Monday, March 9, 2009

Sejarah Sepak Bola (1): Tsu Chu Dan Homo Ludens Bangsa Cina

Pertanyaan klasik untuk mengorek tabir sejarah paling awal permainan ini ialah kapan dan di mana pada awalnya sepak bola dimainkan. Tapi untuk menemukan kepastiannya, ternyata tak semudah dibandingkan mencari siapa yang pertama-tama memainkannya.

Pertanyaan klasik untuk mengorek tabir sejarah paling awal permainan ini adalah kapan dan  Sejarah Sepak Bola (1): Tsu Chu dan Homo Ludens Bangsa Cina
Kaprikornus bukan kapan dan di mananya, tapi justru siapanya. Ini bottom line sejarah sepak bola. Mazhab yang kini digunakan yaitu dia pertama kali dimainkan di Cina semenjak tahun 2.500 SM. Tepat di ulang tahunnya yang ke 100 tahun, pada 20 Mei 2004, FIFA mengesahkan teori itu semoga tidak jadi kontroversi. Kaprikornus, sebelum para arkeolog menemukan bukti-bukti baru yang lebih berpengaruh, mau tak mau dunia pun harus menurutinya.

Berbekal siapanya itu, plus melihat usia literaturnya itulah Cina berhak mengklaim sebagai bangsa penemu awal sepak bola. Tetap ada argumentasi lain yang mengklaim sebagai penemu sepak bola. Tapi melihat literaturnya kalah tua, dengan sendirinya pribadi gugur. Kumpulan manuskrip dari Cina itu contohnya, otomatis menghapus klaim bangsa Mesir yang konon telah memainkan bola di tahun 1.800 SM.

Memutuskan berapa bantu-membantu usia permainan bola itu jauh lebih sukar dari memilih umur Tyrannosaurus atau Triceratops. Kalau dinosaurus itu ada temuannya berupa fosil, tidak begitu dengan bola. Benda ini, semenjak dari dulu pun, terperinci tak punya struktur besar lengan berkuasa seperti kekuatan tulang yang tidak lekang dimakan waktu. Makanya daripada ribut-ribut terus, ikuti sajalah dulu sementara keputusan FIFA itu.

Lagi pula, siapa berani gugat kehebatan peradaban Cina ribuan tahun silam? Tempat lahirnya kebudayaan, agama, filsafat, sumber ilmu dari percetakan hingga kompas, kuliner hingga mesiu, bisnis hingga perang, kertas hingga roket. Oleh sebabnya ada sebuah hadits yang sampai sekarang masih diperdebatkan kesahihannya, yang menganjurkan insan, demi ilmu, belajarlah pada Cina. "Tuntutlah ilmu walaupun hingga ke negeri Cina," sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits dhaif.

Nyaris pasti, menemukan permainan dengan bola, atau sekedar menciptakan bola zaman primitif, jadi masalah enteng bagi Cina. Ribuan tahun silam mereka telah menemukan yang 'berat-berat' seperti di atas tadi. Jadi tak heran jikalau ada literatur yang bilang sejak 7.000 tahun silam, bangsa Cina telah memainkan Tsu Chu, sebuah permainan yang jadi buyut moyangnya sepak bola era sekarang.

Jadi ada kemungkinan lahirnya Tsu Chu di Cina menyamai kebudayaan manusia modern. Yang perlu diingat lagi, Cina pada ketika itu masih meliputi wilayah yang kini dihuni Korea, Jepang, dan Vietnam. Menurut Wikipedia, peradaban insan yang tertua di dunia ada di empat wilayah: Mesopotamia, Cina, Mesir, dan Meso-America yang meliputi mulai Meksiko, Honduras, dan Nikaragua.

Di Mesopotamia, yang kini bangkit negara Iraq, manusia modern sudah hidup pada periode 5.300 SM atau 7.000-an tahun silam. Mereka bermasyarakat, berkomunikasi, bertani, berburu, mampu menggambar tapi belum mampu menulis. Di Mesir, di sepanjang sungai Nil pada 3.200 SM telah ada kerajaan yang dipimpin oleh Raja Narmer yang bergelar Firaun 0. Di Amerika Tengah, kebudayaan Archaic dimulai pada 1.800 SM.

Secara biologis, klasifikasi insan ialah Homo Sapiens, sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi untuk berpikir dan berpikir. Sebagai Homo Sapiens, insan punya dua turunan yang menjadi ciri khas hidupnya yakni Homo Faber, mahluk yang bekerja, dan Homo Ludens, mahluk yang bermain. Dua hal yang juga dimiliki oleh hewan.

Konsep permainan di sini harus dipahami sebagai sebuah fenomena budaya, bukan sebagai fungsi biologis. Maka secara kognitif setiap tindakan manusia bahu-membahu didasari oleh permainan. Bisa jadi terminologi bermain sudah dikenal semenjak 30 ribu tahun silam, di mana manusia mulai mampu menyimbolkan sesuatu. Bahkan 200 ribu tahun lalu, saat komunikasi antar manusia pertama kali terjadi!

Penguak Tabir

Dari literatur Profesor Johan Huizinga (1938), sepak bola itu amat akrab dengan peradaban manusia. Dalam pengantar buku Homo Ludens, Cultuur van Oorsprong in het Spel disebutkan "Het spel is ouder dan cultuur, want, zo veel als het begrip cultuur werd onder begrensd door, over, in ieder geval veronderstelt de menselijke samenleving, en dieren zijn niet gewacht voor mensen om gewoon leren hoe te spelen zijn."
Permainan lebih bau tanah dari budaya, sebagaimana halnya dalam batasan konsep budaya, atau setidaknya pada keharusan manusia dalam bermasyarakat. Dan hewan tak menunggu orang untuk mengajarkan bagaimana mesti bermain. Dan hewan bermain-main sebaik orang, sehingga bisa disebutkan bahwa semua karakteristik permainan manusia ada pada permainan yang dilakukan hewan.

Contohnya bergulat, berkelit, menendang, menangkap, melempar, berlari yang menjadi personifikasi sepak bola. Semua agresi ini juga dilakukan bawah umur anjing yang tengah bermain! Bahkan pada bentuk tribalisme dan reaksi primitif, semua itu seringkali juga dilakukan insan dikala berperang. Baik bermain atau berperang, motif insan itu sama, demi mencari kepuasan dan kesenangan.

Jika terus merujuk dari buku ini, di mana hal bermain kesudahannya tak melulu ada di awal peradaban insan modern, tapi mampu mundur jauh lebih primitif lagi. Makanya harus ada pembatasan. Menurut ilmuwan dan sains, evolusi insan sebelum ke Homo Sapiens berturut-turut ialah insan Cro-Magnon, Neanderthal, Manusia Rhodesia, Manusia Solo, Homo Sapiens Awal, dan berujung pada Homo Erectus.

Kesimpulan dari sejarawan dan teoriawan budaya dari Belanda itu bekerjsama sepele, yaitu untuk memahami permainan sebagai faktor budaya kehidupan. 'Let my playing be my learning, and my learning be my playing.' Konteksnya terperinci, kebudayaan insan modern. Bicara kebudayaan berarti harus merujuk pada Cina, bangsa pertama yang punya kebudayaan paling maju dalam sejarah umat insan.

Yang pasti, paparan di atas telah memberikan nuansa dan literatur pembanding sebelum membahas apa itu Tsu Chu, bentuknya, atau bagaimana pertama kali beliau dimainkan. Ini tampaknya lebih penting ketimbang membuka tabir sejarah bola. Ya, bola. Sebuah bentuk yang secara instingtif menarik hati tangan atau kaki untuk melempar atau menyepaknya.

Buku yang pertama kali menguak tabir sejarah sepak bola kuno ialah Zhan Guo Ce, sebuah literatur perihal strategi dalam keadaan berperang (strategies of the warring states). Manuskrip ini diyakini dikemas sekitar masa ketiga hingga pertama masehi. Isi dari Zhan Guo Ce melulu dongeng soal periode penuh peperangan di Cina mulai 476 SM hingga muncul unifikasi di zaman Dinasti Qin (221 SM).

Siapa penulis Zhan Guo Ce hingga sekarang masih jadi perdebatan. Satu-satunya argumen dibuat Zhang Xingcheng (587-10 Oktober 653), kanselir yang lahir pada zaman Kaisar Wen of Sui (541-604). Dia menyampaikan yang menulis Zhan Guo Ce yakni seorang diplomat bernama Su Qin (wafat 284 SM). Dalam kitab Zhan Guo Ce, kata Tsu Chu atau juga cuju terdapat dalam bagian berjudul Qi (negara).

