Friday, February 15, 2008

Tatkala Sepak Bola Melahirkan Argentina

Don't cry for me, Argentina. Begitu suara memelas Madonna, yang memerankan Eva Peron dalam film Evita, saat melihat negeri yang beliau cintai terus digenangi konflik dan fanatisme berlebihan. Ya, mirip itulah stereotip bangsa Argentina dalam pergaulan global. Dan, dari lakon mirip itu pula negara dilahirkan lewat futbol.

Kapten 1986, Diego Maradona dari Boca Juniors.
Argentina yakni negeri para partisan, futbolista tiada duanya. Konflik eksternal, perang melawan Spanyol, si penjajah negara seluas 2,7 juta km persegi, sudah berakhir semenjak 9 Juli 1816. Perang Malvinas melawan musuh klasiknya, adalah Inggris, pun telah usai pada 1982. Namun obsesi di lapangan hijau percayalah, tidak pernah tuntas hingga kiamat.

Apalagi soal konflik internal nan kekal berjulukan sepak bola. Ini masih terjadi dan terus menghinggapi acara kehidupan sampai kini. Kericuhan politik antara konservatif versus liberal, antara sipil kontra militer termasuk faksi-faksinya, atau antara proletar ala Boca Juniors dengan borjuis khas River Plate.

Gontok-gontokan merasuk sampai ke tulang sumsum generasi ke generasinya. Apa pun dibikin fanatik. Bahkan saking lazimnya hal itu menjadi rutinitas kehidupan. Bicara futbolista, seorang anak akan dikutuk ayah-ibunya atau keluarganya bila membelot dari tradisi leluhur. Jika si ayah pendukung fanatik River Plate, maka haram hukumnya bagi si anak menjagoi Boca Juniors. Pun sebaliknya.

 saat melihat negeri yang ia cintai terus digenangi konflik dan fanatisme berlebihan Tatkala Sepak Bola Melahirkan Argentina
Pendukung Boca Juniors saat Superclasico.
Di Buenos Aires khususnya dan di pelosok negeri pada umumnya, anda boleh saja mengganti pekerjaan, kendaraan beroda empat, rumah, partai politik, atau malahan istri kalau berani, bila sudah bosan karena cinta yang meluntur contohnya. Tapi, Anda tak akan pernah bisa, bahkan sekadar memikirkan, untuk menukar klub sepak bola! Ini adalah dalil pertama bagi kebanyakan orang Argentina.

Sepak bola yakni segala dari segala sumber aturan, pandangan baru, dan apapun seterusnya sampai mereka sendiri yang bilang tidak atau bukan kepada Anda. Ideologi nasional dibangun dari sepak bola. Dari loyalitas berlebihan di sepak bola inilah warna kebangsaan Argentina dibuat. Argentina didirikan dari hikayat Futbol Argentino. Apapun bentuk dan lahan kehidupan akan diterjemahkan ke dalam terminologi futbolista.

Banyak nama klub yang terdengar ajaib karena dipaksa menjadi simbol sesuatu yang mereka lakoni, pikirkan, atau impikan. Bahkan - ini bukan bombastis kecuali fakta - hampir semua klub di Argentina, jauh lebih bau tanah dari usia negara Republik Indonesia, Soempah Pemoeda atau Boedi Oetomo sekalipun! Ada klub yang lahir hanya empat tahun sesudah Krakatau meleduk. Ada pula klub yang didirikan 23 tahun sebelum Titanic tenggelam.

Praktis hanya ada dua klub resmi yang baru nongol sesudah semua insiden bersejarah itu di atas. Arsenal De Sarandi (1957) dan satu lagi, jangan kaget alasannya panjang sekali namanya, Comision de Actividades Infantiles Comodoro Rivadavia (1984). Tak syak lagi, futbol telah menjadi way of life mutlak di negeri yang namanya berasal dari bahasa Latin, Argentum atau perak, itu. Pendek kata, futbol adalah bapak moyangnya Argentina, yang melahirkan negara.

Anti-Negritos?
 saat melihat negeri yang ia cintai terus digenangi konflik dan fanatisme berlebihan Tatkala Sepak Bola Melahirkan Argentina
Kapten 1978, Daniel Passarella dari River Plate.
Kecintaan pada futbol merupakan bentuk kasatmata dari Lingua Franca-nya peradaban bangsa Eropa yang mendirikan sebuah negeri gres di bumi Amerika Latin. Spanyol, Inggris, Italia, Jerman, dan Prancis merupakan bapak kandung Argentina. Keturunan mereka disebut Criollos, atau Oriundi khusus keturunan Italia, yang merupakan golongan mayoritas. Di bawah itu ada Mestizos (Indo Eropa-Indian) dan Gauchos, gabungan dari keduanya yang nenek moyangnya hidup nomaden, serta Guaranties, minoritas pegunungan.

Hingga sekarang kelima bahasa itu tetap dipakai turun-temurun, meski yang resmi yaitu bahasa Spanyol. Banyak orang Argentina fasih salah satu bahasa Italia, Prancis, atau Inggris. Bisa beberapa bahkan kesemuanya. Ini menunjukkan bahwa Argentina seperti seperti Amerika Serikat kecil, yang tak punya kultur asli kecuali bangsa Indian. Bedanya, bahkan dengan tetangganya, Brasil, di Argentina tak ada tempat bagi keturunan Afrika atau Negritos untuk berkembang. Tak asing kalau hingga sekarang sulit dijumpai pemain nasional Argentina yang kulitnya legam.

Sudah dari sananya, kehidupan di negara seluas 2,766 juta km persegi ini total Europe-minded. Apa pun. Politik berwarna Spanyol atau Italia. Ekonomi bermazhab Jerman, dengan patron Communist Manifesto dari duet maut Karl Marx-Frederick Engels. Glamor-nya ala Prancis, dan cita rasa-nya khas Italia termasuk paham fasis yang menyirami kehidupan elitis negara temuan pelaut Spanyol Juan Diaz de Solis ini.

Inggris? Bangsa ini menghipnotis Argentina dari sektor edukasi, industri, dan kapitalisme. Gongnya adalah lewat periode Revolusi Industri, yakni ketika Inggris membangun jaringan kereta api dan telekomunikasi. Para konstruktor dan pekerja Inggris itu yang menyebarkan Homo Ludens baru, yaitu futbol. 

 saat melihat negeri yang ia cintai terus digenangi konflik dan fanatisme berlebihan Tatkala Sepak Bola Melahirkan Argentina
Begini suporter River Plate ketika ada clasico.
Selain mengenalkan, Englishmen juga mengorganisasi peraturan, klub-klub, stadion, dan asosiasi permainan yang amat diminati kaum middle class itu. "Sampai 1910, para pemain nasional banyak berjulukan Inggris, dan dominan dari kelas menengah. Kini mereka anti. Kata mereka inilah sepak bola khas Argentina," papar pakar sejarah mereka, Prof. Eduardo Archetti.

Berbau Inggris

Dari studi guru besar antropologi Universitas Oslo ini diketahui juga bahwa mereka mendapatkan salinan pertama segala tata cara dan peraturan teknis yang dikeluarkan FA (Federasi Sepak Bola Inggris) yang dikirimkan anggotanya kepada seorang editor koran harian berbahasa Inggris di Buenos Aires pada 1867, atau cuma selang empat tahun setelah berdirinya FA!

Hal ini mengartikan Argentina bahwa menjadi negara pertama di luar Britania Raya yang menggunakan peraturan baku yang orisinal (fresh from panggangan). Argentina sudah mengenal sepak bola modern sebelum ada goal-kick (1869), waktu pertandingan yang 90 menit (1877), peluit (1878), gawang memakai jala (1890), tendangan penalti serta penggunaan satu wasit plus dua hakim garis (1891).

Klub sepak bola pertama di Argentina ialah Buenos Aires FC, yang bangun pada 1865, yang juga berarti lebih bau tanah dari Arsenal, Chelsea, atau Manchester United sekalipun! Dan hampir pasti, sehabis Britania induk semang sepak bolanya, Argentina yaitu negara pertama di dunia yang memiliki kompetisi liga pada 1892!

 saat melihat negeri yang ia cintai terus digenangi konflik dan fanatisme berlebihan Tatkala Sepak Bola Melahirkan Argentina
Suasana di kampung Xeneize punya River Plate.
Italia baru mendapatkan sepak bola pada 1893. Swedia 1875, Rusia 1887, Denmark 1889. Dua tetangga Argentina, yaitu Uruguay dan Brasil, malah lebih telat lagi. Di Uruguay, futbol dikenalkan oleh seorang profesor Inggris yang menjadi guru besar di Universitas Montevideo pada 1882. Sementara itu, Charles Miller baru membawa sepak bola ke Brasil pada 1890.

