Friday, May 17, 2013

Sir Alex Ferguson (2): Sumber Kehebatannya

Seorang bintang film naik ke panggung untuk mendapatkan trofi penghargaan. Dia menangis bersyukur, lalu berpidato dengan gaya kocak yang bikin hadirin terpingkal-pingkal sekaligus melupakan kesedihan sang pemain drama. Dan yang tak disangka-sangka, si bintang film menyatakan pengunduran diri selamanya dari panggung hiburan alasannya sesuatu hal, sambil terisak-isak. Apa yang Anda lakukan jika Anda menjadi salah satu penonton di ruangan itu?
Seorang aktor naik ke panggung untuk menerima trofi penghargaan Sir Alex Ferguson (2): Sumber Kehebatannya
Panglima besar ulung yang paham menjalankan angkatan perangnya.
Disebut opera sabun atau bukan, penghormatan dan kehilangan biasanya selalu berdampingan. Mundurnya Alex Ferguson merupakan momen paling krusial bagi Manchester United. Di ketika bersamaan, Red Devils juga kehilangan David Gill sang CEO yang juga menyatakan diri pensiun. Keduanya kombinasi sempurna saat mengarungi pertempuran, amat bertenaga, kohesif, dan tentu: berprestasi.

Ferguson dan Gill sangat kompeten, lagi pula akil di bidangnya. Konten yang pas, meski sulit dibilang terbaik, dipadu dengan potensi dan prospek bisnis yang aduhai. Apa balasannya? Dalam kisah perang, Fergie yaitu panglima besar ulung yang paham menjalankan angkatan perangnya. Dia selalu didukung oleh seorang patih andal untuk menjamin senjata dan amunisi yang dibutuhkan. Itulah Gill.
Seorang aktor naik ke panggung untuk menerima trofi penghargaan Sir Alex Ferguson (2): Sumber Kehebatannya
Ferguson-Gill: kombinasi sempurna dan bertenaga untuk pertempuran. 
Tak heran jika Arsenal tidak sanggup menyainginya, bahkan ketika David Dein terusir, yang bikin Arsene Wenger jadi limbung; ketika itu bergotong-royong The Gunners sudah simpulan. Datangnya dua pemain baru, Chelsea dan Manchester City, malahan menyebabkan duet Ferguson-Gill lebih kreatif, ambisius, dan bergairah. Terkadang tradisi itu lebih berharga dan lebih kuat dari uang ada benarnya.

Namun mulai kini, itu jadi periode lalu. Setelah ikut bersedih dan menangis, Anda sebagai penonton setia dihadapkan oleh situasi ketidak-pastian di periode depan. Bukan soal kangen dan kehilangan, tetapi lebih kepada ketakutan dan kecemasan. Siapa yang mampu menggantikan abjad mereka? Adakah pemeran-bintang film lebih muda yang potensial mengisi lakon mereka?
Seorang aktor naik ke panggung untuk menerima trofi penghargaan Sir Alex Ferguson (2): Sumber Kehebatannya
Rumus dasar Ferguson: manajerial itu seluruhnya soal mengontrol. 
Usut punya usut, dipikirkan semalam suntuk, diteropong sampai mata lamuran; risikonya mampu disimpulkan: tidak mungkin mengulangi lagi kiprah duet Fergie dan Gill. Tradisi mungkin tidak berubah, namun cara berperang dan memakai senjata serta jaminan gudang senjata sudah pasti akan berbeda dan menggunakan gaya baru. Dari warung sebelah mana, United menemukan panglima dan patih barunya?

Kemampuan barangkali ada, tapi huruf? Ahli strategi mungkin banyak tersedia, tapi sebagai motivator? Bahkan kuadran Fergie dalam teori permainan ialah diktator. Panglima perang punya dua fungsi utama: memperjuangkan gaya bertempurnya dan menjamin kemenangan pasukannya. Karakter sulit dibuat sebab sudah terbuat semenjak awal lahir dan terbentuk oleh pengalaman hidupnya.

Manajer yang lebih santun di kamar ganti sudah berada di ambang mata. Tidak ada semprotan ala hair-dyer, menendang kawasan sampah atau melempar botol minuman ke tembok, tidak mengunyah permen karet, memprotes wasit, bahkan berani berkonfrontasi dengan manajer lawan di mana saja, di lapangan atau di koran. Pendek kata, ketakutan hadirin tadi akibat kehilangan seperti ini.

Dalam satu pernyataan, Ferguson bilang begini: "Manajerial itu seluruhnya soal mengontrol. Sukses memperlihatkan Anda kontrol, dan kontrol memperlihatkan Anda kelanggengan sebagai manajer. Dalam sepak bola, sangat sedikit manajer meraih posisi untuk mengontrol penuh timnya sendiri." Bukankah intensitas ini terlihat tidak mirip kebiasaan relasi administrasi modern dengan karyawan?
Seorang aktor naik ke panggung untuk menerima trofi penghargaan Sir Alex Ferguson (2): Sumber Kehebatannya
Keputusan yang jago tiba dari kontrol yang ahli.
"Saya menyayangi para pemain, saya lakukan itu. Namun itu tidak berarti Anda harus mengabaikan peran utama dengan bilang: Saya berharap lebih baik dari kalian. Permainan mereka di atas lapangan adalah cerminan saya, alasannya aku ingin mereka seperti aku."

Suatu dikala salah satu universitas bisnis terbaik di dunia ingin tau dengan gaya manajemen Ferguson. Belasan profesor bisnis Harvard Business School termenung saat mendengar salah satu tanggapan Fergie. "...dan bila ada orang yang berani meloncat dari ruangan kendali saya, mereka akan mati." Rumusan ala Ferguson sudah dimasukkan ke buku besar General Manual of Parenting.
Seorang aktor naik ke panggung untuk menerima trofi penghargaan Sir Alex Ferguson (2): Sumber Kehebatannya
Permainan mereka di atas lapangan yaitu cerminan saya.
Harvard Business Review dalam situs resminya, hbr.org, kesudahannya mematok 8 komposisi diam-diam kunci sukses Ferguson. Delapan kunci itu yakni [1] mulai dengan fondasi berpengaruh, [2] berani membangun ulang tim, [3] patok standar tinggi dan tahan semua sumber daya untuk tujuan, [4] jangan pernah menyerahkan kontrol, [5] selaraskan semua pesan untuk momen tertentu, [6] menyiapkan diri untuk menang, [7] andalkan kekuatan pengamatan, dan [8] jangan pernah berhenti beradaptasi dengan segala kondisi.

Apa yang paling butuhkan jadi manajer? "Bikin keputusan!" kata Fergie, simpel. Keputusan andal tiba dari kontrol yang ahli. Bertahun-tahun orang bertanya siapa yang pantas menggantikan Fergie kelak. Publik Old Trafford sendiri sudah mengatakan tidak mungkin lagi, sebagaimana yel-yel The Impossible Dream untuk sang legenda. Kalau begitu selamat menikmati pensiun, Sir Alex!

