Monday, August 2, 2004

Kapitalisme

ORANG Amerika percaya suatu saat nanti kapitalisme justru membunuh sepak bola itu sendiri. Is capitalism killing football, tanya mereka. Kenyataannya, sepak bola sekarang tengah dibelit globalisasi, kata halus untuk kapitalisme.

ORANG Amerika percaya suatu saat nanti kapitalisme justru membunuh sepak bola itu sendiri Kapitalisme
Soal dampaknya, Eropa tidak peduli, jalan terus. Tengoklah UEFA, yang getol mengipasi arti profesionalisme sehingga dua klub terangkuh di dunia, Real Madrid dan sekarang Chelsea, dengan leluasa makin menikmati hidangan yang ada. Imbasnya bursa saham London dan Madrid terus agresif.

Parahnya lagi, kontinen lain tak bisa apa-apa selain menjadi massa mengambang. Afrika terang pengikut paling royal, Amerika Latin hilang akal, sedangkan Asia malah jadi area perahan baru nan favorit mengingat didiami 2/3 penghuni bumi. Apalagi di situ bangkit Cina, negeri yang berpenduduk 1/5 dari total seluruh insan di planet ini.

Sepp Blatter kolam membuka kotak Pandora. Setiap beliau memberesi satu-dua persoalan, sepuluh masalah gres malah muncul. Dalam tindakannya yang selalu berusaha untuk harmonis, Presiden FIFA muncul sebagai seorang ultrasosialis, tokoh antikemapanan. Meski ia orang Swiss, negeri sejuta bank yang punya Nestle, sebuah ikon kapitalis kuliner dunia, tetap saja orang Eropa memusuhinya.

Untuk memperkuat visualisasi cerita obsesif seorang Blatter, dan globalisasi yang menyeret sepak bola ke dalam lingkarannya, Franklin Foer menuangkannya dalam How Soccer Explain the World: An Unlikely Theory of Globalization. Kita di Indonesia juga sudah terseret dalam pusaran ini. TV satelit kian laris, plaza dipenuhi franchise klub-klub top. Apa lagi? Sepak bola sekarang lebih dari sekadar permainan atau sebuah way of life, jalan hidup.

Soccer is a perfect window into the crosscurrents of today's world, with all of its joys and sorrows, demikian kata bangsa Amrik, sang penggagas kapitalisme, mengakui gemebyar pentas sepak bola era milenium kini. Karena itu, Blatter sangat puas era melihat Yunani menjadi juara Eropa, bersyukur tatkala FC Porto menggapai titel Liga Champion 2004, dan ikut bangga saat Korea dan Turki masuk empat besar World Cup 2002. Tiga perilaku yang beda dengan satu lisan yang sama: kemenangan.

Sebaliknya UEFA merasa ada yang salah selama ini. Apa itu? Setelah dicari-cari, rupanya ketemu juga: agenda kompetisi. Asumsinya, Yunani bisa juara karena pemain nasionalnya lebih sedikit main bola! Itu karena satria nasional, Angelos Charisteas, hanya cadangan di Werder Bremen. Begitu juga Stylianos Giannakopoulos di Bolton Wanderers. Alpha Ethniki Katigoria, ini nama legal Liga Yunani, yang cuma beranggotakan 16 klub. Berarti tiap klub hanya 30 kali bermain dalam semusim.

Musim lalu tak satu pun dari Theodoros Zagorakis atau Angelos Basinas bertarung habis-habisan di pentas Eropa. Jadi, masuk akal kalau Prancis atau Inggris tersisih karena Thierry Henry atau Frank Lampard sudah jenuh dengan 50-an pertandingan yang diikutinya termasuk di tim nasional.

Gara-gara bola, kita juga mampu melihat bahwa dunia ini memang kagak keruan. Lihat bagaimana klub Eropa bisa mencerca kedaulatan sebuah bangsa di Amerika Latin. Valencia dan Real Madrid marah alasannya adalah Roberto Ayala dan Walter Samuel diperlukan negaranya di Olimpiade 2004. Belakangan Sir Alex Ferguson mengancam meninjau kontrak Gabriel Heinze di klubnya jikalau beliau juga ikut pesta di Athena. Argentina, salah satu negara miskin di dunia, teraniaya.

Orang-orang pintar itu lupa bahwa tim nasional ialah keberadaan sebuah negara di atas rumput, di bawah koridor sport. Serangan Valencia bisa dianggap kurang bermakna. Tapi, bagaimana jika klub yang dipunyai PM Italia juga mampu menyerang kedaulatan negara dan bangsa Brasil?

                                               *******

SOAL polemik Kaka beberapa waktu kemudian, seorang bos Milan berani bilang, "Kami yang menimbulkan beliau seperti ini." Itulah kejahatan kapitalisme. Dia bisa membius orang, masyarakat, bahkan satu bangsa berpenduduk 184 juta jiwa.

Ciri khas kapitalis ialah berlebihan, berbau arogan. Kerap kali orang melihatnya sebagai ketamakan bin rakus, dihalalkan oligarkis. Tujuan diiringi dengan kepandaian melakonkan keserakahan. Harus berprinsip air laut, semakin haus saat terus diminum.

Maraknya kapitalisme mampu dilihat dikala demam isu transfer. Ini kawasan semua yang berlebihan tersuguh. Sepak bola cuma 11 pemain dan beberapa cadangan. Tapi sebuah klub di Eropa mampu punya 40-50 pemain, dua per tiganya foreigner.

"Saya heran pemain Asia mau saja digaji orang Eropa untuk bermain 4-5 kali setahun," sungut Blatter di Beijing suatu kali. "Kenapa Anda tidak bayar seorang Javier Saviola untuk main di sini?" Blatter berani menyebut sepak bola kini sudah mendekati slavery, perbudakan modern. Kongkritnya, orang-orang kulit putih (Eropa) makin menguasai, maaf, orang-orang kulit hitam (Afrika) dan kulit berwarna (Latin dan Asia).

Karena itu, ada baiknya, daripada puyeng melulu, seharusnya Blatter berani ambil keputusan drastis: mengesahkan sepak bola menjadi dua kubu, profesional dan amatir. Hal itu akan menjelaskan kesumiran yang terjadi seperti sekarang. Tinju contohnya. Orang pasti terperinci memilahnya. Yang pakai kaus itu amatir dan yang telanjang yakni profesional. Beres. Amatir di tinju berbau nasionalisme, patriotik.

Makanya jangan paksa orang Kuba baku pukul sambil bertelanjang dada tanpa pakai kaus. Begitu juga sehebat-hebatnya Mike Tyson atau Oscar de la Hoya, jangan harap simbol kebangsaan lebih mencuat di situ meski The Star Spangled Banner selalu dinyanyikan secara acapela. Tidaklah, kecuali jumlah dolar atau nama Don King.

Dalam sejarahnya di Indonesia pun tak ada rekor penonton, haru biru kehidupan, drama, fanatisme konkret yang bisa diraih seperti divisi utama (antarperserikatan) PSSI dulu. Begitu diubah pada 1978 dengan Galatama, antusiasme masih membubung.

Namun, sebab tak memahami apa itu kapitalis, sepak bola Indonesia risikonya malah kacau. Normalnya, muara sebuah kompetisi adalah membentuk tim nasional. Saat itu menjadi pemain nasional sangat prestisius, sulit diraih alasannya adalah harus lolos dari opini publik dan pers.