"Inggris dengan kekuatan kulturnya mengenalkan permainan ini kepada kami dan kami mendirikan negara ini dengan sepak bola," cetus Archetti. Sepak bola Argentina sangat berbau Inggris. Mereka menentukan nama Boca Juniors atau River Plate ketimbang Rio de la Plata contohnya. Sebut juga Racing Club, Banfield, Newell's Old Boys, bahkan Arsenal (Futbol Club de Sarandi)!

Klub terakhir yang bangkit 1957 ini memang sengaja dibikin sama dengan aslinya yang di Inggris lantaran salah satu pendirinya mengagumi The Gunners yang tengah berjaya di Liga Inggris masa 1950-an. Mau tahu siapa pencetusnya? Julio Grondona, yang kini yaitu Presiden AFA (Federasi Sepak Bola Argentina)!

Aneksasi Azzurri

Oriundi dan Criollos adalah kunci lahirnya sebuah negara yang berjulukan Argentina dan kebanggaannya, Futbol Argentino. Membludaknya imigran dari selatan Eropa pada awal abad 20 makin memperkukuh dua pilar itu. Bahkan bangsa-bangsa Eropa merasakan nikmatnya menerima feedback.

 saat melihat negeri yang ia cintai terus digenangi konflik dan fanatisme berlebihan Tatkala Sepak Bola Melahirkan Argentina
Satu sudut di kampung Republik Boca.
Sebelum paparan Archetti, pada periode 1920 sampai 1930-an para wartawan Argentina telah menguraikan daya magis lewat ideological construct of a national style of playing football usai melihat kesuksesan Italia menjadi juara dunia pertama kali pada 1934. Bukan dari tekanan diktator Benito Il Duce Mussolini yang membuat skuad asuhan Vittorio Pozzo menjadi kampiun, tapi lewat jasa para Oriundi yang bermain di Serie A.

Gli Azzurri menjadi juara dunia sehabis menganeksasi empat pemain kelahiran Argentina, yakni Raimundo Orsi Bibiani (Juventus), Enrique 'Enrico' Guaita (AS Roma), Luis 'Luisito' Fernando Monti (Juventus), dan Attilio De Maria (Internazionale), yang juga ialah pendekar Albiceleste dan Argentina di Olimpiade 1928 dan Piala Dunia 1930! 

Sepak bola yakni arwah kehidupan rakyat. As you live, so you play adalah kepercayaan. Prestasi jadi pujian langsung, keluarga, kelompok atau komunitas. Sebuah kenikmatan ragawi tak ternilai. Ini yakni sebuah realitas yang sulit dihindari sampai kapan pun.

Di Argentina, sulit bagi pemain bola untuk tidak dicintai dan dibenci sekaligus. Tidak ada pahlawan sejati di lapangan hijau yang diakui bangsa. Tak terkecuali pada Daniel Passarella (River Plate) dan Diego Maradona (Boca Juniors), dua pemimpin paling terkenal yang seharusnya jadi simbol pemersatu setelah Albiceleste berjaya pada 1978 dan 1986.

 saat melihat negeri yang ia cintai terus digenangi konflik dan fanatisme berlebihan Tatkala Sepak Bola Melahirkan Argentina
Gelegar suporter ultra isyarat Barra Bravas.
Bencana lebih besar akan lahir begitu kegagalan tiba. Ia akan merusak jasmani dan rohani, mengganggu denyut nadi kehidupan dan integritas nasional. Organisasi suporter paling radikal di dunia, paling ditakuti dari polisi sampai FBI, adalah Barra Bravas, juga dilahirkan Argentina. Pantaslah jika pada 1978 sastrawan kondang Jorge Luis Borges pernah bilang, "Di Argentina sepak bola yaitu sebuah malapetaka".

Liga Gladiator

Berkat sejarahnya yang terbilang bau tanah, tak syak lagi, Futbol Argentino merupakan salah satu yang paling bermutu di dunia. Karena itu, wajar jikalau Liga Argentina disebut-sebut yang terbaik di luar Eropa. Buktinya, orang Amerika mau membayar untuk menonton siaran langsungnya.

Atmosfer yang terpancar di Liga Primera Division sungguh luar biasa. Bak sebuah energi kinetik, yang kian lama kian membesar, menggelegak kolam magma. Sumber dari segala sumbernya adalah fanatisme, loyalitas dan sentimen yang sah menemani sepak bola, melengkapi instrumen ritual yang selalu terjadi dan terjadi.

 saat melihat negeri yang ia cintai terus digenangi konflik dan fanatisme berlebihan Tatkala Sepak Bola Melahirkan Argentina
Barra Bravas juga ada di kubu Boca.
Lalu semua itu bercampur dengan mutu tinggi dan atraksi permainan serta aksi-agresi brutal sekelompok pendukung ultra yang dikreasi Barra Bravas, yang selalu menimbulkan sepak bola sebagai sebuah tontonan gladiator. Rivalitas yaitu kata kuncinya. Celakanya yang paling berdarah-darah kebanyakan ada di Buenos Aires.

Di ibu kota negara yang sekaligus ialah sebuah kawasan otonomi khusus itu sedikitnya ada empat klub bertetangga yang saling berseteru tujuh turunan alias derby. Mereka menjuluki sebuah Big Match dengan sebutan Clasico. Malah kadang lebih hebat lagi: Superclasico. Pemilik lakon Superclasico terbesar tiada lain dan tidak bukan adalah bentrokan antara klub elite di Buenos Aires City, Boca Juniors, melawan River Plate.

Entah setan apa yang membuat kedua klub ini selalu berseteru selama tujuh turunan. Selain imbas dari zaman resesi ekonomi dunia yang menyapu Argentina di 1930-an, kelakuan yang diperlihatkan Italia dikala mencomot tiga pemain Albiceleste ke dalam Gli Azzurri menjelang Piala Dunia 1934 - atas perintah - sang paduka Benito Mussolini adalah faktornya.
 saat melihat negeri yang ia cintai terus digenangi konflik dan fanatisme berlebihan Tatkala Sepak Bola Melahirkan Argentina
Simbol utama kekuasaan Boca Juniors.
La Boca's Calle Caminito, salah satu blok kumuh di Buenos Aires yang menjadi tempat lahirnya tarian tango dan sarang komunitas Gallinas sering dilanda ketegangan. Kaum keturunan Italia Selatan asal Napoli mencerca cara Azzurri. Sikap para Gallinas ini berbeda dengan kubu Los Millonarios alias River Plate yang pro Il Duce. Gallinas adalah sebutan pendukung River kepada pendukung Boca Juniors yang secara harfiah berarti chicken alias pengecut!

Sementara itu, kubu Xeneize, bahasa cibiran orang-orang dari Genova, Italia Utara, yang merupakan asal muasal tradisi River Plate, malah memanggil suporter Boca dengan Bosta atau Bosteros, yang maknanya, maaf, tahi! Ini alasannya kampung Boca berada di pinggiran sungai Plata yang biasanya amis. "River-lah juara sejati," kata Javier Bartoli, konsultan mahir yang mendukung River. "Saya hanya punya beberapa teman dari klub lain tapi bukan dari Boca. Kita telah setuju, mereka ialah monyet-simpanse yang fanatik! Mereka tidak mengerti sepak bola".

 saat melihat negeri yang ia cintai terus digenangi konflik dan fanatisme berlebihan Tatkala Sepak Bola Melahirkan Argentina
Bentrok suporter Boca antar faksi.
Anehnya, perseteruan kedua kelompok ini hanya dibatasi beberapa blok. Markas besar Boca, yang bernama Estadio La Bombonera, berjarak tidak sampai 3 kilometer dari stadion River, Estadio El Monumental. Jika sudah terjadi clash, konon polisi yang menangani kerusuhan juga sering kikuk karena dari mereka juga ada yang pro atau anti terhadap kedua klub itu.

"Kami tak pernah ambil pusing dengan panggilan itu. Kami besar hati dengan tradisi kami yang terperinci, tak mirip mereka," ucap Ariel Nasarela, seorang pengacara dan pencinta mati (die-hard) Boca Juniors. Selain Boca dan River, superclasico terpanas kedua ialah antara Independiente versus Racing Club, dua klub yang berada di Buenos Aires. Lalu satu kelas di bawahnya lagi yaitu clasico antara dua klub asal kota Rosario, Rosario Central dan Newells Old Boys.
 saat melihat negeri yang ia cintai terus digenangi konflik dan fanatisme berlebihan Tatkala Sepak Bola Melahirkan Argentina
Kelakuan pendukung River Plate saat kalah.
Bolehlah Jorge Borges mengkritik kelakuan bangsanya bila sudah menyangkut sepak bola. Boleh jadi itu tak lengkap, alasannya adalah pada faktanya dari biasa menghadapi peristiwa, mereka jadi mampu mengelola peristiwa itu hingga melahirkan negara lewat sepak bola dan Albiceleste yang membanggakan bangsa!

