Sunday, August 14, 2011

Klasemen Abadi La Liga: Dominasi Dua Adidaya

Berbeda dengan lebih banyak didominasi negara Eropa yang kompetisinya otomatis bubar begitu Perang Dunia I atau Perang Dunia II berkecamuk, Liga Spanyol malah tetap jalan namun justru dihentikan oleh konflik internal yang parah yaitu berupa Perang Saudara (1936-39).

Berbeda dengan mayoritas negara Eropa yang kompetisinya otomatis bubar begitu Perang Dunia Klasemen Abadi La Liga: Dominasi Dua AdidayaHebohnya, semenjak bergulir 80 tahun silam, dari ratusan klub profesional yang berlomba setiap tahun di enam divisi sepak bola Spanyol, tapi dengan segala maaf, tercatat hanya sembilan klub yang pernah atau bisa menjuarai Primera Division. Diulangi, hanya sembilan klub saja! Bahkan lebih dari setengahnya itu didominasi dan diantri dua raksasa; Real Madrid dan Barcelona. Jika hitungannya telah bergulir 80 ekspresi dominan, maka dua raksasa itu menguasai 52 demam isu (Madrid 31 kali, Barcelona 21 kali). 

Dalam 10 tahun ke depan, keadaan diprediksi bakal tidak berubah. Makara yang lain silakan gigit jari. Berikut daftar Klasemen Abadi La Liga semenjak kompetisi resmi pertama digulirkan pada trend 1928/29.

KLASEMEN ABADI LA LIGA SEJAK MUSIM 1928/29

Klub
Kota
Musim
Main
Menang
Seri
Kalah
Produksi Gol
Poin
Titel
01. REAL MADRID CF
Madrid
80
2534
1475
519
539
(5284-2902)
4944
31
02. FC BARCELONA
Barcelona
80
2534
1407
529
598
(5234-2923)
4728
21
03. ATHLETIC BILBAO
Bilbao
80
2532
1112
577
843
(4312-3411)
3913
8
04. ATLETICO MADRID
Madrid
74
2386
1101
553
732
(4139-3130)
3856
9
05. VALENCIA CF
Valencia
76
2456
1092
559
785
(4050-3174)
3835
6
06. RCD ESPANYOL
Barcelona
76
2398
873
551
974
(3345-3552)
3170
0
07. SEVILLA FC
Sevilla
67
2180
887
477
816
(3314-3076)
3138
1
08. REAL SOCIEDAD
San Sebastian
64
2074
775
514
785
(2903-2923)
2839
2
09. REAL ZARAGOZA
Zaragoza
56
1910
677
508
725
(2610-2724)
2539
0
10. REAL BETIS
Sevilla
46
1538
549
396
593
(1945-2187)
2043
1
11. RC DEPORTIVO
La Coruna
41
1378
532
337
509
(1882-1941)
1933
1
12. RC CELTA
Vigo
46
1508
519
348
641
(2039-2347)
1905
0
13. REAL VALLADOLID
Valladolid
40
1390
446
359
585
(1679-2061)
1697
0
14. RACING
Santander
43
1388
449
320
619
(1816-2304)
1667
0
15. SPORTING GIJON
Gijon
39
1344
444
332
568
(1628-1948)
1664
0
16. REAL OVIEDO
Oviedo
38
1194
409
292
493
(1648-1954)
1519
0
17. CA OSASUNA
Pamplona
33
1164
388
283
493
(1348-1566)
1400
0
18. UD LAS PALMAS
Las Palmas
31
1020
345
225
450
(1249-1619)
1260
0
19. MALAGA CF
Malaga
30
1026
307
275
444
(1145-1476)
1196
0
20. RCD MALLORCA
Mallorca
25
912
310
237
365
(1096-1252)
1167
0
21. ELCHE CF
Elche
19
602
183
159
260
(685-910)
708
0
22. HERCULES CF
Alicante
20
628
184
149
295
(717-1050)
701
0
23. VILLARREAL CF
Villareal
12
456
187
118
151
(645-587)
679
0
24. GRANADA CF
Granada
17
514
162
124
228
(610-777)
610
0
25. CD TENERIFE
Tenerife
13
494
155
128
211
(619-744)
593
0
26. REAL MURCIA
Murcia
18
586
145
143
298
(607-992)
578
0
27. RAYO VALLECANO
Madrid
12
452
123
120
209
(513-728)
489
0
28. CE SABADELL
Sabadell
14
426
129
95
202
(492-720)
482
0
29. UD SALAMANCA
Salamanca
12
423
123
102
198
(422-581)
471
0
30. CADIZ CF
Cadiz
12
446
104
125
217
(391-660)
437
0
31. CD ALAVES
Vitoria
11
342
111
68
163
(417-585)
401
0
32. CD CASTELLON
Castellon
11
334
103
79
152
(419-588)
388
0
33. CD LOGRONES
Logrono
9
346
96
92
158
(290-488)
380
0
34. BURGOS CF
Burgos
9
318
85
94
139
(317-449)
349
0
35. GETAFE CF
Getafe
7
266
92
68
106
(332-340)
344
0
36. ALBACETE
Albacete
7
270
76
76
118
(320-410)
304
0
37. CORDOBA CF
Cordoba
8
244
79
52
113
(263-362)
289
0
38. UD ALMERIA
Almeria
6
219
59
59
101
(237-347)
236
0
39. LEVANTE UD
Valencia
6
212
56
48
108
(230-345)
216
0
40. PONTEVEDRA CF
Pontevedra
6
180
53
44
83
(165-221)
203
0
41. SD COMPOSTELA
Compostela
4
160
52
45
63
(199-241)
201
0
42. RECREATIVO
Huelva
5
186
50
46
90
(202-296)
196
0
43. ARENAS GETXO
Bilbao
7
130
43
21
66
(223-306)
150
0
44. CD NUMANCIA
Soria
4
152
37
37
78
(155-253)
148
0
45. GIM. TARRAGONA
Tarragona
4
116
34
16
66
(181-295)
118
0
46. ALCOYANO CF
Alcoy
4
108
30
16
62
(145-252)
106
0
47. REAL JAEN
Jaen
3
90
29
13
48
(121-183)
100
0
48. CF EXTREMADURA
Almendralejo
2
80
20
23
37
(62-117)
83
0
49. MERIDA CP
Merida
2
80
19
24
37
(70-115)
81
0
50. REAL UNION
Iron
4
72
21
14
37
(151-180)
77
0
51. CE EUROPA
Barcelona
3
54
18
6
30
(97-131)
60
0
52. UE LLEIDA
Lleida
2
68
13
14
41
(70-182)
53
0
53. XEREZ CD
Jerez
1
38
8
10
20
(38-66)
34
0
54. CE CONDAL
Barcelona
1
30
7
8
15
(37-57)
29
0
55. ATLETICO TETUAN
Tetuan
1
30
7
5
18
(51-85)
26
0
56. CD LEONESA
Leon
1
30
5
4
21
(34-65)
19
0