Literatur kedua yang menyebutkan kata 'menendang bola' tiba dari buku berjudul Shiji atau The Records of Grand Historian. Ini sebuah magnum opus dari Sima Qian (135 SM-86 SM), seorang sastrawan hebat berjuluk bapak sejarah Cina. Qian hidup di kala Dinasti Han (202 SM-220) dan menulis Shiji selama 18 tahun (109 SM-91 SM). Dalam Shiji, soal Tsu Chu ditulisnya dalam bab mengenai biografi Su Qin.

Dinasti Han inilah yang dianggap sebagai pemilik sejati Tsu Chu, bapak moyangnya sepak bola modern. Di zaman ini Tsu Chu dimainkan oleh dua tim yang masing-masing terdiri dari enam orang. Alat yang digunakan adalah sebuah bola kulit yang berisi kumpulan bulu burung dan rambut. Diameter bola ini sekitar 30-40 cm.

Membayangkan cara mainnya amat beda dibandingkan oleh sepak bola era kini. Cara main Tsu Chu di masa ini lebih mirip sepak takraw alasannya adalah menggunakan kaki, dada, pundak dan kepala. Namun tetap ada gawangnya berupa jaring berlubang yang disangkutkan di tiang bambu, mirip keranjang bola basket. Tingginya 10-11 meter ditancapkan di tengah-tengah lahan seluas lapangan bola voli. Tim pemenang ditentukan oleh siapa yang paling banyak memasukan bola ke dalam keranjang.

(foto: mchcityzen, kyleenington.weebly)

Monday, February 23, 2009

Anglo-Italian Ii: Top 10 Wins Over The English!

Buat Italia, sepak bola Inggris yaitu sebuah obsesi dan ikon rivalitas. Walau di satu sisi mereka mengklaim Julius Caesar yang mengenalkan sepak bola ke Britania, tapi pada sisi lain, budaya calcio Italia juga mengakui Inggris sebagai tanah air sejati sepak bola yang memicu berkembangnya permainan sepak bola modern di negeri mereka. Yang menarik, sejalan dengan peredaran waktu, efeknya jadi serius. Orang-orang Italia berubah impulsif jikalau harus bicara atau meladeni gaya Inggris. Pada dasarnya, Italia lebih suka langgar dengan Brasil atau Jerman sekalian daripada ketemu Inghilterra.

Pasalnya budaya sepak bola Italia mencap gaya Britania sebagai momok seram, minimal bikin puyeng dan capek meladeninya. Lucunya, orang Inggris pun mencicipi hal yang sama. Ada dua lawan yang paling dibenci bangsa Inggris: Jerman dan Italia! Bek dan kiper Italia paling gedeg sekaligus jiper dengan umpan lambung atau crossing dari sayap kiri dan kanan ke gawang mereka. Sedangkan para penyerang Italia paling sebal bertemu bek-bek Inggris yang suka hantam kromo dan dianggap main tidak pake otak. Mengalahkan Inggris jadi kemenangan sejati. Lebih sejuk rasanya dari menghantam Argentina, Prancis, atau Belanda. Apalagi bila terjadi di rumah mereka. Lebih afdol lagi, jikalau kemenangan itu juga menciptakan imbas jelek nan menikam bagi tim-tim Inggris.

Ini yang bikin lakon bentrok lapangan hijau Anglo-Italian di manapun, kapan pun serta dalam bentuk apa pun, selalu dianggap prestisius oleh bangsa Italia. Walau kesuksesan mengatasi Inggris kerap lahir dari cara-cara yang kurang fair, bagi mereka itu bukan soal besar. Kultur sepak bola Italia menganggap hal-hal kontroversial, politis, dan bahkan unsur klenik, sebagai bab dari sepak bola itu sendiri. Berikut ini 10 duel terbaik menaklukkan Inggris yang dianggap majalah Calcio Italia paling top sepanjang kala.

10. ARSENAL 0-1 FIORENTINA (Wembley, London, 27 Oktober 1999)

 sepak bola Inggris adalah sebuah obsesi dan ikon rivalitas Anglo-Italian II: Top 10 Wins Over The English!Kesalahan pasukan Arsene Wenger adalah tak memaknai utuh kesaktian Gabriel Batistuta yang punya genjotan kaki kanan mematikan. Intersep Joerg Heinrich di menit 74, tak segera stop The Gunners. Menjelang kotak penalti, ia memberi umpan ke kanan pada Batigol, yang rada renggang dari kawalan Nigel Winterburn. Dengan tenaga mumpuni, Bati melaju, unggul sedetik, kemudian melesakkan bola ke atas kepala David Seaman dari sudut sempit! Kekalahan ini amat menyesakkan lantaran La Viola cuma punya tiga peluang, sedangkan Arsenal memiliki sembilan peluang untuk mencetak gol. Dampaknya, Arsenal tersingkir dari Grup B Liga Champion 1999/2000. Fiorentina dan Barcelona lolos.

(foto: latestanelpallone)

9. INGGRIS 0-1 ITALIA (Wembley, London, 12 Februari 1997)

 sepak bola Inggris adalah sebuah obsesi dan ikon rivalitas Anglo-Italian II: Top 10 Wins Over The English!Penyisihan Piala Dunia 1998 Grup 2. Sebanyak 75.055 pasang mata di Wembley jadi saksi kehebatan Gianfranco Zola, attacanti Gli Azzurri yang jadi idola Chelsea. Baru 18 menit, sebuah umpan jauh dari Billy Costacurta digapai Zola. Lewat akselerasi indah, ia menjemput bola, membawa ke kanan untuk membuka ruang. Graeme Le Saux terus mengejarnya. Tapi Zola terus meliuk-liuk. Di detik terakhir hadangan kaki Sol Campbell menghampiri, dia melepaskan tembakan. Bola malah melenting dan bikin kaget Ian Walker. Jala Inggris bergetar. Untungnya kekalahan ini tak melahirkan efek buruk bagi timnya Glenn Hoddle. Three Lions tetap lolos ke Prancis. Namun bagi allenatore Cesare Maldini sungguh fenomenal di saat-dikala awal memimpin Azzurri: menang di Wembley, dan anaknya, Paolo, ikut main!

(foto: ansa)

8. INTER 3-0 LIVERPOOL (Giuseppe Meazza, Milano, 12 Mei 1965)

 sepak bola Inggris adalah sebuah obsesi dan ikon rivalitas Anglo-Italian II: Top 10 Wins Over The English!Semifinal II Liga Champion 1964/65 menjodohkan dua pelatih legendaris, Hellenio Herrera dan Bill Shankly. Inter adalah juara bertahan. Sedang Liverpool debutan yang mimpi menjadi klub Inggris pertama peraih juara Eropa. Laga awal 4 Mei, Liverpool menang 3-1. "Malam ini kita kalah tapi belum mengalah!" kata Herrera yang meninggalkan bahaya. Benar saja. Pada duel di Milano, Inter unggul cepat 1-0 via Corso (8'). 

Namun gol kedua amat kontroversial. Saat kiper Tommy Lawrence mau menangkap bola, Joaquim Peiro berdiri dari cedera di belakang gawang. Ia merebut bola dan melob bola ke gawang kosong. Gol! Liverpool protes berat, tapi tak digubris wasit Spanyol Ortiz Mendibil. Gol emas dibuat Giacinto Facchetti (62'). Setelah itu, Herrera memerintahkan untuk 'mematikan' permainan. Pers Italia menamai berkelahi ini E'l Astuzia di Peiro atau 'Buah Kelicikan Peiro'.

(foto: wikiwand)

7. ROMA 3-1 CHELSEA (Olimpico, 4 November 2008)

 sepak bola Inggris adalah sebuah obsesi dan ikon rivalitas Anglo-Italian II: Top 10 Wins Over The English!Jangan disangka, duel klasik Anglo-Italian selalu dari zaman baheula. Duel ini dari matchday 4 Liga Champion trend ini. Setelah kalah 0-1 di sabung sebelumnya, pelatih Luciano Spalletti kian faham dengan gaya Chelsea di tangan Luiz Scolari. Spalletti juga jeli melihat celah kondisi kapal Chelsea yang sedang oleng di Premier League. Tapi sebelum bikin sajian pembalasan, Spalletti minta syarat pada pemainnya: segera temukan kembali confidenza, akidah diri. 

