terbesarnya, niscaya Suarez sudah pindah ke Emirates. Kasus Suarez jelas beda dengan Fernando Torres di mana Liverpool berminat menjualnya ke Chelsea 50 juta pound pada 31 Januari 2011.

Akhirnya drama Suarez kelar untuk sementara waktu saat pada Januari 2014 Liverpool memberi kontrak gres. Henry berani menggaji Suarez 200.000 pound per pekan, senilai 10 juta pound/tahun, sampai 2018 atau kontrak empat setengah animo. Klausul kontrak pun melesat menjadi 70 juta pound. Jumlah ini sebenarnya belum begitu kondusif dari incaran investor gres.

Sebagian pihak di Anfield bahkan ngotot agar buy-out clausul Suarez digenapkan menjadi 100 juta pound untuk mematok standar tinggi plus memagari Suarez supaya tak loncat dari Anfield. Sebegitunyakah? Sesuai fakta, apa mau dikata Luis Suarez memang telah menjadi key success factor kebangkitan Liverpool musim ini. Dari dirinyalah lahirnya duet SAS atau tripel SSS.

(foto: dailymail/theguardian/siamliverpool/mirror/liverpoolecho)

Tuesday, April 15, 2014

Renaissance Liverpool (1): Mencar Ilmu Dari Kera

Pekan demi pekan, kapal revolusi berwarna merah itu makin mendekati pelabuhan tujuannya. Seremoni penyambutan disiapkan. Tinggal sebulan lagi, barangkali, Liverpool meraih apa yang amat luar biasa diusahakan dalam dua tahun belakangan. Dua tahun penuh drama, kerja keras, dan pengorbanan namun dibarengi oleh mimpi, keinginan, dan dogma.
 kapal revolusi berwarna merah itu makin mendekati pelabuhan tujuannya Renaissance Liverpool (1): Belajar dari Simpanse
Renaissance Liverpool dimulai oleh dua orang.
Wajar orang bertanya-tanya: revelation model apa yang sedang terjadi di Melwood. Sungguhkah terjadi Renaissaince, kebangkitan otentik, di Anfield? Racikan belakang layar apa yang ditemukan sehingga kesebelasan dengan kejayaan lawas itu begitu menghebohkan, angker? Berikut cerita kebangkitan mengagumkan The Reds seperti yang dipublikasikan The Guardian, hebatnya, dikreasi dua orang berbeda latar belakang.

Keputus-asaan atau keinginan terlalu tinggi adakala menciptakan orang lupa daratan, bahkan cenderung syirik. Pada 1998, di dikala-saat final World Cup digelar di Prancis, tiba-tiba saja Glenn Hoddle mengenalkan seorang perempuan berjulukan Eileen Drewery kepada anak buahnya. Dia bukan seorang wanita biasa, akan tetapi seorang paranormal, mungkin juga jago nujum.

Bak petir di siang bolong, markas tim nasional Inggris dihajar kehebohan dan desas-desus yang lalu jadi buah bibir, juga kelak hikayat. Kenapa sang pelatih ahli itu sampai harus menyeret paranormal hanya untuk bicara dari hati ke hati dengan setiap pemain? Hoddle merasa tugas memompa semangat tim atau mengenal sosok setiap pemain bukan peran utamanya.
 kapal revolusi berwarna merah itu makin mendekati pelabuhan tujuannya Renaissance Liverpool (1): Belajar dari Simpanse
Eileen Drewery dan Glenn Hoddle menginspirasi Liverpool.
Eileen si misterius itu eksklusif bekerja. Suatu cerita, saat giliran Ray Parlour yang harus 'dipermak' psikisnya, mirip biasa, kedua telapak tangannya ditaruh di atas kepala pemain. "Agak ke belakang, Eileen. Nah, sekarang ke samping," jelas si Romford Pele yang meringis geli namun keasyikan kepalanya disentuh. Hingga menjelang milenium baru, sepak bola Inggris masih terjamah oleh cerita klenik ala zaman jahiliyah. 

Barangkali Anda tersenyum namun malas menanggapi hal seperti itu, hingga kemudian Anda seketika berubah pandangan tatkala mengetahui peran mulia yang dilakukan Steven Gerrard, kapten Liverpool sekaligus kapten nasional Inggris, The Heart of Lions. Adalah Dr. Steve Peters, yang menjadi pangkal cerita. Dia adalah satu anggota penting kabinet Roy Hodgson (semenjak 1 Mei 2012) di manajemen Three Lions selain fisioterapis Gary Lewin tentunya. 

Hodgson mengangkat Dr. Peters, seorang psikiatris olah raga, di kabinet tim usai menjadi manajer nasional Inggris, satu posisi yang sama peliknya dengan Perdana Menteri. Amat jelas Hodgson enggan mengulangi kepicikan Hoddle. Kekonyolan harus disudahi. Dari mana beliau dan Peters memulai perjuangan untuk memperbaiki motivasi dan kinerja tim? Mereka sepakat: kapten nasional! 
 kapal revolusi berwarna merah itu makin mendekati pelabuhan tujuannya Renaissance Liverpool (1): Belajar dari Simpanse
Dr Steve Peters.
Peters pun membidik Gerrard sebagai target awal tugasnya. Saat itu konfidensi Gerrard melemah karena sangat sering didera cedera groin, pangkal paha. Sebagai pemain kunci di lini tengah, sumber spiritual lapangan di Liverpool dan Inggris ikut merana karenanya. 

Di-persona-non-grata-nya John Terry, lalu memburuknya fisik Rio Ferdinand sebagai pengganti, semakin meyakinkan Hodgson saat menunjuk leader berikutnya: Gerrard! Awalnya kondisi ini membebani Gerrard secara psikis. Namun waktu berjalan, sekarang tampak terlihat, meski lambat tapi kondisi Gerrard, Liverpool, dan Inggris terus membaik.

Perasaan skeptis berkembang menjadi optimis. Kolaborasi Peters dan Gerrard diyakini sebagai awal kebangkitan Three Lions. Kisah indah bertebaran. Di masa gres itu, Inggris cuma kalah sekali dari empat juara dunia, yaitu dari Jerman 0-1, dan kalah 2-4 via tabrak penalti vs Italia di EURO 2012, tapi dibalas dengan skor 2-1 dalam sebuah persahabatan di Bern, 15 Agustus 2012.

Namun Brasil tak pernah menang dari pasukan Hodgson lewat hasil 1-2 dan 2-2. Lawan Prancis berakhir 1-1. Di ajang resmi, Inggris sukses meraih tiket Piala Dunia 2014 dengan hasil meyakinkan. Hodgson tersenyum puas. Gerrard pun mulai berbinar-binar perasaannya. Dia tahu asal-muasal perubahan jago ini, kemudian berpikir keras bagaimana menularkan ke sisi yang lain.