Namun sayangnya hingga kini, akibat kebanyakan melakoni drama dan telenovela di dalam negerinya, Futbol Argentino baru sukses meraih dua kali titel juara dunia (1978 dan 1986), 14 kali juara Amerika Selatan, enam kali juara Amerika, dan sekali juara Olimpiade (2004). Lumayan sih jikalau dibanding Inggris gurunya, namun seharusnya mampu jauh lebih ahli lagi.


KLUB-KLUB TERNAMA ARGENTINA


 saat melihat negeri yang ia cintai terus digenangi konflik dan fanatisme berlebihan Tatkala Sepak Bola Melahirkan Argentina
ALMAGRO
Nama Resmi: Club Almagro
Berdiri: 1911
Lokasi: Buenos Aires, D.F.
Stadion: Jose Ingenieros (12.000)

ARGENTINOS JUNIORS
Nama Resmi: Asociacion Atletica Argentinos Juniors
Berdiri: 1904
Lokasi: Buenos Aires, D.F.
Stadion: Ricardo Etcheverry (24.858)
Titel: Copa Libertadores 1985; Liga Argentina 1986

ARSENAL DE SARANDI 
Nama Resmi: Arsenal Futbol Club
Berdiri: 1957
Lokasi: Sarandi, Buenos Aires
Stadion: Viaducto (10.000)

BANFIELD 
Nama Resmi: Club Atletico Banfield
Berdiri: 1896
Lokasi: Banfield, Buenos Aires
Stadion: Florencio Sola (30.000)

BOCA JUNIORS 

 saat melihat negeri yang ia cintai terus digenangi konflik dan fanatisme berlebihan Tatkala Sepak Bola Melahirkan ArgentinaNama Resmi: Club Atletico Boca Juniors
Berdiri: 1905
Lokasi: Buenos Aires, D.F.
Stadion: La Bombonera (60.245)
Titel: Intercontinental Cup (3x): 1977, 2000, 2003; Copa Libertadores (5x): 1977, 1978, 2000, 2001, 2003; Copa Sudamericana (1x): 2004; Supercopa Libertadores 1989; Recopa 1989; Liga Argentina (24x): 1919, 1920, 1923, 1924, 1926, 1930, 1931, 1934, 1935, 1940, 1943, 1944, 1954, 1962, 1964, 1965, 1969, 1970, 1976, 1993, 1999, 1999, 2001, 2004

COLON 
Nama Resmi: Club Atletico Colon
Berdiri: 1905
Lokasi: Santa Fe, Santa Fe
Stadion: Brigadier Lopez (32.000)

ESTUDIANTES 
Nama Resmi: Club Estudiantes de La Plata
Berdiri: 1905
Lokasi: La Plata, Buenos Aires
Stadion: Jorge Luis Hirschi (28.000)
Titel: Intercontinental Cup 1968; Copa Libertadores (3x): 1968, 1969, 1970; Liga Argentina 1983

GIMNASIA LA PLATA 
Nama Resmi: Club de Gimnasia y Esgrima La Plata
Berdiri: 1887
Lokasi: La Plata, Buenos Aires
Stadion: Juan Carlos Zerillo (20.461)
Titel: Liga Argentina 1929

HURACAN
Nama Resmi: Club Atletico Huracan Tres Arroyos
Berdiri: 1923
Lokasi: Tres Arroyos, Buenos Aires
Stadion: Roberto Lorenzo Bottino Argentina (7.000)

INDEPENDIENTE 
Nama Resmi: Club Atletico Independiente
Berdiri: 1905
Lokasi: Avellaneda, Buenos Aires
Stadion: Doble Visera de Cemento (57.901)
Titel: Intercontinental Cup (2x): 1973, 1984; Copa Libertadores (7x): 1964, 1965, 1972, 1973, 1974, 1975, 1984; Supercopa Libertadores (2x): 1994, 1995; Recopa (1x): 1994; Liga Argentina (11x): 1938, 1939, 1948, 1960, 1963, 1967, 1977, 1978, 1989, 1994, 2003

INSTITUTO CORDOBA 
Nama Resmi: Instituto Atletico Central Cordoba
Berdiri: 1918
Lokasi: Cordoba, Cordoba
Stadion: Juan Domingo Peron (26.535)

LANUS 
Nama Resmi: Club Atletico Lanus
Berdiri: 1915
Lokasi: Lanus, Buenos Aires
Stadion: La Fortaleza (44.000)
Titel: Copa Conmebol 1996

NEWELL'S OLD BOYS 
Nama Resmi: Club Atletico Newell's Old Boys
Berdiri: 1903
Lokasi: Rosario, Santa Fe
Stadion: Parque Independencia (42.000)
Titel: Liga Argentina (3x): 1988, 1991, 1992

OLIMPO 
Nama Resmi: Club Olimpo
Berdiri: 1910
Lokasi: Bahia Blanca, Buenos Aires
Stadion: Roberto Natalio Carminatti (15.000)

QUILMES 
Nama Resmi: Quilmes Atletico Club
Berdiri: 1887
Lokasi: Quilmes, Buenos Aires
Stadion: Centenario (33.000)
Titel: Liga Argentina 1912

RACING CLUB 
Nama Resmi: Racing Club
Berdiri: 1903
Lokasi: Avellaneda, Buenos Aires
Stadion: Presidente Peron (55.000)
Titel: Intercontinental Cup 1967; Copa Libertadores 1967; Supercopa Libertadores 1988; Liga Argentina (13x): 1913, 1914, 1915, 1916, 1917, 1918, 1949, 1950, 1951, 1958, 1961, 1966, 2002

RIVER PLATE 

 saat melihat negeri yang ia cintai terus digenangi konflik dan fanatisme berlebihan Tatkala Sepak Bola Melahirkan ArgentinaNama Resmi: Club Atletico River Plate
Berdiri: 1901
Lokasi: Buenos Aires, D.F.
Stadion: El Monumental (76.687)
Titel: Intercontinental Cup 1986; Copa Libertadores (2x): 1986, 1996; Supercopa Libertadores 1997; Liga Argentina (28x): 1932, 1936, 1937, 1941, 1942, 1945, 1947, 1952, 1953, 1955, 1956, 1957, 1975, 1979, 1981, 1986, 1990, 1992, 1994, 1995, 1997, 1997, 1998, 2000, 2000, 2002, 2003, 2004

ROSARIO CENTRAL 
Nama Resmi: Club Atletico Rosario Central
Berdiri: 1889
Lokasi: Rosario, Santa Fe
Stadion: El Gigante de Arroyito (41.654)
Titel: Copa Conmebol 1995; Liga Argentina (4x): 1971, 1973, 1980, 1987

SAN LORENZO 
Nama Resmi: Club Atletico San Lorenzo de Almagro
Berdiri: 1908
Lokasi: Buenos Aires, D.F.
Stadion: Pedro Bidegain (42.000)
Titel: Copa Sudamericana 2002; Copa Mercosur 2001; Liga Argentina (8x): 1927, 1933, 1946, 1959, 1972, 1974, 1995, 2001

VELEZ SARSFIELD 
Nama Resmi: Club Atletico Velez Sarsfield
Berdiri: 1910
Lokasi: Buenos Aires, D.F.
Stadion: Jose Amalfitani (49.747)
Titel: Intercontinental Cup 1994; Copa Libertadores 1994; Supercopa Libertadores 1996; Recopa 1996; Liga Argentina (5x): 1968, 1993, 1996, 1996, 1998

ATLETICO RAFAELA 
Nama Resmi: Asociacion Mutual Social y Deportivo Atletico de Rafaela
Berdiri: 1907
Lokasi: Rafaela, Santa Fe
Stadion: Monumental (11.000)

BELGRANO 
Nama Resmi: Club Atletico Belgrano
Berdiri: 1905
Lokasi: Cordoba, Cordoba
Stadion: Gigante de Alberdi (28.000)

CAI COMODORO RIVADAVIA
Nama Resmi: Comision de Actividades Infantiles
Berdiri: 1984
Lokasi: Comodoro Rivadavia, Chubut
Stadion: Municipal Comodoro Rivadavia (10.000)

CHACARITA JUNIORS
Nama Resmi: Club Atletico Chacarita Juniors
Berdiri: 1906
Lokasi: Buenos Aires, D.F.
Stadion: Chacarita Juniors (24.300)