CAMPEON

1928/29  FC BARCELONA
1929/30  Athletic de BILBAO
1930/31  Athletic de BILBAO
1931/32  Real MADRID CF
1932/33  Real MADRID CF
1933/34  Athletic de BILBAO
1934/35  Real BETIS
1935/36  Athletic de BILBAO
1936/37  --(*Perang Saudara)
1937/38  --(*Perang Saudara)
1938/39  --(*Perang Saudara)
1939/40  Atletico Aviacion
1940/41  Atletico Aviacion
1941/42  VALENCIA CF
1942/43  Athletic de BILBAO
1943/44  VALENCIA CF
1944/45  FC BARCELONA
1945/46  SEVILLA FC
1946/47  VALENCIA CF
1947/48  FC BARCELONA
1948/49  FC BARCELONA
1949/50  Atletico de Madrid
1950/51  Atletico de Madrid
1951/52  FC BARCELONA
1952/53  FC BARCELONA
1953/54  Real MADRID CF
1954/55  Real MADRID CF
1955/56  Athletic de BILBAO
1956/57  Real MADRID CF
1957/58 Real MADRID CF
1958/59  FC BARCELONA
1959/60  FC BARCELONA
1960/61  Real MADRID CF
1961/62  Real MADRID CF
1962/63  Real MADRID CF
1963/64  Real MADRID CF
1964/65  Real MADRID CF
1965/66  Atletico de Madrid
1966/67  Real MADRID CF
1967/68  Real MADRID CF
1968/69  Real MADRID CF
1969/70  Atletico de Madrid
1970/71  VALENCIA CF
1971/72  Real MADRID CF
1972/73  Atletico de Madrid
1973/74  FC BARCELONA
1974/75  Real MADRID CF
1975/76  Real MADRID CF
1976/77  Atletico de Madrid
1977/78  Real MADRID CF
1978/79  Real MADRID CF
1979/80  Real MADRID CF
1980/81  Real Sociedad
1981/82  Real Sociedad
1982/83  Athletic de Bilbao
1983/84  Athletic de Bilbao
1984/85  FC BARCELONA
1985/86  Real MADRID CF
1986/87  Real MADRID CF
1987/88  Real MADRID CF
1988/89  Real MADRID CF
1989/90  Real MADRID CF
1990/91  FC BARCELONA
1991/92  FC BARCELONA
1992/93  FC BARCELONA
1993/94  FC BARCELONA
1994/95  Real MADRID CF
1995/96  Atletico de Madrid
1996/97  Real MADRID CF
1997/98  FC BARCELONA
1998/99  FC BARCELONA
1999/00  Deportivo de La Coruna
2000/01  Real MADRID CF
2001/02  VALENCIA CF
2002/03  Real MADRID CF
2003/04  VALENCIA CF
2004/05  FC BARCELONA
2005/06  FC BARCELONA
2006/07  Real MADRID CF
2007/08  Real MADRID CF
2008/09  FC BARCELONA
2009/10  FC BARCELONA
2010/11  FC BARCELONA

