Saturday, September 4, 2004

Arsenal The Invincibles (1): Dongeng Ihwal Keabadian

Suatu kali Sir Bobby Robson diharuskan menjawab bagaimana prospek Arsenal melakoni musim 2003/04 tanpa terkalahkan. Ini sebuah pertanyaan ihwal kesempurnaan. "Tekanan, ketegangan, perlawanan dan kecepatan bermain. Itu yang harus dilalui pekan demi pekan untuk meraih animo yang sempurna. Lalu lihatlah wajah mereka setelah main, fantastik!" beber manajer kharismatik di English Premier League tersebut.

Suatu kali Sir Bobby Robson diharuskan menjawab bagaimana prospek Arsenal melakoni musim  Arsenal The Invincibles (1): Kisah Tentang Keabadian
Sir Bobby berusia 71 tahun dan sudah melatih setahun sesudah Inggris menjadi juara dunia 1966. Ia anggota skuad The Three Lions di Piala Dunia 1958. Satu-satu saksi hidup yang masih aktif yang melihat dari bersahabat kemunculan Pele. Bermain cuma untuk Fulham dan West Bromwich Albion. Membela negara 20 kali sebagai pemain dan dua kali sebagai pelatih. Di tangannya, secara teknis Inggris tak pernah kecewa tapi selalu dikecewakan nasib.

Di Piala Dunia 1986, skuad Bobby tersisih oleh gol 'Tangan Tuhan' Diego Maradona. Pada 1990, giliran Stuart Pearce dan Chris Waddle yang bikin nelangsa Bobby karena gagal dalam tabrak penalti melawan Jerman di semifinal. Makara tidak Arsene Wenger sendiri, Alex Ferguson, Claudio Ranieri bahkan siapun di tanah Britania mampu menyaingi kesahihan Sir Bobby, juga pengabdian, prestasi, pengalamannya melihat datangnya generasi per generasi pesepak bola.

Apakah Highbury itu sebuah pangkalan militer atau perusahaan, sehingga amat tampil spartan? Untuk meraih top of the world, gaya dan disiplin militer lebih sering dipakai para pengubah sejarah. Dan Wenger cenderung menyukai meski sulit melakukannya. Arsene yaitu Arsenal, Wenger adalah Gunner. Dan Arsenal adalah keinginan sejati laki-laki Strasbourg kelahiran 22 September 1949. Sejak menggantikan Bruce Rioch pada September 1996, sampai kini ia telah menyabet tiga gelar English Premiership dan tiga titel Piala FA.

Philippe Troussier
Suatu kali Sir Bobby Robson diharuskan menjawab bagaimana prospek Arsenal melakoni musim  Arsenal The Invincibles (1): Kisah Tentang Keabadian
Seperti juga dedengkot Newcastle United, Wenger juga suka melanglang buana demi karier. Juga sama-sama pernah bertitel the most successful foreign boss ever. Kaprikornus keduanya amat tahu kapan dan bagaimana timnya harus digarap.

Berstrategi selama 38 partai, sekitar 3.500 menit (58,33 jam/2,43 hari!), tanpa kalah, yaitu fakta yang unbelievable di masa Premier League modern yang dikenal keras dan ketat. Pokoknya tak sebanding dengan Preston North End di 1889! Ya, syarat utama 'immortality' telah dipenuhi Wenger.

"Lebih berharga dari Liga Champion!" ucapnya jujur usai mengandaskan Fulham 1-0 di pekan ke-37, awal Mei 2004, dan sampai 50 tahun pun orang masih membicarakannya. Urusan liga, Wenger menyamai catatan Fabio Capello dan Louis van Gaal. Di isu terkini 1991/92, AC Milan menciptakan rekor 22-12-0. Sedangkan Van Gaal 27-7-0.

Pada skala kecil, beliau malah dibilang lebih andal karena mereka main 34 partai. Impian Wenger masih berkelanjutan. Ia gres 40 kali mencatat rekor unbeaten. Jika 42, maka rekor Brian Clough disamai. Andai mampu melewati 52, giliran prestasi Van Gaal terbenam. Dan bila menembus angka 58, Capello-lah yang dia kalahkan.

Namun di Tanah Britania, Arsenal bukanlah yang pertama immortal. Sekitar 115 tahun yang lalu, Preston mencapai invincibles, menang 18 kali, seri 4 kali dan jadi kampiun tiga bulan lebih cepat. Plus juara Piala FA dengan mengalahkan Wolverhampton 4-0. Satu dekade berikutnya, Glasgow Rangers menjuarai Liga Skotlandia via rekor 100 persen murni, 18 kali menang semua!

Tapi rekor Arsenal tetap terbaik dari sisi ujian dan jumlah berkelahi. Wenger tahu pasti, tiga kemenangan beruntun di awal 2004/05 akan melewati Nottingham Forest 1977-79. Yang tak terpikirkan Wenger, mungkin, rekor dunia unbeaten 108 kali atas nama laki-laki asal Prancis lainnya, Philippe Troussier.

Selama lima tahun (1989-1994) plus 108 sabung ditangani Troussier klub jagoan Pantai Gading, ASEC Abidjan, bertahan dengan rekor supergila: 96-12-0! Adakah ambisi ke sana Professor Wenger? Mudah kok, tinggal tanyakan saja pada Habib Kolo Toure, apa belakang layar kehebatan Liga Pantai Gading?

Bahkan kalau Arsenal hingga lebih dari 50 kali tak terkalahkan di Premier League, itu pun belum separo pencapaian luar biasa ASEC yang selama lima tahun sulit dibekuk siapapun di Pantai Gading, baik di ajang kompetisi atau pun kejuaraan.

Pada dikala itu, ASEC diperkuat sejumlah pemain top Pantai Gading seperti Abdoulaye Traore, Alain Gouamane, Donald Sie dan Gadji Celi. Kombinasi sempurna antara Troussier dan bos ASEC, Roger Quegnin, diduga sebagai kunci kesuksesan luar biasa itu. Barangkali saking tidak ada perlawanan serta bosan tidak pernah kalah selama lima tahun, akibatnya Troussier ngacir untuk mencari tantangan gres ke Burkina Faso, Nigeria, Afrika Selatan, kemudian Jepang.

Suatu kali Sir Bobby Robson diharuskan menjawab bagaimana prospek Arsenal melakoni musim  Arsenal The Invincibles (1): Kisah Tentang Keabadian

Dominasi ASEC baru terhenti pada 19 Juni 1994 dikala dikalahkan SO Armee 1-2. Namun kekalahan itu tak pernah menghapus sukses 'edan' klub berkostum kuning tersebut dan melihat rekornya lainnya: 13 kali menjuarai Liga Pantai Gading dalam 15 tahun terakhir. Dunia, termasuk FIFA, akibatnya tidak kuasa untuk tidak mengakui rekor ASEC (lihat daftar di bawah).

"Aura ASEC waktu itu sungguh beda dengan klub lokal lainnya alasannya adalah kami beraroma internasional. Punya pelatih penuh mitos dan presiden yang kesohor. Semuanya dalam kondisi terbaik dan memuaskan. Mulai dari suporter sampai honor pemain, yang membuat penampilan kami tiada duanya," kenang Abdoulaye Traore.

Dia bercerita betapa guncangnya seluruh pemain, pengurus, serta suporter akibat satu kekalahan yang menodai kehebatan mereka. Di berkelahi berikutnya, ASEC mengamuk total dan membantai klub Man dengan skor 11-0! Traore sendiri sampai bisa melesakkan delapan gol. Sepanjang 108 tidak pernah kalah, ASEC meraih empat kali juara liga dan tiga kali titel kejuaraan lokal. Uniknya kedigdayaan ASEC di Pantai Gading tidak tertular di ajang regional.

Seperti halnya Arsenal yang cuma meraih sekali juara Piala UEFA dan sekali juara Piala Winner namun tidak mampu merengkuh Liga Champion atau Piala Dunia antarklub sepanjang hidupnya, ASEC pun baru sekali meraih juara Afrika pada 1998.

Raihan itu sempat menciptakan polemik gres yang mengubur kenangan indah. Dikatakan sepak bola Pantai Gading tidak bermutu, kompetisinya kurang teruji dan tidak bermutu. Uniknya di ekspresi dominan 2003/04 ini pun, rekor ASEC seperti Arsenal di Premier League: belum terkalahkan selama 26 berkelahi.

"Banyak yang menyampaikan begitu. Itulah yang bikin kami mampu menang terus. Tidak pernah dianggap ASEC sangat berpengaruh. Ini memang masalah kami, maka biarkanlah. Akan berbeda contohnya dengan Arsenal yang kalau hingga 50 kali tak terkalahkan maka dikatakan Arsenal terlalu besar lengan berkuasa," papar Mamadou Kone, bos dari kelompok suporter ASEC.

Kepada James Copnall, wartawan The Guardian yang bikin liputan khusus dengan menyambangi markas ASEC di Abidjan, ia mengulas beda 'peradaban' antara negaranya dan Inggris. "Di sini atmosfer di stadion juga fantastis, namun begitu tamat orang-orang tidak pernah bertanya, membahas, menganalisis, atau mengingat. Mereka cuma bertanya: 'menang berapa?'” tutur Kone yang juga seorang pengacara.

Selama tiga tahun pertamanya mendominasi, Troussier melatih ASEC dengan metode yang tidak pernah dirasakan klub itu sejak bangun pada 1948. Troussier hadir di ASEC pada 1990 untuk menggantikan instruktur asal Belgia, Phillipe Garot (1987-1989).

Bangunan yang dibentuk Garot sudah mumpuni bagi Troussier untuk menyempurnakan kekuatan ASEC. Tidak mirip di cuilan Afrika lainnya, di wilayah Barat mirip di Pantai Gading, pemain bola sering dianggap sebagai raja kecil atau selebriti, yang pantas bergemilang ketenaran dan kekayaan.