Di Eropa pun kini terjadi kolusi antara pelatih nasional dengan klub-klub. Kapan boleh memakai si anu atau si fulan. Kalau main, perjanjian untuk berapa menit juga ada. FIFA dibentuk sibuk alasannya agendanya harus mengacu pas pada klub, kompetisi, sampai federasi yang bersangkutan. Selain uang, sepak bola yaitu simbol nasionalisme, politik, kultur, ekonomi, bahkan peradaban (civilization) dunia.

Jika saja orang AS maniak dengan permainan ini, dua per tiga isi dunia mungkin tidak kebagian apa-apa di olah raga ini. Selama ini mereka telah menguasai politik, ekonomi, teknologi, dan ruang angkasa. AS yakni bangsa di dunia yang paling gemar olah raga.

National Football League (NFL), National Basketball Association (NBA), dan National Baseball League (NBL) yakni simbol kapitalisme Amerika di dunia olah raga. "Siapa saja yang ingin tahu jantung hati Amerika harus lebih dulu mempelajari dengan baik bisbol," tegas Jacques Barzun, seorang pseudo-intelektual.

Bangsa ini memang superlatif, bahagia dengan sikap berlebihan. Tinju diganti dengan wrestling, balap mobilnya yakni Nascar yang mampu mencapai 500 lap. Mereka juga tak ragu mengubah standar yang ada di basket dengan NBA-nya atau di sepak bola (MLS). Jadi, beruntunglah Eropa tatkala orang AS menganggap sepak bola sebagai olah raga yang terlalu murah, kurang jantan, sedikit angka, gampang cedera, dan dipenuhi risiko keonaran massa.

Amerika masih tetap menganggap sepak bola yakni permainan sosialis, sangat jelata. Paling tidak Jack Kemp pernah mengungkapkan itu. Pada 1986, senator ini berani menentang Kongres yang mengesahkan kesediaan AS sebagai host Piala Dunia 1994. "Ada perbedaan mencolok antara football yang demokratis dan kapitalis dengan soccer yang olah raga sosialis ciptaan Eropa itu. Bagaimana mungkin?" tanya Kemp. 

(ilustrasi: istimewa)

Thursday, April 15, 2004

Jerman Tambah Capek

Ini episode kebencian klub-klub top Eropa. Sejak resmi dikreasi FIFA pada 1997, ajang bergengsi di pertengahan tahun ini selalu dirasuki kontroversi dan disarati kepentingan banyak pihak, mulai dari FIFA, masing-masing konfederasi, tim nasional, klub, televisi, iklan, sampai sponsor bahkan juga keluarga si pemain.

 ajang bergengsi di pertengahan tahun ini selalu dirasuki kontroversi dan disarati kepenti Jerman Tambah Capek
Prancis juara 2003 di hadapan arwah Marc-Vivien Foe.
Tewasnya Marc-Vivien Foe di atas rumput Stade Gerland, Lyon, 28 Juni 2003, ternyata tak menyurutkan niat Sepp Blatter untuk melestarikan Piala Konfederasi. Foe diduga mati keletihan luar biasa akibat agenda padat Liga Eropa, tepatnya Premier League. Siapa yang dirugikan? Tentu banyak. Lalu siapa yang diuntungkan? Kelihatannya tidak ada

Namun the show must go on. Kejuaraan ini memang dua tahunan, tepatnya di tahun ganjil, namun sifat paradoksnya beruntun dengan gelaran yang direstui FIFA sendiri, seperti Piala Eropa, Piala Afrika, Piala Amerika, sampai Piala Asia. Bayangkan dalam tahun-tahun ke depan ini bagaimana seorang Jacques Santini atau Sven-Goran Eriksson meracik timnya untuk Piala Eropa 2004, Pra-Piala Dunia 2006, Piala Konfederasi 2005, dan puncaknya Piala Dunia 2006.

Hal yang sama dirasakan Arsene Wenger (Arsenal), Carlos Quieroz (Real Madrid), Ottmar Hitzfeld (Bayern Muenchen), atau Claudio Ranieri (Chelsea). Keempat manajer top Eropa ini saling bertaut kepentingan dengan instruktur nasional Prancis itu. Idem ditto soal penyelenggaraan. FIFA masih awut-awutan menentukan tuan rumah turnamen antarjuara benua ini. Sepertinya tak ada patokan, kecuali ia sebagai host Piala Dunia. Dua 'korban' anyar yakni Korea Selatan/Jepang, dan Jerman.

Tinggal Empat

Anehnya, tahun lalu program ini justru diadakan di Prancis. Sampai di sini, Blatter tampaknya takut pada UEFA. Bagaimana kesannya bila Belanda dan Belgia serta Portugal diberi kerja ekstra untuk menggarap Piala Konfederasi 1999 dan 2003. Mungkin FIFA berkilah bahwa Confederations Cup mampu dijadikan testing atau gladi resik menjelang pesta besar bantu-membantu. Kini yang bakal ekstra capek ialah Jerman.

Demikianlah ketetapan FIFA yang lahir dari rapat organizing committee di Zuerich, yang diketuai Chuck Blazer dari AS pada 30 Oktober silam. Ya, tuan rumah Piala Dunia 2006 itu ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Konfederasi edisi ketujuh. "Piala Konfederasi ialah ajang yang menarik karena menjadi simbol solidaritas antarkonfederasi. Tanpa harus mengesampingkan Piala Dunia, ini juga merupakan turnamen resmi," tulis Sepp Blatter dalam pernyataannya yang dibacakan Blazer.

Turnamen yang murni lahir dari wangsit Blatter pada 1997 itu menurut rencana akan digulirkan tanggal 15-29 Juni di enam kota: Kaiserslautern, Hannover, Frankfurt, Leipzig, Nuernberg, dan Koeln. Kejuaraan ini akan diikuti 8 negara.

Separo pesertanya sudah tersedia. Tuan rumah Jerman, juara dunia 2002 Brasil, juara Afrika 2004, Tunisia, dan juara Concacaf 2003, Meksiko. Sisanya ditunggu dari Piala Eropa, Piala Amerika, Piala Asia, dan Piala Oseania tahun ini. Jika Brasil menjuarai Copa America 2004, yang akan digelar Juli ini di Peru, maka sang runner-up yang akan lolos ke FIFA Confederations Cup Germany 2005. Hal yang sama berlaku buat wakil Eropa andai Jerman memenangi Euro 2004.

Piala Konfederasi sejak 1992

Tahun             Tuan rumah     Juara
1992         Arab Saudi Argentina
1995         Arab Saudi Denmark
1997         Arab Saudi Brasil
1999         Meksiko Meksiko
2001         Korea-Jepang Prancis
2003         Prancis Prancis
2005         Jerman ?

(foto: rediff)

Piala Dunia Klub: Ambisi Blatter Semata?

Mau diakui atau tidak, hambatan terbesar FIFA untuk menyatukan sepak bola dunia ada di arena ini. Ajang yang bernama resmi Club World Cup FIFA Championship ini bukan saja menerima sambutan dingin, tapi lebih dari itu, ditentang keras. Siapa lagi bila bukan oleh klub-klub top Eropa yang tergabung dalam kelompok G-14.

