Saturday, March 2, 2013

Hugo Chavez: Adios, El Libertador!

Telenovela, perempuan bagus, bisbol, dan minyak. Bak setali empat uang, itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan Gloria Al Bravo Pueblo (Kemuliaan bagi Rakyat yang Berani). Pada pekan ini, rakyat dan semua manusia sepak bola di Venezuela tengah berbela sungkawa untuk menghormati kepergian El Libertador, sang pembebas.
 itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan  Hugo Chavez: Adios, El Libertador!
Meninggal dunia di tanggal dan bulan yang sama dengan Moammar Al Qaddafy.
Pada Selasa, 5 Maret 2013, pemimpin Venezuela Hugo Chavez telah meninggal dunia balasan kanker pelvis (rongga ginjal) yang dideritanya dua tahun belakangan. Tak banyak yang tahu, selain berkorelasi dengan Moammar Al Qaddafy dan bermusuhan dengan Amerika Serikat di pentas politik, ia juga terkait dengan sepak bola. Kenapa Chavez disebut tokoh kebangkitan sepak bola Venezuela?

Empat tahun silam sebelum membujur abadi di liang lahat, Chavez melakukan sesuatu hal yang sangat signifikan untuk mengoreksi dirinya sekaligus mengubah perilaku sepak bola di negerinya. Pemimpin paling kharismatik di Amerika Latin di awal dekade kedua milenium ini menghembuskan nafas terakhir. Bukan satu kebetulan, empat tahun sehabis wafatnya teman dan sahabat seperjuangannya, Qaddafy si Che Guevarra dari Afrika, Chavez ‘menyusul’ pada tanggal dan bulan yang sama!

Kisah pertautan Chavez-Qaddafy diawali pada Kamis 5 Maret 2009. Kala itu dia mengunjungi Libya untuk menemui Qaddafy, rekanan seperjuangan anti-imprerialisme. Sang pemimpin tertinggi Venezuela dielu-elukan rakyat Libya. Di sela-sela rangkaian kunjungan politiknya, Chavez berdiplomasi khusus yang tak pernah dilupakan orang, meresmikan stadion – bangunan penting sesudah masjid di Libya.

Tak heran kalau sampai 2011, di Benina, kota kecil akrab Benghazi, pernah bangun kokoh ‘Stadion Hugo Chavez’ yang sehabis Qaddafy wafat diganti namanya oleh rezim baru Libya menjadi Stadion Martir Februari. Siapapun tahu tentang persahabatan dua tokoh anti-Amerika yang sekarang berstatus almarhum. Bukan sekali ini, Chavez – pria Leo kelahiran 28 Juli 1954 itu – diberi penghargaan oleh sang kompatriot. Pada 2004 Chavez juga ditabalkan Qaddafy lewat acara formal, sebagai pejuang sejati penghadang imbas imperialisme.
 itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan  Hugo Chavez: Adios, El Libertador!
Stadion Hugo Chavez di Benina, kota kecil akrab Benghazi.
Tapi insiden di Benina yang lebih mengejutkan banyak pihak, tidak saja rakyat kedua negara namun juga Amerika Serikat, dan barangkali FIFA. Pasalnya semenjak kapan sang Caudillos (orang berpengaruh militer) itu menyukai bola? Data intelijen CIA di kolom hobi mengatakan bahwa Hugo Rafael Chavez Frias yaitu penggemar fanatik bisbol. Sahabat erat Magglio Ordonez, atlet top Venezuela yang jadi bintang di Major League Baseball (MLB) di AS.

Kenapa datang-datang tidak ada juntrungnya ia melirik sepak bola, dan celakanya pakai berkolaborasi dengan Qaddafy segala? Ada apa ini? AS berpikir keras. Tautan olah raga dan politik kadang menghasilkan kerancuan, keracunan, sekaligus kelucuan. Chavez memang membenci Amerika yang selalu maniak dengan emas hitam alias minyak. Muak nomor duanya kepada negeri Paman Sam tentu disebabkan sebab secara politik, dia yakni seorang sosialis.

Sejak Chavez melakoni peran Del Presidente Venezolano pada 1999, sontak negeri sarang Miss Universe ini dibanjiri epik sensasi karena Chavez punya daya tarik tinggi. Aura pesonanya mahir, intonasi bicaranya amat memikat dan mengguncangkan. Dia dianggap penerus El Libertador Simon Bolivar (1783-1830). Di kala jayanya, ikon anti-imperialisme terbesar yang orang Venezuela ini yaitu Presiden Kolombia Raya, Venezuela, Bolivia, Peru, dan musuh abadi Spanyol sang penjarah tanah orang.

Chavez ialah orator kelas kakap. Pidatonya bikin hati pendengarnya berdegup, bernafsu, terbakar, saking merasuknya. Apalagi disertai kepalan tangan atau pekikan, terutama dikala mencerca Amerika. Pendek kata, beliau disebut reinkarnasi-nya Simon Bolivar. Sedikitnya tidak beda jauh dengan jagoan Argentina Ernesto ‘Che’ Guevarra, atau setidaknya mengingatkan pada legenda Kuba, Fidel Castro. Saking takjubnya, media massa di AS Amerika sering menjulukinya “The Iconoclastic”.
 itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan  Hugo Chavez: Adios, El Libertador!
Bersama Al-Qaddafy, rekanan seperjuangan anti-imprerialisme.
Berpendirian teguh menjadi pembenci nomor satu AS, risiko Chavez cuma dua: dimusuhi tapi sekaligus disegani. Selain Qaddafy dan Castro, banyak juga yang jadi konco loyalnya. Sebut saja Eva Morales (Bolivia), Omar Al-Bashir (Sudan), Kim Jong-il (Korea Utara), Mahmoud Ahmadinejad (Iran), sampai Diego Maradona. Nyali AS terkadang menciut melawan tridente kematian lini depan ‘kesebelasan’ anti-imperialis: Ahmadinejad- Chavez-Qaddafy. Pasalnya ketiganya yaitu penguasa 25% produksi minyak dunia.

Gara-gara minyak pula, Chavez dengan mudah mengangkat harkat negeri berpopulasi 27 juta jiwa ini di mata internasional. Baik politis, bisnis, hingga keuangan. Kini pendapatan per kapita Venezuela adalah 13.200 dolar AS. Bandingkan dengan Indonesia yang masih 5.000 dolar AS. Dua belas tahun berkuasa, Chavez tampak sukar diutak-atik kecuali dengan satu hal.

Politik Sepak Bola

Entah mengapa setiap mendengar politik atau kebijakan AS, tensi ayah dari tiga anak itu acap kali meninggi. Akan tetapi, ketika teringat atau melihat bisbol – olahraga yang menjadi trademark AS – temperamen Chavez mampu surut. Kecintaan Chavez pada permainan kapitalis, bisbol, bukan lagi diam-diam. Tokoh anti AS, sebal berat dengan kelakuan koboi Yankee, tapi memuja olah raganya.  Uniknya, AS tidak mampu memanfaatkan ‘peluang’ ini. Justru Qaddafy yang sukses menarik laki-laki yang kawin dua kali itu ke sepak bola.