Rupanya ini dipenuhi. Hasilnya, melodi main Roma jadi beda serta mengacaukan resep racikan Scolari. Dengan dua golnya, Mirko Vucinic jadi bintang. Benar, kedua tim tetap lolos ke babak knock-out, tapi setidaknya telah mengubah skenario asli Chelsea di Liga Champion.

(foto: boxofficefootball)

6. ITALIA 1-0 INGGRIS (Comunale, Torino, 15 Juni 1980)

 sepak bola Inggris adalah sebuah obsesi dan ikon rivalitas Anglo-Italian II: Top 10 Wins Over The English!Grup 2 Piala Eropa 1980. Italia ditahan 0-0 oleh Spanyol pada tubruk awal di Milano. Begitu pun Inggris. Gol Ray Wilkins di menit 26, disamakan Jan Cuelemans hanya selang empat menit. Italia vs Inggris ada di berkelahi kedua. Italia harus menang, dan mereka menang. Duel ini berkesan bagi Azzurri lebih banyak dikarenakan faktor Marco Tardelli. Dia yang mematikan gerakan kapten Inggris sang superstar Kevin Keegan. Dan Tardelli pula yang mencetak gol emas di menit 79. 

Hebatnya lagi, skuad Enzo Bearzot bermain ala Inggris: menyerang full dari sayap! Pada adu terakhir, Inggris menang atas Spanyol 2-1, sedang Italia menahan Belgia 0-0. Klasemen akhir: Belgia 4, Italia 4, Inggris 3, Spanyol 1. Terbukti sudah, menang dari Inggris jadi kunci sukses.

(foto: theguardian)

5. JUVENTUS 3-0 MANCHESTER UNITED (Comunale, Torino, 3 November 1976)


Karena hanya menjadi runner-up Serie A di bawah Torino, La Vecchia Signora harus tampil di level kedua kejuaraan Eropa. Tapi jadi bernasib baik alasannya membuahkan kepuasan hebat. Di kala ini Piala UEFA masih bergengsi. Dan di animo 1976/77 para pesertanya tidak main-main. Ada Ajax, Bayern, Barcelona, Inter, Red Star, AC Milan, Celtic dan Feijenoord. Namun yang paling diperhitungkan Juve yakni rombongan Inggris: Manchester City, Derby County, Queens Park Rangers dan Manchester United. 

Di babak awal, Roberto Bettega cs. berjuang keras mengatasi City.Juventus unggul agregat 3-1 (0-1 dan 3-0). Di babak kedua, skuad Giovanni Trapattoni terbang lagi ke Manchester bertemu Red Devils. Hasilnya sama! Kalah 0-1 dan menang 3-0! Menyingkirkan klub berpengaruh Inggris bikin Juve jadi percaya diri. Pada risikonya mereka meraih titel sesudah di tamat mengatasi Athletic Bilbao.

(foto: lagareliadelfutbol)

4. MILAN 2-1 LIVERPOOL (Olympiakos, Athena, 23 Mei 2007)

 sepak bola Inggris adalah sebuah obsesi dan ikon rivalitas Anglo-Italian II: Top 10 Wins Over The English!Ini ulangan simpulan 2005. Kalah tragis di Istanbul, masih menohok skuad dan fan Rossoneri sedunia. Jelang final, orang menunggu apa respon AC Milan mengatasi syok. Media massa di Italia merancang skenario di akhir II. Membedah seni manajemen Carlo Ancelotti, ternyata mesti menunggu hingga kick-off. Jawaban itu ada di Ricardo Kaka! Don Carletto kali ini memainkan il Pippo di depan sendirian, mematok Gattuso-Ambrosini untuk meladeni duet Alonso-Mascherano. 

Harapan terbesar ada di duo lainnya, Pirlo-Seedorf. Hasilnya paten. Kaka jadi leluasa berkreasi! Filippo Inzaghi jadi satria dengan dua golnya. Semenit mau usai, Liverpool back to game gara-gara gol Dirk Kuijt. Tapi Milan telah bersumpah ogah terperosok dua kali ke lubang yang sama. Dan Rossoneri pun membayar dendamnya dengan lunas!

(foto: acmi1899)

3. INTER 3-0 ASTON VILLA (Giuseppe Meazza, Milano, 7 November 1990)

 sepak bola Inggris adalah sebuah obsesi dan ikon rivalitas Anglo-Italian II: Top 10 Wins Over The English!Laga ini dianggap lebih fenomenal dari bentrok Milan vs Liverpool. Laga di babak kedua Piala UEFA ini memang dramatis. Kalau Inter tak bisa mengatasi Aston Villa, maka tidak mungkin ada gelar Piala UEFA. Pada adu di Villa Park, Inter diacak-acak duet David Platt-Tony Cascarino sebelum kalah 0-2. Padahal instruktur Giovanni Trapattoni memainkan trio juara dunia 1990: Lothar Matthaeus, Juergen Klinsmann dan Andreas Brehme.

Namun di sabung kedua ceritanya terbalik. Tiga gol dari Klinsmann, Nicola Berti, dan Alessandro Bianchi mengubur keinginan Aston Villa. Gilanya, gol ketiga Inter lagi-lagi kontroversial. Bola lambung Fausto Pizzi sebelum dihajar Bianchi, terlihat jelas sudah out. Berbekal super comeback, Inter terus melaju sampai ke tamat dan membungkam AS Roma.

(foto: myinteraltervista.org)

2. INGGRIS 0-1 ITALIA (Wembley, London, 11 November 1973)

 sepak bola Inggris adalah sebuah obsesi dan ikon rivalitas Anglo-Italian II: Top 10 Wins Over The English!Superstar bentrok Anglo-Italian kali ini tak disangka-sangka. Dia yaitu Fabio Capello, yang kini menjadi pelatih nasional Inggris! Aksi Capello menampar negeri penggerak sepak bola modern. Ironisnya reputasi Capello 'dibantu' Peter Shilton. Di berkelahi friendly yang dihadiri 88 ribu orang di Wembley, satu crossing Giorgio Chinaglia dari sisi kiri gagal diamankan Shilton. Umpan sepele itu malah lepas. Capello yang ada di depan gawang lezat sekali, tinggal mencocor bola ke jala. Celakanya, gol ini terjadi di menit 87. 

Ironi yang kedua, partai ini yakni tubruk terakhir bagi dua legenda sepak bola yang menimbulkan Inggris menjadi juara dunia 1966. Mereka yakni kapten nasional paling kharismatik, Sir Bobby Moore, yang mengakhiri caps-nya yang ke-108 kali, serta Martin Peters.

(foto: gazzettaworld)

1. LIVERPOOL 1-2 GENOA (Anfield, 18 Maret 1992)

 sepak bola Inggris adalah sebuah obsesi dan ikon rivalitas Anglo-Italian II: Top 10 Wins Over The English!Laga yang jadi juara sejati tajuk Wins Over The English! Sekilas memang kurang sreg. Namun ditelaah lebih dalam, ada benarnya. Partai ini sakral bukan dari soal menangnya Genoa di Anfield dan di Marasi. Lebih ke politis, soal hati. Inilah pembalasan pertama rakyat Italia pada Inggris. Anda akan mengerti kalau diingatkan soal Tragedi Heysel 1985 di Brussels. Terbunuhnya 39 Juventini oleh suporter Liverpool dianggap sebagai peristiwa nasional. Itu menyatukan Italia.

Kalau hal itu terjadi di Amerika Latin atau Afrika, bisa jadi dua negara itu langsung perang. Waktu Tomas Skuhravy, Carlos Aguilerra, atau Branco berduel dengan Liverpool, Grifoni juga didukung serta didoakan satu Italia! Dan makbul, Liverpool keok 0-2 dan 1-2 di perempat simpulan. Sayang Genoa dibekuk Ajax di semifinal. Namun tumbangnya ikon Liverpool oleh sebuah klub tertua di Italia ini dianggap sebagai simbol hegemoni Italia atas Inggris hingga sekarang. Laga itu dijadikan bukti bahwa Julius Caesar-lah yang memang mengajarkan sepak bola pada bangsa Inggris! Luar biasa.

(foto: dailypost)

Saturday, February 7, 2009

Obsesi Sang Legenda

Alexander Chapman Ferguson CBE alias Sir Alex Ferguson (SAF), yaitu kolektor medali dan trofi yang jumlahnya sulit ditiru instruktur manapun di seluruh Britania Raya, bahkan barangkali di dunia. Bicara soal kepuasan di sepak bola, barangkali sulit mengalahkan apa yang telah dirasakannya.