Sunday, August 7, 2011

Malaga Cf: Mimpi Mendobrak Duopoli

Stigma atau persepsi di La Liga yang paling santer adalah di kompetisi ini cuma Barcelona atau Real Madrid saja akan jadi juaranya. Perlombaan di Spanyol makin mirip Skotlandia di mana dua kuda pacunya cuma dua Glasgow, Celtic dan Rangers. Semoga mulai kini anggapan itu salah sehabis klub yang satu ini kian meningkatkan kinerja dan performanya untuk memuat sejarah gres.
Stigma atau persepsi di La Liga yang paling santer adalah di kompetisi ini cuma Barcelona  Malaga CF: Mimpi Mendobrak Duopoli
Los Boquerones, klub dengan gelegak ambisi yang segar dari Qatar.
Lakon Malaga identik dengan cerita Cinderella. Malaga CF seketika mencuat sebagai upsetter paling potensial se-Spanyol mulai besok, minggu ini, atau bulan depan, hingga ke tahun-tahun mendatang. Siapapun tak mengira. Klub yang selama sedekade selalu pontang-panting dan tanpa gelar itu tiba-datang kejatuhan bintang dari Timur Tengah sehabis dibeli seorang sheikh dari Qatar, Abdullah Al-Thani.

Seperti Manchester City di Inggris atau Paris Saint-Germain di Prancis, kepak-kepak sayap Malaga semakin menggeliat lewat gelimangan minyak, tumpukan cek dan hujan ambisi. Musim lalu sensasi klub penerus Club Deportivo Malaga yang telah 'wafat' di 1992 itu gres sebatas fiksi, khayalan. Sedang faktanya, masih jauh dari cita-cita. Di selesai demam isu 2010/11, Los Boquerones berhenti total di posisi 11 klasemen.

Stigma atau persepsi di La Liga yang paling santer adalah di kompetisi ini cuma Barcelona  Malaga CF: Mimpi Mendobrak Duopoli
Pemilik Malaga CF, Abdullah Al-Thani.
Fakta ini memang sedikit kurang manis buat buat kesebelasan olahan Manuel Pellegrini. Orang Chile pengganti manajer Jesualdo Ferreira (Portugal), yang di-PHK di tengah jalan, dibela pemain impor berkelas tidak mengecewakan mirip Martin Demichelis (Argentina/Bayern), Julio Baptista (Brasil/Roma) dan Enzo Maresca (Italia /Olimpiacos). Banyak yang bilang, dengan amunisi begini mimpi Malaga masuk 7 besar La Liga saja cuma imajinasi.

Sadar waktunya memang belum mumpuni, di demam isu keduanya rezim Sheikh Al-Thani kembali merogoh uang. Cinderella Story berlanjut dan terus dirajut. Dalam sekejap, sim-salabim, datanglah Ruud van Nistelrooij (gratis) dan Joris Mathijsen (2,5 juta euro), dua pemain teras De Oranje. Lalu dengan metode 'karpet terbang, Malaga menjemput Nacho Monreal (6 juta, Osasuna) dan Joaquin Sanchez (4,2 juta, Valencia).

Dirasa masih belum mantap, Pellegrini minta mengangkut lagi potensi lokal mirip Sergio Sanchez (2,8 juta, Sevilla), Isco Suarez (6 juta, Valencia), Diego Buonanotte (4,5 juta, River Plate), termasuk yang paling 'nendang' ialah duet Jeremy Toulalan (11 juta, Lyon) dan Santiago Cazorla (21 juta). Jika dijumlah nilai transfernya saja, di luar honor masing-masing, maka 9 pemain ini berharga total 58 juta euro.

Santi Cazorla yaitu murid kesayangan Pellegrini sewaktu di Villarreal, yang terkenal sebagai salah satu pemain sayap tercepat Spanyol selain Juan Mata. Pendek kata, Al-Thani meluluskan semua permintaan Pellegrini yang bernilai sekitar Rp 712 milyar. Bahkan jika Malaga punya prestasi yang lumayan sedikit saja, sehingga lebih kredibel, barangkali Didier Drogba, Javier Pastore, dan Wesley Sneijder mau bergabung.

Proyek Ambisius

Soal bujet transfer, Malaga kini mampu menyaingi Manchester City atau Paris Saint-Germain. Sukses di sepak bola mampu dibeli oleh uang dan ambisi semakin terkenal. Mazhab nan instan yang awalnya diterapkan oleh Chelsea itu sampai juga ke Spanyol. Walau berbenturan dengan tradisi sejati sepak bola, tapi di sisi lain fenomena Malaga melahirkan hal yang menarik. Persaingan di La Liga kini kian garang dan terbuka.

Selama dua dekade, dominasi Hala Madrid dan Visca Barca amat mencengkeram La Liga, dengan gangguan kecil sempat dilakukan Deportivo La Coruna dan Valencia. La Coruna sudah habis nafas, sementara Valencia sekarang pindah kuadran bersama Villarreal, Sevilla, dan Atletico Madrid sebagai barisan klub yang mengakui sulit jadi juara kecuali bersyukur bisa lolos ke Liga Champion, menabung uang dulu untuk di kurun depan.

Dengan konsep dan terobosan dari sisi bisnis, sepertinya Malaga, klub yang bernama asli Atletico Malague ini boleh jadi telah melampaui keempat pesaingnya. Direktur olah raga Malaga, yang tugas utamanya memelototi sumber daya baru dan melakoni transfer, yakni Fernando Hierro. Kiprah legenda hidup El Real ini cukup kuat di Spanyol dan lumayan punya banyak jaringan di Amerika Latin.