Harus Tegas

Pada medio 2012 itu, dalam waktu sebulan Gerrard sudah punya dua bos baru. Setelah Hodgson adalah Brendan Rodgers, yang resmi memanajeri Liverpool pada 1 Juni 2012. Dan, seperti yang diakuinya, Stevie G bantu-membantu cukup butuh 2-3 bulan mencicipi kesaktian sentuhan Dr. Peters tanpa harus kegelian seperti Parlour dulu, dan itu sangat mengesankannya.
 kapal revolusi berwarna merah itu makin mendekati pelabuhan tujuannya Renaissance Liverpool (1): Belajar dari Simpanse
Steven Gerrard, kapten Liverpool dan tim nasional Inggris.
Pada satu sisi, hingga menjelang 34 tahun, Gerard semakin memikirkan Liverpool yang belum pernah diberi titel idaman semenjak dibela pada 1998. Ide cemerlang muncul. Dia membagi kisah pengalaman barunya itu kepada Rodgers. Terpukau oleh tuturan kaptennya, manajer yang gres berusia 39 tahun saat membesut Liverpool tersebut merasa terinspirasi, kemudian mengundang Peters ke Melwood.

Keputusan Rodgers itu yang kelak menjadi momen kebangkitan. Dr. Peters lalu mesti bersua dengan skuad yang bersedia nrimo 'masuk kelas' seusai latihan fisik. Namun semua ini hanyalah awalan saja. Gerrard berdebar-debar apakah upaya Dr. Peters akan berhasil di Liverpool. Walau setengah mati berjuang, namun Liverpool tetap saja berperingkat ketujuh di akhir trend 2012/13. 

Posisi itu hanya setingkat lebih baik dari demam isu sebelumnya. The Reds urung lagi ke Eropa; boro-boro Liga Champion, tiket ke Liga Europa pun luput. Namun ada satu tabrak yang selalu diingat Peters dan ribuan noktah harapannya, yakni saat Rodgers memulai debut di Anfield, Agustus 2012. Di sabung itu Liverpool menahan si juara bertahan Manchester City dengan 2-2.

Bukan soal hasil atau menyaksikan debut Raheem Sterling, tapi aksi dan reaksi pasukan Rodgers masa itu sangat berkarakter, penuh optimis, dan berkemauan berpengaruh. Liverpool cuma kalah kualitas dan materi pemain, namun soal mental ceritanya lain. Konklusinya ditemukan bahwa Rodgers harus tegas dikala menentukan grup pemain. Artinya berkeliaran di transfer window sepertinya menjadi mutlak.

Kualitas optimisme meningkat ketika menjemput musim 2013/14. Perbaikan di Liverpool membuat pendukung mereka berperasaan sama setidaknya mirip di era Ron Yeats dan Ian St John. Bukan yang terbaik, namun Anda sulit beranjak dari Anfield atau sofa di rumah tatkala menonton aksi Luis Suarez yang penuh gairah. Artinya Liverpool cuma butuh terus percaya dan bernasib baik!
 kapal revolusi berwarna merah itu makin mendekati pelabuhan tujuannya Renaissance Liverpool (1): Belajar dari Simpanse
Pokok membenahi persoalan dimulai dari seorang kapten.
Jika sekarang mereka bergantian menduduki singgasana Premier League demam isu ini, maka perbaikan mental dan penemuan seni manajemen yakni sebuah keniscayaan. Mereka pantas menikmatinya meski episode paling memilih belum berakhir. Menjamu Chelsea di pekan ke-36, Ahad (27/4), diramal bakal menjadi 'the real tamat' keberlangsungan nasib Liverpool. Sejarah yang sudah dinantikan-tunggu hampir seperempat masa.

Sangsikah Anda dengan mentalitas percaya diri dan semangat kebersamaan mereka? Tengok beberapa fakta yang terjadi ketika The Reds menghantam Tottenham 4-0 (30/3) serta Manchester City 3-2 (14/4). Kejadian sama berulang-ulang melihat Jordan Henderson dan Philippe Coutinho terlibat diskusi serius mana masa Liverpool mendapat tendangan bebas.

Perhatikanlah, sementara di sisi lainnya di hadapan sang bola, Luis Suarez dan Steven Gerrard juga terlihat saling bisik. Mereka serius dan intens. Penonton membacanya itu sebagai siasat untuk mengarahkan bola ke gawang lawan. Itu betul, tapi bahwasanya ada yang lebih penting lagi. Alih-alih akan mengeksekusi bola, komunikasi ekspresi akan meredam tekanan.

Dr. Peters mengajarkan dikala seperti itulah, para pemain sebisa mungkin memanfaatkan waktu untuk cooling down, menarik nafas dalam-dalam, memasukkan oksigen ke tubuh supaya otak jadi segar. "Steve Peters tak menimbulkan pemain berlari 100 meter lebih cepat, meskipun bergotong-royong beliau mantan sprinter, atau mengajarkan akurasi bola seperti Cruijff," kata Gerrard.
 kapal revolusi berwarna merah itu makin mendekati pelabuhan tujuannya Renaissance Liverpool (1): Belajar dari Simpanse
PM David Cameron, Roy Hodgson, dan Steven Gerrard.
"Namun saya jamin, jika para pemain membuka diri, dia akan menolong mereka dengan persiapan mental dan menciptakan mereka memahami bagaimana pikiran itu bekerja dengan baik." Pembeberan Gerrard wacana Dr. Peters ini lumayan mengejutkan karena sedikit banyak membongkar belakang layar kebangkitan Liverpool dan tim nasional Inggris yang dicari-cari media massa. Bahkan sekali waktu PM Inggris David Cameron mulai ikut peduli dengan The Three Lions.

Faktor Rumah Tangga

Siapakah Dr. Steve Peters? Psikiater berusia 60 tahun ini dikenal jenius matematika semasa kecil. Kecintaannya pada sports medicine dan psychiatry menciptakan dia bertitel master medical education dan mengajar di Universitas Sheffield. Reputasi puncak pria kelahiran Middlesbrough ialah dikala bukunya yang berjudul The Chimps Paradox (Paradoks Simpanse) jadi best sellers.
 kapal revolusi berwarna merah itu makin mendekati pelabuhan tujuannya Renaissance Liverpool (1): Belajar dari Simpanse
Sukses menangni Victoria Pendleton, 9 kali juara dunia putri balap sepeda.
The Chimps Paradox ialah bacaan wajib Gerrard sebelum tidur setahun belakangan. Buku ini mengulas kehebatan simpanse yang selalu hening mengatur sikap dan emosi melalui simpuls otaknya sehingga mencapai kinerja tinggi bahkan jenius. Pada intinya, Peters mengajarkan pembacanya bagaimana membedakan mimpi dan tujuan, bagaimana salah satunya akan saling mendukung.

Meski dibantu putaran roda nasib, dengan memburuknya kinerja Manchester United, Arsenal dan Tottenham Hotspur di liga, namun Chimps Paradox-nya Peters sangat membantu dan memandu Liverpool untuk meraih apa yang diidam-idamkannya hampir seperempat masa. Sepuluh kemenangan beruntun yaitu bukti sahih betapa konfidensi, kesuksesan dan kebahagiaan sedang menjadi mesin Liverpool.

Peters memulai eksperimennya di sepak bola melalui Gerrard, seorang kapten dua tim paling populer di Inggris. Sang pakar tahu selama ini The YNWA tidak punya kekuatan mental untuk sukses. Hal ini tentunya bisa berbahaya bagi perjalanan Inggris di Piala Dunia 2014. Bak dua sisi mata uang, inspirasi-pandangan baru Peters lalu jadi dambaan dua kesebelasan sekaligus.
 kapal revolusi berwarna merah itu makin mendekati pelabuhan tujuannya Renaissance Liverpool (1): Belajar dari Simpanse
Kekaguman Roy Hodgson pada Steven Gerrard tidak tertutupi.
Manajer Three Lions, Roy Hodgson, manggut-manggut bahagia dikala arah yang dituju sangat jelas. Dia amat mengasihi Gerrard, sosok yang punya gamesmanship tepat selain John Terry. Momok menyeramkan di tim nasional yang selalu berulang di ajang besar cepat atau lambat mesti diakhiri. "kalau ia bisa menolong Gerrard, kenapa tidak bisa menolong aku?" sergah Hodgson. 