DEFENSA Y JUSTICIA
Nama Resmi: Defensa y Justicia
Berdiri: 1935
Lokasi: Florencio Varela, Buenos Aires
Stadion: Norberto Tito Tomaghello (8.000)

DEFENSORES DE BELGRANO
Nama Resmi: Club Atletico Defensores de Belgrano
Berdiri: 1906
Lokasi: Buenos Aires, D.F.
Stadion: Defensores de Belgrano (8.300)

EL PORVENIR
Nama Resmi: Club El Porvenir
Berdiri: 1915
Lokasi: Gerli, Buenos Aires
Stadion: Enrique de Roberts (14.000)

FERRO CARRIL OESTE
Nama Resmi: Club Ferro Carril Oeste
Berdiri: 1904
Lokasi: Buenos Aires, D.F.
Stadion: Ricardo Etcheverry (24.858)
Titel: Liga Argentina (2x): 1982, 1984

GIMNASIA JUJUY
Nama Resmi: Club Atletico Gimnasia y Esgrima de Jujuy
Berdiri: 1931
Lokasi: San Salvador de Jujuy, Jujuy
Stadion: 23 de Agosto (23.000)

GODOY CRUZ
Nama Resmi: Club Deportivo Godoy Cruz Antonio Tomba
Berdiri: 1921
Lokasi: Godoy Cruz, Mendoza
Stadion: Feliciano Gambarte (14.000)

ATLETICO HURACAN
Nama Resmi: Club Atletico Huracan
Berdiri: 1908
Lokasi: Buenos Aires, D.F.
Stadion: Tomas Adolfo Duco (48.314)
Titel: Liga Argentina (4x): 1921, 1922, 1925, 1928

JUVENTUD ANTONIANA
Nama Resmi: Club Juventud Antoniana
Berdiri: 1915
Lokasi: Salta, Salta
Stadion: Fray Honorato Pistoia (8.000)

NUEVA CHICAGO
Nama Resmi: Club Atletico Nueva Chicago
Berdiri: 1911
Lokasi: Buenos Aires, D.F.
Stadion: Nueva Chicago (28.500)

RACING CORDOBA
Nama Resmi: Club Atletico Racing de Cordoba
Berdiri: 1924
Lokasi: Cordoba, Cordoba
Stadion: Miguel Sancho (20.966)

SAN MARTIN DE MENDOZA
Nama Resmi: Club Atletico San Martin de Mendoza
Berdiri: 1927
Lokasi: Mendoza, Mendoza
Stadion: General San Martin (9.000)

SAN MARTIN DE SAN JUAN
Nama Resmi: Club Atletico San Martin de San Juan
Berdiri: 1907
Lokasi: San Juan, San Juan
Stadion: 27 de Septiembre (13.000)

SARMIENTO
Nama Resmi: Club Atletico Sarmiento de Junin
Berdiri: 1911
Lokasi: Junin, Buenos Aires
Stadion: Eva Peron (16.000)

TALLERES
Nama Resmi: Club Atletico Talleres
Berdiri: 1913
Lokasi: Cordoba, Cordoba
Stadion: Negro Alvarez (25.000)
Titel: Copa Conmebol 1999

TITO FEDERAL
Nama Resmi: Club Atletico Tiro Federal Argentino
Berdiri: 1905
Lokasi: Rosario, Santa Fe
Stadion: Tiro Federal Argentino (18.000)

UNION DE SANTA FE
Nama Resmi: Club Atletico Union
Berdiri: 1907
Lokasi: Santa Fe, Santa Fe
Stadion: 15 de Abril (22.852)

(foto: futbolargentino/emaze/triviaslocas/experienceproject/buenosairesherald/piuraciudad)

Monday, January 7, 2008

Problem Tanggung Jawab Pssi

Saat menjalani peran jurnalistik ke luar negeri, aku sering dibuat terdiam oleh pertanyaan sepele. Mulai dari petugas imigrasi, sopir taksi, resepsionis hotel, para rekan wartawan, kadang sampai pemain bilang begini: "Wah, dari Indonesia? Untuk apa Anda datang jauh-jauh ke sini cuma bukan untuk sepak bola negara Anda?"

Saat menjalani tugas jurnalistik ke luar negeri Persoalan Tanggung Jawab PSSI
Banyak ragam pertanyaan yang saya harus jawab dengan cara elegan seraya mengakui kebenaran prinsip right or wrong is my country. Saya katakan hampir sebagian besar orang Indonesia penggemar dan melek sepak bola. Walau demikian, ada juga saatnya aku terpojok, yang bikin hati mangkel plus napas di hidung jadi panas. "Apa Indonesia punya kompetisi liga?" kata seorang petugas imigrasi di Polandia pada 1997, entah karena iseng atau lugu.

Ketika aku ceritakan bahwa di Indonesia malah ada liga "sepak bola api", yang sering dipertandingkan santri-santri di pesantren itu, giliran dia yang melotot. Sepak bola Indonesia memang mudah dilecehkan sehingga dijamin tak akan pernah mampu sombong se-ASEAN saja.

Jangankan dunia, kita saja kadang sebal dengan apa yang terjadi di kompetisi liga dan tim nasional contohnya. Dalam perjalanan, seorang wanita Italia bertanya pada aku, "Apakah di negara anda mencetak gol ke gawang sendiri merupakan seni manajemen yang lazim?" Nah!

Saya tergagap sambil cepat-cepat mengingat apa yang telah terjadi. Tapi, aku benar-benar terpojok. Rupanya ia masih tak habis pikir dengan gol bunuh diri ala PSSI dikala melawan Thailand di Piala Tiger 1998. Untuk menghindari Vietnam di semifinal, saat itu mereka bikin seni manajemen memalukan sejagat sepanjang masa: memasukkan bola ke gawang sendiri, kemudian merayakannya! Tidak hanya pemain Thailand, para penonton di stadion, apalagi dunia, kita saja yang menonton pribadi dari TV dalam sekejap juga tercengang.

Mungkin ini pelajaran mahal buat PSSI. Apa pun yang terjadi, yang telah dilakukan cepat atau lambat akan diketahui dunia. Yang pasti, orang-orang mirip aku bisa menanggung getahnya. Apakah pejabat PSSI pernah punya pengalaman serupa? Bicara soal sepak bola Indonesia memang tiada habisnya. Episode per episode berisi keributan, kekacauan, kecurangan, dan kesemrawutan. Kita terus dikungkung paradoks seumur hidup, mungkin dari belum dewasa sampai jadi kakek-kakek nanti. Antara yang dilihat dan dirasakan benar-benar tidak nyambung!

Ketika menyaksikan Euro 2004, Liga Inggris, atau sekarang Liga Champion, otak, hati, dan mata kita seolah-olah bekerja tepat. Memang demikianlah sepak bola, bung! Lantas sehabis ganti saluran TV, dan kebetulan ada anak bangsa tengah main, entah itu dengan sesama atau negara lain, jujur saja, pertama kita berharap penuh, lalu impian tinggal separuh, tapi selanjutnya dan selebihnya ialah umpatan.

Masalah tim nasional bukan lagi teknis, melainkan juga psikis. Itu gampang terlihat di kancah Piala Asia 2004 dan Pra-Piala Dunia 2006. Kita ternyata sekelas dengan Sri Lanka. Saya bergumam dalam hati, "Sebentar lagi bisa jadi kita dikejar Filipina atau Timor Leste." Alamak! Enam tahun sesudah peristiwa yang memojokkan aku itu, ternyata PSSI dan sepak bola Indonesia telah "berubah". Sayangnya berubah makin semrawut. Enam tahun kemudian itu, Turki, Yunani, dan Latvia masih wangi kencur di pelataran Eropa. Kini, lihatlah prestasi mereka.

AFC Khawatir

Di Asia, kinerja VFF ("PSSI" Vietnam) sukses mengangkat harkat bangsa itu. Korea Selatan kini amat respek sehabis pernah dikalahkan di Pra-Olimpiade 2004 dan terlihat setara saat tanding di Pra-Piala Dunia 2006. Belum lagi Irak, yang frekuensi bom bunuh dirinya jauh lebih sering, kini telah berstatus semifinalis Olimpiade 2004.

Hiruk-pikuk menonton sepak bola Indonesia mampu seperti dagelan di panggung Srimulat atau tayangan krmininal. Ada lawakan, ledekan, tertawaan, juga ketakutan bahkan bagi yang tidak tahu-menahu soal bola. Suasana faktual yang mampu ditangkap paling cuma fanatisme.

Jika di Eropa misalnya main bola yaitu sebuah peluang besar, di Indonesia justru sebuah usaha besar. Jangan lagi mengincar prestasi atau karier, bermain kondusif dan nyaman saja susah. Pasalnya si pemain dengan gampang bocor kepalanya disambit kerikil bata. Yang agak mendingan mungkin dihantam lawan entah di muka, perut, atau kaki.