Keniscayaan akan ambisi Malaga makin mantap melihat figur papan atas seperti Van Nistelrooij, Cazorla, dan Toulalan mau join. "Saya terpukau dengan rencana ambisius Malaga di kurun depan. Tujuan utama kami yakni menembus Eropa. Saya kenal baik Pellegrini, filosofinya, dan gembira jadi bab dari proyek ini," kata Cazorla yang berkesempatan bisa menjelaskan karena atas nilai transfernya yang mahal.

Stigma atau persepsi di La Liga yang paling santer adalah di kompetisi ini cuma Barcelona  Malaga CF: Mimpi Mendobrak Duopoli
Santi Cazorla dan Manuel Pellegrini, bermimpi bersama.
Ambisi Malaga mulai menyemarakkan lagi atmosfir liga supaya tak melulu dikuasai Real dan Barca. Publik kian bosan dengan liga. Apalagi pihak TV dan sponsor juga 'ingin' gairah baru. Untung operator La Liga menggubris sinisme. Tapi, Malaga? Lho, mengapa tidak!? "Kami sadar, kami kini dalam sorotan. Malaga, Barcelona, dan Madrid ialah acuan gres dalam sepak bola Spanyol," sergah Antonio Apono, gelandang spesialis tendangan penalti. "Setidaknya ketika menjuarai liga tetap nyaris tidak mungkin, namun lolos ke Liga Champion akan menjadi pilihan realistis. Toh pada waktunya kami akan berada di sana."

Hmm, inilah rupanya posisi sejati Malaga. Sebagai kontingen Spanyol yang gres untuk Liga Champion plus syukur-syukur mampu mengacaukan dominasi Madrid-Barca. Situasi ini semenjak awal telah dipahami Al-Thani. Sebagai bankir, pebisnis dan milyarder, potensi dan peluang sudah tercium. Wajar bila pria Qatar ini tidak ragu untuk membeli Malaga 'cuma' 36 juta euro (Rp 442 milyar) pada Juni 2010.

Stadion yakni pasar dan mesin uang klub. Maka target berikut Al-Thani tak lain bikin markas baru berkapasitas 65.000 orang, yang kelak dinamakan Qatar Estadio. Bukan bisnis yang oke kalau Malaga terus mengandalkan La Rosaleda yang berdaya tampung 29.000 orang. Musim lalu rata-rata okupasi stadion ini 17.000 orang. Hanya bisa full jikalau Al-Thani menyuruh semua karyawannya dari seluruh dunia untuk menonton.
Stigma atau persepsi di La Liga yang paling santer adalah di kompetisi ini cuma Barcelona  Malaga CF: Mimpi Mendobrak Duopoli
Wajah baru hero dari Andalusia yang dipenuhi keinginan.
Sebagai kota keenam terbesar di Spanyol dengan populasi 534 ribu jiwa, Al-Thani telah mengukur besaran pertumbuhan bisnis Malaga. Sasaran lain yang juga masuk agenda berupa sekolah tinggi dan pusat latihan klub seluas 12 hektar. Itulah, pasti, yang membuat kehadiran para bintang, meski sebagian telah pudar, sebagai jaminan pada demam isu Malaguistas dan masyarakat Andalusia tiba ke stadion.

Satu imbas terpenting dibangunnya Qatar Estadio tiada lain soal kontrak TV. Selama ini 18 klub La Liga lainnya selalu sakit hati melihat Madrid dan Barca mendapat 300 juta euro atau 80 persen total bujet. Alasan lain butuh stadion yang besar adalah posisi tawar di depan pemegang hak siar. Santiago Bernabeu mampu disarati 80.354 orang, sedang Camp Nou, stadion terbesar di benua Eropa, malah 99.354 penonton!

Setengah Jalan

Jika sudah bangkit, maka itulah stadion ketiga terbesar di Spanyol. Dengan 65.000 penonton, Qatar Estadio akan mengalahkan Mestalla (55.000, Valencia), Vicente Calderon (54.851, Atletico Madrid), dan Benito Villamarin (52.745, Sevilla). Argumen Malaga untuk pelan-pelan menyaingi Madrid-Barca juga mampu diendus dari sini. Setidaknya, rancang bangunnya sudah ada.

Semuanya dimulai dari kekuatan uang. Sejauh ini ambisi Al-Thani dan Malaga yang paling kongkrit baru terlaksana di transfer atau kehadiran sosok manajernya. Artinya, mereka bahwasanya sudah setengah jalan. Namun pada alhasil perhitungan teknis di atas lapangan paling menentukan. Kompetisi di sepak bola hanya akan dimenangkan bukan oleh tim yang paling baik, tapi oleh tim yang paling konsisten.

Stigma atau persepsi di La Liga yang paling santer adalah di kompetisi ini cuma Barcelona  Malaga CF: Mimpi Mendobrak Duopoli
Pellegrini memikirkan peran besar dan berat.
Itulah peran terbesar Pellegrini. Siapapun kenal kualitas Van Nistelrooij atau Joaquin. Potensi mereka tetap ada meski usianya merambat. Bila Pellegrini bisa memotivasinya lagi, bukan mustahil Malaga bakal menuai kejutan demi kejutan. Di La Liga, mazhab permainan yang berlaku adalah sepak bola menyerang. Bisa dipastikan, Demichelis-Mathijsen akan dijadikan tandem di jantung pertahanan.