Selain gaji tetap yang terbilang besar, setiap kemenangan, bahkan torehan gol, di sejumlah laga akan menambah pundi-pundi uang mereka dengan bonus atau hadiah lainnya. "Gaji sudah setuju, tapi yang membuat kami selalu bermain gemilang yaitu bayangan bonus," aku Traore, yang hidupnya telah berubah menjadi selebriti atau idola setiap anak lelaki di seantero negeri meski sudah tak aktif lagi sebagai pemain.

Secara kebetulan bek Arsenal, Habib Kolo Toure, juga keluaran ASEC. Juga Yaya Toure, saudara tirinya. "Kolo dan aku memang fan Arsenal," kata Traore. "Kami di sini terus mengikuti sepak terjang Arsenal, kebanyakan alasannya Kolo," lanjut Traore. "Dan layaknya kebanyakan negeri berbahasa Prancis lainnya, kami juga mengidolai Thierry Henry, dan sepak terjang Arsene Wenger yang begitu kolosal."

Pada akibatnya prestasi tertinggi-lah yang memilah globalisasi sepak bola. Banyak yang mendapatkan, tapi sebagian lagi menyesalinya, termasuk Traore. "Seperti halnya Arsenal, satu-satunya penyesalan saya melihat ASEC tidak berjaya di kompetisi internasional," sergah Traore lagi. Wow...

10 Laga Kunci Gunners Meraih Immortal 2003/04

Suatu kali Sir Bobby Robson diharuskan menjawab bagaimana prospek Arsenal melakoni musim  Arsenal The Invincibles (1): Kisah Tentang Keabadian


Sudah diduga Arsenal bisa menjuarai EPL 2003/04 lebih cepat dari waktunya. Dan itu benar-benar terjadi justru di markas musuh bebuyutannya, Tottenham Hotspur, White Hart Lane, tepat di pekan ke-34. Tak ada hasil tanpa proses. Berikut 10 partai kunci paling sukses yang menciptakan The Gunners meraih mahkota ke-13.

21 September 2003 Pekan 6 - MANCHESTER UNITED 0-0 ARSENAL

Pertandingan dirasuki huru-hara pada hasilnya. Lima pemain Arsenal kena hukuman sesudah menganiaya si troublemaker, Ruud van Nistelrooy, yang tendangan penaltinya saat injury-time membentur mistar gawang Jens Lehmann. The Gunners dianggap menang alasannya meraih satu poin berharga.

26 September 2003 Pekan 7 - ARSENAL 3-2 NEWCASTLE UNITED (1-0 Thierry Henry 18, 1-1 Laurent Robert, 2-1 Gilberto Silva, 2-2 Olivier Bernard, 3-2 Thierry Henry 79pen).

Kepercayaan diri merebak setelah menahan Manchester United. Kekalahan 0-3 dari Internazionale di Highbury (17/9) mulai terlupakan. The Magpies melakukan perlawanan alot. Tapi hands-ball Jermaine Jenas yang dilihat wasit Mike Riley berujung eksekusi sepakan penalti.

4 Oktober 2003 Pekan 8 - LIVERPOOL 1-2 ARSENAL (0-1 Harry Kewell 14, 1-1 Sami Hyypia 31bd, 1-2 Robert Pires 68).

Ini duel big-match beruntun keempat. Baru 14 menit, Harry Kewell membuat Anfield bergemuruh. Arsenal mulai tanpa diperkuat Patrick Vieira, Fredrik Ljungberg dan Dennis Bergkamp yang kesemuanya cedera. Gol indah Robert Pires menuntaskan perlawanan Liverpool.

18 Oktober 2003 Pekan 9 - ARSENAL 2-1 CHELSEA (1-0 Edu 4, 1-1 Hernan Crespo 8, 2-1 Thierry Henry 75).

Gol cepat Edu seperti Arsenal bakal melumat Chelsea. Tapi selang empat menit, Hernan Crespo menyamakannya. Lalu sebuah kesalahan fatal yang dibuat Carlo Cudicini, bola terlepas, dikala berusaha menangkap umpan Robert Pires dari sayap kanan, langsung dimanfaatkan Thierry Henry.

8 November 2003 Pekan 12 - ARSENAL 2-1 TOTTENHAM (0-1 Darren Anderton 5, 1-1 Robert Pires 69, 2-1 Fredrik Ljungberg 79).

Setelah selamat dari empat pekan yang mematikan, Arsenal menemui musuh besarnya. Gol tamu sejak menit kelima begitu awet sampai tiga perempat waktu pertandingan. Robert Pires memecah kebuntuan abad Thierry Henry ditempel mati. Lalu gol Ljungberg menamatkan Spurs.

21 Februari 2004 Pekan 26 - CHELSEA 1-2 ARSENAL (1-0 Eidur Gudjohnsen 1, 1-1 Patrick Vieira 15, 1-2 Edu 21).

Duel langsung seru dan ketat beberapa detik dimulai. Bahkan gol tercepat musim ini dibentuk pada detik ke-27 tatkala para pemain Arsenal belum menyentuh bola! Namun akidah diri meningkat, terutama setelah Vieira membalas. Lalu gol Edu menambah derita tuan rumah.

28 Februari 2004 Pekan 27 - ARSENAL 2-1 CHARLTON (1-0 Robert Pires 2, 2-0 Thierry Henry 4, 2-1 Claus Jensen 59).

Ini bentuk faktual sebuah keberuntungan. Mungkin pelajaran termahal Arsenal. Bayangkan dalam waktu empat menit, duo Henry-Pires mengubah skor 2-0. Apa yang terjadi setelah itu amat mengejutkan. Chalrton menguasai tubruk, Claus Jensen mencetak gol, dan tuan rumah beruntung tidak ditahan seri.

28 Maret 2004 Pekan 30 - ARSENAL 1-1 MANCHESTER UNITED (1-0 Thierry Henry 50, 1-1 Louis Saha 86).

Arsenal terlihat begitu takut menghadapi semangat Setan Merah. Unggul semenjak menit 50, sesudah itu mereka menemui kesukaran menambah gol. Sebaliknya usai gol akibat, tamu malah menguasai permainan. Kembali, Arsenal tidak tersungkur di tangan musuh abadinya ini.

9 April 2004 Pekan 31 - ARSENAL 4-2 LIVERPOOL (0-1 Sami Hyypia 5, 1-1 Thierry Henry 31, 1-2 Michael Owen 42, 2-2 Robert Pires 49, 2-3 Thierry Henry 50, 2-4 Thierry Henry 78).

Ini pentas terberat bagi pasukan Arsene Wenger usai dibunuh Chelsea di pentas Liga Champion. Tanda-tanda bakal kalah pertama kali terlihat. Dua kali Arsenal tertinggal. Tapi apa yang terjadi sehabis itu? Henry sangat luar biasa. Dan di pekan inilah, hampir niscaya gelar diraih.

25 April 2004 Pekan 34 - TOTTENHAM 2-2 ARSENAL (0-1 Patrick Vieira 3, 0-2 Robert Pires 35, 1-2 Jamie Redknapp 62, 2-2 Robbie Keane 94pen).

Laga yang memastikan titel juara. Arsenal mengulangi memori 1971, memastikan juara di White Hart Lane. Partai penuh konflik dan tuan rumah ingin mempermalukan Arsenal. Sayang, The Gunners sudah percaya diri. Pesta sederhana pun digelar di sana, mulai dari lapangan sampai dressing-room.