Bagaimana mungkin mau memajukan sepak bola jikalau dia kegilaan bisbol? Pada awalnya AS tentu saja mesem-mesem. Namun setelah Qaddafy mengenalkan sepak bola, laki-laki penderita Bipolar Disorder itu bertekad besar lengan berkuasa untuk mendalami passion baru: sepak bola. Itulah intisari perjalanan dirinya ke Libya, empat tahun silam. Perjalanannya itu di lalu hari bakal memengaruhi semangat rakyatnya untuk lebih bergairah dengan sepak bola, sekaligus untuk melupakan kesusahan yang melanda negeri.
 itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan  Hugo Chavez: Adios, El Libertador!
Ahmadinejad-Chavez. Plus Al-Qaddafy, ketiganya penguasa 25% minyak dunia.
Venezuela satu-satunya negara di Amerika Latin yang belum pernah lolos ke World Cup. Sejak usang Chavez menyadari. Dia juga tahu status tim Cenicienta alias Cinderella menjadi tim terlemah di Amerika Latin. Anyway, meski dilematis beliau tetap berusaha keras mencobanya. Ketua Partai Uni Sosialis ini pernah memberi misi tidak mungkin pada FVF (PSSI-nya Venezuela): menggolkan negara yang merdeka pada 5 Juli 1811 itu menjadi tuan rumah Copa America 2007.

Hebatnya, misi itu berhasil. Saking senangnya, keluguannya muncul. Dikira sepak bola seperti yang ada di pikirannya. Dua bulan sebelum kejuaraan, dalam satu pertemuan Chavez pribadi jumawa di depan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, ”Lula, aku punya kejutan untukmu. Berhati-hatilah, mitra!” Dia ingin tim Samba bertemu Venezuela. Ketika turnamen digelar pada 26 Juni-15 Juli 2007, Venezuela tampil setuju. Tim berjuluk La Vinotinto mengejutkan orang dengan menjadi juara Grup A.

Tapi sayangnya tinggal selangkah lagi bersua Brasil di semifinal, di hadapan Chavez sendiri, Venezuela dipermak Uruguay 1-4! Upaya Chavez menyenangkan rakyat pun gagal. Di seberang sana, barangkali Lula Da Silva terpingkal-pingkal mendengar kekalahan itu. Secara politis, para pengamat yakin Copa America 2007 cuma dijadikan kredit poin rezim Chavez di dalam negeri. Banyak pula rakyat yang galau melihat cara Chavez merayakan kegembiraan usai terjadi gol. Sangat jelas sekali dia bukan “orang bola”.

Namun itu bukan halangan. Upaya Chavez yang harus disimak dan dihargai. Tak gampang mengubah kultur dan tradisi olah raga Amerika yang telah berjalan seabad. Venezuela mirip dengan Nikaragua, Dominika, atau Kuba. Meski bermusuhan dengan AS, namun soal olahraga, keempat negara sosialis ini paling lihai main bola voli, bola basket dan bisbol; tiga olah raga ciptaan Yankees.

Di Venezuela, bisbol berkembang pesat mulai awal abad 20. Bahkan di 1941, Venezuela pernah jadi juara dunia bisbol. Sejak itu negara ini banyak menyuplai pemain di MLB, Liga Bisbol AS. Perjuangan Chavez menghapus bisbol dari benaknya saja terkesan mustahil. 

Beda dengan bisbol atau sofbol, tradisi sepak bola di negeri telenovela baru dimulai pada periode 1950-an. Cukup terlambat. Uniknya, kesan sebagai negara pencinta opera sabun dicitrakan juga di sepak bola. Tak heran jika tim nasional Venezuela awalnya disebut dengan Cenicienta atau Cinderella.

Sebenarnya tim nasional Venezuela pertama kali debut pada 1938, namun tak pernah ikut Piala Amerika sampai 1967. Sampai awal 1990-an, mereka cuma mampu menang dua kali di ajang kompetitif. Cerita telenovela Cinderella sungguhan terjadi, karena Venezuela pernah dicincang habis Yugoslavia 0-10 pada sebuah turnamen di Brasil 1972. Juga dikuliti Argentina 0-11 di Copa America 1975.                    

Jasa terbesar Chavez bagi kemajuan sepak bola Venezuela bergotong-royong bukan dari sepak bolanya, tapi dari sisi patriotismenya. Ia sukses mengajak rakyat supaya lebih mencintai sepak bola. Buktinya tiga tahun sehabis beliau berkuasa, citra Venezuela mulai berubah kasatmata. Julukan gres untuk tim nasional pun dihembuskan, La Vinotinto atau Si Merah Hati.

Gengsi La Vinotinto terdongkrak usai Chavez berkuasa. Sampai abad Presiden Rafael Caldera, Venezuela paling banter cuma bisa menang dari Ekuador pada 1998. Di Pra Piala Dunia 2002 sejarah baru tercipta: Venezuela tidak jadi juru kunci, melainkan Cili. Vinotinto mampu lima kali menang, termasuk dari Uruguay 2-0. Bahkan pernah tiga kali menang beruntun atas Cili, Peru dan Uruguay sebelum distop Brasil.
 itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan  Hugo Chavez: Adios, El Libertador!
Maradona dan Chavez, duet kematian pembenci George W. Bush.
Melihat banyak perubahan yang terjadi, Chavez kian semangat. Ia makin banyak terlibat di politik sepak bola. Pada 2006, kuartet Chavez -Castro-Morales-Maradona mengecam FIFA tatkala melarang Bolivia menggelar main bola di ketinggian tertentu. Pada Pra Piala Dunia 2006, timnas Venezuela ganti merek lagi, yakni Auge Vinotinto (Si Cemerlang Merah Hati).

Momentum Kebangkitan

Walau kembali gagal lolos ke Jerman, Venezuela terhindar lagi dari juru kunci. Lima kali menang diraih atas Kolombia 1-0, Bolivia 2-1, Uruguay 3-0, Ekuador 3-1 dan Peru 4-1. Melihat ini semua, Chavez semakin getol berusaha. Hasilnya, semakin banyak sponsor, pengusaha top, atau investor yang menaruh proposalnya di sepak bola.

Bak cerita Cinderella konkret, hasil cantik di Copa America 2007 menjadi titik balik Venezuela. Klub-klub merestorasi stadion, dan tiap dikala penonton terus bertambah. Indikator lain, fans club kian fanatik dengan membentuk grup ultras, semacam bonek. Baliho mereka mewarnai jalan-jalan dan stadion setiap pekan. Keriuhan tak melulu di Caracas, tapi juga di Maracaibo atau Merida. Generasi gres laki-laki mulai meninggalkan main bisbol, sofbol dan basket!

Sejak Piala Amerika 2007 di negerinya, Presiden Chavez makin yakin banyak yang mampu didapat dari sepak bola. Nasionalisme, kehormatan, harga diri bangsa sampai uang. “Kita butuh waktu. Harapan saya, melalui sepak bola, negeri ini mampu meningkatkan tantangan ke depan sehingga kita tak melulu membanggakan diri dengan minyak kita,” pekik pensiunan Letnan Kolonel Angkatan Darat saat itu.

Cukup setahun setelah pidato, pada 6 Juni 2008, momentum pun tercipta. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Venezuela mengalahkan Brasil 2-0 dalam laga persahabatan, dan yang bikin Chavez kian bersorak kegirangan karena pertandingan digelar di Boston, AS. Sejak itu Lula da Silva tak akan pernah meremehkan lagi Hugo Chavez dan Venezuela. Lewat tangan Chavez, prestasi Auge Vinotinto terus meroket hingga sekarang.
 itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan  Hugo Chavez: Adios, El Libertador!
Di seluruh pelosok negeri jerit histeris menangisi kepergiannya.
Pada 2010, Venezuela kembali gagal menembus Piala Dunia meski di hasil kualifikasinya cukup membanggakan. Namun buat Chavez usahanya sudah optimal. Dia telah menebar aura kebangkitan sepak bola di negaranya. Ia mengingatkan berkali-kali, “bersabarlah”, uniknya, faktor ini memang salah satu kunci sukses sepak bola. Usai memenangi pemilu 2006, jabatan beliau seharusnya tuntas di 2012. Namun pada Juni 2011, dunia terkejut oleh pernyataan Chavez terkena kanker.