Lini pertahanan terpenting ada di tengah. Toulalan dan Isco paling bertanggung-jawab di sana. Jika Joaqui­n ditaruh di sayap kanan, maka di kiri hampir dipastikan akan diisi Cazorla. Jika pola 4-3-3 yang dipilih, maka Antonio Apono atau Cazorla didorong ke depan untuk menemani Van Nisterooij atau Julio Baptista. Pertanyaannya, mampukah Los Boquerones menyaingi Barcelona dan Real Madrid?

Jika barisan strata kedua (Valencia, Villarreal, Sevilla, Atletico Madrid) juga bertekad sama, saling mengguncang dominasi duopoli, maka jawabannya adalah mungkin saja. Tidak ada yang tidak mungkin di sepak bola. Namun untuk menuju ke sana para pengelola Malaga mesti meng-'copy-paste' lakon Manchester City di Inggris. Dan beruntunglah, Manuel Luis Pellegrini Ripamonti ialah pelatih bermental pemenang.

Dia mampu mengarungi perjuangan Roberto Mancini abad mesti meladeni dominasi Alex Ferguson dan Arsene Wenger. Dari sisi kapasitas juga kapabilitasnya, Pellegrini mampu saja masuk satu kuadran bersama Jose Mourinho dan Pep Guardiola sebagai pelatih terdepan di La Liga. Pellegrini kenyang bergaul dan bertempur dengan Barcelona serta kenal betul kekuatan Real Madrid karena sebelumnya ia berada di sana.

Jarak nilai per-posisi, yang dikenal sangat renggang di luar dua besar La Liga, mungkin bisa dimanfaatkan Pellegrini untuk mengunci posisi pesaing utama sehingga upaya memfokuskan timnya untuk menghadang superioritas Madrid-Barca makin terperinci. Bisa dibilang, kini kekuatan Valencia memudar sehabis kejadian cuci gudang akhir krisis finansial. Hal sama menerpa pada Atletico Madrid dan Sevilla.

Seperti yang dibuat Manchester City, mereka tidak pribadi menyaingi Manchester United atau Chelsea, tapi memerotoli dulu Arsenal atau Liverpool di manapun: bisnis, transfer, sampai ke permainan. Dan ingat, rasa minder berlebihan serta mental lemah seperti dikala digunduli Real Madrid 7-0 pada Maret silam harus segera dikubur dalam-dalam. Apakah klub berjuluk Los Boquerones alias ikan hering itu tabah melakoninya?

(foto: thesun/malagacf/rcdm/eventplannerspain)

Thursday, June 16, 2011

Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis

Di kala trend gres kompetisi liga utama Eropa dan Liga Champion belum dimulai, juga Piala Libertadores barusan usai, Copa America 2011 niscaya jadi satu-satunya ajang kelas atas yang layak dinikmati penggila bola. Sepekan ini mata dunia telah mengarah ke Argentina, yang menggelar kejuaraan kuno Campeonato Sudamericano de Selecciones.

Di kala musim baru kompetisi liga utama Eropa dan Liga Champion belum dimulai Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis
Copa America masih mencari model bisnis yang tepat.
Dalam konteks bisnis, Piala Dunia, Piala Eropa, dan Liga Champion ialah tiga besar marketshare pagelaran sepak bola dunia. Dalam deret ukur, posisi Copa America rasanya terperinci. Ia ada di urutan empat, masih mentereng dibanding Piala Afrika, Piala Emas, Piala Libertadores, bahkan Piala Asia. Tapi lazimnya sebagai salah satu turnamen regional utama, benturan antara gengsi, tendensi, dan bisnis tampaknya sulit teratasi di tanah Latin.

Dalam hal marketing dan promo contohnya, maaf, jauhlah dibanding perhelatan EURO di Eropa. Padahal dari sisi kualitas turnamen, bisa jadi Copa America ada di urutan satu. Lucunya lagi, di antara tujuh kejuaraan tradisional utama tadi, Piala Amerika yakni kejuaraan sepak bola internasional yang tertua alasannya digelindingkan pertama kali pada 1916. Tahun ini Copa America memasuki edisi yang ke-44.

Kenapa Copa America sulit berkembang bisnisnya? Bukankah FIFA sudah habis-habisan membantunya? Benar, dalam dua pagelaran terakhir, 2007 dan 2011, keputusan FIFA memperbanyak tubruk persahabatan antarnegara, membuat Copa America lebih bermutu sebab setiap peserta punya persiapan matang. Itu teorinya. Prakteknya tak semudah itu. Makara apa ujung pangkalnya? Sepele, ini cuma soal genap atau ganjil! Ia ada di tahun ganjil.

Barangkali karena merasa terdepan peradabannya dengan fakta menguasai bisnis dunia, orang-orang Eropa dikenal lihai dalam lobi dan perundingan. Pada kesannya, risikonya seperti ini. Piala Dunia dan Piala Eropa ada di tahun genap. Piala Amerika dan Piala Emas pada tahun ganjil.