"Tidak! Selama ini kami telah puas dengan kompetisi yang ada. Tak ada lagi acara di luar itu," kata juru bicaranya, Karl-Heinz Rummenigge. Tanggapan atas impian FIFA menggelar Kejuaraan Dunia Antarklub II, yang berdasarkan planning digulirkan di Jepang pada Desember 2005, terasa kencang.

Alasan Rummenigge paling utama yakni kepadatan acara Eropa selama ini. "Kami menolak bermain di kejuaraan dunia klub dan keputusan ini simpulan. Tak satu pun klub dari G-14 yang akan berpartisipasi di kompetisi buatan FIFA itu. Keputusan ini juga selesai," tegas salah bos Bayern Muenchen tersebut.

Bagi FIFA, boikot G-14 ini sama saja mimpi di siang bolong. Apa akhirnya menggelar pentas para pendekar dari enam konfederasi tanpa wakil Eropa? Soalnya bisa dipastikan, sang duta Eropa akan diwakili salah satu dari mereka. Mungkin kalau ingin melihat satu-satunya kekompakan antara UEFA dengan G-14 juga ada di sini. G-14 yaitu kumpulan elite klub-klub top Eropa yang terbentuk sejak 1998. Mereka yakni kunci industri sepak bola di negaranya.

Demi Solidaritas

G-14 ialah: Real Madrid, AC Milan, Ajax Amsterdam, Bayern Muenchen, Manchester United, Juventus, Liverpool, Barcelona, Internazionale, Borussia Dortmund, Olympique Marseille, Paris SG, PSV Eindhoven, dan FC Porto. Asosiasi G-14 resmi dibuat tahun 2001. Pada 2003, Valencia, Arsenal, Bayer Leverkusen, dan Olympique Lyon bergabung. Walhasil, posisi tawar G-18 semakin menguat lagi bukan saja pada UEFA, tapi juga di depan FIFA.

UEFA amat menyadari bahwa tanpa G-14 sepakbola tidak akan menarik, bahkan proses industri akan mati perlahan. Karena G-14 mirip duri dalam daging di tubuh UEFA, akibatnya FIFA juga tak mampu memaksa atau menekan UEFA. FIFA telah merilis pernyataan pada 19 Februari 2004 bahwa semenjak 2005, Piala Toyota - yang selama ini menjadi ajang kekuatan klub di dunia - akan dihapus. Sebagai gantinya, FIFA mengadakan Kejuaraan Dunia Antarklub alias Piala Interkontinental.

Di Piala Toyota, FIFA melihat tak ada keadilan. Dalam ajang tersebut, mana bisa para juara dari Asia, Afrika, Concacaf serta Oseania ikut serta? Ini soal solidaritas. Keempat zona itu juga butuh identitas serta sasaran puncak dari eksistensinya. Hingga usainya sidang Komite Eksekutif FIFA, 29 Februari kemudian di London, titik temu belum diperoleh. Apalagi duduk perkara lain juga muncul setelah asosiasi Guatemala menolak akhir dilema finansial internal.

Kenapa Diboikot?

Belakangan ini tensi Sepp Blatter mampu jadi meninggi. Sudah berkoar-koar setengah mati untuk meramaikan Piala Konfederasi, tapi ditanggapi dengan hambar, eh presentasinya di Piala Dunia Antarklub juga ditolak sana-sini. Yang niscaya presiden FIFA ini bertekad akan jalan terus, walau diboikot G-14. "Tak ada negosiasi dengan mereka. Ini sama halnya dengan pembicaraan diakui atau tidaknya institusi (G-14) oleh FIFA," terperinci Blatter sengit.

Seusai sidang komite eksekutif di London, pada 15 Maret silam, bergotong-royong Blatter telah men-setting FIFA Club World Championship. Menurut Blatter, turnamen yang diikuti enam klub itu cuma berlangsung tak lebih dari 8 hari. Juara Asia, Afrika, Concacaf, dan Oseania akan diundi untuk mencari dua pemenang di penyisihan. Mereka kemudian diadu dengan juara Amerika Latin dan juara Eropa di semifinal untuk menentukan dua kawasan di simpulan.

 kendala terbesar FIFA untuk menyatukan sepak bola dunia ada di arena ini Piala Dunia Klub: Ambisi Blatter Semata?
"Kami telah memikirkan dan menghormati padatnya agenda kompetisi reguler dan juga perjalanan jauh ke dan dari Jepang. Mereka cukup main dua kali dengan waktu istirahat yang memadai," ujar Blatter penuh harap. Ia menyadari bahwa Amerika Latin dan Eropa masih merupakan dua kekuatan dunia. Karena itu, mereka mendapat dispensasi hanya pribadi tampil di semifinal. Tapi, rupanya hal ini masih belum cukup menggerakan isu terkini kubu Eropa.

Kenapa mereka tetap menolak? Pemicunya adalah pengalaman buruk Manchester United pada Kejuaraan Dunia Antarklub pertama pada 5-14 Januari 2000 di Brasil. Pengalaman Red Devils tersebut hingga sekarang menjadi trauma jawara-jawara Eropa.

Kekompakan Eropa

Saat itu, masih dengan euforia juara Liga Champion, United terpaksa mengorbankan ajang tradisional nan penting, Piala FA. Walau dikecam rakyat Inggris dan membuat FA geram, David Beckham dkk. tetap terbang. Akibatnya sudah bisa ditebak. United tersingkir di fase penyisihan bahkan kalah 1-3 dari Vasco Da Gama.

Hal sama juga dirasakan Real Madrid. Los Blancos gagal ke final Piala Interkontinental. Kedua klub pun merasa malu dan sia-sia. Visi Blatter membentuk an expression of solidarity in world football pada kesannya menemui jalan buntu karena mengganggu mesin uang klub-klub top termasuk industri sepak bola Eropa.

Alasan kedua wacana ogah tampilnya Eropa rada berat. Selama ini tuntutan G-14 ke FIFA dan UEFA soal kompensasi uang bagi para pemain yang digunakan tim nasional masih belum digubris. Boleh jadi hal ini memang sengaja dikait-kaitkan. Yang ketiga yaitu keraguan soal perlindungan keikutsertaan mereka di sana, termasuk keuntungan finansial. Khusus yang ini justru telah disepakati sejak Januari 2003, bukan saja G-14 malah oleh sebuah grup yang terdiri 102 klub top.

Di pertemuan The European Club Forum di markas UEFA di Nyon, telah dideklarasikan bahwa Eropa tak akan mengikuti Piala Dunia Antarklub versi FIFA. Sampai di sini kelihatannya Blatter bertekuk lutut. Menyerah tanpa syarat! "Kami tak yakin di turnamen tersebut ada suatu kebutuhan atau sebuah hasrat bagi klub-klub Eropa, penggemar, pemain, atau partner komersial. Kami tetap bersikap menentang hingga kapan pun," demikian pernyataan tunggal lembaga Eropa.

Plintat-plintut
 kendala terbesar FIFA untuk menyatukan sepak bola dunia ada di arena ini Piala Dunia Klub: Ambisi Blatter Semata?

Menurut Jaime Orti, Presiden Valencia, pihak G-14 masih akan mengadakan pertemuan di Brussel, Belgia, pada 2 Juni depan untuk mengantisipasi 'serangan' FIFA. Melihat tekad baja Blatter tadi agaknya pertikaian akan kian panas. Siapa akan menang? Menurut para pengamat, Blatter akan tetap terpojok.