Rekor Global Tak Terkalahkan Di Kompetisi

Laga Klub                 Negara          Rentang        108  ASEC Abidjan         (Pantai Gading) 1989 - 1994    104  Steaua Bucuresti     (Rumania)       1986 – 1989    85   Esperance            (Tunisia)       1997 - 2001    62   Celtic               (Skotlandia)    1915 - 1917    60   Union Saint-Gilloise (Belgia)        1932 - 1935    58   AC Milan             (Italia)        1991 - 1993    58   Skonto Riga          (Latvia)        1993 - 1996    56   SL Benfica           (Portugal)      1977 - 1979    56   Penarol              (Uruguay)       1966 - 1969    55   Dalian Wanda         (Cina)          1995 - 1997    55   Empire Gray Farm     (Antigua)       1997 - 2000    55   Shakhtar Donetsk     (Ukraina)       2000 - 2002    54   CE Principat         (Andorra)       1997 - 1999    53   FC Porto             (Portugal)      1994 - 1996    53   Sileks Kratovo       (Masedonia)     1995 - 1997    52   Ajax Amsterdam       (Belanda)       1994 - 1996    51   Sparta Praha         (Czech)         1920 - 1923**  51   Barry Town FC        (Wales)         1997 - 1998    51   FK Crvena Zvezda     (Serbia)        1999 - 2001    49   Levadia Maardu       (Estonia)       1999 - 2001    48   Norma Tallinn        (Estonia)       1991 - 1994    48   Besiktas             (Turki)         1991 - 1992    48   Kareda Siauliai      (Lithuania)     1997 - 1999    47   Dinamo Bucuresti     (Rumania)       1991 - 1992    47   FK Obilic Beograd    (Serbia)        1997 - 1999    47   Skonto Riga          (Latvia)        1996 - 1998    46   Dinamo Tirana        (Albania)       1955 - 1956    46   Flora Tallinn        (Estonia)       1994 - 1996    46   Maccabi Haifa        (Israel)        1993 - 1994    45   Al-Ahly              (Mesir)         1998 - 1999    45   Partizan Beograd     (Serbia)        1996 - 1997    44   Palestino            (Cili)          1977 - 1978    42   Nottingham Forest    (Inggris)       1977 - 1978    41   Pyunik Yerevan       (Armenia)       1995 - 1997    41   Wiener Sport-Club    (Austria)       1958 - 1960    40*  Arsenal              (Inggris)       2003 -         40*  Hearts of Oak        (Ghana)         2002 –         40   Boca Juniors         (Argentina)     1998 - 1999    40   Dunaferr FC          (Hongaria)      1999 - 2000    40   Fiorentina           (Italia)        1955 - 1956    39   Vardar Skopje        (Masedonia)     1994 - 1996    39   Racing               (Argentina)     1965 - 1966    38   Shirak Gyumri        (Armenia)       1994 - 1995    38   Anorthosis           (Siprus)        1999 - 2000    38   Celtic               (Skotlandia)    2003 - 2004    38   Real Sociedad        (Spanyol)       1979 - 1980    37*  Pyunik Yerevan       (Armenia)       2002 -         37   Celtic               (Skotlandia)    1995 - 1996    37   Flora Tallinn        (Estonia)       2002 - 2004    37   Perugia              (Italia)        1978 - 1979    37   Sheriff Tiraspol     (Moldova)       2001 - 2002    37   Widzew Lodz          (Polandia)      1995 - 1996    36   Galatasaray          (Turki)         1985 - 1986    36*  Real Estel           (Nikaragua)     2003 -         36   Dinamo Tbilisi       (Georgia)       1996 - 1997    36   Hamburger SV         (Jerman)        1982 - 1983    36   Universitario        (Peru)          1974 - 1975    35   KIM/Dvina Vitebsk    (Belarusia)     1994 - 1995    35   Feijenoord           (Belanda)       1969 - 1970    35   PSV Eindhoven        (Belanda)       1977 - 1978    35   PSV Eindhoven        (Belanda)       1985 - 1986    35   PSV Eindhoven        (Belanda)       2000 - 2001    34   APOEL Nikosia        (Siprus)        1947 - 1950    34   Nacional             (Uruguay)       1915 - 1918    34   Vardar Skopje        (Masedonia)     1993 - 1994    34   Leeds United         (Inggris)       1968 - 1969    33   Dynamo Kyiv          (Ukraina)       1999 - 2000    33   Legia Warszawa       (Polandia)      2001 - 2002    33   Panathinaikos        (Yunani)        1963 - 1965    33   Panathinaiko         (Yunani)        1994 - 1995    33   Pirouzi              (Iran)          1999 - 2000    33   Universidad de Chile (Cili)          1999 - 1999    32   SK Tirana            (Albania)       1936 - 1937    32   Alga-RIIF Bishkek    (Kyrgyzstan)    1993 - 1993    32   Defensor Sporting    (Uruguay)       2000 - 2001    32   Dynamo Kyiv          (Ukraina)       2001 - 2002    32   Nantes               (Prancis)       1994 - 1995    32   Sparta Praha         (Czech)         1996 - 1997    32   SC Villa             (Uganda)        2002 - 2003    29   Millonarios          (Kolombia)      1999 – 1999    
 
(sumber: RSSSF) catatan: * masih berjalan ** semua menang (51-0-0)
 

Thursday, September 2, 2004

Roman Abracadabra!

KIRA-KIRA setahun lalu, aku terlongo-longo dengan munculnya sosok yang semudah membalikkan telapak tangan tiba-tiba saja membeli Chelsea FC. Bak meteor liar lepas dari edarnya, secepat itu pula namanya mulai tercetak di pelbagai surat kabar sejagat hingga kini. Roman Abramovich, orang yang dimaksud itu, membeli saham Chelsea Village milik Ken Bates, Juli 2003, sebesar 59,3 juta pound.

longo dengan munculnya sosok yang semudah membalikkan telapak tangan tiba Roman Abracadabra!
Ia juga melunasi 80 juta pound utang klub kesukaan mantan PM Inggris John Major tersebut. Dalam sekejap imperium yang dibangun Bates semenjak 1991 itu pun pindah tangan dan nama Che£$ki mulai berkumandang. 

Mengarungi isu terkini pertamanya, laki-laki 37 tahun yang berwajah imut itu kembali menyuntik Chelsea dengan dana 120 juta pound untuk belanja pemain. Hasilnya runner-up liga dan semifinalis Liga Champion digapai, prestasi yang selama 22 tahun belum pernah dirasakan Bates.

London pun heboh, terutama London Stock Exchange. Inggris geger. Manchester United dan Arsenal mulai menggigil. Bos-bos Real Madrid dan AC Milan juga pribadi konsolidasi diri dengan lebih sering menjamu makan malam para akuntan dan pengacaranya. Secara substansial yang dihadapi bukan lagi Frank Lampard cs. atau Jose Mourinho, melainkan si lugu yang punya "pohon uang". Menghadapi orang naif model begini, apalagi kaya raya dan berkuasa, jauh lebih berat ketimbang urusan apa pun di lapangan hijau. Siapa pun oke.

Selama ini Abramovich sudah melecehkan dua pesaing di Inggris dan Eropa itu seolah menepuk dada. Caranya menawar tinggi Ruud van Nistelrooy, Thierry Henry, David Beckham, dan Andriy Shevchenko sekaligus! Terasa main-main, tapi tolong jangan anggap remeh keseriusannya. Red Devils paling tertikam. Bayangkan CEO-nya saja, Peter Kenyon, mampu diangkut ke Stamford Bridge.

Itu menciptakan eksistensi Sir Alex Ferguson atau Silvio Berlusconi terancam. Akhirnya lamunan aku berhenti sehabis menyadari tindak tanduk Abramovich. Repot memang meladeni orang sok tahu. Abramovich berlagak tahu, itu bisa diperdebatkan. Tapi, secara logika, orang terkaya ke-25 di dunia jelas tak tahu bola. Ia sangka dengan punya gudang uang, maka "Abrakadabra!", ia bisa meraih apa saja termasuk harga diri. No way, Kamerad!

Dalam wawancaranya dengan harian olah raga Spanyol Marca, Claudio Ranieri mengaku sudah tidak tahan lagi dengan perasaannya. "Bisnis tak mampu memecahkan masalah sepak bola. Sejak datang ia sudah ngebet pada Sven," kata pria berjulukan "Si Tukang Patri" itu. 

Sven-Goran Eriksson merasa tersanjung, tapi Abramovich telah menampar rasa kebanggaan dan historisnya. Ketika si naif bertemu dengan si playboy, yang muncul adalah sebuah basa-busuk belaka. Aura, perilaku, dan sifat keduanya tidak nyambung sama sekali. Yang ada di otak si Rusia adalah uang, sedang di benak si Swedia yaitu perempuan. "Saya mirip ditusuk pedang! Jika saya memberi titel juara Liga Champion pun, aku tetap dipecat," beber Ranieri.

Abramovich segera menitahkan patihnya menyiapkan cek 6 juta pound untuk pesangon Ranieri. Kalau si lugu mengerti sepak bola, tentu dia mengurungkannya ketika Chelsea tengah berada di semifinal Liga Champion. "Dia tak tahu apa-apa soal sepak bola. Itu amat memalukan. Jika dia mengerti prestasi tim saya, harusnya dia memberi wewenang aku untuk menguatkan tim," tutur si Italia, yang kembali ke Valencia. Perlu juga dipikirkan bahwa jika si Roman tahu sepak bola, kenapa dia membeli bintang-bintang kelas dua, bukan pelatih kawakan?

Soal ini, Abramovich kalah telak dari Berlusconi, yang kerap mengatur strategi Rossoneri dari meja kerjanya di Milano. Tidak seperti PM Italia itu, agaknya jalan Abramovich untuk menghuni istana Kremlin makin terjal. Karakter Abramovich cuma terlihat dan terasa pada uangnya, bukan sosoknya. Dua gol di dua partai awal demam isu ini - bandingkan dengan 9 gol Arsenal - sudah bicara banyak. Mourinho tidak sebanding dengan Arsene Wenger. Di London, si merah tetap yakin lebih hebat dari si biru.

Sampai kini pun banyak rakyat Inggris sulit mengerti betapa kaya rayanya pria yang belum memenuhi persyaratan life begins at 40 - yang mereka anut - itu. Sungguh mencengangkan sebab Roman si anak yatim piatu itu baru berusia 37 tahun! Di Britania Raya, Gubernur Provinsi Chukotka di Siberia itu menggusur raja susu kotak Hans Rausing, yang telah bercokol empat tahun di puncak, sebagai the Richest Person kata The Daily Mail. Kekayaannya ditaksir melebihi 7,2 miliar pound. Bisa untuk membeli Chelsea 51 kali.

                                                    *****

MENURUT Fortune, kekayaan Abramovich 10,6 miliar dolar AS dan ada lima tingkat di atas Berlusconi (10,0), di posisi ke-30, sebagai 100 world's richest people. Posisi Roman naik terus. Nomor 363 di 2001, 127 di 2002, 49 di 2003. Dan kini 25. 

Di negerinya sendiri Abramovich berada di urutan dua dengan 12,5 miliar dolar AS, di bawah gurunya yang tengah dibui, Mikhail Khodorkovsky (15,2). Ini menurut Russia's Golden Hundred terbitan Forbes edisi khusus Rusia. Buku itu jadi kontroversial alasannya kemudian editornya, Paul Khlebnikov (41), tewas ditembak medio Juli kemudian. 

Pria Rusia berkewarganegaraan AS ini dikenal sebagai spesialis pembongkar dunia hitam, menjamurnya kekerasan, kekuasaan, dan uang yang di Negeri Tirai Besi. Memang sudah suratan. Andai saja Khlebnikov ahli menyamar kolam Val Kilmer di film The Saint.... Siapa yang menembak? Menurut Mosnews mudah saja, niscaya salah satu dari 100 orang terkaya itu. Nah!

Populasi mahajutawan Rusia memang keterlaluan. Negeri ini mempunyai 25 orang terjaya sedunia, ketiga terbesar setelah AS (279) dan Jerman (52). Bahkan kata Valentina Akimova, staf Kementerian Pajak Rusia, negerinya punya 84 ribu miliuner! Hitungannya, alasannya sejumlah itulah yang membayar pajak antara 1-10 juta rubel (340 ribu dolar AS). Ironisnya, booming ini terjadi setelah Uni Soviet ambruk pada 1991. Di masa Boris Yeltsin, industri metalurgi-minyak dan gas-berjaya. Semua kecipratan rezeki, termasuk Khodorkovsky dan Abramovich.

