Sunday, October 2, 2005

Jose Mourinho Di Israel: Promosi Gratis Dan Meraih Reputasi Gres

“Shalom lekulam, Salam alekom… I am not a man of lectures. I am a man of the field...,” begitu beberapa patah kata pembuka laki-laki bernama Jose Mario dos Santos Mourinho Felix pada kumpulan orang terpandang di Hotel Dan, Tel Aviv, suatu hari di simpulan Maret 2005.
pria bernama Jose Mario dos Santos Mourinho Felix pada kumpulan orang terpandang di Hotel  Jose Mourinho di Israel: Promosi Gratis dan Meraih Reputasi Baru
Paling hebat tebar pesona.
Bermodalkan pressao alta sebagai beautiful game, sistem ciptaannya yang kini dimainkan Chelsea, terperinci sekali Jose Mourinho datang ke Israel dengan kepala tegak, percaya diri. Ia telah siap memberi perlawanan sengit kepada FA dan UEFA, yang terus memusuhinya belakangan ini. Juga kepada semua orang yang tak menyukai Chelsea. Sebuah kampanye gratis.

Dia paham benar bahwa anjangsana-nya ke Tel Aviv itu telah diketahui bahkan didukung Sekjen PBB Kofi Annan serta mantan Presiden AS Bill Clinton. Kedua tokoh dunia itu bilang mungkin hanya dengan memakai isu olahraga perdamaian di Tanah Suci bisa disatukan kembali. Untuk itu, Mourinho pun tahu harus berterima kasih kepada siapa.

Manajer dengan honor termahal di dunia itu diundang oleh Shimon Peres, yang mengetuai Peres Centre for Peace, sebuah organisasi sosial yang dikreasi oleh eks PM Israel tersebut. Brand Chelsea yang membubung ke Timur Tengah — berkat sepak terjang andal Pini Zahavi si anak Tel Aviv dan Roman Abramovich si Yahudi Rusia — mengakibatkan manajer paling populer dan paling kontroversial di dunia itu sekalian berpromosi gratis sebagai peacemaker, tokoh perdamaian.

Mimpi Peres ialah menyatukan belum dewasa Palestina dan Israel dalam satu wadah di mana pada suatu ketika di bawah satu panji olah raga, terutama sepak bola, mampu mencairkan ketegangan 'ribuan tahun' antara Yahudi dan Arab. Boleh jadi dia beruntung mampu mengundang orang yang klop, dikenal piawai bermain konflik, ialah Mourinho, agar upayanya kedengaran dunia dan lebih nendang. Seberapa besar imbal baliknya tentu sudah dipikirkan. Ini gaya Yahudi.

Maka tanpa basa-busuk, di depan pers Peres mempromosikan sekaligus merekomendasikan laki-laki yang dibayar 5 juta pound per tahun oleh Chelsea itu. Yang terperinci tokoh politik Yahudi yang 'agak adem' itu menyebut kerjasamanya dengan Mourinho sebagai “a beautiful project”. “Pengalaman dan keterampilan diplomatiknya membuat hasrat saya untuk melibatkan ia di proyek ini semakin besar,” papar Wakil PM Ariel Sharon itu.

“Mourinho ialah figur internasional yang penting dan idenya untuk datang ke sini mengilhami kami untuk menolong perkembangan bawah umur kami,” timpal Dr. Ron Pundak, Direktur Peres Centre yang juga sejarawan bidang regional, tanpa tedeng aling-aling.

Soal Chelsea

pria bernama Jose Mario dos Santos Mourinho Felix pada kumpulan orang terpandang di Hotel  Jose Mourinho di Israel: Promosi Gratis dan Meraih Reputasi BaruDi Tel Aviv Mourinho melakukan banyak kegiatan lain. Bermain a five-a- side football, singgah di Stadion Vinter di Ramat Gan untuk memotivasi 200-an anak-anak Palestina dan Israel, serta memberi kuliah umum. Dengan pede-nya yang populer itu, Mourinho berpidato di depan tokoh-tokoh Israel dan Palestina. Momen ini diliput oleh lebih dari 100 media cetak dan elektronik dari seluruh dunia. Seperti ciri khasnya, Mourinho segera bicara tajam, pribadi, dan obyektif. Ia membeberkan diam-diam kesuksesan tanpa sungkan dan pretensi. Mengajari orang dengan segala cara untuk mencapai sukses, bicara soal keberanian atau perdamaian, dan keinginannya di era tua. Berikut petikannya:

“Awal kesuksesan pada ketika membangun sebuah tim ialah Anda harus memikirkan apa pun secara mendetail. Kesuksesan bukan saja soal keberuntungan, tetapi juga soal bagaimana kesiapan untuk sukses. Setiap aku gres menangani sebuah klub, yang aku dahulukan ialah membangun organisasinya.

“Memang klub besar seperti Chelsea sudah terorganisasi dengan baik. Namun, aku tetap menginginkan kejelasan posisi aku di sana, harus tahu wewenang dan susukan-terusan eksklusif aku. Saya tak akan menjadi manajer ahli tanpa orang-orang hebat di sekitar saya.

“Semua harus merasakan ambisi yang sama. Tim yang menjadi bintang, bukan pemain. Jika Anda tidak bisa mengomunikasikan ambisi pada para pemain, Anda tidak akan mampu membawa filosofi Anda pada mereka, pada tim. Di Chelsea, kami punya pemain dari 13 negara berbeda. Beda budaya, beda bahasa, namun kami tetap punya komunikasi spesial melalui sepak bola.

“Kreasilah filsafat Anda sendiri. Tentunya ini mampu dipelajari dari para pelatih. Dengarkanlah, dapatkan informasi itu, namun saya ingatkan; jangan menjiplak semuanya. Ambilah beberapa yang baik, lalu kreasikanlah filosofi Anda sendiri. Kehebatan para pemain bukan karena mereka bekerja dengan saya, tapi karena mereka merealisasikan prinsip-prinsip tadi. Itulah esensi sepak bola.

Soal Perdamaian

“Sepak bola yang manis mampu tiba dari kalangan bawah, grass roots. Tempat lahirnya street football contohnya. Dari mana munculnya bakat-bakat ahli mirip Pele, Eusebio, Ronaldo? Dari jalanan. Dengan mudah kita bisa mengambilnya untuk dipadukan ke dalam pengembangan di sebuah klub. Kendala yang tiba dari situ biasanya ialah soal iktikad diri. Namun, kami mampu mengatasinya sebatas pemain itu yaitu para pemain muda.

“Ini ialah kunjungan saya yang pertama ke Israel dan aku telah menemukan keindahan dan sebuah tempat spiritual. Kadang, sepak bola acapkali menggunakan terminologi ‘pertempuran’ untuk menggambarkan permainan di lapangan.

pria bernama Jose Mario dos Santos Mourinho Felix pada kumpulan orang terpandang di Hotel  Jose Mourinho di Israel: Promosi Gratis dan Meraih Reputasi Baru"Kita bicara kepahlawanan, perjuangan, keberanian; semua itu menjadi kesan dikala datang ke sebuah kawasan seperti Israel. Meski terdengar mengerikan atau sebagiannya benar, namun membuat kita jadi merendah alasannya ketidakpantasan bahasa itu. Faktanya kesuksesan Israel bisa menahan seri Irlandia (di Pra Piala Dunia 2006) karena tim itu diperkuat oleh beberapa pemain berdarah Arab. 