Spekulasi berkembang tidak sedap. Wapres Nicolas Maduro berspekulasi sang pemimpin telah diracun oleh Amerika, yang pribadi dibantah Departemen Pertahanan AS. Sejak lama Chavez sudah merasa menjadi target assassination mirip halnya Saddam Hussein (Desember 2006), Usamah Bin Ladin (Mei 2011), dan terakhir sahabat setianya, Qaddafy (Oktober 2011). Gara-gara sakit, Chavez urung mendukung Venezuela yang tampil jago di Copa America 2011.

Untuk pertama kalinya Venezuela meluncur ke semifinal kejuaraan yang digelar di Argentina itu. Di penyisihan grup, sesuai komitmen infinit Chavez, kembali Brasil tak mampu mengalahkan Venezuela usai bermain dengan hasil kacamata. Sayang, tinggal selangkah ke final, skuad Auge Vinotinto dikalahkan Paraguay 3-5 lewat langgar penalti.

Prakstis sejak mengawal pribadi revolusi sepak bola Venezuela di 2007, Chavez sukses menaikkan negaranya di rangking FIFA dari tahun ke tahun. Dalam rilis resmi, Maret 2013, kini Venezuela berada di peringkat ke-45! Bandingkan dengan Indonesia yang sejak Piala Asia 2007, sekarang peringkatnya terpuruk ke barisan 160-an. Apa beda Venezuela dan Indonesia di sepak bola? Niat lurus, kesepakatan. Jika Anda seorang pemimpin, lakukan mirip yang dibentuk Chavez!

Dalam klasemen kualifikasi Piala Dunia 2014 di Brasil, untuk sementara Venezuela berada di peringkat keempat di atas Paraguay, Peru, Bolivia, Cili, dan Uruguay! Jika kondisi ini dipertahankan dalam sembilan laga ke depan, maka untuk pertama kalinya kita akan mencium keharuman sejarah: lolos untuk pertama kalinya ke Piala Dunia! Andai ini terjadi, Lula da Silva tak akan melupakan candaan Chavez kepadanya. “Berhati-hatilah, mitra!”
 itulah ingatan orang pada negeri yang punya lagu kebangsaan  Hugo Chavez: Adios, El Libertador!
Mahmoud Ahmadinejad berduka di depan istri Hugo Chavez.
Bak mengarungi cerita pilu di telenovela, impian Chavez untuk menyaksikan para prajurit Auge Vinotinto-nya berlaga di Piala Dunia tidak menjadi kenyataan. Tuhan lebih dulu memanggilnya. Di seluruh pelosok jerit histeris menangisi kepergiannya, tidak terkecuali Presiden Ahmadinejad. 

Misi Chavez di sepak bola kini memang telah kelar, namun efeknya tak akan pudar di mata rakyat. Bahkan seharusnya FIFA memberi apresiasi khusus sebab Chavez telah berjuang keras untuk mempopulerkan dan menggairahkan sepak bola, minimal di negaranya.

Kini jutaan belum dewasa dan pemuda Venezuela makin banyak yang bercita-cita menjadi pemain nasional Auge Vinotinto. Karakter, anutan radikal, dan upaya gigih Chavez telah mengubah haluan dan cara berpikir negara bernama resmi República Bolivariana de Venezuela ini untuk membangun budaya baru sepak bolanya.

Sekarang setiap bawah umur lelaki di Venezuela tidak lagi selalu bermimpi jadi pemain bisbol. Chavez telah membebaskan kembali sepak bola Venezuela dari jeratan nestapa sekaligus membangun iktikad diri buat modal ke depan. Selamat jalan El Libertador dan Iconoclastic, dunia sepak bola akan selalu mengenang Anda!

(foto: ft.com/kabobfest/usefoolstooges/readingpictures/mittromneycentral/beliefnet)

Saturday, December 22, 2012

Playmaker (4): Revolusi Passion

INGGRIS yaitu negara kapitalis terkuat kedua di dunia sesudah Amerika Serikat. Olah raga, kebutuhan hidup yang mestinya bikin orang bahagia dan menyehatkan, pun telah terjerat oleh faktor untung atau rugi. Kesuksesan tak diraih lewat biaya murah sehingga uang ialah risiko terbesar. Ujung-ujungnya, pakem "high risk, high return" menjadi pertaruhan klub-klub Inggris.

INGGRIS adalah negara kapitalis terkuat kedua di dunia setelah Amerika Serikat Playmaker (4): Revolusi PassionPremier League disaksikan di 211 negara. Data ini cukup mencengangkan alasannya adalah 'anggota' Premier League ternyata lebih besar dari anggota PBB (193) dan FIFA (208). Premier League menciptakan penduduk bumi ketagihan. Mulai dari Lagos hingga Los Angeles, Mumbai hingga Melbourne. Efek positifnya mampu melahirkan ilham bisnis dan kepahlawanan. Dampak negatifnya akan menularkan pandemi emosi bahkan khaos.

Setiap bulan saja, pihak imigrasi Inggris mencap ribuan paspor dari seluruh dunia di mana para turis cuma punya tujuan menonton eksklusif sepak bola di London, Manchester, dan Liverpool. Dari fakta di atas, mampu dipastikan Premier League tak lagi jadi obsesi nasional atau regional, tapi internasional. Klub-klub topnya punya orientasi kuat melebarkan pasarnya, pendapatannya ke bagian dunia lain terutama di Asia.

Dengan cepat Premier League memasuki kala transisionalnya. Jargon Big Four selain dipertarungkan di klasemen, juga dipertaruhkan secara bisnis dan pasar global. Di sepak bola, Inggris seperti lagi menapaktilasi industri musiknya pada kala 1960 dan 1970-an saat The Beatles, The Rolling Stones, The Who, Pink Floyd, atau Deep Purple mengusung 'Great Empire' di jagat raya passion.

Saat pertama didirikan pada 1992, di Premier League cuma ada 11 pemain ajaib (non-Britania + Irlandia), namun kini ada 70-an negara yang punya minimal satu pemainnya tampil di divisi utama Liga Inggris. Begitu pula para manajernya. Selain dari Britania, tiba dari Prancis, Italia, Belanda, Portugal, dan Spanyol. Hal yang sama pada hadirin yang nonton pribadi di 20 stadion setiap pekan.

Kenaikan dramatis Premier League paling terasa di televisi. Di Afrika saja sekitar 400 juta rumah terutama di Nigeria, Ghana, Pantai Gading punya kanal khusus Premier League setiap pekan! Hitungan jumlah penonton Great Empire jilid II makin menggila lagi tatkala statistik di Cina, India, dan AS - tiga negara yang populasi penduduknya terbesar di dunia ikut dimasukkan.