Inggris selalu dibuat galau oleh kekayaan. Negeri ini paling menghargai ilmu pengetahuan melalui The Royal Society, yang pernah diketuai Sir Isaac Newton sampai Stephen Hawking. Namun, sudah jadi dalil bahwa orang-orang terkaya kerap mengabaikan pendidikan. Mereka bukannya tidak cerdik, malah jenius. Selain Abramovich, contohnya William Henry Gates III alias Bill Gates, yang mapan sebagai the First Richest-man in the Free World justru setelah drop-out dari Universitas Harvard.

Akan tetapi otak mereka selalu dipenuhi bisnis, yang didasari ekonomi. Ilmu ekonomi mengilhami politik. Basis ilmu politik ialah ilmu perang. Abramovich juga selalu bikin galau lawan-lawannya. Ia tak pernah berkoar-koar dan bermain cantik, tapi bisa liar saat menginginkan sesuatu. 

Ketenangannya bak patung Lenin di tengah kota. Diam, santai namun penuh magis. "Roman sinar mataharinya London," puji Pro Sport Magazine. Kekayaan mampu tiba dari warisan atau kegigihan. Penentunya yaitu luck, trick, and Machiavellism. Sejak 1974, Ivan Illich, pakar politik dan sosial paling radikal, memprotes fungsi utama sekolah lewat buku kontroversial After Deschooling, What? Begitu juga Robert Kiyosaky pada antologi Rich Dad, Poor Dad.

Cerita Abramovich terus mengalir tiada henti. Di Rusia beliau telah membuat Chelsea II, adalah CSKA Moskva. Belum lagi misalnya pesawat pribadi teranyarnya, Boeing 767, yang gres dibeli dengan harga yang ditaksir 1 miliar dolar AS, yang menyamai keamanan dan kenyamanan Air-Force One.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ada banyak arti roman. Ia bisa dipecah sedikitnya menjadi 15 macam, antara lain roman berangsur, bertendensi, detektif, sejarah, sosial atau psikologi dan sebagainya. Roman juga punya lima makna. Bisa wajah, kisah cinta, atau sejenis karakter. Secara definitif dia yakni kisah lengkap jalan hidup seseorang yang bekerjasama dengan budbahasa, ekonomi, sosial, lingkungan, atau pandangan hidup. Ternyata satu roman mampu mewakili multi kisah itu. Dia yaitu Roman "Abrakadabra" Abramovich.

(foto: istimewa)

Monday, August 2, 2004

Kapitalisme

ORANG Amerika percaya suatu saat nanti kapitalisme justru membunuh sepak bola itu sendiri. Is capitalism killing football, tanya mereka. Kenyataannya, sepak bola sekarang tengah dibelit globalisasi, kata halus untuk kapitalisme.

ORANG Amerika percaya suatu saat nanti kapitalisme justru membunuh sepak bola itu sendiri Kapitalisme
Soal dampaknya, Eropa tidak peduli, jalan terus. Tengoklah UEFA, yang getol mengipasi arti profesionalisme sehingga dua klub terangkuh di dunia, Real Madrid dan sekarang Chelsea, dengan leluasa makin menikmati hidangan yang ada. Imbasnya bursa saham London dan Madrid terus agresif.

Parahnya lagi, kontinen lain tak bisa apa-apa selain menjadi massa mengambang. Afrika terang pengikut paling royal, Amerika Latin hilang akal, sedangkan Asia malah jadi area perahan baru nan favorit mengingat didiami 2/3 penghuni bumi. Apalagi di situ bangkit Cina, negeri yang berpenduduk 1/5 dari total seluruh insan di planet ini.

Sepp Blatter kolam membuka kotak Pandora. Setiap beliau memberesi satu-dua persoalan, sepuluh masalah gres malah muncul. Dalam tindakannya yang selalu berusaha untuk harmonis, Presiden FIFA muncul sebagai seorang ultrasosialis, tokoh antikemapanan. Meski ia orang Swiss, negeri sejuta bank yang punya Nestle, sebuah ikon kapitalis kuliner dunia, tetap saja orang Eropa memusuhinya.

Untuk memperkuat visualisasi cerita obsesif seorang Blatter, dan globalisasi yang menyeret sepak bola ke dalam lingkarannya, Franklin Foer menuangkannya dalam How Soccer Explain the World: An Unlikely Theory of Globalization. Kita di Indonesia juga sudah terseret dalam pusaran ini. TV satelit kian laris, plaza dipenuhi franchise klub-klub top. Apa lagi? Sepak bola sekarang lebih dari sekadar permainan atau sebuah way of life, jalan hidup.

Soccer is a perfect window into the crosscurrents of today's world, with all of its joys and sorrows, demikian kata bangsa Amrik, sang penggagas kapitalisme, mengakui gemebyar pentas sepak bola era milenium kini. Karena itu, Blatter sangat puas era melihat Yunani menjadi juara Eropa, bersyukur tatkala FC Porto menggapai titel Liga Champion 2004, dan ikut bangga saat Korea dan Turki masuk empat besar World Cup 2002. Tiga perilaku yang beda dengan satu lisan yang sama: kemenangan.

Sebaliknya UEFA merasa ada yang salah selama ini. Apa itu? Setelah dicari-cari, rupanya ketemu juga: agenda kompetisi. Asumsinya, Yunani bisa juara karena pemain nasionalnya lebih sedikit main bola! Itu karena satria nasional, Angelos Charisteas, hanya cadangan di Werder Bremen. Begitu juga Stylianos Giannakopoulos di Bolton Wanderers. Alpha Ethniki Katigoria, ini nama legal Liga Yunani, yang cuma beranggotakan 16 klub. Berarti tiap klub hanya 30 kali bermain dalam semusim.

Musim lalu tak satu pun dari Theodoros Zagorakis atau Angelos Basinas bertarung habis-habisan di pentas Eropa. Jadi, masuk akal kalau Prancis atau Inggris tersisih karena Thierry Henry atau Frank Lampard sudah jenuh dengan 50-an pertandingan yang diikutinya termasuk di tim nasional.

Gara-gara bola, kita juga mampu melihat bahwa dunia ini memang kagak keruan. Lihat bagaimana klub Eropa bisa mencerca kedaulatan sebuah bangsa di Amerika Latin. Valencia dan Real Madrid marah alasannya adalah Roberto Ayala dan Walter Samuel diperlukan negaranya di Olimpiade 2004. Belakangan Sir Alex Ferguson mengancam meninjau kontrak Gabriel Heinze di klubnya jikalau beliau juga ikut pesta di Athena. Argentina, salah satu negara miskin di dunia, teraniaya.

Orang-orang pintar itu lupa bahwa tim nasional ialah keberadaan sebuah negara di atas rumput, di bawah koridor sport. Serangan Valencia bisa dianggap kurang bermakna. Tapi, bagaimana jika klub yang dipunyai PM Italia juga mampu menyerang kedaulatan negara dan bangsa Brasil?

                                               *******

SOAL polemik Kaka beberapa waktu kemudian, seorang bos Milan berani bilang, "Kami yang menimbulkan beliau seperti ini." Itulah kejahatan kapitalisme. Dia bisa membius orang, masyarakat, bahkan satu bangsa berpenduduk 184 juta jiwa.

Ciri khas kapitalis ialah berlebihan, berbau arogan. Kerap kali orang melihatnya sebagai ketamakan bin rakus, dihalalkan oligarkis. Tujuan diiringi dengan kepandaian melakonkan keserakahan. Harus berprinsip air laut, semakin haus saat terus diminum.

Maraknya kapitalisme mampu dilihat dikala demam isu transfer. Ini kawasan semua yang berlebihan tersuguh. Sepak bola cuma 11 pemain dan beberapa cadangan. Tapi sebuah klub di Eropa mampu punya 40-50 pemain, dua per tiganya foreigner.

"Saya heran pemain Asia mau saja digaji orang Eropa untuk bermain 4-5 kali setahun," sungut Blatter di Beijing suatu kali. "Kenapa Anda tidak bayar seorang Javier Saviola untuk main di sini?" Blatter berani menyebut sepak bola kini sudah mendekati slavery, perbudakan modern. Kongkritnya, orang-orang kulit putih (Eropa) makin menguasai, maaf, orang-orang kulit hitam (Afrika) dan kulit berwarna (Latin dan Asia).

Karena itu, ada baiknya, daripada puyeng melulu, seharusnya Blatter berani ambil keputusan drastis: mengesahkan sepak bola menjadi dua kubu, profesional dan amatir. Hal itu akan menjelaskan kesumiran yang terjadi seperti sekarang. Tinju contohnya. Orang pasti terperinci memilahnya. Yang pakai kaus itu amatir dan yang telanjang yakni profesional. Beres. Amatir di tinju berbau nasionalisme, patriotik.

Makanya jangan paksa orang Kuba baku pukul sambil bertelanjang dada tanpa pakai kaus. Begitu juga sehebat-hebatnya Mike Tyson atau Oscar de la Hoya, jangan harap simbol kebangsaan lebih mencuat di situ meski The Star Spangled Banner selalu dinyanyikan secara acapela. Tidaklah, kecuali jumlah dolar atau nama Don King.

Dalam sejarahnya di Indonesia pun tak ada rekor penonton, haru biru kehidupan, drama, fanatisme konkret yang bisa diraih seperti divisi utama (antarperserikatan) PSSI dulu. Begitu diubah pada 1978 dengan Galatama, antusiasme masih membubung.

Namun, sebab tak memahami apa itu kapitalis, sepak bola Indonesia risikonya malah kacau. Normalnya, muara sebuah kompetisi adalah membentuk tim nasional. Saat itu menjadi pemain nasional sangat prestisius, sulit diraih alasannya adalah harus lolos dari opini publik dan pers.