"Ini bukti bahwa kolaborasi untuk tujuan utama didapat melalui perdamaian dan ketenangan. Biarlah itu menjadi pelajaran kita semua. Keberanian yakni perjuangan membawa perdamaian ke dalam sebuah komunitas yang hubungannya ringkih. Ini milik Anda yang ada di sini semua, bukan saya. Oleh alasannya adalah itu proses pembangunannya sedapat mungkin dimulai semenjak kanak-kanak. Apabila bisa dicapai melalui olah raga, hal ini sangatlah ahli di lalu hari.

“Kekuatan yang kita miliki untuk mengubah dunia melalui sepak bola tidak mampu diremehkan. Walaupun sudah kembali lagi ke Inggris, saya akan tetap memikirkan Anda semua yang bekerja di sini. Saya berterima kasih pada (PM) Shimon Peres untuk kunjungan ke Tel Aviv ini dan untuk pekerjaan pada organisasi mahir ini.

“Pekerjaan (sosial) mirip ini amatlah berbeda pada dunia olah raga yang saya geluti. Di dunia saya, kita merasa menjadi orang-orang yang penting. Namun, pada kenyataannya orang-orang mirip Anda inilah yang jauh lebih penting. Di sini, sepak bola telah digunakan sebagai alat sosial yang baik. Ini jauh lebih penting ketimbang sepak bola itu sendiri dan aku berharap akan diundang ke sini lagi suatu saat karena saya sudah menyatu dengan pekerjaan ini.

“Akhir kata, proyek ini mampu membuat saya memikirkan ulang lagi kehidupan saya di sepak bola sehabis berakhir. Saya ingin sekali terlibat dengan hal seperti ini di kemudian hari, di semua daerah yang berbeda di seluruh dunia.”


⏭ SEKILAS JOSE MOURINHO


👉 Lahir 26 Januari 1963 di Setubal

👉 Ayahnya, Jose Manuel Mourinho Felix, ialah seorang kiper yang pernah bermain 143 kali untuk Vitoria Setubal dan 131 kali untuk Belenenses, serta sekali membela tim nasional Portugal pada 1972.

👉 Dijuluki Tradutor (penerjemah)

👉 Bergaji 5 juta pound atau 7,5 juta euro di Chelsea

👉 Mourinho adalah bintang iklan kartu kredit American Express Co. Menurut France Football, Mourinho kehilangan bonus besar sesudah Chelsea disingkirkan Liverpool di semifinal Liga Champion 2004/05.

👉 Empat orang terpenting di sekitarnya ialah rekan-rekan lamanya di FC Porto: Baltemar Brito, tangan kanannya merangkap tangan kanan; Rui Faria, pelatih kebugaran; Andre Villas, kepala pencarian bakat; dan Silvino Louro, pelatih kiper.

👉 Prinsip utama Mourinho di sepak bola yaitu pressao alta atau high pressure alias menekan lawan seketat mungkin.

(foto: bc.net/telegraph/cyc.net)

Thursday, May 19, 2005

Piala Konfederasi: Idenya Arab Saudi?

Suatu kali Sepp Blatter melontarkan gagasannya biar Piala Dunia bisa digulirkan tiap tiga tahun. Bukan empat tahun sekali. Pesan yang ditangkap banyak pihak yaitu dia tengah bicara ihwal solidaritas yang menjadi filosofi andalannya. Itu saja? Jelas tidak. Yang lalu balasannya menjadi kontroversial yaitu makna yang tersirat dari hasrat sang godfather sepak bola itu.
Suatu kali Sepp Blatter melontarkan gagasannya agar Piala Dunia bisa digulirkan tiap tiga  Piala Konfederasi: Idenya Arab Saudi?
Denmark juara Piala Konfederasi 2005.
Awalnya, Blatter mengedepankan soal keadilan. Ia menginginkan semua potongan planet ini bisa menggelar hajatan paling gemerlap, paling menguntungkan, dan serba paling lainnya itu. Sepak bola milik semua orang! Inilah senjata utama FIFA jika sudah bicara sosialismenya. Namun, percayalah, ujung-ujung dari impian itu tetap saja bisnis semata. Dengan kata lain uang! Sepele saja, semakin sering ajang sepak bola dengan ikon nasionalisme digelar, maka uang pun akan semakin mengalir deras dan kekuasaan semakin kukuh.

Aset dan investasi FIFA terbesar dan sepanjang kurun adalah Piala Dunia, yang bergulir tiap empat tahun. Dari kacamata sport-business, World Cup merupakan pesta olah raga terbesar di dunia. Ia yakni pasar terbesar multi-industri yang pernah ada. Mulai dari otomotif hingga sayap ayam goreng. Dari teknologi isu hingga cukuran jenggot.

Namun, Blatter dan kompatriotnya tetap belum puas karena mereka yakin masih ada kejuaraan sejenis yang mampu dijual, adalah Confederations Cup. Pembenaran bahwa Piala Dunia pantas digelar dua-tiga tahun karenanya menjadi kenyataan dengan hadirnya ajang tanpa historis yang datang-datang sudah memasuki edisi kelima atau ketujuh jika dihitung semenjak 1992.

Secara konkret, Piala Konfederasi yakni wahana penentu naiknya Blatter ke singgasana Presiden FIFA pada 1998. Maka dari itu, selain terus dikatrol gengsinya, ajang ini juga menjadi pertaruhan kredibilitas sang supremo. Piala Konfederasi bergotong-royong idenya berasal dari Arab Saudi.
Suatu kali Sepp Blatter melontarkan gagasannya agar Piala Dunia bisa digulirkan tiap tiga  Piala Konfederasi: Idenya Arab Saudi?
Raja Arab Saudi Fahd Bin Abdul Aziz Al Saud.
Saat itu putra mahkota Arab Saudi, Sultan bin Fahd bin Abdulaziz alias Pangeran Saud, tanpa diduga menggelar sebuah turnamen sepak bola pada 1992 yang didedikasikan untuk ayahnya, Raja Fahd. Karenanya, sederhana saja, hajatan bola ini dinamakan King Fahd Cup.

Namun jika dikaji lebih dalam lagi, Piala Konfederasi atau Piala Raja Fahd juga bukan yang pertama digelar. Sejarah mencatat bahwa pada 1980-1981, tepatnya di Montevideo, mulai 30 Desember hingga 10 Januari, dihampar apa yang disebut Mundialito, yang dalam bahasa Spanyol bermakna Piala Dunia Mini. Bangsa Latin menyebut ajang ini dengan Copa de Oro de Campeones de Mundiales, atau Piala Juara Dunia! Ternyata sudah jadi juara dunia pun masih belum puas.

Namun Inggris menolak ikut, alasannya adalah tak mau menghentikan tradisi Boxing-Day di masa itu di liga dan Piala FA. Akhirnya rayu punya rayu, pikir punya pikir, Belanda yang dibujuk. Eh, mereka mau. Maka jadilah Piala Dunia sejati digelar. Ide asing dari orang-orang Latin tersebut sangat fenomenal alasannya enam negara juara dunia sampai saat itu: Uruguay, Italia, Jerman, Brasil, Inggris, dan Argentina diundang.