Sepak bola PON XVI kemarin misalnya. Ada kiper yang patah kaki, wasit yang diburu penonton bak orang-orang Aborigin menguber-uber kanguru untuk disate, juga seorang instruktur yang sempat kehilangan doktrin diri menjadi manusia sebab sewaktu ditimpuki batu dia merasa seperti seekor bekantan kesasar ke perkampungan warga.

Pendek kata, dari motif dan tingkah lakunya sepak bola nasional seperti menentang dan menantang peradaban insan, jauh sekali dari sila kedua Panca Sila yang puluhan tahun menjadi falsafah bangsa, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab.

Bagaimana menyelesaikan semua ini? Apakah DPR atau presiden yang baru nanti harus turun tangan semoga menyebabkan sepak bola sebagai olahraga terlarang mirip raja-raja Inggris dulu (Edward III, Richard II, Henry IV dan V)?

Bukankah sesuatu yang tak berkhasiat atau berbahaya bagi orang banyak mampu disebut sebagai kemudaratan? Jauh sebelum AFC, via sekjennya, Dato' Peter Velappan, menyatakan, aku telah yakin bahwa sumber permasalahan yakni PSSI karena secara positif organisasi inilah yang memang bertanggung jawab atas acara sepak bola di Indonesia.

Akhirnya AFC urun rembuk untuk membenahi PSSI melalui acara Vision Asia. Tujuannya yaitu menaikkan standar sepak bola Indonesia di masa globalisasi. Sebanyak 240 juta penduduk Indonesia ialah tambang emas sepak bola tiada tara di Asia. Seharusnya itu mampu mengangkat alis mata tinggi-tinggi.

PSSI yaitu organisasi besar, ingin menjadi besar tapi juga takut besar karena dikelola tanpa cita-cita besar. Satu yang sepele: situs resmi saja mereka tidak punya. Bagaimana PSSI mampu mendapat feedback yang orisinal dari masyarakat? Selama ini PSSI hanya mengharapkan kontrol dan input dari media massa. Itu saja ternyata belum cukup.

(foto: primadaily.com)

Friday, June 29, 2007

Prize Money Premier League 2006/07: Komposisi Dan Titik Balik

Napak tilas perjalanan Premier League animo 2006/07 cukup dinamis dan menegangkan, bukan saja soal perebutan titel namun juga rebutan masuk empat besar. Di atas antara Manchester United vs Chelsea, lalu di bawahnya antara Arsenal vs Tottenham Hotspur. Bahkan juga di jalur degradasi. Setelah dianalisis mendalam, kepantasan pun terjadi terutama melihat titik balik yang mereka lakukan.

Napak tilas perjalanan Premier League musim  Prize Money Premier League 2006/07: Komposisi dan Titik Balik
MANCHESTER UNITED
Peringkat: 1
Prize Money: £9,67 juta ( Rp 167.078.260.000)*
Aparel: Nike
Sponsor: AIG
Stadion: Old Trafford (76.312)
Penonton Terbanyak: 76.098 (vs Blackburn Rovers 4-1, 31 Maret 2007)
Pemain Kunci: Cristiano Ronaldo (Portugal)
Kapten Tim: Gary Neville
Manajer: Sir Alex Ferguson (Skotlandia)
Duel Vital: 28 April 2007 (Everton vs Manchester United 2-4)
Tertinggal 0-2, Red Devils secara luar biasa membalikkan keadaan, mencetak empat gol, hanya gara-gara diilhami oleh blunder kiper cadangan Everton, Iain Turner. Setelah duel ini, di 3 partai sisa, Manchester United unggul lima poin atas Chelsea.

CHELSEA

Peringkat: 2
Prize Money: £9,21 juta ( Rp 159.130.380.000)*
Aparel: Adidas
Sponsor: Samsung Mobile
Stadion: Stamford Bridge (42.055)
Penonton Terbanyak: 41.953 (vs Manchester City 3-0, 20 Agustus 2006)
Pemain Kunci: Didier Drogba (Pantai Gading)
Kapten Tim: John Terry
Manajer: Jose Mourinho (Portugal)
Duel Vital: 28 April 2007 (Chelsea vs Bolton 2-2)
Panik melihat agenda ketat EPL dan Liga Champion plus deraan cedera pemain, Chelsea banyak menyimpan pemain kuncinya saat ini. Bolton, dimotivasi oleh harapan tiket Piala UEFA, menggapai sukses lewat gol penting Kevin Davies.

LIVERPOOL

Peringkat: 3
Prize Money: £8,73 juta ( Rp 150.836.940.000)*
Aparel: Adidas
Sponsor: Carlsberg
Stadion: Anfield (45.522)
Penonton Terbanyak: 44.403 (vs Manchester United 0-1, 3 Februari 2007)
Pemain Kunci: Jamie Carragher
Kapten Tim: Steven Gerrard
Manajer: Rafael Benitez (Spanyol)
Duel Vital: 20 Januari 2007 (Liverpool vs Chelsea 2-0)
Penampilan sempurna buah kehebatan strategi Rafael Benitez. Liverpool nyaris mengunci permainan Chelsea di semua lini, ditambah perlindungan heroik publik Anfield. Kemenangan politis ini ditandai oleh gol spektakuler Jermaine Pennant.

ARSENAL

Peringkat: 4
Prize Money: £8,24 juta ( Rp 142.370.720.000)*
Aparel: Nike
Sponsor: Fly Emirates
Stadion: Emirates (60.432)
Penonton Terbanyak: 60.132 (vs Reading 2-1, 3 Maret 2007)
Pemain Kunci: Francesc Fabregas (Spanyol)
Kapten Tim: Thierry Henry (Prancis)
Manajer: Arsene Wenger (Prancis)
Duel Vital: 17 September 2006 (Manchester United vs Arsenal 0-1)
Tadinya banyak yang mengira ini adalah pengadilan buat Arsenal, yang ketika ini terperosok di papan bawah. Nyatanya skuad Arsene Wenger malah mendominasi permainan. Dan gol emas Emmanuel Adebayor yaitu buah yang amat manis.

TOTTENHAM HOTSPUR

Peringkat: 5
Prize Money: £7,76 juta ( Rp 134.077.280.000)*
Aparel: Puma
Sponsor: Mansion.com
Stadion: White Hart Lane (36.240)
Penonton Terbanyak: 36.170 (vs Liverpool 0-1, 30 Desember 2006)
Pemain Kunci: Dimitar Berbatov (Bulgaria)
Kapten Tim: Ledley King
Manajer: Martin Jol (Belanda)
Duel Vital: 4 Maret 2007 (West Ham United vs Tottenham Hotspur 3-4)
Partai yang dianggap terbaik trend ini. Sungguh thriller, berlangsung dramatis dan rally point sampai detik terakhir. Spurs, yang seharusnya kalah dari lawannya yang tampil menggila, memperlihatkan winning-mentality-nya.

EVERTON

Peringkat: 6
Prize Money: £7,27 juta ( Rp 125.611.060.000)*
Aparel: Umbro
Sponsor: Chang
Stadion: Goodison Park (40.394)
Penonton Terbanyak: 40.004 (vs Liverpool 3-0, 9 September 2006)
Pemain Kunci: Mikel Arteta (Spanyol)
Kapten Tim: Phil Neville
Manajer: David Moyes (Skotlandia)
Duel Vital: 9 September 2006 (Everton vs Liverpool 3-0)
Inilah tubruk paling berkesan, fantastis dan sangat sah dimenangkan pasukan David Moyes. Skor tepat diraih berkat penampilan elektrik striker Andy Johnson. Bagi tuan rumah, derby Merseyside ini yakni yang terbaik animo ini.

BOLTON WANDERERS

Peringkat: 7
Prize Money: £6,79 juta ( Rp 117.317.620.000)*
Aparel: Reebok
Sponsor: Reebok
Stadion: Reebok (27.879)
Penonton Terbanyak: 27.229 (vs Manchester United 0-4, 28 Oktober 2006)
Pemain Kunci: Gary Speed (Wales)
Kapten Tim: Kevin Nolan
Manajer: Sam Allardyce/Sammy Lee
Duel Vital: 25 November 2006 (Bolton Wanderers vs Arsenal 3-1)
Sam Allardyce, sekali lagi, membuktikan bahwa siasatnya tetap sulit dipatahkan Arsene Wenger. Taktis, efisien, efektif, penuh determinasi serta kokoh dilengkapi oleh permainan gemilang Nicolas Anelka di depan bekas klubnya.