Di Eropa pun kini terjadi kolusi antara pelatih nasional dengan klub-klub. Kapan boleh memakai si anu atau si fulan. Kalau main, perjanjian untuk berapa menit juga ada. FIFA dibentuk sibuk alasannya agendanya harus mengacu pas pada klub, kompetisi, sampai federasi yang bersangkutan. Selain uang, sepak bola yaitu simbol nasionalisme, politik, kultur, ekonomi, bahkan peradaban (civilization) dunia.

Jika saja orang AS maniak dengan permainan ini, dua per tiga isi dunia mungkin tidak kebagian apa-apa di olah raga ini. Selama ini mereka telah menguasai politik, ekonomi, teknologi, dan ruang angkasa. AS yakni bangsa di dunia yang paling gemar olah raga.

National Football League (NFL), National Basketball Association (NBA), dan National Baseball League (NBL) yakni simbol kapitalisme Amerika di dunia olah raga. "Siapa saja yang ingin tahu jantung hati Amerika harus lebih dulu mempelajari dengan baik bisbol," tegas Jacques Barzun, seorang pseudo-intelektual.

Bangsa ini memang superlatif, bahagia dengan sikap berlebihan. Tinju diganti dengan wrestling, balap mobilnya yakni Nascar yang mampu mencapai 500 lap. Mereka juga tak ragu mengubah standar yang ada di basket dengan NBA-nya atau di sepak bola (MLS). Jadi, beruntunglah Eropa tatkala orang AS menganggap sepak bola sebagai olah raga yang terlalu murah, kurang jantan, sedikit angka, gampang cedera, dan dipenuhi risiko keonaran massa.

Amerika masih tetap menganggap sepak bola yakni permainan sosialis, sangat jelata. Paling tidak Jack Kemp pernah mengungkapkan itu. Pada 1986, senator ini berani menentang Kongres yang mengesahkan kesediaan AS sebagai host Piala Dunia 1994. "Ada perbedaan mencolok antara football yang demokratis dan kapitalis dengan soccer yang olah raga sosialis ciptaan Eropa itu. Bagaimana mungkin?" tanya Kemp. 

(ilustrasi: istimewa)

Thursday, April 15, 2004

Jerman Tambah Capek

Ini episode kebencian klub-klub top Eropa. Sejak resmi dikreasi FIFA pada 1997, ajang bergengsi di pertengahan tahun ini selalu dirasuki kontroversi dan disarati kepentingan banyak pihak, mulai dari FIFA, masing-masing konfederasi, tim nasional, klub, televisi, iklan, sampai sponsor bahkan juga keluarga si pemain.

 ajang bergengsi di pertengahan tahun ini selalu dirasuki kontroversi dan disarati kepenti Jerman Tambah Capek
Prancis juara 2003 di hadapan arwah Marc-Vivien Foe.
Tewasnya Marc-Vivien Foe di atas rumput Stade Gerland, Lyon, 28 Juni 2003, ternyata tak menyurutkan niat Sepp Blatter untuk melestarikan Piala Konfederasi. Foe diduga mati keletihan luar biasa akibat agenda padat Liga Eropa, tepatnya Premier League. Siapa yang dirugikan? Tentu banyak. Lalu siapa yang diuntungkan? Kelihatannya tidak ada

Namun the show must go on. Kejuaraan ini memang dua tahunan, tepatnya di tahun ganjil, namun sifat paradoksnya beruntun dengan gelaran yang direstui FIFA sendiri, seperti Piala Eropa, Piala Afrika, Piala Amerika, sampai Piala Asia. Bayangkan dalam tahun-tahun ke depan ini bagaimana seorang Jacques Santini atau Sven-Goran Eriksson meracik timnya untuk Piala Eropa 2004, Pra-Piala Dunia 2006, Piala Konfederasi 2005, dan puncaknya Piala Dunia 2006.

Hal yang sama dirasakan Arsene Wenger (Arsenal), Carlos Quieroz (Real Madrid), Ottmar Hitzfeld (Bayern Muenchen), atau Claudio Ranieri (Chelsea). Keempat manajer top Eropa ini saling bertaut kepentingan dengan instruktur nasional Prancis itu. Idem ditto soal penyelenggaraan. FIFA masih awut-awutan menentukan tuan rumah turnamen antarjuara benua ini. Sepertinya tak ada patokan, kecuali ia sebagai host Piala Dunia. Dua 'korban' anyar yakni Korea Selatan/Jepang, dan Jerman.

Tinggal Empat

Anehnya, tahun lalu program ini justru diadakan di Prancis. Sampai di sini, Blatter tampaknya takut pada UEFA. Bagaimana kesannya bila Belanda dan Belgia serta Portugal diberi kerja ekstra untuk menggarap Piala Konfederasi 1999 dan 2003. Mungkin FIFA berkilah bahwa Confederations Cup mampu dijadikan testing atau gladi resik menjelang pesta besar bantu-membantu. Kini yang bakal ekstra capek ialah Jerman.

Demikianlah ketetapan FIFA yang lahir dari rapat organizing committee di Zuerich, yang diketuai Chuck Blazer dari AS pada 30 Oktober silam. Ya, tuan rumah Piala Dunia 2006 itu ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Konfederasi edisi ketujuh. "Piala Konfederasi ialah ajang yang menarik karena menjadi simbol solidaritas antarkonfederasi. Tanpa harus mengesampingkan Piala Dunia, ini juga merupakan turnamen resmi," tulis Sepp Blatter dalam pernyataannya yang dibacakan Blazer.

Turnamen yang murni lahir dari wangsit Blatter pada 1997 itu menurut rencana akan digulirkan tanggal 15-29 Juni di enam kota: Kaiserslautern, Hannover, Frankfurt, Leipzig, Nuernberg, dan Koeln. Kejuaraan ini akan diikuti 8 negara.

Separo pesertanya sudah tersedia. Tuan rumah Jerman, juara dunia 2002 Brasil, juara Afrika 2004, Tunisia, dan juara Concacaf 2003, Meksiko. Sisanya ditunggu dari Piala Eropa, Piala Amerika, Piala Asia, dan Piala Oseania tahun ini. Jika Brasil menjuarai Copa America 2004, yang akan digelar Juli ini di Peru, maka sang runner-up yang akan lolos ke FIFA Confederations Cup Germany 2005. Hal yang sama berlaku buat wakil Eropa andai Jerman memenangi Euro 2004.

Piala Konfederasi sejak 1992

Tahun             Tuan rumah     Juara
1992         Arab Saudi Argentina
1995         Arab Saudi Denmark
1997         Arab Saudi Brasil
1999         Meksiko Meksiko
2001         Korea-Jepang Prancis
2003         Prancis Prancis
2005         Jerman ?

(foto: rediff)

Piala Dunia Klub: Ambisi Blatter Semata?

Mau diakui atau tidak, hambatan terbesar FIFA untuk menyatukan sepak bola dunia ada di arena ini. Ajang yang bernama resmi Club World Cup FIFA Championship ini bukan saja menerima sambutan dingin, tapi lebih dari itu, ditentang keras. Siapa lagi bila bukan oleh klub-klub top Eropa yang tergabung dalam kelompok G-14.

"Tidak! Selama ini kami telah puas dengan kompetisi yang ada. Tak ada lagi acara di luar itu," kata juru bicaranya, Karl-Heinz Rummenigge. Tanggapan atas impian FIFA menggelar Kejuaraan Dunia Antarklub II, yang berdasarkan planning digulirkan di Jepang pada Desember 2005, terasa kencang.

Alasan Rummenigge paling utama yakni kepadatan acara Eropa selama ini. "Kami menolak bermain di kejuaraan dunia klub dan keputusan ini simpulan. Tak satu pun klub dari G-14 yang akan berpartisipasi di kompetisi buatan FIFA itu. Keputusan ini juga selesai," tegas salah bos Bayern Muenchen tersebut.

Bagi FIFA, boikot G-14 ini sama saja mimpi di siang bolong. Apa akhirnya menggelar pentas para pendekar dari enam konfederasi tanpa wakil Eropa? Soalnya bisa dipastikan, sang duta Eropa akan diwakili salah satu dari mereka. Mungkin kalau ingin melihat satu-satunya kekompakan antara UEFA dengan G-14 juga ada di sini. G-14 yaitu kumpulan elite klub-klub top Eropa yang terbentuk sejak 1998. Mereka yakni kunci industri sepak bola di negaranya.

Demi Solidaritas

G-14 ialah: Real Madrid, AC Milan, Ajax Amsterdam, Bayern Muenchen, Manchester United, Juventus, Liverpool, Barcelona, Internazionale, Borussia Dortmund, Olympique Marseille, Paris SG, PSV Eindhoven, dan FC Porto. Asosiasi G-14 resmi dibuat tahun 2001. Pada 2003, Valencia, Arsenal, Bayer Leverkusen, dan Olympique Lyon bergabung. Walhasil, posisi tawar G-18 semakin menguat lagi bukan saja pada UEFA, tapi juga di depan FIFA.

UEFA amat menyadari bahwa tanpa G-14 sepakbola tidak akan menarik, bahkan proses industri akan mati perlahan. Karena G-14 mirip duri dalam daging di tubuh UEFA, akibatnya FIFA juga tak mampu memaksa atau menekan UEFA. FIFA telah merilis pernyataan pada 19 Februari 2004 bahwa semenjak 2005, Piala Toyota - yang selama ini menjadi ajang kekuatan klub di dunia - akan dihapus. Sebagai gantinya, FIFA mengadakan Kejuaraan Dunia Antarklub alias Piala Interkontinental.