Pendek kata, apakah Mundialito sah disebut sebagai bapak-moyangnya Piala Konfederasi? Tidak juga. Jadi siapa? Ada, dialah Taca das Nacoes yang dikreasi oleh Brasil pada 1964 kemudian digelar di dua kota terbesarnya, Rio De Janiero dan Sao Paulo sejak 30 Mei hingga 7 Juni 1964. Brasil, yang terus dibasahi euforia lantaran sanggup meraih juara dunia 1958 dan 1962 secara beruntun, mengundang dua wakil Eropa, Inggris dan Portugal, serta negeri tetangganya, Argentina.

Brasil mengundang ketiga negara menurut faktor "suka-suka" saja, subyektif, tanpa kriteria jelas, dan tampaknya sebab perilaku megalomania yang bablas. Portugal diundang sebab dianggap salah satu orang renta mereka secara kultur dan genetis atau pertalian darah. Inggris yakni afeksi terbesar sepak bola Brasil. Mereka selalu terpukau oleh embah-nya sepak bola. Secara resmi sih undangan untuk Inggris dikaitkan sebagai calon tuan rumah 1966. 
Argentina 1964, diremehkan Brasil malah jadi juara.
Lalu Argentina? Nah, ini ia, entah kenapa bukan Uruguay yang diundang, atau minimal ditambahkan. Di mata Brasil, Argentina lebih menggoda meski di daerah Amerika Selatan, justru Uruguay-lah jagoannya. Argentina kebanyakan kalah dari Uruguay. Brasil lebih sering menang dari Uruguay, namun dengan Argentina masih bejaban. Barangkali itulah alasan utamanya. Kalau mau jujur harusnya yang diundang Bolivia, yang secara mencengangkan menjadi juara Copa America 1963.

Akhir kata, dalam Taca das Nacoes 1964, Brasil kena batunya. Tim Samba harus puas di posisi kedua klasemen simpulan. Pele, Jairzinho dkk. kalah telak 0-3 dari Tim Tango, seri 1-1 melawan Inggris dan mengalahkan Portugal 4-1. Saat kalah dari Argentina, lahir peristiwa kontroversial setelah Pele menanduk hidung pemain lawan, José Agustín Messiano, sampai patah! Dilihat dari kadarnya, memang, persaingan para jawara selalu panas. Mungkin hal inilah yang terus menjanjikan di masa depan.

Artemio Franchi

Waktu terus berjalan. Los Charruas kembali mengulangi peristiwa Maracanazo 1950 alasannya adalah kembali menang 2-1 di final Mundialito 1980 yang dijejali 71.000-an ribu penonton di Estadio Monumental. Stadion ini yaitu daerah di mana mereka meraih juara dunia pertama pada 1930. Yang menarik di ajang kedua cikal bakal Piala Konfederasi ini, kriteria penerima jauh lebih obyektif. Semua partisipan yakni para juara dunia! Apakah semua oke? Tentu tidak.
Suatu kali Sepp Blatter melontarkan gagasannya agar Piala Dunia bisa digulirkan tiap tiga  Piala Konfederasi: Idenya Arab Saudi?
Kegembiraan Uruguay di Mundialito 1980.
Uruguay, selain jadi tuan rumah, dianggap sebagai juara dunia pertama 1930 lalu 1950 yang patut dihormati. Lalu Italia berstatus juara dunia 1934 dan 1938. Jerman Barat 1954 dan 1974. Brasil 1958, 1962, dan 1970. Argentina 1978, dan satu lagi seharusnya Inggris, yang menjadi juara dunia 1966. Namun di mata kreator sepak bola, Mundialito - digelar 30 Desember 1980 sampai 10 Januari 1981 - dianggap kejuaraan buang-buang waktu yang tujuannya hanya untuk mengenang era lalu kejayaaan masing-masing. Inggris menolak ikut, salah satu alasannya adalah lainnya adalah tidak mau mengorbankan perhatian pada Boxing Day dan Piala FA yang sedang dipentaskan ketika itu.

Inspirasi Taca das Nacoes dan Mundialito tidak pernah terkubur. Eropa, yang ketika itu memang sedang bersaing panas dengan Amerika Latin, justru mengambil untung. Dengan memanfaatkan media massa, lobi, sponsor, dan infrastruktur yang lebih beres dibanding Latin, UEFA malah mencuri ilham rivalnya, CONMEBOL. Meski dalam taraf lebih kecil. Idenya sepele saja. Mengadu juara Eropa dengan Amerika Latin. Jika di klub bernama Piala Toyota, maka di ajang antar negara, namanya Piala Artemio Franchi.

Tenang dulu alasannya Anda pasti sedikit galau dengan titel kejuaraan. Artemio Franchi yaitu presiden UEFA (1972-1983) yang menggerakan opini supaya Eropa jangan buang waktu untuk mencari siapa yang terkuat di dunia. Artinya yaitu, kasta permainan juga kesibukan kompetisi Eropa yang amat teratur, jangan dibentuk mundur dengan harus bertanding dengan wilayah lain di dunia yang masih terkebelakang. Maaf untuk Asia, Afrika, dan Amerika Utara apalagi Oseania, sebab kenyataannya memang benar.

Akan tetapi, sehabis dicoba dua kali, 1985 dan 1993,  jadinya mampu runyam kalau diterusi. Pada saat itu teknologi transportasi dan komunikasi belum semaju kini. Jika dilegalkan apalagi reguler, mereka yakin banyak pemain yang kelenger harus terbang memutari separo bumi, Eropa-Amerika Selatan pulang pergi.
Suatu kali Sepp Blatter melontarkan gagasannya agar Piala Dunia bisa digulirkan tiap tiga  Piala Konfederasi: Idenya Arab Saudi?
Michel Platini cs. menjuarai Trofi Artemio Franchi 1985.
Jadi Piala Artemio Franchi hanya mencatat nama Les Bleus (1985) dan Albiceleste (1993) sebagai juaranya. Kenangan ini tentu saja membekas besar lengan berkuasa di kepala seseorang yang kini telah jadi capo di cappi tutti-nya sepak bola dunia. Kita kembali ke kisah Piala Raja Fahd di awal 1990-an.

Blatter, yang waktu itu masih menjabat Sekretaris Jenderal FIFA, melihat peluang. Ia sontak mendukungnya dan menamai turnamen itu dengan International Championship. Maklum oleh Pangeran Saud yang diundang tiba ke Riyadh ialah Argentina, juara Copa America 1991, Amerika Serikat, juara Amerika Utara dan Tengah, Pantai Gading, juara Afrika 1992, serta tuan rumah yang menyandang titel juara Asia 1988. Mata Blatter mendelik alasannya adalah dipandang dari peserta jelas pagelaran gres ini bergengsi.