Namun uniknya Hodgson enggan membebani Peters dengan tanggung-jawab seandainya Inggris gagal lagi dalam laga penalti. Gerrard pasti butuh pencerahan signifikan di simpulan kariernya untuk menutup perjalanan hidupnya dengan prestasi puncak. Liverpool yang sudah 24 tahun berpuasa juara liga, serta Three Lions yang 48 tahun belakangan ini tak punya prestasi apa-apa. 

Kiat Peters dalam melahirkan seorang juara lewat pendekatan personal mensugesti keputusan drastis Gerrard. Peters berjasa menjulangkan Chris Hoy, 11 kali juara dunia balap sepeda trek dan enam kali juara olimpiade. Selain itu ia juga sukses mengangkat reputasi Victoria Pendleton, 9 kali juara dunia putri balap sepeda trek dan pemenang olimpiade. Pengakuan yang luar biasa. 

Usut punya usut, di tangan Peters akar duduk perkara Gerrard dan mungkin Liverpool ditemukan: di rumah tangga! Ini berarti persoalan Liverpool, atau timnas Inggris mampu berasal dari Alexandra Curran alias Ny. Steven Gerrard! "Usai membaca Chimps Paradox, aku eksklusif berdiskusi dengan Alex sampai aku mengerti perbedaan bab-bab otak, bagaimana cara kerjanya, kapan berfungsi dan kenapa Anda memikirkan hal-hal tertentu, contohnya kenapa aku suka menggigit anak-anak dan sering menyalahkan ia," tukas Gerrard. 
 kapal revolusi berwarna merah itu makin mendekati pelabuhan tujuannya Renaissance Liverpool (1): Belajar dari Simpanse
Alexandra Curran dan Steven Gerrard. Makin tabah.
Setelah itu Gerrard merasa lebih sabar. Dampak signifikannya adalah penampilan di lapangan hijau. Lihat saja permainannya. Kini ia lebih cool, jarang kena kartu dari wasit, dan ekspresif. Usai mengalahkan tim kuat Manchester City, saking bangganya beliau menangis terharu di lapangan.

Sukses Liverpool dalam taraf Istimewa ditentukan oleh kekuatan mental Gerrard. Masa-era pemulihan cedera adalah ketika-ketika paling berkhasiat dalam hidupnya. Ia melahap habis Chimps Paradox. "Dia tidak mengubah saya sebagai pribadi atau sebagai pemain. Saya hanya merasa tak tahu apa yang terjadi di kepala saya sebelum bertemu Steve," papar Gerrard.

Walaupun hanya satu-dua persen, yang namanya perbaikan akan dilakoni Gerrard. Ini soal harapan mengubah nasib. Selain nasib, juga kebahagiaan orang dan masyarakat. Banyak yang bilang sekarang sang skipper terlihat lebih matang, kalem, konsisten dan tajam mengambil tanggung-jawab. Sebagai perhiasan, agar kemujuran menaunginya!

(foto: telegraph/fanshare/zimbio/dailymail/thesun)

Wednesday, January 15, 2014

Bayern Muenchen: Die Grosse Sensation

Tatkala meraih titel ke-23 tahun kemudian, kiprah klub bercap Stern des Sudens (bintang dari selatan) itu juga dibanjiri rekor. Salah satu yang istimewa yaitu Der schnellste Titelgewinn der Bundesliga-Geschichte, peraih gelar liga tercepat sepanjang sejarah.
Der schnellste Titelgewinn der Bundesliga Bayern Muenchen: Die Grosse Sensation
82% saham Bayern Muenchen dikontrol oleh 187.865 fans-nya.
Seumur-umur belum pernah ada klub seperti ini, di Eropa apalagi di Jerman, yang sudah menjadi juara liga di pekan pertama April! Bayern memecahkan 10 rekor Bundesliga. Selain juara tercepat (pekan 28), menggapai Herbstmeister (juara paruh pertama) tercepat, 9 kali menang tandang beruntun, 15 kali menang tandang terbanyak tanpa kalah (15-2-0), paling produktif (98 gol), kebobolan paling sedikit (18 gol), selisih 80 gol (98-18), total poin 91, dan yang mengerikan point gap 25 poin dengan runner-up.

Torehan elok pada pencapaian gelar. Di demam isu 2012/13, klub yang sempurna bulan depan berusia 114 tahun, merebut lima titel (quantuple) berupa juara Bundesliga, juara Piala Jerman (DFB Pokal), juara Eropa (Liga Champion), juara Piala Super Eropa, dan juara dunia (FIFA Club World Cup). Satu-satunya yang terlepas, sehingga urung menyamai Barcelona perebut semua trofi setahun di 2010/11, adalah Piala Super Jerman (DFL Supercup). Di simpulan, Bayern dikalahkan Borussia Dortmund 2-4.

Tentu saja rekor gres siap diperbaiki, di bawah kendali Pep Guardiola, dan sepertinya tak terlalu a mission impossible. Di dua ajang utama komplemen, Liga Champion dan DFB Pokal, Die Roten masih aktif di mana Arsenal dan VfB Stuttgart siap menguji mereka. Khusus di Bundesliga demam isu ini, catatannya makin menyeramkan. Tak terkalahkan hingga separo perjalanan (15-2-0), sudah melesakkan 44 gol dan cuma kebobolan 8 gol. Sepertinya mereka bakal menjadi juara sejati alias unbeaten, tanpa kalah.

Ketimbang iri, dominasi Bayern malah melahirkan simpati di Eropa bahkan ke Amerika. Media-media olah raga di negeri Paman Sam yang biasanya lebih getol pada bisbol, basket, dan American football, sempat dan pernah ikut menyanjung mereka dengan menjuluki mereka Bayern the Yankees, Bayern the Duke, dan Bayern the Patriots. Tahukah Anda kenapa tiba-datang mereka jadi super-perkasa begini? Kekalahan dari Chelsea di kandang sendiri saat simpulan Liga Champion 2012 yakni motivasinya.

FCB justru reborn, terlahir kembali. Sekarang kota Muenchen, kemudian Der Panzer, dan barangkali Jerman sendiri, identik dengan Bayern, klub yang punya loyalis 12 juta orang di seantero negeri. Para pembenci mereka, tentu dibarengi segala respek, menurut survey malah jauh lebih besar lagi. Publik Die Borussen kerap menyindir mereka Bayern-Jaeger, si pemburu dari Bavaria. Bayern menjalani musimnya yang fantastis dengan die grosse Sensation, sensasi besar.

Alasan Pep

Apa yang bikin FCB begitu ahli? Satu, memakai mantan pemainnya menjadi pejabat klub. Sebagai klub super, status kian tepat kurun orang yang memahami sejarah dan punya DNA klub, diberi kesempatan. Selama 40 tahun, Bayern cuma punya tiga CEO. "Saya tak pernah belajar yang lain kecuali main bola, namun kualitas administrasi di klub ini amat membantu," kata Karl-Heinz Rummenigge, CEO FC Bayern Muenchen AG. 