Di Piala Toyota, FIFA melihat tak ada keadilan. Dalam ajang tersebut, mana bisa para juara dari Asia, Afrika, Concacaf serta Oseania ikut serta? Ini soal solidaritas. Keempat zona itu juga butuh identitas serta sasaran puncak dari eksistensinya. Hingga usainya sidang Komite Eksekutif FIFA, 29 Februari kemudian di London, titik temu belum diperoleh. Apalagi duduk perkara lain juga muncul setelah asosiasi Guatemala menolak akhir dilema finansial internal.

Kenapa Diboikot?

Belakangan ini tensi Sepp Blatter mampu jadi meninggi. Sudah berkoar-koar setengah mati untuk meramaikan Piala Konfederasi, tapi ditanggapi dengan hambar, eh presentasinya di Piala Dunia Antarklub juga ditolak sana-sini. Yang niscaya presiden FIFA ini bertekad akan jalan terus, walau diboikot G-14. "Tak ada negosiasi dengan mereka. Ini sama halnya dengan pembicaraan diakui atau tidaknya institusi (G-14) oleh FIFA," terperinci Blatter sengit.

Seusai sidang komite eksekutif di London, pada 15 Maret silam, bergotong-royong Blatter telah men-setting FIFA Club World Championship. Menurut Blatter, turnamen yang diikuti enam klub itu cuma berlangsung tak lebih dari 8 hari. Juara Asia, Afrika, Concacaf, dan Oseania akan diundi untuk mencari dua pemenang di penyisihan. Mereka kemudian diadu dengan juara Amerika Latin dan juara Eropa di semifinal untuk menentukan dua kawasan di simpulan.

 kendala terbesar FIFA untuk menyatukan sepak bola dunia ada di arena ini Piala Dunia Klub: Ambisi Blatter Semata?
"Kami telah memikirkan dan menghormati padatnya agenda kompetisi reguler dan juga perjalanan jauh ke dan dari Jepang. Mereka cukup main dua kali dengan waktu istirahat yang memadai," ujar Blatter penuh harap. Ia menyadari bahwa Amerika Latin dan Eropa masih merupakan dua kekuatan dunia. Karena itu, mereka mendapat dispensasi hanya pribadi tampil di semifinal. Tapi, rupanya hal ini masih belum cukup menggerakan isu terkini kubu Eropa.

Kenapa mereka tetap menolak? Pemicunya adalah pengalaman buruk Manchester United pada Kejuaraan Dunia Antarklub pertama pada 5-14 Januari 2000 di Brasil. Pengalaman Red Devils tersebut hingga sekarang menjadi trauma jawara-jawara Eropa.

Kekompakan Eropa

Saat itu, masih dengan euforia juara Liga Champion, United terpaksa mengorbankan ajang tradisional nan penting, Piala FA. Walau dikecam rakyat Inggris dan membuat FA geram, David Beckham dkk. tetap terbang. Akibatnya sudah bisa ditebak. United tersingkir di fase penyisihan bahkan kalah 1-3 dari Vasco Da Gama.

Hal sama juga dirasakan Real Madrid. Los Blancos gagal ke final Piala Interkontinental. Kedua klub pun merasa malu dan sia-sia. Visi Blatter membentuk an expression of solidarity in world football pada kesannya menemui jalan buntu karena mengganggu mesin uang klub-klub top termasuk industri sepak bola Eropa.

Alasan kedua wacana ogah tampilnya Eropa rada berat. Selama ini tuntutan G-14 ke FIFA dan UEFA soal kompensasi uang bagi para pemain yang digunakan tim nasional masih belum digubris. Boleh jadi hal ini memang sengaja dikait-kaitkan. Yang ketiga yaitu keraguan soal perlindungan keikutsertaan mereka di sana, termasuk keuntungan finansial. Khusus yang ini justru telah disepakati sejak Januari 2003, bukan saja G-14 malah oleh sebuah grup yang terdiri 102 klub top.

Di pertemuan The European Club Forum di markas UEFA di Nyon, telah dideklarasikan bahwa Eropa tak akan mengikuti Piala Dunia Antarklub versi FIFA. Sampai di sini kelihatannya Blatter bertekuk lutut. Menyerah tanpa syarat! "Kami tak yakin di turnamen tersebut ada suatu kebutuhan atau sebuah hasrat bagi klub-klub Eropa, penggemar, pemain, atau partner komersial. Kami tetap bersikap menentang hingga kapan pun," demikian pernyataan tunggal lembaga Eropa.

Plintat-plintut
 kendala terbesar FIFA untuk menyatukan sepak bola dunia ada di arena ini Piala Dunia Klub: Ambisi Blatter Semata?

Menurut Jaime Orti, Presiden Valencia, pihak G-14 masih akan mengadakan pertemuan di Brussel, Belgia, pada 2 Juni depan untuk mengantisipasi 'serangan' FIFA. Melihat tekad baja Blatter tadi agaknya pertikaian akan kian panas. Siapa akan menang? Menurut para pengamat, Blatter akan tetap terpojok.

Walau kini datang dengan janji lebih elok, kegagalan Piala Dunia Antarklub I pada 2000 ialah fakta yang tak terbantahkan dan amat traumatis. Puncaknya yaitu di dikala turnamen kedua di Spanyol siap digelindingkan. Tiba-datang saja ISL Worldwide, mesin uang FIFA yang menjadi marketing partner sah kolaps, pailit berat dan gulung tikar.

"Terlalu banyak faktor kesulitan segi komersial, karena ketika itu. Blatter terlalu percaya diri dan sering menggampangkan duduk perkara. Blatter plots wrong course," komentar Phil McNulty, chief football writer pada tajuknya di BBC edisi 20 Februari 2004. Bahkan ada analisis yang menyebutkan betapa mudahnya Blatter memutar haluan pikirannya. Ini mungkin salah satu karena kenapa beliau ditinggalkan istrinya belum lama ini atau yang membuat Corinthians dia campakkan pada tahun 2001.

Gara-gara jadwal sepak bola di dunia yang sudah kelewatan banyak, Blatter alhasil terpaksa harus plintat-plintut. Sebelum 16 Desember ia ingin hanya enam klub yang tampil sebagai wakil dari seluruh zona yang ada.Jepang bukanlah isu pertama, mungkin juga kata terakhir, lantaran pada rilis FIFA 30 Oktober 2003 ia akan memberi tuan rumah pada anggota Concacaf.

Setelah itu, baru Asia pada 2007 katanya. Melihat Blatter sendiri yang bersemangat dan bak kebakaran jenggot, orang mampu saja curiga. Ada apa di balik itu semua? Benarkah Blatter mengusung rencana terselubung atau ambisi pribadinya lewat bendera FIFA? Semakin dipikir, semakin buang waktu. Sementara jadwal di depan harus dijalani. Inilah yang akibatnya membuat mereka muak.

(foto: youtube/Een/soccerly)

Tuesday, February 3, 2004

Cerita Aib Nigeria Di Kamar 343

Banyak kejutan terjadi di Piala Afrika 2004. Untuk pertama kalinya, Tunisia meraih titel juara. Lalu, ada berbagai pemecatan instruktur dan pemain sebelum dan selama turnamen, vandalisme, sampai perampokan. Tapi yang terheboh, sudah pasti, skandal atau beberapa insiden yang menerpa Super Eagles alias tim nasional Nigeria.

 ada berbagai pemecatan pelatih dan pemain sebelum dan selama turnamen Kisah Aib Nigeria di Kamar 343

Seperti sudah garis tangan, bukan sepak bola Afrika jikalau tidak ada kehebohan. Bahkan di luar logika sekalipun. Di benua yang lafalnya berasal dari pengecap orang Arab, Ifrikiya, itu sering banyak kelucuan, terkadang dongeng angker.

Unsur klenik, memakai dukun atau santet biar tim lawan jadi lemas bermain atau ngaco, masih mentradisi di milenium gres ini. Bahkan hal itu masih muncul di Tunisia, negeri yang bekerjsama religius, di mana seharusnya segala kelakuan bejat haram terjadi.

Edisi kontroversial diawali dikala Ephraim Masabha, pelatih Bafana-Bafana -  tim nasional Afrika Selatan - dipecat SAFA (“PSSI” Afsel) lantaran terlalu ngotot menarik bintang Afrika Selatan yang bertebaran di Eropa. Lalu, setelah bermain di perempatfinal, dan kalah, datang-datang El-Hadji Diouf (Senegal) menantang seluruh isi stadion sambil berkecak pinggang. Lho? Dengan lantang, pemain Liverpool itu berani memaki-maki tim tuan rumah Tunisia. Sontak, CAF (Konfederasi Sepak Bola Afrika), atas rekomendasi FIFA, menghukum penyerang paling nyeleneh itu.

Bukan apa-apa, masalahnya Presiden Tunisia, juga petinggi CAF dan FIFA, masih belum angkat pantat dari stadion! Masih di tengah perhelatan ajang berusia 47 tahun, pintu kamar mandi sebuah hotel jebol berat akibat didobrak oleh pria asal Guinea bernama Bobo Balde. Apakah bek Glasgow Celtic ini sangat kebelet mau kencing? Sama sekali bukan! Tak tahunya dia melampiaskan kemarahan, berang dong, seusai timnya kalah dari Mali. Dampaknya, Balde pun merogoh koceknya sebesar 500 dolar untuk bayar denda.

Tapi episode yang paling bikin Anda melamun terjadi pada tim nasional Nigeria. Yang pertama barangkali Anda tidak perlu sampai mengelus dada. Ceritanya begini. Pulang tanding lawan Zimbabwe, yang mereka remukkan 5-3, biji mata lima punggawa tim Super-Eagles membulat begitu hingga kamar hotel.

Tawa ha-ha he-he dan guyonan Geremi Njitap, Idriss Kameni, Mohammed Idrissou, dan Daniel Ngom Kome, langsung stop karena melihat bekas pintu didobrak dan kamar mereka awut-awutan. Setelah dihitung tekun bareng-bareng sambil harap-harap cemas, total 66 ribu pound uang mereka dirampok dari safe deposit box yang dijebol paksa ala Balde. Ekstra apes untuk Geremi, si gelandang kekar Chelsea. Jam Rolex-nya seharga 20 ribu pound, sekitar Rp 300 juta, secara tidak resmi telah pindah tangan.