Argentina tampil sebagai negara pertama yang menjuarai Piala Raja Fahd alias Piala Konfederasi kuno. Di final yang digelar di Stadion Raja Fahd II, Riyadh, dan dipelototi 75.000-an penonton itu tim Tango menyelesaikan tuan rumah Arab Saudi, 3-1, lewat gol Leonardo Rodriguez, Diego Simeone, dan Gabriel Batistuta. Sedangkan satu gol balasan pasukan Elang Hijau dibuat oleh bintangnya, Said Al-Owairan. Pemain terbaik diraih oleh gelandang elegan Argentina, Fernando Redondo.

Pergelaran King Fahd Cup kedua kembali marak pada 1995 dengan akseptor diperluas. Arab Saudi tetap didaulat menjadi tuan rumah. Lima kontestan lain yakni Argentina, Denmark, Jepang, Meksiko, dan Nigeria, yang kesemuanya membawa panji konfederasi masing-masing. Blatter, dengan kuasanya, merasa jumawa karena sukses membawa Denmark ke padang pasir. Posisi tawarnya di hadapan FIFA pun makin menguat.

Diadopsi FIFA
Suatu kali Sepp Blatter melontarkan gagasannya agar Piala Dunia bisa digulirkan tiap tiga  Piala Konfederasi: Idenya Arab Saudi?
Argentina juara Piala Konfederasi 1993.
Argentina kembali ke tamat. Namun di laga pamungkas itu, sang juara bertahan takluk oleh Denmark sang pendatang baru. Dua gol dari Michael Laudrup dan Peter Rasmussen sudah cukup menerbangkan trofi emas ke Kopenhagen. Hasil ini mirip membayar kekalahan pahit mereka dua tahun sebelumnya. Saat itu tim Dinamit kalah dari Diego Maradona cs dalam sebuah final laga setengah resmi pada 1993 di Mar Del Plata, Argentina, dengan skor 5-6 lewat tos-tosan.

Berkat pertemanan yang erat dengan kawan-kawan Arab-nya, antara lain Mohammad bin Hammam, sekarang Presiden AFC, Blatter langsung membidik masa depan. Masa edar Dr. Joao Havelange sebagai supremo FIFA tinggal sebentar lagi. Lantas, pada 1997 Piala Raja Fahd resmi diadopsi FIFA dan resmi dinamai FIFA Confederations Cup. Havelange, yang sudah jompo dan disibukkan mengurus aset langsung sebelum dipensiunkan, menyetujui dan tinggal meneken MOU-nya.

Sejarah mencatat, pada 12-21 Desember 1997 Piala Konfederasi telah lahir. Peserta membludak menjadi delapan negara. Juara Asia, Arab Saudi, lagi-lagi diberi jatah sebagai penyelenggara pertama. Lainnya ialah Brasil (juara dunia), Uruguay (juara Amerika Selatan), Ceko (juara Eropa), UEA (runner-up Asia), Meksiko (juara Concacaf), Afrika Selatan (juara Afrika), dan Australia (juara Oseania).

Sejak dikala itu pula pergelaran akbar sepak bola berjalan seperti ini: 1998 Piala Dunia, 1999 Piala Konfederasi, 2000 Piala Eropa, 2001 Piala Konfederasi, 2002 Piala Dunia, 2003 Piala Konfederasi, 2004 Piala Eropa, dan 2005 Piala Konfederasi, serta 2006 Piala Dunia, dan seterusnya dan seterusnya. Jadi bayangkanlah bagaimana perkasanya, katakanlah, seorang Thierry Henry yang selama 6 tahun, semenjak 1998 sampai 2004, satu bulan pun tidak pernah putus bermain bola!

Makanya jangan dikira jika para pelatih dan pemain profesional senang dengan adanya Piala Konfederasi. Mereka semua sudah kelelahan. Blatter tidak mau tahu. Yang ia pegang yaitu para bos konfederasi yang terdiri dari enam orang. Fatwa yang lahir lalu yaitu setiap jawara regional, semisal dari Piala Asia atau Piala Afrika bahkan juara dunia dan calon tuan rumah Piala Dunia, diharuskan mengikuti turnamen ini. Titik.

FIFA merilis Piala Konfederasi yaitu pertarungan antarbenua sekaligus peluang bagi para juara regional berkumpul dalam semangat kompetisi secara fair play - saling menantang satu sama lain untuk mengklaim yang terbaik dari enam konfederasi. Kompetisi ini juga memberi kesempatan pada negara dari konfederasi berkembang untuk menguji kemajuan mereka melawan negara dari benua yang lebih mapan dan makmur.

Serangkaian kalimat di atas merupakan nilai-nilai ideal. Singkatnya, Blatter bercita-cita menimbulkan sepak bola kian mengglobal. Namun amanah agung yang dicanangkan FIFA dalam Piala Konfederasi bagi beberapa pihak cuma dianggap sebagai make-up belaka. UEFA, petinggi, instruktur, hingga pemain terutama dari klub-klub kelompok G-14 justru menilai ajang itu tak punya nilai apa pun selain bisnis FIFA.

Piala Konfederasi merupakan turnamen paling tak populer serta kontroversial yang pernah diselenggarakan FIFA. Pasalnya, sebagian besar klub-klub Eropa, anggota UEFA, enggan melepas para pemainnya untuk bergabung di timnas sehabis semusim penuh berkutat di kompetisi liga.

Seks Lebih Baik

Selain FIFA, secara umum dikuasai insan sepak bola telak-telak menganggap Piala Konfederasi adalah berita paling bullshit yang pernah ada. Kenyataannya, kejuaraan ini adalah perjuangan terselubung perbudakan olah raga tanpa mengenal belas kasihan dan perasaan. Piala Konfederasi 2005 yakni bukti kepala batunya FIFA, yang menganggap maut Marc-Vivien Foe di Prancis 2003 sebagai insiden belaka dan bukan sebuah feed-back negatif dari rangkaian ambisi berlebihan.

"Para sponsor, pemegang hak siar televisi, pemasang iklan, dan pihak-pihak lain yang bergantung pada turnamen ini tentu tak ingin ada penundaan. FIFA barangkali hanya menyampaikan basa-kedaluwarsa ihwal betapa mengerikannya insiden maut Marc-Vivian Foe dan bagaimana mereka akan menghormatinya. Tapi, sebenarnya mereka tidak mempedulikannya. Tak seorang pun mempedulikan para pemain. Kami dianggap cuma seonggok daging," kritik Mikael Silvestre, bek Manchester United sekaligus pemain nasional Prancis.
Suatu kali Sepp Blatter melontarkan gagasannya agar Piala Dunia bisa digulirkan tiap tiga  Piala Konfederasi: Idenya Arab Saudi?
Kenangan Oscar Ruggeri, kapten Argentina pada 1992.
Apa yang diharapkan dari (mutu) Piala Dunia mini jikalau para pemainnya sudah kelelahan? Sepakat atau tidak, selesai Mei adalah batas akhir pekerjaan seorang pesepak bola sebelum memasuki masa istirahat yang optimalnya cuma beberapa minggu. Lantas di mana ada waktu untuk bercengkerama dengan anggota keluarga, katakanlah, pada diri Hernan Crespo atau Ricardo Kaka yang baru saja menuntaskan kompetisinya kemudian selang sepekan sudah harus latihan, latihan dan bertanding lagi dengan seragam tim nasional.