Faktor kedua yakni positioning mereka di Eropa. Bermodalkan reputasi skuad dan instruktur, infrastruktur stadion, fasilitas latihan plus akademinya, Bayern memutar roda bisnisnya ke depan dengan visi misi yang jelas. Pembinaan pemain muda lokal dengan kebijakan transfer di Bayern diyakini sebagai yang terbaik di Eropa. "Tak ada sheikh seperti di Inggris atau Berlusconi di Italia," sebut Kalle, sapaan akrab Rummenigge. 

Tanpa stabilitas dan situasi aman mustahil Bayern meraih kejayaannya. Biasanya pemain bola, yang paling andal pun, banyak yang tak becus dikala mengurus manajemen klub usai pensiun. Namun di Bayern menjadi perkecualian. Sebisa mungkin para legenda dan putra terbaik klub, melalui persyaratan dan kualifikasi yang ketat dan berjenjang, mesti masuk administrasi. Apa rahasianya? Ternyata para pemegang saham dan tokoh-tokoh sebelumnya yang mengatur. Asal tahu, 82% saham Bayern dikontrol oleh 187.865 anggotanya.

Memelihara kesinambungan biar tradisi dan cita rasa konten tetap terjaga yummy biasa dilakukan klub-klub Eropa, dan Bayern melakukannya jauh lebih hebat. Sebelum Rummenigge, pencetus organisasi klub yaitu Uli Hoeness. Sebelumnya lagi, Franz Beckenbauer, sang kaisar sepak bola Jerman. Hoeness yaitu mantan penyerang yang 239 kali membela Muenchen dengan 86 gol pada 1970-79. Sekarang Hoeness yaitu presiden klub, alias atasan pribadi CEO.

Struktur organisasi Bayern lebih ramping untuk efisiensi biaya. Kalle bercerita. Ketika terpilih, ia tak diangkat eksklusif, kecuali cuma dijadikan calon resmi biar orang tersebut punya persiapan mental sembari belajar segalanya. "Saya ini disiapkan selama 10 tahun untuk posisi CEO," kata Kalle. Uniknya, tidak semua klub Bundesliga mampu sukses melalui cara Bayern ini. Kalau ukurannya manajer atau instruktur sih banyak. Tapi CEO, atau presiden klub?

"Banyak yang meniru kami, tapi lebih banyak gagalnya," tambah Kalle tersenyum bangga. Soal perekrutan atau pembelian pemain misalnya, mulai CEO sampai presiden klub pun mampu urun rembug mengenai kualitasnya. Itu berarti, selain oleh manajer atau administrator transfer; calon pemain baru harus lolos tes dari pengamatan Rummenigge. "Saya punya keuntungan yakni tahu apa yang dipikirkan pemain, alasannya adalah berpengalaman duluan jadi pemain," paparnya lagi.

Seantero Eropa pun terdiam era Bayern 'cuma' membayar Pep Guardiola sebesar 8,3 juta pound per tahun, kurang lebih seperti yang diterimanya di Barcelona. Namun jumlah itu yakni rekor honor terbesar sepanjang periode di Bayern dan di Jerman. Bayern yakin Pep akan menawarkan mewah untuk mereka dan warna sepak bola Jerman. Pep sendiri sengaja memilih Bayern sebab merasa roh klub itu didominasi oleh permainan, bukan bisnis. Klop sudah.

Sejarah Anti-Nazi
Der schnellste Titelgewinn der Bundesliga Bayern Muenchen: Die Grosse Sensation
Perebut lima titel (quantuple) di musim 2012/13.  
Bayern Muenchen merupakan sentra drama sekaligus prestasi sepak bola Jerman. Tumpahan sejarah bangsa banyak berasal dari sini, tepatnya di sebuah distrik bernama Schwabing, tatkala dua orang Yahudi mendirikan klub pada 27 Februari 1900. Di dalam buku Der FC Bayern und seine Juden (FC Bayern dan para Yahudi-nya), Dietrich Schulze-Marmeling menulis bahwa hingga final 1970-an masyarakat Jerman belum mencintai klub asli Bavaria ini.

Meski sukses menguasai Jerman Barat era 1960-an, dan berjaya di Eropa awal 1970-an, masyarakat baru menerima keberadaan Bayern mulai 1979. Sebagai klub yang didirikan Yahudi sudah barang tentu berurusan dengan Nazi. Begitu juga Bayern. Saat Bayern baru saja menjuarai Liga Jerman untuk pertama kali pada 1932, Kurt Landauer, bos Bayern yang berdarah Yahudi terpaksa kabur ke Swiss karena pasukan SS dikabarkan bakal meringkusnya.

Oleh klub, nama Landauer diabadikan jadi pendiri FC Bayern modern. Di sekitar Allianz Arena terlihat patung Landauer yang dipajang pada museum klub di Erlebniswelt. Sekarang kota Muenchen, lalu juga Der Panzer, dan barangkali Jerman sendiri, identik dengan Bayern. Menurut pengakuan Markus Babbel (1994-2000), Bayern ingin selalu jadi klub paling humanis di Eropa, dan meyakinkan dunia sebagai anti-Nazi dalam sejarahnya.

Atas suksesnya di animo kemudian, Bayern makin memposisikan diri sebagai klub terkaya di Jerman dan nomor empat di dunia. Di manca negera, satria Bavaria ini punya pendukung puluhan juta orang. Pendapatan klub pada 2012 sebesar 368,4 juta euro, mempunyai 187.865 shareholders serta 3.202 fans club resmi beranggota 231.197 orang. Mereka-lah penentu boleh tidaknya transfer pemain hingga harga tiket termurah di Allianz Arena yang cuma 13 euro.

Sebagai produk bisnis, diferensiasi untuk melanggengkan reputasi itu penting. Bayern ialah simbol sepak bola itu milik rakyat dan bangsa - bukan punya spekulan atau korporasi. Sebagai pilot project dan basis Die Nationalmannschaft dan demi awet di persaingan Eropa, Juni kemudian mereka terpaksa bikin keputusan sulit. Meski memberi gelar treble, Bayern tetap mengganti Jupp Heynckes, pelatih gaek berjuluk The Gentleman of the Bundesliga. Dari sinilah nama Pep Guardiola masuk, dan kemudian, sejarah indah terus ditorehkan.

(foto: dailymail/elcomercio/sexybola)

Tuesday, December 10, 2013

Paul Kagame: Obama Afrika, Gooner Sejati

Pada 1994 planet ini dihebohkan dua insiden besar yang sangat bertentangan. Piala Dunia di AS dan Perang Saudara di Rwanda. Meski sama-sama menyita perhatian umat manusia sejagat, namun lakon di negara Afrika yang amat tidak terkenal untuk bicara apa saja, termasuk membahas sepak bola itu, telah menciptakan merinding bulu kuduk orang.
 planet ini dihebohkan dua peristiwa besar yang sangat bertentangan Paul Kagame: Obama Afrika, Gooner Sejati
Ditabalkan sebagai Gooner sejati oleh Tony Adams si Mister Arsenal.
Bila kita melihat sekilas kejadiannya, katakanlah di Youtube, mampu jadi mata Anda langsung melotot plus jantung berdetak keras saking ngerinya. Inilah yang dikenang dunia dengan "The Rwandan Genocide." Pada perang antar-etnis itu, 800 ribu sampai sejuta orang suku Tutsi dibantai barisan milisi suku Hutu, hanya dalam selang waktu 100 hari. Bayangkan, sejuta orang! 