Tujuan Bisnis

Sebagai fenomena global, skala bisnis Premier League bahkan melebihi Piala Dunia atau Piala Eropa. Demi menjaga kepentingan industri sepak bolanya, Premier League terus memanjakan konsumennya terutama di Asia, benua berpenduduk 4,3 milyar jiwa atau 60 persen pangsa pasar populasi manusia di bumi. Berpatokan kepada eksistensinya, Manchester United sering diidentikan dengan simbol sukses, berangasan, dan dominan.

Persepsi Arsenal yaitu permainan seksi, segar, dan muda. Chelsea dan Manchester City diasumsikan menjadi simbol gres kemapanan atau kemantapan. Adapun Liverpool masih diyakini sebagai lambang kepercayaan dan tradisional. Berkat persaingan yang lebih merata dan kompetitif dibanding liga-liga lain, Premier League memang diyakini punya pendukung yang terbanyak di dunia.

Dalam survey di Facebook hingga Maret 2012, diambil dari jumlah 'likes' diketahui Manchester United punya penggemar terbesar (23.447.069). Diikuti Arsenal (9.458.748), kemudian Chelsea (9.144.601), Liverpool (8.735.235) serta Manchester City (4.204.927). Dari data resmi yang jadi patokan pasar, total fan United berkisar di angka 75 juta (Asia 40,7 juta, Eropa 23 juta, Amerika Latin 6 juta, dan AS 4,6 juta).

Seperti dikutip dari The Guardian, belakangan United malah mengklaim punya massa 659 juta. Dari jumlah itu, telah diperinci 325 juta fan mereka ada di Asia Pasifik, 173 juta dari Timur Tengah dan Afrika, 108 juta di Cina, dan hanya 1% saja bantuan dari Britania Raya. Apa yang Anda pikirkan wacana itu? Apakah data konsumen tersebut yang menjadi tujuan permainan Alex Ferguson atau sasaran bisnis Malcom Glazer?

Apakah jawabannya yakni tujuan sepak bola telah dipakai tepat oleh kapitalisme? Setelah dibeli Sheikh Mansour Al-Nahyan muncul pada 2008, Manchester City menjadi klub terbaru yang memadukan filantropis sang pemilik dengan prestasi kongkrit demi tujuan bisnis dengan total. Lima tahun sebelumnya orang Rusia berjulukan Roman Abramovich juga melakukannya di Chelsea.

Sebenarnya buat bangsa Inggris revolusi passion berikutnya di sepak bola, bukanlah aplikasi gres dalam ekonominya sebab mereka telah berpengalaman ratusan tahun sebelumnya dengan melahirkan revolusi musik bahkan revolusi industri.@riefnatakusumah

(foto: review.premierleague.com)

Sunday, December 16, 2012

Playmaker (3): Manusia Setengah Yang Kuasa

DI DALAM buku klasik The Football Man, Arthur Hopcraft bilang cara termudah mengerti manusia, maka pahamilah orang-orang jenius di olah raga. Lionel Andres Messi ada di kuadran ini, sehingga memudahkan kita memaknai kiprahnya, kehidupannya, dengan baik.

 Arthur Hopcraft bilang cara termudah mengerti manusia Playmaker (3): Manusia Setengah DewaSensasi Messi terus melebar setiap waktu, setiap pekan. Sulit distop selama ia menari-nari di atas rumput hijau. Entah hingga kapan. Satu hal penting yang mungkin menggelitik yaitu awal mulanya. Siapa orang yang paling berjasa untuk melangkahkan kaki sang bocah ke sepak bola pertama kali? Jangan salah, Anda niscaya terkejut mengetahui fakta bekerjsama. Apakah dari 'darah' dan DNA ayahnya? Jorge Horacio Messi, ayahnya, berargumen bahwa orang itu yaitu nenek Messi sendiri. Ada juga yang berkata bahwasanya Don Salvador Ricardo Aparicio, pelatih Grandoli, sebuah klub kecil di Rosario. Semua masih samar-samar.

Argumen ini bermula alasannya adalah Aparicio-lah yang meminta pada ibu Messi agar bocah lima tahun yang dibawanya ke stadion itu dibolehkan main untuk menutup kekurangan pemain di timnya. Sang ibu, Celia Maria Cuccitti, mengajak Messi dikala menonton Rodrigo dan Matias - dua abang kandung Messi - bertanding pada liga belum dewasa. Insting sang instruktur pribadi terpengaruhi, alasannya dari kejauhan ia terus menatap bocah Messi tengah memantulkan bola ke dinding. 

 Arthur Hopcraft bilang cara termudah mengerti manusia Playmaker (3): Manusia Setengah DewaCelia Maria oke. Kostum tim eksklusif dikenakan ke tubuh kecilnya. Namun semuanya kecewa alasannya anak ini tak bisa apa-apa setiap mampu bola. Rupanya ada yang salah. Bola itu selalu dioperkan ke kaki kanannya, karena dongeng jadi beda saat bola ada di kaki kiri. Tak satupun bisa merebutnya!

Pengganti Maradona

Dia ialah the little man with the big reputation, orang kecil dengan reputasi besar. Kasak-kusuknya banyak yang tahu, kecuali mungkin bagaimana cara dia mencapai nomor wahid di dunia, atau apa satu-satunya tantangan terbesarnya.

Rosario, kota kelahiran pejuang klasik sosialis Che Guevarra, setelah itu dilanda kasak-kusuk ahli. Seorang anak yang dinantikan-tunggu telah datang. Dalam kultur sepak bola negeri tango, penantian akan Pibe, bocah pembawa mukjizat, figur hebat, yang selalu diyakini reinkarnasinya. Eduardo Archetti, seorang sosiolog, bercerita perihal budaya bola di negerinya yang selalu menantikan kedatangan El Pibe semenjak 1920-an.

Hanya seseorang yang sebelumnya memiliki julukan itu: Diego Armando Maradona. Sepak bola Argentina lahir lewat khayalan individu yang luar biasa. Pada 1928, pada kolomnya di majalah El Grafico, Ricardo Lorenzo Rodri­guez Borocoti memelopori satu monumen khusus yang hanya boleh ditulisi nama luar biasa yang ahli secara luar biasa mendribel bola.

Penantian manusia setengah ilahi juga dicurahkan secara ekpresif dalam sebuah lagu. Pada 1943 tembang berjudul "A Tango, El Sueo Del Pibe" langsung populer di tamat 1970-an tatkala seorang Diego Armando Maradona mulai santer dikenal publik. 

 Arthur Hopcraft bilang cara termudah mengerti manusia Playmaker (3): Manusia Setengah DewaPokoknya bila ada anak yang mahir dribel bola pada potrero, kawasan-kawasan tak lazim di seperti atas genteng, di anak tangga, di daerah becek maupun di permukaan agresif, ia langsung diangkat jadi figur. Jika beliau menjadi pemain reguler, panggilannya akan berubah La Nuestra alias (ia) milik kami.

Dalam prasasti tersebut, wartawan Argentina kelahiran Uruguay itu menulis: "Ini tempat bagi seorang Pibe yang berwajah lusuh, berambut awut-awutan tak pernah disisir; yang dengan kecerdasannya, daya jelajahnya, aksi tipuannya, mata meyakinkan dan berkilauan mampu menghentikan tawa orang-orang karena melihat sederetan sisa-sisa roti kemarin pada barisan gigi kecilnya."