Nah telenovela Nigeria yang kedua badung membuat Anda mengucek-ucek mata, jadi berdoa atau malah mengutuk. Pasalnya ini amat geger. Kisah bermula saat tiga pemain yang cari makan di Eropa, Aiyegbeni Yakubu (Portsmouth), Celestine Babayaro (Chelsea), dan Victor Agali (Schalke), pulang bareng seusai tubruk. Menurut sebuah insider, mereka terpaksa tidak pulang bareng dengan tim alasannya adalah habis dimaki-maki oleh pelatih nasional dengan dakwaan tidak disiplin. Maklum, saat itu Nigeria secara mengejutkan kalah dari Maroko.

Skandal Bejat

Berdasarkan inside stories dan investigasi lengkap dari Vanguard, koran olah raga terbesar di Lagos, dongeng Aiyegbeni, Babayaro, dan Agali jadi menggegerkan khalayak ramai. Kenapa? Rupanya mereka ketangkep berair di sebuah kamar, berpesta seks!

“Mereka bukan saja melanggar disiplin tim, bejat, tapi sudah bikin aib negara! Pemerintah harusnya ikut menghukum mereka. Tapi biarlah, sisanya Tuhan yang akan menghukum mereka. Garba Lawal dan Ifeanyi Ekwueme akan menggantikan posisi para pembejat itu,” kata Dr. Rafiu Ladipo, pemimpin kontingen suporter Nigeria.

Para petinggi Nigerian Football Association (NFA) dan Kementerian Olah Raga Nigeria eksklusif menilik kejadian 27 Januari nan memalukan itu di kota Monastir. Saksi telah didapat, yakni seorang ofisial tim dan sekuriti hotel. Ketiga pemain berkilah itu sebagai urusan pribadi, namun NFA tetap bereaksi keras.

“Saya sangat shock. Ini tindakan indisipliner terparah, tidak patriotik, dan kami sulit mengampuninya. Anggota Dewan NFA telah bertemu dan setuju untuk memulangkannya. Tindakan mereka itu bisa menulari pemain lain,” gerutu Presiden NFA, Haji Ibrahim Galadima.

Kejadian bermula periode ketiga pesepak bola ini keluyuran malam seusai kalah di partai awal penyisihan grup. Mungkin sebagai pelampiasan kecewa akhir dimaki-maki oleh manajer tim serta ketua rombongan, mereka - Yakubu, Babayaro, dan Agali – malah menjudikan reputasi dirinya dan juga negaranya. Awalnya, sekuriti hotel mencurigai ketiganya lantaran bermain ‘kucing-kucingan’ dengan tiga perempuan bule tidak dikenal.

“Saya terus memonitor pergerakan ketiga wanita itu sejak memesan kamar di lantai tiga. Beberapa pemain juga diawasi sesuai dengan ajakan ofisial tim. Melihat ada yang menyelinap masuk ke kamar wanita itu, saya laporkan langsung ke ofisial tim,” tutur sekuriti hotel tersebut.

Seluruh tim Nigeria tinggal di lantai empat Kuriat Palace, hotel berbintang lima. Berniat nyelonong ke lantai lain kemudian ‘ketanggor’ tentu saja mencurigakan. Mereka tetap melakukannya. Yang terjadi kemudian bikin verbal orang menganga. Atas tunjangan petugas hotel, para ofisial membuka membisu-membisu pintu kamar dengan kunci cadangan.

“Apa yang kami saksikan ketika itu mungkin menciptakan anda tak percaya. Kami menemukan mereka tengah bergumul berpasang-pasangan. Gilanya, meski sudah melihat kami, mereka tak menghentikan aksinya!” ujar seorang ofisial masih tak percaya melihat adegan luar biasa tersebut. Barangkali ya memang tanggung.

Tak disebutkan bagaimana cara menyetop orgy kolosal di kamar 343 itu. Tapi sesudah simpulan, cuma kaum wanita yang diinterogasi sekuriti hotel. Dari verbal ketiga cewek bule tersebut – dua dari Inggris dan satu Jerman – keluar pengesahan bahwa mereka sengaja diinapkan oleh Agali cs. Nigeria pun geger. Laporan Vanguard dan harian This Day membuat pro-kontra dan polemik bermunculan di masyarakat.

Nigeria bak ditabok telak. Aib hina ini awalnya tak terendus eksklusif media lokal dan abnormal. Menteri Olah Raga Kolonel Musa Muhammed, marah semurka-murkanya dan bilang bangsa terhinakan. Meski akhirnya meraih juara ketiga, prestasi Super-Eagles menjadi tidak berarti. Banyak masyarakat yakin skandal di Kamar 343 itu telah menguras mentalitas serta stamina skuad nasional Nigeria. Ketiga pemain internasional Super-Eagles tersebut tentu wajib dan harus segera meminta maaf pada NFA. Namun itu hanya dilakukan Babayaro. 

Sementara dua lainnya tidak mau. Yakubu buru-buru kabur ke Portsmouth dengan sakit hati alasannya adalah merasa peristiwa itu dibesar-besarkan. Reaksi paling keras tiba dari Victor Agali. “Kenapa harus minta maaf? Hal itu akan menawarkan bahwa kami salah. Saya berani jamin bahwa kami tak melaksanakan apa pun. Saya akan menuntut NFA dan Menteri Olah Raga kalau perkawinan kami terganggu,” kilah striker kelahiran 27 Juni 1979 yang mengaku tak dicurigai istrinya.

Gilanya lagi, penyerang FC Schalke itu malah menyerang ke sana ke mari, termasuk ke instruktur Nigeria, Christian Chukwu, yang dinilainya tidak cakap dan kurang pandai.  “Ah, mereka itu cuma ingin menyelamatkan jabatannya saja setelah kekalahan pertama. Saya juga kaget. Saat menangani berita ini gaya Pak Menteri seperti tentara. Beliau tidak memberi kami waktu untuk membela diri,” lanjut Agali, yang lupa bahwa sang menteri memang tentara!

Kutukan Langsung

Tahukah Anda apa yang terjadi pada Agali kemudian? Setibanya di Jerman, dia di-PHK klubnya karena malu dengan kelakuan tidak terpujinya! Oleh manajer Schalke, Rudi Assauer, lelaki setinggi 193 cm itu disarankan bergabung ke klub Swiss, FC Basel. Agali mesti membayar dosa dan kesalahannya secara langsung. Reaksi Agali? Kali ini pemain yang gabung sejak 2001 itu tidak bernafsu kecuali pasrah. 

“Saya kecewa sekali. Ini datang-tiba sekali,” keluh Agali pada Kicker. “Sebelum winter break, saya enggan pergi dengan free-transfer, mereka ingin memperpanjang kontrak. Schalke ambil laba dikala saya pergi ke Tunisia. Padahal aku yang terbanyak mencetak gol di Schalke dua tahun terakhir,” omel Agali.

Kutukan Yakubu lain lagi. Manajer Porthsmouth, Harry Redknapp, seolah tidak mau tahu dengan skandal seks yang dianggapnya sebagai duduk perkara pribadi. Dia justru merasa bahagia begitu striker berusia 22 tahun itu diusir Super-Eagles karena tenaganya dibutuhkan klubnya. Bahkan Redknapp menyuruhnya buru-buru terbang ke Portsmouth untuk menghadapi Wolverhampton Wanderers di tabrak Premier League, beberapa hari kedepan.

Namun, seperti Agali, kali ini Yakubu pun mesti membayar dosa dan kesalahannya. Saking terburu-burunya ke pertandingan Sabtu (31/1), penyerang klub Pompey berleher beton itu menuruh sopirnya untuk ngebut, mengendarai mobil dengan kecepatan tidak masuk akal di jalanan umum.

Sontak mereka dikejar patroli jalan raya. Di lampu merah, mobil Yakubu distop polisi, dan beliau ditilang sebab melanggar batas kecepatan. Untung, pak polisi mengenali wajah Yakubu yang tidak mengecewakan ngetop lantaran jadi pemain Portsmouth. Setelah catat sana-sini, dia dilepas beberapa menit lalu. Walhasil, dia telat 19 menit sesudah waktu kick-off. Itu yang membuatnya baru dimainkan Redknapp di babak kedua. 

Mendengar informasi ini, tabloid The Sun sontak mengirim wartawannya untuk mengonfirmasi info tersebut, kemudian bertemu dengan inspektur polisi John Happel. “Betul, anak buah aku menilangnya alasannya beliau (Yakubu) memaksa sopirnya mengebut untuk mengejar waktu kick-off. Itu alasan mereka. Kami harus semakin tegas dengan kebut-kebutan alasannya adalah belum lama ini ada anggota Parlemen Inggris mengalami kecelakaan di kota ini,” beber Inspektur Happel. Ah, seandainya Pak Polisi tahu alasan dari alasan tilang itu niscaya melongo juga.

(foto: nigerianeye/dailymail/solofutbol/naijaloaded)

Saat Sepp Blatter Membela Afrika

Menjelang undian kualifikasi grup Piala Dunia 2006, Desember 2003 silam di Frankfurt, pria berkuasa yang menguasai bahasa Inggris, Spanyol, Prancis, Italia, plus Jerman ini datang-tiba mengecam perilaku “orang-orang Eropa” pada orang-orang Afrika di depan elite UEFA. Waw, ada apa dan mengapa beliau hingga nekat bertindak begitu?