Alexander Chapman Ferguson CBE alias Sir Alex Ferguson  Obsesi Sang LegendaIa punya penyesalan selama 22 tahun melatih Manchester United. Artinya dari beliau berusia 45 sampai kini 67 tahun. Sekilas tak bekerjasama dengan bola. Namun baginya tetap terkait. Musik! Dan ini rada menyiksa dikenang karena menyangkut idolanya: Frank Sinatra! Di simpulan 2008, Fergie meratapi gagal menghadiri ajakan penyanyi berjuluk The Voices sekitar 10 tahun silam. Yang jadi penyebabnya sebab Manchester United kalah dari Charlton Athletic 0-1 di Selhurst Park, April 1989. 

Dia eksklusif bad mood, malas bertemu siapa saja lalu ikut rombongan bus dan pulang ke rumah. Padahal ketika itu Sinatra - yang tengah konser di London - mengundangnya bertemu. Penyesalan ini yang terbesar melebihi kegagalannya menerima Paul Gascoigne atau Paolo Di Canio. Namun sejarah juga mencatat, tanpa Gazza dan Di Canio, United tetap berjaya dan nama Ferguson ikut digdaya dua dekade lalu.

Tapi khusus Sinatra, ia mengaku kalah dan salah. Ternyata itu kesempatan satu-satunya bagi Ferguson alasannya pada 14 Mei 1998, penyanyi legendaris itu meninggal dunia. "Anda tak bisa mengalahkan Sinatra. Saya benar-benar diundang dia untuk jamuan makan di suatu malam," ungkap eks striker Queens Park, Dunfermline, Glasgow Rangers, dan Ayr United ini. Selain hebat siasat dan memotivasi, dia juga dikenal sebagai penggemar musik fanatik. Suaranya tidak mengecewakan anggun, setidaknya untuk ukuran di pesta-pesta. Di setiap program United, beliau pasti menyanyi. Apa lagunya, mudah ditebak, apalagi jika bukan lagu-lagunya Frank Sinatra.

Soal Piano

Musik jadi hal terpenting kedua sehabis sepak bola. Artinya sesudah Manchester United adalah Frank Sinatra. Sudah bukan rahasia lagi, selain Sinatra, Ferguson menyukai barisan penyanyi jadul mirip Nat King Cole, Matt Monroe, dan Dean Martin. Namun beliau juga menggemari penyanyi yang rada modern mirip Annie Lennox dan Mick Hucknall. Tatkala bernyanyi, Ferguson selalu berpikir beliau seorang penyanyi yang manis. Lagu andalan selain My Way yakni Sweet Lorraine milik Nat King Cole. Dia kerap menyanyikan lagu ini di peternakannya sambil menunggu sapi-sapinya pulang ke sangkar.

Makanya, jangan sesekali mengadu pengetahuan wacana Sinatra dan Nat King Cole dengannya. Lalu, apalagi setelah sepak bola dan musik? Barangkali ini juga banyak yang tahu. Balap kuda dan penikmat wine. Makara, tolong, jangan dianggap hidup Ferguson melulu terobsesi dengan United. Tidak. Kebun anggurnya di Skotlandia luas, dan dia juga pemilik Rock of Gibraltar, salah satu kuda balap terbaik di dunia yang bernilai 2,5 juta pound.

Gara-gara kuda ini, di 2004 Fergie pernah ribut dengan John Magnier, pemilik United terdahulu. Pasalnya, Rock of Gibraltar - yang dimiliki bareng dengan Susan, istri Magnier - dijadikan isu sekaligus dalih untuk menekan kepemimpinan anak Alexander Beaton Ferguson dan Elizabeth Hardie ini di Old Trafford Empire.

Kegemaran Fergie pada musik juga mengungguli hobi lainya: golf. Ini maklumi lantaran semenjak kecil dia dicekoki orang tuanya sebuah piano dan biola. "Tapi kini untuk main piano, kayaknya saya butuh tutor. Bukan untuk jadi jago, tapi sekedar mampu saja. Saya sudah coba berkali-kali, tapi tetap mentok!" aku laki-laki Capricorn kelahiran 31 Desember 1941 ini. Persahabatannya dengan Mick Hucknall, pentolan grup musik Simply Reds, juga menarik perhatian.

Diceritakan bahwa saat Alex Ferguson menjamu Hucknall di sebuah restoran Italia di Manchester, terjadi momen yang tak terduga. Kala itu sehari menjelang duel Liga Champion antara United dan Bayern Muenchen. Keduanya datang 15 menit sebelum restoran buka resmi. Namun 15 kemudian tiba rombongan Muenchen, yang juga telah pesan kawasan. Melihat Hucknall dan juga Ferguson, mereka bak kejatuhan bintang. Walau sadar orang bau tanah yang satu itu bakal menjadi musuh, mereka tak perduli, dan, minta berfoto bareng!

Masa Obsesif

Di luar bola, Ferguson ialah langsung yang sangat hangat. Dia sadar, hidupnya dihabiskan oleh dan untuk sepak bola, sehingga pada situasi lepas, orang akan kaget melihat humanitas orisinil Ferguson. Berbeda jauh dengan aksara kerasnya di pinggir lapangan. 

Fergie bahagia berguyon atau tertawa terbahak-bahak dengan gelas anggur di tangannya. Hucknall mengakui, selain pantas dijadikan sobat yang menyenangkan, Ferguson punya naluri besar lengan berkuasa sebagai ayah di mana saja. "Saya bangga mampu akrab dengannya sejak usang," saya penyanyi berambut kriwil itu. 

Alexander Chapman Ferguson CBE alias Sir Alex Ferguson  Obsesi Sang LegendaDi usia menuju kepala tujuh, lelaki yang lihai bergaul dan penuh perhatian ini mulai banyak mengurangi kegiatan di luar bola, kecuali yang wajib: liburan bersama Cathy Holding, perempuan anggun yang dinikahinya sejak 1966. "Ini salah satu periode di mana saya terobsesi dengan segalanya. Pulang ke rumah lewat tengah malam, tapi masih dengan segudang duduk perkara," tuturnya ikhlas.

"Saya harus terlibat apapun di klub. Maka di rumah pun aku seringkali menelpon para pemandu talenta dan staf klub. Kalau itu tetap saya lakukan, barangkali diri aku sudah rusak sejak dulu. Saya coba lepaskan itu bertahap, dan dikala itulah aku mulai membeli beberapa ekor kuda," lanjut Ferguson suatu kali pada MUTV.

Kedatangan Arsene Wenger dan meroketnya Kevin Keegan sebagai instruktur muda, mulai menjepit aneka macam ambisinya. Di sekitar 1998, ketika perseteruannya tengah memuncak, Wenger pernah menohoknya namun anggun untuk mengingatkannya dengan ucapan: "Pulanglah ke rumah dan lihatlah wajah istri anda di pagi hari!" Gayung bersambut. "Kamu memang terlalu banyak obsesi," sungut Cathy.

Sejak dikala itulah, Ferguson mengakibatkan musik, kuda, anggur, dan golf sebagai sarana liburannya. Sedikit demi sedikit beliau mulai memutar enerjinya dari Manchester United untuk itu. "Saya tidak akan termakan dengan segala sesuatu yang terjadi di Old Trafford." Sukses, uang, dan ketenaran kerapkali memang mampu mengubah adab orang.


ALEX FERGUSON dan FRANK SINATRA

I Get a Kick Out of You - Sebagai pandangan baru keributannya dengan David Beckham lewat lakon lemparan sepatu?
Send in the Clowns - Sindiran untuk Manchester City, yang selama 22 tahun, memiliki 17 manajer?
New York (e), New York (e) - Gaya calypso untuk mengelu-elukan Dwight Yorke?
Mack the Knife - Atribut untuk mantan asistennya, Steve McClaren?
My Way - Metafora dirinya (Old Reds) sebagai Sinatra (Ol' Blue Eyes).

(foto-foto:dailyrecord/bbc)

Sunday, January 4, 2009

Zlatan Ibrahimovic: Kemilau Oscar 2009

Habis gelap terbitlah jelas. Senin, 19 Januari 2009, di aula Gedung Pers Milano, Italia, si pemberontak itu dinobatkan jadi yang terbaik di Serie A dalam pentas Oscar Del Calcio, semacam Academy Award atau Piala Oscar-nya sepak bola.

 si pemberontak itu dinobatkan jadi yang terbaik di Serie A dalam pentas  Zlatan Ibrahimovic: Kemilau Oscar 2009
Malam itu Zlatan Ibrahimovic menjadi the best actor dengan tiga penghargaannya! Rupanya tak percuma lelaki berpotongan macho berusia 28 tahun itu berjulukan Zlatan, yang dalam bahasa Bosnia artinya emas nan berkilauan. Seorang bintang itu kerap kontroversial, suka lawan arus. Asal mahir, sah-sah saja. 