Lagu itu tercipta 43 tahun sebelum El Diego mencetak gol cum laude sepanjang abad, gol kedua lawan Inggris di Piala Dunia 1986, lalu menakhodai Argentina menjadi juara dunia. Maka di usia 25 tahun 8 bulan itu, lahir julukan resmi: Maradona ialah Argentina, dan Argentina ialah Maradona. Bagaimana dengan Messi? Brasil 2014 yakni pertaruhannya di abad menapaki usia 27 tahun. Messi terus melangkah ke sana. "Setelah Maradona, dilema kita yakni menantikan kedatangan El Pibe penggantinya," kata Archetti pada 1990.

Well, Maradona tak akan bisa dibandingkan lagi kalau di 2014 Messi meraih sesuatu. Bahkan ia akan mengubur reputasi Maradona selamanya, mengingat 113 gelar yang telah diraihnya secara kolektif maupun individual, di klub dan timnas. Bayangkan, 113 gelar!  Yang teranyar adalah memecahkan rekor gol setahun Gerd Mueller (86 gol) yang bertahan 40 tahun. Jelas, Messi cuma satu gelar: titel Piala Dunia! Semoga dia dinaungi nasib mujur. @riefnatakusumah

(foto: trollfootball.me/livemint/pravdoruboklon.diary)

Friday, December 7, 2012

Playmaker (2): Michu Sang Pemicu

BUAT penggemar dan penggila game fantasi Liga Inggris, pemain yang satu itu memang jadi idaman. Nama bekennya praktis tapi nilai potensinya sungguh menggoda para manajer, termasuk Anda! Michu alias Miguel Perez Cuesta dibeli Swansea City cuma seharga 2 juta pound. Artinya 25 kali lebih murah dibanding seorang Fernando Torres.

 pemain yang satu itu memang jadi idaman Playmaker (2): Michu Sang PemicuPria murah senyum yang ternyata sekampung dengan pembalap Formula 1 Fernando Alonso itu, punya rasio 128 menit per 1 gol dengan dua assist. Cukup menggoda. Nilai tambah lain dia ialah sering jadi katalisator alias roda pelopor permainan The Jacks. Gerak geriknya yang gemulai kerap mempedaya bek-bek lawan. Statistik pribadinya cukup menggiurkan meski baru 16 kali tampil di Premier League. 

Sebanyak 60.000-an ribu penonton di Emirates, dan ratusan juta di seluruh dunia via live, Sabtu (1/12), menjadi saksi anyar moleknya naluri predator dan efektivitas pemain setinggi 185 cm itu ketika melawan Arsenal. Tinggal tiga menit lagi dan tubruk tampak akan berakhir seri, namun seketika itu pula, Michu bisa mengubah jalannya sejarah pertandingan.

Pertama, sebuah umpan Chico Torres dan tik-tak dengan Luke Moore sontak menggerakkan adrenalin Michu pada tujuan kongkrit. Lewat insting sempurna, ia mengecoh kawalan duet Thomas Vermaelen dan Per Mertesacker yang bangkit sejajar. Bak geliatan seekor kijang dari sergapan singa, Michu terus melaju, one on one dengan Wojciech Szczesny. Bola dicongkelnya. Gol. 0-1.

Gol kedua Michu di menit 91 juga memberikan dirinya selalu the right man in the right place on the right time pada situasi kritis. Sodokan bola oleh Nathan Dyer dari penguasaan Carl Jenkinson, pas jatuh di kakinya. Nyaris separo lapangan dan dengan dua kaki panjangnya, beliau menggenjot bola hingga berhadapan lagi dengan Szczesny. Bola dilesakkan ke sudut sempit. Gol. 0-2. Game is over!

Awal manis di Loftus Road dan final gemilang di Emirates kesannya mendudukkan Michu di daftar pencetak gol terbanyak, 10 gol, bersama Robin van Persie, Luis Suarez, dan Demba Ba. Tapi dari rata-rata gol dari jumlah tendangan versi Opta, dia mengungguli RvP. Michu 25%, Van Persie 20%. Artinya setiap empat tendangan Michu menjadi satu gol.

Jadi Buruan

Terjadi lonjakan prestasinya itu dibanding saat beliau membela Rayo Vallecano (16,9%). Keefektivitasan penyerang tengah palsu itu juga di atas dua penyerang tengah sejati, Edin Dzeko (21,4%) dan Steven Fletcher (22,2%). Dari 11 golnya, tujuh dilesakkan kaki kiri. Empat lagi dari sundulan. Improvisasi laki-laki kelahiran 21 Maret 1986 itu bukan itu saja.

Di tangan Michael Laudrup, Swansea menganut sistem free-flowing yang menuntut permainan passing layaknya gaya Barcelona dulu. Dan, akurasi passing Michu - sebagaimana biasanya pesepak bola Spanyol - juga yang terbaik di Premier League dengan tingkat akurasi mencapai 79,5%. Keunggulan Michu juga pada rendahnya rata-rata dribel bola, 20%, yang menunjukkan dia bukanlah seorang gelandang udik.

Nama Michu pertama kali menyeruak ke blantika Premier League pada 18 Agustus silam di Loftus Road. Saat itu The Swans menghantam tuan rumah Queens Park Rangers 5-0, dan ia mencetak dua gol! Media massa Inggris pun heboh. Sama halnya jagat fantasi. Tak ayal lagi, Michu ialah top bargain player di Inggris kini ini.

Nah, jangan lagi Anda sebagai 'manajer' Michu dalam permainan fantasi Liga Inggris, deretan manajer Premier League pun sekarang mulai antri meminangnya. Misalnya Arsene Wenger dan Brendan Rodgers, bahkan Walter Mazzarri (Napoli) dan Luigi Delneri (Genoa). Michu telah memicu genderang perang bursa transfer jilid dua yang mulai dibuka bulan depan.

Buat Liverpool, Michu adalah missing-link yang sempurna sebagai supplier atau agen bola ke Suarez. Bagi Arsenal sendiri, Michu mampu menjadi Robert Pires gres. Dengan harga awal 2 juta pound, nilai Michu versi Transfermarkt naik 3 kali lipat. Konon Wenger berani menutup 12 juta pound. Kendati kontrak Michu gres berakhir 30 Juni 2015, namun sanggupkah Swansea menahannya? @riefnatakusumah

(foto: scafc.ru)

Sunday, December 2, 2012

Playmaker (1): Chameleonic Leader

TAK dapat dipungkiri, Desember tampaknya menjadi bulan paling menggairahkan Republik Bianconeri dalam perjalanan mencapai sasaran demam isu ini. Juventus semakin kokoh sebagai capolista di pekan ke-14.

 Desember tampaknya menjadi bulan paling menggairahkan Republik Bianconeri dalam perjalana Playmaker (1): Chameleonic LeaderKembalinya Antonio Conte sebagai manajer, serta satu kaki yang sudah menapaki babak 16 besar Liga Champion, bukan saja melegakan dan membahagiakan kaum Drughi di manapun berada, namun juga terus menaikkan watak Andrea Pirlo dkk. hingga berlipat ganda. Kerja keras, tekad besar lengan berkuasa, dan percaya diri yaitu faktor kunci Juventus di Serie A isu terkini ini yang terus sukses menghindari diri dari kejaran Napoli. Kemenangan sempurna 3-0 atas Torino dalam sabung bertajuk Derby della Mole, Sabtu (1/12), juga kian meningkatkan fokus mereka di kancah Eropa. Rabu (5/12) atau Kamis dinihari WIB, Juve melakoni langgar yang menentukan perjalanan reputasinya di Donbass Arena, Donetsk, Ukraina.