Walau kini datang dengan janji lebih elok, kegagalan Piala Dunia Antarklub I pada 2000 ialah fakta yang tak terbantahkan dan amat traumatis. Puncaknya yaitu di dikala turnamen kedua di Spanyol siap digelindingkan. Tiba-datang saja ISL Worldwide, mesin uang FIFA yang menjadi marketing partner sah kolaps, pailit berat dan gulung tikar.

"Terlalu banyak faktor kesulitan segi komersial, karena ketika itu. Blatter terlalu percaya diri dan sering menggampangkan duduk perkara. Blatter plots wrong course," komentar Phil McNulty, chief football writer pada tajuknya di BBC edisi 20 Februari 2004. Bahkan ada analisis yang menyebutkan betapa mudahnya Blatter memutar haluan pikirannya. Ini mungkin salah satu karena kenapa beliau ditinggalkan istrinya belum lama ini atau yang membuat Corinthians dia campakkan pada tahun 2001.

Gara-gara jadwal sepak bola di dunia yang sudah kelewatan banyak, Blatter alhasil terpaksa harus plintat-plintut. Sebelum 16 Desember ia ingin hanya enam klub yang tampil sebagai wakil dari seluruh zona yang ada.Jepang bukanlah isu pertama, mungkin juga kata terakhir, lantaran pada rilis FIFA 30 Oktober 2003 ia akan memberi tuan rumah pada anggota Concacaf.

Setelah itu, baru Asia pada 2007 katanya. Melihat Blatter sendiri yang bersemangat dan bak kebakaran jenggot, orang mampu saja curiga. Ada apa di balik itu semua? Benarkah Blatter mengusung rencana terselubung atau ambisi pribadinya lewat bendera FIFA? Semakin dipikir, semakin buang waktu. Sementara jadwal di depan harus dijalani. Inilah yang akibatnya membuat mereka muak.

(foto: youtube/Een/soccerly)

Tuesday, February 3, 2004

Cerita Aib Nigeria Di Kamar 343

Banyak kejutan terjadi di Piala Afrika 2004. Untuk pertama kalinya, Tunisia meraih titel juara. Lalu, ada berbagai pemecatan instruktur dan pemain sebelum dan selama turnamen, vandalisme, sampai perampokan. Tapi yang terheboh, sudah pasti, skandal atau beberapa insiden yang menerpa Super Eagles alias tim nasional Nigeria.

 ada berbagai pemecatan pelatih dan pemain sebelum dan selama turnamen Kisah Aib Nigeria di Kamar 343

Seperti sudah garis tangan, bukan sepak bola Afrika jikalau tidak ada kehebohan. Bahkan di luar logika sekalipun. Di benua yang lafalnya berasal dari pengecap orang Arab, Ifrikiya, itu sering banyak kelucuan, terkadang dongeng angker.

Unsur klenik, memakai dukun atau santet biar tim lawan jadi lemas bermain atau ngaco, masih mentradisi di milenium gres ini. Bahkan hal itu masih muncul di Tunisia, negeri yang bekerjsama religius, di mana seharusnya segala kelakuan bejat haram terjadi.

Edisi kontroversial diawali dikala Ephraim Masabha, pelatih Bafana-Bafana -  tim nasional Afrika Selatan - dipecat SAFA (“PSSI” Afsel) lantaran terlalu ngotot menarik bintang Afrika Selatan yang bertebaran di Eropa. Lalu, setelah bermain di perempatfinal, dan kalah, datang-datang El-Hadji Diouf (Senegal) menantang seluruh isi stadion sambil berkecak pinggang. Lho? Dengan lantang, pemain Liverpool itu berani memaki-maki tim tuan rumah Tunisia. Sontak, CAF (Konfederasi Sepak Bola Afrika), atas rekomendasi FIFA, menghukum penyerang paling nyeleneh itu.

Bukan apa-apa, masalahnya Presiden Tunisia, juga petinggi CAF dan FIFA, masih belum angkat pantat dari stadion! Masih di tengah perhelatan ajang berusia 47 tahun, pintu kamar mandi sebuah hotel jebol berat akibat didobrak oleh pria asal Guinea bernama Bobo Balde. Apakah bek Glasgow Celtic ini sangat kebelet mau kencing? Sama sekali bukan! Tak tahunya dia melampiaskan kemarahan, berang dong, seusai timnya kalah dari Mali. Dampaknya, Balde pun merogoh koceknya sebesar 500 dolar untuk bayar denda.

Tapi episode yang paling bikin Anda melamun terjadi pada tim nasional Nigeria. Yang pertama barangkali Anda tidak perlu sampai mengelus dada. Ceritanya begini. Pulang tanding lawan Zimbabwe, yang mereka remukkan 5-3, biji mata lima punggawa tim Super-Eagles membulat begitu hingga kamar hotel.

Tawa ha-ha he-he dan guyonan Geremi Njitap, Idriss Kameni, Mohammed Idrissou, dan Daniel Ngom Kome, langsung stop karena melihat bekas pintu didobrak dan kamar mereka awut-awutan. Setelah dihitung tekun bareng-bareng sambil harap-harap cemas, total 66 ribu pound uang mereka dirampok dari safe deposit box yang dijebol paksa ala Balde. Ekstra apes untuk Geremi, si gelandang kekar Chelsea. Jam Rolex-nya seharga 20 ribu pound, sekitar Rp 300 juta, secara tidak resmi telah pindah tangan.

Nah telenovela Nigeria yang kedua badung membuat Anda mengucek-ucek mata, jadi berdoa atau malah mengutuk. Pasalnya ini amat geger. Kisah bermula saat tiga pemain yang cari makan di Eropa, Aiyegbeni Yakubu (Portsmouth), Celestine Babayaro (Chelsea), dan Victor Agali (Schalke), pulang bareng seusai tubruk. Menurut sebuah insider, mereka terpaksa tidak pulang bareng dengan tim alasannya adalah habis dimaki-maki oleh pelatih nasional dengan dakwaan tidak disiplin. Maklum, saat itu Nigeria secara mengejutkan kalah dari Maroko.

Skandal Bejat

Berdasarkan inside stories dan investigasi lengkap dari Vanguard, koran olah raga terbesar di Lagos, dongeng Aiyegbeni, Babayaro, dan Agali jadi menggegerkan khalayak ramai. Kenapa? Rupanya mereka ketangkep berair di sebuah kamar, berpesta seks!

“Mereka bukan saja melanggar disiplin tim, bejat, tapi sudah bikin aib negara! Pemerintah harusnya ikut menghukum mereka. Tapi biarlah, sisanya Tuhan yang akan menghukum mereka. Garba Lawal dan Ifeanyi Ekwueme akan menggantikan posisi para pembejat itu,” kata Dr. Rafiu Ladipo, pemimpin kontingen suporter Nigeria.

Para petinggi Nigerian Football Association (NFA) dan Kementerian Olah Raga Nigeria eksklusif menilik kejadian 27 Januari nan memalukan itu di kota Monastir. Saksi telah didapat, yakni seorang ofisial tim dan sekuriti hotel. Ketiga pemain berkilah itu sebagai urusan pribadi, namun NFA tetap bereaksi keras.

“Saya sangat shock. Ini tindakan indisipliner terparah, tidak patriotik, dan kami sulit mengampuninya. Anggota Dewan NFA telah bertemu dan setuju untuk memulangkannya. Tindakan mereka itu bisa menulari pemain lain,” gerutu Presiden NFA, Haji Ibrahim Galadima.