Semua pemain terbaik telah menghabiskan tenaganya di Liga Eropa dan Liga Champion. Hormatilah mereka barang setahun karena tiap dua tahun sekali pun mereka sudah digenjot napasnya untuk Piala Eropa dan Piala Dunia, sebagian kecil lagi bahkan di Olimpiade.

"Rasanya seperti pelajar yang malas dan kurang pandai dikala datang ke sekolah," saya Robert Pires bila menganalogikan bermain di Piala Konfederasi. "Kalau boleh memilih, saya lebih suka menghabiskan waktu dengan seks. Lebih menyehatkan dan memperpanjang hidup," sambung gelandang serang Les Bleus dikala ajang tanpa sejarah ini digelar di negaranya pada 2003.

Meski mampu banyak kritikan, FIFA bertekad mempertahankan Piala Konfederasi biar tetap bergulir. Apalagi FIFA telah mempunyai kontrak dengan pihak sponsor, pemegang hak siar televisi, dan pihak-pihak lainnya yang akan berakhir tahun 2006 nanti. Dalam pertemuan di Zurich beberapa waktu kemudian, Blatter kembali menjelaskan janji FIFA menggelar Piala Konfederasi kepada para perwakilan klub-klub besar di Eropa.

"FIFA mendesak klub-klub Eropa untuk mempertimbangkan lagi pandangan mereka terhadap Piala Konfederasi. Sebagai tubuh sepak bola dunia, FIFA yakin kompetisi ini punya nilai besar, tak hanya bagi publik, tapi juga untuk klub sendiri. Sementara itu impian klub agar memperoleh kompensasi finansial dari asosiasi atau federasi sepak bola ketika memanggil pemain mereka untuk membela timnas, FIFA berjanji akan mempelajari dilema ini lebih mendalam," begitu rilis resmi yang dikeluarkan FIFA.

Sering kali pemain tak punya pilihan. Demi karier dan hidupnya, risikonya mereka rela 'menyabung nyawa' dengan cuma menyandarkan diri pada sokongan motivasi klasik terhebat di dunia: uang. And then the show must go on. Cepat atau lambat, oke atau antipati, FIFA akan tetap sukses mengerek ajang ini dengan tajuk Festival of Champions mulai 5 - 29 Juni 2005 mendatang di lima kota di Jerman.


DAFTAR JUARA PIALA KONFEDERASI

Tahun
Tuan Rumah
Juara
Finalis
Nama Turnamen
1964
Brasil
Argentina
Brasil
Taca das Nacoes
1980
Uruguay
Uruguay
Brasil
Mundialito
1985
Prancis
Prancis
Uruguay
Trofi Artemio Franchi
1992
Saudi Arabia
Argentina
Arab Saudi
Piala Konfederasi
1993
Argentina
Argentina
Denmark
Trofi Artemio Franchi
1995
Saudi Arabia
Denmark
Argentina
Piala Konfederasi
1997
Saudi Arabia
Brasil
Australia
Piala Konfederasi
1999
Meksiko
Meksiko
Brasil
Piala Konfederasi
2001
Korea Selatan
Jepang
Prancis
Piala Konfederasi
2003
Prancis
Prancis
Kamerun
Piala Konfederasi
2005
Jerman
Brasil
Argentina
Piala Konfederasi

(foto: bongdaplus/destinationsoccer/dw/mindenuruguay/sportal/pes classic stats)

Friday, April 15, 2005

Australia Ke Zona Asia, Seharusnya Menjadi Australasia

Ini bak dongeng perkawinan. Setelah berjuang dan menanti selama 45 tahun, sebuah pinangan untuk mengawini pujaan hatinya, tahun ini hampir pasti kesampaian. Mempelai laki-laki, anggap saja begitu, adalah Australia. Mempelai wanitanya siapa lagi jikalau bukan Asia, dalam hal ini AFC. Pinangan pertama telah diajukan ke Kuala Lumpur, markas besar AFC, pada 8 Maret silam yang disaksikan oleh FIFA sebagai calon penghulu perkawinan kelak.

 sebuah pinangan untuk mengawini pujaan hatinya Australia Ke Zona Asia, Seharusnya Menjadi Australasia
Sebulan sebelumnya Australia (28/2) minta izin OFC (Konfederasi Sepak Bola Oseania), besan pertama, di Noumea, Kaledonia Baru. Untuk mencari Hari-H pada 23 Maret bos FFA Frank Lowy mengundang 'besan kedua' adalah Presiden AFC, Mohammad bin Hammam, ke Sydney.

Dalam pertemuan penuh hubungan itu, nyaris tiada permintaan dan cita-cita yang tidak disepakati. Intinya, bos AFC itu ingin memberikan diri bahwa Asia akan menjadi mertua yang baik bagi Australia. "Pertama-tama yang ingin kami ungkapkan...," buka Bin Hammam pada sambutannya, "...ini ialah saatnya sepak bola telah bersatu. Secara umum, bergabungnya Australia ke AFC merupakan keuntungan bagi persepak-bolaan dunia. Kami juga percaya ini sebuah kejadian yang paling pas dengan pihak yang sempurna."

"Cinta pada pandangan pertama telah muncul semenjak kita pertama kali bertemu di Kuala Lumpur tahun lalu, balas Lowy dengan bercanda. Semua hadirin di ruangan itu tersenyum simpul dan bersahaja. Di pihak lain, walau ada kesan pasrah dan rada duka, hasilnya dengan bangga OFC mendukung impian 'putra sulungnya' itu semata biar lebih bisa berkembang di kala mendatang. Pada 17 April kemarin, restu telah keluar usai rapat executive committee yang dipimpin pribadi Presiden OFC, Reynard Temarii.

Saat Pengesahan

Mereka sepakat menerima proporsal resmi keluarnya Federasi Sepak Bola Australia (FFA) dari keanggotaan di OFC serta mendukung bergabungnya FFA ke AFC sebagai bab dari relasi baik. Harapan OFC pada Australia ialah tetap memainkan peranan penting menyangkut training dan kolaborasi lain. Sampai kapan pun, OFC tetap menganggap Australia sebagai keluarganya sendiri. Duh, melankolisnya.

"Sepak bola yaitu sebuah permainan yang berkembang dan pada waktunya kami menerima kenyataan itu. Saya mendukung penuh kepindahan Australia ke Asia demi pembangunan sepak bola di Australia itu sendiri, kesempatan yang juga bisa didapat anggota lainnya. Hikmah di balik ini yaitu kami harus bekerja lebih keras lagi untuk mengembangkan sepak bola di wilayah ini," ungkap Temarii tanpa bermaksud menyindir niat Selandia Baru untuk mengikuti jejak kakaknya.

Kini kedua pihak dan kedua mempelai tinggal menunggu Hari-H yang telah ditentukan, ialah pada Juni mendatang, abad para anggota Executive Committee FIFA akan mengadakan rapat untuk memberi cap stempel karetnya atau tidak. Tapi bagai laki-laki yang ngebet kawin, pihak FFA amat yakin hasrat Australia akan menjadi kenyataan.