(foto: mirror/dailymail/universityherald)

Sir Alex Ferguson (1): Ksatria 1.500 Tubruk

Setelah hampir 40 tahun berkutat di lingkungan manajemen permainan, dan dengan sangat menakjubkan mampu mengumpulkan total 49 trofi untuk tiga buah klub, pada Rabu 8 Mei 2013, Sir Alexander Chapman Ferguson CBE tiba-tiba menjatuhkan 'bom' yang lumayan mengguncangkan dunia.
 tahun berkutat di lingkungan manajemen permainan Sir Alex Ferguson (1): Ksatria 1.500 Laga
1.500 sabung di United sejak 1986, rekor yang sulit ditiru siapapun di bumi!
Pada hari itu Sir Alex resmi meninggalkan rumput Old Trafford usai Manchester United mengalahkan Swansea City 2-1 di laga sangkar terakhir serta penobatan sang juara, Minggu 12 Mei 2013. "Terima kasih untuk Anda semua yang telah memberi pengalaman paling fantastis buat hidup aku," ujar sang legenda terbesar persepakbolaan Inggris ketika berpidato di tengah lapangan.

"Pensiun ini bukan berarti saya mengakhiri hidup saya dengan klub. Yang niscaya, kini aku bisa menonton mereka ketimbang menderita dengan mereka," candanya yang membuat seisi stadion tertawa. Seperti yang sudah disiapkan jauh-jauh hari, tugas Fergie yang oleh tabloid The Sun dijuluki Good Knight itu akan berpindah ke ruangan direksi di Manchester United.

Kepergian paripurna laki-laki Capricorn ini memang baru terjadi usai langgar United lawan West Bromwich Albion, Minggu, 19 Mei. Namun kabar pensiun mendadak atau perayaan perpisahannya sontak menciptakan mata semua kaum The Lovers berkaca-beling, jadi buah bibir di mana-mana, disikapi kawan dan lawan, hotnews di multiplatform media massa sejagat hingga mempengaruhi saham United di lantai bursa.

Pada hari itu, sebelum dan sehabis pertandingan, publik di The Hawthorns memberi penghormatan atas pengabdian kakek 71 tahun ini. Lebih istimewanya lagi, di tubruk pamungkas isu terkini Premier League 2012/13 itu, Sir Alex menutup karir luar biasanya dengan rekor 1.500 partai di United semenjak 1986, sebuah rekor yang sulit ditiru siapapun di bumi!

Kalau iseng mengandaikan peran opa Fergie, kalikan saja 1.500 berkelahi itu dengan katakanlah, rata-rata 90 menit. Artinya, Fergie telah mencapai 135.000 menit di tepi lapangan bersama United. 135 ribu menit itu senilai 2.250 jam, atau hampir 94 hari, alias tiga bulan lebih nonstop! Ini gres 26 tahun-nya di Red Devils. Belum yang 13 tahun sebelumnya di Skotlandia.
 tahun berkutat di lingkungan manajemen permainan Sir Alex Ferguson (1): Ksatria 1.500 Laga
Membuat keputusan terhebat sekaligus tersulit: mundur di puncak kejayaan.
Manchester United ialah raksasa yang tertidur dikala beliau mengambil alih tongkat estafet Ron Atkinson pada 1986. Klub ini berpuasa gelar liga selama 26 tahun. Awalnya lambat, enam tahun tak berdampak. Tiba-tiba momentum muncul. Raksasa itu mulai terbangun, bahkan mengamuk dan rakus membidik trofi berwarna debu-debu, mendominasi Inggris, lantas memecahkan rekor sang rival Liverpool, dan milestones 20 titel.

Sukses itu melapangkan Manchester United menjadi klub terkaya di dunia hingga berkali-kali, hanya mampu disaingi Real Madrid. Satu kontrak kerjasama dengan Chevrolet pada Agustus 2012, yang nilainya bikin galau, yakni sebesar £357 juta atau setara Rp 5,35 T, menjadi tolok ukur sahih pengaruh kehebatan permainan karya Ferguson di bisnis olah raga.

Dua bulan sebelum ditinggal Sir Alex, pendapatan United di triwulan pertama 2013 dilaporkan mencapai £91,7 juta (Rp1,375 T), meskipun biaya gaji di United meningkat sebesar 25%. Penghasilan dari perusahaan sepak bola raksasa seperti itu niscaya hanya bisa diraih lewat sukses di lapangan; di mana rasa, emosi, serta konten permainan pasti berkategori istimewa.

Inilah letak keunggulan laki-laki ramah tapi cepat naik darah itu. Lebih tak ternilai lagi, di sepanjang rezimnya sejak 6 November 1986, ia menciptakan United punya reputasi bagaimana seharusnya kesejatian sebuah janji, tekad, dan cita-cita berpengaruh itu berlaku di sepak bola, bahkan menjadi pandangan baru tepat dan legitimasi mumpuni buat ilmu manajemen.

Opa dengan 11 cucu ini piawai menentukan dan memilah mana pemain yang berbakat yang penuh otak, atau mana pemain yang bertipe motivator yang sepenuh hati, braveheart. Kemudian, semuanya diramu lewat garis tangan atau sajian yang barangkali sulit dijiplak oleh deretan manajer top kelak. Inilah key success factor Ferguson yang mulai melatih pada usia 32.

Lepas dari keberandalan Rio Ferdinand atas kasus doping, kebengalan Wayne Rooney yang sering mutung, keliaran Eric Cantona dengan tendangan ala Bruce Lee, atau kebrutalan tekel khas Roy Keane; anak dari Alexander Beaton Ferguson dan Elizabeth Hardie ini tetap saja dianggap is the best. Apa rahasianya? Sepele saja: sepak bola bukan permainan perdamaian tapi sebuah peperangan!

Lu Jual Gue Beli
 tahun berkutat di lingkungan manajemen permainan Sir Alex Ferguson (1): Ksatria 1.500 Laga
Roberto Mancini, manajer Manchester City, kebagian hairdryer treatment.
Kebrilyanan Sir Alex menangani deretan komandan terkutuk itu menciptakan dirinya sebagai panglima terhebat sebuah angkatan perang sepak bola paling mumpuni di milenium baru. Belum pernah ada manajer yang diuji superberat seperti beliau. Tidak Jose Mourinho atau Arsene Wenger; bukan pula Pep Guardiola apalagi Roberto Mancini.

Motivator ulung dan dongeng hairdryer treatment akan selalu dikenang orang, alasannya adalah itulah dua kunci keberhasilan Fergie menaklukkan komandannya. Motivasi saja tentu tak cukup, dan mungkin pencapaian terbesar Ferguson saat mengubah perkembangan administrasi permainan itu sendiri ke dalam bentuk mirip sekarang.

Alexander Chapman Ferguson ialah simbol rivalitas paling sengit buat wasit, pemain dan sesama manajer di kancah sepak bola Inggris. Dia lebih sering menang ketimbang kalah berkat keunggulan mind games-nya. Mulai dari Kevin Keegan, Arsene Wenger, Rafael Benitez, hingga Roberto Mancini, pada balasannya tak kuasa melawannya.

Di medan apapun, Ferguson selalu antusias melayani tantangan. Di lapangan hijau kek, di media massa kek, bahkan terkadang di lembaga-forum. Pendek kata, sikapnya seperti ini: lu jual gue beli. Namun bukan berarti dia  tak punya lawan sepadan yang mengganggu dominasinya, bahkan yang sampai menggerogoti kesehatan dan keharmonisan rumah tangganya.