Kejadian bermula periode ketiga pesepak bola ini keluyuran malam seusai kalah di partai awal penyisihan grup. Mungkin sebagai pelampiasan kecewa akhir dimaki-maki oleh manajer tim serta ketua rombongan, mereka - Yakubu, Babayaro, dan Agali – malah menjudikan reputasi dirinya dan juga negaranya. Awalnya, sekuriti hotel mencurigai ketiganya lantaran bermain ‘kucing-kucingan’ dengan tiga perempuan bule tidak dikenal.

“Saya terus memonitor pergerakan ketiga wanita itu sejak memesan kamar di lantai tiga. Beberapa pemain juga diawasi sesuai dengan ajakan ofisial tim. Melihat ada yang menyelinap masuk ke kamar wanita itu, saya laporkan langsung ke ofisial tim,” tutur sekuriti hotel tersebut.

Seluruh tim Nigeria tinggal di lantai empat Kuriat Palace, hotel berbintang lima. Berniat nyelonong ke lantai lain kemudian ‘ketanggor’ tentu saja mencurigakan. Mereka tetap melakukannya. Yang terjadi kemudian bikin verbal orang menganga. Atas tunjangan petugas hotel, para ofisial membuka membisu-membisu pintu kamar dengan kunci cadangan.

“Apa yang kami saksikan ketika itu mungkin menciptakan anda tak percaya. Kami menemukan mereka tengah bergumul berpasang-pasangan. Gilanya, meski sudah melihat kami, mereka tak menghentikan aksinya!” ujar seorang ofisial masih tak percaya melihat adegan luar biasa tersebut. Barangkali ya memang tanggung.

Tak disebutkan bagaimana cara menyetop orgy kolosal di kamar 343 itu. Tapi sesudah simpulan, cuma kaum wanita yang diinterogasi sekuriti hotel. Dari verbal ketiga cewek bule tersebut – dua dari Inggris dan satu Jerman – keluar pengesahan bahwa mereka sengaja diinapkan oleh Agali cs. Nigeria pun geger. Laporan Vanguard dan harian This Day membuat pro-kontra dan polemik bermunculan di masyarakat.

Nigeria bak ditabok telak. Aib hina ini awalnya tak terendus eksklusif media lokal dan abnormal. Menteri Olah Raga Kolonel Musa Muhammed, marah semurka-murkanya dan bilang bangsa terhinakan. Meski akhirnya meraih juara ketiga, prestasi Super-Eagles menjadi tidak berarti. Banyak masyarakat yakin skandal di Kamar 343 itu telah menguras mentalitas serta stamina skuad nasional Nigeria. Ketiga pemain internasional Super-Eagles tersebut tentu wajib dan harus segera meminta maaf pada NFA. Namun itu hanya dilakukan Babayaro. 

Sementara dua lainnya tidak mau. Yakubu buru-buru kabur ke Portsmouth dengan sakit hati alasannya adalah merasa peristiwa itu dibesar-besarkan. Reaksi paling keras tiba dari Victor Agali. “Kenapa harus minta maaf? Hal itu akan menawarkan bahwa kami salah. Saya berani jamin bahwa kami tak melaksanakan apa pun. Saya akan menuntut NFA dan Menteri Olah Raga kalau perkawinan kami terganggu,” kilah striker kelahiran 27 Juni 1979 yang mengaku tak dicurigai istrinya.

Gilanya lagi, penyerang FC Schalke itu malah menyerang ke sana ke mari, termasuk ke instruktur Nigeria, Christian Chukwu, yang dinilainya tidak cakap dan kurang pandai.  “Ah, mereka itu cuma ingin menyelamatkan jabatannya saja setelah kekalahan pertama. Saya juga kaget. Saat menangani berita ini gaya Pak Menteri seperti tentara. Beliau tidak memberi kami waktu untuk membela diri,” lanjut Agali, yang lupa bahwa sang menteri memang tentara!

Kutukan Langsung

Tahukah Anda apa yang terjadi pada Agali kemudian? Setibanya di Jerman, dia di-PHK klubnya karena malu dengan kelakuan tidak terpujinya! Oleh manajer Schalke, Rudi Assauer, lelaki setinggi 193 cm itu disarankan bergabung ke klub Swiss, FC Basel. Agali mesti membayar dosa dan kesalahannya secara langsung. Reaksi Agali? Kali ini pemain yang gabung sejak 2001 itu tidak bernafsu kecuali pasrah. 

“Saya kecewa sekali. Ini datang-tiba sekali,” keluh Agali pada Kicker. “Sebelum winter break, saya enggan pergi dengan free-transfer, mereka ingin memperpanjang kontrak. Schalke ambil laba dikala saya pergi ke Tunisia. Padahal aku yang terbanyak mencetak gol di Schalke dua tahun terakhir,” omel Agali.

Kutukan Yakubu lain lagi. Manajer Porthsmouth, Harry Redknapp, seolah tidak mau tahu dengan skandal seks yang dianggapnya sebagai duduk perkara pribadi. Dia justru merasa bahagia begitu striker berusia 22 tahun itu diusir Super-Eagles karena tenaganya dibutuhkan klubnya. Bahkan Redknapp menyuruhnya buru-buru terbang ke Portsmouth untuk menghadapi Wolverhampton Wanderers di tabrak Premier League, beberapa hari kedepan.

Namun, seperti Agali, kali ini Yakubu pun mesti membayar dosa dan kesalahannya. Saking terburu-burunya ke pertandingan Sabtu (31/1), penyerang klub Pompey berleher beton itu menuruh sopirnya untuk ngebut, mengendarai mobil dengan kecepatan tidak masuk akal di jalanan umum.

Sontak mereka dikejar patroli jalan raya. Di lampu merah, mobil Yakubu distop polisi, dan beliau ditilang sebab melanggar batas kecepatan. Untung, pak polisi mengenali wajah Yakubu yang tidak mengecewakan ngetop lantaran jadi pemain Portsmouth. Setelah catat sana-sini, dia dilepas beberapa menit lalu. Walhasil, dia telat 19 menit sesudah waktu kick-off. Itu yang membuatnya baru dimainkan Redknapp di babak kedua. 

Mendengar informasi ini, tabloid The Sun sontak mengirim wartawannya untuk mengonfirmasi info tersebut, kemudian bertemu dengan inspektur polisi John Happel. “Betul, anak buah aku menilangnya alasannya beliau (Yakubu) memaksa sopirnya mengebut untuk mengejar waktu kick-off. Itu alasan mereka. Kami harus semakin tegas dengan kebut-kebutan alasannya adalah belum lama ini ada anggota Parlemen Inggris mengalami kecelakaan di kota ini,” beber Inspektur Happel. Ah, seandainya Pak Polisi tahu alasan dari alasan tilang itu niscaya melongo juga.

(foto: nigerianeye/dailymail/solofutbol/naijaloaded)

Saat Sepp Blatter Membela Afrika

Menjelang undian kualifikasi grup Piala Dunia 2006, Desember 2003 silam di Frankfurt, pria berkuasa yang menguasai bahasa Inggris, Spanyol, Prancis, Italia, plus Jerman ini datang-tiba mengecam perilaku “orang-orang Eropa” pada orang-orang Afrika di depan elite UEFA. Waw, ada apa dan mengapa beliau hingga nekat bertindak begitu?