Aroma kebintangan superstar memang kian menguat jika dia nyeleneh atau mbalelo. Ada saja ulah yang dibentuk. Ingatlah kesan pada Diego Maradona, Eric Cantona sampai Cristiano Ronaldo. Dan kini Ibrahimovich juga menjadi orang yang spesial! Dalam sepak bola kehebatan prestasi klub dan skill si pemain yaitu soulmate tiada tara. Ibrahimovich pun seperti Ronaldo. Sering bikin klubnya panas hambar. Misalnya datang-datang saja seenaknya ingin pindah klub.

Bedanya jikalau Ronaldo gagal mengikuti kata hatinya, tidak begitu dengan Ibra. Soal urusan bola-bola mati atau bikin gol, lelaki Swedia ber-DNA Balkan ini tak kalah dengan pemain terbaik dunia 2008 itu. Makanya, supaya sesama Portugal, toh di benak Jose Mourinho, Ibra masih tetap dianggap lebih hebat dari CR7. Omongan JM kenyataannya bukan pepesan kosong.

Sebuah inagurasi bertajuk 'Oscar del Calcio AIC 2008' jadi pengesahan pria Libra ini. AIC - Associazione Italiana Calciatori e Sportitalia alias asosiasi pesepak bola dan olah raga seluruh Italia, kali ini menjatuhkan pilihan pada Ibra atas sejumlah prestasinya di FC Internazionale Milano.

Hasil Oscar del Calcio ialah polling dari seluruh agresi Serie A di era pre-season. Ada yang beda kali ini. Sekarang tiada lagi kategori pemain terbaik satu dekade atau pemain favorit, yang tahun lalu diraih Luiz Ronaldo dan Gianluigi Buffon. Satu yang gres yakni pendukung terbaik (tifoso dell' anno).

 si pemberontak itu dinobatkan jadi yang terbaik di Serie A dalam pentas  Zlatan Ibrahimovic: Kemilau Oscar 2009
Ibra meraih tiga kategori terbaik untuk pencetak gol terbaik, pemain abnormal dan pemain terbaik keseluruhan. Walhasil beliau mengatasi Ricardo Kaka  (Milan), Daniele De Rossi (Roma), Andrea Pirlo (Milan), Alessandro Del Piero (Juventus) serta Adrian Mutu (Fiorentina).

Bagi Ibra, Oscar del Calcio 2008 ialah kemenangan kata hatinya. "Saya dedikasikan ini untuk Jose Mourinho dan Roberto Mancini. Terima kasih kepada yang memilih saya. Selanjutnya saya ingin fokuskan kemenangan di Inter," tutur pencetak 51 gol dari 97 kali main di Nerazzurri.

Perjuangan panjang ayah dari Maximilian Ibrahimovich (2,5 tahun) sampai naik panggung Oscar del Calcio sungguh berliku. Istilahnya high risk, high return. Dan Ibra ialah contoh sukses orang yang berani ambil resiko. Seluruh era depannya dipertaruhkan. Karier, reputasi hingga kesehatan.

Usai perkara Calciopoli di simpulan ekspresi dominan 2005/06, banyak pemain menyatakan sumpah setianya, walau Juventus harus main di Serie B. Namun tidak demikian dengan Ibra. Ia melawan arus. Lalu menyatakan diri keluar dari Juve dan ingin bergabung ke Internazionale, sang musuh terbesar!

Memupus Mitos

 si pemberontak itu dinobatkan jadi yang terbaik di Serie A dalam pentas  Zlatan Ibrahimovic: Kemilau Oscar 2009Karena tipikal Italia dan sepak bolanya yang menjunjung tinggi moralitas diantara aneka aksi amoral di pentas calcio, maka siapapun yang mengaku Juventini tentu geram dengan perilaku Ibra. Hasilnya bisa ditebak. Transfer Ibra ke Inter dipersulit. Ia meradang diperlakukan beda. Yang jadi masalah yakni ketika itu Ibra belum memahami kultur Italia. Fabio Cannavaro, Lilian Thuram, Gianluca Zambrotta, atau Emerson Ferreira dibiarkan sebab pindahnya ke Spanyol. Satu-satunya pemain yang langkahnya mirip Ibra tapi bernasib mujur yaitu Patrick Vieira. Bekas kapten Arsenal ini memang ditransfer resmi ke Inter. Ibra adalah permata periode depan Juve. Dia gres dua demam isu ketika ingin gabung ke Inter. 

Harganya mahal dan dengkulnya tidak sakit-sakitan seperti Vieira, yang terus bikin dompet Juve tipis alasannya ia makan honor buta. Melepas anak Malmoe ini ke Milano sama saja mencabut kumis macan. Sejarah mencatat akhirnya Juve menyerah dan Ibra pun dijual ke Inter dengan nilai 24,8 juta euro pada 10 Agustus 2006. Ini jauh dari banderol 40 juta euro yang diingini bos Juve, Giovanni Coboli. Namun Juve tetap untung sekitar 5 juta pound, mengingat harga belinya 19 juta dari Ajax pada 2004 dengan dua tahun kala pakai.

Ibra adalah anak kedua Sefik Ibrahimovich, seorang muslim Bosnia, yang berojol dari rahim Jurika, seorang perempuan Kroasia, pada 3 Oktober 1981 di Malmoe, Swedia. Awalnya ia mulai main bola di usia delapan tahun melalui klub Anadolu BI dan FBK Balkan. Usia 14 tahun, Ibra sudah dikontrak klub top Swedia, Malmoe FF.

Di usia 20 tahun, hebat taekwondo ini sudah harus merantau ke Belanda karena Ajax Amsterdam membayar kelihaiannya senilai 7,8 juta euro. Jauh dari orang bau tanah di saat usia tengah ranum-ranumnya membuat ia sering sulit kontrol diri. Naluri pemberontaknya semakin membara.

Ketika Ajax ganti nakhoda ke Ronald Koeman, Ibra bikin kesalahan konyol sebab terus berusaha mencederai Rafael van der Vaart setiap latihan. Ajax dan Koeman marah, Ibra menantang, dan yang terjadi ia dijual paksa ke Juventus. Padahal dikala itu di Ajax namanya tengah membubung tinggi.

Di Juventus lama kelamaan Ibra pun tidak cocok dengan Fabio Capello. Pertikaian itu kerap terang terlihat di pinggir lapangan. Gilanya, dengan beraninya dia sering meladeni kemarahan Capello, bahkan menghardiknya! Kala Capello hengkang ke Real Madrid, sekilas posisi Ibra kondusif. Tapi salah, sebab sejak itu ia mulai tidak betah.

 si pemberontak itu dinobatkan jadi yang terbaik di Serie A dalam pentas  Zlatan Ibrahimovic: Kemilau Oscar 2009"Sejak kecil, aku memang pendukung Inter," saya Ibra yang sekaligus menguak belakang layar kehebatannya di Nerazzurri. Seperti Maradona atau Cantona, beliau pun selalu bermain mengikuti kata hatinya, dengan aksara aslinya. Hebat tapi kerok menyatu. Makanya beliau dijuluki 'separo pebalet, separo gangster'. Sebenarnya Juve dibawanya jadi scudetto 2004/05, dan 2005/06. Tapi skandal Calciopoli membuyarkannya, dan dua gelar Bianconeri itu tak diakui negara. 

Jika pada 2004/05 dicabut paksa, maka di 2005/06 titelnya diberikan FIGC kepada Inter! Itulah kenapa Ibrahimovich setengah mati ingin gabung ke Inter. Dia tak mau membohongi dirinya sendiri! Fakta bicara. Sejak lelaki yang tingginya 192 cm ini gabung, maka selubung kutukan triskaidekaphobia, mitos angka 13 (jumlah titel scudetto hingga saat itu), yang melingkupi Inter belasan tahun pun, abrakadabra... copot dan lepas!

Di dua demam isu berikutnya Inter malah perkasa seolah tiada lawan. Ini jadi argumentasi yang menarik. Apakah semua itu Ibrahimovich? Karena jujur saja, andil Ibra amat mayoritas membawa Inter memungut titel scudetto ke-14, 15, dan 16-nya. Bahkan sebetulnya Ibra telah empat kali juara!