Ya, nama Rwanda - negara Afrika yang sulit dikenal - tiba-tiba membubung ke jagat raya pemberitaan. Kejadian ini ialah titik kulminasi perseteruan kedua suku yang mencuat semenjak Rwanda merdeka pada 1 Juli 1962. Tragedi Rwanda dipicu oleh tewasnya Presiden Juvenal Habyarimana, seorang Hutu, balasan pesawat terbang yang ditumpanginya bersama Presiden Burundi Cyprien Ntaryamira, diroket kelompok oposisi Tutsi dan jatuh berantakan di Bandara Kigali, 6 April 1994.

Hingga milenium baru, Rwanda masih terkesan seram. Peradaban mereka seolah-olah mundur seabad dengan puncaknya pembunuhan pimpinan sendiri bahkan kepala negara tetangga. Beruntung negara berpopulasi hampir 12 juta jiwa ini punya sosok signifikan yang satu ini: Paul Kagame. Siapakah orang ini? Lalu dengan apa ia bisa menuntaskan dilema tanpa dilema?

Jawabannya sangat mudah, sama sekali bukan klise. Sepak bola! Ah, bukannya pemimpin di Afrika hampir semuanya begitu? Iya, tapi bedanya Kagame enggan berstatus oportunistis atau sekedar pragmatis untuk memanfaatkan sepak bola. Pria bersuku Tutsi itu melakoninya langsung. Seantero negeri sudah terkenal bahwa Kagame ialah penggila sepak bola, tenis, dan Arsenal!

Putra pujian Deogretius dan Asteria Rutagambwa ini bukan asal cuap di belakang layar, tapi juga tampil dengan rakyat. Kapan waktu dia jadi "sosialis" ketika ikutan tarkam di desa terpelosok yang kebanyakan masih nyeker main bolanya. Di ketika lain ia tampil ala kapitalis di turnamen tenis dengan kostum keren. Tenis? Orang Afrika kok suka tenis?

Ya, kecintaan pada olah raga borjuis itu mekar bersemi sewaktu dia menjalani kursus komando di Fort Leavenworth, Kansas, AS, pada 1986-90. Tapi mirip kebanyakan setiap laki-laki Afrika, di mana DNA sepak bola yaitu sebuah kemutlakan, Kagame juga menggilai sokker, sebuah permainan yang secara filsafat Afrika dianggap menjadi alasan mereka memiliki kaki.

Sejak 2003, dia dipercaya memerintah negara seluas Bengkulu tapi berpopulasi mirip DKI Jakarta. Suami Jeannett Nyiramongi ini memahami kemiripan sepak bola dan politik: sama-sama punya basis massa. "Cara paling efektif menggalang kekuatan besar adalah dengan memobilisasi sentimen rakyat," katanya mengulangi ucapan Nelson Mandela.

Sumbangsih Kagame di sepak bola oke punya. Ia berjasa merajut persatuan Rwanda atau unifikasi Afrika melalui Cecafa Cup, kejuaraan resmi antar negara di tengah dan timur Afrika yang bahkan lebih tua dari Piala Afrika. Peserta tradisionalnya yaitu Uganda, Kenya, Malawi, Burundi, Rwanda, Zanzibar, Zimbabwe, Ethiopia, Sudan, Eritrea dan Somalia.

Ucapan Wenger

Saat turnamen tahunan sejak 1926 itu terancam urung digelar akibat ketiadaan sponsor, sebisa mungkin ia ikut bernegosiasi untuk menyelamatkannya. Kecuali pada 2009, yang sama sekali harus 'dilepas' karena beliau mesti fokus mengantisipasinya. Apa itu? Pemilihan presiden AS. Kenapa Kagame berkepentingan? Sebab salah satu kandidat presiden itu adalah teman dekatnya.

Ketika di November 2009, Barrack Hussein Obama II resmi terpilih menjadi presiden AS ke-44 tentu dia bahagia. Persahabatan dengan orang nomor satu AS kian berarti, karena Kagame mengenal Obama semenjak masih menjadi senator. Lebih dari itu, bukan melulu pentas politik yang menimbulkan dua tokoh muda ini dekat, akan tetapi juga olah raga, sepak bola, dan soal London.

Kagame menggunakan popularitas Obama untuk menaikkan pamor Rwanda. Obama mendekati Kagame untuk menaikkan pamor Afrika-nya. Mereka sesama putra Afrika yang akil, ambisius, dan bervisi terperinci. Obama berdarah Kenya, lahir di Hawaii besar di Indonesia. Kagame lahir di Rwanda, dan besar di Uganda. Keduanya punya ikatan batin sebab Kenya dan Rwanda bertetangga.

Mereka menggilai olah raga 'berjiwa' Afrika seperti sepak bola dan bola basket sekaligus membenci olah raga khas kulit putih, golf atau layar. Bicara soal London, hebohnya Obama dan Kagame punya klub yang berbeda. Jika Obama menjadi Cockney Boys, suporter baik-baik West Ham United, maka Kagame adalah Gooner bertipe die-hard, penggemar fanatik Arsenal.

 planet ini dihebohkan dua peristiwa besar yang sangat bertentangan Paul Kagame: Obama Afrika, Gooner SejatiSecara periodik, Kagame ada dalam barisan pesohor mirip Usamah Bin Ladin, pemimpin Kuba Fidel Castro, PM Cina Zhou Enlai, PM Swedia Olof Palme, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Presiden Polandia Aleksander Kwasniewski, Ratu Inggris Elizabeth II, Raja Norwegia Olav V, Raja Tonga Taufa'ahau Tupou IV atau Gubernur Hong Kong terakhir Lord Chris Patten. Tidak seperti yang lain, kegilaan Kagame dengan Arsenal pernah dibayar tuntas oleh klub London tersebut. Tatkala merayakan HUT-nya ke-50, 23 Oktober 2007, sesudah makan malam, Menteri Pemuda, Kebudayaan dan Olah Raga Rwanda Joseph Habineza tiba-datang memberi kejutan super kepada bosnya. Kagame dapat bingkisan dan ucapan khusus dari manajer Arsenal Arsene Wenger!

"Saya yakin kabar ini akan mengejutkan tuan presiden," kata Habineza sambil membuka perlahan-lahan sebuah kado unik. Saat muncul goresan pena "A Birthday present and letter from Arsenal FC Manager Arsene Wenger", wajah Kagame tampak mulai berbinar-binar. Dalam sekejap, Kagame melupakan tumpukan aneka cinderamata lainnya yang dikirim ke istana.

Saat dibuka, kado itu ternyata sebuah bendera besar Arsenal berisi tandatangan Thierry Henry dkk. dan Wenger. Habineza membacakan ucapan yang sangat berarti. "Saya merasa amat gembira dikala mengetahui kepala negara yakni orang yang dengan senang hati dan selalu garang memperhatikan Arsenal. Selamat ulang tahun, tuan presiden! Hormat aku, Arsene Wenger.”

Seluruh Rwanda tahu Kagame yaitu presiden penggila bola dan pengemar fanatik Arsenal. Jangan lagi Premier League, di laga domestik saja beliau sering hadir yang menciptakan protokolernya kelabakan dan ketakutan. Diperlukan sebuah pemahaman melihat Kagame sering bertindak demikian. Sampai kapanpun, tampaknya beliau selalu membutuhkan sepak bola.