Menjelang undian kualifikasi grup Piala Dunia  Ketika Sepp Blatter Membela Afrika
Konkretnya, Sepp Blatter geram dengan kelakuan klub top Eropa yang mencomot bakat-bakat Afrika secara serampangan. “Saya lihat ada yang tidak sehat, jika tak pantas disebut kekejian, saat klub kaya mengirim pencari bakat untuk cari pemain di Afrika, Amerika Selatan, dan Asia dengan cara memberi keinginan. Setelah dilatih serius, mereka memainkan (politik) uang dikala pemain tadi tertimpa kesulitan,” terperinci Blatter berapi-api.

Yang paling banyak jadi korban, siapa lagi jikalau bukan Benua Hitam. Tak terhitung berapa belum dewasa Afrika yang dieksploitasi besar-besaran oleh agen-distributor yang berstatus unscrupulous, tak bermoral. Dalam kolomnya di The Financial Times, laki-laki kelahiran 10 Maret 1936 ini berani menyebut frasa Football Slavery alias perbudakan sepak bola (oleh Eropa)!

Buat negara-negara dunia ketiga, Blatter adalah hero mereka. Dia punya moto “Football for All, All for Football”. Visinya yaitu tiada hari tanpa modernisasi sepak bola, dan tentu saja keadilan untuk semua insan. Kapasitas jabatannya melebihi seorang pemimpin negara mana pun sebab sebagai capo di cappi tutti (bos dari segala bos), ia ialah presiden dari 204 negara sejagat. Makara kekuatan dan kekuasaan untuk mempengaruhi atau mengubah keadaan amat mumpuni. Ironisnya, realitanya tidak begitu.

Menjelang undian kualifikasi grup Piala Dunia  Ketika Sepp Blatter Membela Afrika

Joseph “Sepp” Blatter (68) mengaku saban hari selalu menemukan permasalahan di sepak bola yang juga menjadi misinya. Dan orang Swiss ini tampak pro anti-kemapanan. Perkembangan sepak bola di Monserrat atau Ethiopia, wasit yang curang, klub yang tak membayar gaji pemainnya, transfer terselubung, perkara doping Rio Ferdinand, hingga perkara akhir hayat pesepak bola. Karena harus terus berada di tengah-tengah, bila ombak ada di kiri dia harus membanting kapal (FIFA) ke kanan dan sebaliknya, balasannya Blatter rentan dimusuhi segala pihak mulai orang per orang, instruktur, bos klub, perusahaan, bahkan negara!

Bahkan dengan UEFA, dia tidak akur. Blatter sering bersilat lidah dengan Presiden Lennart Johansson. Maklum, konotasi UEFA yaitu profesional, kapitalis, uang alias cari untung. Sementara itu, FIFA condong amatir, penyamarataan, mengarah ke sosialisme. Itulah yang membuat Blatter - suksesor Dr. Joao Havelange semenjak 8 Juni 1998 - lebih terkenal di kalangan proletar ketimbang borjuis.

“Istilah perbudakan sepak bola yaitu gambaran seorang pemain bola yang di akhir karier jatuh miskin dan tak punya cukup uang untuk membiayai kehidupannya yang jauh dari Tanah Air-nya,” papar eks pesepak bola Liga Amatir Swiss di abad 1948-71 itu. Blatter menuduh klub kaya Eropa telah memperkosa hak-hak sosial dan ekonomi para pemain Afrika dengan berbungkus membangun dunia untuk talenta dan hiburan atau industri. Jika terlalu berorientasi market, kehormatan, dan integritas berada di ujung tanduk.

Munculnya tarik-ulur antara klub Eropa dan negara-negara Afrika menjelang Piala Afrika 2004 menandakan teori Blatter benar. Tunisia harus berterima kasih pada bos besar FIFA ini yang mengancam akan menghukum klub-klub Inggris kalau tak melepas pemain Afrika untuk membela negaranya. “Kelakuan klub-klub kaya Eropa itu seperti neokolonialis, penjajahan gres, yang merampok warisan dan budaya munculnya pemain-pemain ahli di bagian dunia. Jika tak waspada, sepak bola akan menjadi sebuah permainan ketamakan. Saya akan lawan itu sekuat tenaga,” komitmen Blatter.

Identitas Eropa

Andaikata Anda yaitu bagian dari sebuah klub yang begitu digdaya, maka Anda tentu saja gembira dan puas. Perasaan lain akan muncul jikalau anda berada di pihak yang disetir uang. Ingat perkara Kaka, yang dilarang dijamah tim nasional Brasil oleh AC Milan? Pekerjaan rumah Blatter tampaknya masih menumpuk.

Memang sudah seharusnya Eropa, dan juga sebagian Amerika Latin, tak boleh menyepelekan Afrika. Banyak fakta tersaji bahwa kehebatan beberapa negara di dua kontinen itu didongkrak oleh putra-putra Afrika. Siapa yang paling berpengaruh mengakibatkan Prancis juara dunia pertama kalinya pada 1998? Zinedine Zidane ‘kan? Dari mana beliau? Aljazair, negara di Afrika Utara.

Lalu masih ingatkah anda akan gol emas Basile Boli, yang mengantar Olympique Marseille sebagai klub pertama Prancis yang menjuarai Liga Champion edisi perdana pada 1992/93? Boli yakni bek kenamaan Les Bleus asal Pantai Gading. Siapa yang melesatkan reputasi Benfica, bahkan tim nasional Portugal di kurun 1960-an? Jelas Eusebio Ferreira. Legenda hidup Portugis ini diadopsi eksklusif dari tanah leluhurnya, Mosambik, yang berada di sentra Benua Hitam.

Di pentas Liga Champion 1961/62, dua gol terakhir Eusebio menamatkan perlawanan klub 'bule' Real Madrid 5-3 di Amsterdam, 2 Mei 1962. Di Piala Dunia 1966, Portugal mencatat prestasi sempurna dalam penyisihan grup. Hongaria disikat 3-1, Bulgaria 3-0, dan Brasil 3-1! Lalu dia bikin empat gol beruntun dan menang 5-3 atas Korea Utara. Akhirnya, satu gol Eusebio ke gawang Lev Yashin (Uni Soviet) di selesai tiga-empat memberi titel terbaik Portugal sampai sekarang.

Kalau mau jujur, kehebatan Brasil sampai sekarang juga berkat Afrika. Sebagai jajahannya, Portugal mendatangkan budak-budak dari koloninya di Afrika mirip Mozambik atau Angola. Dari moyang mereka, lahirlah Pele, Leonidas, Garrincha, dan seterusnya. Di periode modern, pemain ber-DNA Afrika makin bertebaran. Marcel Desailly contohnya yang asli orang Ghana. Tapi, dialah pemegang cap terbanyak Les Bleus, 112 kali (terakhir 18/2 vs Belgia), ketimbang putra orisinil Prancis yang juga menjadi kapten, Didier Deschamps (103).

Banyak alasan mereka hingga menukar kewarganegaraan. Ada yang dibajak mirip Eusebio Ferreira dulu hingga yang termuda, Freddy Adu, anak Ghana berumur 14 tahun yang digaet Amerika Serikat. Tapi, dalih terbanyak ialah profesionalitas dan gengsi, yang ujung-ujungnya soal persamaan hak. Jika ingin maju, ingin lebih sukses, ingin punya kesempatan dan hak apa saja, bermainlah dan jadilah warga Eropa!

Menjelang undian kualifikasi grup Piala Dunia  Ketika Sepp Blatter Membela AfrikaTapi tak semua anak Afrika bersikap sama. Frederic Kanoute memulangkan paspor Prancis dan mendapatkan Mali sebagai negara yang harus diabdinya. Luar biasa. Tapi di masa depan, cerita Kanoute hanya jadi kisah langka.

Yang ada malah kebalikannya. Di kemudian hari bakal semakin banyak belum dewasa Afrika akan dipaksa, atau terpaksa, harus ber-KTP Eropa. Menyanyikan lagu kebangsaan negeri gres, mengenakan simbol yang tidak cocok di seragam hingga berlagak-lagu ala bule. Untuk keberlangsungan hidup atau memuja passion, mereka akan begitu. Menjual identitas lama demi identitas baru. Apa mau dikata, bukankah mereka lebih meyakini aturan ‘terkuat’ di bumi, hak asasi manusia?

EROPANISASI AFRIKA

ALJAZAIR: Zinedine Zidane (Prancis); AFRIKA SELATAN Sean Dundee (Jerman); SENEGAL Patrick Vieira (Prancis), Ibrahim Ba (Prancis), David Bellion (Prancis); KONGO Claude Makelele (Prancis), Peguy Luyindula (Prancis), Blaise N'Kufo (Swiss), Emile Mpenza (Belgia), Mbo Mpenza (Belgia), Kiki Musampa (Belanda), Ali Maboula Lukunku (Prancis), Gaby Mudingayi (Belgia), Patrick Dimbala (Belgia), Vincent Kompany (Belgia); GHANA Freddy Adu (AS), Gerald Asamoah (Jerman), Marcel Desailly (Prancis), George Boateng (Belanda), Eric Ofori Okyere (Belgia), Daniel Ofori Okyere (Belgia); NIGERIA Emmanuel Olisadebe (Polandia), Okonkwo Digger Ifeani (Malta), Shola Ameobi (Inggris), Ugo Chukwu Ehiogu (Inggris), Ade Akinbiyi (Inggris), George Ndah (Inggris); PANTAI GADING Olivier Kapo (Prancis), Djibril Cisse (Prancis); KAMERUN Jean Alain Boumsong (Prancis), Charles Itanje (Prancis), Bruno N'Gotty (Prancis), Pascal Nouma (Prancis); TUNISIA Sabri Lamouchi (Prancis); MESIR Rami Shabaan (Swedia); SIERRA LEONE Carlton Cole (Inggris); SOMALIA Fabio Liverani (Italia); ETHIOPIA Youssouf Hersi (Belanda); ZAMBIA Robert Earnshaw (Wales); MOZAMBIK Abel Xavier (Portugal); MAROKO Yassine Benajiba (Belgia); GAMBIA John Alieu Carew (Norwegia).

(foto: swiss.gosip/news.yahoo/sofoot)