Ah, sudahlah. Yang pasti, selalu ada pesan yang tersirat di balik setiap masalah bahkan musibah. Zlatan Ibrahimovich adalah salah satu pemain bola yang mempercayai ketentuan Illahi itu. Dibekali dogma, keteguhan, doa dan kerja keras, maka tak hingga tiga tahun, gelar Serie A pun dalam genggamannya.


OSCAR DEL CALCIO 2008

 si pemberontak itu dinobatkan jadi yang terbaik di Serie A dalam pentas  Zlatan Ibrahimovic: Kemilau Oscar 2009

👏Pemain Terbaik: Zlatan Ibrahimovic (Inter)
   Nominator Lain: Alessandro Del Piero (Juventus), Daniele De Rossi (Roma), Andrea Pirlo (Milan), Ricardo Kaka  (Milan), Adrian Mutu (Fiorentina).

👏Pemain Italia Terbaik: Alessandro Del Piero (Juventus)
   Nominasi Lain: Daniele De Rossi (Roma), Andrea Pirlo (Milan).

👏Pemain Asing Terbaik: Zlatan Ibrahimovich (Inter)
   Nominator Lain: Ricardo Kaka  (Milan), Adrian Mutu (Fiorentina).

👏Pemain Muda Terbaik: Marek Hamsik (Napoli)
   Nominator Lain: Mario Balotelli (Inter), Sebastian Giovinco (Juventus).

👏Penjaga Gawang Terbaik: Gigi Buffon (Juventus)
   Nominator Lain: Sebastien Frey (Fiorentina), Julio Cesar (Inter).

👏Bek Terbaik: Giorgio Chiellini (Juventus)
   Nominator Lain: Philippe Mexes (Roma), Alessandro Nesta (Milan).

👏Pelatih Terbaik: Cesare Prandelli (Fiorentina)
   Nominator Lain: Carlo Ancelotti (Milan), Luciano Spalletti (Roma).

👏Wasit Terbaik: Roberto Rosetti
   Nominator Lain: Emidio Morganti, Massimiliano Saccani

👏Gol Terbaik: Zlatan Ibrahimovich (Inter)

👏Pendukung Terbaik: Stefano Borgonovo

OSCAR DEL CALCIO 1997-2008


2008 - Zlatan Ibrahimovich (Inter)
2007 - Ricardo Kaka (Milan)
2006 - Fabio Cannavaro (Juventus)/Real Madrid
2005 - Alberto Gilardino (Parma)/Milan
2004 - Ricardo Kaka (Milan)
2003 - Pavel Nedved (Juventus) & Francesco Totti (Roma)
2002 - David Trezeguet (Juventus)
2001 - Zinedine Zidane (Juventus/Real Madrid)
2000 - Francesco Totti (Roma)
1999 - Christian Vieri (Inter)
1998 - Luiz Ronaldo (Inter)
1997 - Roberto Mancini (Sampdoria/Lazio)

(foto: televisionando.it/tuttomercatoweb/isengali/gossip.it)

Thursday, August 28, 2008

Joszef Stalin: Propaganda Dinamo Moskva

London, Mei 1945, gumpalan kabut nan berair menyelimuti tempat White Hart Lane. Inggris sedang memasuki animo dingin jago serta dalam keadaan susah sehabis diporak-porandakan perang besar. Namun kali ini sebagian Londoner merasakan situasi yang lain dari sebelumnya. Salah satu alasan yaitu perhatian mereka pada sebuah tim Uni Soviet yang mondok usang, berbulan-bulan, di Tanah Britania Raya.

 gumpalan kabut nan basah menyelimuti kawasan White Hart Lane Joszef Stalin: Propaganda Dinamo MoskvaDinamo Moskva baru saja bikin geger massa usai menekuk klub top Arsenal, dengan skor 4-3 pada 21 Mei 1945 di White Hart Lane. Ada apa The Gunners bermain di kandang Spurs, musuh besarnya? Kenapa tidak di Highbury? Rupanya Highbury masih jadi barak dan gudang amunisi. Separo Highbury juga masih hancur balasan bombardir jet-jet Luftwaffe (angkatan udara Jerman) masa mengebom habis London. Orang kian penasaran sesudah Cardiff dibantai 10-1, dan menahan Chelsea 3-3 pada 13 November 1945 di depan 100.000 fans-nya yang menyemut di Stamford Bridge. 

Di Glasgow, Dinamo mengalahkan Celtic 1-0 dan seri 2-2 dengan Rangers. Publik boleh tetap awam dengan kedatangan Dinamo, namun tak begitu dengan ahli strategi dan militer serta pers. Mereka lebih menyelidiki motif di balik tur kampiun Uni Soviet itu, ketimbang kehebatannya menaklukkan klub-klub London. Namun tak mendapatkan apa-apa.

Beberapa politisi dan media massa curiga karena pemimpin Partai Buruh Inggris yang pro-komunis, Albert Victor Alexander, amat mesra dengan rombongan Dinamo. Teori dan informasi konspirasi bertebaran. Namun Dinamo, yang jelas-terperinci hanya berniat main bola di Inggris, terus menjalankan misinya. Hasilnya? Skenario berjalan mulus. Sepak bola Soviet tertoreh secara bagus dalam sejarah Inggris, juga dunia.

Pasca-Perang Dunia II, rezim Joszef Stalin mengawali seni manajemen politiknya dengan misi olah raga, dalam hal ini sepak bola. Dinamo dijadikan kelinci percobaan pertama. Dari Kremlin, Stalin yakin bahwa tur Dinamo ke Inggris dan Skotlandia akan berjalan sukses. Dia paham apa yang dikatakan sekutunya, Albert Victor Alexander, bahwa bangsa itu tetap 'mendidih' dikala keadaan hancur pun jikalau ditantang main bola. Stalin memahami, termasuk 'tahu' hasil karenanya.

Pendek kata Stalin meraih dua propaganda. Pertama, inilah cara untuk meyakinkan rakyat Soviet dan anggota Politbiro betapa sepak bola mereka jauh lebih kuat dari dedengkot kapitalis Eropa, bahkan di ketika perang dan setelah perang. Kedua, dengan mengirim Dinamo sebagai duta besar sepak bola, maka info ihwal kemenangan di Perang Dunia II akan bergema. Hasil Rusia di PD II dianggap seri karena dunia telah menyaksikan Sekutu-lah pemenangnya.

 gumpalan kabut nan basah menyelimuti kawasan White Hart Lane Joszef Stalin: Propaganda Dinamo Moskva
Tim tamu disambut Partai Buruh Albert Victor Alexander.
Dinamo ialah klub tentara, jadi spirit harus terus membara. Mereka mengobrak-abrik ibu kandung sepak bola. Jelang berkelahi, Dinamo protes keras sehabis manajer Arsenal George Allison tertangkap basah menurunkan pemain bantuan populer.

Dia ialah bintang Blackpool, Sir Stanley Matthews. Namun sebaliknya Arsenal justru tidak tahu siapa sebetulnya Vsevolod Bobrov, striker muda Dinamo yang jadi bintang duel di London. Sungguh ironis. Walau sama-sama memusuhi Jerman, namun Inggris dan Sekutu juga bermusuhan dalam bentuk ideologi. Rusia sosialis-komunis, Inggris kapitalis. 

Tak heran kalau harian The Times mendukung hasrat Allison yang mau menjadikan berkelahi melawan Dinamo juga sebagai sebuah peperangan. "Orang-orang Rusia itu mirip kembali mengajak kita berperang, kecuali Dinamo mampu bermain manis," tulis The Times pada tajuk utamanya.

Pemerintah Inggris dan The Times amat malu sesudah Arsenal kesudahannya kalah. Sebenarnya Bobrov bukan pemain Dinamo! Penyerang belia yang tengah menjadi top scorer Divisi Utama Liga Uni Soviet bergotong-royong pemain CSKA Moskva, tim yang berisikan barisan polisi diam-diam. Klub ini juga bikinan Stalin dengan menunjuk tangan kanannya dan kepala polisi diam-diam (OGPU) yang amat kesohor, Lavrenty Pavlovich Beria, sebagai pemimpinnya.

Hebohnya, bangsa Inggris juga tak tahu Bobrov juga seorang bintang hoki es. Selang sebelas tahun barulah mereka sadar ketika nama ini berjaya pada Olimpiade Musim Dingin 1956 di Italia. Bobrov, yang wafat pada 1 Juli 1979 di Moskva, alhasil dianugerahi pangkat kekal sebagai atlet terbaik Rusia sepanjang periode.