Menjelang undian kualifikasi grup Piala Dunia  Ketika Sepp Blatter Membela Afrika
Konkretnya, Sepp Blatter geram dengan kelakuan klub top Eropa yang mencomot bakat-bakat Afrika secara serampangan. “Saya lihat ada yang tidak sehat, jika tak pantas disebut kekejian, saat klub kaya mengirim pencari bakat untuk cari pemain di Afrika, Amerika Selatan, dan Asia dengan cara memberi keinginan. Setelah dilatih serius, mereka memainkan (politik) uang dikala pemain tadi tertimpa kesulitan,” terperinci Blatter berapi-api.

Yang paling banyak jadi korban, siapa lagi jikalau bukan Benua Hitam. Tak terhitung berapa belum dewasa Afrika yang dieksploitasi besar-besaran oleh agen-distributor yang berstatus unscrupulous, tak bermoral. Dalam kolomnya di The Financial Times, laki-laki kelahiran 10 Maret 1936 ini berani menyebut frasa Football Slavery alias perbudakan sepak bola (oleh Eropa)!

Buat negara-negara dunia ketiga, Blatter adalah hero mereka. Dia punya moto “Football for All, All for Football”. Visinya yaitu tiada hari tanpa modernisasi sepak bola, dan tentu saja keadilan untuk semua insan. Kapasitas jabatannya melebihi seorang pemimpin negara mana pun sebab sebagai capo di cappi tutti (bos dari segala bos), ia ialah presiden dari 204 negara sejagat. Makara kekuatan dan kekuasaan untuk mempengaruhi atau mengubah keadaan amat mumpuni. Ironisnya, realitanya tidak begitu.

Menjelang undian kualifikasi grup Piala Dunia  Ketika Sepp Blatter Membela Afrika

Joseph “Sepp” Blatter (68) mengaku saban hari selalu menemukan permasalahan di sepak bola yang juga menjadi misinya. Dan orang Swiss ini tampak pro anti-kemapanan. Perkembangan sepak bola di Monserrat atau Ethiopia, wasit yang curang, klub yang tak membayar gaji pemainnya, transfer terselubung, perkara doping Rio Ferdinand, hingga perkara akhir hayat pesepak bola. Karena harus terus berada di tengah-tengah, bila ombak ada di kiri dia harus membanting kapal (FIFA) ke kanan dan sebaliknya, balasannya Blatter rentan dimusuhi segala pihak mulai orang per orang, instruktur, bos klub, perusahaan, bahkan negara!

Bahkan dengan UEFA, dia tidak akur. Blatter sering bersilat lidah dengan Presiden Lennart Johansson. Maklum, konotasi UEFA yaitu profesional, kapitalis, uang alias cari untung. Sementara itu, FIFA condong amatir, penyamarataan, mengarah ke sosialisme. Itulah yang membuat Blatter - suksesor Dr. Joao Havelange semenjak 8 Juni 1998 - lebih terkenal di kalangan proletar ketimbang borjuis.

“Istilah perbudakan sepak bola yaitu gambaran seorang pemain bola yang di akhir karier jatuh miskin dan tak punya cukup uang untuk membiayai kehidupannya yang jauh dari Tanah Air-nya,” papar eks pesepak bola Liga Amatir Swiss di abad 1948-71 itu. Blatter menuduh klub kaya Eropa telah memperkosa hak-hak sosial dan ekonomi para pemain Afrika dengan berbungkus membangun dunia untuk talenta dan hiburan atau industri. Jika terlalu berorientasi market, kehormatan, dan integritas berada di ujung tanduk.

Munculnya tarik-ulur antara klub Eropa dan negara-negara Afrika menjelang Piala Afrika 2004 menandakan teori Blatter benar. Tunisia harus berterima kasih pada bos besar FIFA ini yang mengancam akan menghukum klub-klub Inggris kalau tak melepas pemain Afrika untuk membela negaranya. “Kelakuan klub-klub kaya Eropa itu seperti neokolonialis, penjajahan gres, yang merampok warisan dan budaya munculnya pemain-pemain ahli di bagian dunia. Jika tak waspada, sepak bola akan menjadi sebuah permainan ketamakan. Saya akan lawan itu sekuat tenaga,” komitmen Blatter.

Identitas Eropa

Andaikata Anda yaitu bagian dari sebuah klub yang begitu digdaya, maka Anda tentu saja gembira dan puas. Perasaan lain akan muncul jikalau anda berada di pihak yang disetir uang. Ingat perkara Kaka, yang dilarang dijamah tim nasional Brasil oleh AC Milan? Pekerjaan rumah Blatter tampaknya masih menumpuk.

Memang sudah seharusnya Eropa, dan juga sebagian Amerika Latin, tak boleh menyepelekan Afrika. Banyak fakta tersaji bahwa kehebatan beberapa negara di dua kontinen itu didongkrak oleh putra-putra Afrika. Siapa yang paling berpengaruh mengakibatkan Prancis juara dunia pertama kalinya pada 1998? Zinedine Zidane ‘kan? Dari mana beliau? Aljazair, negara di Afrika Utara.

Lalu masih ingatkah anda akan gol emas Basile Boli, yang mengantar Olympique Marseille sebagai klub pertama Prancis yang menjuarai Liga Champion edisi perdana pada 1992/93? Boli yakni bek kenamaan Les Bleus asal Pantai Gading. Siapa yang melesatkan reputasi Benfica, bahkan tim nasional Portugal di kurun 1960-an? Jelas Eusebio Ferreira. Legenda hidup Portugis ini diadopsi eksklusif dari tanah leluhurnya, Mosambik, yang berada di sentra Benua Hitam.

Di pentas Liga Champion 1961/62, dua gol terakhir Eusebio menamatkan perlawanan klub 'bule' Real Madrid 5-3 di Amsterdam, 2 Mei 1962. Di Piala Dunia 1966, Portugal mencatat prestasi sempurna dalam penyisihan grup. Hongaria disikat 3-1, Bulgaria 3-0, dan Brasil 3-1! Lalu dia bikin empat gol beruntun dan menang 5-3 atas Korea Utara. Akhirnya, satu gol Eusebio ke gawang Lev Yashin (Uni Soviet) di selesai tiga-empat memberi titel terbaik Portugal sampai sekarang.

Kalau mau jujur, kehebatan Brasil sampai sekarang juga berkat Afrika. Sebagai jajahannya, Portugal mendatangkan budak-budak dari koloninya di Afrika mirip Mozambik atau Angola. Dari moyang mereka, lahirlah Pele, Leonidas, Garrincha, dan seterusnya. Di periode modern, pemain ber-DNA Afrika makin bertebaran. Marcel Desailly contohnya yang asli orang Ghana. Tapi, dialah pemegang cap terbanyak Les Bleus, 112 kali (terakhir 18/2 vs Belgia), ketimbang putra orisinil Prancis yang juga menjadi kapten, Didier Deschamps (103).

Banyak alasan mereka hingga menukar kewarganegaraan. Ada yang dibajak mirip Eusebio Ferreira dulu hingga yang termuda, Freddy Adu, anak Ghana berumur 14 tahun yang digaet Amerika Serikat. Tapi, dalih terbanyak ialah profesionalitas dan gengsi, yang ujung-ujungnya soal persamaan hak. Jika ingin maju, ingin lebih sukses, ingin punya kesempatan dan hak apa saja, bermainlah dan jadilah warga Eropa!