Militerisasi Sepak Bola

 planet ini dihebohkan dua peristiwa besar yang sangat bertentangan Paul Kagame: Obama Afrika, Gooner SejatiJulukannya yakni Obama-nya Afrika. Paul Kagame, pria Tutsi tulen kelahiran Ruhango, 23 Oktober 1957, yaitu seorang militer karier. Sebagai mahir strategi dia biasa dengan bagaimana cara memenangi sabung, juga memakai semua potensi dan kemampuan. Lebih dari sekedar 'dar-der-dor' atau lempar granat. Cita-citanya setinggi langit.

Ketika lahir negerinya sedang dijajah Belgia. Konflik tribal merajalela. Raja Kigeli V Ndahindurwa kehilangan wibawa sebab terhasut bujukan militer kolonial yang tak suka dengan suku Hutu. Pada 1960, Kagame kecil diusir ke Uganda bersama kedua orang tuanya serta ribuan pengungsi Tutsi lainnya. Selama 30 tahun, ia menetap di negerinya Idi Amin itu.

Baru di Oktober 1990 Kagame kembali ke Rwanda. Pengalaman hidupnya mengatakan, kekerasan jangan dilawan dengan kekerasan. Dia muak dengan segala hal berbau mesiu. Sejak bocah, Kagame dekat dengan pelatuk senjata atau granat. Wawasannya kian kaya karena bergaul dengan peradaban Amerika. Sejalan dengan kematangan usianya, ia mengubah strateginya.

Menjelang pilpres 2003, momentum lolosnya Rwanda pertama kali ke Piala Afrika 2004 mengatrol pesona Kagame di mata rakyat. Saat itu Kagame masih berstatus presiden transisional sampai digelarnya pilpres. Posisi Kagame naik semenjak 23 Maret 2000, dari wakil presiden menjadi presiden tanpa pilpres menggusur Presiden Pasteur Bizimungu yang didemosi akhir skandal.

Bizimungu, seorang Hutu, dimakzulkan dikala pengadilan menemukan bukti dialah dalang pembunuhan Presiden Habyarimana! Vonis ini sekaligus mengubur fitnah kepada Kagame sebagai tersangka. Tak mau terjadi pembalasan dendam suku Tutsi pada Hutu, laki-laki berkaca mata bulat ini punya kiat cespleng menghindarinya: menebar persatuan Rwanda dari dalam stadion!

Dengan naluri militernya yang besar lengan berkuasa, Kagame memainkan lakon terbaik football and leader. Dia meminta seluruh penonton dan anggota tim nasional asuhan Ratomir Dujkovic mendengarkan pidatonya. Di depan puluhan ribu orang, jutaan melalui televisi dan radio, Kagame berorasi ahli dan tak terlupakan yang maknanya: dari sepak bola, oleh sepak bola, untuk bangsaku.

Warga Tutsi dan Hutu pun larut dalam histeria persatuan, perdamaian dan kemenangan. Orasi Kagame mengilhami tim nasional Rwanda di Pra Piala Afrika 2004. Gol emas Jimmy Gatete ke gawang Ghana meloloskan Rwanda ke putaran final di Tunisia. Suasana di stadion Amahahoro, 7 Juli 2003, dikenang sebagai kemenangan terbaik Kagame di lapangan hijau.

Peduli Arsenal
 planet ini dihebohkan dua peristiwa besar yang sangat bertentangan Paul Kagame: Obama Afrika, Gooner SejatiOnce Gooner, Die as Gooner. Cintanya pada Arsenal tak pernah lekang dimakan waktu. Bahkan semakin mendalam dan proaktif. Di sela-sela memimpin Rwanda, tak sekali pun beliau melewatkan tabrak-laga The Reds of London hingga dikala ini. Kejadian enam tahun silam di istananya merupakan puncak ikatan batinnya dengan Arsenal dan Arsene Wenger.

Namun tiada yang berubah kecuali perubahan itu sendiri. Sama mirip kebanyakan yang dirasakan kaum Gooner, di mana batas kesabaran dan kecintaan setipis kulit ari, belum usang ini suasana hati dan tensi Kagame ikut membludak apapun yang terjadi dengan Arsenal.

Ketika The Gunners mengalahkan Napoli 2-0 di matchday 2 Liga Champion, September silam, sang Presiden Rwanda ini pun langsung berkicau via smartphone-nya di akun twitter-nya, @PaulKagame. Apa yang ditulis Kagame di akun twitternya? Dia mengungkapkan perasaan suka citanya, sekaligus usul maafnya! "Enjoyed watching game at emirates-congratulations #AWenger & Arsenal-back to winning ways of old & beautiful game!" 

Rupanya gol indah Mesut Oezil dan Olivier Giroud telah mendongkrak kembali adrenalinnya dan teringat kebaikan Wenger. Uniknya, tweet beliau kali ini berkebalikan dengan yang terakhir ditulisnya pada Januari 2012. "I very much support Arsenal - but to be honest Wenger needs to coach another team now and Arsenal needs another coach!" 

Lalu juga kicauan yang mirip ini: "I am a loyal and patient fan but I am not sure about others!!! I would not blame them at all if they were different," tulisnya sesudah Arsenal dikalahkan Manchester United 2-1. Seperti secara umum dikuasai Gooner pada umunya, rupanya Kagame pun sering tertipu oleh "kesaktian" Arsene Wenger.

(foto: touchrwanda/twitter/ruhagoyacu)

Monday, December 9, 2013

Arsene Wenger Dan Jose Mourinho: Patah Tumbuh Hilang Berganti

Skenario sudah dirancang Jose Mourinho sebelum menceburkan diri lagi di pentas Premier League. Di usianya yang ke-50 tahun, usia emas seorang lelaki, tentu ia kian matang untuk bikin sesuatu yang lazim, terutama hubungannya dengan Arsene Wenger.

Skenario sudah dirancang Jose Mourinho sebelum menceburkan diri lagi di pentas Premier Lea Arsene Wenger dan Jose Mourinho: Patah Tumbuh Hilang Berganti
Nama keduanya saling menghantui kapan saja berada di London.
Sejujurnya ini dongeng seseorang yang minta dimaklumi atas tindakan masa lalunya, satu dekade silam. Seseorang yang dengan superego besar, yang ketika pertama kali datang di Inggris pribadi dipenuhi ambisi, keinginan tinggi sekaligus tekanan dahsyat. Di klub biru-nya, juga di depan tiga manajer top yang langsung jadi pesaing utama reputasinya. Dengan kekuatan chutzpah-nya yang populer itu, laki-laki berzodiak Aquarius ini kembali lagi bikin sensasi.

Mourinho menyadari, atas nama fakta, ternyata hanya dirinya dan Arsene Wenger, yang berpengalaman juara sehabis tidak ada lagi Ferguson, Roberto Mancini dan Carlo Ancelotti. David Moyes dan Manuel Pellegrini terang pesaing terberatnya. Tapi dirinya tak pernah mau menyingkirkan Wenger begitu saja. Nama ini selalu menghantuinya kalau mana berada di London. Lantas bagaimana dua lagi?