Dua orang itu adalah Arsene Wenger dan Jose Mourinho. Setidaknya lima kali Ferguson terjengkang di liga. Tiga kali oleh Wenger dan dua kali oleh Mourinho. Ketika Wenger meraih gelar dobel di 2002, seketika itu pula suami dari Cathy Holding ini menunda pengunduran diri pertamanya. Hal itu terjadi karena ia paling tidak suka dikalahkan, apalagi oleh rivalnya.
 tahun berkutat di lingkungan manajemen permainan Sir Alex Ferguson (1): Ksatria 1.500 Laga
Piawai memilih, memilah dan "memasak" pemain yang brainer dan braveheart. 
Tuan Alexander bangkit setelah itu, sampai sepuluh tahun lamanya; mengubur Liverpool, mengusir Mou dari Inggris, dan menistakan Wenger atau Rafael Benitez. Bahkan di ketika final pada 2012, saat gelarnya di Stadium of Light dirampas dalam 20 detik saja oleh Mancini di Etihad, maka secepat kilat itu pula ia menunda pengunduran dirinya yang kedua.

Mourinho datang dan besar mendadak lewat kekuatan uang Kamerad Roman Abramovich, yang menciptakan Fergie sakit kepala selama tiga tahun. Ia tak rela karena itu dianggapnya kekalahan yang tidak masuk akal. Sejarah pun mencatat. Mou hanya bertahan tiga tahun di Inggris, sesudah Ferguson menemukan formula untuk menghancurkannya. Sesingkat itu.

Sejak Mou terusir, kondisi Chelsea pun tak pernah stabil. Mereka keranjingan gonta-ganti manajer hingga tujuh kali. Beda dengan Wenger atau Mancini, Fergie justru saling berkepentingan dengan Mourinho usai pertempuran 2004-2007. Formula serupa diarahkan ke Mancini trend ini. Sayang, beliau keburu kehilangan selera, dan memilih kata hatinya.

Pada balasannya, puncak prestasi bantu-membantu pria sosialis yang dikenal jadi simpatisan Partai Buruh itu yakni pengunduran dirinya. Dia mengeksekusi usai memastikan gelar ke-13 pribadinya dan ke-20 buat United, yang dicapainya lewat skuad paling lemah dalam dua puluh tahun rezimnya. Salut atas kemampuan taktis dan manajemennya!

Jika Brian Clough meninggalkan warisan terlalu sedikit yang tragis usai berkuasa sangat usang di Nottingham Forest, sementara Wenger walau kini dalam situasi berbahaya serta ironis di Arsenal namun makin keras kepala; ayah dari Mark serta si kembar Darren dan Jason itu justru menentukan keputusan dan saat paling baik, paling sempurna untuk naik ke level direksi. Mundur di puncak kejayaan!

Masih dengan ketegasannya, juga ketenangannya sambil mengunyah permen karet, kita masih akan melihat tatapan Fergie dari boks direksi di Old Trafford, trend demi trend. Ia telah memberikan 'nirwana' kebanggaan buat Manchester United. Satu-satunya 'neraka pekerjaan' yang diwariskan Ferguson cuma buat penggantinya: David William Moyes.

(foto: telegraph/themag/thereddevil)

Saturday, March 2, 2013

Hugo Chavez: Adios, El Libertador!

Telenovela, perempuan bagus, bisbol, dan minyak. Bak setali empat uang, itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan Gloria Al Bravo Pueblo (Kemuliaan bagi Rakyat yang Berani). Pada pekan ini, rakyat dan semua manusia sepak bola di Venezuela tengah berbela sungkawa untuk menghormati kepergian El Libertador, sang pembebas.
 itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan  Hugo Chavez: Adios, El Libertador!
Meninggal dunia di tanggal dan bulan yang sama dengan Moammar Al Qaddafy.
Pada Selasa, 5 Maret 2013, pemimpin Venezuela Hugo Chavez telah meninggal dunia balasan kanker pelvis (rongga ginjal) yang dideritanya dua tahun belakangan. Tak banyak yang tahu, selain berkorelasi dengan Moammar Al Qaddafy dan bermusuhan dengan Amerika Serikat di pentas politik, ia juga terkait dengan sepak bola. Kenapa Chavez disebut tokoh kebangkitan sepak bola Venezuela?

Empat tahun silam sebelum membujur abadi di liang lahat, Chavez melakukan sesuatu hal yang sangat signifikan untuk mengoreksi dirinya sekaligus mengubah perilaku sepak bola di negerinya. Pemimpin paling kharismatik di Amerika Latin di awal dekade kedua milenium ini menghembuskan nafas terakhir. Bukan satu kebetulan, empat tahun sehabis wafatnya teman dan sahabat seperjuangannya, Qaddafy si Che Guevarra dari Afrika, Chavez ‘menyusul’ pada tanggal dan bulan yang sama!

Kisah pertautan Chavez-Qaddafy diawali pada Kamis 5 Maret 2009. Kala itu dia mengunjungi Libya untuk menemui Qaddafy, rekanan seperjuangan anti-imprerialisme. Sang pemimpin tertinggi Venezuela dielu-elukan rakyat Libya. Di sela-sela rangkaian kunjungan politiknya, Chavez berdiplomasi khusus yang tak pernah dilupakan orang, meresmikan stadion – bangunan penting sesudah masjid di Libya.

Tak heran kalau sampai 2011, di Benina, kota kecil akrab Benghazi, pernah bangun kokoh ‘Stadion Hugo Chavez’ yang sehabis Qaddafy wafat diganti namanya oleh rezim baru Libya menjadi Stadion Martir Februari. Siapapun tahu tentang persahabatan dua tokoh anti-Amerika yang sekarang berstatus almarhum. Bukan sekali ini, Chavez – pria Leo kelahiran 28 Juli 1954 itu – diberi penghargaan oleh sang kompatriot. Pada 2004 Chavez juga ditabalkan Qaddafy lewat acara formal, sebagai pejuang sejati penghadang imbas imperialisme.
 itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan  Hugo Chavez: Adios, El Libertador!
Stadion Hugo Chavez di Benina, kota kecil akrab Benghazi.
Tapi insiden di Benina yang lebih mengejutkan banyak pihak, tidak saja rakyat kedua negara namun juga Amerika Serikat, dan barangkali FIFA. Pasalnya semenjak kapan sang Caudillos (orang berpengaruh militer) itu menyukai bola? Data intelijen CIA di kolom hobi mengatakan bahwa Hugo Rafael Chavez Frias yaitu penggemar fanatik bisbol. Sahabat erat Magglio Ordonez, atlet top Venezuela yang jadi bintang di Major League Baseball (MLB) di AS.

Kenapa datang-datang tidak ada juntrungnya ia melirik sepak bola, dan celakanya pakai berkolaborasi dengan Qaddafy segala? Ada apa ini? AS berpikir keras. Tautan olah raga dan politik kadang menghasilkan kerancuan, keracunan, sekaligus kelucuan. Chavez memang membenci Amerika yang selalu maniak dengan emas hitam alias minyak. Muak nomor duanya kepada negeri Paman Sam tentu disebabkan sebab secara politik, dia yakni seorang sosialis.

Sejak Chavez melakoni peran Del Presidente Venezolano pada 1999, sontak negeri sarang Miss Universe ini dibanjiri epik sensasi karena Chavez punya daya tarik tinggi. Aura pesonanya mahir, intonasi bicaranya amat memikat dan mengguncangkan. Dia dianggap penerus El Libertador Simon Bolivar (1783-1830). Di kala jayanya, ikon anti-imperialisme terbesar yang orang Venezuela ini yaitu Presiden Kolombia Raya, Venezuela, Bolivia, Peru, dan musuh abadi Spanyol sang penjarah tanah orang.