Menjelang undian kualifikasi grup Piala Dunia  Ketika Sepp Blatter Membela AfrikaTapi tak semua anak Afrika bersikap sama. Frederic Kanoute memulangkan paspor Prancis dan mendapatkan Mali sebagai negara yang harus diabdinya. Luar biasa. Tapi di masa depan, cerita Kanoute hanya jadi kisah langka.

Yang ada malah kebalikannya. Di kemudian hari bakal semakin banyak belum dewasa Afrika akan dipaksa, atau terpaksa, harus ber-KTP Eropa. Menyanyikan lagu kebangsaan negeri gres, mengenakan simbol yang tidak cocok di seragam hingga berlagak-lagu ala bule. Untuk keberlangsungan hidup atau memuja passion, mereka akan begitu. Menjual identitas lama demi identitas baru. Apa mau dikata, bukankah mereka lebih meyakini aturan ‘terkuat’ di bumi, hak asasi manusia?

EROPANISASI AFRIKA

ALJAZAIR: Zinedine Zidane (Prancis); AFRIKA SELATAN Sean Dundee (Jerman); SENEGAL Patrick Vieira (Prancis), Ibrahim Ba (Prancis), David Bellion (Prancis); KONGO Claude Makelele (Prancis), Peguy Luyindula (Prancis), Blaise N'Kufo (Swiss), Emile Mpenza (Belgia), Mbo Mpenza (Belgia), Kiki Musampa (Belanda), Ali Maboula Lukunku (Prancis), Gaby Mudingayi (Belgia), Patrick Dimbala (Belgia), Vincent Kompany (Belgia); GHANA Freddy Adu (AS), Gerald Asamoah (Jerman), Marcel Desailly (Prancis), George Boateng (Belanda), Eric Ofori Okyere (Belgia), Daniel Ofori Okyere (Belgia); NIGERIA Emmanuel Olisadebe (Polandia), Okonkwo Digger Ifeani (Malta), Shola Ameobi (Inggris), Ugo Chukwu Ehiogu (Inggris), Ade Akinbiyi (Inggris), George Ndah (Inggris); PANTAI GADING Olivier Kapo (Prancis), Djibril Cisse (Prancis); KAMERUN Jean Alain Boumsong (Prancis), Charles Itanje (Prancis), Bruno N'Gotty (Prancis), Pascal Nouma (Prancis); TUNISIA Sabri Lamouchi (Prancis); MESIR Rami Shabaan (Swedia); SIERRA LEONE Carlton Cole (Inggris); SOMALIA Fabio Liverani (Italia); ETHIOPIA Youssouf Hersi (Belanda); ZAMBIA Robert Earnshaw (Wales); MOZAMBIK Abel Xavier (Portugal); MAROKO Yassine Benajiba (Belgia); GAMBIA John Alieu Carew (Norwegia).

(foto: swiss.gosip/news.yahoo/sofoot)

Wednesday, November 12, 2003

Dikala Eusebio Terengah-Engah

Bem-Vindo! Ini liputan internasional saya setelah empat tahun. Tidak tanggung-tanggung, yang saya kunjungi adalah bekas musuh bebuyutan terakhir bangsa kita, Portugal. Apalagi dengan negeri yang semasih saya Sekolah Dasar dulu disebut Portugis, kekerabatan diplomatik baru dibuka lagi oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada 2001.

 Ini liputan internasional saya setelah empat tahun Ketika Eusebio Terengah-engahTapi memperkenalkan diri dari Indonesia cukup sakti juga. Mereka tak merasa asing mendengarnya, tapi jangan mengharap dapat senyum Pepsodent. Yang niscaya mereka biasanya termangu. Agaknya gara-gara informasi Timor Timur menciptakan bangsa Portugal tak akan lupa tujuh turunan dengan Indonesia. Banyak kesan di negara yang cuma berbatasan dengan Spanyol dan Lautan Atlantik ini. 

Saya sempat menerka akan mendapat penjagaan zona marking begitu mendarat di Lisbon (28/11). Maklumlah, ini pertama kali Portugal menyelenggarakan Piala Eropa. Saya pikir, faktor keamanan, yang di seluruh jagat sekarang menjadi super-VVIP, juga dimulai dari sana.

Nyatanya tidak. Kondisi Aeroporto de Lisboa, bandara Lisbon, rada mencengangkan. Petugas keamanan tak terlihat pagi itu. Apakah mereka memakai agen rahasia? Saya tak yakin. Pasalnya dikala ada seorang negro yang mabuk, tak satupun polisi terlihat hingga alhasil laki-laki itu ngeloyor pergi sendiri. Padahal beberapa turis Belanda sudah salah tingkah.

Saya masih ingat bagaimana siaganya polisi Prancis sebelum menyelenggarakan Piala Dunia 1998 setahun lebih sebelumnya dikala Tournoi de France. Kemana saja pergi harus melalui detektor. Tapi terus jelas sih, kondisi itu malah melegakan aku kalau mengingat ketatnya mengurus visa di Kedubes Portugal di Menteng.

 Ini liputan internasional saya setelah empat tahun Ketika Eusebio Terengah-engahDis-komunikasi, mis-isu dikala acara cukup terasa. Ini merembet di Pavilhao Atlantico, sentra acara. Ada jurnalis Prancis yang hingga nyasar atau telat dikala mengambil pengukuhan. Press-release hanya ada dalam bahasa Inggris dan Portugal. Bahasa Spanyol, Prancis, Jerman, apalagi Indonesia, maaf-maaf saja, tidak dianggap! Padahal dua bahasa resmi lain di sepak bola selain Inggris yaitu Prancis atau Spanyol. 

Di benua biru yang berbahasa Portuguese memang cuma Portugal. Di luar Eropa, ada Brasil, Angola, Makau atau... Timor Leste! Saya jadi ingat betapa fasihnya seorang bermata sipit mewawancarai Nuno Gomes. Dan memang, wartawan itu berasal dari eks koloni Portugal yang sudah dikembalikan ke Cina pada 1999 itu.

Yang mengagetkan, beberapa volunteer banyak yang payah. Membedakan ID-Card saja sering salah. Untunglah pada persiapan tamat drawing EURO-2004 itu tidak didominasi oleh tuan rumah, kecuali petugas keamanan. Banyak officer UEFA yang tiba dari Prancis, Belanda dan Swedia yang lebih ramah dan informatif. Kultur memegang peranan penting pada kesiapan Portugal menggelar Piala Eropa.

Selain soal bahasa, perilaku menutup diri tapi over-confident mendominasi kehidupan sehari-hari. Masyarakat seperti tak mau tahu bagaimana kredibilitas negaranya dipertaruhkan bukan saja di atas rumput hijau, tapi juga secara profesional keseluruhan. Jika bicara soal EURO-2004, tanpa ditanya ujung-ujungnya mereka bilang: "Kami akan juara!" 

 Ini liputan internasional saya setelah empat tahun Ketika Eusebio Terengah-engahKetika Pele dan Eusebio menghadiri program AllFootball, semacam bazaar, pengunjung menyemut dari anak-anak hingga kakek-nenek. Sambil terengah-engah dan acapkali menunduk, Eusebio bilang: "Saya amat letih seperti habis bertanding!" Tapi tatkala ada Johan Cruijff, warga sana biasa saja. Legenda hidup totaal-voetbal ini malah diserbu wartawan non-Portugal, termasuk aku yang merasa mendapatkan kesempatan superlangka.