Melawan Shakhtar, La Vecchia Signora cukup meraih satu poin untuk menyingkirkan juara bertahan Chelsea di persaingan Grup E. Syukur-syukur mampu menang, bila merasa pertemuan awal dengan dua tim favorit, Barcelona atau Manchester United, memang harus dihindari lebih dulu. Itulah kenapa kemenangan atas Torino dianggap sempurna waktu dari berbagai dimensi.

Dari tiga hadiah di Desember, hadirnya kembali sang manajer merupakan kebahagiaan puncak. Ahad (9/12), Conte dipastikan berada lagi di tepi lapangan kala Juve melawat ke Renzo Barbera untuk meladeni Palermo. "Kami kehilangan ucapan-ucapannya, motivasinya, sampai perubahan strategi seketika di pinggir lapangan," sebut Pirlo pada Tuttosport, sebuah koran yang pro-Juve.

Masa hukuman Conte atas skandal pengaturan pertandingan ketika menangani Siena di 2010/11, telah direduksi Pengadilan Arbitrasi Olah Raga Italia pada 5 Oktober silam menjadi empat bulan setelah ditemukan sejumlah bukti gres. Sebelumnya pada 13 September 2012, FIFA sempat menyetujui embargo selama 10 bulan atas Conte untuk banyak sekali aktivitas di sepak bola.

"Massimo Carrera dan Angelo Alessio juga bagus. Tapi tanpa Conte terperinci berbeda. Sulit bermain tanpa komando Conte dan temperamennya, sebab beliau yang paling tahu bagaimana menghela kami," timpal Andrea Barzagli. "Winning mentality yang ada di dirinya sekarang ditularkan kepada pasukannya," beber Gianluca Pessotto, eks rekan main Conte di Juve dulu.

Sepak Bola Hati

Kejengahan tanpa Conte, seperti kata Barzagli tadi, sangat signifikan dalam grande partita bukan di berkelahi biasa. Itu yang menciptakan Juve kalah 0-1 dari Milan dan 1-3 dari Inter. Tanpa Conte secara eksklusif pula, Juve rawan diterpa kebimbangan dalam merawat sasaran. Maklum kali ini Juve sibuk di Eropa, tidak mirip trend kemudian.

Banyak yang mengakui, Antonio Conte yaitu simbol kebangkitan Juventus, aktivis klub "immortal" ketiga di periode sepak bola modern setelah AC Milan 1991/92 dan Arsenal 2003/04. Sisi istimewa Conte yakni sikap patriotiknya yang kelewat tinggi bukan saja untuk Juventus namun juga Italia secara keseluruhan. Semangat inilah yang ia ditebarkan di Liga Champion.

Ia mengakui Serie A tengah mengalami stagnasi dalam persaingan. "Kita butuh perubahan dan terus berkembang alasannya adalah ada perbedaan yang luas antara sepak bola Italia dengan negara lain. Ada kontes tertentu dalam skala ekonomi tapi kita punya wangsit-ide, organisasi, hati dan kaki," paparnya setelah Juve meremukkan Chelsea 3-0, selesai bulan lalu.

Di Juventus, Conte mengubah mental kemenangannya berupa trilogi: rasa hormat, tidak takut, dan kesadaran, yang sekarang menjadi falsafah bermain Bianconeri. Dalam sebuah kolomnya, Adrian Del Monte menyebut laki-laki 43 tahun itu sebagai simbol kebangkitan 'sepak bola hati' sesudah masa Marcello Lippi, dengan aksentuasi pada possession dan pressing.

Dalam satu sisi, Conte kerap disimilarisasikan dengan Jose Mourinho, sesama Chameleonic Leader. Ini satu ungkapan halus untuk seorang manajer diktator yang bermetamorfosis menjadi sobat terbaik para pemain dan segrup tifosi berkategori ultra yang kuat. Conte tampak rendah hati dan tidak berapi-api di depan jurnalista namun selalu lapar kemenangan.

Beberapa wartawan Italia masih kerap resah melihat gestuur, ketenangannya serta tutur kata yang halus serta sangat diplomatis. Sangat berbeda ketika mengawal timnya bertarung. "Apa diam-diam Anda dalam memotivasi pemain?" begitu seorang wartawan bertanya suatu kali. Dan, Conte menjawab: "Ah, biasa saja. Saya cuma menyuruh mereka bila perlu makanlah rumput itu," jawab sang tokoh dengan mimik santai. Selamat tiba kembali Don Antonio! @riefnatakusumah

(foto: provenquality)

Sunday, August 12, 2012

Timnas Indonesia: Dari Semarang Sampai Senayan

Semarang, Sabtu 7 Agustus 1937. Sebuah laga paling bersejarah buat sepak bola nasional terjadi sore itu. Satu klub top dari Cina bernama Nan Hwa menjadi lawan pertama kali "tim PSSI" (jululan tim nasional sebelum Indonesia merdeka). Begitulah yang dipaparkan Harian Sin Tit Po, edisi Senin 9 Agustus 1937. 
 Sebuah laga paling bersejarah buat sepak bola nasional terjadi sore itu Timnas Indonesia: Dari Semarang Hingga Senayan
Laga PSSI vs Nan Hwa di Semarang, 7 Agustus 1937.
Satu hal yang perlu diingat lagi: justru dengan klub asing-lah, Nan Hwa, timnas kita melaksanakan debutnya, yang berkesudahan 2-2 tersebut. Asal tahu saja, Nan Hwa datang dengan kekuatan penuh antara lain bintangnya Lee Wai Tong, legenda sepak bola Cina, Hong Kong, dan Asia. Jika di periode pra kemerdekaan saja sudah sering ngadu dengan orang luar, apalagi pasca kemerdekaan. Era selanjutnya makin mengagumkan.

Kedatangan klub-klub top Eropa mulai marak ketika Presiden Soekarno menginstruksikan PSSI supaya menyiapkan tim nasional yang handal untuk dua proyek besar: Asian Games II di Manila pada 1954 dan Olimpiade Melbourne 1956. Selain ujicoba ke Asia dan Eropa berbulan-bulan, mengundang klub-klub aneh baik dari Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Latin jadi tujuan strategis PSSI: mengukur kekuatan permainan, karakter, dan mentalitas pemain nasional.

Di periode 1950-an itu bahkan PSSI bisa mendatangkan klub top Eropa dari Prancis, Stade Reims, yang diperkuat bintang dunia ketika itu, Raymond Kopa. Menurut catatan di buku Kenang-Kenangan 50 Tahun PSSI, klub-klub dari Singapura, Malaysia, Thailand, India, Jepang, Filipina, Cina, Mozambik hingga Austria, Swiss, Cekoslowakia (Slovan Bratislava), dan Yugoslavia (Savel) hingga Brasil (Cruzeiro) juga pernah beranjangsana ke Nusantara.

Yang tak kalah hebohnya, dikala Lokomotiv Moskva juga singgah di Tanah Air. Klub top Uni Soviet ini juga tiba dengan tim inti termasuk bintangnya Valentin Bubukin, seorang penyerang yang punya tendangan sangat keras yang bikin seorang penjaga gawang rasanya ogah bermain di posisinya. Menurut informasi yang penulis dapatkan, dari 7 pertandingan di Tanah Air mulai dari Medan hingga Surabaya, Bubukin 'sukses' membuat pingsan lima orang kiper lawan sebab cedera di kepala atau dada akhir terkena bola gebokan Bubukin!