Chavez ialah orator kelas kakap. Pidatonya bikin hati pendengarnya berdegup, bernafsu, terbakar, saking merasuknya. Apalagi disertai kepalan tangan atau pekikan, terutama dikala mencerca Amerika. Pendek kata, beliau disebut reinkarnasi-nya Simon Bolivar. Sedikitnya tidak beda jauh dengan jagoan Argentina Ernesto ‘Che’ Guevarra, atau setidaknya mengingatkan pada legenda Kuba, Fidel Castro. Saking takjubnya, media massa di AS Amerika sering menjulukinya “The Iconoclastic”.
 itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan  Hugo Chavez: Adios, El Libertador!
Bersama Al-Qaddafy, rekanan seperjuangan anti-imprerialisme.
Berpendirian teguh menjadi pembenci nomor satu AS, risiko Chavez cuma dua: dimusuhi tapi sekaligus disegani. Selain Qaddafy dan Castro, banyak juga yang jadi konco loyalnya. Sebut saja Eva Morales (Bolivia), Omar Al-Bashir (Sudan), Kim Jong-il (Korea Utara), Mahmoud Ahmadinejad (Iran), sampai Diego Maradona. Nyali AS terkadang menciut melawan tridente kematian lini depan ‘kesebelasan’ anti-imperialis: Ahmadinejad- Chavez-Qaddafy. Pasalnya ketiganya yaitu penguasa 25% produksi minyak dunia.

Gara-gara minyak pula, Chavez dengan mudah mengangkat harkat negeri berpopulasi 27 juta jiwa ini di mata internasional. Baik politis, bisnis, hingga keuangan. Kini pendapatan per kapita Venezuela adalah 13.200 dolar AS. Bandingkan dengan Indonesia yang masih 5.000 dolar AS. Dua belas tahun berkuasa, Chavez tampak sukar diutak-atik kecuali dengan satu hal.

Politik Sepak Bola

Entah mengapa setiap mendengar politik atau kebijakan AS, tensi ayah dari tiga anak itu acap kali meninggi. Akan tetapi, ketika teringat atau melihat bisbol – olahraga yang menjadi trademark AS – temperamen Chavez mampu surut. Kecintaan Chavez pada permainan kapitalis, bisbol, bukan lagi diam-diam. Tokoh anti AS, sebal berat dengan kelakuan koboi Yankee, tapi memuja olah raganya.  Uniknya, AS tidak mampu memanfaatkan ‘peluang’ ini. Justru Qaddafy yang sukses menarik laki-laki yang kawin dua kali itu ke sepak bola.

Bagaimana mungkin mau memajukan sepak bola jikalau dia kegilaan bisbol? Pada awalnya AS tentu saja mesem-mesem. Namun setelah Qaddafy mengenalkan sepak bola, laki-laki penderita Bipolar Disorder itu bertekad besar lengan berkuasa untuk mendalami passion baru: sepak bola. Itulah intisari perjalanan dirinya ke Libya, empat tahun silam. Perjalanannya itu di lalu hari bakal memengaruhi semangat rakyatnya untuk lebih bergairah dengan sepak bola, sekaligus untuk melupakan kesusahan yang melanda negeri.
 itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan  Hugo Chavez: Adios, El Libertador!
Ahmadinejad-Chavez. Plus Al-Qaddafy, ketiganya penguasa 25% minyak dunia.
Venezuela satu-satunya negara di Amerika Latin yang belum pernah lolos ke World Cup. Sejak usang Chavez menyadari. Dia juga tahu status tim Cenicienta alias Cinderella menjadi tim terlemah di Amerika Latin. Anyway, meski dilematis beliau tetap berusaha keras mencobanya. Ketua Partai Uni Sosialis ini pernah memberi misi tidak mungkin pada FVF (PSSI-nya Venezuela): menggolkan negara yang merdeka pada 5 Juli 1811 itu menjadi tuan rumah Copa America 2007.

Hebatnya, misi itu berhasil. Saking senangnya, keluguannya muncul. Dikira sepak bola seperti yang ada di pikirannya. Dua bulan sebelum kejuaraan, dalam satu pertemuan Chavez pribadi jumawa di depan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, ”Lula, aku punya kejutan untukmu. Berhati-hatilah, mitra!” Dia ingin tim Samba bertemu Venezuela. Ketika turnamen digelar pada 26 Juni-15 Juli 2007, Venezuela tampil setuju. Tim berjuluk La Vinotinto mengejutkan orang dengan menjadi juara Grup A.

Tapi sayangnya tinggal selangkah lagi bersua Brasil di semifinal, di hadapan Chavez sendiri, Venezuela dipermak Uruguay 1-4! Upaya Chavez menyenangkan rakyat pun gagal. Di seberang sana, barangkali Lula Da Silva terpingkal-pingkal mendengar kekalahan itu. Secara politis, para pengamat yakin Copa America 2007 cuma dijadikan kredit poin rezim Chavez di dalam negeri. Banyak pula rakyat yang galau melihat cara Chavez merayakan kegembiraan usai terjadi gol. Sangat jelas sekali dia bukan “orang bola”.

Namun itu bukan halangan. Upaya Chavez yang harus disimak dan dihargai. Tak gampang mengubah kultur dan tradisi olah raga Amerika yang telah berjalan seabad. Venezuela mirip dengan Nikaragua, Dominika, atau Kuba. Meski bermusuhan dengan AS, namun soal olahraga, keempat negara sosialis ini paling lihai main bola voli, bola basket dan bisbol; tiga olah raga ciptaan Yankees.

Di Venezuela, bisbol berkembang pesat mulai awal abad 20. Bahkan di 1941, Venezuela pernah jadi juara dunia bisbol. Sejak itu negara ini banyak menyuplai pemain di MLB, Liga Bisbol AS. Perjuangan Chavez menghapus bisbol dari benaknya saja terkesan mustahil. 

Beda dengan bisbol atau sofbol, tradisi sepak bola di negeri telenovela baru dimulai pada periode 1950-an. Cukup terlambat. Uniknya, kesan sebagai negara pencinta opera sabun dicitrakan juga di sepak bola. Tak heran jika tim nasional Venezuela awalnya disebut dengan Cenicienta atau Cinderella.

Sebenarnya tim nasional Venezuela pertama kali debut pada 1938, namun tak pernah ikut Piala Amerika sampai 1967. Sampai awal 1990-an, mereka cuma mampu menang dua kali di ajang kompetitif. Cerita telenovela Cinderella sungguhan terjadi, karena Venezuela pernah dicincang habis Yugoslavia 0-10 pada sebuah turnamen di Brasil 1972. Juga dikuliti Argentina 0-11 di Copa America 1975.                    

Jasa terbesar Chavez bagi kemajuan sepak bola Venezuela bergotong-royong bukan dari sepak bolanya, tapi dari sisi patriotismenya. Ia sukses mengajak rakyat supaya lebih mencintai sepak bola. Buktinya tiga tahun sehabis beliau berkuasa, citra Venezuela mulai berubah kasatmata. Julukan gres untuk tim nasional pun dihembuskan, La Vinotinto atau Si Merah Hati.