Enaknya lagi, sehabis bergabung nanti, peluang Australia tampil di Piala Dunia 2006 tetap terbuka. Tinggal mengatasi Kepulauan Salomon di play-off zona Oseania pada September 2005, The Socceroos kembali menanti siapa peringkat lima zona Amerika Selatan yang akan dihadapinya untuk memperebutkan satu tiket terakhir pada November 2005. Kejadian pindah-pindahan mirip ini kembali merepotkan FIFA. Iya kalau dari Asia ke Eropa, yang sama-sama banyak anggotanya. Bagaimana kalau dari zona bubuk-abu di mana anggotanya terbatas dan peta kekuatannya terbilang gurem?

Piala Asia 2007

Langkah egoistis Australia ini bahu-membahu merugikan dua pihak sekaligus, Asia dan Oseania. Dengan masih simpang siur kepastian jatah tetap tiket ke Piala Dunia berikutnya bagi zona Asia, sudah tentu peta persaingan kian berat. Sementara itu, gigi OFC juga makin tumpul saja karena selama ini Australia adalah maestro wilayah Oseania. Bagi sebagian negara Asia atau anggota AFC, nama Australia bukanlah sesuatu yang aneh.
 sebuah pinangan untuk mengawini pujaan hatinya Australia Ke Zona Asia, Seharusnya Menjadi Australasia
Stan Lazaridis vs Ismed Sofyan. Tetangga terdekat.
Sejak ikut Pra-Piala Dunia di 1965, mereka telah mengikat diri dengan Asia hingga kembali ke zona Oseania pada 1989. Dengan Indonesia, Australia dua kali sekandang pada PPD 1973 dan 1981 dalam zona Asia/Oseania. Memang obsesi Australia adalah World Cup. Dengan membanjirnya bakat dan bintang yang melimpah - sebut saja misalnya Tim Cahill (Everton), Harry Kewell (Liverpool), Stan Lazaridis (Birmingham City) atau Brett Emerton (Blackburn Rovers) - hampir seluruh rakyat, bahkan termasuk PM John Howards, sangat mendukung ilham brilian tersebut.

Australia pertama dan terakhir kali tampil di Piala Dunia pada 1974 di Jerman. Belakangan, mereka selalu gagal di dikala-saat simpulan. Bahkan pada tiga kualifikasi Piala Dunia terakhir The Socceroos selalu tersisih secara tragis. Menjelang 2002 disingkirkan Uruguay, pada 1998 disisihkan Iran, dan pada 1994 oleh Argentina. 

Akankah mereka gagal lagi menuju Jerman 2006? Tampaknya tidak, alasannya Australia telah meninggalkan statusnya sebagai jawara Osenia, yang selalu gagal jika diadu secara play-off oleh wakil Amerika Latin atau Asia. Dengan masuk wakil Asia, kemungkinan mereka lolos eksklusif ke Piala Dunia terbilang besar. Itulah seni manajemen, alasan, atau tepatnya "nalar bulus" mereka sampai mau pindah zona. Zona AFC hanya ditawarkan perkembangan pasar dan persaingan yang kompetitif, namun secara langsung, Australia menangguk keuntungan jauh lebih besar.

Pengukuhan Australia sebagai anggota AFC yang ke-46 akan dirayakan sekitar September depan pada rapat eksekutif AFC di Kuala Lumpur. Setelah itu, akan dipastikan Australia sudah mampu mengikuti kualifikasi Piala Asia 2007 yang putaran finalnya menurut rencana akan berlangsung di empat negara sekaligus: Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Setelah lamarannya dua kali ditolak AFC pada 1960 dan 1972, akibatnya keinginan panjang Australia untuk membina kembali mahligai sepak bolanya dengan bangsa-bangsa Asia kesampaian sudah. Mungkin, pada waktunya nanti, kedua benua itu  harus siap menanti kelahiran 'buah perkawinan' mereka yang akan diberi nama zona Australasia. 

Australia vs Asia Di Kualifikasi Piala Dunia


Pra-Piala Dunia 1966                                    21 November 1965     vs Korea Utara 1-6   (Phnom Penh)  24 November 1965     vs Korea Utara 1-3   (Phnom Penh)  Pra-Piala Dunia 1970                                    10 Oktober 1969      vs Jepang 3-1        (Seoul)       14 Oktober 1969      vs Korea Selatan 2-1 (Seoul)       16 Oktober 1969      vs Jepang 1-1        (Seoul)       20 Oktober 1969      vs Korea Selatan 1-1 (Seoul)       Pra-Piala Dunia 1974                                    11 Maret 1973        vs Irak 3-1          (Sydney)      13 Maret 1973        vs Indonesia 2-1     (Sydney)      18 Maret 1973        vs Irak 0-0          (Melbourne)   24 Maret 1973        vs Indonesia 6-0     (Sydney)      18 Agustus 1973      vs Iran 3-0          (Sydney)      24 Agustus 1973      vs Iran 0-2          (Sydney)      28 Oktober 1973      vs Korea Selatan 0-0 (Sydney)      10 November 1973     vs Korea Selatan 2-2 (Seoul)       13 Oktober 1973      vs Korea Selatan 1-0 (Hong Kong)   Pra-Piala Dunia 1978                                    13 Maret 1977        vs Taiwan 3-0        (Suva)        16 Maret 1977        vs Taiwan 2-1        (Suva)        10 Juli 1977         vs Hong Kong 3-0     (Adelaide)    14 Agustus 1977      vs Iran 0-1          (Melbourne)   27 Agustus 1977      vs Korea Selatan 2-1 (Sydney)      16 Oktober 1977      vs Kuwait 1-2        (Sydney)      23 Oktober 1977      vs Korea Selatan 0-0 (Seoul)       30 Oktober 1977      vs Hong Kong 5-2     (Hong Kong)   19 November 1977     vs Kuwait 0-1        (Kuwait)      25 November 1977     vs Iran 0-1          (Teheran)     Pra-Piala Dunia 1982                                    20 Mei 1981          vs Indonesia 2-0     (Melbourne)   10 Juni 1981         vs Taiwan 3-2        (Adelaide)    30 Agustus 1981      vs Indonesia 0-1     (Jakarta)     6 September 1981     vs Taiwan 0-0        (Taipei)      Pra-Piala Dunia 1986                                    23 Oktober 1985      vs Taiwan 7-0        (Adelaide)    27 Oktober 1985      vs Taiwan 8-0        (Sydney)      Pra-Piala Dunia 1998                                    22 November 1997     vs Iran 1-1          (Teheran)     29 November 1997     vs Iran 2-2          (Melbourne)
 
(foto: footballaustralia)

Australia Ke Zona Asia, Demi Pasar Dan Peluang

Banyak cara bagi sebuah negara untuk memperkuat atau mempercepat roda ekonominya. Salah satunya ikut serta ke dalam pusaran globalisasi sepak bola. Yang namanya urusan berskala internasional, kalau sudah atas nama bangsa atau pemerintah, dijamin tokcer, beres. Jargon tinggal dibikin, misalnya sebagai bagian dari dinamika ekonomi dunia, politik dunia, atau kebudayaan dunia.
Banyak cara bagi sebuah negara untuk memperkuat atau mempercepat roda ekonominya Australia Ke Zona Asia, Demi Pasar dan Peluang
Tim nasional Australia 2005.
Kepopuleran sepak bola sudah diakui di mana-mana. Olah raga ini dimainkan ratusan juta di seluruh dunia, ditonton oleh miliaran kepala dan kerap dibanjiri oleh berliter-liter air mata, bahkan darah. Universalitas olah raga ini memang sangat mengagumkan. Ia melintas batas, menembus lubang secepat membalikkan telapak tangan.