READING

Peringkat: 8
Prize Money: £6,30 juta ( Rp 108.851.400.000)*
Aparel: Puma
Sponsor: Kyocera
Stadion: Madejski (24.045)
Penonton Terbanyak: 24.122 (vs Aston Villa 2-0, 10 Februari 07)
Pemain Kunci: Nicky Shorey
Kapten Tim: Graeme Murty
Manajer: Steve Coppell
Duel Vital: 1 Januari 2007 (Reading vs West Ham United 6-0)
Skor paling tega di ekspresi dominan ini. Tampil tanpa semangat baja dan taktik kurang memadai, Alan Curbishley takkan pernah melupakan pertandingan ini. Reading memberikan bahwa sepak bola Inggris juga bisa kejam membunuh lawan.

PORTSMOUTH

Peringkat: 9
Prize Money: £5,82 juta ( Rp 100.557.960.000)*
Aparel: Jako
Sponsor: OKI
Stadion: Fratton Park (19.179)
Penonton Terbanyak: 20.223 (vs Manchester United 2-1, 7 April 2007)
Pemain Kunci: Matthew Taylor
Kapten Tim: Dejan Stefanovic (Serbia)
Manajer: Harry Redknapp
Duel Vital: 7 April 2007 (Portsmouth vs Manchester United 2-1)
Kemenangan yang paling membubungkan harapan berangkat ke Eropa. Error Rio Ferdinand menamatkan perlawanan Red Devils yang biasanya sulit mati itu. Sayang, ke depan, Pompey tak bisa memelihara dan mempertahankan momentum ini.

BLACKBURN ROVERS

Peringkat: 10
Prize Money: £5,33 juta ( Rp 92.091.740.000)*
Aparel: Lonsdale
Sponsor: bet24.com
Stadion: Ewood Park (31.367)
Penonton Terbanyak: 29.342 (vs Liverpool 1-0, 26 Desember 2006)
Pemain Kunci: Benedict McCarthy (Afrika Selatan)
Kapten Tim: Ryan Nelsen (Selandia Baru)
Manajer: Mark Hughes (Wales)
Duel Vital: 26 Desember 2006 (Blackburn Rovers vs Liverpool 1-0)
Gairah tinggi Mark Hughes untuk menimba pengalaman Eropa, menulari pasukannya di laga Boxing Day ini. Hasilnya, The Reds tak kuasa menandingi spirit Morten-Gamst Pedersen cs.

ASTON VILLA

Peringkat: 11
Prize Money: £4,85 juta ( Rp 83.798.300.000)*
Aparel: Hummel
Sponsor: 32red.com
Stadion: Villa Park (42.573)
Penonton Terbanyak: 42.551 (vs Tottenham Hotspur 1-1, 14 Oktober 2006); (vs Manchester United 0-3, 23 Desember 2006); (vs Liverpool 0-0, 18 Maret 2007); (vs Sheffield United 3-0, 5 Mei 2007)
Pemain Kunci: Gabriel Agbonlahor
Kapten Tim: Gareth Barry
Manajer: Martin O' Neill (Irlandia Utara)
Duel Vital: 30 September 2006 (Chelsea vs Aston Villa 1-1)
Start tim Martin O'Neill terlihat makin angker usai sukses membendung kubu tuan rumah. Modalnya: sepak bola fisik yang dimainkan secara kolektif!

MIDDLESBROUGH

Peringkat: 12
Prize Money: £4,36 juta ( Rp 75.332.080.000)*
Aparel: Errea
Sponsor: 888.com
Stadion: Riverside (35.200)
Penonton Terbanyak: 32.013 (vs Charlton Athletic 2-0, 23 Desember 2006)
Pemain Kunci: Jonathan Woodgate
Kapten Tim: George Boateng (Belanda)
Manajer: Gareth Southgate
Duel Vital: 23 Agustus 2006 (Middlesbrough vs Chelsea (2-1)
Baru dua pekan liga dimulai, Boro langsung membuat shock dan peringatan buat para penantang juara Premiership. Chelsea korban pertama tipikal permainan The Boro. Sayangnya, cuma adu inilah yang paling berkesan bagi publik Riverside.

NEWCASTLE UNITED

Peringkat: 13
Prize Money: £3,88 juta ( Rp 67.038.640.000)*
Aparel: Adidas
Sponsor: Nothern Rock
Stadion: St James' Park (52.387)
Penonton Terbanyak: 52.305 (vs Liverpool 2-1, 10 Februari 07)
Pemain Kunci: Shay Given (Irlandia)
Kapten Tim: Scott Parker
Manajer: Glenn Roeder/Nigel Pearson
Duel Vital: 5 Mei 2007 (Newcastle United vs Blackburn Rovers 0-2).
Partai sangkar terburuk yang membuat geram petinggi The Magpies dan berakibat hilangnya jabatan Glenn Roeder. Sepekan jelang usai ini, vonis telah dijatuhkan. Yang menyakitkan lagi, banyak penonton kabur sebelum berkelahi usai.

MANCHESTER CITY

Peringkat: 14
Prize Money: £3,39 juta ( Rp 58.572.420.000)*
Aparel: Reebok
Sponsor: Thomas Cook
Stadion: City of Manchester (47.726)
Penonton Terbanyak: 47.244 (vs Manchester United 0-1, 5 Mei 2007)
Pemain Kunci: Micah Richards
Kapten Tim: Richard Dunne (Irlandia)
Manajer: Stuart Pearce
Duel Vital: 17 Maret 2007 (Middlesbrough vs Manchester City 0-2)
Gairah terakhir manajer Stuart Pearce sekaligus penampilan hebat tandang The Citeh paling pamungkas di animo ini. Tak dinyana, setelah duel ini mereka diterjang prahara internal yang kronis. Beruntung tak terseret arus zona degradasi.

WEST HAM UNITED

Peringkat: 15
Prize Money: £2,91 juta ( Rp 50.278.980.000)*
Aparel: Reebok
Sponsor: Jobserve
Stadion: Boleyn Ground (35.647)
Penonton Terbanyak: 35.000 (vs Fulham 3-3, 13 Januari 2007); (vs Middlesbrough 2-0, 31 Maret 2007)
Pemain Kunci: Carlos Tevez (Argentina)
Kapten Tim: Nigel Reo-Cooker
Manajer: Alan Curbishley
Duel Vital: 7 April 2007 (Arsenal vs West Ham United 0-1)
Harinya Robert Green saat jadi pendekar The Hammers. Ia mementahkan belasan kans gol dari tuan rumah seraya menggenapkan kemenangan ganda atas Arsenal.

FULHAM
Peringkat: 16
Prize Money: £2,42 juta ( Rp 41.812.760.000)*
Aparel: Airness
Sponsor: Pipex
Stadion: Craven Cottage (24.600)
Penonton Terbanyak: 24.554 (vs Liverpool 1-0, 5 Mei 2007)
Pemain Kunci: Brian McBride (AS)
Kapten Tim: Brian McBride (AS)
Manajer: Lawrie Sanchez (Irlandia Utara)
Duel Vital: 5 Mei 2007 (Fulham vs Liverpool 1-0)
Rezeki nomplok Lawrie Sanchez. Satu-satunya kemenangan setelah mengisi tempat Chris Coleman, dan melanggengkan kariernya di demam isu depan. Fulham beruntung alasannya adalah Liverpool tengah konsentrasi berat di semifinal Liga Champion.

WIGAN ATHLETIC

Peringkat: 17
Prize Money: £1,94 juta ( Rp 33.519.320.000)*
Aparel: JJB
Sponsor: JJB
Stadion: JJB (25.138)
Penonton Terbanyak: 24.726 (vs West Ham United 0-3, 28 April 2007)
Pemain Kunci: Leighton Baines
Kapten Tim: Arjan De Zeeuw (Belanda)
Manajer: Paul Jewell
Duel Vital: 13 Mei 2007 (Sheffield United vs Wigan Athletic 1-2)
Kemenangan The Latics paling penting di dikala paling penting. Berbekal nyali dan semangat, diusirnya Lee McCulloch seolah tak berbekas. Sangat sabar selama 20 menit terakhir ditekan habis, malah menciptakan Paul Jewell kapok jadi instruktur lagi!

SHEFFIELD UNITED

Peringkat: 18
Prize Money: £1,45 juta ( Rp 25.053.100.000)*
Aparel: Le Coq Sportif
Sponsor: Capital One
Stadion: Bramall Lane (32.609)
Penonton Terbanyak: 32.604 (vs Wigan Athletic 1-2, 13 Mei 2007)
Pemain Kunci: Phil Jagielka
Kapten Tim: Chris Morgan
Manajer: Neill Warnock
Duel Vital: 13 Mei 2007 (Sheffield United vs Wigan Athletic 1-2)
The one and only. Andai Ryan Taylor tak cedera, maka tak ada David Unsworth. Andai tangan Phil Jagielka tak kena bola, maka tak ada gol penaltinya. Fakta, cita-citaThe Blades justru dibunuh oleh bekas legiunnya sendiri.