Gengsi La Vinotinto terdongkrak usai Chavez berkuasa. Sampai abad Presiden Rafael Caldera, Venezuela paling banter cuma bisa menang dari Ekuador pada 1998. Di Pra Piala Dunia 2002 sejarah baru tercipta: Venezuela tidak jadi juru kunci, melainkan Cili. Vinotinto mampu lima kali menang, termasuk dari Uruguay 2-0. Bahkan pernah tiga kali menang beruntun atas Cili, Peru dan Uruguay sebelum distop Brasil.
 itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan  Hugo Chavez: Adios, El Libertador!
Maradona dan Chavez, duet kematian pembenci George W. Bush.
Melihat banyak perubahan yang terjadi, Chavez kian semangat. Ia makin banyak terlibat di politik sepak bola. Pada 2006, kuartet Chavez -Castro-Morales-Maradona mengecam FIFA tatkala melarang Bolivia menggelar main bola di ketinggian tertentu. Pada Pra Piala Dunia 2006, timnas Venezuela ganti merek lagi, yakni Auge Vinotinto (Si Cemerlang Merah Hati).

Momentum Kebangkitan

Walau kembali gagal lolos ke Jerman, Venezuela terhindar lagi dari juru kunci. Lima kali menang diraih atas Kolombia 1-0, Bolivia 2-1, Uruguay 3-0, Ekuador 3-1 dan Peru 4-1. Melihat ini semua, Chavez semakin getol berusaha. Hasilnya, semakin banyak sponsor, pengusaha top, atau investor yang menaruh proposalnya di sepak bola.

Bak cerita Cinderella konkret, hasil cantik di Copa America 2007 menjadi titik balik Venezuela. Klub-klub merestorasi stadion, dan tiap dikala penonton terus bertambah. Indikator lain, fans club kian fanatik dengan membentuk grup ultras, semacam bonek. Baliho mereka mewarnai jalan-jalan dan stadion setiap pekan. Keriuhan tak melulu di Caracas, tapi juga di Maracaibo atau Merida. Generasi gres laki-laki mulai meninggalkan main bisbol, sofbol dan basket!

Sejak Piala Amerika 2007 di negerinya, Presiden Chavez makin yakin banyak yang mampu didapat dari sepak bola. Nasionalisme, kehormatan, harga diri bangsa sampai uang. “Kita butuh waktu. Harapan saya, melalui sepak bola, negeri ini mampu meningkatkan tantangan ke depan sehingga kita tak melulu membanggakan diri dengan minyak kita,” pekik pensiunan Letnan Kolonel Angkatan Darat saat itu.

Cukup setahun setelah pidato, pada 6 Juni 2008, momentum pun tercipta. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Venezuela mengalahkan Brasil 2-0 dalam laga persahabatan, dan yang bikin Chavez kian bersorak kegirangan karena pertandingan digelar di Boston, AS. Sejak itu Lula da Silva tak akan pernah meremehkan lagi Hugo Chavez dan Venezuela. Lewat tangan Chavez, prestasi Auge Vinotinto terus meroket hingga sekarang.
 itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan  Hugo Chavez: Adios, El Libertador!
Di seluruh pelosok negeri jerit histeris menangisi kepergiannya.
Pada 2010, Venezuela kembali gagal menembus Piala Dunia meski di hasil kualifikasinya cukup membanggakan. Namun buat Chavez usahanya sudah optimal. Dia telah menebar aura kebangkitan sepak bola di negaranya. Ia mengingatkan berkali-kali, “bersabarlah”, uniknya, faktor ini memang salah satu kunci sukses sepak bola. Usai memenangi pemilu 2006, jabatan beliau seharusnya tuntas di 2012. Namun pada Juni 2011, dunia terkejut oleh pernyataan Chavez terkena kanker.

Spekulasi berkembang tidak sedap. Wapres Nicolas Maduro berspekulasi sang pemimpin telah diracun oleh Amerika, yang pribadi dibantah Departemen Pertahanan AS. Sejak lama Chavez sudah merasa menjadi target assassination mirip halnya Saddam Hussein (Desember 2006), Usamah Bin Ladin (Mei 2011), dan terakhir sahabat setianya, Qaddafy (Oktober 2011). Gara-gara sakit, Chavez urung mendukung Venezuela yang tampil jago di Copa America 2011.

Untuk pertama kalinya Venezuela meluncur ke semifinal kejuaraan yang digelar di Argentina itu. Di penyisihan grup, sesuai komitmen infinit Chavez, kembali Brasil tak mampu mengalahkan Venezuela usai bermain dengan hasil kacamata. Sayang, tinggal selangkah ke final, skuad Auge Vinotinto dikalahkan Paraguay 3-5 lewat langgar penalti.

Prakstis sejak mengawal pribadi revolusi sepak bola Venezuela di 2007, Chavez sukses menaikkan negaranya di rangking FIFA dari tahun ke tahun. Dalam rilis resmi, Maret 2013, kini Venezuela berada di peringkat ke-45! Bandingkan dengan Indonesia yang sejak Piala Asia 2007, sekarang peringkatnya terpuruk ke barisan 160-an. Apa beda Venezuela dan Indonesia di sepak bola? Niat lurus, kesepakatan. Jika Anda seorang pemimpin, lakukan mirip yang dibentuk Chavez!

Dalam klasemen kualifikasi Piala Dunia 2014 di Brasil, untuk sementara Venezuela berada di peringkat keempat di atas Paraguay, Peru, Bolivia, Cili, dan Uruguay! Jika kondisi ini dipertahankan dalam sembilan laga ke depan, maka untuk pertama kalinya kita akan mencium keharuman sejarah: lolos untuk pertama kalinya ke Piala Dunia! Andai ini terjadi, Lula da Silva tak akan melupakan candaan Chavez kepadanya. “Berhati-hatilah, mitra!”
 itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan  Hugo Chavez: Adios, El Libertador!
Mahmoud Ahmadinejad berduka di depan istri Hugo Chavez.
Bak mengarungi cerita pilu di telenovela, impian Chavez untuk menyaksikan para prajurit Auge Vinotinto-nya berlaga di Piala Dunia tidak menjadi kenyataan. Tuhan lebih dulu memanggilnya. Di seluruh pelosok jerit histeris menangisi kepergiannya, tidak terkecuali Presiden Ahmadinejad. 

Misi Chavez di sepak bola kini memang telah kelar, namun efeknya tak akan pudar di mata rakyat. Bahkan seharusnya FIFA memberi apresiasi khusus sebab Chavez telah berjuang keras untuk mempopulerkan dan menggairahkan sepak bola, minimal di negaranya.

Kini jutaan belum dewasa dan pemuda Venezuela makin banyak yang bercita-cita menjadi pemain nasional Auge Vinotinto. Karakter, anutan radikal, dan upaya gigih Chavez telah mengubah haluan dan cara berpikir negara bernama resmi República Bolivariana de Venezuela ini untuk membangun budaya baru sepak bolanya.

Sekarang setiap bawah umur lelaki di Venezuela tidak lagi selalu bermimpi jadi pemain bisbol. Chavez telah membebaskan kembali sepak bola Venezuela dari jeratan nestapa sekaligus membangun iktikad diri buat modal ke depan. Selamat jalan El Libertador dan Iconoclastic, dunia sepak bola akan selalu mengenang Anda!