Dari rentetan ujicoba dengan klub-klub aneh itu, PSSI menuai sukses lahir batin. Paling mengagumkan ialah lolos ke babak 16 besar Olimpiade Melbourne, antara lain sempat menahan Uni Soviet 0-0. Satu prestasi puncak persepak bolaan nasional hingga kini. Di abad 60-an, saat PSSI punya dua timnas (Banteng dan Garuda), giliran Torpedo Moskva (Uni Soviet), FC Malmoe (Swedia), Petrolul Ploiesti (Rumania) dan timnas Yugoslavia yang berkunjung ke Tanah Air.

Hebatnya, timnas Garuda mampu mengalahkan Torpedo, Yugoslavia, dan Petrolul dengan skor 3-1, 5-1, dan 5-3. Sukses juga didapat tim senior Banteng dengan lawan yang sama lewat skor 0-0, 3-2, dan 4-3. Satu-satunya kekalahan Garuda diderita melawan FC Malmoe 2-5. Sedangkan tim Banteng sukses membungkam klub Swedia itu dengan 2-0. Klub asal AS, Tornado, juga pernah bertarung melawan Persija dan kalah 0-2.

Di masa 1970-an, dengan semakin kondusifnya stabilitas politik dan iklim ekonomi bangsa, Indonesia semakin dibanjiri kedatangan klub-klub abnormal. Klub macam Dynamo Moskva (Uni Soviet), FC Brno (Cekoslowakia), Csepel SC (Hongaria), Neuchatel Xamax (Swiss), Santos (Brasil), Esbjerg (Denmark), Kristiandsand (Norwegia), Ajax Amsterdam, Stoke City, Manchester United, hingga timnas Uruguay dan Italia U-21 rela terbang jauh-jauh alasannya penasaran dengan iklim sepak bola Indonesia yang mereka kenal ganas dan ingin merasakan mirip apa berada di sarangnya legenda sepak bola Asia.

Laga melawan Dynamo di Senayan pada 14 Juni 1970 paling menyita perhatian publik. Penyebabnya cuma satu: mereka menyertakan kiper legendaris dunia Lev Yashin! Meski kalah 0-1 namun kiper Indonesia Judo Hadianto dielu-elukan publik. Puluhan evakuasi gemilangnya menghindarkan Indonesia dari kebobolan yang lebih besar. Pelajaran untuk meningkatkan mentalitas bermain selalu jadi motto bagi para pemain nasional. Mereka boleh kalah pada teknik bermain, tapi soal mental jangan sampai.

Begitu juga pada 20 Juni 1972, tatkala Santos hadir di hadapan 85.000-an publik Senayan. Dua tahun silam Lev Yashin, kini giliran orang ingin melihat Pele. Dengan match fee 40 ribu dolar AS, sekitar Rp 15 juta dikala itu Pele cs mendarat di Bandara Kemayoran, dua hari sebelumnya. Untuk menghadapi duel bergengsi ini, PSSI memanggil para bintangnya seperti Ronny Paslah, Anwar Udjang, Mohammad Basri, Muljadi, Abdul Kadir, Iswadi Idris, Risdianto serta Jacob Sihasale.

Jalannya adu cukup membanggakan penonton karena para pemain nasional tampil bersungguh-sungguh tidak mau kalah. Meski dua menit berlangsung, gawang Ronny dibobol oleh Jade, juga di menit 14 oleh Edu, bahkan ketika Pele mencetak gol lewat tendangan penalti di menit 30 dan menciptakan PSSI tertinggal 0-3, semangat anak-anak asuhan Endang Witarsa tidak pernah surut. Inilah yang membedakan dengan pemain nasional generasi kini. Dengan ikhtiar menyala-nyala, alhasil pun jadi sepadan.

Menit 31, Iswadi yang menggiring bola sendirian berhasil menendang bola namun memantul mistar gawang. Bola jatuh di kaki Risdianto yang serta merta menggenjotnya lagi ke gawang. 1-3. Di menit 70, kembali Risdianto melesakkan gol sehabis bekerja sama dengan Sihasale dan Yuswardi. Namun dikala skor 3-2 ini keadaan memanas.

Tiba-tiba saja Leo tergeletak, Iswadi menariknya untuk segera berdiri lagi. Merasa dihina, seorang pemain Santos menendang punggung Iswadi. Nyaris muncul perkelahian massal. Demi kenyamanan permainan, Iswadi balasannya ditarik keluar. Dengan marah-murka, pujaan penggila bola di masa 70-an itu menendang gelas minuman hancur berkeping-keping yang belingnya nyaris melukai orang-orang yang ada di sekitarnya.

Beckenbauer Di Senayan

Pada Juni 1975, Manchester United dan Ajax Amsterdam menjadi tamu PSSI Tamtama dalam turnamen segitiga di Senayan. United, yang barusan promosi ke Divisi Utama sehabis semusim sebelumnya didegradasi oleh Manchester City, tampil mengecewakan karena ditahan 0-0 oleh Risdianto dkk. pada 1 Juni 1975 di hadapan 70.000 orang.

Menurut Kompas, tabrak Ajax vs United pada 3 Juni di Senayan melahirkan rekor gres kunjungan klub gila ke Indonesia. Laga yang berakhir 3-2 untuk Ajax itu ditonton 100.000 penonton dan menghasilkan pemasukan Rp 300 juta ke kas PSSI. Sebuah sejarah baru dalam pendapatan terbesar dari satu tabrak sepak bola di Indonesia.

Setelah mengarungi putaran hingga tamat Pra-Olimpiade yang akhirnya sangat memilukan, di Desember 1976, Iswadi dkk. yang bernaung di bawah panji PSSI Pre-World Cup 1978, kalah 1-2 dari FC Brno, sebuah tim elite Cekoslowakia yang sebelumnya merontokkan Persebaya 4-0 namun dikalahkan Persib 2-1 di Siliwangi. Dalam tabrak yang juga panas, Iswadi juga sempat menempeleng seorang pemain Brno yang mengasarinya.

Pada 3 Oktober 1979 Senayan juga pernah didatangi Cosmos New York. Bintang dunia macam Johan Neeskens, Wim Rijsbergen, Carlos Alberto, Giorgio Chinaglia serta Franz Beckenbauer ikutan hadir. Meski kalah 1-4, tim PSSI yang dijejali skuad runner-up SEA Games 1979, menerima pelajaran berharga. "Cuma sekali seumur hidup, berhadapan eksklusif dengan Beckenbauer!" cetus (almarhum) Ronny Pattisasarani, yang kebetulan memang mengidolakannya setengah mati. Melimpahnya penonton menciptakan PSSI menangguk untung penghasilan kotor Rp 55 juta.

Sedang dana yang dikeluarkan untuk mendatangkan Cosmos sekitar 40 ribu dolar atau masih sekitar Rp 25 juta. Konon itulah bayaran tertinggi klub ajaib yang pernah main di Jakarta. Saat menjamu anggota NASL itu, bahan inti skuad PSSI yakni Purwono (Niac Mitra); Simson Rumahpasal (Warna Agung), Wayan Diana, Berty Tutuarima (BBSA Tama), Rae Bawa; Rudy Keltjes, Rully Nere, Ronny Patti (Warna Agung); Dede Sulaiman (Indonesia Muda), Risdianto (Warna Agung), Iswadi Idris (Jayakarta).