Dynamo Kyiv

 gumpalan kabut nan basah menyelimuti kawasan White Hart Lane Joszef Stalin: Propaganda Dinamo MoskvaBerbagai propaganda Stalin itu mengendap pada satu jiwa bahwa huruf bangsa masih tetap dihormati di Eropa. Sepak bola jadi senjata utama Soviet untuk memulihkan kepercayaan diri bangsa akibat pelecehan memalukan dari Jerman di Perang Dunia II. Jika tak dijepit Sekutu dari wilayah barat, mungkin Rusia dicaplok NAZI. Stalin punya tugas besar merekonstruksi negara. Infrastruktur yang ada hancur total. Jaringan telekomunikasi, listrik, sanitasi, dan air ikut musnah. Bahkan museum, bioskop, dan teater telah berkembang menjadi puing-puing. 

Padahal itulah daerah-daerah hiburan utama rakyat, yaitu menonton pertunjukkan seni. Entah itu tari atau senam. Satu-satunya bangunan yang luput dari penghancuran Nazi adalah stadion. Stalin menyadari minat rakyatnya pada sepak bola yang menurut data Beria bisa menyedot 12 juta orang untuk tiba ke stadion dalam satu kala. Sepak bola dijadikan info oleh Stalin untuk membangun kembali bangsanya. Wajar dalam kala waktu tiga tahun saja, popularitas Stalin di dalam negeri kembali terangkat. Dalam rapat Politbiro, ia membanggakan misinya di olah raga sebagai alat perjuangan di pentas internasional untuk periode depan Rusia.

Setelah kemenangan di Inggris dan Skotlandia itu, semua politisi dan wartawan di Rusia mesti mendalami politik olahraga. Sejarah juga mencatat, pada 1946 Rusia bergabung ke FIFA. Di tangan Stalin, liga dimodernisasi, sudah mengarah ke profesional dengan pemakaian pemain gila, terutama dari negara-negara satelit Rusia. Sejak saat itu militerisasi olah raga Uni Soviet tidak terelakkan, bahkan sepeninggal kepemimpinan abad Stalin.

Joszef Vissarionovich Stalin yakni diktator terkemuka di dunia. Dia bekerjsama bukan asli ras Rusia, melainkan Georgia, wilayah yang dianeksasi Rusia seusai Perang Dunia II. Lahir pada 6 Desember 1878 dengan nama orisinil Iosif Vissarionovich Dzugashvili. Nama Stalin, yang berarti baja (steel), dipakainya alasannya adalah kekaguman atas industrialisasi usai Revolusi Bolshevik. Sejak kecil Stalin dikenal memang menggemari sepak bola.

Salah satu anaknya, Vassilii, bahkan pernah mengelola klub CSKA bersama Lavrenty Beria, sobat Stalin yang sama-sama berasal dari Georgia. Tapi mimpinya mewujudkan Soviet Raya tak semudah yang dibayangkan. Banyak kendala ditemuinya, kekuatan sepak bola yang tidak ada di tangan mereka, namun Ukraina, salah satu negara yang baru saja dicaplok. Dan klub top mereka, Dynamo Kyiv, dikenal amat tangguh dalam kompetisi dalam negeri.

Insting politik Stalin pada Ukraina lebih berperan ketimbang mencari sisi positifnya. Dia gerah melihat kehebatan Dynamo Kyiv, yang dicurigainya sebagai simbol perlawanan rakyat Ukraina. Untuk itu dia sering membentuk klub-klub tandingan. Salah satunya ya Dinamo Moskva itu. Stalin amat gemar menggiring pemain Kyiv ke Gulag, kamp kerja paksa di Siberia. Hampir semua rakyat yang berasal dari Ukrainan diperlakukan amat diskriminatif.

Olimpiade 1956

 gumpalan kabut nan basah menyelimuti kawasan White Hart Lane Joszef Stalin: Propaganda Dinamo Moskva
Antrian jelang tabrak Arsenal vs Dinamo Moskva di White Hart Lane, 21 Mei 1945.
Nasib Dynamo Kyiv kian komplit saat Operasi Barbarossa yang dilancarkan Jerman mulai pada 6 November 1941. Beberapa bulan lalu, Stalin justru tepuk tangan alasannya tentara Adolf Hitler mengeksekusi mati para pemain top Dynamo Kyiv sehabis memenangkan 'duel persahabatan' atas tentara Jerman yang dikenal dengan Game of the Death. Namun di luar kejahatan politiknya, Stalin berjasa membangkitkan nasionalisme Soviet lewat olah raga.

Kejayaan awal olah raga Negeri Tirai Besi terjadi di Olimpiade Helsinki 1952. Pada pesta olah raga di Finlandia itu, Uni Soviet menempati urutan kedua di bawah AS, namun kesebelasan Soviet sukses meraih medali emas sepak bola dengan amat perkasa. Sejak saat itu Uni Soviet menobatkan diri sebagai salah satu kekuatan sepak bola dunia. Di 1950-an nyaris tak ada yang menandingi kekuatan sepak bola Blok Timur.

Swedia, finalis Piala Dunia 1958, dipermak 7-0 pada tabrak di Moskva, 8 September 1954. Juara dunia Jerman Barat kalah 2-3 pada adu 21 Agustus 1955. Usai Stalin tewas diracun pada 1953, spirit olah raga Soviet tetap terjaga. Di Olimpiade 1956 di Melbourne, mereka menjungkalkan hegemoni ikon kapitalis, AS, sesudah jadi juara umum. Bukan itu saja, Rusia mempertahankan emas sepak bola yang dalam perjalanannya melibatkan nama Indonesia.

Sebelum mengalahkan Yugoslavia 1-0 di selesai, dan Bulgaria 2-1 di semifinal, Soviet kewalahan meladeni Indonesia di perempatfinal sebelum menang 4-0. Rusia harus tanding ulang sebab sebelumnya ditahan 0-0 oleh Maulwi Saelan cs. Laga superpatriotik 29 November 1956 itu melahirkan banyak cedera di kedua belah pihak, termasuk kiper muda nan jago yang kelak melegenda, Lev Yashin.

Di sisi lain, Rusia juga menularkan spirit sepak bolanya ke Indonesia. Skuad Soviet dikala berlaga pada Olimpiade 1956 di Melbourne terdiri dari klub-klub tentara ini. Dinamo diwakili Lev Yashin, Boris Kuznetsov, dan Vladimir Ryzhkin. Dari Spartak Moskva, kapten tim Igor Nietto, Nikolay Tischenko, Anatoly Isayev, Boris Tatushin dan Sergey Salnikov. Dari CSKA, Anatoly Bashashkin, Josef Betza dan Boris Razinsky serta dari Torpedo, Valentin Ivanov dan Eduard Streltzov.

(foto: mirror/flashbak/russianfootballnews/listor)

Sunday, July 13, 2008

Euro 2008: Hiddink Lebih Mahir Dari Domenech

Grup C yang disebut-sebut sebagai Group of Death sungguhan memakan korban. Bukannya Belanda yang secara tradisional selalu dihinggapi penyakit lemah mental, tapi malahan diderita Prancis. Tim berjuluk Les Bleus, yang dipadati belasan pemain dengan kualitas top dan pengalaman mumpuni, nyaris disebut hancur total di turnamen ini.

 Bukannya Belanda yang secara tradisional selalu dihinggapi penyakit lemah mental EURO 2008: Hiddink Lebih Hebat Dari Domenech

Yang menyelamatkan tim ini dari kemiripan peristiwa World Cup 2002, hanyalah berkat penampilan mereka yang menjanjikan. Siapapun berdecak kagum dengan permainan Franck Ribery atau Karim Benzema. Bahkan Florent Malouda yang selama di Chelsea jarang meliak-liuk, mempertontonkan keahliannya berslalom merobek pertahanan lawan. Belum lagi peran Claude Makelele yang bau tanah-renta keladi, makin berumur makin tangguh.

Ada kesan, kegagalan utama Prancis disebabkan oleh cederanya kapten Patrick Vieira. Ini benar, tapi bekerjsama bukan yang utama. Kegagalan utama Prancis bahkan terjadi sebelum mereka berangkat ke turnamen! Saat merilis skuad, lagi-lagi pelatih Raymond Domenech menawarkan arogansi dus kekerasan hatinya.

Dia boleh lihai membaca lawan, tapi justru nol besar memahami psikologis dan kebutuhan skuadnya. Tak ada Philippe Mexes, Mathieu Flamini, Gael Clichy, atau Robert Pires. Pires? Ya. Kenapa tidak? Lihatlah aksi Thierry Henry yang amburadul tak keruan. Ada Henry mesti ada Pires. Itu rumusnya!