Andres Villas-Boas selalu menjadi muridnya. Brendan Rodgers, pernah diminta Mou jadi salah satu pembantunya sewaktu memanajeri tim cadangan Chelsea di 2006. Tak ayal jikalau semua media massa mengangkat pujian Mou untuk Wenger. The Sun memasang judul Weng' n Me Big Mates. Merangkul Wenger sebagai taktik gres memenangi kompetisi? Karena sesama Londoner, pria 175 cm itu pasti lebih menghitung AW dari yang lain.

Pengakuan Mou santer dipublikasikan media massa di Inggris. Entah kenapa ia ingin merangkul Wenger, menghormatinya sebagai senior mirip halnya Wenger kepada Ferguson dulu. Dari lubuk hati yang terdalam, tampaknya Mou memang ingin berafiliasi baik dengan sang profesor, alasannya adalah butuh advis Wenger untuk meminta kiatnya biar ia bisa menjadi instruktur Chelsea selama 17 tahun ke depan.

Mou mengakui ternyata Wenger orang yang menyenangkan dan mau berbagi. Dia mengaku hubungan buruknya di periode kemudian dengan Wenger akhir tekanan pekerjaan yang berimbas ke masalah eksklusif. Hubungan personal mereka kini membaik setelah beberapa pertemuan UEFA di Swiss, bahkan beberapa kali semeja dikala santap malam dengan suasana yang serasi.

Tidak mirip dengan Ferguson, seumur-umur Wenger dan Mourinho cuma sekali berseteru hebat secara personal. Itu tak usang sehabis Special One menangani Chelsea di 2004. Penyebabnya, gara-gara Mou lambat laun karisma Wenger memudar di London.

Ketika ingin mencari tahu, duduk perkara pun muncul dan membesar. Mou tak senang Wenger menganalisis Chelsea lebih jauh. Responsnya kelewatan karena menggunakan kata voyeur kepada Wenger. Voyeur yakni istilah seksual sebagai tukang intip. Wenger murka dan siap menuntut ke pengadilan seraya memaki Mou sebagai stupid people.

Skenario sudah dirancang Jose Mourinho sebelum menceburkan diri lagi di pentas Premier Lea Arsene Wenger dan Jose Mourinho: Patah Tumbuh Hilang Berganti
Ingatan di sepak bola biasanya pendek, tiada yang berumur panjang.
Kalau dipikir-pikir, makian itu amat dalam alasannya bersifat kultural, ialah persepsi bangsa Jerman-Prancis kepada bangsa Portugal. Bentrok ini sangat terkenal, dan rupanya Mou menyiapkan segala sesuatunya. Dia mengumpulkan seluruh transkrip ucapan Wenger khusus Chelsea yang sampai berjumlah 120 halaman!

"Ada beberapa orang yang, saat di rumah, punya teleskop besar untuk melihat apa yang terjadi di keluarga lain. Dia khawatir dengan kami, selalu berbicara ihwal kami. Chelsea, Chelsea, Chelsea, Chelsea! Saya tidak tahu apakah beliau menginginkan pekerjaan aku. Dia mencintai Chelsea," bentak Mou masa itu.

Berganti Haluan

Pasalnya Wenger lagi sensitif melihat sepak terjang Roman Abramovich. Bentroknya dengan Ferguson tengah memanas, sehabis kampanye immortallity-nya terhenti di demam isu 2004/05 itu. Naluri militernya mengatakan Mou ingin memancing di air keruh. Ia pun bereaksi, sangat tajam. "Tatkala Anda memberi kesuksesan kepada orang-orang tolol, terkadang itu sama saja menyebabkan mereka lebih tolol lagi," balas sang profesor sengit, yang tidak pernah direspons sekalipun oleh Mourinho waktu itu.

Hari-hari ke depan yakni hari-hari berhitung. "Arsene Wenger pria yang baik. Kami tak akan punya dilema lagi. Saya amat respek dengannya, dan tak mau menjudikan (korelasi) untuk setiap masalah," kesepakatan Mou, pria yang semasa aktif jadi pemain (1980-87) berposisi sebagai gelandang bertahan itu.

"Saat Anda tak berada di satu liga, tak berlaga satu sama lain, mengenal orang jadi lebih mudah, lebih mendalam. Sangat gampang berdiskusi tentang sepak bola, dan Wenger itu orang yang sangat andal, " puji lagi lelaki kelahiran Setubal, 26 Januari 1963 itu.

Hubungan dua manajer klub London yang paling terkemuka itu membaik sehabis mereka justru sering bersua dengan suasana lebih cair, atmosfir lebih baik, di rapat rutin UEFA, di EURO, di Piala Dunia. Mou mengaku kagum dan menikmati cara keterbukaan Wenger beropini soal apapun kepadanya.

Skenario sudah dirancang Jose Mourinho sebelum menceburkan diri lagi di pentas Premier Lea Arsene Wenger dan Jose Mourinho: Patah Tumbuh Hilang Berganti
Mengakui ternyata Wenger orang yang menyenangkan dan mau membuatkan.
Baginya kepribadian mirip itu sebab beliau yakin Wenger orang yang sangat berbudaya tinggi, sangat baik. "Ah, ingatan di sepak bola biasanya pendek, tiada yang berumur panjang. Publik berkali-kali lupa yang telah terjadi. Saya pikir ia tak terpengaruh itu alasannya adalah beliau orang besar, sangat berpengalaman, punya harga diri. Dia juga tahu apa yang telah dilakukan, tahu apa yang sedang dikerjakan."

Mou menghormati Wenger sebab bahagia di Arsenal, karena apa yang telah dilakukannya. "Seperti Anda ketahui, dia punya kesempatan pergi alasannya adalah banyak klub yang tertarik padanya. Ia menolak dan bertahan di Arsenal, sebab kecintaannya, alasannya adalah beliau punya keinginan untuk abad depan. Itu yang membuat saya menghormatinya."


Panorama Rivalitas Wenger vs Mourinho

Kalau dengan Ferguson butuh 17 tahun, maka dengan Mourinho, Wenger cukup tiga demam isu menjadi musuh profesionalnya. Saking bencinya, kedua pria beda generasi ini melanjutkan rivalitasnya ketika laki-laki Portugal itu melatih Internazionale dan Real Madrid. Bergabungnya kembali Mou ke Chelsea pada awal musim 2013/14 diramalkan akan melahirkan babak gres persaingan mereka.

Insiden #1: The Voyeur, 30 Oktober 2005

Skenario sudah dirancang Jose Mourinho sebelum menceburkan diri lagi di pentas Premier Lea Arsene Wenger dan Jose Mourinho: Patah Tumbuh Hilang Berganti Lantaran terus kesal dengan ulah Roman Abramovich, yang semenjak 2003 mengubah lanskap kekuatan dan Premier League, Wenger jadi terbiasa membahas Ch€£$ki. Uniknya, Abramovich ogah menanggapi. Barangkali, memang beliau tidak mungkin melakukannya. Tapi tidak dengan karyawan terbaiknya. Justru Mourinho si manajer Chelsea yang tersinggung. 

Puncaknya dia berkomentar sinis. Voyeur adalah istilah psikologi untuk menjuluki pria yang senang mengintip perempuan telanjang atau sedang mandi. Wenger eksklusif naik pitam alasannya adalah tersinggung berat, dan mengancam menuntut Mourinho ke pengadilan jikalau tidak ada usul maaf. Mou hasilnya minta maaf. Keduanya berdamai, namun ini hanya untuk sementara.