(foto: ft.com/kabobfest/usefoolstooges/readingpictures/mittromneycentral/beliefnet)

Saturday, December 22, 2012

Playmaker (4): Revolusi Passion

INGGRIS yaitu negara kapitalis terkuat kedua di dunia sesudah Amerika Serikat. Olah raga, kebutuhan hidup yang mestinya bikin orang bahagia dan menyehatkan, pun telah terjerat oleh faktor untung atau rugi. Kesuksesan tak diraih lewat biaya murah sehingga uang ialah risiko terbesar. Ujung-ujungnya, pakem "high risk, high return" menjadi pertaruhan klub-klub Inggris.

INGGRIS adalah negara kapitalis terkuat kedua di dunia setelah Amerika Serikat Playmaker (4): Revolusi PassionPremier League disaksikan di 211 negara. Data ini cukup mencengangkan alasannya adalah 'anggota' Premier League ternyata lebih besar dari anggota PBB (193) dan FIFA (208). Premier League menciptakan penduduk bumi ketagihan. Mulai dari Lagos hingga Los Angeles, Mumbai hingga Melbourne. Efek positifnya mampu melahirkan ilham bisnis dan kepahlawanan. Dampak negatifnya akan menularkan pandemi emosi bahkan khaos.

Setiap bulan saja, pihak imigrasi Inggris mencap ribuan paspor dari seluruh dunia di mana para turis cuma punya tujuan menonton eksklusif sepak bola di London, Manchester, dan Liverpool. Dari fakta di atas, mampu dipastikan Premier League tak lagi jadi obsesi nasional atau regional, tapi internasional. Klub-klub topnya punya orientasi kuat melebarkan pasarnya, pendapatannya ke bagian dunia lain terutama di Asia.

Dengan cepat Premier League memasuki kala transisionalnya. Jargon Big Four selain dipertarungkan di klasemen, juga dipertaruhkan secara bisnis dan pasar global. Di sepak bola, Inggris seperti lagi menapaktilasi industri musiknya pada kala 1960 dan 1970-an saat The Beatles, The Rolling Stones, The Who, Pink Floyd, atau Deep Purple mengusung 'Great Empire' di jagat raya passion.

Saat pertama didirikan pada 1992, di Premier League cuma ada 11 pemain ajaib (non-Britania + Irlandia), namun kini ada 70-an negara yang punya minimal satu pemainnya tampil di divisi utama Liga Inggris. Begitu pula para manajernya. Selain dari Britania, tiba dari Prancis, Italia, Belanda, Portugal, dan Spanyol. Hal yang sama pada hadirin yang nonton pribadi di 20 stadion setiap pekan.

Kenaikan dramatis Premier League paling terasa di televisi. Di Afrika saja sekitar 400 juta rumah terutama di Nigeria, Ghana, Pantai Gading punya kanal khusus Premier League setiap pekan! Hitungan jumlah penonton Great Empire jilid II makin menggila lagi tatkala statistik di Cina, India, dan AS - tiga negara yang populasi penduduknya terbesar di dunia ikut dimasukkan.

Tujuan Bisnis

Sebagai fenomena global, skala bisnis Premier League bahkan melebihi Piala Dunia atau Piala Eropa. Demi menjaga kepentingan industri sepak bolanya, Premier League terus memanjakan konsumennya terutama di Asia, benua berpenduduk 4,3 milyar jiwa atau 60 persen pangsa pasar populasi manusia di bumi. Berpatokan kepada eksistensinya, Manchester United sering diidentikan dengan simbol sukses, berangasan, dan dominan.

Persepsi Arsenal yaitu permainan seksi, segar, dan muda. Chelsea dan Manchester City diasumsikan menjadi simbol gres kemapanan atau kemantapan. Adapun Liverpool masih diyakini sebagai lambang kepercayaan dan tradisional. Berkat persaingan yang lebih merata dan kompetitif dibanding liga-liga lain, Premier League memang diyakini punya pendukung yang terbanyak di dunia.

Dalam survey di Facebook hingga Maret 2012, diambil dari jumlah 'likes' diketahui Manchester United punya penggemar terbesar (23.447.069). Diikuti Arsenal (9.458.748), kemudian Chelsea (9.144.601), Liverpool (8.735.235) serta Manchester City (4.204.927). Dari data resmi yang jadi patokan pasar, total fan United berkisar di angka 75 juta (Asia 40,7 juta, Eropa 23 juta, Amerika Latin 6 juta, dan AS 4,6 juta).

Seperti dikutip dari The Guardian, belakangan United malah mengklaim punya massa 659 juta. Dari jumlah itu, telah diperinci 325 juta fan mereka ada di Asia Pasifik, 173 juta dari Timur Tengah dan Afrika, 108 juta di Cina, dan hanya 1% saja bantuan dari Britania Raya. Apa yang Anda pikirkan wacana itu? Apakah data konsumen tersebut yang menjadi tujuan permainan Alex Ferguson atau sasaran bisnis Malcom Glazer?

Apakah jawabannya yakni tujuan sepak bola telah dipakai tepat oleh kapitalisme? Setelah dibeli Sheikh Mansour Al-Nahyan muncul pada 2008, Manchester City menjadi klub terbaru yang memadukan filantropis sang pemilik dengan prestasi kongkrit demi tujuan bisnis dengan total. Lima tahun sebelumnya orang Rusia berjulukan Roman Abramovich juga melakukannya di Chelsea.

Sebenarnya buat bangsa Inggris revolusi passion berikutnya di sepak bola, bukanlah aplikasi gres dalam ekonominya sebab mereka telah berpengalaman ratusan tahun sebelumnya dengan melahirkan revolusi musik bahkan revolusi industri.@riefnatakusumah

(foto: review.premierleague.com)

Sunday, December 16, 2012

Playmaker (3): Manusia Setengah Yang Kuasa

DI DALAM buku klasik The Football Man, Arthur Hopcraft bilang cara termudah mengerti manusia, maka pahamilah orang-orang jenius di olah raga. Lionel Andres Messi ada di kuadran ini, sehingga memudahkan kita memaknai kiprahnya, kehidupannya, dengan baik.

 Arthur Hopcraft bilang cara termudah mengerti manusia Playmaker (3): Manusia Setengah DewaSensasi Messi terus melebar setiap waktu, setiap pekan. Sulit distop selama ia menari-nari di atas rumput hijau. Entah hingga kapan. Satu hal penting yang mungkin menggelitik yaitu awal mulanya. Siapa orang yang paling berjasa untuk melangkahkan kaki sang bocah ke sepak bola pertama kali? Jangan salah, Anda niscaya terkejut mengetahui fakta bekerjsama. Apakah dari 'darah' dan DNA ayahnya? Jorge Horacio Messi, ayahnya, berargumen bahwa orang itu yaitu nenek Messi sendiri. Ada juga yang berkata bahwasanya Don Salvador Ricardo Aparicio, pelatih Grandoli, sebuah klub kecil di Rosario. Semua masih samar-samar.

Argumen ini bermula alasannya adalah Aparicio-lah yang meminta pada ibu Messi agar bocah lima tahun yang dibawanya ke stadion itu dibolehkan main untuk menutup kekurangan pemain di timnya. Sang ibu, Celia Maria Cuccitti, mengajak Messi dikala menonton Rodrigo dan Matias - dua abang kandung Messi - bertanding pada liga belum dewasa. Insting sang instruktur pribadi terpengaruhi, alasannya dari kejauhan ia terus menatap bocah Messi tengah memantulkan bola ke dinding. 