Statistik juga menerangkan, semenjak Pires dibelenggu Domenech, rekor gol Henry jadi seret. Lantaran Domenech punya urusan langsung unfinished business dengan Pires, ia dengan tegar hati mencampakan gelandang serang yang tahun ini meloloskan Villarreal ke Liga Champion 2008/09 itu.

Pires merupakan salah satu pemain yang paling mengerti kemauan Henry, barangkali selain Dennis Bergkamp dan Cesc Fabregas. Ketiga pemain inilah yang mendudukan TH14, atau TH12 di Les Bleus. Tanpa Pires, tampak Henry sering salah tingkah. Saking bingungnya dengan tekanan yang melanda diri dan timnya, Henry malah jahil memainkan kakinya yang berujung pada lahirnya gol kedua Italia yang menamatkan perjalanan mereka. O la la!

Strategi Blunder

Faktor kedua kegagalan Prancis ada di lini tengah. Jika Vieira masih diragukan tampil, kenapa tidak ada keputusan niscaya soal penggantinya? Seharusnya Mathieu Flamini. Kengototan khas Flamini akan membantu tugas Makelele agar konsen dengan peran utamanya. Ada Flamini dijamin Ribery tak akan kelayapan ke belakang mengejar-ngejar lawan. Barangkali dia tak akan cedera parah dikala melawan Italia. Lagi-lagi Domenech menafikan hal ini.

Adanya Flamini akan ikut membantu 'nafas' si gaek Lilian Thuram atau supaya tak termakan cedera. Faktor ketiga kelemahan Domenech, entah alpa atau sengaja, dia tak memanggil Philippe Mexes, si bek tengah AS Roma, yang jelas saja berguna alasannya adalah tahu betul isi dapur metoda serangan ala anak-anak Italia.

Seharusnya Domemech juga memanggil Clichy ketimbang Patrice Evra yang sudah 'habis' jikalau mengingat sepak terjang Manchester United di trend ini. Pendek kata, dari sisi teknis Domenech memang sudah kesulitan dengan materi yang ilham kreatifnya pas-pasan! Sisa kesalahan berikut Domenech ada di sisi strategi. Ketika ditahan Rumania 0-0 di partai perdana Grup C, agresi Prancis mirip di adu eksibisi saja. Jujur saja, saat itu permainan Les Bleus nggak terperinci mau apa, dan mirip tak punya leader melihat Vieira dan Henry mangkir.

Di partai kedua, berguru dari kesalahan, Prancis tampak ngotot habis dikala lawan Belanda. Sayang, modal ini tak cukup mengingat stamina para pemain De Oranje lebih oke plus seni manajemen jitu Marco van Basten. Rasa panik yang mencekam itu harus dibayar mahal, mereka justu digunduli, dipermalukan 1-4.

Kesempatan terakhir di Zurich lawan Italia berubah jadi legalisasi kehancuran strategi dan mesin perang Domenech. Orang ini blunder memainkan Eric Abidal jadi tandem William Gallas usai cederanya Thuram. Anehnya sesudah bek kiri Barcelona itu diusir wasit sebab menendang Luca Toni dari belakang, Tuan Domenech gres menurunkan Jean-Alain Boumsong.

Bukannya dari awal! Efek domino muncul. Ribery bekerja sangat keras, kemudian cedera parah. Henry panik dan stres, lalu kakinya membelokan bola tendangan Daniele De Rossi yang bekerjsama akan mudah ditangkap Gregory Coupet. Dengan satu poin, terang saja Prancis tersingkir dan jadi korban Group of Death; tapi gilanya dengan rekor menyakitkan: jadi juru kunci Grup C!

Awal menyakitkan tapi jadi tamat yang menyenangkan justru digapai di Rusia pada Grup D. Bermula Rusia ditampar keras 4-1 oleh tim Matador dalam langgar seru di Stadion Tivoli Neu, Insnsbruck, (10/6). Tiga gol David Villa dan Fernando Torres, bukan saja mengejutkan publik Rusia tapi bikin nyesek Guus Hiddink, sang pelatih. Maklum saja, ketika itu Rusia memainkan ball possession dengan apik bahkan menang 54% berbanding 46%. Namun begitu bola berpindah ke kaki-kaki pemain Spanyol dengan cepat, mereka tetap terkesima.

Berkilauannya nama-nama top di kubu Spanyol disinyalir yang membuat Igor Akenfeev cs. minder duluan sebelum bertarung, apalagi sang andalan, Andrei Arshavin, masih terkena larangan main. "Anda boleh sebut kami merogoh isi dompet dan menunjukkan seluruhnya pada Spanyol," begitu Hiddink menggambarkan hasil laga perdana timnya.

Di mata instruktur 'spesialis' semifinal ini, tim Tirai Besi tampil kekanak-kanakan dan naif alias lugu! Ini mengingatkan orang pada kiprah Yunani di Piala Dunia 1994 saat bertemu Argentina. Penyebabnya hampir semua pemain Yunani mengidolakan Diego Maradona dan menempeli kamarnya dengan poster sang bintang. Jadi dikala El Diego berlenggak-lenggok dengan bola, mereka bukannya merebut malah kebablasan takjub.

Pidato Hiddink

Barangkali tema peristiwa di Innsbruck nyaris sama. Bahkan belakangan diketahui bahwa lebih banyak didominasi pemain Rusia nge-fan berat dengan Barcelona. Hiddink, yang tahu betul setiap detil kejadian di sepak bola, eksklusif menepuk-nepuk pipi seluruh pemainnya semoga eling. Nah, inilah bedanya instruktur lengkap dengan yang setengah-tengah. Pada partai kedua di Stadion Wals-Siezenheim, Salzburg, (14/10), Rusia berdiri dan menang 1-0 atas juara bertahan Yunani lewat partai sengit bin alot. Melihat penampilan Rusia, cita-cita Hiddink sontak membuncah.

Ribuan suporter Rusia yang royal dan loyal itu sangat disayangkan bila harus angkat koper duluan dari gegap gempita Euro 2008. Sebelum pertandingan, Hiddink menyemproti anak buahnya dengan pidato-pidato membakar semangat. "Kalian mampu bermain bola dengan baik, buktikanlah! Tampilkan karakter dan kualitas kalian, ini tubruk penentuan hidup mati langkah kita. Jangan lupakan hal itu barang sedetik pun selama 90 menit!" umbar Hiddink berapi-api.

Rabu, 18 Juni, Hiddink dan pasukannya kembali ke Tivoli Neu, yang delapan hari lalu memberi kenangan jelek. Apa yang dilakukan Hiddink untuk menghapus sedikit syok? "Tiada jalan lain untuk bermain kecuali berusaha menang semenjak menit awal. Tanpa itu percuma!" sergahnya pada latihan terakhir. Bukan apa-apa, Swedia yaitu lawan yang paling dihormati Hiddink.

"Meski penduduknya cuma 8-9 juta orang, Swedia selalu mengatur timnya dengan baik di turnamen besar. Mereka bermain sederhana, terang dan konkret. Swedia tak mencari kemenangan dengan jalan bertahan atau bermain kotor. Kepercayaan diri mereka jago dan tak pernah panik. Swedia adalah skuad dengan kontrol dan konsentrasi andal," demikian Hiddink mendeskripsikan lawannya sebelum pertandingan.

Di satu sisi, Rusia ketambahan tenaga. Dialah Andrey Arshavin, sang bintang yang juga bekas kapten nasional di era pelatih Yuri Semin. Melihat dua kali absen, awalnya Hiddink ragu menurunkan Arshavin karena takut merusak irama permainan timnya. Tapi melihat status do or die langgar, hal itu sirna dengan sendirinya. Sungguh fenomenal, Arshavin malahan membayar akidah pelatihnya. Tak dinyana, Swedia dibabat 2-0 lewat gol Roman Pavlyuchenko dan Arshavin. 

Rusia lolos ke perempatfinal, melaju untuk menjemput impiannya: mengulangi euforia 1988 saat melaju ke selesai Piala Eropa di Jerman. Bagi Hiddink langsung, pelatih legendaris PSV Eindhoven di 1987-88 yang memberi treble winner, sukses ini melesakkan euforia pribadinya sebagai orang yang memang bertangan hambar. Julukan sebagai seorang ahli semifinalis terus menempel di dirinya. Orang terkenang yang beliau lakukan pada Belanda di Piala Dunia 1998 dan Korea Selatan di Piala Dunia 2002.

(foto: premiershiptalk/reuters/lavoixdunord)