Sekarang jangan lagi terlampau banyak mati-matian di kompetisi skala nasional atau domestik. Sebagai prioritas, jika itu bisa dibilang, minimal targetnya sebatas regional kemudian perlahan-lahan ke internasional. Istilah ini terlalu biasa, mungkin yang pantas adalah internasionalisasi, globalisasi!

Sekarang memang sudah bukan lagi zaman yang berbau domestik, lokal. Yang namanya globalisasi bahkan sudah ada di dalam rumah. Tontonan eksklusif sepak bola Premier League dari ESPN atau Sky, misalnya, bisa ditonton entah itu di kamar tidur, ruang tamu, atau bahkan kamar mandi!

Karena itu, siapa sih yang tak termakan oleh sesuatu yang mengalir di dalamnya? Tentu saja maksudnya uang. Sepak bola yakni pasar yang sangat besar. Empat dari lima penduduk bumi kenal olah raga ini. Jumlah pelaku aktif dari yang mulai awam sampai profesional plus investor plus konsumennya ialah setengah dari jumlah yang kenal dengan olah raga ini tadi. Nah, mampu dibayangkan aura manfaatnya?

Karena menjadi wilayah yang terbanyak penduduknya di bumi, wajar Asia dan Oseania tetap menjadi buruan investor. Meski ketimpangan sosio-kultur dan sosio-politiknya mampu saja menjadi hambatan, angka pertumbuhan ekonomi Asia cukup menjanjikan. Termasuk untuk bisnis kolosal seperti sepak bola.

Sebagai negara benua dengan jumlah populasi seukuran pulau, tentu saja Australia ingin juga bermain, bahkan berada di pasar yang besar. Kini mereka telah merapatkan diri. Boleh dikatakan bahwa secara umum Asia dan Oseania ialah wilayah paling buntut di percaturan sepak bola dunia. Alam yang begitu luas dan cuaca keras lagipula amat kontradiktif, serta belahan lain yang dipenuhi lautan dan kepulauan terpencil, terperinci bin terang menjadi hambatan paling wahid untuk menuai perkembangan yang kondusif.

Ditambah dengan ketimpangan strata ekonomi antar-region - di mana barat dan timur begitu makmur dibanding zona tengah, selatan, dan tenggara - jalan roda kompetisi akan memakan biaya tinggi. Transportasi atau kemudahan juga mampu bermasalah lantaran perbedaan standar gaya hidup. Bagaimana standar stadion plus kamar gantinya, hotel, tempat latihan, keamanan, kenyamanan, atau kelancaran jalan masuk kemudian lintasnya? Belum lagi ruwetnya menghadapi belitan birokrasi.

Banyak cara bagi sebuah negara untuk memperkuat atau mempercepat roda ekonominya Australia Ke Zona Asia, Demi Pasar dan Peluang
Pasar sepak bola Australia semakin ramai.
Gara-gara soal faktor nonteknis begini, seringkali sulit bagi Asia dan Oseania untuk bersaing, jangankan dengan Eropa, dengan Afrika atau Amerika Latin saja dijamin bakal megap-megap terus. Lantas sampai kapan permasalahan tadi bisa diselesaikan AFC? Yang terang, itu tergantung pada niat dan kemauan para pentolan konfederasi sepak bola Asia, yang didominasi orang-orang Arab, Cina, Korea, atau Melayu.

Sudah bukan diam-diam lagi selama ini di tubuh sepak bola paling berkuasa se-Asia itu masih terjadi klik, perseteruan, dan perang kepentingan yang melibatkan bisnis hingga politik. Artinya, AFC harus konsisten dengan visi dan misinya dengan penitikberatan lebih ke entertainment, hiburan.

Prospek Indonesia

"Inti sepak bola adalah harus menghibur semua orang. Jangan hingga beliau dijadikan alat oleh sebagian kecil orang yang rakus bin tamak, yang dengan imbas atau kekuatan uangnya mampu seenaknya memutuskan apa saja, bahkan bisa menghentikan perkembangan sepak bola kalangan bawah dan menghancurkan fondasi sepak bola bangsa," begitu yang pernah ditulis Presiden FIFA, Sepp Blatter, dalam tulisannya di The Financial Times edisi 29 September 2004.

Jelas sudah bahwa intinya adalah football must remain be entertainment for all. Nah, bila para petinggi AFC belum setuju dalam mencapai tujuannya, bagaimana program gres AFC yakin Vision Asia bisa berjalan sesuai harapan? Ketika AFC mengumandangkan tekad bahwa kemajuan sepak bola Asia harus diawali oleh masing-masing region, artinya perhatian untuk Central/South Asia dan South East Asia harus lebih besar ketimbang West Asia atau East Asia.

Banyak cara bagi sebuah negara untuk memperkuat atau mempercepat roda ekonominya Australia Ke Zona Asia, Demi Pasar dan Peluang
Rakyat Indonesia kedatangan 'musuh gres'
Masuknya Australia ke zona Asia, yang kelak bakal diikuti oleh Selandia Baru memang akan memberi tantangan bagi AFC untuk bekerja lebih keras lagi. Namun, di sana juga akan mendatangkan kesulitan bagi anggota usang. Indonesia misalnya. Tanpa Australia dan Selandia Baru saja sudah teramat sulit kita lolos ke Piala Dunia.

Salah sendiri. Selama ini tak ada ide dan pikiran, keberanian dan hasrat, demi mengubah nasib dengan cara mencoba atau melobi, katakanlah mengajak Filipina atau Timor Leste untuk meramaikan dan bergabung ke zona Oseania, sehingga mampu dapat satu jatah resmi dari FIFA.

Tengoklah Arab Saudi dan Iran di  barat, Korea Selatan dan Jepang di timur, yang ibarat telah memesan empat tiket Asia di Piala Dunia. Satu lagi diperebutkan oleh Kuwait, Qatar, UEA, Bahrain, Irak, Uzbekistan, atau Cina, yang harus play-off melawan limpahan dari zona Eropa. Kini malah muncul Australia, tim Eropa kelas dua setengah.

Melihat gelagat ini, tak ayal lagi, jalan wilayah Asia Tenggara ikutan World Cup makin panjang dan berliku. Bahkan termasuk kejuaraan lokal setingkat Piala Tiger atau SEA Games seandainya Australia diterima sebagai anggota khusus ASEAN. Ke wilayah mana Australia nanti dimasukkan AFC sehabis bergabung? Belum jelas. Apakah bule-bule itu juga bisa tampil di Piala Tiger juga misterius.

Mitos dan Visi
Banyak cara bagi sebuah negara untuk memperkuat atau mempercepat roda ekonominya Australia Ke Zona Asia, Demi Pasar dan Peluang
Australia vs Indonesia. Bakal sering terjadi.
Selama ini sejarah sudah memberi bukti. Kemajuan di wilayah barat dan timur jauh lebih konkret, baik dari segi perkembangannya maupun prestasi. Mereka selalu bergantian menjuarai Piala Asia sejak awal. Dimulai oleh Korea Selatan pada 1956 dan 1960, Israel (1964), Iran (1968, 1972, 1976), Kuwait (1980), Arab Saudi (1984, 1988, 1996) hingga Jepang (1992, 2000, 2004). Di luar timur dan barat, seumur-umur cuma India (1964) dan Myanmar (1968) saja yang pernah mencapai pentas simpulan.