CHARLTON ATHLETIC

Peringkat: 19
Prize Money: £970.000 ( Rp 16.759.660.000)*
Aparel: Joma
Sponsor: Llanera
Stadion: The Valley (27.113)
Penonton Terbanyak: 27.111 (vs Liverpool 0-3, 16 Desember 2006); (vs Chelsea 0-1, 3 Februari 2007); (vs West Ham United 4-0, 24 Februari 2007); (vs Sheffield United 1-1, 21 April 2007)
Pemain Kunci: Darren Bent
Kapten Tim: Luke Young
Manajer: Alan Pardew
Duel Vital: 21 April 2007 (Charlton Athletic vs Sheffield United 1-1)
Turning-point kegagalan paling fatal. Menguasai permainan, penuh peluang dan impian, datang-tiba gol Jonathan Stead menghapus takdir The Addicks.

WATFORD
Peringkat: 20
Prize Money: £485.000 ( Rp 8.379.830.000)*
Aparel: Diadora
Sponsor: ioans.co.uk
Stadion: Vicarage Road (19.920)
Penonton Terbanyak: 19.830 (vs Newcastle United 1-1, 13 Mei 2007)
Pemain Kunci: Jay DeMerit (AS)
Kapten Tim: Gavin McMahon
Manajer: Aidy Bothroyd
Duel Vital: 28 November 2006 (Watford vs Sheffield United 0-1)
Sejak laga inilah, melawan tim yang bertahun-tahun erat semasa di Divisi Championship, pasukan Aidy Boothroyd divonis bakal sulit mempertahankan posisinya untuk bertahan di Premiership. Dan ternyata benar.

(*versi kurs Bank Indonesia per 28 Mei 2007; 1 GBP = Rp 17.278)

(foto: ibnlive)

Wednesday, May 16, 2007

Alan Ball: Patriot Itu Pergi Selamanya...

Tenang, santun dan dekat. Itulah kesan mendalam padanya. Minggu pagi, 9 Juni 1996, merupakan ketika yang tak terlupakan. Di British Internasional School (BIS), Pondok Aren, Bintaro, saya menemui salah satu legenda sepak bola bangsa Inggris, Sir Alan Ball. Saya turut murung tatkala mendengar beliau meninggal dunia pada Rabu, 25 April 2007.

 saya menemui salah satu legenda sepak bola bangsa Inggris Alan Ball: Patriot Itu Pergi Selamanya...Memori 11 tahun lalu pun pribadi terkuak. Saya sulit melupakan Alan pada perilaku humanisnya. Dia amat mengasihi keluarga, family-man. Malah kehadirannya di Jakarta ketika itu lebih dimotivasi oleh kecintaannya pada bawah umur. Padahal di negerinya sedang berlangsung Euro '96. Dia bisa saja menerima tawaran di TV sebagai komentator atau pengamat. Dia menampik semuanya. "Anak-anak yaitu faktor penting di sepak bola. Saya amat antusias datang ke sini alasannya adalah akan melatih belum dewasa," ucapnya pada saya ketika itu. Seperti kata pepatah; harimau mati menyisakan belang, insan mati meninggalkan nama. Begitupun Alan Ball. Jasanya akan terus dikenang baka oleh Blackpool, Everton, Arsenal, Southampton, Portsmouth, Bristol Rovers dan tentu rakyat Britania. 

Saat berada di lapangan hijau, pujian pada klub dan negara melebihi pada uang, di mana sepak bola masih menjadi permainan rakyat ketimbang permainan pebisnis. Seumur hidupnya, Alan Ball tak pernah berada dalam comfort zone. Hidup dan kariernya berasal dari spirit membara, patriotisme. Untuk tahu siapa Alan Ball, orang harus membuka album Piala Dunia, partai tamat 41 tahun silam, atau tanyakan pada Geoffrey Hurst dan Martin Peters, dua orang yang menjadi legenda nasional berkat jasa Ball.

London, Sabtu, 30 Juli 1966. Sejumlah 96.924 orang di Wembley mulai frustasi dikala pertandingan melewati menit ke-75. Jerman Barat tetap tangguh, di periode 'tim tua' Inggris mulai dilanda kelelahan. Satu-satunya asa mereka tiba dari pemain terkecil, termuda, bernomor punggung 7 dan beroperasi di sayap kanan. Dialah Alan Ball.

Ball berlari tak kenal lelah, berusaha menerobos area yang dikawal Karl-Heinz Schnellinger. Di satu momen, beliau memenangi corner-winning dari bek AC Milan itu. Sepak pojok diambil Ball, dan dia mengirim bola pada Hurst yang kurang terjaga. Tembakan Hurst diblok, bola mental dan jatuh di kaki Peters yang meneruskannya ke gawang Hans Tilkowski. 2-1.

Namun di injury-time, Wolfgang Weber menambah nafas Jerman. 2-2, lalu perpanjangan waktu. Inggris urung jadi juara. Menit 111, Ball kembali lolos dari hadangan Hoettges kemudian segera mengirim umpan yang disambar Hunt, membentur mistar atas gawang dan tak dapat dijangkau Tilkowski. Gol?

Yang pasti peristiwa paling kontroversial pada sejarah Piala Dunia pun tercipta, Wembley-Tor alias Gol Wembley. Wasit Gottfried Dienst (Swiss) ragu mengesahkan gol karena pantulan bola begitu sulit dijangkau mata. Ia berdiskusi dengan asistennya, Tofik Bakhramov (Uni Soviet), dan balasannya: gol! 3-2, dan Inggris kembali berada di atas awan.

Memasuki ketika final, menit ke-120, sebuah crossing Bobby Moore diselesaikan Hunt, 4-2. Suasana dramatis terasa masa mendengar teriakan reportase Kenneth Wolstenholme via BBC. "And here comes Hurst he's got... some people are on the pitch, they think it's all over. It is now! It's four! England World Champion!"

Pada dikala menjadi salah satu jagoan bangsa di Wembley itu, Ball masih 21 tahun dan tercatat sebagai gelandang muda Blackpool yang telah membela 116 sabung dengan 40 golnya. Kepincut dengan bantuan besarnya di Piala Dunia 1966, Everton segera mentransfernya dengan nilai 112 ribu poundsterling. 

Di kemudian hari, di The Toffees-lah beliau mencatatkan diri sebagai salah satu legenda hidup klub Merseyside tersebut. Ball bermain hingga 208 kali dan 66 gol. Hingga kini tidak ada yang dapat menyamai keharuman trio lapangan tengah terhebat klub itu yang dihuni Alan Ball, Colin Harvey, dan Howard Kendall. Trio ini dijuluki pers dan publik Goodison dengan The Holy Trinity (trio paling suci).

 saya menemui salah satu legenda sepak bola bangsa Inggris Alan Ball: Patriot Itu Pergi Selamanya...Pada Desember 1971, di usia emasnya sebagai pemain, 26 tahun, tanpa diduga klub top ibukota Arsenal menawari Everton nilai 220 ribu pounds untuk melepas Ball ke Highbury. Publik Goodison Park bersedih dan kecewa alasannya adalah Everton menerimanya. Nilai ini merupakan rekor dunia transfer dikala itu. Manajer Arsenal Bertie Mee antusias menggaet Ball yang dikenal gelandang cekatan nan gigih. Ball bertahan hingga animo 1975/76 dengan catatan 177 adu dengan 45 gol untuk The Gunners. 
Yang tidak mampu dilupakan pendukung Arsenal tentang Ball, mungkin, salah satunya dikala dia menderita patah kaki pada April 1974. Akibatnya beliau tak mampu membela Arsenal sepanjang musim 1974/75. Mau tahu hasil selesai The Gunners di musim ini? Peringkat 16! Sejak kakinya patah, penampilan Ball terus menurun. 

Dia sempat melanglang ke Yunani dan AS, sebelum membela Southampton di dua abad, balik ke Blackpool, dan mengakhiri karier jadi pemain di Bristol Rovers pada 1983. Sementara karier kepelatihannya dimulai di AS, tepatnya Liga NASL pada 1978. Blackpool, Portsmouth, Stoke City bahkan Exeter City sempat merasakan peran manajerialnya. Setelah mengembara ke Southampton (1994-1995) dan Manchester City (1995-1996), Alan Ball menutup karier kepelatihannya di Portsmouth pada 1998/99.