 Arthur Hopcraft bilang cara termudah mengerti manusia Playmaker (3): Manusia Setengah DewaCelia Maria oke. Kostum tim eksklusif dikenakan ke tubuh kecilnya. Namun semuanya kecewa alasannya anak ini tak bisa apa-apa setiap mampu bola. Rupanya ada yang salah. Bola itu selalu dioperkan ke kaki kanannya, karena dongeng jadi beda saat bola ada di kaki kiri. Tak satupun bisa merebutnya!

Pengganti Maradona

Dia ialah the little man with the big reputation, orang kecil dengan reputasi besar. Kasak-kusuknya banyak yang tahu, kecuali mungkin bagaimana cara dia mencapai nomor wahid di dunia, atau apa satu-satunya tantangan terbesarnya.

Rosario, kota kelahiran pejuang klasik sosialis Che Guevarra, setelah itu dilanda kasak-kusuk ahli. Seorang anak yang dinantikan-tunggu telah datang. Dalam kultur sepak bola negeri tango, penantian akan Pibe, bocah pembawa mukjizat, figur hebat, yang selalu diyakini reinkarnasinya. Eduardo Archetti, seorang sosiolog, bercerita perihal budaya bola di negerinya yang selalu menantikan kedatangan El Pibe semenjak 1920-an.

Hanya seseorang yang sebelumnya memiliki julukan itu: Diego Armando Maradona. Sepak bola Argentina lahir lewat khayalan individu yang luar biasa. Pada 1928, pada kolomnya di majalah El Grafico, Ricardo Lorenzo Rodri­guez Borocoti memelopori satu monumen khusus yang hanya boleh ditulisi nama luar biasa yang ahli secara luar biasa mendribel bola.

Penantian manusia setengah ilahi juga dicurahkan secara ekpresif dalam sebuah lagu. Pada 1943 tembang berjudul "A Tango, El Sueo Del Pibe" langsung populer di tamat 1970-an tatkala seorang Diego Armando Maradona mulai santer dikenal publik. 

 Arthur Hopcraft bilang cara termudah mengerti manusia Playmaker (3): Manusia Setengah DewaPokoknya bila ada anak yang mahir dribel bola pada potrero, kawasan-kawasan tak lazim di seperti atas genteng, di anak tangga, di daerah becek maupun di permukaan agresif, ia langsung diangkat jadi figur. Jika beliau menjadi pemain reguler, panggilannya akan berubah La Nuestra alias (ia) milik kami.

Dalam prasasti tersebut, wartawan Argentina kelahiran Uruguay itu menulis: "Ini tempat bagi seorang Pibe yang berwajah lusuh, berambut awut-awutan tak pernah disisir; yang dengan kecerdasannya, daya jelajahnya, aksi tipuannya, mata meyakinkan dan berkilauan mampu menghentikan tawa orang-orang karena melihat sederetan sisa-sisa roti kemarin pada barisan gigi kecilnya."

Lagu itu tercipta 43 tahun sebelum El Diego mencetak gol cum laude sepanjang abad, gol kedua lawan Inggris di Piala Dunia 1986, lalu menakhodai Argentina menjadi juara dunia. Maka di usia 25 tahun 8 bulan itu, lahir julukan resmi: Maradona ialah Argentina, dan Argentina ialah Maradona. Bagaimana dengan Messi? Brasil 2014 yakni pertaruhannya di abad menapaki usia 27 tahun. Messi terus melangkah ke sana. "Setelah Maradona, dilema kita yakni menantikan kedatangan El Pibe penggantinya," kata Archetti pada 1990.

Well, Maradona tak akan bisa dibandingkan lagi kalau di 2014 Messi meraih sesuatu. Bahkan ia akan mengubur reputasi Maradona selamanya, mengingat 113 gelar yang telah diraihnya secara kolektif maupun individual, di klub dan timnas. Bayangkan, 113 gelar!  Yang teranyar adalah memecahkan rekor gol setahun Gerd Mueller (86 gol) yang bertahan 40 tahun. Jelas, Messi cuma satu gelar: titel Piala Dunia! Semoga dia dinaungi nasib mujur. @riefnatakusumah

(foto: trollfootball.me/livemint/pravdoruboklon.diary)

Friday, December 7, 2012

Playmaker (2): Michu Sang Pemicu

BUAT penggemar dan penggila game fantasi Liga Inggris, pemain yang satu itu memang jadi idaman. Nama bekennya praktis tapi nilai potensinya sungguh menggoda para manajer, termasuk Anda! Michu alias Miguel Perez Cuesta dibeli Swansea City cuma seharga 2 juta pound. Artinya 25 kali lebih murah dibanding seorang Fernando Torres.

 pemain yang satu itu memang jadi idaman Playmaker (2): Michu Sang PemicuPria murah senyum yang ternyata sekampung dengan pembalap Formula 1 Fernando Alonso itu, punya rasio 128 menit per 1 gol dengan dua assist. Cukup menggoda. Nilai tambah lain dia ialah sering jadi katalisator alias roda pelopor permainan The Jacks. Gerak geriknya yang gemulai kerap mempedaya bek-bek lawan. Statistik pribadinya cukup menggiurkan meski baru 16 kali tampil di Premier League. 

Sebanyak 60.000-an ribu penonton di Emirates, dan ratusan juta di seluruh dunia via live, Sabtu (1/12), menjadi saksi anyar moleknya naluri predator dan efektivitas pemain setinggi 185 cm itu ketika melawan Arsenal. Tinggal tiga menit lagi dan tubruk tampak akan berakhir seri, namun seketika itu pula, Michu bisa mengubah jalannya sejarah pertandingan.

Pertama, sebuah umpan Chico Torres dan tik-tak dengan Luke Moore sontak menggerakkan adrenalin Michu pada tujuan kongkrit. Lewat insting sempurna, ia mengecoh kawalan duet Thomas Vermaelen dan Per Mertesacker yang bangkit sejajar. Bak geliatan seekor kijang dari sergapan singa, Michu terus melaju, one on one dengan Wojciech Szczesny. Bola dicongkelnya. Gol. 0-1.

Gol kedua Michu di menit 91 juga memberikan dirinya selalu the right man in the right place on the right time pada situasi kritis. Sodokan bola oleh Nathan Dyer dari penguasaan Carl Jenkinson, pas jatuh di kakinya. Nyaris separo lapangan dan dengan dua kaki panjangnya, beliau menggenjot bola hingga berhadapan lagi dengan Szczesny. Bola dilesakkan ke sudut sempit. Gol. 0-2. Game is over!

Awal manis di Loftus Road dan final gemilang di Emirates kesannya mendudukkan Michu di daftar pencetak gol terbanyak, 10 gol, bersama Robin van Persie, Luis Suarez, dan Demba Ba. Tapi dari rata-rata gol dari jumlah tendangan versi Opta, dia mengungguli RvP. Michu 25%, Van Persie 20%. Artinya setiap empat tendangan Michu menjadi satu gol.

Jadi Buruan

Terjadi lonjakan prestasinya itu dibanding saat beliau membela Rayo Vallecano (16,9%). Keefektivitasan penyerang tengah palsu itu juga di atas dua penyerang tengah sejati, Edin Dzeko (21,4%) dan Steven Fletcher (22,2%). Dari 11 golnya, tujuh dilesakkan kaki kiri. Empat lagi dari sundulan. Improvisasi laki-laki kelahiran 21 Maret 1986 itu bukan itu saja.