Mereka hanya menonton dari kejauhan. Tidak mengejar-ngejarnya seperti kepada Pele dan Eusebio untuk sekedar menyentuhnya atau menyalaminya. Namun kenangan saya pada Portugal adalah menikmati betul bertemu tiga legenda dunia yang di waktu kecil hanya bisa saya lihat dari belahan koran atau cuplikan di televisi: Pele, Cruijff, dan Eusebio!

Lalu apa yang bikin kagum pada persiapan tuan rumah Piala Eropa ke-12 itu? Selain stadion, ada tiga kata: teknologi informasi, akomodasi, dan transportasi. Bisa dibilang ini yang siap pada 193 hari menjelang EURO-2004. Dan buat wartawan, jelas, ini paling melegakan. Mahal menjadi nomor dua, yang penting urusan kerjaan lancar.

Sebagian besar hotel di Portugal baru dibangun dan fasilitasnya canggih. Jauh misalnya dibandingkan dengan di Italia yang renta dan kuno. Beberapa lagi sedang tahap pembangunan. Begitu juga transportasi kota, bus, taksi dan subway. Ini yang mengakibatkan kota Lisboa tampak acak-acakan karena banyak pekerjaan di sana-sini.

(dokumentasi: arief natakusumah)

Tuesday, December 4, 2001

Misteri Penalti Dan Kekalahan Chievo 2-3

Internazionale Milano memang sudah lama tidak rela posisinya diambil Chievo Verona sebagai capoclassifica. Setelah empat pekan membayangi, pada tredicesima giornata, pekan ketigabelas, Ahad (2/12), Christian Vieri dkk. merengkuhnya kembali.
Internazionale Milano memang sudah lama tidak rela posisinya diambil Chievo Verona sebagai Misteri Penalti dan Kekalahan Chievo 2-3
Luigi Del Neri menerima pelajaran mahal.
Bulan Desember, seperti yang sudah-sudah, selalu menjadi waktu penentuan para calon scudetto untuk memantapkan posisinya sebelum D'Inverno - jeda kompetisi di ekspresi dominan dingin. Momentum itu yaitu ambruknya Chievo. Hebatnya kecuali Parma, semuanya sukses. Tapi, paling sukses ya Inter, yang menang tandang 4-2 atas tuan rumah Atalanta.

Inter, yang sempat tertinggal 1-2 hingga 60 menit dan tak lama menyamakan diri melalui rigore yang dilakukan Vieri, secara spektakuler menambah dua gol begitu instruktur Hector Cuper menarik Sergio Conceicao lalu memasukkan Alvaro Recoba. Lewat dua umpan bintang Uruguay ini pada Vieri dan Mohammed Kallon, pasukan Hitam-Biru itu pun berjaya.

Dengan komposisi gres format usang (4-4-2), Cuper menempatkan il capitano Javier Zanetti, Luigi Di Biagio, Oscar Cordoba, dan Vratislav Gresko melapis Francesco Toldo. Namun, dobrakan lini tengah Atalanta yang diotaki Ousmane Dabo (eks Inter) dan Cristiano Doni menciptakan Cristiano Zanetti, Francisco Farinos, Andres Guly, dan Conceicao keteteran.

"Kita bermain harus memakai otak. Kekalahan dari Udinese (di Piala Italia - Red.) yaitu alasannya sikap beberapa pemain yang mencari hasil seri, padahal stamina yang dikeluarkan sama saja besarnya," terperinci Cuper sebelum duel di kota Bergamo yang dijuluki Derby Lombardo, langgar sesama penghuni wilayah (pegunungan) Lombardo itu.

Cuper memang cuma mengkritik para difensas-nya. Tapi mungkin juga para gelandangnya. "Mereka harus percaya pada aku. Contohlah Vieri, Ronaldo, Conceicao, dan Recoba yang mental kemenangannya tinggi. Sayang, jika mereka tak pernah mendapat umpan," seru Cuper, yang hasilnya terpaksa menaruh Recoba di tengah dikala lawan Atalanta.

"Inilah (permainan) Inter bahwasanya. Jika penyerangan lancar, maka duduk perkara kami di pertahanan selama ini akan tertutupi. Atalanta lawan yang tangguh, tapi kami menjawab kritikan tifosi kami dengan permainan menyerang dan penuh improvisasi. Saya selalu yakin Inter masih mampu lebih baik lagi," ucapnya lagi pada Datasport usai tanding.

Merasa Dicurangi

Sayang bergesernya capolista di pekan ini konkretnya diawali balasan ulah arbitri Graziano Cesari. Banyak yang setuju, Milan harusnya kalah 1-2 dari Chievo alasannya dua gol kemenangan yang dibentuk Filippo Inzaghi dan Andriy Shevchenko patut dipertanyakan. 

Begitu teganya Cesari memberi penalti hanya sebab melihat Sheva didorong Eriberto? Dari segi permainan pun, Eugenio Corini cs. mampu meladeni aneka macam agresi pemain Rossoneri. Kalaupun ada yang perlu dikritik untuk pasukan Luigi Del Neri, selama ini, paling cuma kekurang-matangan menjalankan strategi. Chievo terbiasa tampil spartan 90 menit tapi tanpa dibarengi pengaturan ritme. Walhasil mereka sepertinya tak pernah main damai.

"Jika tak ada penalti itu alhasil akan lain. Milan tertinggal dan tertekan. Kami makin nyaman bermain. Wasit terlalu memihak tuan rumah. Padahal dia seharusnya juga memberi dua penalti lagi, satu untuk kami (Martin Laursen yang tertangkap handsball). Tapi, inilah pelajaran mahal lagi, bagaimana mampu menciptakan gol dikala tertekan," kata Del Neri.

Kalau Del Neri menciptakan akreditasi begitu, itu yakni urusan dalam negerinya. Tapi ada torehan fakta yang sungguh gila tapi positif. Tiga kekalahan Chievo selama ini selalu berakhir dengan skor 2-3. Ketiganya dalam partai tandang dan semuanya selalu diderita Chievo lewat hukuman penalti dari tiga wasit yang berbeda!

Dua kekalahan Chievo sebelumnya saat lawan Juventus (16/9) dan Verona (18/11). Saat lawan Juventus, saat skor 2-2, Chievo dieksekusi wasit Cosimo Bolognino dan penalti yang diambil Marcelo Salas di menit 82 membuat mereka kalah. Demikian juga pada derby dengan Verona. Salah satu kekalahan scudetti Serie B trend lalu ini diakibatkan oleh rigore Massimo Oddo di menit ke-40 santunan arbitri Alfredo Trentalange.

"Ketenangan pemain menjadi persoalan kami. Mereka harus tetap berusaha keras. Tertinggal bukannya kalah. Tiga kekalahan itu selalu kami awali dengan penampilan yang baik, tapi diakhiri dengan penampilan baik lawan," sebut Del Neri yang tak mau mengomentari kepemimpinan Cesari alasannya adalah merasa cuma buang energi itu. Perjalanan memang masih jauh, Mister. Tapi jangan sampai empat kali kalah dengan cara, nasib, dan skor yang sama dong!

(foto: ilnumerodieci/rai)