Sementara itu di Piala Afrika dan Piala Asia, meski masuk tahun genap, tapi bahwasanya ada di tahun ganjil. Tepatnya pada awal tahun genap, antara Januari-Februari. Begitulah seterusnya pokok duduk perkara bagi bangsa-bangsa Latin, Afrika, dan Asia yang tidak pernah bisa mengalahkan pamor sepak bola bangsa Eropa.

Berangkat dari sini esensi dan tendensi Copa America membias secara evolutif. Alih-alih mau mengembalikan supremasi Futbol Latino di pentas dunia juga meraih keuntungan besar sisi bisnisnya, Conmebol - federasi sepak bola Amerika Selatan - justru melupakan tradisi asal, kadang melepaskan identitas asli.

Sungguh ironis kalau hampir semua peserta, plus Brasil dan Argentina, menjadikan Copa America medan preparasi sempurna untuk tujuan utama: kualifikasi World Cup! Dengan jatah 4+1, sekarang 9 negara Conmebol minus Brasil, tahun ini akan memainkan lakon yang paling menjanjikan sepanjang sejarah.

Jika bukan dari Copa America 2011, kapan tim nasional Brasil mampu bertemu lawan tangguh secara intensif dan kompetitif? Dengan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014, Selecao tidak ikut kualifikasinya. Ini yang bikin Copa America di bulan Juli ini dianggap sangat serius oleh pelatih nasional Mano Menezes.

Beban lebih berat ikut dirasakan Argentina. Selain temanya sama dengan Brasil, namun puasa gelar internasional sejak 1993, bikin pelatih Sergio Batista kadang suka merenung. Secara spesifik, Brasil dan Argentina punya masalah internal yang paling pelik, ironisnya, justru sebab kebanjiran pemain anggun.

Tanpa metode dan sistem permainan yang baku, rasanya keberhasilan tetap sulit dicapai. Brasil yang ingin mematangkan teladan 4-2-3-1 atau Argentina yang 4-3-3 harus menentukan siapa starter di tiap posisi. Saat ditahan 0-0 oleh Kosta Rika bulan lalu, La Albiceleste tampil tanpa Lionel Messi. Batista mencoba Jose Sosa dan Nicolas Gaitan sebagai penyerang sayap. Hasilnya pun awut-awutan. Brasil pun sekarang sudah dirundung polemik. Mulai dari rakyat, data statistik, dan fakta lainnya; diyakini tim Samba harus menyediakan tempat buat pemain old crack seperti Lucio di belakang dan Elano di tengah.

Persoalan kedua Copa America ialah pandangan sinis publik dan pers Eropa yang menganggap kejuaraan yang dilahirkan untuk memperingati Revolusi Mei di Argentina ini sebagai banyolan. Copa America bukanlah turnamen yang murni mewakili aspirasi sepak bola negara-negara Amerika Selatan. Ketika urusan belum kelar, pada 1993 Conmebol malah mengundang dua anggota zona Concacaf - Meksiko dan AS - sebagai pelanggan gres tanpa menyadari dampaknya.

Ini lucu mengingat tiga negeri Amerika Latin - Guyana, Suriname dan Guiana Prancis - yang jelas-terperinci tetangganya Venezuela dan Brasil, malah 'dibuang' ke zona Concacaf! Ketianya dilempar paksa ke bumi Amerika Tengah. Peta bumi coba diubah-ubah, namun realitanya tidak mampu kecuali memaksakan fantasi. Begitulah, barangkali, sifat mendasar manusia yang sering meminta 'pemakluman'. Namun bagi yang sedikit menghormati adat dan moralitas, ini merupakan sebuah paradoks.

Sinisme Eropa
Di kala musim baru kompetisi liga utama Eropa dan Liga Champion belum dimulai Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis
Jepang terpaksa diundang demi menaikkan nilai jual turnamen.
Perjudian Conmebol nyaris celaka setelah dalam debutnya itu, Meksiko nyaris jadi juara sebelum dihentikan Argentina 2-1 di final. Meksiko dan AS hadir lagi di 1995. Lantas kekonyolan Conmebol makin lama makin menjadi-jadi. Kosta Rika, Honduras, bahkan Jepang pernah hadir atau diundang. Bayangkan, Jepang! Kenapa tidak China saja sekalian? Pasti Copa America mampu nilai audiensi mengingat populasi negeri itu.

Banyak pihak yang nyengir kuda melihat terobosan Conmebol yang mengabaikan tradisi dan identitas kejuaraan. Meksiko paling berilmu memanfaatkan momentum ketika diundang. Negeri Sombrero ini segera mengirimkan barisan talentanya, menyisipkan para pemain muda (U-23) untuk pematangan sesungguhnya menghadapi era depan. Namun lucunya, Kanada di 2001 dan Jepang di 2011 ditolak ketika akan mengirim pemain mudanya.