Di tangan Michael Laudrup, Swansea menganut sistem free-flowing yang menuntut permainan passing layaknya gaya Barcelona dulu. Dan, akurasi passing Michu - sebagaimana biasanya pesepak bola Spanyol - juga yang terbaik di Premier League dengan tingkat akurasi mencapai 79,5%. Keunggulan Michu juga pada rendahnya rata-rata dribel bola, 20%, yang menunjukkan dia bukanlah seorang gelandang udik.

Nama Michu pertama kali menyeruak ke blantika Premier League pada 18 Agustus silam di Loftus Road. Saat itu The Swans menghantam tuan rumah Queens Park Rangers 5-0, dan ia mencetak dua gol! Media massa Inggris pun heboh. Sama halnya jagat fantasi. Tak ayal lagi, Michu ialah top bargain player di Inggris kini ini.

Nah, jangan lagi Anda sebagai 'manajer' Michu dalam permainan fantasi Liga Inggris, deretan manajer Premier League pun sekarang mulai antri meminangnya. Misalnya Arsene Wenger dan Brendan Rodgers, bahkan Walter Mazzarri (Napoli) dan Luigi Delneri (Genoa). Michu telah memicu genderang perang bursa transfer jilid dua yang mulai dibuka bulan depan.

Buat Liverpool, Michu adalah missing-link yang sempurna sebagai supplier atau agen bola ke Suarez. Bagi Arsenal sendiri, Michu mampu menjadi Robert Pires gres. Dengan harga awal 2 juta pound, nilai Michu versi Transfermarkt naik 3 kali lipat. Konon Wenger berani menutup 12 juta pound. Kendati kontrak Michu gres berakhir 30 Juni 2015, namun sanggupkah Swansea menahannya? @riefnatakusumah

(foto: scafc.ru)

Sunday, December 2, 2012

Playmaker (1): Chameleonic Leader

TAK dapat dipungkiri, Desember tampaknya menjadi bulan paling menggairahkan Republik Bianconeri dalam perjalanan mencapai sasaran demam isu ini. Juventus semakin kokoh sebagai capolista di pekan ke-14.

 Desember tampaknya menjadi bulan paling menggairahkan Republik Bianconeri dalam perjalana Playmaker (1): Chameleonic LeaderKembalinya Antonio Conte sebagai manajer, serta satu kaki yang sudah menapaki babak 16 besar Liga Champion, bukan saja melegakan dan membahagiakan kaum Drughi di manapun berada, namun juga terus menaikkan watak Andrea Pirlo dkk. hingga berlipat ganda. Kerja keras, tekad besar lengan berkuasa, dan percaya diri yaitu faktor kunci Juventus di Serie A isu terkini ini yang terus sukses menghindari diri dari kejaran Napoli. Kemenangan sempurna 3-0 atas Torino dalam sabung bertajuk Derby della Mole, Sabtu (1/12), juga kian meningkatkan fokus mereka di kancah Eropa. Rabu (5/12) atau Kamis dinihari WIB, Juve melakoni langgar yang menentukan perjalanan reputasinya di Donbass Arena, Donetsk, Ukraina.

Melawan Shakhtar, La Vecchia Signora cukup meraih satu poin untuk menyingkirkan juara bertahan Chelsea di persaingan Grup E. Syukur-syukur mampu menang, bila merasa pertemuan awal dengan dua tim favorit, Barcelona atau Manchester United, memang harus dihindari lebih dulu. Itulah kenapa kemenangan atas Torino dianggap sempurna waktu dari berbagai dimensi.

Dari tiga hadiah di Desember, hadirnya kembali sang manajer merupakan kebahagiaan puncak. Ahad (9/12), Conte dipastikan berada lagi di tepi lapangan kala Juve melawat ke Renzo Barbera untuk meladeni Palermo. "Kami kehilangan ucapan-ucapannya, motivasinya, sampai perubahan strategi seketika di pinggir lapangan," sebut Pirlo pada Tuttosport, sebuah koran yang pro-Juve.

Masa hukuman Conte atas skandal pengaturan pertandingan ketika menangani Siena di 2010/11, telah direduksi Pengadilan Arbitrasi Olah Raga Italia pada 5 Oktober silam menjadi empat bulan setelah ditemukan sejumlah bukti gres. Sebelumnya pada 13 September 2012, FIFA sempat menyetujui embargo selama 10 bulan atas Conte untuk banyak sekali aktivitas di sepak bola.

"Massimo Carrera dan Angelo Alessio juga bagus. Tapi tanpa Conte terperinci berbeda. Sulit bermain tanpa komando Conte dan temperamennya, sebab beliau yang paling tahu bagaimana menghela kami," timpal Andrea Barzagli. "Winning mentality yang ada di dirinya sekarang ditularkan kepada pasukannya," beber Gianluca Pessotto, eks rekan main Conte di Juve dulu.

Sepak Bola Hati

Kejengahan tanpa Conte, seperti kata Barzagli tadi, sangat signifikan dalam grande partita bukan di berkelahi biasa. Itu yang menciptakan Juve kalah 0-1 dari Milan dan 1-3 dari Inter. Tanpa Conte secara eksklusif pula, Juve rawan diterpa kebimbangan dalam merawat sasaran. Maklum kali ini Juve sibuk di Eropa, tidak mirip trend kemudian.

Banyak yang mengakui, Antonio Conte yaitu simbol kebangkitan Juventus, aktivis klub "immortal" ketiga di periode sepak bola modern setelah AC Milan 1991/92 dan Arsenal 2003/04. Sisi istimewa Conte yakni sikap patriotiknya yang kelewat tinggi bukan saja untuk Juventus namun juga Italia secara keseluruhan. Semangat inilah yang ia ditebarkan di Liga Champion.

Ia mengakui Serie A tengah mengalami stagnasi dalam persaingan. "Kita butuh perubahan dan terus berkembang alasannya adalah ada perbedaan yang luas antara sepak bola Italia dengan negara lain. Ada kontes tertentu dalam skala ekonomi tapi kita punya wangsit-ide, organisasi, hati dan kaki," paparnya setelah Juve meremukkan Chelsea 3-0, selesai bulan lalu.

Di Juventus, Conte mengubah mental kemenangannya berupa trilogi: rasa hormat, tidak takut, dan kesadaran, yang sekarang menjadi falsafah bermain Bianconeri. Dalam sebuah kolomnya, Adrian Del Monte menyebut laki-laki 43 tahun itu sebagai simbol kebangkitan 'sepak bola hati' sesudah masa Marcello Lippi, dengan aksentuasi pada possession dan pressing.

Dalam satu sisi, Conte kerap disimilarisasikan dengan Jose Mourinho, sesama Chameleonic Leader. Ini satu ungkapan halus untuk seorang manajer diktator yang bermetamorfosis menjadi sobat terbaik para pemain dan segrup tifosi berkategori ultra yang kuat. Conte tampak rendah hati dan tidak berapi-api di depan jurnalista namun selalu lapar kemenangan.

Beberapa wartawan Italia masih kerap resah melihat gestuur, ketenangannya serta tutur kata yang halus serta sangat diplomatis. Sangat berbeda ketika mengawal timnya bertarung. "Apa diam-diam Anda dalam memotivasi pemain?" begitu seorang wartawan bertanya suatu kali. Dan, Conte menjawab: "Ah, biasa saja. Saya cuma menyuruh mereka bila perlu makanlah rumput itu," jawab sang tokoh dengan mimik santai. Selamat tiba kembali Don Antonio! @riefnatakusumah

(foto: provenquality)