Zona timur dan barat juga paling sering mewakili Asia di Piala Dunia. Arab Saudi, Iran, Korea Selatan dan Jepang paling tradisional dan belakangan diikuti Kuwait, Uni Emirat Arab atau Cina. Bagaimana dengan prospek wilayah lain untuk tampil di World Cup di masa depan? Tetap gelap! Hal itu gres bisa dikatakan terperinci jika AFC dengan seadil-adilnya hingga memberi masing-masing satu tiket untuk setiap wilayah!

Mitos bahwa timur dan barat lebih berkuasa bekerjsama justru berkebalikan dengan akar sejarah persepak bolaan di Asia. Banyak fakta yang seharusnya mampu mengangkat harkat wilayah Asia Tenggara atau Asia Selatan dan Asia Tengah. Sejarah membuktikan bahwa Asia Tenggara merupakan daerah asal muasalnya persepak-bolaan Asia diinagurasi pertama kali.

Pada bulan April 1913 di Manila, Filipina, digelar turnamen sepak bola se-Asia yang diberi nama The Far Eastern Games. Siapa juaranya? Tuan rumah! Bayangkan, Filipina! Di tamat mereka mengalahkan Cina 2-1. Sayang tradisi dan grass root sepak bola Filipina hancur lebur jadi bubuk sesudah Amerika Serikat menguasai negeri kepulauan itu dikala Perang Dunia II.

Tingkat kemajuan sepak bola Asia beraneka ragam. Di tenggara bak seekor siput, lambat. Di selatan malah diam tak bergerak. Sementara itu, langkah di barat dan timur malah cepat dan amat proaktif sehingga bisa meyakinkan pihak Arsenal, Real Madrid, atau Manchester United sebagai pasar globalnya.

Ini salah satu alasan mengapa Australia masuk Asia. Mereka melihat pasar sepak bola yang besar seiring dengan prediksi akan menghebatnya pertumbuhan ekonomi Asia. Mereka mempunyai visi ke depan yang lebih mumpuni.


ASIAN MILESTONES


Bermula dari sebuah turnamen di Filipina pada 1913, lalu lolosnya Dutch East Indies (nama lama Indonesia) ke Piala Dunia 1938 dan kehebohan buatan Korea Utara dikala melibas Italia di Piala Dunia 1966, hingga munculnya sejarah fenomenal bin spektakuler Korea Selatan tatkala nyelonong ke semifinal Piala Dunia 2002, pesta sepak bola dunia pertama di wilayah Asia, progresivitas persepak-bolaan kontinen ini makin terarah meski tetap terbilang lambat. Berikut sebelas tonggak perjalanan persepak-bolaan Asia di percaturan dunia.

👉 April 1913 di Manila, Filipina, diadakan The Far Eastern Games yang menjadi cikal bakal kejuaraan sepak bola pertama di Asia. Filipina menjadi juara pertama kali usai mengalahkan Cina 2-1 di akhir. Di kurun-era berikutnya hingga 1934, Cina mendominasi turnamen dengan 9 kali menjadi juara, termasuk menjadi juara bersama dengan Jepang pada 1930.

👉 Pada 1938, atas campur tangan pemerintahan kolonial Belanda dan belum terciptanya iklim perkembangan sepak bola bangsa-bangsa Asia, membawa keberuntungan bagi Dutch East Indies yang mewakili zona Asia ke Piala Dunia 1938 di Prancis.

👉 Pada 8 Mei 1954, tahun yang sama berdirinya UEFA di Eropa, 12 negara Asia - Afghanistan, Myanmar, Taiwan, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Pakistan, Filipina, Singapura, dan Vietnam - sepakat mendirikan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) di Manila. Man Kam Loh dari Hong Kong terpilih sebagai presiden pertama AFC.

👉 Pada 1956, diselenggarakan Piala Asia pertama di Hong Kong dengan 12 peserta. Korea Selatan menjadi juara pertama kali usai mengatasi Israel di final.

👉 Pada 25 November 1961, seorang pemain asal Hong Kong, Cheung Chi-doy, mencetak sejarah sehabis membuat gol di Premier League (Divisi 1) untuk Blackpool ketika melawan Sheffield Wednesday.

👉 Pada 30 Mei 1965, Malaysia mengalahkan Hong Kong dalam sebuah pertandingan sepak bola wanita Asia pertama. Selang satu dekade, AFC Women's Championship digelar pertama kali dan dimenangi Thailand setelah mengatasi Hong Kong, Singapura, Malaysia, Australia, dan Selandia Baru di final. Pada 1991, Cina menuai sejarah dikala menjadi host Piala Dunia Wanita. Sayang di selesai mereka kalah dari AS.

👉 Pada 1979, turnamen kelas dunia pertama diadakan di Asia. Jepang menjadi tuan rumah FIFA World Youth Championship, kejuaraan yang kelak melahirkan legenda dunia, Diego Armando Maradona. Argentina meraih juara pertama kali. Pada 1985, giliran Cina menjadi tuan rumah pertama FIFA U-17 World Championship yang dimenangi Nigeria. Kejuaraan kelas dunia ketiga di Asia lagi-lagi digelar di Jepang, yang bersama Korea Selatan menjadi tuan rumah World Cup 2002.

👉 Pada 1980, penyerang top Korea Selatan, Cha Bum-keun, menjadi orang Asia pertama yang memenangi trofi Eropa setelah membawa Eintracht Frankfurt menjuarai Piala UEFA. Cha tampil di Bundesliga selama 8 musim dengan rekor 308 kali main dan 98 gol, termasuk di klub terakhirnya, Bayer Leverkusen.

👉 Pada 1994, usai aksi gemilangnya di Piala Dunia 1994 di AS, striker Arab Saudi, Said Owayran, memenangkan pemilihan Pemain Asia Terbaik (AFC Player of the Year Award) pertama kali. Golnya ke gawang Belgia, dengan menjelajahi setengah lapangan dan menaklukkan setengah para pemain lawan, menjadi salah satu The World Cup's Greatest Goals sampai sekarang. Sejajar dengan greatest goal ciptaan Diego Maradona tatkala mencetak gol kedua ke gawang Inggris di Piala Dunia 1986 di Meksiko.

👉 Pada Maret 1999, Iran menjuarai AFC Futsal Championship pertama di Malaysia. Di simpulan mereka menghancurkan Korea Selatan 9-1.

👉 Pada Oktober 2003, klub asal Uni Emirat Arab, Al-Ain, menjuarai AFC Champions League pertama kali. Klub ini dilatih oleh Bruno Metsu, laki-laki asal Prancis yang pada tahun sebelumnya mempermalukan negaranya sendiri tatkala tim asuhannya, Senegal, mengalahkan si juara dunia Les Bleus 1-0 lewat gol Papa Bouba-Diop.

(foto: footballaustralia)