Pahlawan Wembley

Sebagaimana kata sejarah, banyak yang mengira pemain terbaik dikala itu adalah Hunt si pencetak hattrick. Nyatanya tidak, dan Alan bak memerlukan nyawa kedua untuk mengubah itu. "Dialah pemain terbaik di final. Suasana tim 1966 berubah banyak setelah itu," jelas Sir Geoffrey Hunt dengan mimik serius. Alan selalu bersikap ceria, dan sebagai pemain termuda, ia kerap meluap-luap saking antusiasnya masuk tim nasional. Semangat besarnya dan pancaran senyum di wajahnya sulit dilupakan Sir Bobby Charlton.

Meski badannya paling kecil, tapi Karl-Heinz Schnellinger terus mewaspadainya. 
"Alan mungkin pemain terbaik hari itu dan andai pun tidak, dialah yang menghipnotis permainan sehingga alhasil berubah total," timpalnya dengan nada murung. Tabloid Daily Mail mengenangnya sebagai The Little Man with Gigantic Spirit. Pria kecil dengan semangat raksasa.

Di mata Sir Bobby Robson, yang pada 1965 memprotes pemanggilan Ball, sampai ketika ini tak satu pun pemain nasional yang mampu menyamai dedikasi dan dinamika The Little Ginger Dynamo, laki-laki kecil berambut merah jahe. "Lampard, Gerrard, Beckham seharusnya belajar banyak dari Bally," imbuh Sir Bobby pada kolomnya di Daily Mail.

James Alan Ball terlahir sebagai golongan working-class, kelas menengah, pada 12 Mei 1945 di Farnworth, Bolton, dari turunan Lancashire terpandang. Ayahnya, yang berjulukan sama persis, yakni pesepak-bola jago yang senang hidup nomaden. Alan muda diberikan latihan intensif. Setiap malam, di pekarangan rumahnya, dia digenjot sang ayah demi sebuah ambisi: bermain untuk Bolton Wanderers.

Sayang, The Wanderers menolaknya. Alasannya, badan Ball kekecilan. Malahan mereka menyarankan biar beliau banting stir menjadi... joki kuda!  "Saat 16 tahun saya bilang, 'Dad, aku ingin masuk tim nasional sebelum 20 tahun.' Akhirnya aku tampil di World Cup pada usia 20 tahun kurang lima hari," kenangnya pada penulis saat di suatu hari bertemu di British International School, Pondok Aren, Juni 1996. Tapi Ball senior justru tak memujinya. "Lupakan skuad, Nak. Aku baru senang jikalau kau masuk tim utama!"

Bolton menyesal alasannya Ball membela Inggris 72 kali, 8 gol, juara dunia termuda, kapten nasional dan gelar domestik. Di puncak kejayaan, dia menikahi Lesley pada 1967. Karier Ball di tim nasional amblas sehabis dicap penggemar klenik oleh Don Revie, pengganti Sir Alf Ramsey. Namun sebagai manajer sinarnya berkebalikan ketimbang jadi pemain. Semacam kutukan, alasannya adalah kemenangan Inggris dipenuhi konspirasi? Bisa jadi, sebab begitu juga Gordon Banks, Bobby Moore, Nobby Stiles, Bobby Charlton, Martin Peters dan Geoff Hurst. Paling lumayan, ya Jack Charlton di Irlandia.

1966 Glory: Alan Ball di sisi Bobby Charlton dan Bobby Moore.
Serial hidupnya berjalan tragis setelah beliau diberi gelar MBE oleh Kerajaan Inggris atas jasanya di Wembley 1966. Pada 2001, Lesley dan si sulung Mandy Byrne divonis kanker rahim. Mandy mampu bertahan, tapi Lesley tak tertolong pada 2004. "Tiada laki-laki yang punya istri terbaik, dan ibu terbaik untuk anak-anakku kecuali saya," ujarnya. Bab terakhir otobiografinya pada 2005 bikin orang sedih. "Dia yang pertama dan satu-satunya cintaku. Dia 14 dan aku 16 tahun dikala jumpa. Aku takkan menikah lagi, demi Lesley, dan demi diriku. Perkawinan kami selalu awet."

Akibat Kaget

Alan bisa mengalahkan siapa saja, namun dia tak pernah bisa mengalahkan kenangannya sesudah kehilangan istrinya. Setelah Lesley tiga tahun tak berdaya, kekuatan ekonomi rumah tangganya diuji. Harta terbaiknya, medali 1966, dilelangnya demi kesembuhan istri tercintanya.

Suatu kali Alan bercerita. "Tiba-datang dia berkata: 'kau terlihat putus asa dan itu membuatku khawatir. Yakinkan diriku semoga kamu berlatih dan tidur seperti sedia era, serta tak menghemat kuliner. Kuingin kau menjadi orang paling berbahagia di dunia seperti yang kamu telah perbuat untukku. Aku ingin kamu menikah lagi'. Dia niscaya berjuang keras mengatakan itu, sebab beliau tahu perkawinan kami untuk selama-lamanya," papar Ball. 

Sungguh menyesakkan mendengar laki-laki sebaik Alan Ball meninggal dunia secara mendadak. Sungguh tragis tubuhnya tergeletak tanpa daya di halaman rumahnya di Hampshire, sesudah terjatuh akibat panik melihat kobaran api dari pembakaran sampah, tak usang setelah usai nonton duel Liga Champion Manchester United vs AC Milan di televisi. 

 saya menemui salah satu legenda sepak bola bangsa Inggris Alan Ball: Patriot Itu Pergi Selamanya...
Selamat jalan sang patriot kecil.
Secara klinis, Ball dinyatakan wafat akibat serangan jantung. "Padahal dia tak punya riwayat itu," kata sang anak, Jimmy Ball, yang ditelpon ayahnya beberapa menit usai menonton langgar Liga Champion itu hanya untuk mengungkapkan kepuasannya atas semangat khas Inggris.

"Dia bilang (duel) itu kelas dunia, dan perlawanan United benar-benar kelas dunia. Aku besar hati dia melihat tabrak itu, permainan dengan spirit dan keberanian," kata Jimmy yang masih ingat betul ayahnya terus mengomentari umpan Paul Scholes ke Wayne Rooney yang menjadi gol.

Di hari-hari terakhirnya, Alan menghabiskan waktunya di Warsash, Hampshire. Ia berencana pindah rumah ke Berkshire untuk memulai hidup baru sebagai joki, sebuah peran yang gagal dilakoninya kala muda. Dengan serius Alan berhubungan dengan Mick Channon, sobat lamanya di sepak bola yang banting stir jadi instruktur kuda balap.

Ucapan Frank McLintock ketika prosesi penguburan sungguh mengharukan. Dengan mata berair dan bibir terbata-bata, kapten legendaris Arsenal itu bilang, "Kematian bukanlah hal yang penting, bahkan andaikan kita bisa mengaturnya. Hidup ialah perbuatan, dan kupikir Bally berhasil melakukannya. "Alan menjalani hidupnya dengan penuh, dan kuingin haturkan terima kasih untuk semua kenangan, terima kasih atas seluruh kontribusinya untuk hidup kita."

Sebelum dimasukan ke liang lahat, Jimmy Ball menepuk-nepuk peti mati ayahnya, lalu berpuisi sebagai kesan terakhir. Sebuah puisi terkenal milik pujangga besar Rudyard Kipling berjudul If. "Ini untukmu Yah, untuk semangatmu yang tak pernah pudar," ucapnya lirih dan sesenggukan.

 saya menemui salah satu legenda sepak bola bangsa Inggris Alan Ball: Patriot Itu Pergi Selamanya...
Tiga anak Alan Ball: Mandy, Jimmy, dan Keely.
Ketika membaca bait terakhir, And you'll be a man, my son, Jimmy menambahi: "Dia seorang lelaki, mungkin terbaik yang saya pernah jumpai. Kukatakan pada Mandy dan Keely, kita amat beruntung punya ibu dan ayah yang andal seperti yang kami miliki."

Sebelum menutup acara pemakaman, Jimmy meminta pada hadirin untuk menyanyikan lagunya Frank Sinatra, My Way. Perlahan-lahan peti masuk ke dalam tanah, tepuk tangan dan siulan bergemuruh, juga sorak sorai, dan semua bernyanyi "Alan Ball, Alan Ball..." Cara inilah yang diubahsuaikan di semua pertandingan di seluruh negeri, tak terkecuali Premier League pada pekan itu. Tak ada mengheningkan cipta, tapi tepuk tangan selama 1 menit.

Selamat tinggal sahabat, selamat berpisah the patriot, dan selamat jalan the world champion! Sepak bola dan Inggris kehilanganmu, namun dunia sepak bola akan selalu mengenangmu, tak pernah lupa dengan teladan kepahlawanan yang kamu berikan untuk sepak bola dan kehidupan...

(foto: dailymail/reuters/telegraph)