Lantaran tradisinya yang sudah cacat, dan gengsinya tengah dipertaruhkan, ada rumor yang mengatakan bergotong-royong Polandia - salah satu tuan rumah EURO 2012 - ingin sekali diundang tahun ini! Bos PZPN (PSSI-nya Polandia), Grzegorz Lato, sangat berkepentingan dengan Copa America di Argentina. Lato ialah legenda hidup Polska yang datang-tiba merasa dekat dengan Argentina sewaktu bermain gemilang di Piala Dunia 1978.

Selain itu dikabarkan pelatih nasional Franciszek Smuda dirundung rasa pesimis alasannya ujicoba timnya untuk persiapan di putaran selesai nanti amat minim. Boleh jadi Polandia masih punya gengsi ketimbang Conmebol. Mereka jelas risih meminta-minta diundang. Namun ini bukan tanpa alasan.

Jepang, yang ada di zona Asia (AFC), selalu dibutuhkan hadir alasannya adalah Conmebol melihat sisi sponsor dan nilai marketing yang dibawa Japon. Alasan lain pantasnya Polandia hadir sebab sebelum mengundang Jepang, Conmebol resmi mengundang juara dunia Spanyol! Namun RFEF (PSSI-nya Spanyol) tidak berani mengusik masa liburan para pemain nasionalnya.

Patut dipertanyakan, kenapa orang-orang Latin tak berguru dari pengalaman kala kemudian? Mengapa spekulasi ini dibiarkan FIFA? Hal lain juga sering menjadikan sinisme pada Copa America yaitu soal ketidak-siapan infrastruktur, musibah, insiden heboh yang dilakukan pemain, sampai wasit yang kerap kontroversial. Anda seharusnya masih ingat yang ditorehkan Martin 'El Loco' Palermo pada Piala Amerika 1999 di Paraguay.

Di kala musim baru kompetisi liga utama Eropa dan Liga Champion belum dimulai Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis
Kisah unik Martin Palermo pada 1999 menjatuhkan nilai Copa America.
El Loco mempermalukan dirinya sendiri karena gagal mengeksekusi penalti sampai tiga kali ke gawang Kolombia! Saat itu Palermo yakni striker kelas atas Argentina. Ada acuan lain yang lebih kontroversial. Di abad reputasinya sedang membubung tinggi, Luiz Ronaldo bikin ulah yang tidak terlupakan. Kesal karena diganti dikala lawan Meksiko di semifinal, dia eksklusif ngeloyor ke luar kamar ganti, ambil baju, dan ngabur ke hotel.

Usai lepas kostum, Ronaldo ngacir keluar stadion untuk berkencan dengan wanita serta berbelanja di Ciudad del Este. Itu dilakukan saat timnya masih main! Media massa di Eropa bikin cerita Cash for Chaos untuk menyorot kelakuan profesional negatif bintang-bintang Latin yang bermain di klub Eropa saat berada di rumahnya sendiri. Dikatakan, mereka berbuat begitu alasannya adalah di Eropa tidak punya kesempatan sama sekali dan dibayangi disiplin yang ketat.

Ulah heboh juga pernah ditunjukkan kiper Paraguay, Jose Luis Chilavert, yang mogok main justru alasannya negaranya menggelar Copa America! Jauh-jauh hari si eksentrik protes bahwa masih banyak dilema ekonomi yang dihadapi Paraguay ketimbang buang-buang uang dengan menjadi tuan rumah Copa America 1999. Belum lagi drama soal kepemimpinan kontroversial wasit yang memalukan mirip di Copa America 2007.

Namun dari semua kelemahan dan keganjilan tapi faktual Copa America yang disorot media massa Eropa, tak lain soal pengaturan langgar dan jumlah akseptor. Sejujurnya, 12 negara partisipan tidak ideal buat sebuah kejuaraan yang memakai sistem round-robin. Mereka selalu butuh dua tim terbaik yang diambil dari tiga runner-up. Mulai tahun ini langgar tidak dilanjutkan dengan sabung penalti langsung jikalau di 90 menit pertama berakhir imbang.

Copa America suka terjebak dalam geliat bisnisnya sendiri. Demi obsesi menyamai pamor Piala Eropa, Copa America justru semakin mengorbankan gengsi dan tradisinya. Padahal dengan mengajak Amerika Serikat saja sudah cukup. Banyak sponsor dan stasiun TV yang bahagia dengan Copa America mengingat jumlah komunitas Latino di AS.

Namun agaknya Conmebol ingin mencari untung yang lebih besar. Padahal sudah mentok sama sekali, sudah terukur. Satu contoh kecil saja, jikalau FC Barcelona tidak menginzinkan Messi tampil dengan aneka alasan, maka AFA (Federasi Sepak Bola Argentina) tidak bisa apa-apa karena pada faktanya Barcelona yang mengelola dan menjamin hidup Messi, bukan tim nasional Argentina, AFA, atau negaranya.

Bussines-Driven
Di kala musim baru kompetisi liga utama Eropa dan Liga Champion belum dimulai Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis
KIA butuh market gres di Amerika Selatan.
Kepentingan bisnis selalu bergerak ke mana-mana mencari peluang. Soal perlengkapan Lionel Messi misalnya. Sebagai sponsor resmi tim Tango, Adidas memainkan peranan penting. Seperti diketahui, ras Hispanik dan AS yakni market utama Barcelona. Inilah yang akan diatur bagaimana Barcelona dan Adidas mampu cincay. Apalagi kejuaraan bakal digelar di kampungnya Messi.