Insiden #2: Cekcok Prestasi, 23 Februari 2007

Skenario sudah dirancang Jose Mourinho sebelum menceburkan diri lagi di pentas Premier Lea Arsene Wenger dan Jose Mourinho: Patah Tumbuh Hilang Berganti Jelang akhir Carling Cup di Cardiff, Wenger merespons karakteristik manajer mahir versi sang rival. Mou bilang betapa medali Liga Champion memberinya status Great Manager. Dengan nalurinya, Wenger segera memberi opini baru. Maklum, ia telak kena sindir karena belum pernah meraih titel tertinggi di sepak bola Eropa itu. "Banyak manajer yang meraih trofi Liga Champion tidak patut disebut manajer jago. Yang terpenting yaitu melihat perjalanan karier seseorang 10, 15, atau 20 tahun. Kualitas apa saja yang telah Anda berikan kepada sepak bola? 

"Bagaimana konsistensi Anda ketika melakukannya? Jika setiap manajer diberikan sumber daya dengan jumlah yang sama untuk era lima tahun, lihat siapa yang paling banyak menghasilkan pemain berkualitas," ucap Wenger yang jelas sekali menohok apapun pencapaian Mourinho sejauh ini. Tak pelak ini sindiran tajam kepada Mourinho tanpa menyebut namanya, yang selalu di mata Wenger dianggap bisa meraih banyak juara alasannya adalah cuma berakal merangkai kelebihan-kelebihan para pemain yang telah jadi, bintang yang paripurna; bukan membangunnya. Juga dana berlimpah, bos-bos ambisius, klub-klub yang suka menabrak moralitas demi nafsu angkara jayanya.

Insiden #3: Final Piala Carling, 24 Februari 2007

Skenario sudah dirancang Jose Mourinho sebelum menceburkan diri lagi di pentas Premier Lea Arsene Wenger dan Jose Mourinho: Patah Tumbuh Hilang Berganti Akibat perseteruan di media itu, bara api menyergap jiwa para pemain. Erupsi meledak ketika ketika pertandingan berlangsung cekcok Lampard dan Fabregas, dua musuh awet, berubah ke konflik fisik. Efek lain, John Obi Mikel, Kolo Toure, Emmanuel Adebayor diusir dari lapangan. Baik Wenger maupun Mourinho segera lompat ke lapangan untuk menenangkan suasana. Saat itu lapangan bola nyaris menjadi medan perkelahian massal bagi dua pasukan. Jika kedua panglima ini ikut panas di lapangan, mampu dipastikan akan terjadi memalukan di sepak bola. Di akhir kisah, Mourinho yang tertawa setelah gol Didier Drogba jadi sang penentu. Bahkan di turnamen kasta ketiga saja, Mou tak mau kalah dari Wenger!

Insiden #4: Urus Diri Sendiri, 27 November 2010

Skenario sudah dirancang Jose Mourinho sebelum menceburkan diri lagi di pentas Premier Lea Arsene Wenger dan Jose Mourinho: Patah Tumbuh Hilang Berganti Setelah 3 tahun puasa bertengkar, tiba-datang bentrok muncul usai Wenger muak melihat siasat bau Real Madrid. Mou menyuruh dua pemain Madrid untuk diusir wasit ketika lawan Ajax, biar mampu tampil lagi di 16 besar Liga Champion. "Sayang sekali itu menimpa sebuah klub besar. Jujur saja, itu terlihat mengerikan. Anda sulit menerima peristiwa mirip itu," ucap Wenger. 

Malu disindir mirip itu, Mourinho sontak naik pitam dan berbicara dengan 'kejam'. Kali ini ia menyebut nama Wenger sekaligus. "Daripada ngomongin Real Madrid, Tuan Wenger seharusnya bicara wacana Arsenal saja dan jelaskan bagaimana timnya bisa kalah 0-2 pertama kali dari Braga. Cerita wacana anak-anak muda sudah berlalu sebab mereka sekarang telah cukup umur. Sagna, Clichy, Walcott, Fabregas, Song, Nasri, Van Persie, Arshavin bukan lagi belum dewasa. Mereka semua pemain top," kata Mou dengan sengit di The Sun. Komentar Mourinho semakin menyakitkan diterima Wenger sebab dikala itu beliau sedang berjuang mengatasi bujet transfer yang minim sejak Arsenal pindah ke Emirates.

Insiden #5: Memuji Arsenal, 24 September 2012

Skenario sudah dirancang Jose Mourinho sebelum menceburkan diri lagi di pentas Premier Lea Arsene Wenger dan Jose Mourinho: Patah Tumbuh Hilang Berganti
Keunikan terbesar pada 2012. Sadar posisi di Madrid semakin tidak kondusif, Mourinho kali ini berbicara baik-baik ihwal Wenger. Apa maksud Mou? "Saya selalu menghormati Arsene Wenger. Hal yang normal untuk saling kritik dikala kami mengelola klub di kota dan liga yang sama. Saya suka tim Arsenal kini lebih dari yang sebelumnya, meski menjual beberapa pemainnya. Saya suka mereka," bebernya. Orang bilang, ini gencatan senjata sementara. Mungkin.

Insiden #6: Rebutan Jovetic, 5 Juni 2013

Skenario sudah dirancang Jose Mourinho sebelum menceburkan diri lagi di pentas Premier Lea Arsene Wenger dan Jose Mourinho: Patah Tumbuh Hilang Berganti War over Jovetic terjadi usai Mourinho resmi dipinang sebagai pelatih Chelsea untuk kedua kali. Ketika Wenger di atas angin menerima Stevan Jovetic, Mou iku merangsek di bursa transfer. Ini merupakan indikasi awal rivalitas gres Mourinho dengan Wenger. Uniknya, begitu Wenger menarik minatnya pada striker Fiorentina itu, Mou juga mundur. Gara-gara kondisi seperti ini jadinya justru Manchester City yang masuk dan sukses mendapat Jovetic.

Prospek 2013/14: Ke Depan

Skenario sudah dirancang Jose Mourinho sebelum menceburkan diri lagi di pentas Premier Lea Arsene Wenger dan Jose Mourinho: Patah Tumbuh Hilang Berganti Usai Sir Alex Ferguson pensiun, sangat terbuka peluang untuk Jose Mourinho dan Arsene Wenger untuk mengontrol Premier League. Setelah kegagalan di Real Madrid, sekarang daya tawar Mou otomatis melemah di Inggris. Strategi Mou tampaknya ingin membangun dinasti gres, mencontek apa yang dulu dibentuk Sir Alex Ferguson. 

Opini Wenger wacana Mourinho sedikit berubah, minimal kulit luarnya saja. Bukan kepada intinya. "Saya pikir Chelsea sudah punya instruktur hebat di diri Rafa Benitez. Namun bila tetap berpisah, Jose Mourinho menjadi solusi yang baik. Mourinho salah satu yang terbaik di dunia," puji Wenger pada The Guardian. Wenger punya ambisi tersendiri. Namun reputasi hebatnya dalam mengembalikan dan membangun klub harus diimbangi oleh nafsu untuk meraih gelar untuk tim yang dilatihnya. Delapan tahun tanpa gelar harus segera diakhiri. 

(foto: picturesdotnews/101greatgoals.com/sportkeeda/umaxit/reuters/empics/eurosport.fr)