Kisah dari Semarang hingga Senayan terus merambah ke era 1980-an. Kenangan yang paling aku sulit lupakan ialah saat melihat Johan Cruijff bermain di Senayan, 21 Mei 1984. Meski sudah dimakan umur, Cruijff yang waktu itu berumur 38 tahun dan membela Feyenoord, datang ke Indonesia untuk berujicoba dengan Queens Park Rangers dan Mandala, klub asal Jayapura yang barusan menjuarai Kejuaraan Antarklub Amatir Perserikatan.

Pemain-pemain Mandala yang masih muda dan berotot seperti Leo Kapissa, Panus Korwa, Albert Pahelerang hingga Martin Kaiba pun sulit merebut bola dari kaki sang maestro sepak bola dunia. Feyenoord lantas meremukkan Mandala 5-0, dan kemudian QPR 3-1. Yang paling berkesan buat penggemar bola di Indonesia ketika itu termasuk aku, di Senayan-lah Johan Cruijff mengakhir kariernya sebagai pesepak bola.

(foto: Mengarungi Milenium Baru 70 Tahun PSSI)

Tuesday, August 7, 2012

Bundesliga: Pionir Tontonan Kompetisi Eropa Di Indonesia

Premier League, La Liga, dan Serie A bertarung sebagai liga terbaik di bumi dari banyak sisi. Tapi kalau bicara esensi tontonan bola sejati, maka tengoklah Bundesliga. Menikmati Bundesliga bisa dirasakan dari pengambilan sudut gambar dan gerakan slow motion, baik pemain maupun penonton. Semuanya terkesan mewah. Visualnya di TV juga sangat bersih. Maklumlah, Jerman merupakan produsen lensa terkenal nomor satu di dunia.
 dan Serie A bertarung sebagai liga terbaik di bumi dari banyak sisi Bundesliga: Pionir Tontonan Kompetisi Eropa di Indonesia
Karl-Heinz Rummenigge (Bayern) vs Kevin Keegan (Hamburg). Terbaik di masanya.
Dan satu hal yang tak boleh dilupakan, Bundesliga pula menjadi liga sepak bola Eropa pertama yang disiarkan eksklusif di Indonesia melalui TVRI di simpulan 1970-an. Pada abad ini sampai medio 1980-an, biasanya di program Arena dan Juara, stasiun televisi nasional itu secara berkala juga menayangkan program sepak bola. Entah Piala FA atau Piala Champions. Lalu tiap dua tahun sekali, Piala Eropa dan Piala Dunia.

Semuanya bertipe kejuaraan, sehingga yang murni kompetisi, ya hanya Bundesliga. Semasa bocah, penulis masih ingat bagaimana kepindahan Kevin Keegan dari Liverpool ke Hamburg pada 1977 saja menaikkan rating Bundesliga di Tanah Air.

Kevin Keegan adalah ikon Bundesliga di periode itu. Setiap langgar Hamburg SV nyaris disiarkan TVRI. Selorohan "Keegan, Keegan.. ha ha ha!" sempat populer di Indonesia, mengikuti koor suporter Hamburg di stadion yang menggambarkan tertawaan Keegan kepada wasit sesudah diberi kartu kuning.

Sejak dulu kekuatan Bundesliga adalah tingginya animo penonton di stadion, satu syarat utama disebut kompetisi idaman. Pemain kasar, sponsor pun senang. Hingga kini pun rata-rata penontonnya masih yang terbaik se-Eropa. Walhasil, panorama stadion terlihat sensasional. "Atmosfir penontonnya luar biasa di mana pun anda bermain," kata Raul Gonzalez, yang pernah membela Schalke (2010-12).

Musim lalu rata-rata penonton di Serie A adalah 24.031. La Liga 29.128, dan Premier League 35.283. Bandingkan dengan Bundesliga yang mencapai 42.673 penonton tiap pertandingan. Bila dipilah dari klub, kontributor terbesar adalah Borussia Dortmund sebesar 80.478 penonton yang menjadi rekor Eropa dan dunia. 

Sembilan dari 20 besar pemilik penonton terbesar di dunia ditempati oleh klub-klub Bundesliga. Ini berarti separo dari 18 klub Bundesliga punya penonton lebih baik dari Manchester City, Liverpool, Chelsea, Tottenham, Valencia, Atletico Madrid, Juventus, Roma, Benfica, dan Porto.

Tiket dan Gaji 

Kunci dari sukses Jerman mengemas kompetisinya dari sisi penonton tiada lain tiket masuk stadion yang murah se-Eropa. Tiket biasanya sudah sepaket dengan karcis kereta. Kalau mau lebih murah lagi, belilah tiket terusan. Bayangkan, rakyat biasa sudah bisa menikmati permainan Bayern Muenchen di Allianz Arena hanya berbekal 20 euro (sekitar Rp 250 ribu). Bandingkan dengan tiket Arsenal yang mampu mencapai 100 pound (lebih dari 1,5 juta) di Emirates.

Untuk menyehatkan liganya, Jerman mematok hukum ketat soal kepemilikan klub. Para anggota klub harus menjadi pemegang saham terbesar, sehingga mustahil bagi investor asing untuk mengontrol klub-klub Jerman. Regulasi itu dikenal dengan 50+1. Perkecualian hanya bisa dilakukan oleh investor yang telah 20 tahun lebih punya saham terbesar. Yang sangat mengagumkan lagi yakni kontrol ketat soal pengeluaran untuk honor pemain di tiap klub.

Secara umum di bawah 50 persen dari seluruh pendapatan klub. Hasilnya, setiap demam isu rata-rata 11 klub Bundesliga selalu meraih profit. Sebagai komparasi tengoklah Premier League yang tagihan honor pemainnya mampu mencapai 62 persen dari revenue. 

Satu lagi argumen Bundesliga disebut liga terbaik jika melihat sangat langkanya klub-klub mereka punya utang. Nah, dari dua faktor tadi yang membuat mingguan Kicker pada Mei silam menyebut Bundesliga sebagai kompetisi liga terbaik di Eropa. Faktor ketiga menurut Kicker ialah daya saing kompetisi.

Beda dengan Inggris, Spanyol, dan Italia yang jadi sentra suburnya dominasi; dalam tujuh animo terakhir, Bundesliga selalu melahirkan juara yang berbeda dengan selisih poin yang amat rapat. Louis van Gaal pernah bilang bahwa Bundesliga adalah liga dengan daya saing paling sulit di Eropa. 

Grafik posisi klub di setiap demam isu mampu acakadul bentuknya. Kelemahan paling telak Bundesliga ada di blantika Liga Champion. Sejak 2001, mereka kesulitan mendongkel sang triumvirat. Kekalahan Muenchen di sangkar sendiri dari Chelsea di selesai terakhir yakni bukti sahih.

Meski secara generik performa wakil Bundesliga di ajang Eropa lumayan memuaskan, yang terbukti mampu menggeser Italia di tangga koefisien UEFA 2012/13, namun masih satu celah yang menjadi pekerjaan rumah bersama. Berbekal keunggulan penonton, kompetitif dan stabilitas keuangan, menurut Matthias Sammer sebenarnya Bundesliga cuma butuh sedikitnya 2-3 klub yang mapan untuk bersaing di Liga Champion agar sah menjadi liga terbaik. Mengandalkan superpower dan imej FC Bayern saja tidaklah cukup.

Makara, mengapa kita harus sepatutnya menyukai Bundesliga? Sebab di sinilah tempatnya untuk menyaksikan tontonan olah raga, murni pertandingan sepak bola; dan bukannya permainan pasar saham atau fenomena bisnis.

(foto: Kicker)