Itu kenapa Univision, jaringan TV dari AS yang memegang hak siar Copa America 2011, berharap banyak. Revenue utama TV yang berkantor sentra di New York ini ialah telenovela dan sepak bola (La Liga) yang berbahasa Spanyol, namun khusus Copa America mereka menggunakan English language.

Biaya produksi dari studio di Doral, Florida dan unit di lapangan telah ditutup oleh sponsor non-Eropa seperti: LG, MasterCard, Santander, KIA, Telcel, Claro, Canon, Budweiser, Coca-Cola, Petrobras, Seara, sampai UNICEF. Semuanya berharap banyak pada kesuksesan turnamen kuadranial ini. Kue laba pun sudah dikapling-kapling.

Uniknya, Argentina tidak mampu berbuat banyak alasannya event organizer Copa America 2011 yaitu Traffic Sports, sebuah perusahaan Brasil yang bermarkas di Miami, Florida. Traffic Sports dan Univision inilah yang mengatur liveshow ke 196 negara sejagat termasuk Indonesia.

"Walau digelar di Argentina, tapi alasannya adalah Univision yakni market leader di AS yang menguasai ajang top olah raga, maka kami mampu mendapat fragmentasinya sebagai magnet berpengaruh menjadi tontonan utama," saya Aaron Davidson, Wakil Presiden penjualan dan pemasaran Traffic Sports.
Di kala musim baru kompetisi liga utama Eropa dan Liga Champion belum dimulai Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis
Tiga sponsor utama Copa America 2011.
Mereka memilah mana sponsor berkelas platinum, gold, dan silver. Misal untuk bir yang masuk kategori silver. Saat Meksiko main, maka iklan salah satu produk Budweiser yakni InBev, yang akan terlihat. Akan tetapi saat tim Samba tampil, maka perusahaan bir Brasil, Brahma, yang mendominasi iklan baik di tayangan atau di stadion. Ketika Argentina yang main, maka bir lokal Quilmes-lah yang tayang.

Berbekal data ajang sebelumnya pada 2007, maka tingkat audiens Copa America yang dibidik Univision cukup dengan angka 2,6 juta penonton tiap pertandingan. Artinya ada angka total 67,6 juta penonton. Sebuah angka yang 'sangat kecil' dibandingkan Piala Eropa.

Tipe sponsor di Copa America juga minim jenisnya. Bank, kartu kredit, minuman, bir, kendaraan beroda empat, elektronika, tambang, dan telekomunikasi. Namun ketika dikombinasi dengan demografi penonton kejuaraan sebelumnya milik Scarborough Research, ternyata potensinya cukup menjanjikan alasannya adalah 70 persen penonton Copa America ialah kaum Adam.

Komposisi usia penonton Copa America di AS juga menarik datanya. Di usia 18-22 sekitar 6%. 25-34 (22%), 35-44 (24%), 45-54 (18%), 55-64 (11%), dan di atas 65 tahun (9%). Sedangkan dari segi penghasilan audiens, angkanya makin prospektif, 30% ada di pendapatan di atas $100.000 setahun. Berikutnya 75.000-100.000 (17%), persis sama rentang 35.000-50.000. Pendapatan antara 50.000-75.000 (15%), 25.000-35.000 (11%), serta di bawah 25.000 cuma 10%.

Jika data ini dipaparkan ke audiens di Eropa, bisa jadi dikategorikan suram. Namun itulah, standar pasar bola di Latin yang punya ekosistem tersendiri. Urusan keruk-mengeruk duit, sepak bola selalu ada celah dan celah. Untuk yang bernilai mega, Traffic Sports telah mematok bayar di muka, enam bulan sebelum Copa America bergulir. Kategori ini juga diharuskan menggelar acara ekstra seperti nonton bareng atau ekspo.

Sementara itu untuk sponsor bernilai ritel masih ditunggu sampai jelang kick-off. Bussines-driven yang digenjot kuat-berpengaruh Traffic Sports bukan tanpa hujatan di kampung sendiri. Manuel Figueroa, wartawan harian El Espectador di Bogota, pernah menulis bahwa untuk berilusi saja, Conmebol telah gagal mengangkat sepak bola Latino! Kolusi dan konspirasi para birokratnya sulit diusik.

Wilayah ini hanya diselamatkan oleh bakat dan mutu permainannya. Amerika Selatan ialah lahan Conmebol, di mana sebagian pejabatnya juga adalah tokoh teras FIFA. Jika di atas permainan, Argentina dan Brasil yakni dua besar di tanah Latin, maka begitu juga klik di Conmebol dan bisnisnya.

Terlepas itu semua, ini yang menjadikan Copa America tetap spesial, seperti gaya permainannya mereka. Bagi sebagian wartawan, dibanding turnamen ala Eropa seperti Liga Champion atau Piala Eropa yang miskin drama, Copa America biasanya penuh dengan dongeng unik di luar lapangan. Cocoklah dengan kesukaan mereka pada telenovela.

(foto: exspanish/dailymail/racing5/football-marketing/kolkatafootball)